Cuaca cerah. Matahari bersinar semangat, sepertinya hari ini langit akan menyimpan seluruh airnya dan membiarkan orang-orang menikmati weekend diluar rumah. Udara menjelang berakhirnya musim gugur bertiup, hawa dingin terasa, daun-daun pohon maple yang sudah menguning berguguran hingga menutupi jalanan di Hangang Park.

Lelaki itu masih bergelut didalam selimutnya. Rasa dingin yang ia rasakan membuatnya hanya ingin menghabiskan seharian penuh didalam kamar, entah itu membaca buku, meminum cokelat panas, atau mendengarkan musik, yang terpenting ia tetap berada didalam kamar hangatnya.

"Sudah pagi. Yesung-ah." Tirai jendela dibuka. Lelaki yang dipanggil Yesung terusik oleh cahaya matahari yang menerobos masuk. Ia meletakkan tangannya didepan mata, menghalangi cahaya matahari dari pandangannya.

Ia menguap lalu mengusap matanya. "Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat," Lelaki lain yang lebih tua duduk ditepi ranjang, senyuman tak pernah lepas dari wajahnya sedari tadi. "Mwo? Hari sedingin ini kau mau mengajakku keluar!?" Mata Yesung membelalak.

"Ne. Jarang'kan kita menghabiskan weekend berdua? Apalagi jalan-jalan keluar," Kyuhyun tersenyum semakin lebar. Diusapnya kepala Yesung kemudian berdiri. "Jaa~ Aku tidak mau mendengar penolakan," Ujarnya tanpa mempedulikan ekspresi Yesung yang berubah shock. Kyuhyun keluar sebelum Yesung melemparinya dengan bantal.

"Cih! Sejak kapan dia jadi pemaksa seperti itu. Ya! Cho Kyuhyun, jadi sekarang kau berani memerintahku? Seharusnya aku tahu, aku tak perlu bersikap baik padanya." KLEK... "Ne!? Yesung-ssi, kalau aku tak salah dengar, barusan kau mengataiku? Hm?" Wajah Yesung memerah. Apa Kyuhyun mendengar suaranya? Ah! Mati dia.

"T-tidak! Aku tidak mengatakan apapun. YA! CHO KYUHYUN... BERHENTI MENATAPKU SEPERTI ITU!" Yesung kesal, melempar bantal kearah Kyuhyun dan berhasil mengenai wajah tampan itu, sontak senyuman Kyuhyun berubah menjadi seringaian. "Hee! Sejak kapan juga Kim Yesung jadi seperti ini eo? Apa dia sudah menyadari tulusnya cinta Cho Kyuhyun!?" Pipi Yesung semakin memerah, ia memalingkan wajahnya kesembarang arah.

"Yesungie! Kenapa wajahmu sangat merah!? Apa kau sakit?" Hah!? Kenapa Cho Kyuhyun memanggilnya seolah mereka sangat akrab? Yesung mendengus, masih tak mau menatap kearah Kyuhyun. "Keluar! Jika kau tidak keluar aku juga tidak mau jalan-jalan denganmu," Kyuhyun tersenyum puas. "Berdandanlah yang cantik, Cho-Ye-Sung." Hampir saja Yesung melemparkan bantal sekali lagi, dan beruntung Kyuhyun sudah tidak ada diambang pintu.

Yesung menunduk, rona merah diwajahnya semakin nampak. Dalam diam ia tersenyum. "Cho-Ye-Sung."

.

~All My Heart~

.

"YEPPEUDA~~/KYEOPTA~~"

Yesung tak tahu. Tiba-tiba saja dua orang yeoja 'aneh' berdiri didepannya. Yang satu menelitinya dari kaki hingga ujung kepala, sementara yang satunya berputar-putar mengelilinginya, seolah dia benda antik berharga mahal.

Tadi pagi Kyuhyun mengatakan akan mengajaknya jalan-jalan keluar. Ya dia menurut saja –dengan berat hati. Dan setelah mereka sampai, malah kesini, kesebuah rumah bercat biru –yang sepertinya baru dicat ulang oleh sang pemilik. Lalu-lalu, dia masuk rumah dan Tada~ Dua orang perempuan tadi langsung menghujaninya dengan beragam kata pujian.

"Ah! Annyeong haseyo, Kim Yesung imnida." Yesung menundukkan sedikit kepalanya. Ahra –perempuan yang sedaritadi mengelilingi tubuhnya menggeleng, kepala Yesung memiring kesamping, tidak mengerti maksud gelengan Ahra. "K-kenapa?" Tanyanya bingung.

"Hee~ Sebentar lagi kalian akan menikah bukan? Seharusnya ganti saja margamu, jadi.. Cho-Ye-Sung." Sepertinya ini adalah hari 'merah' untuk Yesung. Lagi-lagi ia merasakan wajahnya panas, yang sudah dipastikan seluruh wajahnya memerah. "Cho-Ye-Sung?" Gumam Yesung. Ahra dan Ibu Kyuhyun mengangguk antusias.

"Ne. Cho Yesung," Ujarnya seperti orang kebingungan. Kyuhyun terkekeh, ia memilih duduk disofa depan TV menemani sang Ayah. Tidak peduli dengan Yesung yang kini sedang diseret dua perempuan tadi kesetiap inci ruangan.

"Ja! Apa Yesungie pandai memasak?" Tanya Ibu Kyuhyun antusias. Dia menatap penuh harap pada lelaki manis itu. "Mianhae, aku.. 'kurang' pandai memasak." Ucap Yesung sambil berusaha tersenyum.

"Ne, gwenchana.. Kami akan mengajarkanmu memasak," Ahra menepuk pundak Yesung. Selanjutnya... "Ini... Kamar Kyuhyun saat dia masih kecil," Ucap Ahra semangat. "Coba lihat.. Ini saat dia berusia 4 Tahun. Bukankah lucu?" Ahra mengambil bingkai foto berwarna biru laut, lalu menyerahkannya pada Yesung.

"Wah! Bahkan saat kecil Kyuhyun sudah sangat tampan ne? Pasti ketika dia sekolah banyak yeoja atau namja yang memperebutkannya," Yesung berucap tanpa sadar saat memandang seorang bocah kecil didalam bingkai foto itu. Kyuhyun, yang sedang diduduk dipangkuan Ibunya.

"Kyuhyun eomma, ini anda? Anda terlihat sangat cantik," Yesung menatap Ibu Kyuhyun yang sekarang sedang duduk di kursi meja belajar sambil memandang keluar jendela. "Ne.." Sahut yeoja itu seraya tersenyum.

"Yesungie.. Ingin dengar cerita tentang Kyuhyun?" Yesung menatap Ahra. Perempuan berambut sepunggung itu duduk diatas ranjang yang terlihat lebih mirip seperti mobil-mobilan. Yesung duduk disampingnya. "Cerita?" Ahra mengangguk.

"Ye. Begini, saat dia SMP dan SMA sangat banyak orang yang menyukainya. Entah kenapa mereka sangat tergila-gila pada Kyuhyun." Ahra diam sejenak, memperhatikan ekspresi Yesung. "Mungkin selain karena tampan, Kyuhyun juga pintar dan baik!?" Yesung balas menatap Ahra dengan wajah polos.

"Bisa jadi. Lalu, diantara banyaknya orang yang mencintai Kyuhyun. Tak ada satupun yang Kyuhyun pilih. Padahal semua diantara mereka berasal dari keluarga kaya rasa, tampang mereka juga sangat cantik, namun entah kenapa Kyuhyun menolak semua perasaan mereka. Bahkan setelah itu Kyuhyun harus berurusan dengan polisi karena ada yang bunuh diri akibat ditolak Kyuhyun. Bukankah itu tindakan bodoh, Yesungie?" Yesung hanya mengangguk. Apa-apaan orang yang bunuh diri itu? Hanya karena Kyuhyun menolak? He~ Seharusnya mereka tunjukan, walau tanpa Kyuhyunpun mereka bisa hidup bahagia. Lagi pula, apa hebatnya lelaki itu sampai ada yang bunuh diri?

"Saat dia kuliahpun, kejadian sama terulang. Aku saja sampai bingung, apa Kyuhyun memakai mantra atau menjampi-jampi semua orang tidak bersalah itu hingga rela melakukan apapun untuk cinta Kyuhyun." Ahra menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dan begitulah ceritanya."

'He!? Dia-orang-ANEH!' Ucap Yesung dalam hati. Rasanya sama saja itu pamer, kalau Kyuhyun tampan dan banyak yang mencintainya, lalu sampai bunuh diri saat ditolak! Ya, memang benar Kim Yesung tidak sepopuler Kyuhyun semasa sekolah. Kenapa ia jadi merasa iri? Seharusnyakan Kyuhyun bisa memilih satu diantara mereka tanpa susah dengan apa yang namanya PDKT. Ha~ Dasar namja tak tahu diuntung.

"Dan ketika dia sudah mulai bekerja di Rumah Sakit..." Yesung kembali menatap Ahra. MASIH ADA LANJUTANNYA? Bathin Yesung berteriak nista. "Mungkin itu adalah cinta pertamanya. Kyuhyun bercerita padaku, bahwa dia sudah merasa bersalah pada orang-orang yang mencintainya lalu menembak Kyuhyun dan Kyuhyun menolak. Hukum karma pasti berlaku eo? Dia mencintai seseorang, namun sayangnya orang itu seperti sangat acuh padanya, sangat dingin padanya, dan itu adalah kali pertama Kyuhyun putus asa.. Dia sempat depresi karena tidak bisa membuat orang yang dia cintai juga mencintainya.. Kyuhyun hampir bunuh diri." Mata Yesung membulat. Ia menatap tak percaya ke arah Ahra.

"Ya.. Dan syukur, eomma berhasil menenangkan Kyuhyun dengan kepercayaan bahwa orang itu akan mencintainya, suatu hari nanti. Berbekal kepercayaan itu, rasa cintanya semakin kuat, dan tanpa kata menyerah dia berusaha selalu berada didekat orang itu.. Kyuhyun selalu berdoa setiap malam, berharap Tuhan mengabulkan permintaannya. Dan sekali lagi aku –kami bersyukur. Akhirnya lelaki itu membuka hati untuk Kyuhyun." Ahra memandang Yesung sambil tersenyum manis.

"Le-la-ki? Maksud noona! Orang itu... Aku?" Ia mengangguk. "Kau beruntung Yesung-ah.. Dari sekian banyaknya orang didunia ini. Yang dia pilih adalah kau.. Bahkan sepertinya dia rela mati untukmu. Hukum karma memang berlaku. Dulu Kyuhyun juga bilang orang yang mati karena cinta itu adalah orang yang bodoh, dan Kyuhyun termasuk kedalam orang-orang bodoh itu, sebelum merasakan bagaimana jatuh cinta, Kyuhyun sangat menyepelekannya, dan sekarang? Lihatlah, Kyuhyun malah... Yah~ begitulah,"

Kepala Yesung tertunduk. Kyuhyun sempat depresi karenanya? Bukankah itu sangat mengesankan? Seseorang yang tidak terlalu kaya, tidak juga sangat pintar sepertinya yang disukai Kyuhyun? Yang sangat dicintai Kyuhyun? Itu, sangat hebat. Apalagi Kyuhyun sampai hampir bunuh diri karenanya.

Yesung terkekeh, matanya berair. Mungkin, merasa bersalah. "Depresi? Bunuh diri? Maksud noona?" Ahra menerawang. Tersenyum sebelum memulai kembali bercerita. "Kyuhyun tidak punya tempat untuk berbagi. Dia sulit untuk percaya pada orang-orang disekitarnya, dia hanya akan bercerita kepada orang yang dia anggap nyaman. Seperti kami, keluarganya. Mungkin hanya kami yang bisa mendengarkan semua keluh kesahnya, hanya kami yang pernah melihat sisi lemah Kyuhyun, menangis." Yesung teringat. Kyuhyun pernah menangis didepan Seohyun. Itu artinya, Kyuhyun merasa nyaman dan percaya dengan yeoja itu.

"Waktu itu... Kyuhyun bercerita kalau kau tidak mau bermalam dirumahnya, padahal Kyuhyun sudah membuat pesta perayaan 2 bulan pertunangan kalian.. Sepertinya dia masih sabar.. Lalu, dia terus-terusan berbicara padamu.. Namun kau tidak meresponnya sedikitpun, Kyuhyun menyadarinya.. Ketika itu.. Dia sudah mulai lemah.. Kyuhyun terus mengajakmu makan siang bersama, kau mau, tapi hanya menatap kearah lain dan tidak peduli Kyuhyun yang sangat senang membicarakan konsep pernikahan kalian... Dia sadar, dan kesabarannya berada diambang batas.. Dan setelah itu, dia tidak menyerah.. Dia membujukmu agar mau membicarakan rumah seperti apa yang kau inginkan.. Dan lagi, kau tidak menjawabnya.. Kau pernah menampar Kyuhyun untuk alasan –yang menurutku aneh.. Yaitu, karena Kyuhyun membuang jam milikmu.. Dan sejak itu, Kyuhyun terus-terusan menangis, namun didepanmu yang dia lakukan hanyalah tersenyum, tersenyum seperti tidak ada yang salah.. Dan itulah puncaknya, dia tidak tahan dengan semua.. Lalu dia meminum banyak racun tikus.. Menyayat pergelangan tangannya.. Meminum obat hingga overdosis, bahkan jika kami tak cepat datang.. Mungkin Kyuhyun sudah tidak ada disampingmu saat ini.."

Napas Yesung tercekat. Ia merasakan seperti ada bongkahan batu besar menghalangi jalan masuknya udara. Kemudian setetes cairan bening mengaliri pipinya, terus mengalir hingga tak terkendali. Dia menangis, dalam diam.

"Kau tahu Yesung? Dia selalu menghubungiku bahkan disaat dia sibuk.. Alasannya hanya satu, dia ingin membagi perasaan senangnya padaku, perasaan kalau dia sangat mencintaimu.. Aku sebagai kakak, tentu saja mengerti."

"Aku.. Bodoh, ya!?" Suara Yesung terdengar bergetar. "Aniya.. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.."

"Selagi dia masih berada disisimu. Bersikap baiklah padanya, jangan sampai kau menyesal, Yesungie." Ucap Ibu Kyuhyun yang entah sejak kapan sudah berada disamping Ahra. "Maafkan aku, Noona, Kyuhyun eomma.." Yesung terisak, membiarkan airmata penyesalan itu membasahi pahanya.

Ahra tersenyum. Setidaknya dengan mengatakan kebenaran pada Yesung bisa membuat lelaki itu sadar, meski sebenarnya, Kyuhyun melarang keras Ahra bicara tentang dirinya didepan Yesung.

"Uljima.. Belum terlambat untuk memulai kembali," Ahra mengelus kepala Yesung. Dia senang, Yesung sudah sadar. Dan ia berharap, Yesung tidak pernah menkhianati Kyuhyun apapun yang terjadi –jika Yesung tidak ingin melihat mata Kyuhyun tertutup untuk selamanya.

"Ah, Yesungie.. Coba lihat ini," Ibu Kyuhyun mengambil sebuah album foto dari meja belajar Kyuhyun. Yesung menghapus airmatanya, berusaha tersenyum, ya, ia akan selalu tersenyum.

"Apa itu? Ahjumma?" Ibu Kyuhyun menyerahkan album foto berwarna hijau itu pada Yesung lalu duduk disamping calon 'menantu' manisnya. "Ini, foto-foto Kyuhyun sejak dia dilahirkan."

Yesung membuka halaman pertama, terlihat seorang bayi laki-laki yang sepertinya baru saja lahir, menangis dengan mata tertutup. "Haha~ Apa benar dia Kyuhyun!?" Tawa Yesung pecah. Diiringi kedua perempuan disebelahnya.

Yesung membalik halaman selanjutnya. Disana, Kyuhyun yang berusia 1 tahun sedang tidur dibuaian bayi dengan posisi telentang. Halaman demi halaman berlalu, hingga pada Kyuhyun berusia 10 Tahun. Cho Kyuhyun kecil sedang mandi dengan membelakangi kamera, pantatnya terlihat hingga tawa Yesung kembali pecah, kali ini lebih nyaring.

"Siapa yang mengambil gambar ini?" Ucapnya masih terbahak. "Ah! Siapa lagi kalau bukan Ahra?" Ucap Ibu Kyuhyun dengan wajah datar. Ya, Ahra memang sangat suka mengambil foto Kyuhyun saat Kyuhyun sedang mandi. Diam-diam ia menyelinap kekamar mandi Kyuhyun dan mengambil gambarnya. "Mereka berdua memang sama-sama nakal." Lanjut Ibu Kyuhyun.

"Ini saat dia 14 Tahun. Sangat tampan bukan? Jika saja aku bukan kakaknya, mungkin dia sudah kuculik dan kuper-" Ahra segera membekap mulutnya sendiri melihat kedua orang itu menatap bingung kearahnya. "Lupakan. Hanya imajinasi,"

"Dan ini saat Kyuhyun 19 Tahun, pantatnya besar bukan?"

Seperti adegan slow motion, Kyuhyun datang tiba-tiba. Matanya menatap pada album foto dipangkuan Yesung. Ia menjerit layaknya tikut kejepit. Dengan lari secepat kilat ia merampas album foto tersebut, lalu mendekapnya erat-erat.

"Ya! Kalian~ Noona.. Sudah kubilang berapa kali jangan menunjukkan album foto ini pada siapapun!?" Dengan murka Kyuhyun menunjuk wajah sang Noona. "Bukan aku! Tapi eomma." Ahra langsung menunjuk pada Ibunya yang berkacak pinggang.

"Tidak apa-apa Kyuhyun-ah, walau bagaimanapun, bahkan ketika pantatmu kelihatan, kau tetap sangat tampan." Entah itu pujian atau ejekan, tapi terdengar seperti Yesung sedang menghibur Kyuhyun. Alhasil wajah Kyuhyun memerah, bagaimana bisa Ibu dan Kakaknya menunjukkan hal memalukan seperti itu pada Yesung. Aih!

"Yasudah. Eomma dan noona ingin membuat makan siang dulu. Yesungie, sebaiknya kau temani Kyuhyun disini." Yesung mengangguk, mata sipitnya membentuk garis lurus ketika tersenyum.

Kedua perempuan yang menurut Kyuhyun adalah pengacau itu keluar, menutup pintu dan tiba-tiba saja kepala Ahra muncul tiba-tiba setelah pintu kembali dibuka. "Yesungie, kita bisa lihat lagi kapan-kapan, ne!" Ucapnya dan setelah itu terdengar langkah menuruni tangga.

Kyuhyun menghela napas kasar. Diletakkannya album foto tadi ditempat semula, lalu mendatangi Yesung, duduk disamping lelaki itu. "Apa noona atau eomma menceritakan sesuatu yang buruk tentangku?" Yesung menggeleng singkat.

"Memangnya.. Ada apa?"

"Aku hanya tidak ingin, aku terlihat buruk dimatamu." Yesung menatap Kyuhyun. Ia kembali menggeleng. "Aniya. Seberapa buruknyapun dirimu, dimataku kau tetap yang terbaik, Kyuhyun-ah." Yesung mendekap Kyuhyun. Ia hanya merasa menyesal karena kebodohannya selama ini, Kyuhyun hampir kehilangan nyawa.

"Omong-omong.. Foto-foto tadi sangat vulgar, kenapa kau mau meletakkannya di album foto?" Yesung belum mau melepaskan pelukannya. "Bagaimanapun itu bagian dari perjalanan hidupku. Meskipun vulgar... Hei! Kau bermaksud menertawakanku?" Yesung menggeleng.

"Sebenarnya iya.. Tapi aku takut kau marah, jadi aku hanya diam." Terdengar kekehan yang sumpah demi apapun itu adalah tawa yang paling menjengkelkan yang ia dengar. "Hei! Hei! Cho Yesung.. Aku akan marah kalau kau tidak menghentikan tawamu!"

"Hahahaha~" Tidak. Sejak kapan Kim Yesung berubah jadi seperti ini? Bukannya menurut tapi malah melawan. He! Dia cari mati ternyata. Ah! Yesung belum tahu bagaimana 'buruk'nya jika seorang Kyuhyun marah.

Wajah lelaki itu memerah. Ia sungguh malu ditertawakan seperti ini. Dengan kasar ia melepaskan pelukan Yesung, ditatapnya wajah manis tunangannya –wajah yang selalu membayangi ketika ia tidur. "Umm.. Kenapa?" Tanya Yesung polos, seolah tidak ada apapun yang terjadi.

"Nona muda. Apa anda kehilangan ingatan? Apa anda perlu saya operasi untuk mengembalikan ingatan anda?" Tanya Kyuhyun sambil mengedipkan mata kirinya. "Ah.. Tentu ahjussi~ Mohon bantuannya.." Ekpresi Kyuhyun berubah, apa dia setua itu hingga Yesung memanggilnya ahjussi?

"Kalau begitu. Silahkan tutup mata anda," Yesung menurut. Tidak lama setelah ia menutup mata ia merasakan Tangan Kyuhyun memegang tengkuknya, menariknya sampai Yesung merasakan hidungnya menyentuh sesuatu yang kenyal –seperti pipi.

"Operasinya akan sukses jika anda tenang, Yesung-ssi." Tiba-tiba Yesung merinding mendengar suara Kyuhyun berada tepat didepan telinganya. Ludahnya terasa seperti balok batu bata, hingga Yesung merasa kesusahan untuk menelan.

Sensasi apa ini? Kenapa ia merasa diperutnya ada jutaan kupu-kupu yang berterbangan? Apalagi saat Kyuhyun melingkari pinggangnya. Ia merasa bagai tersengat ribuan volt listrik. Bukan sakit, tapi terasa menyenangkan.

Kyuhyun menarik pinggang Yesung agar jarak mereka semakin mendekat. Yesung tahu, ia pernah membaca manga, biasanya adegan seperti ini akan berakhir dengan... Ciuman.

"Apa anda ketakutan Yesung-ssi? Tubuh anda bergetar.." Terkutuklah Cho Kyuhyun yang membuat Kim Yesung malu semalu-malunya. Ia berniat tidak akan membuka matanya sampai Ahra Noona atau Ibu Kyuhyun memanggil mereka atau jika perlu Ahra datang langsung untuk menyelamatkan dirinya dari bahaya.

"T-Ti-Tidak.. S-saya, hanya.. T-takut." Memalukan! Suara Kim Yesung terdengar seperti desahan! Itu menghancurkan citra dirinya. "Jadi begitu," Ujar Kyuhyun santai, ia memeluk Yesung semakin erat. Disini, terasa hangat. Jauh lebih hangat dibanding sinar mentari dipagi hari.

"Nyaman," Gumam Kyuhyun. Yesung membuka kedua matanya. Ha~ lebih memalukan lagi saat kenyataan Yesung mengharapkan ciuman Kyuhyun! Bodoh. Nyatanya lelaki itu hanya memeluknya. 'Apa yang kau harapkan Kim Yesung?' Lagi-lagi Yesung merutuk pada dirinya sendiri.

"Kyu, aku mau membantu Noona dan Ahjumma dulu didapur."

"Tidak boleh. Aku tidak ingin tanganmu kembali terluka," Yesung tersenyum. "Jika kau terus melarangku seperti ini. Bagaimana aku bisa memasak? Aku juga ingin bisa memasak, Kyuhyun-ah."

"Aniya! Aku.. Aku tidak ingin kau meninggalkanku, aku ingin kau tetap disini."

"Baiklah. Kau sudah besar, tapi maja sekali ne?" Yesung merasakannya, bahunya terasa basah. Yang ia yakini adalah airmata Kyuhyun. "Eo.. Dan aku ingin kau memanjakanku,"

"Tidurlah," Kyuhyun menghapus air yang mengaliri pipinya sebelum melepaskan pelukan Yesung. "Apa kau akan menemaniku, disini?" Yesung mengangguk.

"Hee! Ternyata anak ini lebih kekanakan daripada aku." Yesung tersenyum, mengecup kening Kyuhyun lalu lelaki itu berbaring sendiri dikasur lamanya.

'Tidak ada salahnya`kan? Aku membuatnya bahagia? Sebelum, perpisahan?' Yesung menatap Kyuhyun, mendekatkan bibirnya kebibir Kyuhyun. Matanya terpejam, merasakan kehangatan napas lelaki itu. 5 centi.. 4 centi.. 3 centi.. 2 centi..

"Yesung/Kyuhyun!" Kepala Yesung terjatuh disamping Kyuhyun. Mereka hampir tertangkap basah. "Ne," Sahut mereka berdua canggung.

"Saatnya makan siang. Kalian sedang apa? Tidak melakukan yang 'iya-iya'kan?" Ucapan frontal Ahra sukses membuat keduanya mati kutu. Wajah Yesung maupun Kyuhyun sama-sama semerah tomat.

"Ne," Sahut Kyuhyun lemah. "Yesungie, posisimu. Apa kau kira mereka tidak akan curiga?" Kyuhyun berbisik.

Yesung tahu. Ia tahu, tapi untuk bergerak 1 centipun dari posisinya sekarang dia tak bisa. Hal ini sangat memalukan. Tentang posisi mereka, bisa dibayangkan? Yesung meletakkan tangan kanannya disamping leher Kyuhyun, sedangkan tangan kirinya berada didada Kyuhyun –yang dimata Ahra, Yesung seperti hendak membuka baju adiknya. Satu kaki Yesung masih terjuntai dilantai, sementara kaki lainnya berada ditengah-tengah kaki Kyuhyun –yang lagi, dalam pemikiran Ahra, Yesung mau menindihi Kyuhyun.

"Aku kira, yang uke itu, Yesung.." Ucapnya agak kecewa. "Noona, bisa eomma dan noona pergi sebentar? Sepertinya Yesung sedikit 'bermasalah'" Mereka hanya mengiyakan. Suasana seperti barusan membuat awkward.

"Yesung-ah, mereka sudah pergi." Yesung terjatuh disamping Kyuhyun. Tidak ada suara yang keluar. 'Shit!'

"KYA~~~~"

::

Falling in love with you is a feeling that I never could explain it

::

"KYA~~~"

"He? Bukannya yang uke itu Kyuhyun? Kenapa yang teriak Yesung?" Dalam pemikiran Ahra. -Yang kemungkinan besar sebagian otak jeniusnya sudah terpengaruh manga yaoi.- Yesung berteriak karena 'dimasuki' Kyuhyun.

Kedua namja yang tadi tertangkap basah 'hampir' –Yang dalam pemikiran Ahra sudah. Berciuman masuk kedalam ruang makan.

"Yesungie, kenapa rambutmu acak-acakan. Itu, kancing bajumu terbuka," –Yang dalam pemikiran Ahra *stop* mungkin kalian yang berotak mesum tahu kelanjutannya. "Yesung-ah, tadi kenapa kau teriak?" Ucap ahjussi yang sudah duduk disamping Ibu Kyuhyun.

"Tadi itu suaramu'kan?" Sepertinya ini adalah badday. "Ne.. Tadi ada tikus, jadi Yesung teriak, mungkin geli." Catat, yang keluar dari bibir Kyuhyun adalah kebohongan total. Kenyataannya bukan seperti itu, Yesung berteriak karena malu atas tindakan bodohnya.

"Oohh! Jadi tikus, toh.. Aku kira-"

"Ahra noona.." Potong Kyuhyun sambil tersenyum. "Sudahlah. Sebaiknya kalian cepat makan,"

Mereka berlima duduk. Terlibat dalam percakapan menyenangkan, yang sesekali KyuSung mati kutu karena ucapan Ahra yang sukses membuat mereka bungkam.

Yesung sungguh lupa dirinya. Ia merasa punya keluarga baru, keluarga Kyuhyun menerimanya dengan hangat dan baik, perlakuan mereka juga baik kepadanya. Jika keluarga lain mungkin sebagian besar menentang hubungan sesama jenis, keluarga Kyuhyun justru tak mempermasalahkan hal itu. Mereka semua sangat baik, menganggap hal apapun sama saja. Apalagi sosok Ahra yang selalu terlihat ceria, walau sekekali aneh. Juga Ibu Kyuhyun yang tidak banyak bicara tapi menyenangkan, dan juga Ayah Kyuhyun yang sangat santai namun dalam diam beliau sesekali melirik kearah mereka dan tersenyum.

Jika keluarga Yesung bertemu dengan keluarga Kyuhyun. Kemungkinan besar rumah ini akan heboh dan sangat penuh canda-tawa. Sangat menyenangkan, eo!?

"Sungie-ah, seharusnya kau suapi Kyuhyun.. 'Ah!'" Ahra membuka mulutnya lebar-lebar. "Seperti Appa dan eomma ketika muda, mereka sangat sering suap-suapan." Sepasang suami-istri itu berpandangan sejenak, lalu tersenyum.

"Kurasa, Kyuhyun bisa makan sendiri." Ucap Yesung polos. "Ya! Supaya romantis Yesungie. Apa kau tidak pernah baca manga?" Baca mang yaoi adalah salah satu hobi Kim Yesung dulu, semasa dia masih SMP-SMA.

"Baiklah. Kyuhyunnie, 'aaahhh'" Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal, ia melirik sendok berisikan daging tumis, Yesung terus-terusan memaksanya untuk makan. "Ne, Yesungie." Kyuhyun memakannya.

"So Sweet!" Dan Ahrapun memanfaatkan kesempatan ini untuk melihat adegan yaoi secara live.

::

Bagaimana mungkin bisa kau tidak menyukai hujan? Bukannya hujan yang selalu mendekatkan kita!?

::

"Sudahlah. Sebaiknya kalian menginap saja disini," Yesung menghela napas, menatap kearah Ibu Kyuhyun. "Hujannya tidak akan berhenti cepat. Mobil kalian juga, bensinnya hampir habis'kan? Apa kalian mau mogok ditengah jalan dalam kondisi hujan?" Dan Yesung mengarahkan pandangannya pada Ayah Kyuhyun.

"Eum! Yesungie juga takut hujan bukan?" Lanjut Ahra. Yesung mengangguk. "Apa itu aneh? Noona?"

"Ani. Apa kau tahu? Dulu Kyuhyun saat masih berusia 10 tahun juga takut hujan, apalagi kalau malam, saat ada petir menyambar dia lari kekamarku. Ada saat hari hujan, dimalam hari, karena aku pusing dengan sikapnya yang seperti itu terus, lalu aku mengunci kamar. Dan kau tahu, apa yang dia lakukan?" Ahra melirik Kyuhyun yang memberikannya deathglare. Sementara Yesung terlihat antusias.

"Dia menangis, suara tangisnya mengalahkan suara petir. Dan aku hanya bisa tertawa didalam kamar. Hahahaha~~" Tawa Ahra meledak disusul suara tawa Yesung. Itu hal yang lucu, membayangkan bagaimana Cho Kyuhyun kecil menangis karena takut hujan membuat perutnya tergelitik.

"Dan, Yesungie.." Yesung mengarahkan tatapannya pada Ayah Kyuhyun. "Ne? Ahjussi?"

"Kyuhyun lari kekamar kami. Bahkan saking 'bersemangatnya' Kyuhyun sampai terjatuh dari tangga." Semua menertawakan hal yang sama, orang yang sama, orang yang kini tengah menekuk wajah. Keluarganya sendiri membuatnya nista, dan malu didepan tunangannya sendiri. Memalukan!

"Lalu ahjussi!? Bagaimana setelah itu?" Yesung melirik Kyuhyun sekilas, menampilkan tawa lebarnya yang sebenarnya mengejek. "Kami sudah sepakat dengan Ahra untuk mengunci pintu. Untuk menghilangkan phobianya itu, kami memaksa dia untuk tidur sendirian ketika hujan ataupun lampu padam. Dan akhirnya, karena sudah terbiasa, Kyuhyun tidak lari lagi kalau hujan turun." Yesung bertepuk tangan. Merasa takjub dengan kekuatan Kyuhyun melawan ketakutannya.

"Apa kalau sudah besar sepertiku, phobia hujan itu bisa dihilangkan!?" Ibu Kyuhyun menggeleng. "Sebaiknya jangan.."

"He!?"

"Jadi kalau hujan, kau pasti akan ketakutan, dan Kyuhyun bisa mengambil kesempatan itu untuk menenangkan dan memelukmu." Yesung, nosebleed. "Aku mau tidur dulu. Jaljayo," Ucap Ahra. Kemudian naik keatas meninggalkan mereka.

"Kau tahu, Yesung? Kyuhyun itu dulu sangat manja, dia baru bisa mengikat tali sepatu dan memakai kancing baju sendiri saat berumur 15 tahun." Tawa Yesung hampir meledak kembali jika saja Kyuhyun tidak mengambil tempat duduk disebelahnya.

"Sekarang, sebaiknya kita semua tidur. Jaljayo," Ucap Ayah Kyuhyun sambil menguap. Kedua orang tua itu masuk kedalam kamar mereka yang tidak berada jauh dari ruang tengah.

"Kyu! Apa kau tidak mengantuk?"

"Tentu saja aku mengantuk. Aku rela menahannya demi kau, nampaknya kau sangat senang mendengar kejelekanku." Yesung menyikut lengan Kyuhyun. "Aku memang suka mendengarnya. Jadi aku bisa lebih mengenalmu, aku ingin tahu lebih tentangmu."

"Kajja." Kyuhyun menggenggam tangan Yesung, meremasnya lembut. Yesung tersenyum, dengan senang hati ia membalas genggaman tangan Kyuhyun. Sela jarinya yang kosong terasa pas ketika tangan Kyuhyun menggenggam tangannya seperti ini.

Apa yang ia pikirkan? Atau ini tandanya ia sudah melupakan Siwon? Semudah itu? Jawabannya. Tentu saja tidak. Yesung hanya ingin memberikan 'sebuah perpisahan' yang 'manis' untuk Kyuhyun.

Tapi, bagaimana dengan keluarga kecil yang hangat akan cinta dan kasih sayang ini? Sepertinya, mereka sangat mengharapkan Kim Yesung menjadi bagian dari mereka.

Entahlah. Hanya waktu yang akan menjawab.

"Yesungie.. Apa kau masih takut hujan? Benci hujan?"

"Ya, tentu saja."

.

~All My Heart~

.

Udara dingin. Namun matahari bersinar. Pagi yang sejuk, untung saja kemarin malam hujan, jadi udara dipagi hari ini sangat segar.

Yesung membuka jendela, semerbak bau basah berlomba-lomba masuk mencari tempat tersendiri didalam ruangan yang merupakan kamar Cho Kyuhyun semasa kecil.

"Nyaman!?" Tanya Kyuhyun kemudian berdiri disamping Yesung, ikut memandang kekejauhan. "Umm.. Sangat."

"Bagaimana kalau hari ini piknik? Atau sekadar jalan-jalan ke Jembatan Banpo, duduk dikursi Hangang Park? Eotte?" Yesung menatapnya. "Ini senin. Seharusnya kau ke Rumah Sakit'kan? Apa kau mau makan gaji buta?"

"Aigoo! Bersamamu membuatku amnesia," Kyuhyun maupun Yesung terkekeh bersamaan. "Baiklah, bagaimana kalau sepulang aku kerja?" Yesung mengangkat ibu jarinya kemudian memberi hormat. "Yes, my boy."

::

Aku akan pergi dari sisimu saat ini. Meskpiun mungkin aku akan menyesal. Ini semua karena aku mencintaimu. Hanya kau yang aku cintai. Jadi aku akan melepas untuk kebahagiaanmu.

::

Musim dingin datang lebih awal. Kepingan salju mulai berjatuhan membuat jalanan Seoul seputih gundukan awan dilangit. Ranting-ranting pohon yang gundul menjadi tempat berkumpulnya salju-salju, putih, seperti bunga sakura yang belum mekar.

"Choi Siwon!? Bukannya ini belum 1 bulan?" Kyuhyun baru saja keluar dari ruang pemeriksaan mendapati Choi Siwon tengah duduk menunggu di ruangannya bersama Lee Donghae.

"Kyuhyun-ssi. Seohyun dimana?" Tanya Lee Donghae khawatir tidak melihat keberadaan kekasihnya semenjak ia memasuki rumah sakit. "Salju turun'kan? Mungkin saja dia terjebak macet," Donghae hanya mengangguk-angguk tanda paham.

"Aku ingin konsultasi. Ini yang terakhir kalinya," Kyuhyun menatap Siwon tidak mengerti. "Kau sudah sembuh? Secepat itu? Ini bahkan belum masuk bulan ke-3!"

"Ya.. Aku tahu,"

"Okay! Masuk keruanganku,"

Mereka berdua duduk berhadapan. Siwon nampak meniup-niup tangannya sendiri, mencoba menghangatkan tubuhnya, penghangat ruangan yang ada disana tidak membantu sama sekali.

"Aku sudah ingat wajah lelaki bernama Yesung. Tolong beri tahu aku, siapa namja yang menangis saat aku bangun dirumah sakit ini?" Mata Kyuhyun membulat. Siwon sudah ingat? Lalu Yesung akan meninggalkannya? Inikah konseksuensi mencintai seseorang yang hanya menganggap dirinya pelampiasan?

"Dia, Kim Yesung. Mungkin orang itu yang kau cari," Kyuhyun tersenyum ditengah airmatanya yang membeku. "Aku kenal dengannya. Aku akan mengatakan pada Kim Yesung untuk menemuimu di Jembatan Banpo. Sore ini. Bagaimana?"

Mata Siwon berbinar, tidak menyadari raut wajah Kyuhyun. "Memangnya, Kim Yesung siapamu?"

To Be Continue