Title : Complicated

Author : Nam Gina

Cast :

Xi Luhan (GS)
Kim Jongin
Oh Sehun
Kim Seok jin
Jeon JungKook (GS)

Genre : romance, friendship, a little hurt.

Rated : T

Desclaimer : Luhan dan Jin milik saya. Ingat! Milik saya! Huahahaha *evil laugh* . tapi aslinya mereka semua yang ada di ff saya ini milik tuhan, orang tua dan mereka sendiri.

Warning Note : Out Of Caracter, Gender Switch, Age selection ^.^


Previous Chapter:

TOK TOK TOK

"noona, aku sudah datang~" teriak Jin dari balik pintu. Luhan segera memasukkan piyama kedalam tasnya, meraih ponselnya dan meliriknya sebentar. Ada dua pesan masuk. Dia pun segera kebawah untuk menghampiri Jin dan langsung berangkat.

"ne Jinnie, kajja berangkat sekarang saja." Sahut Luhan segera setelah membukakan pintu. Dia langsung menggaet lengan Jin agar Jin bergegas.

"ne baiklah." Mereka pun pergi ke apartemen Jin. Tanpa mereka ketahui, ada seseorang yang berada tak jauh dari sana memperhatikan mereka.

"kau pergi dengan anak baru itu? Malam-malam begini? Kau berbohong padaku hmm?"

Happy reading

.

.

.


Chapter 7


"noona, kau terlihat lelah. Noona sudah makan malam? Kajja kita makan malam dulu, biar aku yang menyiapkannya. Noona tunggu di sofa saja ne~ jamkkanman." Ujar Jin sesaat setelah mereka sampai di apartemen Jin.

CUP~

"gomawo Jinnie~" ucap Luhan setelah mengecup pipi gembul Jin.

"aish seenaknya saja menciumku. Jangan salahkan aku jika aku menciummu noona!" Luhan mehrong.

"sudah sana. Kau ini terlalu banyak bicara. Aku sudah lapar." Ucap Luhan seraya mendorong Jin.

"hhhh ne~ arraseo!" ujar Jin lalu berjalan ke dapur. Luhan memeriksa ponselnya. Ternyata sudah ada 3 pesan disana.


From : Sehun3

"aku hanya mesum padamu Lu :* aish perhatian sekali calon istriku ini kkk ne~ arraseo eomma :p hahh kau sudah makan? Padahal aku ingin makan bersamamu Lu huhuhu"

-pesan pertama-


From : Jonginnie

"kau sedang apa baby? Nan bogosipheo ({})"

-pesan kedua-


From : Sehun3

"Luhannie? Apa kau sudah tidur? Huhhh kau menyebalkan."

-pesan ketiga-


Luhan mulai membalas pesan itu satu-persatu.

To : Sehun3

"aku belum tidur sehunnie. Mian tadi Jin sedang menjemputku. Aku malam ini menginap di rumah Jin. Dia bilang minta ditemani. Ya! Apa maksudmu dengan calon istri eoh? Neo jinjja! Ah bagaimana kalau kau Ke kemari saja kalau kau mau sehunnie, kurasa Jin tidak akan keberatan."


To : Jonginnie

"aku baru saja ingin istirahat Jonginnie, kau istirahatlah~ jaljjayo chagi :*"


Baru saja selesai mengirim pesan pada Kai, Luhan kembali mendapat pesan dari Sehun.


From : Sehun3

"beri tahu aku alamat apartemen Kim Seok Jin itu, aku berangkat sekarang."


setelah membaca pesan Sehun barusan, Luhan mulai mengetikkan alamat apartemen Jin lalu mengirimnya pada Sehun. lalu dia memberi tahu Jin jika Sehun sedang dalam perjalaan kemari.

"MWOYA? Untuk apa nooona menyuruh hyung itu kemari? Aku kan hanya ingin bersamamu noona. Ish kau menyebalkan. Aku membencimu. Terserah kau saja!" tanya Jin terkejut. Dia benar-benar kesal. Dia hanya ingin Luhan bersamanya. Bukan orang lain. Jin segera beranjak ke kamarnya. Meninggalkan Luhan sendiri. Terserah apa yang ingin dilakukan oleh Luhan, dia tidak mau peduli. Saat ini dia benar-benar kesal pada Luhan. Tau begini lebih baik dia sendirian saja disini.

"Jinnie, jangan begitu~ aku fikir jika lebih banyak orang akan lebih baik. Jinnie, dengarkan aku dulu." Jin tidak mengidahkan panggilan Luhan. Dengan segera dia masuk ke kamarnya.

"aish eottokhae? Lebih baik aku telfon Sehun saja agar dia tidak usah kemari." Monolog Luhan. Lalu dia mencoba untuk menelefon Sehun.

"yeoboseyo?" terdengar suara Sehun dari seberan sana.

"Sehunnie, kau sudah berangkat? Sudah sampai dimana?" tanya Luhan langsung.

"ini aku sudah sampai di parkiran Lu. Wae?"

"kau sudah sampai? Kau tunggu aku disana saja. Aku segera kesana." Ucap Luhan tergesa-gesa lalu menutup telfonnya dan segera menuju ke parkiran.

...

"Sehunnie~!" sapa Luhan manja ketika dia bertemu dengan Sehun. sehun tersenyum.

"aku kan bisa kesana sendiri, tidak usah menjemputku kemari segala. Apa kau terlalu merindukanku eoh?" goda Sehun seraya mengerling pada Luhan.

"ish pede sekali. Mian Hunnie sepertinya kau tidak perlu kesana. Mood anak itu sedang tidak baik. Kau pulang saja ne?" Ucap Luhan takut. Setelah ini Sehun pasti akan mengoceh panjang lebar.

"mworago? Jangan harap aku akan membiarkanmu tidur berdua dengan seorang namja. Lagipula kan tadi kau yang menyuruhku kemari Lu. Kau tega sekali padaku. Dan juga untuk apa kau menginap di apartemennya eoh? Sebenarnya apa hubunganmu dengan Kim Seok Jin itu? Kenapa kau terlihat lengket sekali dengannya sejak kau tahu anak itu sudah pindah ke seoul." Benar dugaan Luhan. Sehun berbicara panjang lebar tanpa lelah(?) Luhan menarik nafasnya lalu mulai menjelaskan dengan tenang.

"mianhae Sehunnie~ Jin di seoul ini hanya seorang diri. Orang tuanya jauh di paris. Hanya aku yang dia kenal disini. Dia kesepian. Dan aku akan selalu menemaninya. Untuk soal hubunganku dengan Jin. Lain kali akan ku jelaskan. Kau tidak usah berfikiran macam-macam. Kau yang paling mengerti bagaimana aku Sehunnie. Jadi percayalah padaku." Sehun menarik nafas lalu menatap teduh Luhan. Dia tersenyum lembut.

"Baiklah Lu, aku percaya padamu. Jaga dirimu. Kalau begitu aku pulang ne." Ucap Sehun dengan tangannya yang menangkup kedua pipi Luhan. Luhan tersenyum manis.

"gomawo Hunnie. Ne arraseo." Luhan berucap setelah memeluk tubuh tinggi Sehun. merasakan hangatnya tubuh itu. Sehun melepaskan pelukan tersebut dan kembali menangkup pipi Luhan dengan kedua tangannya. Dia menatap dalam kedua manik Luhan. Meminta izin dengan tatapan itu. Melihat Luhan tersenyum,

CHU~

Tanpa basa-basi lagi, Sehun mendaratkan bibirnya di bibir Luhan. memberikan lumatan-lumatan pada bibir manis itu. Menyesapi rasa manis yang tidak pernah hilang disana. Luhan mengalungkan tangannya di leher Sehun dan membalas setiap lumatan yang dia terima dari Sehun. Sehunpun mulai hilang akal. Nafsunya sudah di ubun-ubun ketika Luhan menepuk dadanya. Sepertinya Luhan sudah hampir kehabisan nafas. Sehun melepaskan ciuman tersebut lalu beralih pada leher jenjang Luhan. Luhan yang tersadar segera menjauhkan wajah Sehun dari lehernya. Dia takut Sehun melihat tanda kemerahan dari Kai tadi sore. Walaupun dia sudah mengoleskan foundation tadi, tapi tetap saja dia takut. Bagaimana jika nanti foundationnya luntur.

"Sehunnie, aku harus segera kembali ke apartemen Jin. Kau pulanglah sana." Ucap Luhan sambil menunduk. Dia malu.

"eung mian Lu, baiklah kalau begitu aku pulang sekarang." Sahut Sehun lalu mengecup singkat puncak kepala Luhan. Luhan mendongakkan kepalanya yang menunduk tadi.

CUP

"hati-hati di jalan. Aku pergi ne. Paipai" Luhan mengecup singkat bibir tipis sehun lalu segera beranjak dari sana. Terlalu malu jika dia harus tetap berada disana. Sehun tersenyum bahagia seraya meraba bibirnya sendiri. Lalu dia kembali melajukan motornya untuk pulang ke apartemennya.

...

"Jinnie~? Apa kau benar-benar membenciku?" teriak Luhan dari depan pintu kamar Jin.

"Jinnie kau mendengarku? Aku masuk ne?" lanjutnya ketika tidak mendapatkan jawaban dari dalam.

CKLEK

"Jinnie, mianhae~ aku sudah menyuruh Sehun pulang. Maaf aku lancang membawa Sehun kesini. Jeongmal mianhae~ jebal." Ucap Luhan memelas. Dia duduk dipinggir ranjang tempat jin merebahkan tubuhnya. Jin masih belum memberikan respon.

Luhan mulai menggoyang-goyangkan tubuh Jin yang terbaring membelakanginya. Jin masih bertahan pada posisinya.

"baiklah kalau kau tidak mau berbicara padaku, lebih baik aku pulang saja. Sekali lagi aku minta maaf Jinnie. Jaljjayo. Saranghae~" ucap Luhan sendu. Baru saja dia berdiri, sebuah tangan menahan pergerakannya. Tentu saja itu tangan Jin.

"aku memaafkanmu! Jangan pulang." Ucap Jin dengan cepat. Tetapi tetap dengan ekspresi dinginnya.

"gomawo Jinnie~ jeongmal saranghae~" ujar Luhan seraya memeluk erat tubuh Jin. Jin membalas pelukan Luhan dan tersenyum.

"nado saranghae noona. Mian aku terlalu kekanakkan. Tapi aku hanya ingin bersamamu noona. Neomu mianhae." Sesal Jin atas sikap kekanakkannya.

"arraseo Jinnie, kajja kita makan? Tadi kita belum sempat makan kan?"

"hmm ne, kajjA!" Jin pun menggandeng tangan Luhan ke dapur dan menyiapkan makan malam mereka.

...

Drrtt drrtt drrtt

Drrtt drrtt drrtt

"noona~ ada telfon!" teriak Jin pada Luhan yang sedang berada di dapur membersihkan peralatan yang mereka gunakan untuk makan tadi. Sedangkan dia sendiri sedang menonton TV.

"dari siapa Jinnie?" terak Luhan dari dapur.

"eungg, dari eomma." Teriak Jin lagi setelah melihat layar ponsel Luhan.

"bisa kau angkat saja? Aku masih belum selesai disini."

"O.K!" selanjutnya Jin menerima telfon tersebut.

PIP

"yeoboseyo?" ucap Jin setelah menerima telfon tersebut.

"neo nuguya? Ini ponsel Luhan bukan?"

"ini aku Jin eomma, ne ini ponselnya Luhan noona. Luhan noona sedang di dapur eomma."

"aaaah Jinnie? oh geurae, yasudah tidak apa-apa. bagaimana kabarmu Jinnie? sudah lama eomma tidak melihatmu."

"hehe Jinnie baik eomma, eomma sendiri bagaimana?"

"syukurlah, eomma juga baik~"

"syukurlah~ eomma sedang dimana?"

"eomma sedang di swiss Jinnie, wae?"

"whoaa eomma di swiss? Aniyo, hehe. Kapan eomma pulang ke seoul?"

"hmm mungkin sekitar satu atau dua bulan lagi Jinnie~"

"ah geurae, Eungg malam ini Luhan noona menginap di apartemen Jinnie tidak apa-apa kan eomma?"

"Ah tentu saja tidak apa-apa Jinnie, kenapa Jinnie tidak tinggal di rumah saja sekalian? Kan agar lebih mudah, tidak perlu menyewa apartemen segala."

"Ah gomawo eomma~ tidak eomma, kata appa agar Jinnie bisa mandiri. Hehe"

"ah begitu. Yasudah kalau begitu. Eomma titip Luhan ne, sampaikan salam eomma pada Luhan. Eomma masih ada pekerjaan lagi, eomma tutup ne. Baik-baiklah disana, jaga jesehatan kalian. Paipai."

"baik eomma, Jinnie akan menjaga Luhan noona untuk eomma dan appa seperti dulu hehe. Pasti eomma. Ah ne eomma. Eomma dan appa juga jaga kesehatan disana. Paipai"

PIP

Sambungan telefon itu terputus. Jin memang sudah sangat dekat dengan keluarga Luhan. Eomma dan appa Luhan pun sangat menyayangi Jin seperti anaknya sendiri. Begitu pula sebaliknya. Luhan yang baru saja selesai dari urusannya di dapur segera menghampiri Jin.

"yahh telfonnya sudah di tutup? Ah jahat sekali."

"eomma masih banyak pekerjaan noona, tadi eomma menyampaikan salam untuk noona."

"huhhh baiklah. Aku ganti bajuku dulu ne Jinnie."

"ne~"

Luhan masuk kedalam kamar Jin untuk mengganti bajunya dengan piyama yang dia bawa tadi dari rumahnya. Setelah berganti pakaian, Luhan meraih tasnya untuk memasukkan baju yang dia kenakkan tadi. Tidak sengaja dia menyenggol sebuah kotak dan menjatuhkannya. Luhan mengambil kotak tersebut dan membukanya.

'ini? kalungku... ternyata dia benar-benar menyimpannya. Kukira sudah hilang karena dia tidak pernah memakainya.' batin Luhan. lalu dia mengeluarkan kalung itu dari kotaknya.

.

.


"noona, bolehkan Jinnie mencium bibir noona? Sebagai tanda perpisahan kita noona, Jebal"

"mianhae Jinnie, noona tidak bisa. Yang lain saja ne?"

"Tapi noona hiks"

"uljima my guardian. pakai dan simpan ini. berjanjilah pada noona untuk kembali suatu saat nanti. Jika kau benar-benar kembali, noona akan memberikan yang Jinnie minta. Eotte?"

"jadi kalau Jinnie nanti kesini lagi, Jinnie boleh mencium noona? Jinjja? Baiklah Jinnie berjanji akan kembali lagi. Tapi kalau nanti noona melupakan Jinnie bagaimana?"

"tidak akan, noona tidak akan melupakkanmu Jinnie. Baiklah noona akan menunggumu disini. Jja! Sekarang pergilah, ahjumma dan ahjussi sudah menunggu."

"O.K! tunggu aku noona, sampai bertemu lagi! Aku akan kembali untukmu!"


.

.

Luhan kembali teringat masa lalunya. Saat Jin baru akan pindah ke Paris.

"hhh apa kau masih mengingatnya Jinnie? kuharap tidak. Hehehe" Luhan berbicara pada dirinya sendiri. Karena memang dia hanya sendiri disana. Tapi ternyata tidak, tanpa Luhan ketahui, Jin sudah berada diambang pintu sejak tadi Luhan menjatuhkan kotak itu.

"kalau aku mengingatnya memang kenapa noona?" tanya Jin menelisik.

"ah Jinnie, eungg aniyo hehe tidak apa-apa." Luhan meletakkan kembali Kalung itu kedalam kotaknya dan meletakkannya di atas meja. Tetapi Jin malah menambil kotak itu dan membukanya.

"aku takut untuk memakai ini. ini terlalu berharga. Aku takut jika aku memakainya, nanti aku menghilangkannya. Jadi lebih baik aku simpan saja. Hmm kurasa noona sudah mengingatnya kan? Lalu..." Jin menggantungkan kalimatnya.

"lalu apa Jinnie?"

"lalu... bagaimana dengan ucapanmu dulu noona? Kurasa aku akan menagihnya sekarang."

"hhh baiklah, apa yang kau mau?"

"hehe sebelumnya aku akan mengajukan beberapa pertanyaan untukmu noona."

"baiklah terserah kau saja Jinnie~ mau bertanya apa hmm?" Luhan mendekati Jin yang kini tengah berada di balkon. Dia bergelayut manja di lengan Jin dan menyenderkan kepalanya disana.

"baiklah, kau tahu kan aku mencintaimu noona."

"hmm, arra. nado saranghae Jinnie."

"tapi kau mencintaiku sebagai apa noona?"

"hmm? Maksudmu?"

"noona mencintaiku sebagai apa? apa hanya sebagai dongsaeng? Atau..."

"hhh molla Jinnie. aku mencintaimu. Aku menyayangimu. Aku akan melakukan apapun untukmu selagi aku bisa melakukannya."

"kenapa?"

"eoh? Apanya yang kenapa?"

"kenapa noona mau melakukan apapun untukku? Apa karena rasa hutang budi?"

"ani, aku memang merasa berhutang budi padamu Jinnie. tapi bukan karena itu. Aku hanya ingin menjadi yang terbaik untukmu, selalu ada untukmu. Sepertimu dulu yang selalu ada untukku."

"Lalu, kenapa dulu noona menolak- ah ani. Kenapa dulu noona tidak mau memberikan emm itu emmm ciuman perpisahan untukku. Bolehkah aku tau alasannya?" Luhan melepas pelukannya di lengan Jin lalu memandang ke bintang Dilangit (*kaya yg di pilem-pilem)

"errr itu, dulu aku mencintai seseorang. saat kau menolongku dulu saat pertama kali kita bertemu itu. aku merasa kesepian. dia meninggalkan aku ke Jepang selama 4 tahun. aku tidak punya siapa-siapa lagi kecuali Lee ahjumma yang bertugas untuk mengurus rumah. kau tahu sendiri eomma dan appa selalu pergi keluar negeri dan hanya pulang 2 tahun sekali. makanya aku merasa benar-benar terbuang. tapi dia bilang dia pasti akan kembali. maka dari itu, aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku hanya akan memberikan ciuman pertamaku pada orang itu. Mianhae Jinnie~" luhan menunduk. Lalu Jin memeluk Luhan dari belakang.

"eunggg, apa orang itu~ Sehun hyung?" Jin mengeratkan pelukannya di pinggang Luhan.

"eoh? Eungg itu, emm itu, hmm n-ne. Ba-bagaimana kau tau?" akhirnya Luhan mengatakan yang sejujurnya pada Jin.

"apa sampai saat ini noona masih mencintai Sehun hyung?" tanpa menggubris pertanyaan Luhan. Jin lanjut bertanya.

"eumm kurasa begitu,"

"Itukah sebabnya noona tidak bisa mencintai Kim Jongin itu? Karena noona mencintai Sehun hyung."

"ne Jinnie." Jin membalikkan tubuh Luhan agar berhadapan dengannya.

"lebih penting siapa. aku atau Sehun hyung?" Jin menatap kedalam manik Luhan. Luhan menunduk.

"aku tidak bisa memilih Jinnie, kalian berdua dan kedua orang tuaku adalah orang terpenting di hidupku. Aku tidak bisa memilih siapa yang lebih penting." JIn menangkup kedua pipi Luhan.

"tatap aku noona. Apa kau akan mengabulkan semua permintaanku?" Luhan mengangguk tanpa suara.

"apapun itu?" tanya Jin lagi meyakinkan.

"ne, apapun itu Jinnie" Ucap Luhan seraya tersenyum.

"bahkan jika aku meminta noona untuk... menciumku?" Luhan terdiam sejenak.

"ne, aku akan melakukan apapun untuk mu. Jika kau ingin aku menciummu. Aku akan menciummu." Jawab Luhan pada akhirnya. Luhan bersungguh-sungguh. Dia menatap kedua manik Jin.

"hhh sudahlah~" Jin beranjak dari balkon. Masuk kembali kedalam kamarnya. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Luhan mengikuti dari belakang, dia duduk di pinggiran ranjang Jin. Jin bingung. Luhan terlihat ragu tapi dia terlihat bersungguh-sungguh.

"kau meninggalkanku!" Luhan mempoutkan bibirnya. Dia merajuk. Dia tau, Jin ingin Luhan untuk menciumnya. Tapi Luhan bingung dengan sikap Jin. Jin malah menjauh dan tidur diranjangnya.

Jin merubah posisi tidurnya menjadi duduk dengan bersender pada kepala ranjang. Dia tersenyum melihat ekspresi Luhan yang menurutnya sangat menggemaskan. Dia tidak tahan untuk tidak mencubit hidung mungil Luhan.

"ish appo. Kau ini sebenarnya kenapa eoh?" Luhan mengelus-elus hidungnya yang menjadi sasaran cubitan dari Jin.

"aniyo noona. Seharusnya kau memanggilku oppa. Bukan aku yang memanggilmu noona. Lihatlah kau ini seperti anak-anak yang suka sekali merajuk." Jin terkikik.

"cih tidak sadar diri." Luhan meremehkan.

"hahaha noona tidak lelah? Aku mengantuk noona~" ujar Jin manja.

"heum. Aku juga mulai mengantuk. Jja kita tidur." Jin mengangguk mantap. Mereka tidur di ranjang itu. Karena di apartemen Jin hanya ada satu kamar dan tentu saja juga hanya ada satu ranjang.

"noona..." Luhan sudah menutup matanya. Tetapi Jin masih setia memandangi wajah Luhan.

"heumm?" sahut Luhan tanpa membuka matanya.

"saranghae~" ucap Jin lalu menutup matanya. Mencoba untuk tidur. Luhan justru membuka matanya dan tersenyum.

"nado saranghae Jinnie~"

CHU~

"jaljjayo my guardian" Luhan mencium bibir Jin sekilas. Dan tersenyum. Kemudian kembali menutup matanya mencoba untuk tidur.

CHU~

"jaljjayo princess" Luhan terkejut saat Jin melakukan apa yang dilakukannya barusan. Jin mencium bibirnya tapi sedikit lebih lama. Jin mencoba menyalurkan perasaannya. betapa dia sangat menyayangi dan mencintai Luhan. Luhan tersenyum yang tentu saja terlihat oleh Jin. Jin sangat bahagia. Dia membawa Luhan kedalam dekapannya. Luhan membalas memeluk Jin. Dan akhirnya mereka tertidur dalam posisi berpelukan.

...

Drrtt drrtt drrtt

Drrtt drrtt drrt

Hari sudah pagi menjelang siang, Jin mencoba menggapai ponselnya yang terletak di meja kecil disamping tempat tidurnya. Pergerakannya terhalang karena posisi Luhan yang tertidur diatas lengannya. Dia mencoba mengambil ponselnya itu tanpa membangunkan Luhan. Dan dengan susah payah akhirnya ponsel itu dapat digapainya.

"Jungkook menelfon? Tumben sekali.." lalu Jin mengangkat telfon itu.

"yeoboseyo? Jungkook? Ada apa?"

"ne Jin-ah, maaf aku menelfon. apa aku mengganggu?"

"ah sebenarnya aku baru saja bangun hehe tapi tidak apa-apa. waeyo kookkie?"

"eumm mianhae Jin, sebenarnya aku sedang diluar. Kebetulan aku akan melewati apartemenmu. Jadi aku memutuskan untuk mampir ke apartemenmu. Apa tidak apa-apa?"

"eoh? tentu saja tidak apa-apa Kookkie, Memangnya kau dimana sekarang?"

"aku sekarang sedang di pertigaan, sebentar lagi sampai."

"ah baiklah kalau begitu,"

"Yasudah aku tutup ne"

PIP

Sambungan telefon itu pun terputus. Jin melirik ke arah Luhan. Ternyata Luhan sudah bangun.

"nugu?" tanya Luhan penasaran.

"ternyata sang putri tidur sudah bangun eoh? Itu, Jungkook. Hehe" Luhan menyipitkan matanya karena mencium gelagat yang agak berbeda dari Jin.

"kau, berpacaran dengan Jungkook?" Jin mebelalakkan matanya.

"MWOYA? Aish. Apa hanya karena Jungkook menelfonku lalu kau menuduhku berpacaran dengannya? lalu bagaimana denganmu. Bahkan aku tidur satu ranjang denganmu tapi aku tidak berpacaran denganmu noona." Luhan memutar bola matanya jengah.

"bukan itu maksudku. Tingkahmu aneh sekali."

"ah itu hehe. Jungkook sedang dalam perjalanan menuju kemari."

"ooh, pergilah mandi. Biar aku yang membukakan pintunya nanti."

"bahkan kau pun belum mandi noona! Bagaimana kalauuu"

"dalam mimpimu! Sudah cepat sana. Aku masih wangi. Tidak sepertimu. Palli!"

"aish jahat sekali. Yasudah tapi..."

"hhh apa lagi Jinnieku yang maniiis?"

"ppoppo"

"haishh"

CHU~

"sudah cepat sana!"

"ah bahagianya hidupku~" ujar Jin seraya berjalan kedalam kamar mandi.

"ada-ada saja anak itu." Selanjutnya Luhan beranjak ke kamar mandi yang berada diluar untuk mencuci mukanya.

...

TOK TOK TOK

Tak lama setelah Luhan selesai cuci muka. Terdengar ketukan pintu. Luhan segera membukakan pintu.

"ah annyeong Jungkook-ah~ ayo masuk." Jungkook terkejut. Pasalnya Luhan yang membukakan pintu apartemen Jin. Dengan menggunakan piyama. PIYAMA!

"eh? Ah n-ne eonni. Khamsahamnida." jawab Jungkook kaku.

"tidak perlu seformal itu Jungkook-ah. anggap saja rumahmu sendiri. Maaf sepertinya kau terkejut saat aku membukakan pintu tadi. Kau bingung ne? Hehe Jin sedang mandi jadi aku yang membukakan pintu. Sebentar lagi Juga dia selesai. Ah itu dia."

"maaf menunggu lama, hehe" sahut Jin yang baru saja keluar dari kamar mandi.

"ah gwaenchanha Jin-ah." balas Jungkook seraya tersenyum.

'kenapa senyum itu manis sekali ya tuhaaan' batin Jin terpana melihat senyum Jungkook.

"ya Jinnie! kenapa kau diam disitu eoh? Temani Jungkook. Aku mau mandi." Jin hanya tersenyum idiot.

"nah Kookkie, Jin sudah datang. Aku tinggal ne."

"ne eonni." Lalu Luhan beranjak dari sofa menuju kamar Jin untuk mandi.

"apa sudah lama Kook? Mian aku baru bangun ketika kau menelfon tadi dan langsung mandi. Hehe"

"ah gwaenchanha Jin. Lagipula aku baru saja sampai. Mian aku mengganggumu dan Luhan eonni."

"ah aniyoo, Luhan noona hanya menginap saja semalam hehe. Kau dari mana Kook?"

"Jinnie, apa kau punya sikat gigi baru? Aku lupa membawa sikat gigi." Teriak Luhan dari dalam kamar memotong percakapan JinKook.

"tidak. Pakai saja yang ada noona. Kau ini bawel sekali." Teriak Jin. Luhan muncul(?) dari balik pitu.

"mwo? shireo! Itukan bekas mulutmu. Aku tidak mau. Apa benar-benar tidak ada Jinnie?" tolak Luhan manja. Dia mempoutkan bibirnya.

"tidak ada noona~ sudahlah pakai saja punya ku. Memangnya kenapa kalau bekas mulutku eoh? Bahkan semalam saja kau-" Jin tidak melanjutkan kata-katanya karena mendapatkan pelototan dari Luhan. Dia melirik kearah Jungkook yang sedang menunduk.

"ah sudahlah lanjutkan acaramu dengan Jungkook. Mianhae Kookkie aku mengganggu."

"ah aniyo eonni gwaenchanha." Luhan pun kembali kedalam kamar.

"Kook tadi kau belum menjawabku, kau dari mana?"

"ah m-mian, tadi pagi aku pergi ke bandara. eomma pergi ke china menyusul appa."

"oh geurae, lalu di rumah kau dengan siapa?"

"aku sendiri, makanya aku memutuskan untuk mampir ke apartemenmu. Taehyung sedang sibuk juga."

"memangnya kau tidak takut sendirian dirumah?"

"emm molla hehe mungkin nanti aku akan mengajak Taehyung menginap dirumah Selama eomma pergi."

"bukannya katamu tadi taehyung sedang sibuk?"

"ah benar juga. Eumm yasudah berarti aku memang harus sendiri haha"

"emm yasudah kalau begitu. Eh kamu mau minum apa kook? Maaf aku sampai lupa hehe."

"ah tidak perlu Jin. Emm jin-ah, apa kau pacaran dengan Luhan eonni?"

"eh? Aniyo. Kurasa seisi sekolah pun tau kalau Luhan noona adalah yeojachingu Kim Jongin. dan kalaupun nanti Luhan noona putus dengan Kim Jongin itu, aku harus bersaing dengan Sehun hyung. sudah jelas aku kalah telak haha. memangnya kenapa Kook?"

"emm begitu, aniyo. Aku lihat kau dekat sekali dengan Luhan eonni. Kukira kalian pacaran hehe"

"Jinnie, aku pulang ne? Kookkie, hati-hati dengan anak itu. Kadang dia menggigit. Hahaha ah ya kau kan belum sempat sarapan. Ajaklah Jungkook keluar untuk makan. Kau mau kan Kookkie?" ujar Luhan yang sudah rapi. Dia baru saja keluar dari kamar Jin. Jin hanya memutar bola matanya jengah. Menurutnya Luhan kini terlihat seperti seorang ibu yang akan meninggalkan anaknya ke pasar.

"ne eonni" balas Jungkook tersenyum.

"noona, kau ini terlihat seperti seorang ibu yang akan meninggalkan anaknya ke pasar."ujar Jin mengejek

"ish kau ini. yasudah aku pergi. Annyeong" Luhan langsung saja melengos pergi.

"ya! Noona tunggu! Jamkkanman ne Kook. Kau tunggu disini sebentar." Jungkook mengangguk. Jin langsung menyusul Luhan.

"noona! Ya! Tunggu sebentar!" Jin menahan Luhan di depan pintu.

"ne? Apa lagi Jinnie sayang?" tanya Luhan lembut.

"noona pulang dengan siapa? biar aku antar saja ne?" tanya Jin khawatir.

"tidak perlu. Aku dijemput Jongin. Lagipula kau ini lupa eoh? Kalau kau mengantarku pulang lalu bagaimana dengan Jungkook hmm?"

"ah benar juga. Lalu mana Kim Jongin itu?"

"dia diparkiran. Yasudah aku pulang ne. Kalau ada apa-apa hubungi saja aku."

"pasti noona." Luhan tersenyum lalu beranjak pergi. Tapi Jin kembali menahannya.

"ada apa la-" tanpa menunggu waktu lama, Jin mencium bibir Luhan. Disertai dengan lumatan-lumatan kecil. Tidak seperti semalam yang hanya menempel saja. Luhan terdiam. Dia tidak bisa membalas. Dia terkejut. Lalu Luhan memejamkan matanya. Menikmati lumatan Jin di bibirnya.

Tak lama, Jin menyudahi ciumannya. Jarinya bergerak di bibir Luhan untuk mengelap bekas saliva yang menempel lalu mengecup singkat bibir itu. Jin tersenyum, Luhan ikut tersenyum.

"jja, sekarang kau boleh pulang. hati-hati dijalan noona."

"hmm. Aku pulang. Paipai." Kali ini Luhan benar-benar pulang. Jin kembali kedalam apartemennya.

"mianhae Kook aku lama ne?"

"gwaenchanha." Jawab Jungkook seraya tersenyum. Jin terpesona dengan senyuman Jungkook.

"Eumm Jin-ah~ apa aku boleh bertanya?" Jin tidak menjawab, matanya fokus pada wajah imut Jungkook.

'ya tuhaaan, aku rela melepaskan Luhan noona untuk Sehun hyung asalkan kau mengizinkan aku untuk memiliki yeoja yang ada dihadapanku ini. noona, mian hatiku berpaling. Aku merasakan jatuh cinta lagi~ ah indahnya hidup' batin Jin melayang.

"Jin?" ujar Jungkook lagi karena Jin tidak kunjung menjawabnya. Tangannya mulai dilambai-lambaikan didepan wajah Jin.

"Kim Seok Jin? Apa kau baik-baik saja?" masih tidak mendapat respon dari Jin, Jungkook pun menggoyang-goyangkan bahu Jin.

"Jin-ah?"

"eh-ah? n-ne? Ada apa Kook?" jawab Jin tersadar dari lamunannya.

"gwanchanha? Kau sakit?" tanya Jungkook khawatir.

"ne~ kurasa ada yang aneh dengan diriku." Jin masih belum sepenuhnya sadar dari lamunannya.

"aneh bagaimana? Bagian mana yang sakit? kau sudah minum obat?" tanya Jungkook masih dengan nada khawatir.

"disini terasa begitu berdebar saat aku berada didekatmu Jungkook-ah." ucap Jin sambil memegang dadanya. Jungkook merona mendengar ucapan Jin. Jujur saja kini jantungnya sedang berdetak tidak karuan.

"ish kau ini ada-ada saja Jin-ah. jangan bercanda seperti itu. Itu tidak lucu." Jungkook berusaha menepis perasaannya. Dia sebenarnya memang menyukai Jin. Sangat. Tapi dia takut Jin hanya bergurau dengar perkataannya barusan.

"aku tidak bercanda Jungkook-ah. aish kau manis sekali saat merona seperti itu." Goda Jin. Jungkook tambah merona. Pipinya makin memerah dengan godaan Jin.

"ish kau ini. sudahlah, kau belum makan kan? Kajja kita keluar membeli makan." Jungkook tidak mau terus-terusan terhanyut dalam acara blushingnya. Akhirnya dia menarik tangan Jin untuk keluar membeli makan.

"ya! Kook-ah! Sebentar aku ganti baju dulu. Aku juga harus mengambil ponselku yang tertinggal di kamar."

"hhh pakai baju itu saja. Yasudah cepatlah. Aku tunggu diluar."

"apa tidak apa-apa? mm yasudah jamkkanman." Ucap Jin ragu-ragu. Pasalnya sekarang dia hanya mengenakan celana pendek selutut dan baju kaos saja.

"ne~" sahut Jungkook malas.

.

.

.

.

.

T...B...C


annyeong yeorobun~ akhirnya ketemu di Chapter 7. gimana-gimana? ini Chapter terpanjang yang pernah gina bikin hoho apa masih kurang panjang kah? haduuuh maafin ya kalau emg masih kurang panjang ^^

mianhae Gina ga bisa update secepet sebelumnya karena sekarang gina lagi agak sibuk gitu kkk~ tapi Gina janji bakal update satu minggu sekali. mungkin ff ini bakal END sekitar 2-4 chapter lagi soalnya takut pada bosen hehehe


okeh, sekarang gina mau balesin review dari chingudeul yang ga bisa gina bales lewat pm :)

- Ekso : makasih ya chingu, walaupun kamu baru read ff gina, tapi kamu mau ngereview :) maaf buat ada yang nemuin kata-kata Suzy, itu aku habis nonton dramanya dia jadi malah kebawa-bawa gitu deh -_- mianhae chingu... buat hunhan momentnya nanti dulu ya ^^ soalnya kasian Kai nya blm dapet peran yang berarti sebelumnya hehe tapi aku pasti ngasih hunhan moment kok walaupun cuma sedikit. soalnya aku hunhan hard shipper XD tapi aku juga suka kalau Luhan di pasangin sama Kai kkk~ maaf ya, kalau ga suka sama adegannya KaiLu ._. yup betul sekaliiiii yang ngintip itu Kai. liat aja tuh matanya bintitan kkk /becanda/ sampai ketemu di chapter selanjutnya ne~ gomawo *deepbow*

- slcbkk0996 : gomawo~ hmm pasti mereka Jadian kok, jadi tunggu aja ya... mungkin chapter berikutnya, berdoa aja~ kkk sampai ketemu di chapter selanjutnya~ ^^

- park in : /jengjeeeeng/ gina datang menepati janji ^^ gina udah bikin JinKook momentnya agak sedikit lebih panjang disini. cuma sedikit tapi hihi tapi gina udah bikin Jin mulai tersepona gitu sama Jungkook. nanti di chapter depan gina banyakin lagi kok tenang aja hehe. iya Luhan tetep cinta sama Sehun seorang kok, itu cuma karena Luhan mau ngebahagiain Kai dulu sebelum dia ninggalin Kai. jahat sih, tapi rela bagi-bagi? /loh/ sebelumnya kan Luhan ga pernah mau dicium gitu sama Kai. gitu loh chingu :) oia, maaf ya buat yang sedang berpuasa, bukannya gina gak menghargai dengan updatenya ff gina yang ratingnya agak sedikit melebihi batas kewajaran ini. cuma otak gina nya aja yang lagi gak wajar gitu kkk neomu mianhae~ makanya gina updatenya selalu malem-malem gini hehehe. gomawo ne buat reviewnya~ sampai ketemu di chapter seanjutnya ^^


oia, mungkin para reader sekalian ada yang mau request endingnya mau kaya gimana... boleh, aku open mind kok, soalnya aku juga belum nentuin sih endingnya bakal gimana hihihi bisa tulis di kolom review ya ;) atau bisa juga lewat PM ;)


okeh sekian balesan reviewnya, makasih sebanyak-banyaknya buat readers, reviewers, followers, dan juga favoriters XD saranghae! hihihi

akhir kata,

KAMSAHAMNIDA~