Ah, Itoshii no Kazekage-sama!

Naruto © Kishimoto Masashi

.

.

~Jika kita mengesampingkan perasaan objektif dan lebih memperhatikan pasangan kita, cinta akan terlihat. Dan kita bisa mencintai pasangan kita dengan benar~ Kim Ji-Oh

Chapter 7: Kata yang hilang.

Begitu terbangun, Matsuri merasakan seseorang tengah mengengam tangannya. Tangan yang besar dan sangat hangat. Ia menoleh lalu mendapati wajah tidur Gaara yang damai. Dengan perlahan, Matsuri menggeser posisi tidurnya dan menghadap Gaara.

Mantan guru serta mantan tunangannya itu sedang tidur pada kasur yang terletak tepat di samping kasurnya. Terlihat selang infusan terpasang di tangan kiri yang mengenggam tangan kanannya. Membuat Matsuri sedikit khawatir akan keadaan orang yang paling di sayanginya itu.

Lama menatap garis tegas di wajah Gaara, lalu kata 'tampan' langsung terlintas begitu saja dalam benaknya. Matsuri tersenyum kecil, rasanya seluruh sakitnya telah menguap. Ia suka memperhatikan seraut wajah malaikat yang terlihat sangat bahagia dalam mimpinya. Ia juga suka mendengar deru napasnya yang teratur dan dalam. Sangat suka hingga ia tidak rela mengerjapkan matanya meski hanya sedetik.

Sensei, sejak kapan hubungan kita menjadi begitu rumit? Apa salahku yang terlalu mencintaimu hingga aku tidak bisa memahami perasaanku sendiri?

Sekarang ini apa nama hubungan keduanya, ya? bukankah Gaara akan menikah dengan gadis Konoha? Lantas mereka tertidur dengan saling berpegangan tangan seperti ini? bukankah itu namanya… selingkuh?

Matsuri menggeleng-gelengkan kepalanya, kata 'selingkuh' tidak tepat untuk kasusnya ini. sehari sebelumnya mereka masih berstatus tunangan meski ia hanya dijadikan tameng saja. Namun hari ini, mereka telah memutuskan hubungan itu dan sekarang mereka tidur saling bergandengan…?

Kok rasanya jadi konyol, ya?

Pikiran Matsuri buyar ketika suara Gaara memecah keheningan malam, "Kapan bangun?" Tanyanya.

"Barusaja," Jawab Matsuri.

"Bagaimana keadaanmu?"

"Mau laporan singkat atau laporan rinci?"

Gaara termenung sebentar, lalu menjawab. "Rinci."

"Kepalaku pusing, tenggorokanku kering, perutku mual, badanku lemas, napasku panas dan mulutku terasa pahit! Sensei sendiri?"

"Aku baik-baik saja."

"Tapi selang infus itu? lalu kasur yang tiba-tiba muncul? Apa ruanganku dipindahkan?"

"Tidak, ini servis rumah sakit!"

"Oh, bagus sekali… apa karena sensei adalah seorang Kazekage makanya diberi fasilitas tambahan? Ini gak adil…! Kenapa sensei jadi dapet hak istimewa?" Matsuri menggerutu. Mengatakan sesuatu yang tidak penting dan bersikap seolah tidak ada apa-apa.

Begitupun dengan Gaara, pria muda itu menanggapi semua ocehan gadis di sampingnya dengan ringan. Seolah hubungan mereka memang seperti itu dari awalnya.

"Kamu lapar?" Tawar Gaara.

"Ah, kalau sensei nawarin bubur rumah sakit aku tidak sudi memakannya! Tadi pagi aku hampir mau mati menahan mual dari bau anyir bubur itu! aku tidak mau...!"

"Aku tanya kau lapar atau tidak, bukannya mau bubur atau tidak!"

"Gak tau, entah lapar atau tidak, aku tidak tahu… perutku cuma mual!"

"Makan, ya?"

Alis Matsuri berkerut curiga, "Makan sama apa? Kalau bubur aku menolak!"

"Sup lobak, kok." Gaara bangkit dari tidurnya dengan tidak melepaskan pegangan tangannya. Ia lalu meraih semangkuk sup yang terhidang di meja yang terletak di antara kasur mereka.

"Sup lobak? Bagaimana Sensei dapat sup lobak? Sensei gak mungkin buat sendiri, kan?"

"Rumah sakit yang memberikannya,"

"Jadi mereka membuatkan sup lobak untuk sensei? Wah… parah nih… aku merasa tersinggung! Dari pagi aku merengek minta ganti menu mereka bilang 'dikira ini restoran apa?' trus sekarang sensei tiba-tiba dengan enaknya pesan sup lobak…?! Siapa yang sebenarnya pasien, sih?"

"Cerewet," respon Gaara sambil membantu Matsuri meninggikan sandarannya.

"Mou… jika aku seorang yang cerewet maka aku adalah orang cerewet paling pendiam di seluruh dunia!"

"Hn," Gaara, kali ini ia mengambil posisi duduk di tepi kasur Matsuri. Jarak yang dekat membuat Gaara bisa merasakan demam Matsuri yang masih tinggi. "Panas sekali…"

"Benar, kan?! Napasku sampai terasa terba–"

Kata-kata Matsuri langsung terputus begitu Gaara memasukan sesendok sup ke mulut Matsuri yang nampak seakan tidak mau berhenti bicara.

Sebenarnya keduanya menyadari betul atmosfer yang tiba-tiba berubah itu. Gaara yang jadi terbuka dan komunikatif serta Matsuri yang semakin cerewet dan tidak menahan diri. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa dalam hubungan mereka yang entah berstatus apa itu? keduanya seperti melaksanakan mufakat tanpa musyawarah. Tiba-tiba saja…

Matsuri tidak tahu kenapa Gaara menjadi bersikap sangat lembut padanya. mungkin karena ia sedang sakit dan terlihat mengkhawatirkan. Tapi, bukankah kemarin malam ia baru saja meresmikan 'putusnya' pertunangan mereka? Ia, yang kemarin malam memandanginya dengan pandangan dingin dan tajam. Membuatnya merasa semakin terlihat menyedihkan karena tak bisa berhenti menangis.

Gaara tidak tahu kenapa Matsuri jadi bersikap manja padanya. mungkin karena sikap terbuka Gaara membuatnya merasa leluasa dan nyaman. Tapi, bukankah kemarin malam ia baru saja meminta 'putusnya' pertunangan mereka? Ia, yang kemarin malam menangis terseguk-seguk hingga tidak bisa berhenti. Membuatnya merasa semakin terlihat jahat karena tak bisa membahagiakannya.

Lalu keduanya tiba-tiba berbincang hangat seolah kemarin tidak pernah terjadi. Gaara bahkan tak segan menyuapi Matsuri yang tengah demam tinggi.

Benarkah aku melakukannya karena saran dokter? Gaara membatin. Perasaan hangat yang menjalar ke dalam hatinya seolah minta pertanggung jawaban! Kenapa? kenapa gadis ini jadi begitu istimewa?

Senyum Matsuri terkembang seperti seorang batita umur tiga tahun yang diberi boneka baru. Sejatinya ia sedang demam tinggi… 40 derajat! Belum lagi asam lambungnya yang over, dehidrasi dan tekanan darah rendah yang membuat seluruh badannya tak bertenaga. Tapi gadis itu pun bingung sendiri kenapa ia jadi begitu bersemangat dan tak henti berbicara. Apapun yang melintas dipikirannya ia bicarakan. Apapun… asal bukan tentang hubungan mereka.

Gaara hanya mengagguk kecil sepanjang makan malam itu. seperti sedang menyuapi bayi yang baru bisa berbicara. Namun ia merasa hatinya menjadi terlampau ringan melihat Matsuri yang ceria dan menggebu-gebu. Gadis itu bahkan menghabiskan semangkuk penuh sup lobak meski selalu mengeluh mual tiap Gaara menyuapinya. Gadis aneh!

"Lihat sensei! Aku harus menelan pil-pil besar ini bulat-bulat! Apa tenggorokanku akan baik-baik saja nantinya? Aku heran, kenapa dokter sangat suka memberiku obat? Rasanya obatku jadi semakin bertambah banyak saja... bagaimana aku bisa menelan semua pil ini?!" Gerutu Matsuri sambil mendengus. Tapi ia menelan juga pil-pil itu dengan patuh. Dasar aneh!

Gaara yang tidak tahu harus berkata apa hanya bergumam tidak jelas sambil mempreteli pil itu satu per satu.

Begitu obat terakhir masuk kedalam tubuhnya, Matsuri langsung merasakan kantuk yang sangat. Sepertinya obat-obat itu mulai bereaksi, jadi ia menurunkan bantal dan mulai menutup matanya.

Hening merayap bersama dengan Matsuri yang kini telah terlelap. Gaara jadi mendadak merindukan celotehannya yang baru saja berlalu beberapa menit sebelumnya. Ia senang mendengar suara Matsuri yang ceria.

Rambut Matsuri telah semakin panjang sejak beberapa bulan yang lalu saat ia melamarnya. Rambut cokelatnya menjuntai menutupi wajahnya yang sedang tidur. Gaara menyeka rambut itu. lalu tangannyaturun menyentuh keningnya, matanya, hidungnya, pipinya, bibirnya dan seluruh detail wajahnya. Ia merasa dejavu. Tapi berbeda dengannya yang dulu, kali ini Gaara membebaskan tangannya menjelajahi kontur wajah manis yang tertidur itu.

Tahu-tahu, wajah Gaara telah berjarak tak lebih dari seinci lagi untuk menyentuh Matsuri. Ia langsung tersentak dan menjauhkan dirinya cepat-cepat. Tidak… ini tidak benar!

Gaara harus menunggunya! Setidaknya ia harus menjelaskan perihal hubungannya dulu baru bisa melakukan itu. Tidak benar jika kita sembarangan menyentuh seseorang saat orang itu tidur.

Ada perasaan menyesal yang menyesak masuk. Tapi memang harusnya seperti itu, jadi ia akan bersabar dan menanti saat-saat itu datang padanya. Bukankah Matsuri memang mencintainya?

Gaara menarik selimut dan menutupi tubuh gadis itu dengan dua selimut tebal rumah sakit. sambil tertegun memandangi wajah Matsuri yang terlihat sangat manis. Dalam hatinya ia merasa beruntung karena besok ia libur jadi ia tidak perlu memikirkan pekerjaan selama dua hari penuh. Yah, meski pekerjaan itu akan bertumpuk di hari berikutnya. Tak masalah!

O.o

Awalnya, Matsuri menyangka jika kejadian semalam hanyalah bunga tidur saja karena ia terlalu mengharapkan Gaara yang bersikap lembut. Tapi sekarang, saat sepasang mata itu terbangun tahu-tahu Gaara sudah memandanginya dengan baju yang sama sepanjang tiga hari ini.

Jadi semalam bukan mimpi?

Matsuri menatap takjub pada Gaara yang tiba-tiba berubah bak perawat professional. Menyuapi sarapannya dan menyiapkan semua hal yang ia butuhkan bahkan sebelum diminta. Mencengangkan!

Saat dokter masuk untuk melakukan pemeriksaan rutin, Matsuri tersenyum lebar melihat angka thermometer yang telah bergerak turun. 38 derajat… mungkin besok sore ia bisa langsung merasakan atmosfer apartemen yang sangat ia rindukan.

"Gaara-sama, bagaimana malam anda?" dokter Urameshi langsung menyambutnya begitu ia melihat perkembangan kesehatan Matsuri.

"Malam yang panjang," jawabnya sambil tetap mempertahankan suara baritone rendah andalannya.

"Jika ada suatu hal lain yang anda perlukan, jangan segan-segan hubungi kami. Nah, saya permisi."

Begitu Dokter itu membungkuk untuk berpamitan, Matsuri langsung mendengus. "Benar-benar ya… emang sensei ngasih apa sih sampe dokter itu lebih memperhatikan sensei dari pada pasiennya sendiri?"

Gaara tidak memberikan respon apapun. Rasanya ia terlalu senang melihat Matsuri yang misuh-misuh. Dan pada akhirnya Gaara hanya akan mengatakan, "cerewet" pada Matsuri setelah ia merasa capek sendiri.

"Jadi… apa yang akan sensei lakukan hari ini?"

"Apa yang bisa kulakukan akan kulakukan." Ujarnya. Entah mengapa, bagi Matsuri, Gaara sama sekali tidak berubah. Meski Gaara telah mulai menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan kalimat utuh Matsuri tetap merasa kalimat itu sama saja dengan gumaman andalannya. Sama-sama ambigu!

"Kenapa Sensei tidak bekerja saja? Sensei kan bisa sangat berguna bagi Gakure."

Gaara terdiam sebentar. Benar! kata-kata Matsuri memang benar! dari pada disini, ia akan jauh lebih berguna jika datang ke kantor dan mengurusi laporan. Tapi kemarin ia telah memutuskan untuk mengambil libur.

"Apa sensei sedang tidak ada pekerjaan di kantor? Apa Suna Gakure jadi semakin tenang hingga Kage-nya menganggur seperti ini?"

Sebenarnya, mustahil bagi Gaara untuk menganggur! Libur di hari minggunya saja sudah terlalu lama untuk di compare dengan tumpukan kewajiban yang datang tak habis setiap detiknya. Jika ia menunggu laporan beres untuk bisa berlibur, maka ia akan menunggu sampai seumur hidupnya! lalu hari ini ia mengambil libur dua hari… libur terpanjangnya selama menjabat sebagai Kage.

"Aku sedang libur, Matsuri." Kata Gaara pada akhirnya. Berharap perempuan cerewet disampingnya ini berhenti mengungkit kantor, kerjaan dan Kage!

"Jadi… apa liburan berharga yang jarang terjadi ini akan sensei habiskan di rumah sakit?" Matsuri bertanya skeptic. Rasanya benar-benar tak sanggup dipercaya. Bukankah setiap orang akan menghabiskan waktu liburan berharga mereka dengan jalan-jalan, atau paling tidak diam di rumah sambil tidur seharian. Bukannya diam di rumah sakit yang punya bau menusuk hidung!

"Tidak." Katanya,

"Makanya, aku tanya apa yang akan sensei lakukan hari ini! sensei mau jalan-jalan ke suatu tempat?" Entahlah, kenapa Matsuri jadi begitu penasaran dengan apa yang senseinya rencanakan untuk hari ini. Jadi ia terus mendesak Gaara.

"Aku akan menghabiskan liburanku denganmu." Jawabnya.

"?"

Pria yang baru saja mematahkan hatinya dua hari yang lalu itu berkata dengan lembut pada Matsuri. Tentu semua perempuan akan meleleh jika dirayu seperti itu oleh Gaara, si pemimpin karismatik. Namun, Matsuri juga merasa bingung dan curiga. Mencengangkan! Kenapa Gaara tiba-tiba berubah seromantis ini? bukankah dia orang yang tidak punya jiwa romantis sedikitpun? Apa ini sisi romantis yang 0,0000001% itu? apa sekarang ia harus tersipu dan merona? Seperti seekor keledai bodoh yang jatuh kelubang yang sama untuk kedua kalinya? Benar-benar mencengangkan, Tuanku Gaara-sama!

Tapi Gaara mungkin memang tidak sedang merayunya. Ia hanya bersikap sebagai seorang gantlemen yang penuh tanggung jawab setelah menghancurkan hati gadis polos hingga membuatnya demam tinggi seperti ini. Jadi Matsuri hanya memandanginya dengan tatapan terluka.

"Kalau sensei hanya merasa bertanggung jawab akan kondisiku yang seperti ini, lebih baik sensei pergi saja!"Kata Matsuri dejeksi. Matsuri tidak tenang diperlakukan seperti itu. Ia tidak terima!

Mendengar respon yang di luar dugaan, Gaara memasang ekspresi seperti sedang tertusuk pisau pada Matsuri. Tapi Matsuri pun terluka, lantas siapa yang sebenarnya melukai dan menusuk itu?

Kenapa Matsuri menjadi begitu sulit di tebak? Bukankah semalam ia sudah baik-baik saja? Tadi pagi juga… kenapa sekarang ia menghempaskannya lagi? Apa yang ia inginkan sebenarnya?

Kedua anak manusia yang sama-sama merasa terluka itu hanya terdiam tanpa kata. Mereka bingung… mereka kesal… dan mereka merasa dikhianati tanpa tahu siapa yang mengkhianati.

"Aku mencintaimu," Kata Matsuri lirih. "Ya, aku memang mencintaimu. Bukankah sensei sudah tahu itu?! Aku harus jatuh sedalam apa agar sensei berhenti? Apa sensei pikir karena aku mencintaimu maka sensei bisa mempermainkan perasaanku seenaknya? Aku juga punya batas sensei… apa salahku sampai sensei begitu tega menghancurkan perasaanku? Sudahlah! Tidak usah bersikap baik dan pura-pura mempedulikanku karena itu hanya akan membuatku semakin susah!"

Sesak… sesak sekali…

Matsuri mulai meluapkan kekesalannya. Kebingungan yang membuatnya hampir gila! Matsuri melampiaskan kebodohannya pada Gaara, yang dalam perspektifnya, bermuka tebal. Benar-benar tidak tahu malu!

Denyut nadi Matsuri yang semula sudah hampir teratur kembali berdetak tak karuan. Napasnya memburu hingga jantungnya seakan sibuk diajak berpacu.

"Pergi dan jangan pernah datang lagi! Aku tidak mau melihatmu! Aku tidak mau menebak-nebak sikap sensei yang ambigu itu! Aku tidak mau jatuh lebih dalam lagi! Jangan bersikap baik padaku! Pergi…"

Suara Matsuri terdengar seperti teriakan histeris. Ia menjambak rambutnya dengan kedua tangan yang bergetar sambil membenamkan kepalanya ke pangkuan yang kakinya menekuk.

"Tenang, Matsuri! Maksudku…"

"Bagaimana aku bisa tenang? Memangnya apa yang kulakukan? Aku tahu aku hanya seorang gadis kumal yang banyak tercecer diluaran sana. Tapi aku juga punya harga diri! Aku tidak mau diperlakukan seenaknya hanya karena aku miskin! Aku tidak terima! Aku benci!"

Ayo bertengkar! Bertengkar hingga kita sama-sama berteriak dan saling menyalahkan! Ayo bertengkar! Bertengkar hingga aku bisa benar-benar membencimu!

Dalam situasi ini, Gaara sungguh tidak tahu harus bagaimana. Ia kebingungan seperti orang bodoh! Sementara Matsuri semakin histeris melihat Gaara yang hanya memandangnya seperti itu.

Bagaimana aku bisa…? Bagaimana bisa aku bersikap manis pada sensei yang akan menikahi orang lain? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ia memberinya harapan seperti ini? apa sensei benar-benar ingin menghancurkan seluruh hidupku? Apa salahku hingga aku harus terluka seumur hidupku nanti? Benci… aku harus membencinya agar aku bisa meneruskan hidup! Aku tidak mau hidup yang kuperjuangkan susah payah ini harus terbunuh oleh perasaanku sendiri! Aku tidak mau… aku tidak rela!

"Pergilah sensei! Aku lelah… aku ingin istirahat! Aku tidak mau diganggu! Jangan datang lagi… Aku akan mulai membenci sensei. Aku juga akan mulai melupakan sensei. Jadi bersikaplah seolah-olah tidak mengenalku jika kita bertemu lagi nanti! Aku–"

Gaara tidak mengerti! Gaara tidak tahu kenapa Matsuri mendepaknya seperti ini? bukankah tadi ia baru saja mengatakan ia mencintainya? lalu kenapa sekarang ia berkata akan mulai membencinya dan melupakannya? Kenapa dia bersikap seperti itu? apa yang telah dia lakukan hingga Matsuri seperti itu?

Keringat dingin menetes di punggung Gaara dan kepalanya mulai berputar. Darahnya yang tadi membeku kini mulai mengalir lagi di urat nadinya, dan tubuhnya terasa panas. Darahnya seakan mau keluar dari kepalanya. Ia marah! Kenapa aku jadi terdakwa disini? Apa yang telah kulakukan?

"DIAM!" Suara Gaara, yang terdengar seperti letupan bom chakra yang meledak dari tenggorokannya, membekukan Matsuri dengan seketika.

Gaara menarik napasnya panjang dan menghembuskannya dengan halus. Aura Gaara yang membara perlahan meredup. Lalu matanya menatap Matsuri lembut.

"Dengarkan aku dulu! Jangan mendorongku, lalu membuatku semakin jauh secara sepihak! Kau bilang mencintaiku tapi kau mendepakku? Apa kau sedang membuat jalan paradoksmu dan menghukumku?..." Gaara mengela napas pendek. Berusaha mengatur luapan emosi yang menyesakkan dadanya. "…apa kau benar-benar ingin seperti ini? Hentikanlah! Aku juga… aku juga… " kata-kata itu terputus karena Gaara merasa tidak sanggup mengatakan lanjutannya. Seperti ada bongkahan batu besar yang mengganjal pita suaranya.

Mata Matsuri terbelalak, memandanginya dengan saksama. Menunggu kata-kata Gaara yang menggantung. Sepertinya, Matsuri bahkan telah berhenti menarik napas. Ia tertegun… tidak! Kata yang tepat adalah tercengang!... dan bergeming seperti manekin yang kaku.

Lalu bunyi splash kamera yang tidak berhenti itu menyadarkan keduanya.

"Se…selamat pagi Gaara-sama." Mori-san dan Taka-san tersenyum dengan gugup di pintu masuk ruangan. Dibelakang mereka nampak berjejer wartawan yang seenaknya mengintip dan memotret.

Kapan pintu terbuka?

Melihat para wartawan itu, wajah Matsuri spontan memerah. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Ia seperti sedang bugil di depan banyak orang. Ia merasa kepergok! Sial.

Berbeda dengan Gaara, mata elangnya dengan seketika berubah mode. Ia tersinggung karena privasinya terusik! Namun dilain pihak Gaara merasa lega. Untunglah! Ia segera menyadari situasi ini pada detik-detik paling vital. Pantas saja ia tidak sanggup mengatakannya. Bagaimanapun, ia merasa berterimakasih pada insting yang telah menyelamatkannya.

Eh tunggu sebentar! Insting?

Mata Gaara kali ini melebar sempurna. Melebar untuk alasan yang berbeda. Ia seakan baru saja berhasil menggapai bintang di angkasa. Ia… menemukan jawabannya!

"Gaara-sama anda dipanggil dewan." Taka-san berkata tanpa tahu bahwa ia baru saja merusak kesenangan pria muda berambut merah itu.

Gaara mendelik kesal, seolah ingin mengatakan 'Mengganggu saja, aku kan sedang libur!'

Tapi Mori-san dengan segera menjawab pandangan penuh arti itu, "Ini pertemuan mendesak, Gaara-sama. Tamu dari Konoha sudah tiba. Kita tidak bisa membuat mereka menunggu anda di hari senin. Maafkan saya," Mori-san menunduk dalam. Ia nampaknya benar-benar susah karena ditempatkan pada posisi yang membuatnya serbasalah.

Gaara melebarkan matanya. Apa? Tamu Konoha?! Jadi dewan sudah merencanakan ini lebih cepat? Jadi kedatangan Hiashi-sama kemarin itu cuma tameng agar aku lengah? Siaaal! Ini sih kecolongan! Dan kenapa Mori harus mengatakan tamu Konoha segala?! Di depan wartawan…? Terlebih… di depan Matsuri! BODOH!

"Sensei tidak pergi? Mereka jauh-jauh datang dari Konoha, lho!" Kata Matsuri ketus sambil menekankan kata 'Konoha'.

Ini buruk! Bagaimana ini? Aku tidak mungkin mengabaikan Tamu Konoha di depan wartawan. Tapi aku juga tidak mau menginggalkan Matsuri sekarang! Apa…? Apa yang harus kulakukan?

"Pergilah, sensei!" 'bujuk' Matsuri yang merasa iba melihat dua pria yang dari tadi menyeka keringat dingin.

Demi apapun juga, inilah untuk kesekian kalinya ia tidak berkutik pada perkataan Matsuri. Gadis bodoh itu adalah satu-satunya orang yang berani memerintahnya! Ia bahkan pernah menamparnya! Hanya dia… hanya perempuan inilah yang berani melakukan semua tindakan tidak sopan itu pada Gaara yang telah menjadi KAZEKAGE!

"Lima menit lagi pertemuannya akan dimulai." Kata Taka-san. Mendesak Gaara yang tak juga bergerak.

"Nanti tolong sekalian tutup pintunya ya, sensei." Desak Matsuri seraya menarik selimut dan merebahkan diri. Menguatkan kesan 'Cepat pergi dari sini!'

Gaara benar-benar tidak dihadapkan pada pilihan untuk tetap tinggal sekarang ini. Akan sangat konyol jika ia memaksa tinggal. Jadi dengan berat hati ia melangkah meninggalkan Matsuri.

Langkah kaki Gaara yang menjauh membuat hati Matsuri perih.

Bukankah aku yang menyuruhnya pergi? Sudahlah… toh antara sensei dan aku memang tidak ada apa-apa, kan?! Kami sudah putus! Jadi aku harus lebih kuat sekarang…! Aku pasti bisa membenci dan melupakannya suatu hari nanti. Ya, aku pasti bisa! Ini hanya soal waktu saja….

Clek!

Pintu ruangan tertutup. Menciptakan keheningan yang menyedihkan. Lalu perlahan terdengar isakan pelan, tangisan tertahan yang memilukan.

"Setidaknya, katakan sesuatu dong, bodoh!"

'Aku juga…' apa?

-TBC-

reviewww pleaaassseee ^^/