Story About Us
VII
By
Arisa Adachi
Pairing :: KyuMin, YeWook, ZhouRy, YesungxOC dan HaeHyuk (yang ini cuma brothership doang)
Disclaimer :: Super Junior sah milik SMEnt dan membernya milik diri mereka masing-masing. Kecuali untuk Henry sama Jino sah milik saia *digampar*
Warning :: BoysxBoys, OOC, gaje,
…
Jam dinding di kamar Henry menunjukkan pukul 23:39. Tetapi namja manis berusia 16 tahun itu masih duduk di kursi belajarnya dengan buku-buku pelajaran bertebaran di sekitaran mejanya.
Berkali-kali namja bernama lengkap Cho Henry itu menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Mencoba untuk menetralisir rasa kesal yang berkecamuk dalam pikirannya.
Bagaimana tidak kesal, coba? Dari jam sembilan tadi Henry sudah mulai belajar untuk ujian fisika besok. Tapi baru sekitar 10% yang masuk ke otaknya. Jangan katakan Henry bodoh. Henry adalah anak yang cerdas seperti appa-nya, kecuali untuk pelajaran yang membutuhkan hitungan. Oke, Henry akui dia memang agak lemah disitu. Tapi sekali lagi Henry bukan anak bodoh.
Lalu kenapa anak sulung pasangan Cho Kyuhyun dan Lee Sungmin itu baru menghapal sekitar 10% dari pelajarannya sedangkan dia sudah mulai buka buku lebih dari dua jam yang lalu.
Hmm… mungkin ada baiknya kalau kita melirik ke kasur Henry dan lihat ada apa disana.
Ada Kim Hyukjae yang sedang main pesawat-pesawatan sambil menirukan bunyi pesawat dengan suara cemprengnya. Lalu ada adik kembar si Hyukjae yaitu Kim Donghae yang sedang berbicara dengan bahasa aneh dengan si imut Cho Jinho. Dan jangan lupakan suara jerit tawa dari Jino yang merasa geli karena tingkah Donghae.
Sekarang anda mengerti 'kan kenapa Henry tidak juga bisa belajar dengan tenang…?
Poor Henry…
"Haaaaaa~hhh" sekali lagi Henry menghela napas. Tentu saja awalnya dia tidak mau membawa ketiga setan cilik itu ke kamarnya. Lalu bagaimana mereka bisa berada di sana? Oh, tidak lain tidak bukan karena perintah dari eomma tercinta.
Tentu saja Sungmin melakukannya bukan karena sengaja. Tapi karena di bawah tepatnya di ruang tamu sedang berlangsung pembicaraan antara orang dewasa.
Masih jelas diingatan Henry bagaimana tadi Wookie ahjumma yang dating menjemput Hae dan Hyuk dengan wajah sembab. Melihat itu tentu saja membuat Sungmin khawatir. Karena itu dia menyuruh Henry untuk membawa dongsaeng-dongsaengnya ke kamar Henry.
Henry sendiri penasaran ada apa dengan Wookie ahjumma. Tidak biasanya ahjumma-nya yang imut itu berwajah sembab begitu. Tapi tentu orang tuanya akan melarang kalau dia ikutan nimbrung dengan pembicaraan orang dewasa.
Henry bergerak untuk meregangkan ototnya, 'mereka membicarakan apa yaa? Uuuh~ jadi penasaraaan~' gerutu Henry.
'Hmm… entah salah dengar atau bagaimana, rasanya aku mendengar nama Yesung ahjussi disebut-sebut…'
…
Wookie duduk sambil menundukkan kepalanya. Disampingnya Sungmin terus mengusap punggung Wookie lembut.
"Haaah… aku tidak mengerti apa yang Yesung hyung pikirkan sampai bisa berbuat seperti itu" gumam Kyuhyun sambil memijat pelipisnya.
Wookie masih menunduk. Sesekali tangannya terjulur untuk mengusap satu dua titik air mata di sudut matanya, "A-apa yang harus kulakukan…?" suaranya terdengar parau.
Sungmin hanya memandang sahabatnya dengan tatapan prihatin. Sebagai sesama 'ibu' Sungmin paham betul apa yang saat ini Wookie rasakan. Harus berpisah dari anak yang dilahirkan dengan mempertaruhkan nyawa adalah hal yang tidak mudah. Andaikan suatu saat pun Sungmin harus berpisah dari Henry dan Jino… Sungmin memejamkan mata. Tidak sanggup membayangkan kalau saja anaknya diambil dari sisinya.
"Pokoknya jangan pernah serahkan Donghae dan Eunhyuk pada Yesung hyung" gumam Sungmin tegas.
Wookie mengangkat wajahnya, menatap sahabatnya itu, "kau tidak mengerti Sungmin, kalau bersama Yesung hyung mungkin kehidupan Donghae dan Eunhyuk akan lebih terjamin, selain itu…" kembali Wookie menundukkan kepalanya, "mereka juga akan mempunyai keluarga yang lengkap" bisiknya lirih.
"Lalu kau akan melepas Donghae dan Eunhyuk begitu?" suara Sungmin meninggi, "setelah apa yang kau korbankan selama ini untuk membawa Donghae dan Eunhyuk kedunia ini, membesarkan mereka dan pada akhirnya kau akan menyerahkan mereka begitu saja pada orang lain? Begitu?"
"Yesung hyung bukan orang lain, Sungmin…" bisik Wookie, "dia adalah appa Eunhyuk dan Donghae…"
"Appa? Buka matamu Kim Ryeowook! Setelah apa yang si brengsek itu lakukan padamu, kau masih menganggap dia sebagai appa dari kedua anakmu?" ujar Sungmin emosi.
"Lalu aku harus bagaimana? Aku juga tidak ingin berpisah dari Eunhyuk dan Donghae, tapi aku juga tidak boleh egois dengan menahan mereka tetap bersamaku, sementara kalau bersama appa mereka kehidupan mereka akan lebih terjamin!"
Sungmin menatap Wookie. Wajah namja itu terlihat memerah, setitik air mata kembali mengalir menuruni pipinya.
Namja aegyo itu menghela napas, matanya ia alihkan ke arah lain, "aku… kalau seseorang meminta Henry dan Jino, aku tidak akan menyerahkan mereka. Tidak akan pernah" gumam Sungmin.
Kyuhyun menghela napas, "benar apa kata Sungmin, Wookie…" gumamnya, "selama ini kau berhasil membesarkan Donghae dan Eunhyuk tanpa ada masalah, lalu kenapa kau harus menyerahkan mereka pada Yesung? Dan kalau kau ingin agar Donghae dan Eunhyuk memiliki keluarga yang lengkap, bukankah kau bisa menikah dengan orang lain?"
"Aniyo, Kyu… aku tidak ingin menikah…"
"Tidak apa kalau kau tidak ingin menikah, tetapi menikahlah demi Eunhyuk dan Donghae. Menikahlah agar kau dapat memberikan keluarga yang lengkap untuk Donghae dan Eunhyuk" balas Kyuhyun.
Wookie menatap Kyuhyun sejenak, sambil kemudian kembali menunduk, "aku… tidak tahu… entahlah…" bisiknya lirih.
"Jadi kau memang akan menyerahkan Donghae dan Eunhyuk pada Yesung?"
Wookie diam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk, "aku hanya ingin yang terbaik untuk mereka…"
"Pernahkah kau memikirkan perasaan Donghae dan Eunhyuk andaikan Yesung membawa mereka pergi darimu. Bagaimana pun kau adalah eomma mereka, aku yakin Donghae dan Eunhyuk tidak akan mau kalau harus berpisah darimu" ujar Sungmin sambil menatap Wookie.
Wookie balas menatap Sungmin sambil tersenyum tipis, "aku yakin istri Yesung hyung akan menjadi eomma yang baik untuk mereka"
Sungmin hanya menatap Wookie dengan pandangan tidak percaya. Mau seperti apapun dipikirkan, rasanya keputusan Wookie sangat tidak masuk akal. Menyerahkan anaknya yang dibesarkannya seorang diri pada seorang namja brengsek semacam Yesung. Itu sangat tidak masuk akal.
Wookie lalu bangkit dari duduknya, "Ne, aku harus pulang sekarang" gumamnya, "mana Hyuk dan Hae?"
Sungmin menghela napas, "mereka di kamar Henry, biar kupanggil mereka" ujar Sungmin lalu beranjak pergi menuju kamar Henry.
"Kau yakin dengan keputusanmu, Wookie?"
Wookie menoleh memandang Kyuhyun, "ne, selama itu yang terbaik untuk Donghae dan Eunhyuk aku yakin" jawabnya sambil tersenyum.
"Kau yakin itu yang terbaik untuk Donghae dan Eunhyuk?" tanya Kyuhyun lagi.
Wookie masih menatap Kyuhyun. Namun kali ini namja manis itu tidak mampu menjawab.
…
Wookie merebahkan tubuhnya ke kasur. Hari ini benar-benar melelahkan. Kembali pikirannya teringat akan ucapan Kyuhyun tadi.
Apa memang ini yang terbaik untuk Donghae dan Eunhyuk…?
Wookie menghela napas.
Entahlah… dia pun tidak tahu.
'Krieeett…'
Wookie menolehkan kepalanya ketika mendengar pintu kamarnya terbuka. Matanya menunjukkan heran ketika melihat Eunhyuk dan Donghae berdiri di depan pintunya.
"Ada apa chagi?" tanya Wookie lembut.
Donghae dan Eunhyuk segera masuk ke kamar Wookie dan duduk di samping kiri-kanan eomma mereka itu.
"Eomma gwaenchanayooo~?" tanya Eunhyuk sambil memeluk lengan kanan Wookie. Sementara Donghae memeluk lengan kiri Wookie.
"Nae, gwaenchana… memangnya kenapa?" jawab Wookie terheran.
"Neee~ habisnya di mobil tadi eomma diam cajaa~ Hae jadi khawatil~" kali ini yang menjawab Donghae.
Wookie diam sejenak sebelum akhirnya tertawa pelan, "Hahaha… eomma baik-baik saja kok". Dalam hati dia merasa agak terkejut ketika kedua buah hatinya seolah merasakan apa yang dia rasakan.
"Benelan~?"
Wookie mengangguk sambil mencium gemas kepala Donghae, "Ne, sudah malam, ayo kembali ke kamar kalian"
Eunhyuk menggeleng sambil mengeratkan pelukannya pada, "Aniyooo~, hali ini Hyuk mau tidul cama eommaaa~"
"Ne, ne… Hae jugaa~"
Sekali lagi Wookie tersenyum. Dengan perlahan dia beringsut dan membaringkan tubuhnya diikuti dengan Donghae dan Eunhyuk yang langsung masuk ke pelukannya.
Wookie tidur menyamping sambil mengusap rambut Eunhyuk pelan, sementara Donghae memeluk tubuh Eunhyuk dari belakang.
"Ne, chagi…" Wookie membuka suara. Mengakibatkan Donghae dan Eunhyuk yang tadi sudah menutup mata kembali membuka matanya.
"Kalau appa sudah ada disini, kalian mau tinggal sama appa?" tanya Wookie sambil menatap mata kedua anaknya.
"Mwo? Memangnya appa cudah pulang, eomma?" tanya Donghae semangat. Mata bulatnya terlihat berbinar senang.
Wookie mengangguk, "Jadi bagaimana? Mau tinggal sama appa?"
"Mau!" kali ini yang menjawab Eunhyuk, "dali dulu Hyuk pengen ketemu appa~"
Wookie tersenyum. Selain dirinya ternyata anaknya juga merindukan sosok appa mereka, "antara eomma dan appa, kalian ingin tinggal dengan siapa…?" tanyanya lagi.
"Heee~?" Donghae memiringkan kepalanya. Sementara Eunhyuk hanya memandang Wookie bingung.
"Aniyoo~" gumam Donghae, "Hae maunya tinggal cama appa dan eommaa~" ujarnya.
Mendengar itu Eunhyuk menoleh ke arah Donghae, "telus kalo tinggal dengan Hyuk, Hae nggak mauuu~?" matanya agak berkaca-kaca waktu menanyakan itu. Habisnya tadi Donghae 'kan bilangnya mau tinggal sama appa dan eomma.
Melihat wajah kakak kembarnya yang seperti mau menangis, Donghae jadi gelalapan sendiri, "Ne, ne… cama Hyuk juga kok~" jawab Donghae sambil memeluk Eunhyuk lembut.
Melihat itu Wookie hanya tersenyum. Dengan lembut dieratkannya pelukannya, membuat tubuh mungil Hyuk dan Hae merapat ke arahnya.
Dalam hati Wookie benar-benar bersyukur pada Tuhan atas kehadiran dua malaikat kecil yang kini berada dalam dekapannya. Dan mungkin tidak ada salahnya untuk membiarkan Yesung mendekap dua malaikatnya itu.
Tidak lama Eunhyuk dan Donghae sudah tertidur. Kembali Wookie tersenyum sambil merapatkan selimut pada tubuh kedua anaknya. Memastikan tubuh kecil kedua anaknya tetap hangat. Dan itulah yang akan terus Wookie lakukan. Terus memastikan bahwa Donghae dan Eunhyuk mendapatkan yang terbaik. Sekalipun itu artinya dia harus melepaskan dekapannya pada kedua malaikatnya itu.
…
"Kau belum tidur?"
Namja tampan itu membalikkan badannya dari layar laptop yang sudah berada di hadapannya sejak tiga jam yang lalu. Namja itu tersenyum ketika mendapati sosok seorang yeojya yang disayanginya berdiri di depannya.
"Aku akan tidur kalau aku sudah mengantuk" ujarnya lalu kembali menghadap layar laptopnya.
Yeojya itu menghela napas, "Ini sudah sangat larut malam, kau mau tidur jam berapa lagi, Yesung?" ujar yeojya itu sambil memeluk namja tampan tadi yang merupakan suaminya dari belakang.
Yesung tersenyum sambil mengusap tangan istrinya yang melingkar di lehernya, "kau perhatian sekali, Kim Eunsoo…"
Eunsoo merengut kesal, "tentu saja! Aku 'kan istrimu, oppa!" gerutunya.
Yesung tersenyum. Lalu menengadahkan kepalanya dan mencium bibir istrinya lembut *author:: SAIA NGGAK RELAAAA! Enak banget Eunsoo di cipok ama Yeppa~*
"Ne, ne… aku tidur sekarang" gumam Yesung sambil bangkit dari kursinya dan membereskan meja kerjanya.
"Kau sudah berbicara dengannya?" tanya Eunsoo sambil duduk di tempat tidur.
"Dia siapa?" Yesung balas tanya sambil memakai piyama-nya.
Eunsoo menghela napas, "Dengan Kim Ryeowook tentu saja…"
Yesung berhenti mengancingkan piyamanya, "Ah… ya… sudah…" bisiknya lirih.
"Lalu, bagaimana? Apa dia mau menyerahkan anaknya pada kita?"
Yesung membalikkan badannya dan berjalan menuju tempat tidur, "dia belum menjawab apa-apa, aku hanya memberikan waktu untuk berpikir"
Eunsoo diam, matanya memandang suaminya yang sudah merebahkan badannya ke kasur, "menurutmu apa dia mau? Rasanya mustahil kalau ada seseorang yang mau menyerahkan anaknya pada orang lain"
"Orang lain?" Yesung mendudukkan badannya dan menatap istrinya, "aku ini appa Donghae dan Eunhyuk, kau 'kan sudah kuceritakan semuanya"
"Ne, oppa… hanya saja apa Ryeowook ah mau menyerahkan anaknya, mengingat kau sudah… emm… menyakitinya.." ujar Eunsoo sambil berbisik di kata terakhirnya.
Yesung diam sejenak, pandangannya terlihat menerawang, "mungkin hanya dengan merawat Donghae dan Eunhyuk satu-satunya cara untuk menebus kesalahanku di masa lalu"
"Dengan memisahkan seorang eomma dengan anaknya? Aniyo oppa, kau bukannya memperbaiki kesalahan, kau justru menambah kesalahan"
"Sudahlah Eunsoo, kau ingin punya anak 'kan? Aku tidak ingin kita mengadopsi anak yang tidak jelas anak siapa. Oke?"
Eunsoo hanya diam. Matanya menatap langsung ke mata suaminya, "Oppa… ada yang ingin kutanyakan…" gumam Eunsoo sambil menunduk.
"Apa? Tanyakanlah" balas Yesung sambil memajukan tubuhnya dan menggenggam tangan istrinya erat.
"Emm… apa oppa…" Eunsoo memandang suaminya takut-takut, "Apa oppa masih mencintai Ryeowook ah?"
Perlahan Yesung memundurkan tubuhnya dan melepas genggaman tangannya. Wajahnya terlihat datar, "kenapa menanyakan hal itu lagi? Sudah malam, tidurlah" ujarnya sambil kembali membaringkan tubuhnya membelakangi Eunsoo.
"Jawab oppa… kau masih mencintai Ryeowook ah, 'kan?"
Hening sejenak. Eunsoo masih betah menatap punggung suaminya. Menunggu jawaban dari pertanyaan yang akhir-akhir ini cukup sering ditanyakannya pada Yesung. Hanya saja selama ini Yesung tidak pernah memberikan jawaban yang jelas.
"Aniyo" jawab Yesung kemudian masih dengan posisi memunggungi Eunsoo, "dia masa laluku, aku tidak mencintainya lagi"
Eunsoo hanya diam. Giginya menggigit bibir bawahnya kuat dan tangannya mencengkeram ujung gaun tidurnya, "katakan itu sambil menatapku oppa… katakan kalau kau tidak mencintai Ryeowook ah sambil menatapku!"
"Jangan berbicara yang aneh-aneh, tidurlah"
Tes.
Satu tetes air mata mengalir menuruni pipi putih Eunsoo. Dia tahu dan dia sangat yakin kalau suaminya masih mencintai namja itu.
Ya… Yesung masih mencintai Kim Ryeowook.
…
(Yesung PoV)
Sekali lagi aku melirik jam dinding di ruang kerjaku. Sigh… masih jam sepuluh. Waktu makan siang masih sekitar dua jam lagi. Menyebalkan sekali berada di ruangan ini yang penuh dengan dokumen-dokumen merepotkan ini. Rasanya aku ingin pergi dari sini.
Yah, aku memang direktur disini. Tapi tetap saja aku tidak boleh keluar kantor seenaknya kalau pekerjaanku belum selesai. Bagaimana juga aku harus menunjukkan tanggung jawab terhadap pekerjaan sendiri pada bawahanku. Apa kata bawahanku kalau atasan mereka tidak tanggung jawab terhadap tugasnya sendiri.
Kembali aku melirik jam dinding. Shit… apa jam itu rusak? Jarum pendeknya masih saja menunjukkan pukul sepuluh. Ah, jam sepuluh ya? Kalau tidak salah jam segini Eunhyuk dan Donghae sudah pulang 'kan? Ah, tidak… mereka pasti masih di TK, menunggu seseorang untuk menjemput mereka.
Apa aku ke TK mereka saja ya? Pasti sekarang wajah Eunhyuk sedang tertekuk bosan. Kadang-kadang aku kasihan pada mereka yang seperti tidak pernah diperhatikan oleh eomma mereka. Wookie memang keterlaluan, dia sibuk dengan pekerjaannya sampai melupakan Hyuk dan Hae.
Aissh… bicara apa aku ini? Dibanding Wookie bukankah aku lebih keterlaluan? Padahal aku adalah appa mereka, tapi aku tidak ada saat pertama kali mereka membuka mata. Saat pertama kali mereka menangis. Saat pertama kali mereka bisa berjalan. Saat pertama kali mereka bisa berbicara. Aku tidak pernah ada di saat-saat seperti itu. Dan bisa-bisanya aku mengatai Wookie keterlaluan.
Harusnya aku malu pada diriku sendiri…
Ah daripada mikir-mikir lagi, lebih baik aku segera pergi ke TK Donghae dan Eunhyuk. Masa bodoh dengan tugas dan tanggung jawab. Aku bisa mati kalau terus berada di ruangan sumpek begini. Pasti akan lebih menyenangkan kalau bersama bocah-bocah hyperaktif itu.
Ah, hyperaktif ya…? Yah, anak-anak itu memang selalu bersemangat dan mereka juga kelihatannya sehat. Wookie memang hebat bisa membesarkan Donghae dan Eunhyuk sampai menjadi yang sekarang ini. Ah, kalau itu sih dari dulu aku juga tahu. Walau bertubuh mungil namja manis itu memang tangguh. Dan karena hal itulah yang membuatku jatuh cinta padanya.
Ya, dulu. Dulu aku sangat mencintai Wookie. Sangat sangat mencintainya, seolah sosoknya seperti udara untuk bernapas bagiku. Tapi itu dulu, sekarang aku sudah tidak mencintainya lagi.
… mungkin…
…
Tidak sampai setengah jam aku sudah sampai di TK Hyuk dan Hae. Kulihat TK itu sudah sepi, tentu saja, 'kan jam pelajaran sudah selesai setengah jam yang lalu.
"Ada yang bisa kubantu?" seorang yeojya paruh baya menghampiri aku yang baru turun dari mobil.
"Apa Donghae dan Eunhyuk masih didalam?" tanyaku.
Ahjumma itu memandangku dengan pandangan meneliti, "Mian, kalau boleh tahu anda siapanya Donghae dan Eunhyuk?"
"Emm… saya kerabat mereka" jawabku sekenanya, "apa aku bisa menjemput mereka sekarang?"
"Ah, mian… tetapi Ryeowook sshi meminta saya untuk tidak membiarkan Donghae dan Eunhyuk dijemput oleh orang lain selain dirinya dan Sungmin sshi" jelas ahjumma itu.
"Ah begitu ya?" benar juga… Wookie pasti khawatir kalau Donghae dan Eunhyuk kubawa diam-diam seperti kemarin, "Ah, anou… bagaimana kalau saya bermain dengan mereka saja? Saya janji tidak akan membawa mereka kemana-mana"
Ahjumma itu kelihatan berpikir tetapi kemudian dia mengangguk, "yah, selama anda tidak membawa mereka kemana-mana saya rasa tidak apa. Lagipula anak-anak itu juga sepertinya bosan"
Aku mengangguk sambil tersenyum lalu memasuk TK itu.
"AHJUCCIIIII~~~" yang pertama menyambutku adalah Eunhyuk. Bocah berumur lima tahun itu berlari ke arahku sambil tertawa, "ne, ne… jalan-jalan lagi?" Hyukkie menatapku dengan mata jernihnya.
"Aniyo…" ujarku sambil mengusap kepala Hyukkie, "eomma kalian bisa marah kalau aku membawa kalian seperti tempo hari" ujarku.
Hyukkie cemberut. Bibir mungilnya maju beberapa senti, "tapi, tapi, Hyuk bocan dicini teluuuss~"
Aku hanya tertawa melihat ekspresi Hyuk yang imut sekali, "Ne, Hae mana?"
"Hae main dibelakang" ujar Hyukkie.
"Ne, ayo kita main sama Hae juga…"
Lalu aku menggenggam tangan kecil Hyukkie dan menuju halaman belakang. Kulihat Hae sedang jongkok sambil menggambar sesuatu di tanah.
"Hae gambar apa?" tanyaku sambil ikut jongkok di samping Hae.
"E-eh ahjucci! Ngagetin Hae aja!" seru bocah itu, "ne, ne… Hae gambal olang!" serunya bangga sambil nyengir lebar.
"Gambar orang?" aku melirik ke tanah. Yang kulihat adalah adalah gambar empat orang yang saling bergenggaman dan tertawa lebar. Dua orang terlihat lebih besar daripada dua orang lainnya.
"Ini gambar apa?" tanyaku.
"Ne, ini Hae cama Hyuk…" Hae mengarahkan ranting pohon yang tadi digunakannya untuk menggambar ke arah dua orang yang lebih kecil, "kalo ini eomma cama appa! Hehehe" kali ini ranting pohonnya mengarah ke dua orang yang lebih besar.
Appa? Maksudnya aku ya?
"Ne, ahjucci! Eomma bilang appa cudah pulang lhooo~" seru Hyukkie senang. Matanya membulat dan mulutnya membentuk senyuman yang lebar.
"Iya, iya! Telus kalo appa udah pulang kita bica makan ec klim cama-cama!"
Aku tersenyum tipis mendengarnya. Sepertinya mereka memang sangat merindukan sosok appa dalam hidup mereka. Apa itu berarti mereka menerima orang seperti aku ini sebagai appa mereka?
"Ah, Hyuk dan Hae mau makan es krim?" tanyaku.
"Mauuu~!" tentu saja yang menjawab adalah Hyukkie. Daripada Hae sepertinya Hyukkie lebih suka es krim.
"Aniyo~ Hae nggak mauu~" jawab Hae.
"Waeyo Haeee~?" tanya Hyukkie.
"Ne…" Hae kembali menunduk, mencoret-coret asal pada tanah, "nanti eomma nangis lagi kalo Hae jalan-jalan cama ahjucci…"
Aku tertegun mendengarnya. Benar juga, kemarin itu mereka pasti ketakutan melihat Wookie yang emosi seperti itu. Kulirik Hyukkie yang ikutan menunduk. Aku yakin dia pasti ingin sekali makan es krim tapi kepikiran sama omongan adik kembarnya itu.
"Ne, ahjucci…" Hyukkie menarik-narik kemejaku, "Hyuk mau jalan-jalan~ tapi eomma juga ikut yaa~?" matanya penuh harapan ketika dia mengatakan itu.
Ah benar juga. Kalau Wookie ikut pasti tidak ada masalah. Tapi… apa Wookie mau ya? Tapi yah… tidak ada salahnya dicoba.
Setelah aku meminta nomor ponsel Wookie dari ahjumma kepala sekolah, akupun langsung menghubungi Wookie.
"Yeobosseyo" ujarku begitu panggilanku diangkat.
"Yeobosseyo, ne, ini siapa?" terdengar suara dari seberang.
"Ini aku, Yesung"
"…"
"Wookie?"
"M-mau apa kau!" suaranya terdengar ketus. Apa dia tidak suka kalau kau meneleponnya?
"Ne, aku ingin mengajak Hyukkie dan Donghae makan es krim. Tapi mereka maunya kau juga ikut, bagaimana?" ujarku.
"Sekarang?"
"Hm"
Sejenak tidak terdengar jawaban apapun dari seberang. Mungkin dia masih berpikir.
"Well, baiklah…" jawabnya kemudian.
…
Jam lima sore. Padahal tadi rencananya hanya makan es krim. Tapi mendadak Hae bilang ingin ke taman bermain. Dan jadilah aku, Wookie serta HaeHyuk berada di taman bermain. Entah sudah berapa wahana yang dinaiki oleh Hyuk dan Hae, tapi sedikitpun tidak terpancar raut kelelahan di wajah bulat mereka.
"Ne, nanti naik apa lagi ya?" gumam Hyukkie sambil menyendok es krim kemulutnya. Saat ini kami sedang makan es krim di kafe es krim di taman bermain itu.
"Mwo? Masih mau main?" ujar Wookie sambil membersihkan sisa-sisa es krim di mulut Hyukkie.
Hyukkie mengangguk-angguk dengan semangat, "celagi cama-cama eomma, Hyuk mau main cepuasnya"
"Telus ada appa juga!" seru Donghae.
"Appa?"
"Ne, ne… untuk cementala ahjucci jadi appa Hae ya?" ujarnya sambil memeluk lenganku.
Sementara? Dia tidak tahu ya kalau aku ini memang appa-nya.
"Jangan bicara yang aneh-aneh, pokoknya habis makan es krim ini kita pulang" ujar Wookie.
"Yaaaah… eomma…" Hyukkie mendesah kecewa.
"Besok kalian harus sekolah 'kan? Eomma tidak mau kalau besok sampai tidak sekolah gara-gara kecapekan"
"Neeee~ eomma nggak celuuu~" kali ini Donghae yang menggerutu.
"Gwaenchanayo Wookie" ujarku, "sesekali tidak apa 'kan kalau mereka ingin jalan-jalan dengan appa dan eomma mereka?"
Wookie menatapku. Pandangannya terlihat kesal. Aku tahu dia tidak suka dengan apa yang aku katakan.
"Terserah" ujarnya dengan nada ketus sambil memalingkan wajahnya.
"Eomma malah?"
Wookie memalingkan mukanya lagi sambil tersenyum, "Aniyoo" ujarnya lembut sambil membelai rambut Hyukkie.
Ada satu perasaan aneh yang menyeruak di dadaku ketika melihat Wookie tersenyum lembut seperti itu. Perasaan yang aneh namun terasa menyenangkan. Aku tidak tahu apakah sebenarnya aku masih mencintai Wookie atau tidak. Tapi melihat senyumnya membuatku merasa senang. Aku bahkan tidak pernah merasa seperti ini ketika melihat Eunsoo tersenyum padaku.
(Yesung PoV end)
…
"Haaaahh… akhirnya jadi pulang malam deh" gumam Yesung sambil melirik kaca spion mobilnya. Senyum tipis tergambar di bibirnya ketika kaca itu memantulkan bayangan Donghae dan Eunhyuk yang tertidur di jok belakang, "ternyata mereka bisa kelelahan juga ya…" ujarnya masih dengan tersenyum.
Wookie yang duduk di samping Yesung ikut melirik kaca spion, "huh, ini karena kau seenaknya membiarkan mereka bermain" dengusnya.
Yesung tidak menjawab. Mata sipitnya focus ke jalanan, sementara Wookie memandang ke luar jemdela. Sama sekali tidak ada percakapan di antara mereka. Saat ini keduanya tengah menuju TK-nya Donghae dan Eunhyuk. Soalnya mobil Wookie dititipkan disitu. 'Kan tadi Wookie pergi ke TK HaeHyuk dengan mengendarai mobil, ketika pergi ke taman bermain mereka memakai mobil Yesung. Jadilah mobilnya Wookie dititipkan di TK. Untungnya ahjumma kepala sekolah rumahnya tepat disamping TK, sehingga lebih mudah bagi Wookie untuk menjemput mobilnya kembali.
Tidak tahan dengan kesunyian, Yesung lalu menghidupkan radio mobilnya. Dan sebuah lagu lama berjudul 'Coagulation' yang dipopulerkan oleh boyband K.R.Y mengalun lembut.
"Aku tidak tahu mereka masih memutar lagu ini" gumam Yesung. Kenangannya kembali ke masa ketika mereka masih sekolah saat lagu ini sedang popular. Saat itu Wookie sering memujinya kalau Yesung menyanyikan lagu ini. Tapi itu dulu, ketika mereka masih pacaran.
Wookie hanya diam, tetapi telinganya mendengarkan seluruh lagu itu. Perlahan Wookie memejamkan matanya dan secarik kenangan terlintas di memorynya.
Flashback…
Siang dengan cuaca yang sempurna. Matahari bersinar cerah dengan angin sepoi-sepoi yang meniup lambat. Di sebuah pohon, terlihat dua orang namja sedang bersandar disana. Namja yang satu bertubuh mungil sedang dipeluk oleh namja yang bertubuh lebih besar dari belakang.
"Hyung… nyanyikan sesuatu…" namja yang bertubuh kecil itu mendongakkan kepalanya, menatap namja bertubuh lebih besar yang sedari tadi menumpukan dagunya dengan nyaman di atas kepala namja bertubuh kecil itu.
"Nyanyi…? Kau mau aku menyanyikan lagu apa, Wookie?" balas namja itu sambil mengeratkan pelukannya pada namja bertubuh kecil yang dipanggilnya dengan sebutan Wookie.
"Apa saja… aku suka mendengar suara hyung" gumamnya sambil tersenyum tipis.
Yesung balas tersenyum. Direngkuhnya tubuh mungil itu lebih erat sambil menumpukan dagunya pada kepala Wookie. Dengan lembut alunan lirik 'Coagulation' mengalir lembut. Wookie memejamkan matanya dan semakin menyandarkan tubuhnya pada dada namjachingu-nya itu.
"Saranghae…" bisik Yesung lembut pada akhir lagunya.
Wookie tersenyum lagi dan mengecup bibir Yesung sekilas, "ne… nado saranghae hyung…"
Flashback end…
'eodiseo eoddeohge jagguman maethneunji nado moreujyo
Geunyong naega mani apeun geotman alayo'
Wookie membuka matanya ketika mendengar sebuah suara familiar menyanyikan sebait lagu itu. Wookie melirik ke arah kiri, dan benar saja, Yesung terlihat sedang melantunkan lagu itu. Tanpa pikir panjang Wookie menjulurkan tangannya dan mematikan radio itu.
"Kenapa dimatikan?" tanya Yesung bingung.
"Aku tidak suka mendengar kau menyanyikan lagu itu" jawab Wookie dingin sambil tetap memandang keluar jendela.
"Aku kira kau suka mendengar suaraku"
Wookie memilih untuk diam saja. Dan kembali keheningan mengisi ruangan di antara mereka.
15 menit kemudian mereka sudah sampai di TK dan tidak butuh waktu lama bagi Wookie untuk mendapatkan mobilnya kembali. Dengan hati-hati Wookie meraih tubuh Eunhyuk dari mobil Yesung dan meletakkannya di mobilnya. Diikuti oleh Yesung yang juga mengangkat tubuh Donghae.
"Jadi bagaimana?" tanya Yesung setelah membaringkan tubuh Donghae.
"Bagaimana apanya?" Wookie balas tanya.
"Tentang Donghae dan Eunhyuk, apa kau setuju untuk menyerahkan mereka padaku?"
Wookie terdiam. Tapi kemudian matanya beralih menatap wajah Yesung. Wookie melirik Donghae dan Eunhyuk lalu kembali melirik Yesung.
"Berjanjilah untuk tidak akan membuat mereka menangis" gumam Wookie.
"Kalau itu kau tidak usah takut, aku akan menghindarkan mereka dari segala hal buruk. Jadi, kau setuju 'kan?"
Wookie masih menatap Yesung. Matanya menunjukkan kalau dia masih ragu tentang ini, namun kemudian kepalanya mengangguk.
Yesung tersenyum, "Aku akan menjemput mereka besok malam"
*tObEcONTINUED*
a/n:: Yak! Akhirnya saya mengapdet chapter 7 sebelum UN… fuuuuhh~
Ne, buat Kim Eunsoo, sesuai tawaran anda, saia sudah memasukkan nama anda disini sebagai istrinya Yeppa…enaknyaaaa~
Entah kenapa saia merasa kalau chapter 7 ini jalan ceritanya membosankan, tapi meski begitu saia mengetiknya dengan sepenuh hati dan saia harap readers sekalian menyukainyaa~
Well…
RIPIU pliiiiiissss?
