Naruto hanya milik Masashi Kishimoto

Innocent For Love adalah milikku yang meminjam karakter dari beliau

Last Chapter: Good Ending of Innocent Love

.

.

.

Itadakimasu!

.

Mata emerald itu memandang penuh pilu melihat sosok di depannya terkapar kaku. Ia memandangnya dengan begitu intens. Mengabaikan sekitarnya yang di kelilingi oleh bau amis sang darah. Diabaikannya udara yang semakin dingin karena jendela yang terbuka dengan seenaknya.

Udara terus membelai rambut sakuranya yang nampak acak-acakan. Bibirnya bergetar, matanya mengecil penuh rasa tak percaya. Ia menggerakan tangannya menyentuh kulit sang sosok berambut raven dengan gemetar. Ia mengelus wajah sosok tersebut dengan seksama, berharap ini hanyalah mimpi buruk sesaat. Namun, saat ia merasakan dinginnya kulit wajah kekasihnya tersebut, ia mulai meneteskan air matanya sedikit demi sedikit.

Ia memang tidak bersuara. Namun air matanya terus menetes tanpa henti. Giginya ia gertakan dengan begitu keras. Pada saat itu, tiba-tiba saja ia menundukkan kepala. Pandangannya kosong hanya dalam sekejab. Luka yang di dapatnya pasti sangat dalam dan menyakitkan hingga–

"Romeo, kemanapun kau pergi. Aku pasti akan mengikutimu. Seperti kata ucapanmu, cinta kita abadi, aku tanpamu, sama saja dengan mati."

SREETTT!

–ia dengan berani meraih pisau di dekatnya dan menusuknya tepat di dadanya, tempat jantungnya berdetak dengan tak karuan. Dan, ia meninggal di tempat dengan darahnya yang menetes ke wajah sang kekasih.

.

PROK! PROK! PROK!

Suara tepuk tanganpun memenuhi ruangan teater itu. Tirai merah itu menutup sejenak, lalu terbuka kembali menampilkan sosok Sakura, Sasuke dan yang lainnya dengan senyuman tulus seraya menggandeng tangan satu sama lainnya.

Beberapa di antara para penonton, berdiri dari kursi. Menunjukkan rasa kagumnya pada drama tahunan tahun ini yang baginya sangat spektakuler.

Dan, dengan penuh rasa bahagia dan bangga, seluruh crew memberikan hormat kepada seluruh penonton dan lagi, tirai merah itupun tertutup.

Drama tahun ini dinyatakan selesai dengan sukses dan tanpa masalah.

.

Langit mulai menghitam. Bintang-bintang dan sang rembulan mulai menunjukkan sosoknya dengan cantik. Asap api unggunpun tak luput menemani langit gelap tersebut.

Sakura tersenyum penuh arti melihat teman-temannya yang sedang mengitari api unggun dengan gerakan-gerakan aneh dari jendela. Udara dingin mulai membelainya dengan lembut, membuat beberapa helai sakura-nya berterbangan mengikuti arah angin.

Sejenak ponselnya bergetar, ia pun meraih ponsel tersebut dan membuka flip-nya. Ia tersenyum saat membaca beberapa email yang masuk berasal dari penggemar-penggemarnya yang tetap setia mendukungnya meski ia menghilang dan mengkhianati harapan mereka begitu saja. Sudah hampir 2 bulan sejak ia mem-publish fanfiction barunya dengan tema yang berbeda dari sebelumnya. Sebuah tema yang menitik beratkan kepolosan cinta, bukan hanya seks seperti yang ia pikir akan membuat namanya terangkat –tapi itu pemikirannya dulu. Tapi, ia tentu memberikan bumbu-bumbu lemon seperti biasa, karena itu keahliannya, tapi kali ini dikemas lebih manis.

Ia mulai memejamkan matanya sejenak. Sekelibat memori-pun muncul dengan seenaknya, membuat Sakura tersenyum. Cukup banyak hal yang terjadi padanya setahun ini.

Kalau dulu ia menganggap sebuah cerita lemon hanyalah untuk pemuas nafsu (melihat dari semakin hot cerita itu, semakin populer cerita tersebut), kini ia membuang pikiran tersebut jauh-jauh dan mulai mengepakkan sayapnya di bidang romance manis yang indah. Baginya itu membuatnya dapat mengerti sedikit banyak tentang cinta yang selama ini ia anggap semu.

Dulu ia selalu bersikap munafik dan ketakutan bila identitasnya sebagai penulis fanfiction lemon terbongkar akan membawakan dampak buruk baginya. Namun, ternyata ia salah. Beberapa minggu yang lalu ada yang menyebarkan tentang dirinya dan mereka justru menatap Sakura dengan penuh kagum. Setidaknya, sekarang ia bisa hidup lebih tenang dan damai tanpa topeng palsu.

Dan yang paling penting, hal paling indah yang ia pelajari adalah cinta.

Mungkin terdengar lucu dan menggelikan untuk beberapa orang. Bagaimana cinta itu bisa membuat seseorang menjadi kehilangan kendali, mengubah orang hanya dalam sekejab mata, membuat orang terbang dan terhempas begitu saja, membuat orang merasa berarti dan tak berguna dalam sekejab mata dan semuanya terasa manis bercampur pahit –namun indah.

Ia mempelajarinya dari senior-nya. Bagaimana ia yang kekurangan rasa cinta dan menuntut rasa cinta dan belaian kasih sayang, membuatnya menjadi terlihat buruk. Tapi, Sakura menyadari betapa menderita batin senior-nya itu walau hanya melihatnya. Meski ia sudah melakukan hal buruk pada Sakura, namun ia tidak bisa membenci Karin. Keadaanlah yang membuatnya berbuat demikian. Ia menderita saat orang-orang menatapnya rendah, berdiri sendirian tanpa ada orang yang memercayainya. Namun, akhirnya cinta persahabatan telah menyelamatkannya dari hal-hal buruk.

Dan Neji, bagaimana ia menderita karena obsesi-nya sendiri. Padahal, Sakura paling tahu bahwa Neji adalah sahabatnya yang paling baik. Ia sempurna dengan hatinya yang bersih dibalik dirinya yang pendiam. Namun, hanya dalam sekejab, ia berhasil melepaskan jeratan perasaan tersiksanya hanya dengan sesuatu yang di beri nama kerelaan.

Hanya dalam sekejab saja, Sakura kembali tersenyum. Ia mengingat dengan jelas bagaimana Karin dan Neji menonton dramanya di bangku penonton. Bagaimana Karin yang memalingkan wajahnya dan tersipu malu saat mata mereka bertemu. Ah, tahun depan Karin tidak akan berada di sekolah itu lagi, Sakura berharap Karin dapat universitas yang diinginkan dan berhasil menemukan cinta yang baru.

Tiba-tiba, matanya terbuka dengan perlahan. Ia tetap mempertahankan senyumnya.

"Hai, Sasuke," ucap Sakura tanpa membalikkan tubuhnya sama sekali.

Sasuke menunjukkan wajah terkejut, namun itu hanya sejenak sebelum ia mulai menutupi keterkejutan itu dan mulai berjalan melewati pintu seraya menutup pintu tersebut.

"Atau bisa ku bilang, red tomato-san?

Sasuke hanya tersenyum. Ia berjalan mendekati Sakura yang sedang duduk di jendela menatap keluar.

"Tak kusangka kau menyadarinya secepat ini," jawab Sasuke.

"Jangan duduk sendirian di atas jendela seperti itu, berbahaya tahu," lanjutnya

Sakura hanya terdiam sejenak. Ia tersenyum tipis. Sekarang, sudah saatnya ia jujur pada perasaannya.

"Uchiha Sasuke, terimakasih," ucapnya seraya memalingkan wajahnya ke arah Sasuke. Ia pun memposisikan tubuhnya menghadap Sasuke.

"Sasuke, aku menyukaimu."

Untuk beberapa saat, suasanapun menjadi sunyi. Rambut Sakura yang masih tergulung ke samping dan dress yang ia kenakan masih sama saat ia di panggung. Wajahnya yang menunjukkan kesan malu-malu dengan make up tipis yang belum terhapus terlihat begitu indah bagi Sasuke.

Tanpa Sasuke sadari, Tubuh Sasuke semakin mendekati tubuh Sakura. Seolah tubuh Sasuke telah terpasang magnet dan Sakura memiliki besi di tubuhnya.

"He-hey!" Sakura yang seolah mengerti keadaan tersebut mulai memerah. Meski logikanya menolak, namun tubuh dan hatinya tak mampu menolak pesona Sasuke yang semakin mendekat.

Dan, bibir mereka pun bersentuhan. Sakura hanya memejamkan matanya perlahan menikmati setiap sensasi yang seolah menyengat sekujur tubuhnya. Ia menikmati ciuman tersebut.

Hanya selang beberapa detik, ciuman mereka semakin memanas. Lidah mereka terpaut, saliva mereka menyatu. Sakura sudah tak bias berpikir apapun. Tubuhnya benar-benar seolah merindukan sentuhan Sasuke.

Tangan Sasuke semakin aktif, ia mulai meremas payudara Sakura yang mulai mengeras di balik pakaiannya. Sakura mengerang kecil di dalam ciumannya.

Hanya dalam sekejab saja, pakaian Sakura mulai tanggal. Sasuke hanya menjilati leher Sakura dengan rakus, membuat beberapa kissmark bertengger begitu saja.

"Sakura, tak ada penolakan. Mulai hari ini kau resmi menjadi kekasihku dan hanya milikku."

"Ya, aku adalah milikmu seutuhnya Sasuke."

Hanya itu yang di dengar oleh Sakura. Lalu semuanya terdengar amat samar-samar saat dirinya merasakan kenikmatan dan kenyamanan yang luar biasa. Kenyamanan yang berasal dari cinta.

.

O.M.A.K.E

Suara cicitan burung terdengar. SInar mentari sudah mulai menunjukkan sosoknya menyambut sang pagi. Suasana terasa amat menenangkan. Ya, setidaknya menjadi tenang dalam sejenak.

"Selamat pagi, Sakura," ucap sebuah suara saat Sakura mulai menampakan manik hijaunya.

Ia pun bangun dan mengubah posisinya menjadi posisi duduk. Awalnya ia hanya terdiam, namun saat ia melihat ke sekeliling yang sangat asing baginya dan sosok Sasuke yang berada di dekatnya –tak lupa tubuhnya yang hanya terselimuti oleh selimut tipis tanpa apapun, ia pun langsung sepenuhnya sadar.

"SASUKE! INI DI MANA?!"

"Di rumahku,"

"KENAPA AKU BISA DI SINI?!"

"Kemarin kita bercumbu dan kau meminta untuk datang ke rumahku yang di dekat sekolah, ya aku antar dan kita melanjutkannya."

"A-APAAN? GIMANA DENGAN ORANGTUAKU SASUKEEE!"

"Kau menelepon mereka dan berkata akan menginap di rumah temanmu. Kejam sekali, aku kan kekasihmu."

Sakura pun terdiam. Ia tidak percaya dirinya pasrah begitu saja di sentuh oleh Sasuke. Rasanya ia seperti tidak bisa mengingat apapun. Tapi, perlahan memorinya terputar begitu saja tanpa henti. Membuatnya merasakan malu yang amat sangat ketika dirinya mengingat ialah yang mengatakan bahwa dirinya milik Sasuke sepenuhnya. Wajahnya memerah. Malu, itu yang ia rasakan.

"Jangan bengong doang. Kamu mau aku sentuh lagi? Kamu sangat manis kemarin Sakura."

"SASUKEE!"

Dan, itulah bagaimana kisah ini akan terus berjalan.

Bukan dalam Fanfiksi, namun dalam kisah nyata yang indah. Dengan tinta cinta dan kertas kebahagiaan, kisah ini akan terus berlanjut.

The End

.

A/N: akhirnya selesai juga =3 terimakasih untuk seluruh pihak yang sudah setia menantikan kelanjutan cerita yang amat lama ini! Wkwkwk. Maaf kalau ada beberapa scene yang tidak sesuai harapan. Aku sudah berusaha sebisaku agar ini bias memuaskan kalian, jadi, maaf kalau ada cacatnya ya!

Sekarang, aku sudah selesai ujian akhir semester, tahun depan aka nada banyak try out yang menantiku, dan UN sudah amat setia menunggu aku hadir hahahha

Ok, terimakasih atas kerjasamanya belakangan ini!