Jam menunjukan pukul 6 pagi. Dan ketika pagi buta masih membutakan (?) Mata, kedua mata warna azure terlihat menongol dari bawah meja, melihat secara intens (?) Dan kosong (?) Dengan mata ngantuk yang memiliki kantung mata 5 kg (?) Itu. Mata itu berkedip sekali. Dua kali... Tiga... Tiga sayang semuanya :v (?) #plak
"... Udah belom?"
"Belom lah shota, sabar aja..."
"..."
Rin dan Len berlutut di dekat meja, rambut merkea masih dilepas dan memakai piyama serasi yang bergambar jeruk dan pisang berwarna oren, kepala mereka menongol dan melihat... Pemanas air (?). Tiba-tiba terdengar suara air mendidih dan kedua mata azure itu melihat lagi ke arah sang (?) Pemanas air agung (?) Tersebut. Lalu Rin terlihat menoleh ke adik kembarnya, menunjuk ke arah pemanas air. Si Len dengan takutnya menggeleng-geleng, tapi Rin dengan muka marah menunjuk lagi lalu mengepal satu tangannya dan menunjukan telapak tangan satu lagi sambil menunjuk ke Len dan memukul-mukul telapak tangan tersebut lalu ditepok (?) Ke tembok dan pura-pura melempar ke arah toilet (?) Lalu melotot dan menunjuk lagi ke arah pemanas air. Len dengan takut akhirnya pelan-pelan membuka tutup pemanas air tersebut. Miku, yang terbangun karena suara tepokan tangan Rin, menguap dan sadar bahwa kedua kembar rambut kuning itu lagi berlutut di depan meja di hotel. "Rin? Len? Kalian ngapain?"
TING! (?)
"He?"
"MIKU-NEE TIARAAAPP!"
"HEEE?!"
Miku langsung tiarap dan melindungi kepalanya dengan tangan, bersiap-siap untuk yang terburuk, tapi tiba-tiba suara itu berhenti dan dia mengangkat kepala hanya untuk melihat si kembar kagamine lagi pegang gelas, dan Len menyuguhkan satu ke Miku "Miku-nee mau teh?"
"...he?"
-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-
"Mikuuuu... Bangun, kita udah mau breakfast..." Kaito mengetuk-ngetuk pintu kamar Miku. Tidak ada jawaban. Wah, masa si Miku kecapean terus pundung (?) Karena males main ke laut sih? Padahal hari ini mau keliling Belitung... Kaito menghela napas lalu kembali ke kamarnya dan sesampainya disana memberi tanda ke Meiko dan Luka yang baru bangun. Sesudahnya kedua cewek itu memakai headphone super tebal 5 mil (?) Sementara Kaito memakainya juga sambil mengambil senjata pemungkas (?) Yang nggak kalah drai negi cannonnya Miku, yaitu Belitung Aisu-Aisu Titan BUM BUM BANG terompet extreme (?). Lalu mengambil nafas dalam-dalam dan...
TETERETETERETERETETRETETEEEEEETTT!
Kaito, setelah meniup terompetnya pergi ke resepsionis dan mengambil konci dari bawah meja resepsionis sambil meminta ijin (tidak didengar) ke mba disana yang telinganya udah tuli gara-gara terompet Kaito. Setelah mendapat konci ia pergi ke kamar Miku dan menemukan penghuninya lagi pingsan di depan pintu. Kaito dengan rasa sayange (?) Menunjuk-nunjuk pipi adeknya "Miku, Breakfast."
-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-
"...kalian tumben banget nggak berisik.." Meiko berkata sambil melahap omelet yang sedang dia makan sementara Luka masih melahap roti bakar yang dia taroh Tuna segede truk (?) Diantara roti tersebut (?) Tunanya mentah (?) Lagi.
"Yah, selain karena kecapean dari kemaren, terompet nii-san udah cukup membuat orang tuli." Miku berkata sambil masih mengorek-ngorek telinganya yang penuh kotoran kuping #plak sambil melahap buburnya dengan wajah kesal.
Kaito sweatdrop di tempat dan berkeringat dingin setelah mendapat glare mematikan ala negi (?) Punya adeknya "ahaha... Yah, hari ini kita keliling pakai mobil kok..."
"Nggak akan basah-basahan?"
"Nggak."
"Yeei! Kalau gitu ayo karaoke ntar malem!"
"YESSS!"
-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-
Setelah breakfast, semua langsung pergi ke mobil masing-masing, dan Miku harus mendengarkan si kembar kuning itu beradu mulut soal gantungan kunci rilakuma/pedobear (?)Nya. Tapi, 5 menit kemudian...
"ZZZZZZ"
"Groookkk (?)"
Rin dan Len sudah tertidur lelap sambil ngorok (?) Lagi. Makin nggak bisa tidur deh dia, kasian...
Untunglah akhirnya dia pake rambut ahoge-nya Piko untung menyumbat telinganya dan akhirnya tidur...
-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-
"Heeeee... Ini kuil buddha ya?"
"Ya, kuil kwan-im."
Kaito menjawab sambil memakai topi dan menyerahkan sunblock + topi ke adiknya sementara yang lain sedang sibuk dengan sunblock dan topinya masing-masing. Lalu ketika sampai di depan tangga, semua langsung mengeluarkan wajah capek ala black star yang melihat Excalibur (?), satu anak tangga dinaiki... Wajahnya makin banyak kerutan. Dua anak tangga dinaiki... Entah gimana sudah keringet jagung... 3 anak tangga, pingsan semua (?)
AKHIRNYA setelah beberapa benjolan gara-gara digebukin Meiko, mereka akhirnya sampai di atas, di kuilnya. Sepertinya pergi dari pantai untuk sementara waktu enak juga... Disini nggak terlalu panas, ada banyak pohon, ada air kelapa yang seger, dan, yang paling enak... Badan nggak lembab gara-gara air laut! Begitu masuk ke dalam (sudah lepas sandal), Kaito mengambil hio yang disitu diikuti dengan yang lain, lalu membakar Hio itu di tempat-tempat yang tersedia, di depan ada 3, di luar ada 2. IA dan Miku sempat agak kebingungan musti diapain hio-nya, mereka nggak familiar dengan ini...
"Miku.."
"Ya?"
"Ini... Apa?"
"Ehm... Aku denger ini namanya 'Io' atau apa gitu?"
"Hio kali... Io mah yang di acchi kocchi..."
"Oh..."
Rin dan Len, yang walaupun agamanya bukan buddha lebih tahu soal ini daripada kakak-kakaknya, soalnya obaa-san mereka turunan China. Dengan hati-hati menaruh hio yang baru dibakar dan menaruhnya di bagian agak belakang, lumayan penuh sih, dan...
"Shota..."
"Ya, aku tahu..."
Tempat menaruhnya penuh dengan hio terbakar di depan, yang tersentuh sedikit dijamin bisa bikin kaget dan menjatuhkan apapun yang sedang mereka pegang. Ini sudah layaknya sebuah X-level di trauma center. Len dan Rin sudah hati-hati, dan, beruntungnya Len, kaosnya ada lengannya selengan, sementara Rin tank top. Jadi ketika kena yang lebih kena justru Rin. Untung hionya sudah ditaruh...
Setelah selesai berdoa di dalam, Miku, Rin Len, IA dan Gumi keluar dan cuci tangan plus duduk-duduk. "Rin lu nggak pa-pa tangannya?"
"SAMA SEKALI NGGAK." Rin bilang sambil menaruh air di tangannya untuk mendinginkan luka bakar.
"Ntar di mobil ada obat kok. Nanti aku ambil..."
"Eh eh Dewi Kwan-im tuh siapa sih?"
"Gue juga nggak tahu... Tapi itu ada gambarnya disana..."
"Hmmm..."
"Eh..."
"Napa, IA?"
"Di-disini udah cuma tinggal kita kan? Pengunjung lain udah kebawah semua kan?"
"Ya, kenapa?"
"Te-terus... Yang ngisap rokok itu... Siapa...?" IA berkata ketakutan sambil menunjuk ke rokok yang asapnya masih banyak sekali, seakan baru beberapa menit ditinggalkan...
'Aduh...'
"Jangan-jangan..."
"De-Dewi Kwan-im?"
...
Semua langsung buru-buru lari turun ke bawah.
-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-
-setelah perjalanan panjang yang tentunya mereka tidur lagi...#plak-
"Gedung apaan ini..." Miku melihat dengan muka -_- ketika melihat ke papan yang ada di depan.
'MUSEUM AHOK'
"..."
"Miku, lu nggak ikut masuk?"
"Nggak ah, aku di mobil aja. Males."
NEXT! (?)
-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-
"Woooww! Tempatnya kereeenn!" Rin lari-lari mengelilingi lapangan rumput (+batuan) disitu dimana ada bangunan kecil dari kayu diatas bukit kecil disitu. Dimana ini? Ini tempat syuting Laskar Pelangi, tepatnya bangunan SDnya.
Setelah puas melihat-lihat, mereka berangkat lagi mengelilingi Belitung. Sumpah, jalanannnya lebih mulus dari jalan tol, enak banget... Tapi baru juga beberapa menit, mereka berhenti lagi untuk melihat sebuah danau, Miku nggak terlalu ngedengerin penjelasannya Kaito karena ngantuk, tapi setelah itu mereka langsung memulai perjalanan lagi; ke Museum Laskar Pelangi a.k.a rumahnya Andrea Hirata.
Di dalam, ada banyak poster tentang cerita-cerita Laskar Pelangi. Ada juga semua versi Laskar Pelangi di seluruh dunia di dalam papan display. Ada yang bahasa indo (ya iyalah -_-), inggris, jepang, china, dll. Tempatnya juga enak, walau tanpa AC, entah mengapa tempatnya adem dan tidak panas, rasanya enak banget tempat ini. Ketika sampai ke tempat yang lebih dalam, ruang tamu rumah ini (karena ada kursi-meja tamu disana) sudah ditransformasi menjadi kafe kecil, dengan menu minuman disana. Ada juga bekas akuarium ikan yang isinya kertas-kertas. IA melihat kertas-kertas itu dan membacanya, oh, itu ternyata fan mail-nya Andrea Hirata dari para fans-nya... Di sebelah juga ada banyak buku-bukunya Andrea Hirata, penuh dengan tulisan tangannya. Ada buku pelajaran bahasa jepang, novel, dan lain sebagainya.
Perjalanan berlanjut lagi... Tentunya dengan mereka yang rakus makanan mampir ke restoran terus. Pantesan aja mereka jadi gendut :v #plak
Perjalanan hari ini berlalu dengan cepat, semua capek tapi kadang-kadang jalan-jalan juga. Dan semua sudah tidak sabar untuk main event hari ini; karaoke.
-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-
Malam-malam jam 8 malam (?) Semua sudah pergi ke karaoke, sementara Kaito sibuk ngurusin pembayaran yang lain pergi ke ruang karaoke.
"Gue mau ke mobil dulu ambil sunblock kita yang ketinggalan. Miku jagain yang lain ya."
"Ya, ya, nii-san, kita bukan anak kelas TK kan?"
Kaito, bareng dengan Meiko keluar pintu dan mau turun ke bawah. Dengan Kaito menyipitkan mata sebentar ke arah belakang, memastikan mereka nggak akan apa-apa. Kaito tidak tahu bahwa ternyata ketika dia pergi para anak-anak matanya bersinar kejam.
-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-
"Ketemu nggak?" Meiko bertanya ke Kaito yang lagi nyari-nyari di dalem mobil.
"Nggak..."
Meiko menghela napas, pacarnya ini kalau ngelihat benar-benar tidak teliti... Kaito akhirnya menyerah dan duduk di jok diikuti dengan Meiko. "Besok cari lagi aja... Nanti kubantu."
"...ya."
Tiba-tiba, ketika mereka lagi adegan mesra-mesraan seperti di manga atau fic romance (?) Tiba-tiba seorang pegawai hotel ngedatengin dan neriakin.
"WOY MAS ITU ANAKNYA JAGAIN DONG!"
"EEHH?! A-anak?!"
"Eh, tunggu. Mereka ngapain tadi?"
-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-
"... KALIAN NGAPAIN?!" Kaito berteriak sekeras mungkin setelah dibimbing si pegawai hotel hanya untuk melihat... IA, Miku dan yang lain sudah membuat panggung dari kantong ajaibnya Pikoemon (?) Dan lagi nyanyi-nyanyi dengan banyak pengunjung seperti layaknya konser sekarang.
"Menarilah dan terus tertawa..!" Miku bernyanyi disambung IA dan yang lain.
"Walau dunia tak seindah surga...!"
"Bersyukurlah pada yang kuasa..."
"Jika kita di duniaaaaaaa... Woo oh..."
"Selamanyaaa..."
Begitulah malam itu Meiko menghukum mereka semua harus langsung tidur.
-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-
A/N: minna! Maaf ya Shiro update lama... Shiro lagi nggak ada waktu (dan inspirasi) akhir-akhir ini buat nulis! Ini aja Shiro tulis dan post waktu lagi outing kelas... Ini lagi di bisnya, hahaha...
2-3 chap lagi Miku akan meninggalkan Belitung... Kasian juga ya, padahal di Belitung asik haha...
Maaf Shiro nggak nulis banyak-banyak, Shiro suka jadi mual kalau nulis/baca di Bis, maaf! Shiro akan usahakan updatenya lebih cepat!
Bersediakah anda semua meninggalkan kenang-kenangan untuk saya di kolom review? :3
