Donghae menyambar payudara Hyuk Jae, remasannya memiliki intensistas yang kasar dan sangat keras, berputar-putar disana meninggalkan efek yang agak kejam, nyaris membuat Hyuk Jae kehilangan suaranya. Donghae memiliki skill yang menakjubkan mengenai kemampuannya dalam meremas dada wanita, dia melakukannya dengan sangat benar, teknik yang tepat, menambah gairah dan bukan menyisakan rasa perih yang berdenyut-denyut.
Dia selalu memusatkan pijatan lembut yang menenangkan, yang memberikan dorongan menyejukkan agar Hyuk Jae merasa nyaman dengan inisiatifnya dan bukannya malah terkaget-kaget. Dia seperti pria yang sangat mementingkan kepuasan partner bercintanya, dia berhati-hati dan tangkas dalam bertindak. Hyuk Jae tidak segan-segan memberikan petunjuk yang cerdas untuk membuat Donghae menemukan titik gairahnya. Dan yang paling mengejutkan adalah betapa handalnya Donghae dalam menciptakan suansana yang panas dan lembut, semacam romantisme seks yang selalu Hyuk Jae impikan. Tidak itu-itu saja, yang kadang kala membuatnya cepat bosan kemudian menghilangkan mood bercintanya. Itu sangat tidaklah etis. Hyuk Jae sering mengalami yang seperti itu.
Donghae membuka kaki Hyuk Jae perlahan-lahan dan mencium dinding vaginanya, membuka rok wanita itu sampai ke perutnya, menyisakan akses yang berani kepadanya. Hyuk Jae yakin dengan lidah Donghae saja dapat membuatnya kehilangan akal atas kesadaran dirinya, membuatnya sangat liar dan melupakan kontrol. Ketika lidah Donghae mulai mengeksplor miliknya, menemukan klitorisnya, seketika Hyuk Jae bersumpah kalau dia nyaris menemui surga terdekatnya. Donghae memutar lidahnya disana, menusuk-nusuk tubuhnya secara hati-hati, mendorong Hyuk Jae untuk mengerang. Astaga, lututnya nyaris mengapit kepala Donghae untuk masuk lebih dalam. Dia bisa gila karena kesenangan ini.
Tangan Hyuk Jae berpindah dari kasur menuju rambut-rambut Donghae, menekan surai pemuda itu, menuntut keliaran yang dahsyat. Hyuk Jae menjambak Donghae, menuntun lidahnya masuk lebih dalam, memonitori Donghae untuk melakukan yang lebih hebat lagi. Karena lidah Donghae saja tidak dapat membuatnya puas, mendadak dia merasa seperti seorang pecandu seks. Gairah itu tidak pernah ada habisnya.
Donghae menghisap selangkangan Hyuk Jae serta menggigitnya, memasukan lidahnya sehingga meninggalkan bekas kemerahan di kulitnya yang putih. Dia memutari lidahnya diantara klitoris dan dinding vaginanya, mematikan sensor motorik Hyuk Jae secara tiba-tiba dengan gelombang hebat yang bagai sengatan listrik berkekuatan tinggi. Donghae menaikkan kepalanya, menghentikan aktivitas mewah itu. Dia menaikkan alisnya, merasa bangga yang dibalas lenguhan kekecawaan Hyuk Jae. Kenapa Donghae harus menghentikannya persis ketika Hyuk Jae hampir menemukan kenikmatannya? Kenapa dia tidak bisa melanjutkannya saja dan membantunya untuk sampai?
Donghae memajukan kepalanya, menggapai bibir Hyuk Jae dan memagut bibir Hyuk Jae yang agak membengkak. Wanita ini terengah dengan putus asa serta merengut dengan suara yang melengking, membuat Donghae nyaris tertawa. Donghae melepaskan kemeja Hyuk Jae secara hati-hati, melepaskan kancing-kancing yang mengganggunya, meninggalkan branya yang lain. Hyuk Jae tidak bisa menangani dorongan seksual ini sendirian, jadi dia menggigit jarinya dan menjilatnya, memberikan pesan kepada Donghae untuk melanjutkan yang tadi. Signyal itu penuh dengan godaan yang membuat Donghae merasakan panas di sekitar tengkuknya. Hyuk Jae sangat handal dalam meningkatkan gairah Donghae, Hyuk Jae tidak terlalu sering melakukannya tetapi ketika dia melakukannya, itu seperti bom waktu yang sulit diledakkan. Yang waktu tibanya tidak mampu diprediksi oleh Donghae.
Donghae meremas gemas payudara Hyuk Jae lagi sebelum menuntut wanita itu bergerak ke bawahnya, membuka celananya. Hyuk Jae bukan wanita yang sukar menurut maupun suka menggoda, namun ketika berhadapan dengan Donghae dikeadaan seperti ini membuatnya menemukan kesenangannya yang lain, dia bagai menemukan dirinya sendiri yang tidak perlu diatur-atur untuk merasa seksi.
Kebanyakan pria biasanya melupakan kewajibannya untuk memberikan kepuasan yang serupa kepada pasangan bercintanya, mereka umumnya bertindak acuh dan serakah. Itu dikhususkan kepada Young Woon. Secara batin Hyuk Jae tidak pernah menikmati pengalaman seks mereka. Dan tuntutan pria itu membuat Hyuk Jae sering stres, menimbulkan paronia tumbuh di dalam hatinya. Hyuk Jae sering berpikir kalau bercinta terlalu sering dapat mengurangi rasa nikmatnya, atau kalau tiba-tiba dadanya terasa mengkendur ataupun selulit dikedua pahanya bisa membawa pengaruh yang buruk terhadap rumah tangganya. Dia selalu memiliki kewaspadaan itu saat bersama Young Woon.
Tetapi hebatnya, dia melupakan ketakutan itu saat sedang bersama Donghae. Donghae membuatnya merasa sempurna, menyempurnakan kekurangannya. Pemuda itu tidak pernah mengeluh, tidak juga membuatnya rendah hati. Perasaan bangga selalu muncul di hatinya. Donghae berhasil membawa perubahan yang besar kepadanya, yang tidak dia dapatkan ketika bersama dengan Young Woon. Ketika bersama dengan laki-laki bejat itu.
Hyuk Jae menurunkan celana Donghae dengan hati-hati, meninggalkan celana Donghae sampai kelututnya. Dia menunduk dan membuka celana dalam Donghae setelahnya, dan mendadak merasa sangat puas serta beruntung. Donghae memiliki ukuran kejantanan yang masuk akal, yang tidak membuatnya ngeri dan tidak mengurasi rasa antusiasnya akan seks mereka. Kejantanan Donghae bersih dan menggairahkan. Menurut pengalaman Hyuk Jae, kejantanan yang ukurannya terlalu dilebih-lebihkan malah membuatnya merasa ngeri jadi dia berusaha untuk menemukan yang pas untuknya. Intinya dia sangat menyukai milik Donghae. Rasa puas yang sederhana mendorong dirinya untuk segera menelan milik Donghae ke mulutnya. Merasakan mereka menginvasi Hyuk Jae secara kasar dan intensif.
Hyuk Jae secara profesional memasukkan milik Donghae ke dalam mulutnya, sebelum menelannya utuh, dan meninggalkan gigitan-gigitan sensual ke penis Donghae. Pria itu mengerang di sana, menuntut yang lebih banyak, membuat Hyuk Jae merasa dibutuhkan. Hyuk Jae menjatuhkan kepalanya sesuai ritme, kadang kala lidahnya menekan kepala penis Donghae, Donghae berusaha keras untuk menahan desahannya yang serak. Hyuk Jae menghisap dengan intensitas yang lambat, sering kali dia melepaskan milik Donghae dari bibirnya dan memasukan penis Donghae kembali sekedar untuk menggodanya. Dan wajah Donghae yang memerah membuat Hyuk Jae merasa memenangkan pertandingan. Ini sungguh luar biasa.
Hyuk Jae menghentikan aktivitasnya dan menjangkau pinggul Donghae dengan jari-jarinya, menghentikan pergerakanya. Satu tangan lainnya memijat testis pemuda ini, mempercepat ejakulasi. Donghae mengerang dan tangannya meremas sprei dengan hebat, serta dadanya dipenuhi oleh keringat yang membanjiri tubuhnya. Keringat itu membuat warna tembaga menyalang penuh keseksian dan menambah keindahan tubuhnya. Dia meneriakkan nama Hyuk Jae ketika dia nyaris sampai dan pijatan wanita itu semakin menggila. Membuatnya ingin gila saja. Hyuk Jae dengan nakal menghentikan tangannya, kembali mencium penis Donghae, dan dengan gigitan yang merangsang di penisnya, Donghae sampai dengan perasaan yang puas di dalam mulut Hyuk Jae.
Hyuk Jae tersenyum kepadanya, menelan setengah spermanya, kemudiam dia mencium kening pemuda itu sebelum menangkap bibirnya lagi. Dia memiliki firasat yang meyakinkan kalau Donghae sangat menikmati apa yang baru saja dia lakukan tadi, begitupula dengan dirinya yang sangat menyukai itu.
Donghae menarik tubuhnya dan meletakkan Hyuk Jae ke bawah tubuhnya, membalikkan posisi mereka. Dia menggiring tubuh mereka untuk saling bersentuhan satu sama lainnya, menciptakan koneksi langsung diantara keduanya. Donghae beberapa kali memberikan sengatan yang hebat kepada Hyuk Jae saat tubuh mereka melakukan kontak yang hati-hati, sengatan yang membuat Hyuk Jae tanpa sadar mengerang lagi.
Dia tidak yakin kalau Donghae akan memberikan kesempatan yang hebat ini serta kelangkaan ekslusif lainnya, dia tidak mengharapkan banyak dari Donghae. Memiliki Donghae dipelukannya saja sudah membuatnya sangat bersyukur. Dia ingin sekali mengesahkan eksistensi dirinya di dalam kehidupan Donghae, tetapi Hyuk Jae yakin bahwa legalitas datang dari hati mereka berdua. Dia tidak perlu memaksa Donghae, apalagi dirinya sendiri. Secara teknis ini sudah lebih dari ekspektasinya. Hyuk Jae tahu benar kalau Donghae menyisakan ruang yang besar untuk Hyuk Jae di hatinya. Tentu saja, dia tidak boleh meragukan Donghae. Donghae sudah lebih dari anugerah dan kebahagiaan. Dan dengan memikirkannya saja dapat mengurangi rasa sakit di hidupnya.
Donghae melepaskan kaos dari punggungnya, sehingga membuat Hyuk Jae tidak bisa memikirkan hal lainya lagi selain kejantanan Donghae yang hendak tenggelam di dalam tubuhnya. Donghae memberikan signyal kepada Hyuk Jae untuk mempersiapkan dirinya, kalau mereka sebentar lagi akan melangkah ke tahap yang lebih matang tepat setelah Donghae meraih kondom di meja nakas. Dan kalau Hyuk Jae sudah memberikan persetujuan yang resmi, dia tidak memiliki kesempatan untuk mundur lagi. Sama sekali tidak.
Donghae merobek bungkus kondom dengan giginya dan matanya menawan Hyuk Jae dengan kilatan yang nyalang. Hyuk Jae tidak tahu harus bagaimana untuk menyambut gairah seksual itu jadi dia tidak melakukan apapun sebab dia tiba-tiba merasa kikuk dengan waktu menunggu yang lama. Dia bisa merasakan minat khusus Donghae kepada dada dan pinggannya dilihat dari kuantitas pria itu menatap mereka, seolah-olah mereka adalah prestasi yang membanggakan. Dan tiba-tiba itu membangkitkan semangat juga rasa percaya dirinya. Hyuk Jae seharusnya tahu kalau dia memiliki standar yang di atas rata-rata. Dia seharusnya sadar kalau Donghae sangat menyukai payudaranya yang kenyal dan pinggangnya yang sangat ramping. Serta perutnya yang rata dan vaginanya yang beraroma indah. Tidak ada yang harus dikhawatirkan Hyuk Jae. Ini hanya salah satu kesialan terbesar Young Woon karena telah mencampakkan wanita hebat di hidupnya. Pria itulah yang mendapatkan kesialan dan bukan Hyuk Jae. Hyuk Jae haruslah berhenti merendah diri.
Donghae mendesis dengan kontak diantara bahan lateks dan penisnya, menyelinapkan kondom dengan sangat hati-hati, waspada untuk merusaknya. Kemudian dia mendekati Hyuk Jae dengan penuh percaya diri, naik ke kasur lagi dan menindihnya. Meninggalkan ciuman yang lezat di bibirnya sebelum tenggelam ke antara lehernya. Hyuk Jae tidak lagi bisa menahan suaranya dan meredam lenguhannya, dia merasakan penis Donghae menyentuh perutnya, menambah rasa tidak sabar. Hyuk Jae ingin sekali memaksa Donghae untuk langsung saja, melupakan pemanasan yang konyol itu. Dia tidak bisa menunggu lima menit yang bagai selamanya, apalagi sepuluh menit yang menyiksa. Donghae harus berhenti menggodanya dengan candaan seksual ini.
Donghae meninggalkan ciuman ke seluruh kuku Hyuk Jae yang mengkilat, kilatan yang akhir-akhir ini menjadi cahaya di hidupnya. Dia merasa kalau warna cat kuku itu sangat serasi dengan kehidupan Hyuk Jae, yang penuh dengan pengharapan dan tangisan. Tangisan itu membawa kesempatan gemilang dan takdir yang mempertemukan mereka berdua. Mestinya mereka bertemu lebih awal, dan mereka akan menemukan akhir yang sangat baik selain hidup bahagia. Bahwa mereka memiliki keyakinan untuk lebih bahagia dari sangat bahagia. Tetapi tanpa melewati kesakitan itu, mereka tidak bisa menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Dia tidak akan membuat dirinya kedengaran klasik dengan kepercayaan itu, tetapi tidak ada yang lebih baik dari melewati kesulitan hidup dengan tegar, bukan begitu? Ini bisa jadi semacam record dan akan jadi buku best seller yang penuh dengan cara menuntun hidup menjadi lebih berarti.
Donghae menggosokkan penisnya diantara paha Hyuk Jae, sadar bahwa Hyuk Jae membutuhkan peringatan yang matang. Dia tidak mau melukai Hyuk Jae melalui caranya mencuri start yang penuh dengan kecurangan dan melupakan hak pribadi Hyuk Jae. Setiap aspek kenyamanan dalam seks adalah syarat yang sakral. Tidak ada satupun dari mereka yang dapat mengubahnya, apalagi menciptakan gagasan yang menyakitkan untuk memenuhi kesenangan bercinta sepihak. Tidak ada dari Donghae maupun Hyuk Jae yang menyenangi keegoisan itu. Mereka tahu benar kalau kualitas bercinta terletak pada kepuasan partner mereka juga, bukan diri sendiri.
Donghae mencium dahi Hyuk Jae dalam tempo yang lembut, menenangkannya. Sebelum dia merasuki tubuh wanita ini secara hati-hati, dia meninggalkan pesan-pesan cinta yang lembut diantara lenguhannya. Dia bisa merasakan Hyuk Jae menjempit miliknya dengan rasa putus asa yang unik, menginginkan lebih dari dorongan lembut yang belum mampu menggapai semua kenikmatannya.
Hyuk Jae memejamkan matanya, mendorong Donghae untuk menambah kecepatan. Dia merasa kebingungan dengan keleletan Donghae. Cara pemuda ini menjamah tubuhnya sangat tidak realistis, tidak bisa dimaafkan. Dia menggigit lengan Donghae untuk mengalihkan perhatian pemuda itu, menjadi lebih terpusat kepada kecepatannya. Ini waktunya Donghae bergerak lebih cepat dan dinamis. Ini saatnya dia menunjukkan kepada Hyuk Jae kalau dia memiliki sisi nakal dan jantan yang tersembunyi dibalik sikapnya yang ramah. Dia harus agresif seperti kuda jantan yang memberikannya kegilaan sepadan surga dunia. Hyuk Jae yakin Donghae mampu melakukannya.
Donghae mendorong tubuhnya lebih cepat dan ganas sesuai intruksi wanita ini, pahanya yang bersentuhan dengan bokong Hyuk Jae menciptakan suara yang unik, yang mendorongnya untuk merasa lebih terinovasi selain desahan wanita ini yang menggila. Hyuk Jae meremas bokong Donghae, menyisakan bekas kontras dikulitnya yang putih. Dia bahkan melupakan dendam untuk meremas payudara Hyuk Jae dengan kuantitas remasan yang sama pada bokongnya karena kenikmatan ini. Hyuk Jae seperti memijat dan memutar penisnya dengan tenaga yang kuat, kehangatan berada disana sehingga menambah kegilaannya. Dia tidak tahu kalau bercinta dengan wanita ini akan berdampak sangat besar kepada pola pikirnya.
Oke, jujur saja, dia pernah memimpikan Hyuk Jae. Dengan pakaian yang seksi dan noda lipstik dikemejanya, datang ke bawah tubuhnya dan mengecup selangkangannya dengan postur menggoda. Menjilat bibirnya sebelum mimpi itu lenyap karena rasa antusiasnya. Dan dia bisa bertaruh kalau memiliki Hyuk Jae di bawah tubuhnya di dunia nyata akan lebih menyenangkan lagi. Ini bisa jadi hobi baru dan mimpinya.
Hyuk Jae meneriakkan namanya, sungguh, dia tiba-tiba tidak mengingat bagaimana cara memalsukan orgasme. Dia melupakan kepalsuan yang sering dia berikan kepada Young Woon karena Donghae bergerak terlalu profesional. Donghae memberikan dorongan yang natural, teriakan yang alamiah, sebab Donghae adalah Donghae. Dia tidak bisa dibandingkan dengan Young Woon maupun teman tidurnya yang lain. Donghae menjanjikan lebih dari hubungan mesra dan teman telanjang. Hyuk Jae mengerti jelas konsep berpikir Donghae.
Donghae nyaris menggigit bibir wanita itu untuk menahan ledakan di tubuhnya, dia nyaris sampai dan wanita itu juga. Mereka bergerak dalam ritme yang beraturan, bersenang-senang dengan gerakan itu, sehingga mereka akan menemukan klimaks yang berdekatan. Donghae melenguh ditelinga Hyuk Jae saat dinding kemaluan Hyuk Jae menghisapnya sangat keras disaat Hyuk Jae mencapai klimaks, menyebakan Donghae melakukannya juga. Dia tidak sanggup menahannya lebih lama lagi.
Donghae terengah-engah karena rasa senang, dia merasa sangat bahagia kalau ternyata Hyuk Jae masih memberikan senyumannya yang tulus dengan pengalaman bercinta Donghae yang tidak terhitung banyak, bahkan tidak bisa menyurutkan rasa tertarik Hyuk Jae kepadanya. Donghae melepaskan kondom, memutarnya dan menjatuhkan spermanya ke antara paha Hyuk Jae, rasanya indah sekali.
"Kenapa tiba-tiba aku selalu memikirkanmu?" Donghae berbisik ke telinganya, suaranya sangat lembut menyerupai bisikan-bisikan penenang, yang berisi pesan-pesan tulus dan kebahagiaan.
Benar, kenapa tiba-tiba aku juga selalu memikirkanmu, Donghae?
.
.
.
Hyuk Jae bangun dari tidurnya yang nyenyak dan menemukan tangan kokoh Donghae melingkar di pingganggnya yang telanjang, mereka mendekap tubuhnya dengan sangat erat, kehangatan tubuh Donghae memanjanya, menghilangkan ketegangan yang baru saja dia hadapi. Entah kenapa dengan terbangun dipagi hari bersama Donghae disisinya membuatnya berpikir kalau dia akan menjalani sepanjang hari dengan baik, jikalaupun dia menemukan kesulitan nantinya, Donghae akan segera datang untuk melenyapkan kegelisahan itu. Ingatannya tentang dua hari belakangan membuatnya merasa agak geli, bagaimana cara mereka merundingkan syarat-syarat seks yang membuat mereka terdengar seperti transaksi bisnis. Hyuk Jae juga tidak menyangka kalau Donghae akan menyetujuinya tanpa konpensasi dan semacam keuntungan, secara serius mengungkapkan rasa setujunya. Pada akhirnya Hyuk Jae sadar bahwa ini merupakan bagian dari konektifitas, mereka tidak bisa begitu saja melakukan seks dan menjadi teman telanjang. Mereka memiliki proses, proses yang indah. Dan malam kemarin yang menakjubkan adalah hasil dari proses menunggu yang lama.
Ini merupakan bagian terbaik di hidupnya, menemukan orang baru yang kau kagumi dan sayangi. Melupakan kesakitan itu sehingga kau dapat bangun dan menjadi sukses. Dia tidak dapat memprediksi kondisi emosional apa yang akan dia hadapi kalau tidak bertemu dengan Donghae. Tidak ditemukan olehnya. Hyuk Jae mungkin akan berakhir seperti lelucon-lelucon di kampungnya, janda muda yang meregangnya nyawa karena tidak dapat mengatasi rasa putus asanya. Tepat sekali, dia mungkin akan berakhir seperti itu, dia tidak akan menyangkalnya.
Wajah Donghae yang tertidur pulas mengingatkannya kepada Jong Woon, mereka tampak serupa dengan kepolosan itu. Keindahannya diterpa sinar matahari yang membuatnya semakin tampan. Hyuk Jae menyugar poni Donghae, menjauhkan mereka dari mata pemuda itu. Dan menempatkan ciuman yang manis di dahinya. Hyuk Jae akhirnya merasa kalau dia kembali ke tempatnnya yang dulu, dengan Jong Woon yang ada di kedua lengannya, dan impian untuk merasa dicintai. Senyuman pemuda ini adalah sumber semangat dan kemenangannya dan akhir-akhir ini Hyuk Jae mendadak merasa kalau dia sudah sangat dekat dengan keberhasilan itu.
Sejujurnya dia belum memikirkan apa sebenarnya yang tengah dia hadapi untuk menentukan status mereka berdua. Dia tidak ingin buru-buru merasa dimiliki lagi, dia belum tertarik untuk menemukan ayah yang baru untuk Jong Woon; mustahil sekali kalau Donghae adalah salah satu kandidatnya. Memikirkannya saja membuatnya merasa konyol. Dia ingin ini menjadi bagian yang dia bisa ingat, dia ingin Donghae berada dalam prioritasnya sementara dia tidak perlu pusing-pusing menentukankan kemana mereka akan pergi kencan dihari ciuman sedunia. Hyuk Jae juga belum siap akan perpisahan serta rasa dendam setelah perpisahan. Mereka membuatnya sangat trauma. Intinya dia tidak mengharapkan apapun dari situasi ini, dia tidak menyusun target. Dia ingin ini berjalan secara natural, yang ada hanya perasaan pribadi yang mengikat tanpa kegusaran yang membawa kegelisahan.
Donghae membuka mata perlahan-lahan dari tidurnya dan dihadiahi senyuman oleh Hyuk Jae, pemuda ini mengerjap-ngerjapkan matanya, tidak nyaman dengan sinar matahari yang menusuk matanya. Ada setitik keringat yang mengalir ke lehernya dan itu membuat kulitnya bersinar. Ujung jemari Hyuk Jae meninggalkan dahi Donghae tetapi Donghae dengan sigap menangkap mereka lagi dan menciumnya. "Selamat pagi," kata Donghae pelan.
Jujur saja Hyuk Jae merasa canggung sekali, dia seolah-olah tidak bisa memprediksi hal lainnya selain ingatan tentang tadi malam. Dia mungkin sangat menikmati seks yang indah itu, ya dia melakukannya, tetapi itu tidak bisa mengurasi rasa cemasnya. Bagaimana kalau ternyata salah satu diantara mereka menyadari keganjilan dan praduga buruk lainnya? Ini pasti akan jadi sangat memalukan, khususnya untuk Donghae.
"Pagi," Hyuk Jae membalas, dan dia menguap dengan sangat keras. Membuat Donghae terkikik geli.
"Aku sebenarnya sudah memprediksi ini. Apa yang telah terjadi diantara kita. Aku berharap kalau ini akan jadi permulaan yang baik, maksudku untuk kita berdua."
Hyuk Jae melenyapkan senyumannya setelah Donghae selesai dengan kata-katanya. Dia tidak berani jujur kepada Donghae kalau motif yang sebenarnya adalah untuk melupakan stres dan bukanlah dorongan emosional. Dia beraalasan kalau menumbuhkan perasaan suka akan menimbulkan bencana yang lebih besar daripada masalahnya dengan Young Woon. Ini membuat suasana hatinya mendadak menjadi buruk. Benar, situasi ini sulit untuk ditebak akhirnya. Apakah dengan tidak menyadari perasaan Donghae membuatnya kelihatan seperti seorang wanita tidak sensitif yang brengsek? Kenapa perkataan Donghae membuat kepalanya berdenyut-denyut pusing, seolah-olah Hyuk Jae tidak menyenangi ungkapan perasaan itu.
"Apakah perasan batiniah itu sudah terbangun diantara hatimu Donghae? Terhadapku?" Hyuk Jae kedengaran ragu dan keraguan memantul dari suaranya yang sangat serak.
"Rasanya tidak nyata, tetapi aku bisa pastikan kalau aku memang melakukannya." Keheningan menggantung sejenak, yang membuat Donghae merasa bersalah, dan Donghae dengan cermat memikirkan klarifikasi untuk memperbaiki suasana canggung ini. "Maksudku kau akan tetap menjadi Hyuk Jae yang dulu. Perasaanku tidak akan mempengaruhi hubungan kita. Kau tidak perlu khawatir."
Oke, bagaimana dia akan memulai harinya dengan kenyataan bahwa Donghae ternyata menyukainya. Donghae menyukaiku.
.
.
.
Semenjak tadi mata Donghae memutari dinding kelasnya, memutar seperti matanya akan juling dan teman-teman wanitanya tertawa karena tingkahnya yang aneh. Oke dia sedang berakting dungu, tidak bisa melihat apapun, meskipun dia melihat sekawanan teman brutalnya mendekatinya. Dia tidak bisa tidur setelah seksnya yang hebat bersama Hyuk Jae tadi malam. Ingatannya mengenai Kyuhyun, Changmin dan Shindong memergoki Hyuk Jae di rumahnya dengan cepat mengubah suasana hatinya secara drastis. Yang dia rasakan hanyalah perasaan cemas yang enggan enyah dari hatinya. Kejadian kemarin membawa syok yang amatlah keras ke tubuh dan emosinya.
Tidak, dia bukannya merasa malu karena meniduri wanita itu. Tidak juga merasa terhina karena kawan-kawannya mengetahui hubungan pribadinya dengan Hyuk Jae. Tentu bukan itu. Dia hanya merasa khawatir kalau teman-temannya akan mencampuri hubungannya bersama Hyuk Jae. Memberikannya hasutan kalau wanita itu hanya mencari teman telanjang. Dan Donghae tidak boleh terlalu serius dengan progres di hubungan mereka yang wanita itu janjikan. Donghae dibodohi. Omong kosong.
Dia ingin sekali memusnahkan gestur mengintimidasi mereka seolah-olah mereka tidak menyenangi keberadaan Hyuk Jae di hidupnya. Dia tidak mau bersaing dalam kompetisi Hyuk Jae bukanlah wanita yang memperalatnya—Hyuk Jae sedang memikirkan cara untuk memanfaatkannya bersama teman-teman baiknya apalagi Kyuhyun. Pria itu punya kemampuan istemewa untuk mengalahkan lawan bicaranya. Dia dilahirkan dengan skill adu mulut yang canggih. Dan ia bukan hanya sekedar kelelahan menghadapi mereka, Donghae juga punya maksud khusus untuk menghindari Hyuk Jae dari masalah. Apalagi tentang seorang teman dari teman Kyuhyun yang mungkin akan menyebarkan gosip mengenai dirinya terlibat asmara bersama janda beranak satu yang kasus perceraiannya belum benar-benar mutlak tuntas. Dengan memikirkannya saja kengerian sudah menguasai seluruh tubuhnya. Dan kegetarannya membuat kaki Donghae tergoncang dengan hebat. Aku harus melindunginya dari masalah. Pikir Donghae
Donghae terkesiap hebat saat segerombolan itu menghampirinya, tubuhnya merespon otomatis dan langsung gemetar. Mereka melayangkan tatapan kelabu gelap dan tidak senang. Tidak ada dari mereka yang mau melayangkan senyum, serta helaan napas Kyuhyun yang menyebabkan ketakutan-ketakutan lainnya. Donghae mengalihkan tatapannya, persis saat Kyuhyun duduk di hadapannya bersama Shindong dan Changmin yang berpencar ke bangku belakang. Mereka mengirimkan tatapan waspada dan jengah.
"Donghae," sapa Kyuhyun, menepuk tubuhnya, tetapi sapaannya menyebarkan aliran listrik yang aneh sehingga Donghae mendadak mundur bebera inchi dari Kyuhyun. "Kami minta maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengacaukan hubungan kalian, aku hanya ingin tahu. Dan aku peduli padamu."
Donghae menarik napas untuk menenangkan kepalanya yang berdenyut-denyut keras, membayangkan wajah Hyuk Jae tersenyum menempel di keningnya. Satu detik lagi tubuhnya membeku sekeras batu karena senyuman itu berubah menjadi tatapan yang menyakitkan. Dan setitik bening di matanya sebab kesakitan itu mengoyak-ngoyak tubuhnya yang terlalu dramatis.
"Baiklah," Kyuhyun memandanginya, wajahnya kecewa. "Kami semua peduli padamu. Aku hanya ingin tahu. Kami ingin memastikan kalau kau mengencani wanita baik-baik."
Ungkapan perasaan Kyuhyun bagai pukulan aktif yang menyerang sumber saraf dari kepalanya. Rasa marah itu terus menekan tubuhnya sampai-sampai wajahnya memerah dan keningnya berdenyut karena kekakuannya. Kyuhyun tidak bermaksud menghina Hyuk Jae, tetapi kata-katanya sangatlah menyakitinya, menyakiti Donghae juga. "Kenapa?" itu geraman yang membuat Kyuhyun mundur dari tempat duduknya dan memanggil dua orang kawannya yang lain mendekatinya melalui matanya.
Kyuhyun mengibaskan matanya, "Sabar bung," balasnya, menepuk punggung Donghae dengan pukulan yang kembali membuat Donghae tenang. "Aku hanya berpikir kalau misalkan kau setuju dengan ide kami bertiga."
Donghae tidak tahu mengapa dia memiliki keresahan yang bersumber di hatinya, sekilas dia memiliki perasaan tidak bahagia mengenai gagasan apapun yang ingin disampaikan kawan-kawannya yang tukang buat onar. Donghae tidak mau bertanggung jawab lagi atas ulah usil mereka yang kontroversial. Sebab Donghae sudah sangat yakin metode-metode kreatif mereka.
"Apa?" Dengusnya, berusaha untuk tidak memberikan jalan keluar yang menghasilkan ruang buntu. Kenapa Donghae tiba-tiba merasa panik? Seolah dia amatlah berusaha untuk menghindari motif sahabatnya pergi ke rumahnya. Meskipun Donghae akan mengawasi mereka, presentase dari kekisruhan yang ditimbulkan tidaklah berkurang banyak. Aku Donghae di dalam hatinya. Walau begitu, dia tidak pernah menghendaki kawan-kawannya untuk segera angkat kaki dan menjauh dari rumahnya dalam radius puluhan kaki. Dia hanya mengusahakan agar Hyuk Jae dan mereka tidak bersapa pandang dalam jangka waktu yang lama, sampai suatu saat nanti tidak akan ada sekumpulan penggosip yang mematai hubungan mereka seakan-akan ini adalah suatu percintaan yang disenangi oleh publik. Khususnya sekumpulan gadis-gadis yang menggilai gosip.
Ngerinya apabila orang-orang disekitarnya mengetahui keberadaan Hyuk Jae, mereka secara praktis akan menciptakan sebuah propaganda mengenai monopoli yang berasal dari pikiran mistis sekolompok wanita terhadap wanita lainnya. Perasaan cemburu, benar. Dan wanita yang bercerai dicerminkan sebagai dewi seks yang haus cinta. Konsep semacam itu tertanam dengan rapih dan sulit dibasmi. Donghae tidak habis pikir mengapa siksaan batin yang akibatnya sangatlah dahsyat diterima oleh Hyuk Jae. Bersumber dari kegelisahan sekumpulan wanita konservatif yang takut kalau suaminya akan merasa penasaran tentang performa seks seorang janda muda. Satir sekali. Ngomong-ngomong tentang berselingkuh, Donghae ingin sekali menonjok hidung Young Woon hingga bengkok. Pria itu pantas mendapatkanya.
Kyuhyun berdehem sekali lagi, suara dehemannya mengagetkan Donghae. Dia menyikut Donghae supaya sadar dari lamunannya. "Kau mendengarkan kami tidak, sih?!" Dengus Kyuhyun.
"Aku dengar," sahut Donghae balik kesal. Tunggu dulu, dia tidak dengar. Dia hanya pura-pura dengar. Kalau menyangkut apapun mengenai Hyuk Jae dan melibatkan wanita itu didalamnya Donghae tidak mau terlalu ambil pusing. Jawabannya absolut tidak. Kenapa mereka repot-repot melakukan mediasi yang tidak mengutungkan dan buang-buang waktu?
"Secara tidak langsung kau setuju," senyum Kyuhyun yang mengerikan tersimpul dipipi tirusnya dan terukir bak maniak. "Aku menyayangimu Donghae.'
"Ya ampun, setuju apasih?!"
Changmin dan Shindong serempak muncul dibelakang Kyuhyun seolah-olah mereka adalah kejutan dari bagian terakhir sebuah film serius yang mendadak menjadi humor. "Party!"
.
.
.
Ini bukan Hyuk Jae yang kemarin. Yang suka menangis dan murung, yang menarik hati orang-orang disekitarnya dengan tangisan dan cerita tragis di hidupnya mengenai runtuhnya pencapaian dan perselingkuhan. Ini adalah Hyuk Jae yang baru dengan semangat hidupnya dan rasa percaya dirinya. Sekarang Hyuk Jae membuat orang-orang segan akan kemampuannya yang cerdas dan suka bereksperimen dengan pengalaman kerjanya. Memiliki sifat yang kompeten dan luwes. Dengan balutan kemeja putih dan sepatu tumit yang indah dia melenggok melewati sekumpulan pegawai magang yang tersenyum membalas sapaannya. Mereka memuji rambut Hyuk Jae yang tersanggul, memperlihatkan leher jenjang, yang sama sekali tidak memiliki kerutan sama sekali meski usianya sudah nyaris tiga puluh tahun. Belum lagi pinggangnya tampak menyembul dari rok hitamnya yang menyatukan kedua pahanya menjadi rapat. Seperti boneka hidup, seru mereka.
Mengingat penampilannya yang sekarang membuat Hyuk Jae bergidik akan kengeriannya. Ini adalah transformasi yang tidak bisa dia percaya. Dia harus berterimakasih kepada bosnya yang mahir sekali dalam teknik mempercantik wanita dekil sepertinya. Dulu, malah selain pujian mengenai kecepatannya dalam menangkap seember penuh kerang laut, hanya Jong Woonlah yang menyukai kulit Ibunya. Kebanyakan dari Ibu-Ibu muda (yang tergolong suka melalikan penampilan mereka sendiri) mengeluh akan bekas luka yang ada di kaki Hyuk Jae. Yang menyebabkan mertuanya memiliki gagasan konyol kalau percerian Young Woon diakibatkan oleh Hyuk Jae yang tidak suka merawat diri. Duh, kalau dia tidak sadar, dia pernah mendamprat Hyuk Jae sebab mengenakan rok sebatas lutut saat menyapa tamu. Aksinya dikhususkan untuk menggoda. Kata wanita tua penderita diabetes itu.
Seseorang bertepuk tangan saat dia melintasi lorong penghubung ruangan Heechul dan ruang utama, sehingga Hyuk Jae mengerenyit, dan untuk sesaat dia membalikkan tubuhnya. Dimana dia melihat Heechul, dengan gaya khas menghardiknya, memandangi tubuh Hyuk Jae dari atas sampai ke bawah, tersenyum puas. "Apa yang dilakukan wanita semenawan ini di sini?" katanya menggoda.
Alis Hyuk Jae berseru dan dia tersenyum, "Aku pikir aku tidak pantas untuk mengatakannya, karena kuyakin kau sudah sering mendengarnya, tetapi ya ampun. Kau seksi," Hyuk Jae menutup mulutnya sebelum menyikut bahu Heechul dengan lengannya.
Heechul membuka tangannya dan memeluk Hyuk Jae, "Ini trik magis, kemarin seeingatku kau masih usang."
Ia sendiri juga masih menyadarinya tadi pagi. Kemarin, seks itu. Mengubah dirinya. Secara keseluruhan Donghae dan dukungan di seklilingnya memberikan peran yang bisa membuatnya sukses akan perubahannya. "Itu berkatmu."
Heechul menganggukkan kepalanya sebelum membuka pintu ruangannya, dan menyambut Hyuk Jae ke tempat duduknya dengan senyumannya yang khas sekali. Wajahnya dipoles riasan berat diantara tulang pipi dan bibirnya sangat tebal, tampak menarik sekali. "Aku suka melihat wanita percaya diri akan penampilan dan kemampuannya. Jangan biarkan siapapun mengusikmu dengan kata-kata mereka,"
Hyuk Jae mengenali nada keramahan Heechul yang membuat hatinya berdebar-debar akan pujiannya. "Aku hanya merasa kau memotivasiku. Tanpa dirimu, aku sudah pasti bukan apa-apa," dan meskipun senyum keberanian Hyuk Jae terlihat lemah tapi senyum itu adalah pertanda kalau dia akan berubah. Berubah menjadi wanita sejati.
Heechul mencengkram bahu Hyuk Jae dengan kekuatan yang rendah dan menggiringnya ke meja duduknya supaya mereka bisa mengobrol lebih leluasa. Hyuk Jae duduk di sofa di depan Heechul, tubuhnya bersandar ke dinding.
Terakhir kalinya melihat transisi hidup yang fenomenal seperti ini mengingatkannya pada dirinya sendiri, semenjak dia melihat Hyuk Jae pada wawancara menyedihkan itu, emosionalnya ikut terganggu, hatinya goyah dan matanya terpesona oleh cara bicara dan kejujurannya. Wanita mana yang mau mengakui perceraiannya di depan umum? Kecuali kalau mereka sudah gila dan tidak menginginkan pekerjaannya lagi. Dan kegilaan Hyuk Jaelah yang menggetarkan perasaan kasihan. Orang-orang disekitar Heechul sempat mengomentari caranya bertindak tidak profesional, analisilah; Hyuk Jae merupakan wanita lulusan SMA yang tidak memiliki kemampuan fantastis dalam dunia kecantikan. Dia baru saja dilanda perceraian dan itu berarti wanita ini memiliki kendali diri yang rendah, suka memaksa, pecemburu. Tunggu dulu, itu adalah alasan mengapa dia ditinggalkan suaminya. Mungkin begitu.
Tetapi Heechul mempercayai hatinya, dia tidak akan menjunjung paradigma omong kosong itu lagi. Dia tahu bila memberikan bantuan kepada seseorang seperti Hyuk Jae merupakan cara terbaik untuk menjadi wanita yang utuh, karena toh, apa yang lebih bijaksana dari merasa kasihan dengan seorang ibu yang kehilangan anaknya sampai dilanda frustasi yang berat.
Seraya Heechul memantapkan hatinya, Heechul memegang gelas minum dan tatapannya penuh rasa ingin dimengerti, "Hyuk Jae, begini," Heechul mengangkat gelas minumnya, matanya berpusat ka tas jinjing Hyuk Jae yang warnanya agak luntur.
Hyuk Jae tidak terlalu yakin bagaimana bisa tatapan itu menjadi begitu misterius, secara refleks dia mengangguk. "Aku merasa seperti kau akan memberikanku semacam hadiah."
Heechul tertawa, tawanya bersifat skeptikal. Tawanya menggelegar diantara dinding-dinding yang memantul langsung ke telinga Hyuk Jae. "Berjanjilah kepadaku kalau kau tidak akan marah atau memandang rendah diriku," yakin Heechul, suaranya yang tegas seperti sedang mengajak Hyuk Jae bernegosiasi.
"Oke, tapi aku tetap tidak mengerti. Maksudku, ini cuma berjanji agar tidak marah saja kan?" Saat Hyuk Jae terus menatapnya melalui cahaya di matanya yang kemilau, Heechul menelan ludahnya dan menjilati bibir bawahnya yang kering karena rasa cemas itu.
"Jujur saja Hyuk Jae, aku tidak mau ikut campur," pandangan Heechul mematai-matai respon Hyuk Jae yang mulai pasrah. Sebenarnya Heechul tidak mau memerangkap Hyuk Jae ke dalam sebuah percakapan pura-pura tenang mengenai kehidupan pribadinya. Atau ini hanya cara bergurau dikedinginan pagi hari. "Kau tahu aku ingin membantumu."
"Katakan," desak Hyuk Jae, persis seperti dia tengah mendesak Donghae agar bicara jujur.
"Aku sedang merencanakan sesuatu, aku yakin ini bisa mengubah hidupmu. Kau bisa menolaknya apabila kau tidak merasa sreg, tapi cobalah…."
Sejenak Hyuk Jae terkurung dalam cermin kebingungan, dia mencekal rasa panik di hatinya dan mengira-ngira apakah yang dimaksud Heechul adalah ide yang menyangkut eksistensi Donghae. Atau sesuatu yang bisa mengurangi kuantitas keberadaan Donghae di hidupnya. "Obrolan tebak-tebakan seperti ini bukan gayamu, apa ini menyangkut tentang jodohku?" Oh, seandainya Hyuk Jae tengah melelangkan status dirinya dengan keberadaan Donghae, dia akan meminta pengunduran diri secara sukarela dan penuh. Sekarang juga. Dia tidak bisa berdebat mengenai hati nurani dan rekan bisnis, dia sudah pasti akan memilih Donghae. Hyuk Jae tidak akan membuat Donghae berada diposisi seperti dirinya yang diporak-porandakan oleh harapan palsu. Kegagalan pertama kali membuatnya menjadi lebih selektif akan keputusan hidupnya.
"Benar," Heechul menyeruput minuman yang ada di gelasnya sebentar, setelah itu kembali memusatkan perhatiannya kepada Hyuk Jae, dia seolah tengah menutupi perasaan takutnya. "Ini bukan sesuatu yang bersifat memaksamu, kau tahu aku hanya berencana…."
"Berencana seperti apa?" Sepintas yang Hyuk Jae lihat dalam mata Heechul hanyalah sebuah paksaan yang bermakna dalam dan Hyuk Jae merasa seperti akan tenggelam disana.
"Aku mengenal seseorang, aku sudah menimbang ini sejak awal, tapi aku tahu ini pasti akan menyinggung hatimu. Jadi aku berhati-hati. Pria ini tahu baik bagaimana isi hati wanita, dia sudah lajang sejak dua tahun lalu dan dia belum pernah menikah."
Hyuk Jae menyembunyikan geletar tubuhnya dia kedua tangannya, sekilias dia menangkap mata penuh harapan dan keyakinan yang membuat kegelisahannya semakin meningkat. Dia merasakan keringat yang bergulir di kulitnya dibalik kemeja yang dikenakannya. "Aku tidak tahu, aku belum sepenuhnya mantap dengan langkah ini, maksudku kita masih bisa berhati-hatikan?"
"Dengarkan aku Hyuk Jae, mendekati pria lainnya adalah cara untuk bangun dari mantan suamimu. Kejam atau tidaknya, itu tergantung caramu. Pada akhirnya kalian akan saling jatuh cinta, ya?"
Diam-diam Hyuk Jae merasakan kedinginan melingkupi nada suara Heechul.
"Donghae, Donghae dan aku, kami mesra sekarang—"
"Donghae bukan orang yang profesional buat menunjangmu secara emosional dan finansial."
Dan kata-kata Heechul merupakan pukulan telak yang sangat menyakiti hati Hyuk Jae.
.
.
.
TBC
.
.
.
Author note:
Kami dapet writer block buat nulis chapter ini, entah udah ke berapa kalinya ulang-hapus, ulang-hapus, dan syukurnya, jadi juga T~T maaf buat yang nunggu, ini pasti lama bgt. Tapi intinya kami bakal lanjut terus, udh chapter 7 juga. Dan niat awalnya mau dikirim ke penerbit juga, tapi yah sudahlah :D
Dan semoga masih ada yg sempetin buat baca (meski updatenya ngaret bgt) Dan chapter depan diusahakan lebih cepet!
Thanks for reading!
