Kebosanan adalah pembunuh high-class selain amukan dosen dan serangan tugas mematikan bagi seorang mahasiswa. Diserang perasaan laknat tersebut sudah cukup untuk membuat seorang Takao jalan-jalan keliling apartemen padahal sudah lewat jam malam.

Koridor-koridor Apartemen Pelangi benar-benar sepi saat malam hari. Seandainya lampu tiba-tiba mati dan suasana mendadak tegang—belum ditambah keheningan—pasti akan mirip setting game horor.

Jujur saja keheningan di sekelilingnya membuat bulu kuduknya merinding. Ayolah, Takao tidak phobia hantu. Menghadapi pemandangan semacam kolor ijo Midorima yang tengah dijemur saja berani, apalagi jika dipertemukan dengan dedemit lewat takdir benang merah.

(Yah, kecuali setan gunting penunggu kamar tetangga sih.)

Sayang sekali, kapasitas nyali Takao yang pas-pasan tidak mencukupi untuk pembelian paket Penepis Rasa Takut dengan konten dihindarkan dari setan seumur hidup di Apartemen Pelangi.*

*syarat dan ketentuan berlaku.

.

.

Ini Apartemen, Bukan Balai Reuni! by Pink Crystalline Roses

Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi-sensei

Warning: Humor gagal, garing, bahasa, potensi timbulnya OOC, geje. Mungkin ada sho-ai nyempil disini. Author tidak bertanggung jawab atas penyakit mata apapun atau serangan jantung setelah membaca fic ini.

(Happy reading!)

.

.

TAP. TAP TAP TAP.

Langkah sang hawk eye terhenti—siapa tadi? Dia segera mengaktifkan mata saktinya dan melihat sekeliling. Nihil, tidak ada siapapun. Terus tadi langkah kaki siapa?

PET!

"DEMI MAK IJAH YANG PINGIN NAIK HAJI KAMI-SAMA LINDUNGIN GUEE!" Takao latah seketika dan masuk posisi meringkuk di pojokan begitu lampu koridor mendadak mati.

—Kira-kira, begitulah akibat memikirkan yang tidak-tidak. Tuh kan, lampunya beneran mati.

Untungnya, di sepanjang koridor yang dilewatinya masih ada beberapa lampu yang menyala. Karena butuh pencerahan, Takao segera ngibrit ke bawah lampu terdekat—kitakore. Kapan terakhir kali dia merasa doki-doki dengan combo keringat dingin dan napas yang tak beraturan—selain gejala jatuh cinta dan pengumuman hasil ujian nasional—dia sudah lupa. Intinya, sekarang Takao ketakutan setengah mati.

CTAK.

"HYAAAAAA!" Takao langsung lari kesetanan dengan start jongkok begitu semua lampu mendadak mati—dan berakhir pingsan karena mencumbu dinding terdekat.

.

.

"... kao."

Apakah Takao sudah mati? Jika iya, apakah dia masuk surga dan bisa bertemu kami-sama—tunggu, itu suara shinigami yang menjemputnya?

"Ta... o."

Kalau dipikir-pikir, Takao belum mau mati. Masih ada hutang membalaskan dendam Midorima yang masih sewot karena di-uploadnya video bertajuk 'Insiden Penembakan Gagal' di TabungMu oleh account bernama emperorsei-04. Kata Himuro-sensei, hutang jangan dibawa mati.

"KAZUNARI!"

"IYA MAK!" Takao refleks duduk begitu panggilan sayang emaknya sampai ke telinga—dan dalam perjalanannya tidak sengaja menampar seseorang.

"Takao-kun, syukurlah kau sudah sadar." Kuroko menyapa singkat. Di sebelahnya terdapat ember berisi air es berhubung setiap hari dia bertugas menyiram siapapun yang malas bangun. Dalam hal ini, orang yang tengah tidak sadar.

"Sialan kau Bakao, jangan mati dulu-nanodayo!" Midorima memegangi sisi kiri wajahnya yang terkena tamparan maut Takao.

"Takaocchi kemarin sekarat di lantai enam-ssu." ujar Kise yang menyodorkan segelas air putih sambil mengobral senyum satu juta yen miliknya. Semuanya langsung memalingkan wajah karena silau (ada yang pergi ke kamar mandi lalu muntah-muntah).

"Lu habis ciuman sama tembok ya? Ciee yang jones," Kagami nyengir kuda. Sebaiknya ada yang segera mengambilkan cermin.

"Kemarin malam ada yang mengantar Taka-chin kesini~" komentar Murasakibara yang asyik ngemil Pochy rasa vanilla, sementara yang bersangkutan menenggak rakus air yang ditawarkan Kise.

"Masalahnya, kemarin itu..." Akashi yang masih Ore-shi mode menjelaskan.

Ceritanya, ketika dua penghuni kamar 135 dan Nijimura nimbrung di kamar 130, pintu kamar tiba-tiba diketuk. Orang yang dibalik pintu menyampaikan bahwa ada mayat yang ditemukan di koridor lantai enam. Himuro yang membuka pintu langsung panik berhubung ada Takao yang tergeletak di koridor depan kamar 130, dan alasan kedua adalah tidak ada siapapun disana.p

Pintu tiba-tiba dibuka dan sesosok senpai pelangi menerobos masuk. "Akashi, udah gua pastiin ke Keiichi oji-san. Emang ada rumornya." ujar Nijimura yang langsung ikut duduk di lingkaran anggota Kisedai dan trio tetangga.

"Terima kasih, Nijimura-san." Akashi mengangguk. "Jadi begini, sering ada rumor hantu gentayangan di apartemen ini."

"Sejak sekitar dua tahun lalu, sering terjadi hal-hal aneh. Awalnya hanya di sekitar kamar 66, namun akhir-akhir ini terjadi di seluruh lantai."

Semuanya mendengarkan cerita kakek Akashi dengan khidmat—bisa dibilang lebih khusyuk dibanding dengan saat ada pidato pembina upacara.

"Kayak suara langkah kaki orang, cuma gaada orangnya." Nijimura menjelaskan. "Terus, gua sering denger setiap tanggal 20 ada yang ngirim uang sewa kamar, tapi gaada data soal yang ngirim. Di amplopnya juga diselipin bookmark sama catatan kecil."

"Jangan-jangan itu hantu-chin yang ingin tinggal disini~" Murasakibara mengambil kesimpulan—trio warna primer (bukan Akashi) yang kekuatan nyalinya paling rendah sontak merinding.

"Itu aku."

Semuanya langsung menengok ke arah sumber suara—tak lain adalah Kuroko Tetsuya dan segala kehebatan poker facenya.

"Aku takut ibu kos tidak sadar aku disini, jadi setiap tanggal 20 aku menaruh bookmark dalam amplop berisi uang kos, dan kuberi catatan untuk meletakkannya di depan pintu esok harinya." jelas si bayangan panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume balok.

"Kenapa gak dititipin terus diambil, Tetsu?" Aomine yang pertama kali pulih (Kagami dan Kise masih berpelukan bak Teletubbies) akhirnya angkat bicara.

Kuroko menggeleng lemah sambil memasang senyuman sedih pertanda batin yang teraniaya—sukses membuat kokoro semua masokis feels meleleh. Penonton langsung menyiapkan tisu cadangan. "Percuma, Aomine-kun. Aku tetap akan dilupakan."

Semuanya menangis terhura setelah menonton Catatan Hati Seorang Kuroko Tetsuya, yang pemeran utamanya sudah resmi menjadi pihak yang tak dianggap—baik secara fisik maupun memori. Murasakibara dan Himuro langsung bereaksi dengan 'puk puk ya nak'.

"Tapi, masih ada cerita lagi." Akashi melanjut, mengembalikan suasana seram (yang berubah humoris jika ditinjau dari reaksi trio warna primer). Lagi pula, bagaimana mau tidak seram, orang yang cerita sudah seram. Setidaknya yang lainnya masih bisa bersyukur karena si merah sedang Setan Gunting Mode: OFF.

"Ada seseorang—mari kita sebut Subjek A—yang pernah bercerita bahwa suatu hari, dia hendak mengembalikan buku ke perpustakaan lantai 1. Ketika dia hendak meletakkan buku di suatu rak, ada suara mengatakan 'jangan kesana'."

"Hantunya pinter dong?" Takao bertanya polos. Midorima menjitaknya dengan penuh cinta (melebihi jurus Jitakan Love! dari Aomine ke Kise). "Kau ini memang bodoh, Bakao-nodayo."

"Intinya, setelah itu dia lari ketakutan dan memutuskan untuk pindah dari apartemen ini." Akashi yang baru saja facepalm mengakhiri.

"Itu juga aku, Akashi-kun."

Yang pada awalnya tersita perhatiannya oleh pesona Akashi-sama yang memikat hati fangirl dan merupakan tanda kiamat bagi kaum lelaki, seketika menengok ke sumber suara yaitu Kuroko. Tunggu, ada pengulangan adegan.

"Gadis itu salah meletakkan buku, tapi aku ada dibalik sebuah rak ketika mengingatkannya. Mungkin sebagian salahku." jelasnya.

Mendengar penjelasan tersebut, semua orang di ruangan itu (apalagi Kise) tidak bisa menahan banjir air mata dan perasaan yang meluap-luap bak air dari keran bocor. Kuroko sudah tidak dianggap, dikira hantu pula. Kokoro ini sudah tidak kuat, nak.

"Ehem. Kembali ke laptop." Nijimura batuk jaim untuk mengembalikan suasana. Sepertinya senpai kita yang satu ini menjadi korban iklan merk obat batuk.

"Berikutnya, yang paling sering terjadi—jika kau jalan-jalan keliling apartemen ini melewati jam malam, lampu koridor akan mendadak mati total." ujar Akashi dengan tatapan 'apakah ini terjadi padamu?' ke Takao.

"Itu juga aku, Akashi-kun, Takao-kun." Kuroko menyela, masih dengan poker face permanennya.

Hening seketika.

.

"Tunggu. Jadi yang kemarin itu kau, Kuroko?" Takao kaget.

"Biasanya aku mematikan lampu koridor ketika lewat jam malam. Cleaning service disini sering lupa—kan boros." jelas si bayangan sekali lagi. Kilauan imajiner yang terkesan nostalgik jika membahas telur rebus muncul di sebelah kepalanya.

"Ya ampun, gue pikir beneran hantu." Aomine menghela napas lega, begitu pula dengan trio tetangga dan Kisedai lainnya.

"Tapi," Kuroko memasang wajah serius. "Aku hanya mematikan lampu di lantai 7 hingga 13."

Ada hening yang menyerang sekali lagi.

.

"B-Berarti itu apa-ssu?" Kise banjir keringat dingin. Kagami langsung menyemprot pengharum ruangan karena alasan tertentu.

"Hantu." jawab Kuroko yang tiba-tiba muncul di belakang si kuning.

"GYAAAAAAAAA!"

.

"Ngomong-ngomong, alasanmu mematikan lampu koridor agak, uh, tidak logis-nanodayo."

"Kuroko, mulai sekarang jangan keluyuran malam-malam." titah Akashi yang frustasi karena sama sekali tidak menyadari hilangnya sang uke ketika malam tiba. Kuroko hendak protes, tapi sang emperor langsung menyela, "Ini bukan waktunya kampanye hemat listrik."

"Mumet nih." gumam Nijimura. Himuro mengangguk setuju. Murasakibara mendadak berhenti ngemil seakan semua snacknya tidak menarik lagi.

"Baiklah. Hari ini kita ada investigasi!" Akashi menggebrak meja pertanda mulainya sidang darurat antar penghuni kamar 130, trio tetangga dan senpai pelangi. Meski tidak disangka, semuanya menurut dengan berbagai alasan—ada yang karena wajib, ikut-ikutan, bosan hingga bayangan akan ancaman gunting sakti yang menunggu (jika Ore-shi dipaksa bertukar tempat).

Rencananya, agar lebih cepat mereka dibagi menjadi beberapa tim beranggotakan lima orang—yang satu berisi Nijimura, Akashi, Kuroko, Midorima dan Takao, sedang satunya berisi Kise, Aomine, Kagami, Himuro dan Murasakibara.

(Sebenarnya agak merepotkan jika trio warna primer yang sama penakutnya digabung menjadi satu, tapi duh. Semoga Himuro dan Murasakibara diberi kesabaran ekstra.)

.

.

Banyak orang percaya bahwa malam jumat adalah malam dimana demit dan kawan-kawan sejenisnya pindah dimensi dan menunjukkan diri di hadapan anak manusia. Pasti ada-ada saja kejadian supernatural pada malam itu.

Sedihnya, malam ini adalah malam jumat yang sukses membuat trio Ao-Kise-Kaga merinding setengah mati. Karena mereka sedang banjir keringat dingin, Himuro dan Murasakibara hanya bisa membayangkan jumlah air di lautan kalah dengan hasil perspirasi ketiganya ("Lho, nanti lautnya tambah asin, Muro-chin~" "Mengasinkan sesuatu yang sudah asin.")

Sementara itu, Midorima adalah orang yang mendahulukan logika dan mengesampingkan kepercayaan (selain terhadap Oha-Asa dan kami-sama). Hasilnya adalah pemikiran mutlaknya bahwa tidak ada hal semacam hantu. ("Tidak ada yang namanya setan kecuali Boku-shi nanodayo!" Midorima mengacungkan jempol dengan percaya diri pada para penonton).

Akashi santai saja. Meski sedang Ore-shi, hantu tetap takut dengannya. Oleh karena itu Nijimura menyuruhnya berjalan di depan, siapa tahu bisa mengusir para makhluk astral. Kuroko dapat menyebabkan salah paham di kalangan para hantu karena hawa keberadaannya yang perlu dipertanyakan. ("Udah lah, lu depan aja!" "Nijimura-san, ini tidak lucu." "Obake-chan, tolong berhenti menempel padaku. Punggungku capek.")

.

Mumpung ada waktu, kelompok Himuro-sensei pergi belanja air suci di dekat TPU. Penjualnya adalah orang yang selalu tersesat (baru diketahui hobi keduanya adalah nyasar ke fandom lain). Ternyata abang-abang ini baru pulang dari fandom dunia samurai tidak logis yang merupakan kamus referensi bagi fandom lainnya.

Beli satu liter dapat satu liter—begitulah katanya.

Kuroko dan Akashi menjadi duo combo chaos yang statusnya tidak logis dalam investigasi kali ini. Sudah jelas, karena yang satu adalah hantu dalam perwujudan makhluk unyu, sedangkan satunya memiliki cikal bakal raja iblis calon penerus Hitler yang mengakar dalam dirinya.

Mari kita mulai dari perjuangan Himuro-sensei dan para anak didiknya yang kelewat gila.

.

"Lu takut ya?!"

"Lu sendiri takut gitu!"

Himuro mendesah kesal. Setiap detik pasti ada saja yang diributkan oleh pasangan Ao-Kaga. Menurut Murasakibara, mereka sudah gontok-gontokan sebanyak nyaris-infinity kali malam ini.

"Huwee... harusnya aku sama Kurokocchi-ssu!"

Pemandangan kedua yang sering terjadi adalah munculnya anak ayam yang mewek. Kise sedari tadi merengek tentang Kurokocchi kesayangan yang selalu dimonopoli Akashi-sama, baik dalam mode setan gunting maupun tidak. "Cup cup, Kise-chin~ Aka-chin yang sekarang gak jahat kok, Kuro-chin masih aman~" Murasakibara mem-puk-puk si kuning.

Gak jahat gundulmu. Tidak ada yang tahu apa niat sebenarnya dari sang emperor.

Sensei mengecek jam tangannya—waktu menunjukkan jam sebelas malam. Hasil pencarian mereka nihil, nol besar, kosong. Nampaknya sang 'hantu' atau apalah itu memutuskan untuk tidak menampakkan diri kali ini.

CTAK!

Bunyi saklar terdengar—semua lampu di lantai 3 yang mereka tempati mendadak mati, diikuti dengan suara langkah kaki misterius. Sialnya, karena kegelapan yang menyelimuti sekeliling mereka, tidak ada yang bisa melihat dan Aomine mendadak naik kasta menjadi genderuwo malam hari. Serem ah, kelihatan giginya doang.

"Kalian semua, segera cari Atsushi. Kita semua akan berkumpul dibawahnya." Himuro mengomando, sementara Murasakibara manyun karena sekali lagi dianggap landmark setempat.

(Karena gelap, tidak ada yang bisa melihat. Karena tidak ada yang bisa melihat, banyak insiden terjadi mulai dari tabrakan lokal, tabrakan interlokal dengan dinding, hingga jika ditinjau dari sound effect ada yang tidak sengaja... ehm. Sebaiknya kita sensor saja.)

.

"Awas ya, kalo ini kerjaan orang, gua hajar sampe monyong." Nijimura manyun. Bibirnya yang fabulous dan terkenal dengan keseksiannya nampak semakin monyong.

"Nijimura-san, ngaca dulu." Ujar Akashi dengan kalemnya—sang senpai pelangi semakin monyong. "Kampret lu Akashi, ini bibir tuh fabulous." Nijimura menjitak pelan puncak kepala kouhai kesayangannya. Akashi lantas menjawab, "Jangan lakukan itu jika tidak ingin ada setan gunting yang mengamuk, Nijimura-san. Nanti neraka tersasar dari tempat seharusnya."

Nijimura langsung membuat jarak minimal satu meter dengan sang emperor karena alarm tanda bahaya sudah berbunyi.

"Ace-sama ni banzai~!" Takao bernyanyi dengan riang gembira di barisan belakang tanpa peduli dengan suasana saat ini. Alasannya adalah: satu, karena Takao tidak bisa berhenti bacot, dua, untuk menaikkan mood, dan yang terakhir adalah karena Takao sayang Shin-chan.

Perempatan siku-siku muncul di pelipis Midorima yang merasa terpanggil (bukan ke hadapan kami-sama). "Berhenti menyanyi, Bakao. Suaramu mengesalkan-nodayo."

"Kenapa? Kan Shin-chan keren, Shin-chan kece, Shin-chan blablabla." Takao membacot ria, nyaris seratus persen curahan dari lubuk hatinya yang terdalam berisi tentang pangeran kodok kita tercinta dan segala kehebatannya—yang sukses membuatnya jatuh hati sejak semester dua di Shuutoku.

"B-Berisik nanodayo." Midorima memalingkan wajah pertanda virus tsundere yang kambuh. "Jangan bicara aneh-aneh di depan Nijimura-san."

Sekilas info. Ingin tahu kenapa Takao rela meregang nyawa untuk memancal rickshaw, demi Shin-chan tercinta? Satu, karena Takao sayang Shin-chan, dua, karena Takao sayang banget sama Shin-chan, tiga, karena Takao maso, empat, karena Shin-chan selalu menang janken.

Tepuk tangan yang meriah untuk Takao Kazunari, alasan utama selalu dikesampingkan.

"Tunggu sebentar." Akashi tiba-tiba berhenti mempimpin barisan, celingak-celinguk ke sana-sini. "Dimana Kuroko?"

Tiga orang lainnya akhirnya baru sadar—Kuroko yang tak dianggap telah menghilang dari barisan. Apakah diculik hantunya dan dibawa ke dimensi lain? Nampaknya hal tersebut jauh dari logika. Kali ini, bukan misdirection yang digunakan; Kuroko Tetsuya benar-benar hilang.

.

.

"SIALAN, LAMPUNYA KENAPAAA?!"

Mulut Kagami sudah lepas kontrol. Semenjak lampu di lantai 3 mati total tanpa tanda-tanda keberadaan saklar, banyak umpatan telah dilahirkan. Sementara itu, Himuro pergi berpetualang mencari saklar yang diharapkan bisa muncul begitu saja.

"Garing nih. Main yuk." Ajak Aomine, jari kelingkingnya tengah menggali emas dengan asyiknya.

"Ayok-ssu. Gimana kalo kita main tebak-tebakan?" Kise menerima dengan senang hati, kemudian mulai merogoh-rogoh sesuatu dalam kegelapan. "Eng, ini rambutnya panjang... badannya kayak titan... pasti Murasakibaracchi!"

"Betul~" jawab Murasakibara, kemudian si titan mulai meraba-raba sesuatu di dekatnya. Karena lengannya yang kelewat panjang dan kegelapan yang mengelilingi mereka, Murasakibara tidak sengaja memukul kepala seseorang. "Ini rambutnya pendek~ Kok mukanya dakian banget ya~? Pasti Mine-chin~"

Jujur saja Aomine merasa kokoronya agak linu karena dipanggil dakian. "Murasakibara temee, jangan panggil gue dakian." Kemudian ritual grepe-grepe dilanjutkan. "Ini alisnya kok khas banget sih. Bakagami ya?"

"Ahomine kampret." Kagami semakin sewot, namun tetap melanjutkan permainan. "Ini apaan ya? Rambutnya lurus... Kise?"

"Salah, bego."

Hening selama tiga puluh detik.

"Oi Ahomine, jangan ngerjain gue."

"Apaan sih? Bukan gue kok."

"Beneran nih Kise? ... Oiya, Kise kan cempreng."

"Bukan aku lho~"

Ada hening yang agak canggung.

.

"W-Waduh..."

Trio warna primer merinding berbarengan. Murasakibara berhenti ngemil mendadak. "Ha... ha-ha-ha—" Kagami terinterupsi...

"HATCHIH!"

"—HANTUUUUUUU!"

Keempat makhluk warna-warni langsung lari terbirit-birit dengan panduan insting. Orang kelima yang baru saja bergabung mengeluarkan sapu tangan dari saku celana seraya menghela napas. "Sialan, bersinnya gak pas nih."

"... Oke, berikutnya perpustakaan."

.

Di suatu koridor lantai tiga, Himuro berhasil menemukan pintu berlabel 'power room'—yang nampaknya berisi saklar utama untuk lampu-lampu di lantai tersebut. Ternyata ponselnya jika masuk mode flashlight sakti juga.

"—HANTUUUUUUU!"

Himuro terkejut mendengar teriakan nista yang sepertinya berasal dari para makhluk pelangi plus Kagami. Jiwa naga pelindungnya serta merta kambuh. Persetan dengan menyalakan lampu, pokoknya senpai harus menyelamatkan kouhai(anak didik)nya yang sedang dalam bahaya.

"TUNGGU AKU, TAIGA, ATSUSHI, KISE, AOMINE! SUPER TATSUYA-SENSEI AKAN MEMBELA KEBENARAN!" Himuro langsung ngibrit dengan OOC-nya.

—Image heroiknya hancur deh.

.

.

"Kuroko! Kuroko, dimana kau?!"

Midorima, Nijimura dan Takao hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Akashi yang sejak beberapa menit lalu memanggil-manggil nama si bayangan kesayangan. Sejak Kuroko menghilang, emperor yang satu ini masuk full panic mode.

Saat ini, isi kepala Akashi kacau balau—penuh dengan berbagai macam kemungkinan absurd akan bencana apa yang tengah menimpa Kuroko.

'Bagaimana jika Kuroko dimakan ghoul? Bagaimana jika Kuroko diculik alien? Bagaimana jika Kuroko dinistakan seseorang yang bukan aku? Tunggu, sejak kapan aku hipokrit? Aduh, bagaimana bagaimana bagaimanaaa! Pusing pala Sei!' adalah apa yang dipikirkannya saat ini.

(Ternyata, orang absurd isi kepalanya lebih absurd dari hal ter-absurd di dunia absurd ini.)

"Aku tidak ingin tahu apa yang sedang dipikirkan Akashi nodayo." Komentar Midorima. Tenang saja, tidak ada yang tahu dan mau tahu kok.

"KUROKOO! KUTRAKTIR VANILLA SHAKE KALAU KAU MUNCUL! KUROKOOOO!"

Nijimura sweatdrop. Ternyata kouhai tercintanya akan menggunakan segala macam cara untuk menjaga agar Kuroko Tetsuya dimonopoli dirinya, dan hanya dirinya semata.

"Hahahahaha! Aduh, pingin kurekam nih! Shin-chan, boleh ya?" Takao yang tengah ngakak sambil memegangi perutnya yang mulai kram mengeluarkan ponsel dengan niatan membalas dendam Midorima. "Kalau kau dibunuh, bukan tanggung jawabku-nodayo." Midorima menaikkan kacamatanya, "... Tapi setidaknya berusahalah untuk tidak mati. Dasar Bakao-nanodayo."

"Shin-chan so sweet ah!" Takao cengar-cengir. "Ternyata Shin-chan nggak mau aku dibunuh raja iblis! Ciee ciee Shin-chan peduli~!"

"B-Bukannya begitu! Aku hanya ingin mencegah kill count setan guanting sialan itu bertambah-nodayo! Ja-Jangan salah paham!" Midorima refleks mengeluarkan teknik penolakan ala tsundere standar.

Nijimura yang hampir mati kebosanan memutuskan untuk memanas-manasi suasana. "Mau sampe kapan tsundere, Midorima?"

"Aku tidak tsundere-nanodayo!" si megane langsung memprotes.

(Begitulah kisah captain-sama dan kawan-kawan (baca: babu-babunya). Kuroko yang menghilang tanpa jejak tidak bisa ditemukan, seorang tsundere yang tidak ingin dipanggil tsundere, senpai pelangi, supir rickshaw pribadi dan seorang emperor frustasi yang terkena migrain stadium akhir.)

.

.

Di perpustakaan lantai dua, sesosok pemuda baby blue tengah badmood.

Sebegitu tipisnya kah hawa keberadaannya, hingga dia sering diabaikan orang? Entahlah, pokoknya Kuroko tidak mau tahu. Seandainya dia punya boneka voodoo, mungkin sudah disantetnya kawan-kawan seperjuangannya agar tahu rasanya tidak dianggap.

Tangannya meraih sebuah novel bersampul merah setebal nyaris seribu halaman—suatu keajaiban novel tersebut masuk jangkauannya karena berada di baris rak yang cukup tinggi. Lumayan untuk mengisi kebosanan dan memulihkan kokoro yang serasa diiris kecil-kecil. Tinggal digoreng, pasti akan serapuh krupuk.

Kuroko menghempaskan tubuhnya ke sofa terdekat. Syukurlah kedua matanya masih normal, tidak perlu repot menggunakan kacamata baca.

PET!

Naasnya, tepat ketika halaman pertama dibuka, lampu perpustakaan mendadak mati total. Meski tak terlihat, Kuroko saat ini memancarkan aura-aura tidak mengenakkan.

(Warning: Jangan pernah mengganggu ketenangan waktu membaca Kuroko Tetsuya. Percayalah. Itu sama dengan bunuh diri. Tanya saja Kise.)

Kepulan uap imajiner pertanda mood yang semakin memburuk muncul di atas kepala si bayangan. Dengan geram, diambilnya ponsel untuk dijadikan senter sementara. Jika badmood-nya naik satu level lagi, mungkin gadget tersebut sudah pecah berkeping-keping setelah menjadi korban penganiayaan oleh sang pemilik.

Namun, ponselnya tiba-tiba mati. Kehabisan tenaga untuk tetap hidup. Akhirnya ponsel berwarna biru muda tersebut terkena Ignite Pass Kai ke dinding terdekat.

.

Jam menunjukkan pukul dua belas kurang lima menit. Semuanya telah berkumpul di lantai enam—karena disitulah tempat kamar 66.

... Ralat, belum semuanya berkumpul. Akashi dan Nijimura masih menghilang dalam rangka berburu hantu unyu. Betul, mereka (sebenarnya hanya Akashi) masih teguh pendirian mencari Kuroko.

"Hujan, ya..." komentar Himuro, yang melihat ke arah jendela di salah satu koridor lantai 6. Hujan di luar deras sekali, nampaknya akan terjadi banjir atau bahkan ada badai yang mendekat. Ngomong-ngomong, Himuro-sensei sukses menggiring keempat anak didiknya dengan selamat.

"Semoga saja kita tidak susah bangun besok pagi-nanodayo." Midorima mengelap lensa kacamatanya dengan sapu tangan. "Semua ini membuatku muak." di sebelahnya, Takao mengangguk setuju.

"Betewe, tadi beneran ada hantu-ssu."

Tujuh kepala langsung menengok ke arah Kise yang tengah asyik bergulat dengan smartphone miliknya. "Tadi tuh, Kagamicchi megang kepala hantunya-ssu. Serem ah."

Hening.

.

"Mati semua gih. Koridor doang yang nyala."

Nijimura sekali lagi melapor kepada Akashi. Entah sudah berapa laporan yang dibuatnya, mungkin kertas HVS satu rim bisa habis jika seluruh laporannya ditulis tangan dengan font Arial ukuran 11.

(Bukannya itu mungkin, sih.)

CTAAARR!

Jantungnya nyaris melompat dari tempat seharusnya ketika terdengar suara petir menyambar. Kontras dengannya, Akashi masih bisa menjaga pembawaannya yang kelewat kalem. Bahkan mata kucingnya tidak berkedip sama sekali ketika melihat kilatan cahaya dari jendela. Super sekali.

"UWAA!"

Sang emperor terkejut. "Kuroko!" Akashi langsung lari meninggalkan senpai pelangi yang tengah cengo akibat kecepatan reaksi kouhainya tersebut.

.

.

(Sepuluh menit kemudian.)

"Lama amat sih." ujar Aomine yang tengah melanjutkan ritual menggali emas di sebuah lubang sakral dengan khusyuknya.

"Maaf menunggu."

Perhatian semua orang—sekali lagi—tertarik pada pesona Akashi-sama yang terlalu kuat. Dibelakangnya, ada Nijimura... dan Kuroko yang wajahnya pucat pasi seakan baru saja dijanjikan siksaan yang pedih.

"Kuroko nggak apa-apa tuh?" tanya Kagami, yang kemudian dibalas dengan tatapan bermakna 'ya jelas enggak lah, bego' dari semua yang berada disana.

CTAAAARR!

"HYAA!"

Semuanya langsung cengo ketika melihat reaksi Kuroko yang semakin mempererat genggamannya pada jaket yang dikenakan Akashi. "Oh iya, Kuro-chin kan takut petir~" komentar Murasakibara sambil membuka bungkus lollipop.

Wajah Kuroko seketika berubah merah padam karena malu—lunturlah kejayaan poker facenya yang kini sudah dicap tidak permanen. "Mu-Murasakibara-kun, j-jangan seenaknya mengumbar aib orang la-lain—"

CTAAAARR!

"WAAA!" Kuroko refleks memeluk obyek terdekat yaitu Akashi.

"Langsung ke intinya," si kepala stroberi memulai diskusi tanpa memedulikan tatapan ingin membunuh dari Kagami, Aomine dan Kise. Seandainya dia bukan Akashi Seijuurou, pasti sudah disiksa dengan perlahan dan menyakitkan oleh trio warna primer yang mengibarkan bendera 'berhenti memonopoli Kuroko Tetsuya!'.

"Karena pencarian kita tidak berakhir baik, belum ditambah..." dilihatnya sekilas Kuroko yang masih merinding ketakutan, "... Masalah, langsung saja kita terobos kamar 66."

"SETUJUU! NAIKKAN UANG THR!" yang lainnya mulai gesrek.

"Belum lebaran woi." Nijimura mengingatkan, yang akhirnya mengembalikan mood serius.

.

"Baiklah, tarik napas yang dalam."

Akashi mengomando, tangannya menggenggam gagang pintu kamar 66 dengan posisi siap tempur. Makhluk pelangi lainnya mengangguk dengan patuhnya (ini pertama kalinya mereka melakukannya dengan ikhlas), bahkan Aomine sudah siap dengan kuda-kuda bukan-karate miliknya.

CKLAK.

"Lho, ternyata tidak dikunci." Akashi mendesah kecewa. "Padahal tadinya aku ingin menggunakan kepala Kise untuk mendobraknya."

Semuanya langsung mengambil langkah seribu, menjauh dari danger zone setan gunting yang sepertinya ingin muncul ke permukaan. Sadisnya bro, kambuh. Kalau begitu caranya bagaimana mau tidak takut?

Mari kita kesampingkan adegan tersebut. Saat ini mereka semua dengan lancangnya memenuhi kamar 66. Yang janggal adalah, jika benar ada penghuninya, kamar tersebut kelewat rapi—tidak ada benda-benda berserakan, seprai kasur yang rapi seakan telah disetrika lima kali sehari dan jendela cling yang bersih bening seperti tanpa kaca.

Satu lagi, banyak sekali kardus yang tersusun rapi di sudut ruangan—hei, itu kenapa kardusnya diberi tulisan 'humor', 'romance', 'adventure/fantasy', 'sci-fi' dan berbagai macam genre lainnya?

"Siapa yang menyuruh kalian masuk sini?"

"GYAAAAA!"

Kagami, Aomine dan Kise langsung menciut di pojokan. Takao, Midorima, Himuro dan Murasakibara agak terkejut, sedangkan Akashi tidak sama sekali (lagi). Yang paling syok Nijimura.

"Mayu?!" senpai pelangi kita teriak nista.

"Niji?" Mayuzumi Chihiro masih setia dengan poker facenya. Oke, milik Kuroko kalah permanen dengan senpai Akashi semasa SMA ini.

Tanpa peringatan, Nijimura langsung menerjang Mayuzumi—untungnya refleks menyelamatkan hari, dan hasilnya adalah Nijimura yang kepalanya sukses dihantamkan ke dinding terdekat. "Jangan asal peluk orang. Jijik tahu." Desisnya dengan nada bicara kelewat dingin yang sudah default.

Mayuzumi Chihiro, 20 tahun. Dikenal dengan segala ucapannya yang tidak pernah melalui filter rating terlebih dahulu—jleb straight to the kokoro—dan juga penggemar segala macam light novel hingga ajal menjemput (saking setianya).

"Oh. Akashi, Kiseki no Sedai, shooting guard Yosen, point guard Shuutoku, Kagami dan... tuan bayangan model lama. Senang bertemu kembali." Ujarnya tanpa rasa antusias sedikit pun, sembari menyelipkan bookmark ke dalam novel di genggamannya. Lebih ke arah sarkasme, malah.

"Berarti Mayuzumi-san yang selama ini menjadi tersangka hantu gentayangan?" Akashi langsung pergi ke inti permasalahan.

"Iya." Yang bersangkutan menjawab datar.

"Dasar lolicon stres." Umpat Nijimura yang baru saja berhasil mengeluarkan kepalanya yang tertancap dengan komikal ke dinding. Jujur saja, kasihan dindingnya, sudah dihantam kepala senpai pelangi yang terlalu keras.

"Jangan menghina."

"Emang kenapa?!"

Dalam hitungan detik, Nijimura keselek controller PS3 yang dipaksa masuk dengan kasarnya.

.

Kasus hantu legendaris Apartemen Pelangi terpecahkan. Nijimura langsung melapor ke paman dan bibinya untuk tidak khawatir—tidak ada hantu, yang ada hanyalah seorang otaku dengan hobi gaming dan maniak light novel bernama Mayuzumi Chihiro. Setelah dicek, memang benar tidak ada data tentangnya karena resepsionis yang waktu itu lupa memasukkan namanya dalam daftar penghuni.

Sementara itu, di kamar 130, sesosok raja iblis telah bangkit dari tidur panjangnya yang padahal baru sehari. Akashi menyeringai iblis ke arah Kuroko yang merinding ketakutan setengah mati.

"Mana janjimu, Tetsuya?"

.

TBC

.

Pojok Curhatan Author:

YEHET SAYA KEMBALI /gegulingan/

Plis. Ini kenapa saya masukin banyak sekali referensi. Ada yang Higurashi Kai sama Gintama pula.
Maafkan saya yang apdet telat lagi. Deket lebaran gih, bantu-bantu perang versus kue kering.

Soal apdet, saya (masih) mengikuti tradisi apdet yang gak konsisten, mendadak dan geje (?). Banyak godaan misal game-game yang menunggu ditamatkan. Tapi di hari saya apdet, saya gak langsung ngetik bab berikutnya. Biasanya saya istirahat sehari-dua hari bahkan empat hari sambil berburu inspirasi :3

Berhubung saya gak tau mau bilang apa lagi, langsung capcus cyin ke segmen berikutnya dari Bacotan Author! /diamuk massa/

Balasan bagi yang menunggu kemunculan pairing:

INI KENAPA BANYAK YANG NUNGGU AKAKURO /dihajar/

Oke fix, saya udah mutusin pairingnya apa aja. Adanya AkaKuro, KagaKuro, MidoTaka (pastinya), MuraHimu, sama NijiAka. Yang saya masih ragu dengan kemunculannya itu AoKise, NijiMayu, AoKaga, MoriMiya, MoriIzu, dan bahkan mungkin ada MayuAka nyangsang.

Untuk yang request adegan:

Shiroruki: Hng boleh boleh. /acungin jempol Mukkun sama Muro kan udah kayak amplop sama perangko, jadi Muro kalo deket-deket Bang Niji mungkin ada titan cemburu /mulai fangirling/

mai-chan: Sini sini pelukan sama saya /lho author homo/ Eng, itu mungkin bakal saya tulis berupa plesbek (?). Palingan muncul di bab berikutnya, tapi saya masih gak yakin :3

Balasan bagi yang tanya:

uzumaki himeka: Bisa juga Tempat Pembuangan Umum, tapi berhubung di prolog adanya Taman Pemakaman Umum, ya gitu deh~

Rhymos-Ethereal: Ini ceritanya Kuroko diharemin dua-duanya /author diganyang/ Yang paling main sih AkaKuro, tapi entar saya bakal summon (?) KagaKuro kok~

Bacotan Ekstra:

meeyahjee keeyoshee waifu: ANJAY SAYA GAK KENAL NIH ORANG /kabur/

Maafkan bacotan saya yang banyaknya segunung :v

(Terima kasih untuk Vee Hyakuya, macaroon waffle, Indah605, Shiroruki, Yoshikuni Rie, Kapten Pelangi, uzumaki himeka, blackeyes947, SheraYuki, Rhymos-Ethereal, ByuuBee, Eqa Skylight, momonpoi, xiaopood, meeyahjee keeyoshee waifu dan mai-chan atas sumbangan reviewnya! Terima kasih juga untuk author yang mem-fav dan/atau follow fic nista ini~)

.

(Cuplikan bab berikutnya.)

"Baiklah, terserah kau."

"Terserah kau juga."

.

"A-A-Akashi-kun, ini keterlaluan!"

.

"ANJRIT ITU UNYU SEKALEH!"

(Hari itu, Kisedai dan Kagami sudah kehilangan banyak darah.)

.

"CIEE CIEE YANG UDAH PUNYA ISTRI!"

.

(Pada akhirnya, pertengkaran mereka berdua berlanjut selamanya.)

.

(Chapter 6 END.)