1 Oktober
Kenapa juga Eomma sepertinya sangat cinta mati dengan dia? Apa Eomma tidak bisa melihat anak itu keturunan iblis? Baiklah…baiklah… aku tahu aku tidak boleh mengumpati orang tuanya, karena aku yakin dia menjadi iblis bukan karena keturunan tapi karena dia sendiri. Apa bisa seperti itu? Astagaaa… kenapa aku menjadi memikirkannya seperti ini?
.
.
.
.
.
"Ada apa, Kyuhyun?" tanyaku datar dengan kedua tangan bersedekap. Bahasa tubuhku sangat menunjukkan betapa malasnya aku berbicara padanya.
Kyuhyun tersenyum sebelum bertanya, "Bagaimana kabarmu?"
Mendengar nada Kyuhyun yang sepertinya memang benar-benar khawatir dengan keadaanku, aku menjadi merasa bersalah karena menghindarinya beberapa hari ini.
Kuturunkan tanganku dan membiarkannya jatuh ke bawah. "Biasa saja," jawabku
"Kau terlihat lelah. Kau tidak lupa makan dan tidur, bukan?"
Aku tergelak. "Appaku sedang di rumah sakit, Kyuhyun. Aku tidak bisa tidur selama beberapa hari ini karena tidur di sofa sampai badanku pegal semua, aku terlalu sibuk antara kerja dan memastikan agar Appa dan Eommaku baik-baik saja sampai terkadang aku baru ingat aku lupa makan setelah tiba-tiba kepalaku pusing. Oh ya… satu lagi. Aku juga harus mencari akal agar bisa menghindar darimu, tapi juga jangan terlalu kelihatan hingga membuat orangtuaku curiga. Apa itu menjawab pertanyaanmu?"
Kyuhyun menatapku sambil menahan senyum yang membuatku jadi ikut tersenyum, tapi senyuman itu sirna ketika mendengar pertanyaan Kyuhyun selanjutnya.
"Kenapa kau menghindariku?"
Aku harus menggerakkan rahang bawahku dan berusaha menutup mulutku kembali. Kyuhyun masih menunggu jawabanku, yang membuatku tiba-tiba jadi panik. Apa dia perlu menanyakan hal itu? Dia jelas-jelas tahu kenapa aku menghindarinya. Bukan hanya karena kejadian di Jeju, tetapi juga karena kejadian tempo hari ketika dia melihatku menangis. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa Kyuhyun tidak akan pernah lagi melihatku melakukan suatu hal yang menunjukkan kelemahanku, seperti menangis, semenjak insiden hampir dua puluh tahun yang lalu itu.
"Aku… ehmm… waktu itu… tempo hari… pada dasarnya…" aku benar-benar tidak bisa membentuk satu kalimat yang jelas. Bukannya membantuku, Kyuhyun malah menatapku dengan wajah sepertinya dia siap menciumku yang membuatku jadi mundur selangkah untuk meluruskan pikiran. Kuatur jalan pikiranku selama beberapa detik. "Kyuhyun…" ucapku pelan.
Aku ingin menanyakan apakah kami memang bercinta sewaktu di Jeju, tetapi aku tidak tahu bagaimana menanyakannya tanpa terdengar seperti orang bodoh. Setelah pulang dari sana aku masih belum sempat ke dokter untuk memeriksa kesehatan, sehingga tidak tahu apakah aku masih bersih atau sudah terjangkit STD, meskipun aku sudah dapat memastikan bahwa aku tidak hamil karena siklus haidku berjalan seperti biasa.
"Ya?" balas Kyuhyun sambil mengambil langkah maju sebelum kemudian mencengkeram pergelangan tanganku, menghentikan rencanaku untuk mundur beberapa langkah lagi.
Untung kemudian ada seorang suster yang datang dan meminta Kyuhyun untuk memeriksa sesuatu, sehingga mau tidak mau Kyuhyun harus melepaskanku. Dan aku bisa menarik nafas lagi. Tanpa kusadari, aku menahan nafas bersamaan dengan sentuhan Kyuhyun itu. Suster yang sekarang sedang menunggu hingga Kyuhyun selesai memeriksa laporan yang ada di hadapannya terlihat masih muda dan jelas-jelas sangat menggilai Kyuhyun.
Tiba-tiba aku merasa bahwa aku harus pergi dari hadapan Kyuhyun. Aku tidak bisa berada dalam satu ruangan dengannya, menghirup udara yang sama dengannya. Aku baru memutar tubuhku untuk kembali menuju kamar Appaku ketika kudengar Kyuhyun berkata, "Jangan ke mana-mana, Sungmin. Kita belum selesai bicara."
Langkahku pun terhenti dan kuputar tubuhku untuk menatap Kyuhyun yang perhatiannya ternyata masih terpaku pada laporan yang tadi juga. Kini suster muda itu menatapku dengan sedikit curiga campur cemburu. Entah kenapa, tapi tiba-tiba aku merasa kurang percaya diri.
Meskipun aku cukup bersyukur dengan penampilanku, tetapi aku jauh dari kata 'cantik'. Menurutku satu-satunya hal yang menarik dari diriku adalah wajahku yang babyface, rambutku yang lurus, hitam, dan panjang. Lain dengan Ryeowook yang tinggi semampai, tinggiku hanya 155 sentimeter lebih sedikit. Lain dengan Eunhuk yang bisa membuat laki-laki mana pun menoleh, kebanyakan orang tidak bisa mengingat wajahku. Dan lain dengan Kibum yang kulitnya mulus dan putih seputih susu, aku harus melaser kulit wajahku agar bebas dari jerawat. Intinya aku ini biasa-biasa saja dan aku tahu bahwa suster itu tahu jika aku tidak sekelas dengan Kyuhyun. Aku jaaauuuhhh di bawahnya.
Beberapa menit kemudian Kyuhyun selesai mengevaluasi laporan itu dan memberitahukan beberapa hal yang harus dilakukan oleh suster tersebut. Meskipun Kyuhyun sudah selesai bicara, suster itu tetap berdiri di hadapannya. Sepertinya dia menunggu kalau saja Kyuhyun memerlukan bantuan untuk mencuci mobilnya atau mengambil cuciannya dari Laundrette.
Aku hampir saja terkikik ketika Kyuhyun bertanya apakah suster itu perlu apa-apa lagi darinya dan suster itu menggeleng dengan wajah memerah. Aku jadi bertanya-tanya pada diriku sendiri, apa jangan-jangan Kyuhyun dan suster ini punya hubungan lain selain dokter dan suster itu di luar rumah sakit? Oh… kenapa juga aku harus memikirkan itu? Siapa juga yang peduli jika Kyuhyun mempunyai suatu hubungan dengan susternya, sudah memiliki kekasih, atau sudah menikah dan punya sepuluh anak? Tiba-tiba mataku jatuh kepada jari-jari Kyuhyun untuk mencari cincin yang mungkin melingkar di sana.
Tidak, tidak ada cincin disana. Hahhhh…. Kuhembuskan nafas lega. Setidaknya jika aku memang tidur dengan Kyuhyun, aku tidak tidur dengan kekasih, tunangan, apalagi suami seseorang. Kecuali… uh-oh… jangan-jangan Kyuhyun adalah tipe laki-laki yang sudah menikah tetapi tidak ingin mengenakan cincin, atau mungkin cincinnya dikalungkan di leher bukannya melingkar di jarinya… atau..ahh kenapa aku menjadi paranoid seperti ini. Kubuang jauh-jauh semua pikiran itu ketika kulihat suster tersebut melangkah pergi dengan wajah kecewa.
"Maaf, Min," ucap Kyuhyun yang kini sedang menumpahkan perhatian penuhnya padaku.
"It's okay," jawabku.
"Tadi kau ingin mengatakan apa padaku?"
"Ooohhh… tidak...hanya…" mataku melirik ke kiri dan ke kanan untuk memastikan bahwa tidak ada siapa-siapa yang bisa mendengar percakapan ini. Aku lalu mendekatkan kepalaku kepada Kyuhyun yang menunduk agar bisa mendengar bisikanku. "Apa benar kita tidur bersama ketika di Jeju?" Akhirnya keluar juga pertanyaan itu. Ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan.
"Kalau iya memangnya kenapa?" Tanya Kyuhyun dengan nada sedikit tersinggung. Bisa-bisanya dia merasa tersinggung. Laki-laki gila mana yang mau tidur dengan perempuan yang tidak seratus persen sadar? Seharusnya aku yang berteriak 'DATERAPE.'
"Jika seperti itu aku perlu bertanya beberapa pertanyaan padamu."
Kyuhyun tidak mengatakan apa-apa, sehingga aku melanjutkan, "Pertama, apa kita memakai kondom? Kedua, apa aku perlu cek untuk STD?"
"Menurutmu bagaimana?"
Aggghhh… rasanya aku ingin menampar Kyuhyun saat itu juga. Kenapa dia membalas semua pertanyaanku dengan pertanyaan lagi? Apa belum puas dia menyiksaku selama ini? Kenapa setiap kali aku berhadapan dengan laki-laki ini aku selalu naik darah? Aku ini orang yang ramah, tetapi Kyuhyun memang tidak berhak mendapatkan keramahanku.
"Aku tidak tahu, Kyuhyun, itu sebabnya aku bertanya padamu. Apa kau pikir mudah untuk bertanya pertanyaan-pertanyaan ini padamu?"
Tanpa kusangka-sangka Kyuhyun mencengkeram pergelangan tanganku dan menarikku dengan paksa ke salah satu ruangan kosong. Dia menutup pintu tepat dibelakangnya sebelum kemudian mengahadapku lagi. Aku harus mengedipkan mata berkali kali untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan yang menyelimutiku. Hanya ada sedikit cahaya lampu yang masuk dari sela-sela di bawah pintu. Meskipun di luar masih terang, tetapi gorden beludru berwarna merah yang menutupi jendela, mampu mencegah sinar matahari untuk masuk.
"Kau benar-benar tidak ingat sama sekali?" kudengar Kyuhyun bertanya. Suaranya terdengar berat.
Perlahan-lahan aku bisa melihat bayangan tubuhnya. Setelah beberapa detik aku bisa melihat wajahnya dengan dahi yang berkerut. Sejujurnya dia kelihatan marah.
Kugelengkan kepala sambil menggigit mulutku bagian dalam. Aku tidak tahu kenapa aku merasa bersalah, seperti aku sudah tertangkap mencuri.
"Mmmhhh… sayang. Aku baru tahu kau ternyata terlihat lebih menarik jika tidak memakai pakaian." Ucap Kyuhyun sambil melangkah mendekatiku. Hanya dalam hitungan detik, nada Kyuhyun sudah berubah.
Kini, dia terlihat seperti binatang buas yang sudah siap menerkam mangsa yang tidak berdaya, yaitu aku.
Mataku terbelalak, bukan hanya karena kata-katanya, tetapi juga tindakannya. Bagaimana bisa laki-laki ini merubah emosinya lebih cepat daripada aku bisa menekan tombol ON dan OFF pada lampu?
Aku mencoba memperkirakan jarak ke pintu, tetapi tahu bahwa aku akan kalah cepat dengannya kalau memutuskan untuk melarikan diri. Apalagi karena dia sudah semakin mendekat dan menutupi satu-satunya jalan bagiku untuk kabur. Akhirnya aku memutuskan mengambil langkah mundur setiap kali dia mengambil langkah maju.
"Kau belajar striptease dari mana?" Lanjutnya dan mengambil satu langkah maju.
"Striptease?" aku mengambil dua langkah mundur. Dia terlihat agak terkejut melihat tindakanku, tapi kemudian ada senyum simpul yang muncul di sudut bibirnya. Senyum itu mengingatkanku akan film-film horor yang pernah kutonton, ketika karekater antagonis menikmati tatapan ketakutan pada wajah calon korbannya sebelum membunuhnya.
"Aku tidak keberatan kalau bisa melihatmu naked lagi." Dia mengambil dua langkah, yang membuatku hampir tersandung kakiku sendiri saat mencoba mengambil beberapa langkah mundur tanpa melepaskan tatapanku pada matanya yang kini berbinar geli melihat keteledoranku.
Suara tawa Kyuhyun menyuntikkan dosis keberanian dalam diriku. "Aku tidak takut denganmu, Kyuhyun," ucapku tegas. Meskipun kata-kata itu menjadi tidak berarti karena aku sekali lagi melangkah mundur.
"Oh ya?" Kyuhyun terdengar sinis ketika mengucapkan dua kata ini.
Aku menggeleng dan pinggangku bertabrakan dengan tempat tidur yang ada di ruangan itu. Untuk beberapa detik tatapanku beralih dari matanya, dalam usaha menyisiri satu sisi tempat tidur itu.
"Jadi kenapa nafasmu terlihat seperti orang ketakutan?"
Aku berhasil mencapai kepala tempat tidur itu dan melangkah menuju sofa yang bersandar pada dinding dekat pintu masuk. Sekali lagi kucoba memperhitungkan jarak ke satu-satunya jalan keluarku dan kali ini aku yakin bahwa jika aku lari, maka aku akan bisa keluar dari kamar ini sebelum Kyuhyun bisa menghentikanku. Aku mencoba untuk menarik nafas dalam-dalam dan mengambil ancang-ancang untuk aksi 'Wonder Woman'-ku itu.
Satu… dua…ti…
Ummpphh…
Semua udara di sekitarku tiba-tiba hilang dan kutemukan diriku terduduk di sofa dengan wajah Kyuhyun berada kurang dari sepuluh sentimeter di hadapanku. Aku bisa merasakan dan mencium nafasnya yang beraroma mint. Terakhir kali aku diserang oleh laki-laki seperti ini dan justru merasa level libidoku semakin naik adalah… uhm… sebenarnya hal itu tidak pernah terjadi padaku sebelum ini. Tubuhku menjadi kaku dan saluran pernafasanku seperti tersumbat karena terlalu kaget ketika menyadari hal ini. Aku tidak bisa mengalihkan perhatianku dari wajah Kyuhyun yang dengan sengaja menggunakan kedua tangannya untuk mengurung tubuhku. Aku masih takut pada Kyuhyun, tapi selain itu aku juga merasa… merasa… ya ampuunnn, aku tidak percaya bahwa aku menginginkan ini!
Aku ingin menarik kepala Kyuhyun dan menciumnya hingga kami sama-sama kehabisan nafas.
"Bolehkah aku menciummu?" bisaik Kyuhyun.
'IYAA, BOLEHH!' Teriakku dalam hati. Tetapi tubuhku tidak mengikuti pikiranku karena aku merasakan kepalaku menggeleng cepat.
Kepala Kyuhyun semakin mendekat dan aku bisa merasakan nafasnya membelai bibirku.
"Yakin?" tanyanya lagi dan bukannya mengangguk aku justru menggeleng.
Dan detik selanjutnya berlalu dengan agak kabur. Kurasakan bibir Kyuhyun menyerang bibirku dengan ganas. Satu tangannya sudah meremas kuncir kudaku dan memaksaku untuk mengangkat wajahku ke arahnya agar dia bisa mempunyai akses lebih mudah diletakkan pada lengan sofa untuk menopang tubuhnya agar bisa tetap membungkuk di hadapanku. Aku baru akan membuka mulutku untuk protes ketika Kyuhyun menggunakan kesempatan ini untuk menyerang lebih ganas lagi.
"Kyuhyun," ucapku ketika Kyuhyun melepaskanku untuk satu detik. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa laki-laki yang sedang mengobrak-abrik bibirku saat ini adalah Kyuhyun, mimpi burukku, yang telah aku coba hindari selama beberapa hari ini. Aku tidak menyadari bahwa aku telah mengucapkan namanya dengan nada seperti pertanyaan ketika kudengar Kyuhyun menjawab, "Ehm?" di antara ciumannya.
Pada saat itu juga bel peringatan berbunyi didalam kepalaku. Kuangkat kedua tanganku ke atas dadanya agar bisa mendorongnya agar menjauhiku, tetapi ketika telapak tanganku menyentuh dadanya yang oh… tegap sekali, aku justru menarik dasinya sehingga dia kehilangan keseimbangannya dan jatuh di atas pangkuanku.
'Stop! Apa aku sudah gila?' Teriakku dalam hati. Aku seharusnya sudah menendang laki-laki ini pada area di antara kedua pahanya, bukan justru mencoba untuk memutar tubuhku tanpa melepaskan bibirnya dan merapatkan tubuhku pada tubuhnya. Puas dengan posisiku, aku menyerang Kyuhyun dengan lebih antusias.
"Ahhh…" desah Kyuhyun yang memberikan reaksi positif atas tindakanku.
Pada detik itu aku menyadari bahwa Kibum pasti sudah gila karena memilih tetap single. Apa dia tidak pernah merindukan sentuhan laki-laki pada tubuhnya? Tapi itu tidak adil. Mungkin Kibum memang tidak pernah merasakan sentuhan laki-laki seperti ini, itu sebabnya dia tidak pernah merindukannya.
"Mmmhh…," ucapku sambil menyisirkan jari-jariku pada rambutnya yang ternyata sehalus rambut bayi.
Sepertinya Kyuhyun memiliki gaya sendiri untuk men-style rambutnya. Lain dengan kebanyakan laki-laki zaman sekarang yang memakai gel rambut sampai sekilo banyaknya dan menyebabkan rambut mereka jadi sekeras batu, Kyuhyun lebih memilih gaya natural. Alhasil, selain halus, rambut itu juga hanya berbau sampo khusus untuk laki-laki yang segar. Yang jelas aroma Kyuhyun lebih harum daripada bayi yang baru saja dimandikan. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghirup aroma kulitnya, hembusan nafasnya, dan parfumnya.
Ketika aku melepaskan bibir Kyuhyun untuk mengambil nafas, kurasakan Kyuhyun sedang mencoba untuk menarik celanaku ke bawah tapi tidak berhasil karena terhalang sabuk di luar kemejaku. Dari tatapan matanya aku tahu bahwa hanya ada satu hal yang ada di dalam pikirannya itu. Aku tahu saat laki-laki sudah melewati batas kemampuan mereka untuk berhenti. Apa aku akan melakukannya dengan Kyuhyun? Lagi? Di rumah sakit? Aku akui bahwa memang kamar itu tidak sedang digunakan dan gelap gulita sehingga tidak akan ada orang yang bisa melihat apa yang terjadi di dalamnya, tetapi tetap saja… seseorang bisa tiba-tiba masuk dan menemukan kami dalam posisi yang aku yakin bisa membuat Kyuhyun dipecat. Belum lagi ini akan membuatku dan keluargaku malu setengah mati.
Tapi sepertinya akal sehatku sedang mengambil cuti pada detik itu dan tanpa kusadari, dengan tangan yang sedikit gemetar aku mulai meraba dada Kyuhyun. Tanpa menanggalkan dasinya kubuka kancing kemejanya satu persatu lalu kubiarkan tanganku menyentuh kaus putihnya. Kurasakan otot-ototnya bereaksi di bawah sentuhanku. Tidak ada satu bagian tubuhnya yang tertinggal dari sentuhanku. Bahu, dada, tulang rusuk, pinggang, dan berakhir di kepala sabuknya. Aku ragu sesaat. Mata Kyuhyun menantangku untuk melakukan satu-satunya hal yang dia tahu akan kulakukan tetapi ragu melakukannya. Aku yakin bahwa aku sudah gila ketika aku mulai melonggarkan sabuk itu dari ikatannya.
"Ohh tidak.." desah Kyuhyun yang membuatku menghentikan apa yang sedang aku lakukan.
"Kau tidak ingin…" aku belum selesai mengatakan apa yang ingin aku katakan ketika Kyuhyun menggenggam kepalaku di antara kedua tangannya dan menyerang bibirku lagi.
Kyuhyun membawa bibirnya pelan-pelan mencium cekungan pada dasar leherku. Dan akal sehatku hilang ketika kurasakan lidahnya bersentuhan dengan kulitku. Aku hanya bisa mendesah sambil menopang tubuhku pada bahu Kyuhyun agar tidak meleleh saat itu juga.
"Sweet. Just as I thought," bisik Kyuhyun.
Kusembunyikan wajahku di lehernya. Aku tidak ingin dia melihat bahwa mataku sudah mulai berkaca-kaca karena ekstasi yang kurasakan.
Kurasakan bibir Kyuhyun mencium pelipisku, kemudian dia berbisik, "I want to take you right here right now."
Kutarik wajahku dari leher Kyuhyun dan kucium bibirnya untuk mencegahnya berbicara lagi. Kehangatan menyambutku. Tidak rela bahwa hanya dia yang bisa menyiksaku, aku pun mulai mengeksplorasi lehernya. Ternyata kulit Kyuhyun tidak hanya sewangi kulit bayi. Tapi juga sehalus kulit bayi.
Kyuhyun berhenti menciumku untuk beberapa detik untuk berkata, "God that feels good."
Pada detik itu aku menyadari kekuasaan yang dimiliki oleh seorang wanita untuk memuaskan laki-laki hanya dengan ciumannya. Aku memiliki dua pilihan, aku bisa berhenti menciumi lehernya atau…
Tanpa kusangka-sangka Kyuhyun mencengkeram kedua bahuku dan menjauhkan bibirku dari kulitnya. Aku mencoba kembali melanjutkan aktivitasku, tetapi cengkeraman Kyuhyun membuatku terhenti. Kutatap wajahnya yang kini sedang menatapku sambil mengernyitkan dahi. Seakan-akan dia tidak mengenaliku.
Aku bingung sesaat ketika melihat tingkahnya, tapi kemudian dia mendekatkan wajahku pada bibirnya sebelum memberikan satu kecupan lembut di sudut bibirku. Kyuhyun kemudian membawa kepalaku ke lekungan lehernya lalu memelukku dengan erat. Aku benar-benar bingung dengan tingkah aneh Kyuhyun, tetapi aku merasa terlalu nyaman untuk mempertanyakan ini semua. Perlahan-lahan aku mencoba mengatur nafasku kembali.
Leher Kyuhyun terasa hangat di samping pipiku. Aku bisa merasakan detak jantungnya di depan dadaku.
Deg deg… deg deg… deg deg… mungkin ini hanya perasaanku saja, tetapi sepertinya detak jantung itu lebih cepat daripada normal.
"Kau baik-baik saja?" bisik Kyuhyun.
Pertanyaan Kyuhyun membangunkanku yang hampir saja terlena di dalam pelukan Kyuhyun.
Aku mengangguk menjawab pertanyaanya.
"Aku harus berhenti sebelum semuanya melewati batas, " lanjutnya.
Mungkin kata-kata ini tidak akan masuk akal jika dikatakan dalam konteks lain, tetapi pada saat itu, aku memahami apa yang dia katakan. Diam-diam aku tersenyum. Aku tidak menyangka jika Kyuhyun bisa bertingkah manis juga. Tanpa kusangka-sangka Kyuhyun mencium keningku dan aku meleleh.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk memaksamu," ucapnya.
Aku mengangguk. Kubiarkan diriku tenggelam di dalam pelukan Kyuhyun. Kuhirup aromanya dalam-dalam dan berpikir. What the hell just happened? Dan apa yang akan kami lakukan setelah ini?
"Min?"
"Hm?" jawabku tanpa mengangkat kepala
"Kau ternyata jauh lebih liar dari yang kupikirkan selama ini." Ucapnya sambil tertawa dan membelai rambutku.
Aku ikut tertawa dengannya. "Is that good or bad?" lanjutku setelah tawaku reda.
"It's fantastic. You're fantastic," bisik Kyuhyun
Aku tersenyum ketika mendengar komentarnya. Kami lalu berdiam diri lagi selama beberapa menit di dalam keheningan dan menikmati rasa damai yang tiba-tiba menyelimuti kami berdua. Kurapatkan tubuhku pada tubuhnya dan perlahan-lahan mengembuskan nafas.
Ketika merasa bahwa kakiku mulai akan kram, kuangkat kepalaku untuk menatap wajahnya. Kyuhyun ternyata sedang menutup mata. Ketika dia membuka mata itu dan tersenyum, suatu lampu merah yang terlewatkan olehku selama satu jam terakhir ini muncul kembali. Senyum itu… senyum yang benar-benar Kyuhyun. Senyum yang selalu diberikannya padaku sebelum kemudian dia melakukan sesuatu yang akan membuatku sangat marah padanya sampai aku tidak bisa berkata-kata. Dan dalam waktu kurang dari satu detik aku langsung melompat berdiri dari pangkuannya dan hampir saja jatuh kalau tidak buru-buru mendapatkan keseimbanganku kembali.
.
.
.
-TBC-
