[DISCLAIMER]

The story belongs to it's real author. I just remake it into ChanBaek version.

.

MANNEQUIN'S LOVE STORY

마네킨 러브 수코리

Baekhyun X Chanyeol (GS)

.

Remake story by Ruth Elenora, Darling Mannequin

.

제 06 화

.

Walau kita semakin jauh,

Tak akan kubiarkan rasa ini menghilang.

.

.

Ujung pensil di tangan Luhan meliuk-liuk dengan ringannya di atas kertas. Menciptakan sketsa tegas pada sebuah pola yang sedang digambarnya. Ilustrasi tekstur kain yang tampil melayang pada tubuh model croquis dalam pose runway menunjukkan gaun tersebut berbahan tipis dan licin. Luhan berkonsentrasi pada beberapa detil unik yang menjadi elemen dasar desainnya, menambahkan sedikit aksesoris sebagai sentuhan akhir, hingga menghasilkan sketsa gaun yang sangat indah.

Diletakkannya pensil di samping kertas dan ditatapnya gambar yang sudah jadi tersebut dengan berbinar. Luhan tersenyum puas melihat wajah model croquis yang dilukis dalam desainnya. "Chanyeol pasti tidak akan menyangka sama sekali."

Luhan membuka laci nakas di sebelah meja gambarnya. Mengambil ponsel hendak menelepon Chanyeol untuk memberitahukan perubahan gaya rancangannya.

Nada sibuk terdengar dari seberang. Luhan mencoba lagi menelepon. Tetap saja nada sibuk yang terdengar. Diliriknya jam dinding yang tergantung di kamarnya. Mungkin Chanyeol sedang asyik bersama teman kencannya larut malam begini. Luhan mematikan lampu meja kerjanya sambil mendengus kesal.

.

.

.

Seorang wanita dengan gaun panjangnya berwarna merah menyanyi dengan suara merdu sekali. Duduk menyilangkan kaki sambil memegang pengeras suara. Dengan hanya iringan seorang pianis, ia membawakan lagu yang sangat memukau seluruh pengunjung cafe. Sembari menyelesaikan nyanyiannya, ia tersenyum ke arah Chanyeol yang sedang duduk di sofa VIP.

Chanyeol tahu penyanyi itu meliriknya terus dari atas panggung. Harus ia akui, wanita itu memang mempesona. Berhasil membiusnya dengan penampilan elegan berwarna merah, warna yang membangkitkan seleranya pada wanita yang memakainya. Tapi tidak semua wanita. Dia hanya tertarik pada seorang Baekhyun.

Nama itulah yang membuatnya terdampar malam ini di cafe miliknya. Di tengah-tengah suasana cafe yang cukup lengang, Chanyeol sudah menghabiskan beberapa gelas vodka. Tidak akan membuatnya mabuk tapi cukup untuk sebuah pelarian.

Hampir satu bulan dia tidur sendirian. Mengulang malam demi malam tanpa kehangatan Baekhyun yang biasanya selalu menemaninya walaupun timing-nya tidak normal, datang dan pergi sesukanya, bahkan lebih sering mengejutkannya.

Musik yang mengalun telah berganti menjadi musik instrumental. Sang pianis tetap bermain sedangkan biduan itu turun dari panggung kemudian berbelok ke arah Chanyeol.

"Menunggu seseorang?" tanyanya ramah setelah duduk di depan Chanyeol.

"Mm-hmm," gumam Chanyeol malas. Jari-jarinya memutar gelas minuman yang hampir kosong tanpa berminat sama sekali.

"Saya hanya ingin menyampaikan titipan pesan dari seseorang tadi di belakang panggung." Wanita itu menaruh sebuah lipatan kertas kecil ke atas meja.

"Katanya harus diserahkan ke Anda setelah saya selesai menyanyi."

Chanyeol menerima kertas itu dan membukanya. Keningnya berkerut.

"Selamat menikmati malam Anda," ujar wanita itu sembari bersiap berdiri meninggalkannya.

"Tunggu!" sergah Chanyeol. "Yang menitipkan ini, apakah dia menyebutkan namanya?" Pertanyaan Chanyeol menghentikan langkah wanita itu yang hendak beranjak pergi.

Wanita itu menggeleng. "Yang saya ingat hanyalah matanya. Hijau dan cantik sekali."

Baekhyun? Chanyeol bangkit berdiri dari sofa. Efek minuman keras yang sudah banyak diteguknya langsung terasa, sempat membuatnya sempoyongan dan hampir jatuh.

"Ke arah mana dia pergi?"

Wanita itu memandang Chanyeol dengan wajah khawatir. "Saya tidak melihatnya. Maaf, apakah perlu saya panggilkan petugas untuk membantu memapah Anda?"

Chanyeol menggeleng lemah. Sepertinya wanita itu tidak mengenal wajah Chanyeol sebagai pemilik cafe.

"Saya masih kuat berjalan sendiri," ucap Chanyeol dengan nada agak tersinggung.

Wanita itu mengangguk mengerti lalu berbalik pergi. Chanyeol merogoh sakunya. Dia harus menelepon Jongdae, segera!

.

.

.

.

*Flashback beberapa jam yang lalu*

[Baekhyun's POV]

Kupikir aku telah mati, tapi ternyata aku hanya tak sadarkan diri. Hanya gelap yang kulihat di sekelilingku. Ruangan ini sangat panas sampai-sampai aku sulit untuk bernapas.

Aku menengadahkan kepalaku ke atas, mengira-ngira langit kamar di tengah samarnya penglihatanku. Kepalaku pening. Badan rasanya remuk. Ingin sekali rasanya pergi dari ruangan ini tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa bergerak banyak. Entah apa yang terjadi padaku selama aku pingsan dan sudah berapa lama aku tak sadarkan diri.

Terdengar suara sayup-sayup dari luar kamar. Seorang wanita sepertinya sedang bercakap-cakap dengan temannya. Langkah kaki mendekat membuatku berdebar menanti siapa yang akan muncul di balik pintu.

Pintu terkuak. Secercah sinar yang ikut mengintip telah menyilaukan pandanganku yang mulai terbiasa dengan gelap gulitanya ruangan. Aku tak dapat melihat jelas wajah si pemilik langkah kaki itu.

"Akan kuapakan kau, manekin? Kau benar-benar merepotkanku." Jongdae mengela napasnya. Setelah menyalakan saklar lampu, dia berjalan mendekatiku dan berdiri lama memandangku.

Aku mengenalnya sebagai teman Chanyeol yang pernah datang ke butik dan dia juga yang saat itu menjalankan mobil. Bagaimana aku bisa ada di tempatnya? Ke mana Chanyeol?

Pintu terkuak lebih lebar lagi. Sepasang wajah muncul dari balik pintu. Ah, ternyata kau di sini juga, Chanyeol! Leganya hatiku.

Chanyeol melangkah masuk bersama seorang wanita cantik berambut panjang, warnanya hampir sama dengan warna rambutku, memakai dress warna peach berbahan sifon yang menutupi tubuhnya sampai selutut, menyatu serasi dengan kulitnya yang putih pucat, menyiratkan aura seorang puteri yang rapuh dan patut dilindungi. Wanita itu juga pernah datang bersama Jongdae.

Aku tersenyum memandang Chanyeol. Namun Chanyeol tak pernah melepaskan pandangannya dari wanita cantik di sampingnya tersebut. Mereka tersenyum satu sama lain dengan tangan saling berpegangan.

Aku tidak salah lihat, bukan? Terakhir yang kuingat adalah Chanyeol membawaku pergi bersamanya keluar dari butik. Tapi apa ini? Kenapa di depanku sekarang, dia sengaja mempertontonkan kemesraannya dengan wanita lain?

Ada satu rasa sakit yang tidak kukenal. Mungkinkah ini cemburu yang kini sedang kurasakan? Aku tidak mau tergantikan oleh wanita lain. Aku tidak mau Chanyeol tidak lagi menyayangiku. Aku tidak mau dia bercinta dengan wanita selain aku. Aku tidak mau itu semua terjadi.

Aku cemburu.

Ya, aku cemburu.

"Aku rasa kita telah membuat kesalahan yang fatal." Jongdae menggeleng. "Bukan kita. Tapi aku."

"Kenapa?" tanya Kai.

"Karena aku telah menuliskan cerita berlandaskan emosiku yang paling kelam, dan aku memaksa kalian ikut serta dalam taktik gelapku, menunjukkan diri di hadapan Chanyeol dan kekasihnya untuk menarik perhatian mereka sekaligus memisahkan mereka."

Apa maksud perkataannya barusan? Aku tak mengerti. Chanyeol, tolong bawa aku pergi dari sini.

"Kai, Crystal, aku harus mengembalikan kalian kembali ke tempat kalian seharusnya berada. Ini semua rasanya sudah tidak benar lagi."

"Tapi, kami ingin menikmati waktu lebih lama lagi di duniamu. Hanya di sinilah aku dan Kai bisa saling berpelukan seperti ini tanpa khawatir akan saling meniadakan." Crystal memohon.

Chanyeol mencium bibir Crystal dengan lembut. "Tadinya kupikir aku telah kehilanganmu, Puteri. Untung saja Jongdae menyuruhku membawa manekin itu dan akhirnya mempertemukanku denganmu. Aku tidak ingin berpisah denganmu"

Apa maksudnya itu? Apa maksudnya dengan 'membawaku'? Pria itu.. dia bukan Chanyeol, kah?

"Ya, aku tahu karena akulah yang menuliskan ceritanya seperti itu," ujar Jongdae.

"Kalau begitu, tolong tuliskan alur cerita yang dapat menyatukan kami di Kerajaan Air dan Api ketika kami sudah kembali ke dalam dunia tulisanmu," ucap Kai kemudian mengecup dahi Crystal singkat.

Oh, Chanyeol! Teganya kau mencium wanita lain di depanku. Secepat itu kau kembali bersikap tidak menganggapku ada.

Aku ingin lari. Cepatlah tubuhku. Segeralah bisa bergerak. Aku tidak mau berlama-lama melihat pemandangan yang mengumbar kemesraan ini.

"Aku mau mengajak kalian ke cafe favorit Chanyeol," ajak Jongdae.

Jangan dikunci. Jangan tutup pintunya. Aku memohon dalam hati saat melihat mereka keluar dari ruangan. Aku bertekad akan mencari Chanyeol. Ke cafe yang mereka sebutkan tadi.

Sebelum berlalu dari hidupnya, seperti yang diinginkannya. Aku akan menyampaikan rasa yang sudah lama mengendap di dada. Aku ingin sekali dia tahu bahwa di hatiku ada sesuatu. Sebuah perasaan yang kukenal bernama CINTA.

Seketika tubuhku tidak kaku lagi. Aku mendapatkan momen untuk bergerak. Hatiku berdebar-debar saat berusaha mengendap-endap menuju pintu apartemen Jongdae sebelum mereka menyadarinya. Aku mengikuti mereka menuju halaman parkir. Masuk ke dalam bagasi mobil Jongdae dengan suara sepelan mungkin. Menunggu dengan sabar sampai mobilnya berhenti dan mereka semua telah pergi jauh dari mobil.

Kubuka bagasi mobil dan kuhirup udara bebas sedalam-dalamnya. Kini aku berada di depan cafe yang dimaksud oleh Jongdae tadi.

Dari luar, cafe terlihat sangat besar, terang dan cozy. Tampilan kusen-kusen dan daun jendela yang semu menjadi ornamen unik pada dinding luarnya. Ditambah dengan aksesoris botol-botol minuman serta wadah-wadah makanan yang ikut meramaikan dekorasi dinding semu tersebut.

Di dalam cafe, suasananya terlihat sangat lengang. Mungkin karena malam sudah semakin larut. Hal ini justru membantuku menemukan keberadaan Chanyeol. Di pojok ruangan bertuliskan VIP, dia terlihat sangat memprihatinkan di antara banyaknya gelas kosong di atas mejanya. Kenapa dia sendirian? Kemana yang lainnya?

Aku memikirkan cara yang tepat untuk menyampaikan pesanku pada Chanyeol. Beruntung, sebuah kartu ucapan dengan simbol hati di dalamnya kutemukan dekat meja bar.

Entah milik siapa, tapi aku tidak punya waktu banyak untuk menelusurinya. Mataku mencari seseorang yang bisa kutitipkan pesan. Sepotong gaun merah menyala dari belakang panggung menarik perhatianku untuk segera berjalan mendekatinya.

[Baekhyun's POV and Flashback End]

.

.

.

.

"Hai, Chanyeol!" seru Jongdae sesaat setelah ia menekan tombol jawab pada ponselnya.

"Ada apa?"

"Aku ingin bertemu"

"Ketemuan? Kau lagi dimana?"

"Aku sedang di Cafe Chocopop, cepatlah kemari!"

"Oh, kebetulan. Kami juga ada di sekitar sini. Katakan saja dimana mejamu, kami akan segera mampir."

Jongdae mengakhiri panggilan telepon dari Chanyeol. Ia semakin mempercepat langkahnya, ia ingin segera menemui Chanyeol dan menceritakan semuanya.

.

.

Chanyeol memperhatikan sekali lagi laki-laki berjubah hitam yang sedang duduk di hadapannya saat ini, bersama Jongdae dan Crystal. Meskipun dia sudah mendengar penjelasan Jongdae barusan, tapi dia masih saja takjub dengan tokoh-tokoh fiksi ciptaannya. Ulah Jongdae benar-benar membuatnya jadi bergidik sendiri.

"Aku mohon maafkan aku Chanyeol! Semua ini salahku. Aku cemburu melihatmu dengan wanita lain hingga membuatku berniat untuk memisahkan kalian dengan memanfaatkan Kai dan Crystal." Ucap Jongdae.

"Tapi Aku akhirnya sadar setelah melihatmu terus menderita selama sebulan ini. Melihatmu Sesedih itu membuat hatiku sakit. Aku sungguh sangat menyesal!"

Jongdae memohon agar Chanyeol memaklumi semua kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini yang diakibatkan oleh keegoisannya sendiri.

"Aku benar-benar tidak menyangka kau akan melakukan hal seperti itu! Tapi baiklah kau akan aku maafkan. Tapi dengan satu syarat." Chanyeol menyanggupi.

"Apa?"

"Bawa aku menemui Baekhyun."

"Baekhyun?" Jongdae mengernyitkan keningnya, kemudian seperti tersadar sesuatu, dia menutup mulutnya dengan tangannya sambil membelalakkan matanya tak percaya.

"Jangan bilang padaku bahwa itu nama si manekin. Kau sendiri yang memberinya nama?"

Chanyeol hanya tersenyum menjawab pertanyaan Jongdae.

Memikirkan akan segera bertemu lagi dengan Baekhyun, membuatnya benar-benar bahagia. Rasa rindu dan kesepian selama sebulan ini akan segera berakhir.

"Tunggu aku, Baekhyun. Saat bertemu nanti, aku tidak akan pernah melepaskanmu!" Batin Chanyeol.

.

.

=TBC=

.

.

Ga kerasa 4 Chapter lagi tamat, jadi aku bisa ngelanjutin Wish, S.I.L.Y, dan Waterdrop yang sempat terlantar gegara ff ini :')

Terima kasih sudah setia membaca ff ini. Terima kasih juga buat semua review yg sudah masuk, semuanya selalu aku baca kok :)

Thanks to rekmooi, BaekHill, dan veraparkhyun yang selalu menyempatkan diri untuk memberikan review, Thanks juga untuk pingdt, Chanbaek92, parkbaexh614, leeyeol, ennoo96, Park Beichan, baekkiecookie, zenbaek, monscbhs, LoeyPuppy614, Nolachanbee, Adindanm, SexYeol, barbiebaek, dan other anonymous Guests. Review kalian adalah semangat untuk Author :')

l'll update the next chapter tomorrow night! So, don't forget to review ya ;)

DON'T BE SIDERS !

-ByunYeol-