HIYORIN P.O.V
Aku mencari baju yang cocok denganku. Biasanya mungkin aku langsung menggunakan hoodieku tapi kali ini…
'Kenapa aku sibuk memilih baju ?'
Aku meringkuk seperti orang bodoh serambi memeluk salah satu jaket jeans yang entah darimana aku dapatkan.
TOK TOK TOK
"Hiyorin-san, ini Haruka." Ucap seseorang dari seberang pintu.
Aku mendiaminya lalu aku bisa mendengar suara pintu yang terbuka.
"Permisi Hiyorin-san… kita akan berangkat." Ucap Haruka sopan.
Aku menatapnya dengan tatapan jengkel. "Apa kau tidak bisa melihat situasiku sekarang ?"
Haruka hanya cekikikan kecil lalu merapikan seluruh baju yang berserakan.
"Kenapa kau tidak menggunakan hoodie ?" Tanya Haruka.
Aku menghela nafas sambil melirik ke arah lemariku. "Aku sudah bukan yang dulu lagi Haruka… Aku cuma ingin mengubah style karena aku juga bukan lagi Tsukiyama…"
Haruka malah cekikikan yang membuatku jengkel.
"Apa !?"
"Hiyorin-san mungkin bukan lagi Tsukiyama yang kami semua kenal tapi, Hiyorin-san tetap mempunyai kebaikan hati yang sama." Jelas Haruka yang membuatku bingung.
"Maksudnya ?"
"Hiyorin-san, tidak peduli stylemu bagaimana, kau tetaplah sama." Jawab Haruka sambil menyerahkan hoodie + T-shirt + celana.
"Tapi, pasti keadaan akan sangat canggung." Ucapku.
Haruka memancarkan senyumannya. "Hiyorin-san, kau tidak ingat perkataan mereka yang menyemangati kita ?" Tanya Haruka.
Kata-kata STARISH langsung melintas di kepalaku. Aku langsung mengangguk.
"Mereka tidak peduli kalau kau Tsukiyama atau Hiyorin, mereka tetap menyukaimu apa adanya." Ucap Haruka yang malah membuat wajahku memanas.
"Hush, jangan mengatakannya lagi." Ucapku yang langsung memakai pakaianku.
"Akhirnya, dimulai ya Proyek Duet." Ucap Haruka.
"Ya." Ucap Tokiya.
Kami bertiga berjalan menuju suatu ruangan untuk membahas tentang lagu proyek duet yang baru saja dimulai.
Proyek pertama adalah Tokiya dan Eiji. Aku juga bisa menggunakan kesempatan ini untuk mengetahui seluruh sifat anggota HEAVENS.
"Aku penasaran dengan pasanganmu, seperti apa sifat Otori Eiji-san ?" Tanya Haruka. "Kudengar ia adalah adiknya Otori Eiichi-san." Tambahnya.
"Tidak peduli sifatnya, selama itu proyek duet pertama, aku harus fokus ke pekerjaan ini." Ucap Tokiya.
Aku menghela nafas mendengar perkataan Tokiya. "Menurutku, saat perkenalan di panggung sebelumnya, Eiji berbeda jauh dengan kakaknya."
Mereka berdua menatapku sebentar lalu kembali berjalan. Setelah sampai di depan pintu, kami mendengar nyanyian seseorang. Tokiya langsung membuka kedua pintu ruangan tersebut dan melihat Eiji yang sedang bernyanyi.
Sekilas aku seperti melihat sayap layaknya seorang malaikat
'Benar-benar berbeda jauh dari kakaknya…'
Kami pun memasuki ruangannya dan Eiji masih sibuk bernyanyi.
"Kalimat itu…"
Lama-kelamaan, Tokiya ikut bernyanyi bersama Eiji.
Aku bisa melihat sayap seperti layaknya malaikat. Betul-betul seperti malaikat. Aku tertegun mendengar mereka berdua bernyanyi.
Setelah mereka berdua bernyanyi, Haruka tepuk tangan. "Kalian berdua sangat luar biasa."
Aku hanya terdiam.
'Suara mereka bagaikan malaikat…'
"Terima kasih." Ucap Eiji sopan.
Tokiya menatap Eiji dengan muka ramah. "Lagu itu sangat indah ya ?"
"Ya, saat aku dengar di London, aku langsung jatuh cinta seketika." Jawab Eiji sambil memancarkan senyumnya yang lembut.
Tokiya langsung terkejut saat mendengar Eiji mengatakan 'London'. "Apa ? kau lihatnya di London ?"
"Kakakku selalu membawaku ke berbagai tempat." Jawab Eiji dengan polosnya.
"Oh begitu ? Aku hanya melihatnya beberapa kali di DVD." Ucap Tokiya. "Tapi, aku ingin sesekali melihat penampilan orangnya."
"Kalau tidak salah, bagian itu…"
Sesaat, Tokiya menari. "Mereka menggunakan langkah seperti ini 'kan ?"
"Ya, itu benar." Ucap Eiji dengan semangat.
Langsung keduanya menari sambil membahas tentang lagu yang sama sekali tidak kuketahui.
Aku dan Haruka hanya terdiam melihat mereka berdua.
'Aku tak menyangka mereka mempunyai kesamaan… Toh, sepertinya Eiji orang baik…'
Mereka berdua mengakhiri menari mereka secara bersamaan.
"Senang merari bersamamu, Ichinose-san." Ucap Eiji. "Kupikir, kita akan bersenang bersama-sama di proyek ini." Tambahnya sambil memancarkan senyumannya.
Tokiya hanya terdiam.
Seketika, Eiji seperti teringat akan sesuatu. Eiji langsung mengulurkan tangan kanannya layaknya ingin menjabat tangan Tokiya.`
"Aku belum memperkenalkan diri, Aku Otori Eiji." Ucap Eiji lembut.
"Terima kasih untuk hari ini." Ucap Haruka.
Aku hanya bertompang dagu.
"Kita harus bisa cocok di konsepnya, dan aku menikmati pembicaraan ini." Ucap Eiji.
Tokiya mengangguk. "Aku juga."
"Aku akan memberikan demo untuk ide kalian." Ucap Haruka dengan semangat sambil menatap keduanya.
"Terima kasih."
"Permisi, aku senang menyanyikan lagu itu bersamamu hari ini." Ucap Eiji tiba-tiba. "Aku sangat mencintai lagu itu. Walau aku hanya mendengar sekali saat penampilannya di panggung." Tambah Eiji.
'Wajahnya merona sedikit…' batinku.
"Apa ? hanya sekali ?" Tanya Tokiya dengan raut wajah tidak percayanya.
"Ya, tapi setelah menyanyikannya bersama, aku mengerti kenapa ayah selalu bilang kau yang paling pintar di STARISH." Jawab Eiji.
Aku memandang Tokiya.
"Aku tidak sepintar itu." Ucap Tokiya lirih.
Eiji langsung bangkit dari kursinya lalu memberikan secarik kertas kepada Tokiya. "Ano, ini nomor ponselku. Jika bisa, kau mau datang ke tempat latihan kami ?"
"Tapi kalau ke studiomu…"
"Apa ada masalah ? kami sedang ada kunjungan koreografer asing sekarang, jadi kupikir ini akan membantu proyek duet ini." Jelas Eiji sambil memancarkan senyuman lembutnya lagi.
Tokiya pun langsung menerima secarik kertas tersebut. "Aku akan memikirkannya."
Aku menatap Tokiya dengan bingung. 'Ada apa denganmu Tokiya ?'
"Nee~, Yorin~" Panggil Aika.
"Ada apa ?" Tanyaku dingin.
Aika langsung memanyunkan bibirnya seperti bebek sementara Momoka dan Ichigo cekikikan.
"Setidaknya kau tidak perlu sedingin itu." Ucapnya yang langsung pergi memojokkan diri di sudut ruangan.
"Otori Eiji itu seperti apa ?" Tanya Momoka mengalihkan pembincaraan.
"Apa seperti Ayahnya dan kakaknya ?" Tambah Ichigo.
Aku menggeleng pelan. "Oh, Eiji ? Dia 180 derajat berbeda dengan keluarganya. Dia terkesan sangat sopan dan anak yang sangat baik. Seharian ini, dia sepertinya anak yang sangat pintar…" Jelasku sambil berjalan menuju balkon.
'Apa itu yang menganggu pikiranmu, Tokiya ?'
TOK TOK TOK
Aku terbangun dari tidur nyenyakku. Aku melihat layar ponselku yang menunjukkan jam 06:23.
'Masih pagi sekali...' gumanku.
Aku langsung berjalan pelan menuju pintu lalu membukanya sambil mengucek mataku.
"Ah, apa aku membangunkanmu ?" Tanya Tokiya yang berada di depan pintu.
Aku menatapnya bingung. "Apa yang kau inginkan dariku ? kau tau ini masih pagi."
Tokiya menundukkan kepala. "Aku hanya ingin minta tolong, apa kau bisa menemaniku ke agensi Raging."
Saat Tokiya mengucapkan 'agensi Raging', tubuhku langsung merinding.
"Tidak, tidak mau." Ucapku sambil memberi Tokiya tatapan horor.
Tokiya menghela nafasnya. "Baiklah kalau begitu."
Dia langsung berjalan meninggalkanku.
'Huft, pada akhirnya aku kasihan juga…'
"Tokiya !"
Pada akhirnya, aku ikut juga…
'Harusnya dari awal aku tidak usah ikut…' batinku sambil menghela nafas.
Saat pintu lift terbuka, Aku dapat melihat HEAVENS yang sedang berlatih dengan giat. Aku menatap Tokiya yang sedang mengepalkan tangannya.
"Tokiya, apa kau baik-baik saja ?" Tanyaku.
Tokiya menatapku lalu menggeleng kecil.
Aku menatapnya dengan bingung. 'Seperti dugaanku, ada yang menganggu di kepalanya.'
Beberapa saat kami menunggu akhirnya Eiji keluar juga dari ruang latihannya.
"Ichinose-san, Hiyorin-san !" Panggil Eiji.
Aku dan Tokiya langsung menoleh ke arahnya.
"Maaf membuat kalian menunggu." Ucap Eiji.
"Oh, tidak apa. Kami berdua yang datang terlalu awal." Ucap Tokiya. "Maaf mengganggu."
'Yang cocoknya, kau yang terlalu bersemangat datang kesini…' Batinku sambil menatap tajam Tokiya.
"Tidak mengganggu sama sekali kok." Ucap Eiji. "Aku malah sangat menantikan latihan hari ini." Tambah Eiji dengan semangat.
Tokiya yang awalnya merasa tidak enak langsung tenang.
"Baiklah, ayo dimulai latihannya." Ucapku yang mendapat anggukan dari keduannya.
"Hiyocchi !"
Aku menoleh ke asal suara. Melihat sang pemilik suara, aku memutar bola mataku. "Apa yang kau inginkan ?"
"Pfft~ jangan dingin begitu~" Ucap Ichigo sambil menyerahkan koran.
Aku pun langsung membaca halaman paling pertama.
'Eh…'
Aku melihat judul halaman tersebut.
"Nee, Hiyocchi~ ada apa dengan Tokiya ? apa dia akan masuk HEAVENS ?" Tanya Ichigo seperti ingin mempermainkanku.
Aku menggeleng pelan. "Ini hanya wawancara yang kemarin… aku tidak tahu soal HEAVENS atau semacamnya…"
Ichigo pun langsung membelai rambutku. "Cup cup, Hiyocchi jangan langsung sedih~ Aku yakin Tokiya akan baik-baik saja."
Aku langsung menyingkirkan tangannya dari kepalaku. "Bisakah kau berhenti mengangguku !"
"Ahaha, gomen~"
"Eiji, tidak berminat menyusul Tokiya ?" Tanyaku kepada Eiji yang baru-baru saja selesai latihan.
"Baiklah."
Kami berdua pun berjalan bersama. Eiji mudah di ajak bicara dan dia benar-benar anak yang sangat sopan.
"Kau tidak perlu sesopan itu." Ucapku sambil menepuk pundaknya.
"Eh ?"
"Aku lebih muda darimu, lebih baik kau tidak usah memanggilku menggunakan nama belakangku." Jelasku.
"Jadi…"
"Panggil Hiyorin saja." Ucapku memancarkan senyum tipis.
Eiji pun langsung membalas senyumanku dan disaat yang bersamaan.
'Eh ? Raging ? Tokiya ?'
"Jika kau berubah pikiran, hubungi aku." Bisik Raging yang masih bisa kudengar.
Tokiya langsung menunduk setelah Raging pergi meninggalkannya.
'Apa yang baru saja mereka bicarakan ?'
"Apa Tokiya dipindahkan ?" Tanya Cecil tidak percaya.
"Bagaimana ini bisa terjadi !?" Tanya Natsuki.
"Bukannya dia hanya datang untuk latihan ?" Ucap Syo.
Otoya langsung mematikan ponselnya. "Itu benar dan tidak ada yang salah dari itu."
"Ya, Tokiya-kun takkan mau dipindahkan." Ucap Natsuki.
"Ya, orang-orang berkata seenaknya. Kita tak perlu menghawatirkannya." Tambah Ren.
Disaat yang bersamaan, kami semua menyadari kepulangan Tokiya.
'Woah, hari ini lebih telat dari yang kubayangkan…' batinku.
"Yo, selamat datang kembali, Ichi." Ucap Ren.
"Tokiya~ artikel aneh muncul lagi." Keluh Otoya.
Raut wajah Tokiya datar lalu berubah seperti dia sedang menahan rasa sakit.
"Itu benar, pihak Raging mencoba merekrut diriku." Ucap Tokiya yang membuat ruangan hening. "Raging Otori sangat memikirkan kemampuanku. Dia bilang, aku bisa membuat mendunia." Tambahnya.
"Hei, apa maksudmu ?" Tanyaku.
"Tokiya-kun, apa terjadi sesuatu ?" Tanya Natsuki.
"Aku punya tujuan, lebih tinggi dan terdepan." Jawab Tokiya.
"Ada apa denganmu ?" Tanya Otoya yang mulai kawathir. "Kupikir kita bisa bekerja sama untuk konser nanti ?"
"Biar kuperjelas." Ucap Tokiya dingin. "Saat ini, kesenjangan antara QUARTET NIGHT, HEAVENS, dan TRIANGLE akan melebar. Aku tidak puas dengan perkembangan seperti ini. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan. Jika terus seperti ini…"
Seketika hening. Tidak ada yang percaya sama sekali dengan apa yang baru saja Tokiya ucapkan.
"Aku akan menerima undangan Raging Otori." Tambah Tokiya yang sukses membuat kami semua terkejut.
Aku yang sedari tadi senderan langsung mendekati Tokiya.
PLAK
"Apa-apaan perkataanmu sebelumnya ? Kau menerima undangan Raging ? hanya karena kau tidak puas ?" Tanyaku sambil menatap dingin Tokiya.
Aku bisa melihat wajah Tokiya yang shok karena baru-baru saja kutampar. Masih terlihat bekas telapak tanganku di pipinya yang merah.
"Idol macam apa itu ?"
Aku langsung keluar dari ruangan sambil menahan tangan kananku yang tadi masih ingin menampar wajahnya.
'Sial…'
Aku kembali menemani Haruka untuk proyek duetnya.
"Bagaimana jika sudahi dan lanjutkan besok ?" Tanya Haruka yang baru saja selesai bermain pianonya.
"Baik." Ucap Eiji. Eiji merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Dia melihat layar ponselnya. "Oh ! sudah jam segini, aku harus-"
"Permisi !" Seru Tokiya yang langsung memotong ucapan Eiji.
Aku langsung melirik Tokiya.
"Aku ingin terus berlatih hari ini. Tolong tetap bersamaku." Ucap Tokiya yang langsung membugkukkan tubuhnya.
Eiji dan Haruka saling bertatapan lalu menatapku.
Aku membuat tatapan 'apa'.
Haruka memancarkan senyumannya yang membuatku menghela nafas. "Terserah kalian."
"Tentu !"
"Baik."
"Arigato Gozaimasu." Ucap Tokiya yang langsung membuka suatu buku. "Mari kita mulai dari sini. Aku juga ingin mengubah lirik di sini, bagaimana menurutmu ? Juga, aku ingin mengubah bagian ini untuk di tahan dan saat bagian…"
Mereka pun sibuk latihan.
'Sepertinya dia sudah berubah setelah kutampar di tempo hari.'
Aku melihat Tokiya dari kejauhan sambil menggenggam sebuah map yang berisi lagu Tokiya.
'Apa harus kuberikan ?'
Aku pun berjalan mendekati Tokiya dengan perlahan lalu tiba-tiba saja dia berbalik.
"Eh ? Hiyorin-san ?"
Aku langsung terdiam. Setelah aku menamparnya di tempo hari, aku jadi tidak enak saat bertemu dengannya. Seharusnya dia tidak melihatku, agar aku bisa menaruh map di dekatnya.
"Ada apa ?" Tanya Tokiya heran.
"A, aku hanya…"
Aku tergagap seperti orang bodoh. Tokiya makin heran dengan perilakuku dan tiba-tiba saja menepuk pundakku.
"Kau baik-baik saja ?" Tanya Tokiya.
Aku mengangguk kecil tertunduk. Ini bukan diriku yang biasanya. Harusnya, aku terlihat santai saja. Tidak tergagap seperti orang bodoh seperti ini.
Aku langsung menyerahkan map yang sedari tadi kupeluk.
"Apa ini ?" Tanya Tokiya.
"Lagumu." Jawabku memalingkan pemandangaku.
"Terima kasih." Ucap Tokiya sambil melihat isi map tersebut.
Aku menghela nafas. "Percayalah, mereka akan mengerti perasaanmu."
Tokiya terdiam lalu memalingkan tatapannya dariku. "Aku hanya ingin membuat mereka lebih serius. Jadi kita bisa mendapat apa yang ingin kami raih."
Aku hanya menghela nafas lagi lalu memberikannya senyum tipis.
"Sumimasen." Ucap Tokiya yang membuatku terkejut.
Dia langsung membungkukkan tubuhnya lalu berdiri tegap lagi.
"Aku tidak bermaksud mengatakan yang sebelumnya di tempo hari yang lalu. Aku baru tersadar setelah kau menamparku." Tambah Tokiya sambil menyentuh pipinya yang pernah kutampar.
Dia langsung menyentuh pipiku dengan jari jemarinya. "Aku minta maaf dan terimakasih."
Aku merasa wajahku memanas. "Bo, bodoh." Aku menyingkirkan tangannya dari pipiku.
Tiba-tiba saja anggota STARISH mendatangi kami.
"Tokiya !"
"Ichinose !"
"Ichinose-kun !"
"Tokiya !"
Aku dan Tokiya langsung menatap anggota STARISH dan Haruka yang ngos-ngosan.
Saat Otoya ingin bicara, Tokiya langsung memotongnya. "Sebelumnya, aku sangat senang selama aku bernyanyi, siapa pun itu, sebagai HAYATO atau Ichinose Tokiya. T api setelah bertemu kalian, menjadi anggota STARISH. Dan bernyanyi bersama di panggung untuk sekian kalinya…"
Tokiya terdiam lalu menatapku sebentar. "Tekadku untuk terus bernyanyi bersama kalian, menjadi lebih sangat besar ! Lebih besar dari sebelumnya !" Ucap Tokiya sambil berjalan mendekati STARISH dan lainnya.
"Setelah bertemu si pintar Otori Eiji selama proyek duet, dan belajar bagaimana bakatnya HEAVENS, jujur saja… aku sangat kawathir. Kupikir kalau kita tidak bisa seperti ini terus, kita harus mendorong diri kita terus lebih tinggi." Tambah Tokiya.
Tokiya langsung menatap Natsuki. "Shinomiya-san, kemurahan hati dan kebaikanmu melindungi kita seperti perisai."
Lalu dia menatap Syo. "Syo, kujujuran dan kekuatanmu memberikan kita kekuatan untuk terus maju di berbagai halangan."
Pindah ke Ren. "Ren, keanggungan dan gairahmu memberikan kita warna hebat dan membuat kita bersinar."
Lalu Masato. "Hijirikawa-san, ketenangan dan ketabahanmu memberikan kami keberanian."
Cecil. "Aijima-san, kecintaanmu pada musik dan kemurnian dari perasaanmu mengingatkan kita akan bagaimana awalnya dan membuat kita sadar."
Dan yang terakhir Otoya. "Otoya, senyuman dan suara hebat menjadi tanda yang penting untuk menerangi masa depan kita."
"QUARTET NIGHT, TRIANGLE maupun HEAVENS mungkin punya hal yang tidak kita punya… tapi kita juga punya banyak potensi yang mereka tidak punya ! Aku yakin bertujuh kita bersama bisa meraih lebih tunggi lagi. Ayo lanjutkan bersama-sama sebagai STARISH… bersama… sejauh apapun itu." Jelas Tokiya sambil tersenyum lembut kepada temannya.
Haruka terharu melihat temannya seperti itu. Aku hanya menghela nafas.
Tokiya menatapku sambil tersenyum lembut, tidak seperti biasanya.
Aku duduk di salah satu meja di Café tempat janjianku dengan Eiji. Kemarin, aku janjian dengan Eiji untuk membicarakan sesuatu.
Aku menatap layar ponselku yang menunjukkan ada email dari Eiji.
'Aku sudah berada di depan Café.'
Aku melihat pintu masuk dan melihat Eiji masuk. Aku melambai ke arahnya sebagai kode 'aku disini'.
Eiji langsung melihatku lalu mendatangiku. Dia pun duduk di depanku.
"Tumben sekali kau ingin bertemu denganku, Eiji." Ucapku sambil menatap Eiji yang sedang sibuk sendiri.
Eiji dengan sesaat menatapku sebentar lalu terdiam. "Sebenarnya, ada yang ingin kusampaikan."
Aku menatap Eiji heran. "Apa maksudmu ?"
Eiji menunduk dengan wajah yang memerah.
'Dia suka padaku ya ?'
Aku langsung mendekati Eiji lalu menepuk kepalanya. "Ada apa ?"
Eiji melihatku dengan wajahnya masih merah. "A, aku ingin menyatakan sesuatu…" Ucapnya lirih.
Aku melihatnya. Aku terkejut melihat wajahnya yang betul-betul memerah layak
"Aku menjadi idol karena kemauan ayah dan kakak. Ichinose-san membuatku senang bernyanyi. Dan, kau…"
Aku menunggu kelanjutan kalimatnya dengan serius.
"Lagumu sangat bagus, hatiku bergerak karena lagumu."
Aku terdiam mendengar perkataan tersebut. "Jadi…"
Dia menunduk lebih dalam lagi. "Su, suki ga…" Ucapnya lirih.
"Hm ?"
"Kimi ga… suki… desu…"
Aku terdiam sebentar. Melihat wajahnya yang sangat merah membuatku terdiam.
"Tapi… kau pacaran dengan Shirase-san 'kan…"
Aku terdiam. Aku berusaha mengomsumsi kalimatnya. Aku ? pacaran dengan Ichigo ? yang benar saja ?
"Pfft… darimana kau tahu berita bodoh itu ? Aku pacaran saja tidak pernah." Ucapku sambil menepuk kepalanya dengan pelan.
"Ja, jadi kau menerimaku ?" Tanya Eiji gagap.
"Tidak." Jawabku datar yang membuatnya tambah malu lagi.
Melihat ekspresinya seperti itu, aku cekikikan sendiri. "Belum waktunya Eiji. Mungkin suatu saat saja bisa."
Eiji yang awalnya murung langsung tersenyum lembut.
"Akan kutunggu."
Aku menatap jengkel genangan air berwarna hitam dan ember.
"Apa yang sedang kau lakukan ?" Tanya Tokiya yang tiba-tiba datang dan melihat diriku penuh dengan tinta.
Aku mengusap wajahku yang tertutupi dengan berbagai tinta. Mengapa aku tertutupi dengan tinta ? karena aku sedang dikerjai oleh Momoka dan Aika karena mereka tahu tentang QN dan Eiji yang menyatakan perasaan mereka kepadaku.
"Kau tidak melihat apa yang telah terjadi dengan diriku ?"
Tokiya hanya tertawa kecil lalu mengusap tinta di wajahku. Aku hanya bisa terdiam. Aku merasa wajahku memanas dan mungkin saja, sekarang wajahku sudah sangat merah.
Setelah dia mengusap tinta di wajahku, keheningan dan kecanggungan melanda kami berdua.
"Hiyorin-san, arigato…" Ucap Tokiya lirih.
Aku menatap Tokiya heran.
"Apanya ?"
Sekarang gantian. Tokiya yang menatapku heran. "Kau itu…"
Aku makin bingung. Tokiya langsung memancarkan senyuman tipis.
"Kau ingat saat kau menaparku ?" Tanya Tokiya yang membuatku menutup wajahku.
'Kenapa malah dikasih ingat !?'
Tiba-tiba aku merasakan ada seseorang yang merangkulku. Aku mengintip dari sela-sela jariku dan melihat wajah Tokiya yang begitu dekat.
"To, Tokiya…"
"Hiyorin-san…"
Aku hanya menutup wajahku lalu Tokiya menarik tanganku, membuatku tidak punya apapun untuk menutup wajahku yang masih merah.
"Walaupun tidak romantis dan tidak sempurna, aku tidak peduli." Ucap Tokiya tiba-tiba.
Aku hanya bisa terdiam.
"Hiyorin-san, awalnya aku tidak menyangka aku punya perasaan ini terhadapmu. Kau itu sangat memperhatikan kami dan kami sangat menghargai itu. Hiyorin-san, aishiteru yo." Ucap Tokiya. Aku bisa melihat pipinya yang merona.
Aku terdiam melihat Tokiya.
"Kau tidak perlu menjawab. Aku sduah tahu semuanya." Tambah Tokiya yang membuatku bingung.
Aku memberi tatapan 'maksudnya ?'.
Tokiya menghela nafas lalu memalingkan wajahnya. "Kau'kan sudah ada yang punya."
Aku menatap Tokiya tidak percaya lalu tertawa terbahak-bahak. "Hahahahahaha ! Darimana berita bodoh itu menyebar ? Aku dan Ichigo itu cuman sekedar kakak dan adik, tidak lebih."
Sekarang gantian, Tokiya yang menatapku tidak percaya lalu facepalm.
"Toh, kau tahu kan kita tidak boleh pacaran." Ucapku yang membuat Tokiya menatapku lalu tersenyum seperti biasanya.
"Kau benar. Lebih baik kita fokus untuk pekerjaan, percintaan itu bisa di kesampingkan." Ucap Tokiya yang membuatku tersenyum juga.
Ampun, daku lelet update karena lagi males TuT
