Naruto © Masashi Kishimoto

Story By Yumi Murakami

Warning: AU, OOC, Typo(s) bertebaran dimana-mana, Abal, Gajje, Lemon (!).

No Like, Dont Read.

.

.

.

My Trauma

.

.

Chapter 7_

Mobil Ferrari oranye itu melaju kencang tanpa memikirkan umpatan dan teriakan orang-orang yang meneriaki. Terus menerobos derasnya hujan yang membasahi tanah Jepang.

"Ki-kita mau kemana?" Tanya satu-satunya gadis disana tampak ketakutan dengan kecepatan si pengendara disampingnya.

Yang ditanya tak berniat menjawab, ia hanya membuka kerudung dikepalanya kasar. Menampakan jelas siapa sosoknya.

"Naruto-kun?"

"Membawamu pergi. Puas?" Jawab lelaki yang ternyata Naruto itu berhasil mengatupkan mulut Hinata Hyuuga. Tak habis pikir dengan kenekatan pria disampingnya. Datang ke kamarnya lalu memecahkan kaca dan pura-pura menyanderanya sekarang membawanya entah kemana. Hanya Tuhan dan Narutolah yang tahu. Terlebih lagi pikirannya yang sulit ditebak bagi Hinata.

"Tapi tolong beri tahu aku kita mau kemana?" Mohon Hinata menghadap Naruto masih memfokuskan atensinya pada jalanan. Selama beberapa menit Naruto diam tak menjawab pertanyaan Hinata tadi, untuk kedua kalinya ia memanggil sang mantan tunangannya ini. "Naruto-kun!"

Ckiitt

"Ugh!" Mobil berhenti mendadak menciptakan sentakan yang lumayan kuat. Untung mereka menggunakan sabuk pengaman, jika tidak mungkin luka atau darah sudah bermunculan di dahi mereka.

Hinata yang masih kaget dengan hentian dadakan itu memegang kepalanya yang hampir terbentur, tidak mengetahui pergerakan pria disampingnya. Dengan cepat Naruto menarik tubuh Hinata, mencium bibir lembut wanita itu sedikit kasar.

Awalnya hanya berupa kecupan-kecupan, kelamaan berubah menjadi lumatan yang menggairahkan. Menyalurkan berbagai hasrat dan kerinduan dari masing-masing. Hinata sedikit memberontak dengan mendorong tubuh Naruto yang terus menghimpitnya, namun besarnya tubuh tersebut menyulitkan wanita indigo itu menjauhkannya. Akhirnya ia menyerah menerima tiap serangan Naruto yang mulai menggerakan lidahnya dimulut Hinata. Menciptakan desah tertahan dalam mobil yang mulai panas walau sudah dengan adanya air conditioner.

"Hen- Ummpphh.." Berniat meraup oksigen yang makin menipis dihentikan oleh Naruto, ia menarik kembali wanitanya dalam ciuman memabukan itu.

Ciuman itu berakhir ketika putra tunggal Namikaze itu kehabisan oksigen, ia terengah sedangkan atensinya terpaku pada wanita didepan yang wajahnya kini memerah. Diangkatnya wajah Hinata untuk memperjelas ekspresi yang sungguh menaikkan kembali nafsu Naruto untuk melumat bibir peach yang lipstiknya sudah hilang akibat kuluman tadi.

Ketika Naruto akan kembali melanjutkan kegiatan tadi Hinata menolehkan wajahnya kesamping. Menolak apa yang akan Naruto lakukan.

"Kenapa?" Tanya Naruto kembali pada posisinya menghadap depan kemudian melajukan mobil itu lagi.

"Kenapa? Ka-kau tanya ke-kenapa?" Susah payah Hinata menahan tangisnya yang terasa ingin pecah saja.

"Kenapa kau tampak menolakku?"

Kini giliran Hinata yang diam, sibuk dengan kegiatannya untuk berusaha menahan air mata kekecewaan yang bercampur dengan kerinduannya pada Naruto. Bukannya ia menolak apa yang Naruto lakukan, namun semua itu sungguh berlebihan. Ia memang membutuhkan Naruto sekarang, ingin bersama Naruto sekarang. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Jika Gaara dan Neji mengejar dan berhasil menangkap Naruto. Bisa saja Naruto masuk penjara atas tuduhan penculikan. Semua ini jadi tambah rumit.

"Hinata," menghela nafas sejenak menghilangkan atmosfire kegugupan yang begitu pekat dalam mobil tersebut. "Maafkan aku. Aku harus melakukan ini. Aku hanya tidak mau jika-"

"Tapi tidak dengan cara seperti ini Naruto-kun!" Untuk pertama kalinya Naruto mendengar Hinata berteriak walau bukan teriakan yang cukup kencang ketika menyela tadi. Naruto sedikit tersentak tapi secepatnya kembali pada ekpresi datarnya.

"Aku tahu." Singkat sebagai jawaban Naruto dan tetap fokus mengendarai mobil yang mebawa mereka ke suatu tempat yang tidak diketahui Hinata dan hanya si pengendara yang tahu. Melaju kencang membelah jalanan Konoha, takut jika dibelakang ternyata orang suruhan Neji atau Gaara segera mengejar.

Tapi kau salah Naruto. Gaara dan Neji sendirilah yang mengejarmu.

.

.

.

oOo

.

.

.

Pengendara dalam mobil silver itupun tak mau kalah dalam kecepatan, ia terus melaju mobilnya dalm kecepatan tinggi. Yang inginkan hanya adiknya, karena hari ini ia harus bertunangan dengan pemuda disampingnya.

"Masih jauh?" Tanya pemuda berambur darkred memperhatikan jalan didepannya.

"Aku tidak tahu." Jawab si pengendara-Neji Hyuuga menambah kecepatan mobilnya. Namun tiba-tiba ada sebuah mobil hitam menyalip dan langsung berhenti didepan mobil Neji menghalangi jalannya. Tentu Neji yang kaget tiba-tiba mobil didepannya berhenti segera mengerem dan membelokan stir agar tidak menabrak.

"Brengsek!" Umpat Neji turun dari mobil diikuti Gaara tidak memperdulikan hujan yang membasahi jas mereka.

Dari mobil hitam itu juga turun seorang lelaki berambut ebony dan itu membuat Gaara menggeram kesal, "Apa masalahmu, Sai! Singkirkan mobilmu sekarang!" Teriaknya berjalan menuju Sai dan mencengkeram kaosnya.

"Maaf aku tak bisa." Mempertahankan mimik datarnya Sai menjawab.

Satu layangan pukulan cepat dari Gaara tepat mengenai pipi putih Sai, "Apa maksudmu? Kau tahu, aku sedang tidak punya waktu untuk berdebat sekarang!"

"Hujan sedang deras, kembalilah." Ujar Sai dengan senyum andalannya, senyum palsu.

"Kau bersengkokol dengan orang itu? Benar?!" Emosi Gaara kini sedang tidak bisa dikontrol, dengan teman sendiripun ia membentak. Jauh dari imejnya yang berekspresi datar.

"Apa maksudmu bersengkokol dengannya? Aku tidak ada hubungan apapun."

"Lalu kenapa kau menghentikan kami?"

"Aku hanya ingin menghentikan kalian yang ingin memisahkan mereka lagi."

"Apa maksudmu?"

Sai diam sebentar kemudian tersenyum lagi dan kali ini senyum yang bisa diartikan memiliki emosi, "Aku menyesal, itu saja. Dan aku ingin membayar kesalahanku dulu padanya, dengan cara membuatnya bahagia dengan orang pilihannya."

"Oh.. Jadi kau kekasihnya, eh? Cih! Berhenti bermain kata, Sai!" Seru Gaara mulai kehabisan kesabarannya dan ingin ia memukul kulit putih itu lagi.

"Aku sedang tidak bermain kata, kau pasti tahu maksudku."

"Ya aku tahu," Neji yang sedari tadi diam kini ikut bersuara. Ia tahu maksud kata-kata Sai itu adalah untuknya. Dan Neji tahu siapa maksud Sai. "Tapi ini keputusanku, Hinata tetap dengan Gaara dulu hingga sekarang."

"Balas dendam?"

Alis Neji terangkat sebelah, merasa ia perlu menjelaskan Sai kembali berbicara. "Kau mempunyai dendam terhadap Nagato yang merebut kekasihmu, lalu kau melampiaskannya pada Naruto yang merupakan saudara sepupu Nagato kemudian kebetulan kau pernah dibantu oleh Gaara dan akhirnya kau memasangkannya dengan Hinata. Bukankah begitu?"

Neji menutupi mukanya dengan sebelah tangan, menarik perhatian Gaara untuk menoleh padanya. Sedikit suara tawa berasal dari lelaki Hyuuga itu yang lama-lama menjadi tawa keras menggelegar di derasan hujan ini.

"Kau pantas menjadi detektife, Sai." Senyum seperti seringai itu terlihat ketika Neji membuka wajahnya. "Ayo kita pergi, sudah tidak ada gunanya lagi."

Gaara tersentak dengan keputusan Neji, "A-apa katamu?! Jangan-"

"Cukup Gaara ini sudah usai. Cepat masuk mobil atau kutinggal."

"A-pa?!" Bingung dengan keadaan yang tiba-tiba Gaara menghadap antara Neji dan Sai berulang kali sampai akhirnya ia menggeram keras kemudian melangkah menuju mobil Neji.

Sepeninggalnya Neji dan Gaara pemuda berambut ebony itu tak beranjak dari tempatnya, ia terus tersenyum entah bermaksud apa? Dalam hati ia sangat senang, setidaknya inilah yang bisa Sai lakukan sebagai penebus rasa bersalahnya telah membuat Naruto menderita hanya karena iri.

Jangan tanya kenapa Sai tahu semua tentang Neji. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Neji dan kakak sepupu Naruto itu beradu hanya karena seorang wanita, perkiraannya tentang balas dendam itu ternyata benar.

-.-/-.-/-.-

Merasa aman dengan keberadaannya Naruto menarik pergelangan tangan Hinata menuju villa sederhana di tempat yang cukup sepi, entah itu villa siapa.

Mengetuk pintu untuk kesekian kalinya setelah menunggu pintupun terbuka dan menampakan adanya orang disana, seorang lelaki berambut merah lurus.

"Apa?" Tanyanya acuh.

"Aku pinjam salah satu kamarnya, Nagato-nii." Setelah itu Naruto menarik pergelangan Hinata menuju lantai dua.

"Siapa, Nagato?" Seorang pria berambut putih muncul dari dalam membawa secangkir kopi.

Nagato menoleh, "Naruto."

"Mau apa?"

"Bersenang-senang mungkin, pacarnya baru. Tapi keduanya nampak kacau."

"Naruto kemari?" Pemuda lain menampakan kepalanya dari suatu ruangan dilantai satu.

"Ya,"

"Mau apa?" Wanita satu-satunya di villa itu juga ikut keluar dari dapur.

"Aku tidak tahu, cari saja sendiri." Malas menjawab pertanyaan dari saudara-saudaranya Nagato pergi menuju ruang keluarga untuk menonton tv, duduk disamping pemuda berambut jingga bernama Yahiko.

"Hey, mungkinkah Naruto melakukan sesuatu?"

"Mungkin!"

"Ayo kita lihat."

Nagato sudah tidak peduli dengan tiga orang perusuh itu mau melakukan apa. Jiraiya, Konan dan Yahiko berjalan mengendap menuju kamar yang biasa digunakan Naruto jika menginap disini.

"Dasar mesum."

.

.

.

Setelah mengunci pintu Naruto berbalik pada wanita dibelakangnya yang masih ia genggam. Tangisan belum berhenti sedari tadi selama perjalanan hingga kini.

"Hinata?" Tak ada sahutan dan Naruto tahu tangisan itu karenanya. Rasa bersalah kembari merambat ke hatinya, terasa sakit ketika melihat orang yang mulai ia cintai lagi ini menjatuhkan air matanya. "Berhentilah menangis.." Tampak lembut Naruto membungkukan tubuh menyamkan tingginya dengan Hinata yang setinggi pundaknya. Ia mengusap kedua pipi merah Hinata yang dialiri air mata. "Maafkan aku."

Terdengar sangat miris bagi Hinata nada suara Naruto kini, ia sedikit mendongkak melihat raut kesedihan terpatri pada wajah elok mantan tunangannya itu.

Tidak tahu harus apa Naruto mengikuti nalurinya untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata yang menunduk. Untuk saat ini Hinata tak memberontak hingga hidung mereka saling menempel, merasakan deru napas satu sama lain menerpa wajah mereka.

"Maaf," lagi kalimat itu terlontar dari bibir Naruto yang kini mengecup bibir Hinata. Cukup lama sampai kecupan itu berubah lumatan.

Tangan Naruto terangkat untuk menahan kepala Hinata sedangkan yang satunya memegang tubuh agar tidak jatuh. Ciuman itu berubah menjadi panas ketika Naruto mulai memasukan lidahnya untuk mengajak 'bermain' lidah Hinata yang disambut baik. Walau terkesan kaku namun lama-lama Hinata bisa menyesuaikan gerakan benda tak bertulang yang sedang menjelajah didalam mulutnya walaupun ia masih kalah dengan pergerakannya.

Menghisap bibir bawah Hinata dengan tidak sabarnya kepala Naruto berulangkali memiring menyesuaikan mulutnya yang terus melumat, menghisap dan sesekali menggigit bibir Hinata menciptakan desahan meminta oksigen padanya

"Ummh~" Tapi suara itulah yang menciptakan panas pada tubuh Naruto untuk terus mencium Hinata tanpa ampun sampai dirinya yang kini kehabisan oksigen. Selepasnya ciuman tadi Naruto tersenyum mendapat kesempatan ini lagi. Untuk memiliki Hinata.

Ia menarik tangan Hinata menuju ranjang dan perlahan menidurkannya. Menatap mata Hinata yang tidak menangis lagi dengan lembut Naruto mengecup kening wanita yang ia klaim miliknya, meminta izin akan apa yang ia lakukan selanjutnya. Sebagai jawaban Hinata mengecup pipi Naruto.

"Aku mulai ya?"

Dibalik pintu yang Naruto tempati ketiga orang iseng ini sedang menempelkan telinga mereka ke pintu. Menanti suara yang ditimbulkan dari kegiatan Naruto tapi sampai saat ini tak ada suara apapun.

"Kok sepi?" Tanya Konan lirih.

"Sedang pemanasan mungkin." Jawab Yahiko yang menunduk diurutan ke dua.

"Kok ngga ada desahannya ya?"

"Naruto pinter mungkin, jadi dia nutup mulut-"

"Heh.. Brisik!"

Kedua remaja berumur 20 tahunan itu langsung bungkam mendapat deathglare dari kakek mereka, Jiraiya.

"Aku balik ah.. Sepi gitu, mungkin lagi tidur doank. Otak kalian ajah yang mesum." Konan menyerah diikuti Yahiko yang setuju dengan pernyataan Konan.

"Membosankan."

Ditinggal sendirian yang pastinya kalau Naruto tahu ia menguping pasti tidak bagus. Bisa-bisa Naruto marah besar dan lehernya akan terpisah. Oh pikiran Jiraiya sudah aneh-aneh sepeninggalnya Konan dan Yahiko. Takut menjadi tersangka tunggal Jiraiya pun akhirnya ikut menyerah dan menjauhi kamar yang cucu kandungnya itu tempati.

"Engh~"

Justru ketika Jiraiya pergilah Naruto mulai menciptakan desah pada Hinata saat menyentuh leher putih wanita indigo itu dengan bibirnya. Menghisap dan menciptakan kissmark di beberapa bagian.

Sembari bibirnya sibuk dengan leher Hinata tangannya berusaha melepaskan dress ungu yang talinya ada dibelakang leher wanita itu. Berhasil melepaskan dressnya tangannya beralih tugas untuk meremas dada Hinata lembut.

"Ahh.." Desahan lolos dari bibir Hinata dan saat ia mendongkak hal tersebut digunakan Naruto untuk mencium tengkuknya yang terbuka.

Mulutnya turun menuju dada yang sudah polos, menjilat area yang disentuh. Saat sampai di kedua bukit yang pucuknya menggoda untuk Naruto mainkan. Naruto hanya memainkan pucuk yang merah merekah dengan jari telunjuk dan jempolnya pada dada kiri, sedangkan yang kanan lidahnya yang bekerja.

Tidak tahan dengan rangsangan yang Naruto berikan walau bukan yang pertama kalinya Hinata mendesah keras, menambah gairah Naruto untuk terus menjamah milik wanitanya.

"Enghh.. Aaahh.. Ahh.. Ugh.."

Jilat, hisap, gigit terus ia lakukan memanjakan dada Hinata bergantian. Tangan kiri yang sibuk meremas dada sedangkan tangan yang kanan bergerak turun menyusuri tubuh Hinata, mengusap sebentar paha Hinata memberikan rangsangan lalu mengarah pada pangkal pahanya yang kini sudah tak tertutup apapun itu basah.

Menelusupkan dua jari sekaligus dan itu terasa sangat perih, "Aakh!" Tidak diam saja, dua jari Naruto mulai menggerakannya. Dari pelan dan kelamaan menjadi cepat. "Aahh.. Aahh.. Uhh.."

Mulutnya yang sedari tadi sibuk pada nipple Hinata mulai turun menyusuri tubuhnya dengan kecupan-kecupan membuat tubuh Hinata bergerak tak karuan. Dibawah dilihatnya sebentar gerakan masuk keluar jarinya yang kemudian menjilat klitoris Hinata. Kejangannya bertambah dengan semakin cepatnya gerakan jari Naruto dan permainan lidahnya.

"Okh.. Na-naruto-kunh.. Engh~" Untuk menyalurkan hasrat ia jambak rambut pirang Naruto memberikan semangatnya untuk mempercepat kepuasan Hinata. Naruto mengeluarkan kedua jarinya dan menggantikan dengan lidahnya, keluar masuk dan sesekali menghisap cairan yang keluar dari lubang Hinata.

Sungguh tidak tahan dengan sentuhan-sentuhan Naruto tubuh Hinata mengejang, rasanya panas dan terasa ada sesuatu yang ingin keluar.

"Ahh.. Na-narutohh.. -kunh.. Adah yang-ah! ingin kelu- AARRHHHH!"

Dibawah Naruto menyeringai senang bisa memuaskan Hinata, ia hisap semua cairan yang tadi menyembur sebagian mengenai wajahnya dari lubang Hinata sampai habis. Sensasi itu mengakibatkan rasa nyeri dan geli bercampur jadi satu bagi Hinata.

Diangkat wajahnya menatap manik amesthyt sayu Hinata, "tahan ya." Pintanya mencium bibir Hinata lembut. Sembari mencium Hinata, Naruto berusaha melebarkan paha wanita dibawahnya dan mengarahkan miliknya ke milik Hinata. Menggeseknya sebentar lalu memasukannya.

"Emmmppphh! " Teriakan Hinata tertahan oleh bibir Naruto.

"Maaf, apa sakit ya?" Sedikit terkikik ditengah rasa perihnya melihat wajah Naruto yang merasa bersalah Hinata menggeleng dan mengecup bibir pria bernetra blue sapphier diatasnya meyakinkan bahwa ia baik-baik saja. "Aku mulai ya?"

Mulai menggerakan miliknya didalam tubuh Hinata pelan menunggu terbiasanya, ketika ia mendapat tanda sudah terbiasa Naruto menpercepat gerakannya.

"Ahhh.. Aaahh.. Na-narutoohh-kunhh.. Engh.." Kegiatan penyatuan mereka kali ini benar-benar lembut yang Hinata rasakan, tidak sepeeerti saat pertama kali mereka lakukan. Tentu saja, saat itu Naruto sedang dipenuhi emosi.

"Ahh.. Na-ah.." Semakin cepat gerakan Naruto semakin menggila rasa panas dalam tubuh Hinata. Rasa ingin keluar kembali melandanya. "AAAAHHH~" Teriakan keras menandakan Hinata sudah keluar, namun Naruto belum merasakan ia akan menysul Hinata. Dipercepat gerakannya didalam tubuh Hinata.

"Ahh! Ahh! Ahh! Su-sudah henti-ahh.. kanh.. Na-narut0-kunh.. Engh!"

"Sebentar lagi.."

Sedikit meringis ketika rasa nikmat melandanya, lorong sempit milik Hinata sungguh membuat Naruto menggila. Miliknya serasa dipijat oleh dinding kewanitaan Hinata didalam.

Merasa ingin keluar Naruto mendudukan tubuhnya, berteriak diperpotongan tubuh Hinata yang diikuti wanita indigo itu.

"Argh!"

"Aaaahhh~!"

Ini gila. Naruto ingin melakukannya lagi. Tapi ketika diangkat tubuhnya menatap Hinata yang sudah lemas terengah Naruto sedikit kasihan jika ingin melanjutkan. Tapi..

"-ronde dua ya?"

Hasratnya lebih kuat.

.

.

.

oOo

.

.

.

"Naruto gila!"

"Sudah lama.."

"Rasanya seperti apa sih?"

"Mau tahu? Ayo coba denganku."

Bugh

"-ittei! Sakit Nagato!" Yahiko mengusap kepalanya yang tadi dipukul Nagato.

Ternyata ketiga cucu angkat-ralat- dua cucu angkat dan satu cucu kandung Jiraiya ini menguping kegiatan Naruto dan Hinata sepeninggalnya Jiraiya.

"Kau munafik Nagato." Ujar Yahiko menyeringai menatap Nagato yang tampak cuek menempelkan telinganya di pintu.

"Ya.. Berpuaslah Naruto, sebelum ada yang tahu." Ucap Konan pelan terkikik sendiri.

Benar, berpuaslah dulu Naruto. Karena esok masalah akan menemuimu lagi. Lalu apa yang akan kau putuskan untuk nantinya.

.

.

.

TBC

.

.

A/N:

Oh shit! Lemonnya panjang banget! Asli gue harus mbaca 5 fict rated M+ndengerin lagu buat bikin nie lemon! Lemon maksa.. -_-

Pendek banget ya? Ahahaha.. yang panjang itu malah lemonnya. Aku lagi menggila gara-gara sekolah pertama malah banyak tugas.. Damn! Maaf ye kalau nanti bakal telat updat, tenang besok insya allah chapter terakhir. ahahaha Serius!.

Okeh, sudah terbongkar kenapa Neji jahat. Dia dendam sama Nagato. Kakak sepupu Naruto itu yang ngrebut pacarnya, padahal dia udah punya TenTen sebagai pengganti. Tapi tetep ajah ngerusuhin adik sepupunya. Please dont hit Neji T.T Aku jahat ya padahal almarhum gak salah XD

Oh ya mau jelasin sedikit kenapa disini Naruto dikit psiko.. Seperti yang pernah saya jelaskan.. Ini cius.. Aku kalau lagi kacau ya kaya Naruto. Jadi aku menulis menurut apa yang aku rasakan.. Soal perasaan Trauma juga. Apa lagi aku sekarang jadi Trauma sama TKP kecelakaan kemarin #curcol ToT.

Bingung mau ngomong apaan lagi. Jawab repiu dulu ahh~

huddexxx69_ Sudah :D Terima kasih atas reviewnya ^^

Yourin Yo_ Betul sekali.. dan inilah jawabannya :D Terima kasih atas reviewnya ^^

Dilaedogawa12_ Sudah update! Dan makasih favenya :* Terima kasih atas reviewnya ^^

dewiekasari_ Sudah lanjut, ne padahal ini engga angst lho XDD Terima kasih atas reviewnya ^^

GazzelE VR_ Malah jerukan, bukan tembak-tembakan -o-)a. Lagi pula pihak Neji sama Gaara gak bawa dor dor :v Maaf gak seperti harapan. :v Terima kasih atas reviewnya ^^

fazrulz21_ Bahasa apa kuwe.. wong jawa iki aku e :v #kumat. Ya lah gak mau ngomong, dia kan gak mau mengecewakan mami papi nya :v Terima kasih atas reviewnya ^^

Pertiwivivi2_ Sudah :D Terima kasih atas reviewnya ^^

ipung totok andr_ Sudah :D Terima kasih atas reviewnya ^^

kikiva-no_ Kak Novaaaaa~ :D masa belum tahu? :3 makasih buat favenya kakak cantik ^_~ #hugkakNova. Terima kasih atas reviewnya kak cantik ^^

ujhethejamers_ disini aku yang jahat, jadi aku yang perlu tewas #dor. Aku gak sejahat itu buat mbikin Neji sama Gaara tewas disini, lagi pula ini bukan fict gore ToT Gomen.. Naruto psycho juga karena something.. Traumanya sihh.. Terima kasih atas reviewnya ^^

laila angel sapphierBluee_ Itu kan Naruto.. Hinata nurut lha.. orang penjahatnya Naruto XDD Terima kasih atas reviewnya ^^

_ uwooo sudah :D Terima kasih atas reviewnya ^^

orchideeumi_ Mau melakukan 'sesuatu' ^^ Ahahaha #ketawamesum Dan soal Naruto bales ke Neji, lihat saja besok. Gimana reaksi Naruto. :D Terima kasih atas reviewnya ^^

Rahma_ Sudah :D jangan pake suffix -san please == Terima kasih atas reviewnya ^^

Guest_ Sudah :D Hidup NHLicious XDD Terima kasih atas reviewnya ^^

hanazonorin_ Jiraiya memang gitu kan? X/D Terima kasih atas reviewnya ^^

Red devils_ Gimana denga konflik kali ini yang butuh sekali kipas angin XDD Terima kasih atas reviewnya ^^

Naruhina lovers_ Sudah :D Terima kasih atas reviewnya ^^

AwesomePeople_ Sudah update :D Terima kasih atas reviewnya ^^

Guest_ Sudah :D Terima kasih atas reviewnya ^^

M-xxxx_Dan mereka sudah bikin anak XD #kumat Terima kasih atas reviewnya ^^

Guest_ Betul sekali itu Naruto yang nyulik XD Dan soal Naru saa Sai baikan apa engga? Kita lihat saja nanti.. :D Dan makasih atas terseponanya . Gimana dengan yang ini? Pendek? Terima kasih atas reviewnya ^^

amu_ Cius deh aku kalau pikirannya lagi kacau aku bisa kaya Naruto TT_TT Jadi ada alasan aku bikin Naruto kaya gini di fict ini.. Dan sad ending/happy ending. Aku gak pinter bikin ending XD Terima kasih atas reviewnya ^^

Rii-chan_ Naruto sendiri :D Terima kasih atas reviewnya ^^

Ayzhar_ Betul dibawa ke hutan XD tapi melakukan something.. Dan makasih udah suka, padahal ini fict pertamaku lho~ Makasih untuk terus merepiu #hugyou Terima kasih atas reviewnya ^^

ElisiaLorento_ Kenapa harus sama Gaara? #panjang nih~. Soalnya aku penggemar Gaara XDD Kenapa ngga Kiba? Karena aku juga GaaHina XP. Sebenarnya jawabannya ada yang lebih konkrit, tapi puanjang sangat.. Jadi saya singkat saja dan itu memang benar kok.. Kenapa disini aku buat benci sama Naruto? Karena Neji itu sistercomplex, dan Neji disini ngga benci sama Naru. Tapi balas dendam ^^ sudah jelaskah? Maaf panjang.. Terima kasih atas reviewnya ^^

Me Yuki Hina_ Ahahaha berarti aku juga keren :D #clink #dor. Terima kasih atas reviewnya ^^

Nilma Himawati_ Sudah:D bagaimana yang panas ini? Cuacanya lagi panas juga .. Terima kasih atas reviewnya ^^

angga_ #hugangga Gaara sama Neji sudah dapet balasannya. Neji, semua yang ia simpan sudah dibongkar Sai. Gaara, dia gak bisa dapetin Hinata dan gagal tunangan. Gimana? Adilkah? Fbku bisa dilihat di profil.. Add ajah.. ^^ Makasih udah suka dan Terima kasih atas reviewnya ^^

uzumakimahendra4_ Kilatkah ? XD Terima kasih atas reviewnya ^^

Okeh sudah selesai kan bales repiunya? == Pundakku pegel lho bener :D Boleh minta review lagi ngga? Mungkin besok adalah yang terakhirnya aku bisa bales repiu kalian lho.. ToT Maaf kalau salah nama :D

Mind to RnR?

.

.