Selepas ujian praktik adalah masa-masa yang membahagiakan bagi para junior kelas 10 dan 11. Sorakan euforia kebahagiaan berkicau di timeline jejaring sosial twitter ataupun Line. Stiker-stiker ekspresi bahagia juga tersebar dimana-mana. Bahkan kotak berwarna pink itu juga tertempel di tiap sudut sekolah.
Sebentar lagi Valentine.
Tapi, kenapa hanya kelas 10 dan 11 yang berbahagia?
Jawabannya mudah. Karena try out pelajaran eksak yang susahnya mahadahsyat dilaksanakan di hari terbunuhnya St. Valentine itu. Mana sempat memikirkan kejutan buat pacar atau gebetan kalau begini caranya?!
Kalo yang single sih lain soal. Rasanya indah banget walau susah tapi setidaknya tidak perlu sirik sama teman sendiri yang sudah punya belahan jiwa.
Setidaknya kau sedikit berbeda dengan para single lainnya. Walaupun sama nyeseknya sih.
Ya, ini semua gara-gara dua pernyataan cinta dari kedua sahabat dekatmu, Armin dan Eren. Kau tidak tahu harus memilih yang mana karena kau menyukai mereka sama besarnya. Tapi keduanya tidak saling mengenal dan terus berusaha membuatmu—menggodamu—menyukai diri mereka. Kau sendiri tidak tega membuat salah satu dari mereka sakit hati karena ditolak. Tapi kamu juga tidak bisa tidak memilih karena rasa cinta mulai tumbuh di hatimu terhadap kedua pemuda yang menarik itu.
.
.
.
Jadi, sudah siap melewati try out matematika dengan ajakan merayakan valentine dari Eren?
.
.
.
Shingeki no Kyojin Dating Simulation!
.
.
.
.
Warning : Shingeki no Kyojin milik Isayama Hajime!
High School AU! Yuki selalu berusaha meminimalisir OOC dan Typo. Ada 2 ending, readers bisa memilih! Mungkin akan ada OC figuran.
.
.
.
.
Chapitre. 5 : Eren Jaeger x Readers!
"Apa kau mengerti, (your name)?"
Mata biru Armin yang semakin mendekat ke arahmu menyadarkanmu dari lamunan.
"Ah? Eh? Apa? Limit trigonometri? Oh.. oh iya..." Kau segera memasang senyum manis untuk menutupi lamunanmu agar Armin tidak menyadari kalau kau tidak memerhatikan ajarannya sejak tadi.
Malam jumat ini hujan deras turun sejak sore. Seakan menyuarakan suara hatimu yang sedih karena besok try out matematika, pelajaran kelemahanmu. Tapi Armin datang di saat yang tepat dan mengajarimu di kamarmu dengan sabar. Awalnya agak kaku juga mengingat kau belum menjawab pernyataan cinta Armin, tapi pemuda manis itu bersikap profesional dengan memahami keadaanmu dan bersikap biasa di hadapanmu. Kau pun ikut terbawa suasana dan juga bersikap seperti biasanya.
Sampai sebuah SMS dari Eren masuk lima belas menit yang lalu.
Armin menghela nafas, antara dingin dan menahan kesal karena tahu kau tidak memerhatikannya padahal ia sudah menjelaskannya dua kali. Ia menyuruhmu mengerjakan beberapa soal yang dibuatnya dan kau mengerjakannya sambil berusaha melupakan SMS dari Eren.
"(your name), bisakah kau melepaskan ponselmu dari tanganmu setidaknya saat mengerjakan soal? Ayolah, serius." Tegur Armin mulai bersikap keras. Kau dengan gugup tertawa garing dan melepas ponsel itu. "Ahaha.. Maaf Ar. Aku cuma kedinginan, haha. Po.. Ponsel ini hangat ja.. jadi... Hhehehe..."
Armin menatapmu tajam. "Eren yang SMS ya?"
Deg. Kau menghentikan coretan-coretan asalmu.
"A... Aku... Mau ke kamar mandi! Sebentar! Sebentar!" Wajahmu pucat mendengar tuduhan Armin tadi.
"Oke.. oke... Cuci muka sekalian, ya. Kamu sudah terlihat ngantuk, tuh." Ujar Armin sambil tersenyum. Kau mengangguk cepat. Tak lupa meraih ponselmu, kau berlalu ke kamar mandi.
Kau ingat kebiasaan Eren yang sangat tidak sabaran. Dua puluh menit SMS-nya tidak dibalas, ia akan meneror dengan telepon bertubi-tubi. Jika telepon itu datang ketika Armin sedang mengajarimu... Duh kau tidak ingin tidak mengangkat telepon Eren tapi tidak juga ingin mengabaikan Armin dengan mengangkat telepon dari Eren. Apalagi kalau Eren yang telepon paling sebentar biasanya tiga puluh menit. Akhirnya kau mengambil jalan tengah dengan pura-pura ke kamar mandi dan membujuk Eren agar menyudahi pembicaraan sampai lima menit saja.
Toh sebenarnya ia hanya perlu jawaban dari ya atau tidak dari SMS itu.
(your name), lo mau jalan sama gue nggak abis try out? Tomorrow's valentine day and i want to celebrate it with you. Starbucks, 15.00 pm. I hope you will give me answer on that day. Nanti kita bolos les :P
Dan kau sudah memutuskan.
Sosokmu sudah menghilang dari pandangan Armin, kau berbelok ke dapur dan tepat saat itu ponselmu berdering. Panggilan masuk dari Eren. Tuh kan.
"Hei, kok nggak dibales?" Sapa Eren dari telepon.
"Engg... Lagi ga bisa... Lagipula aku bingung..." Jawabmu jujur. Sepelan mungkin.
Eren tertawa. "Kenapa? Oh ayolah sekali saja bolos les! Kita bisa menggantinya hari Sabtu—walau sedikit tidak rela."
Kau menggigit bibir. Bingung. Apakah perihal Armin harus diceritakan juga kepada Eren? Karena itulah yang membuatnya bingung untuk menjawab ajakan Eren.
"(your name), kalo lo merasa belum siap menyebut ini kencan... Gapapa kok kita jalan kayak biasa aja... Cuma ya... tadi... gue berharap lo ngasih gue jawaban... besok. Gue siap apapun jawaban lo, kok."
Kau tidak yakin Eren akan siap dengan jawaban kau yang tidak dapat memilih antara dirinya dengan Armin.
Tiba-tiba, sepasang tangan memeluk pinggangmu dari belakang dan sebuah suara tenor yang sangat kau kenal baik berbisik di telingamu yang sedang menerima telepon dari Eren. Hangat.
"Hai, Eren." Sapa Armin dingin. Kau terlonjak kaget dan melonggarkan peganganmu terhadap ponselmu. Seharusnya ponsel itu jatuh tapi tangan Armin mengambilnya dan mengambil alih panggilan. Sambil tetap memelukmu dari belakang.
"Lho, ini temennya (your name) ya? Jangan-jangan lo Christa yang tetangganya (your name)? Wah, (your name) sering cerita tentang lo. Lo cantik dan imut banget ya tapi gue nggak nyangka ternyata suara lo di telepon jadi agak kayak cowok sedikit. Tapi tetep manis sih." Cerocos Eren. Baik Armin maupun kau dapat mendengarnya.
He? Eren mengira Christa adalah Armin?
Wajah Armin memerah, malu. Kau berusaha menahan tawa agar tidak menyinggung perasaan Armin. Eren benar-benar keterlaluan! Padahal suara mereka kan sama sekali tidak mirip! Eren pernah bertemu dengan Christa saat menembakmu, tapi tidak pernah tahu Armin sama sekali.
"Maaf. Ini Armin. Kakak laki-laki Christa sekaligus tetangga (your name) juga. Tolong jangan ganggu (your name) belajar untuk try out besok." Ucap Armin tegas sambil dalam hati berdoa semoga kali ini suaranya bisa meyakinkan Eren bahwa ia laki-laki.
Eren terdiam. "Kalian sedang berdua? Di mana?" Tanyanya mulai terdengar seram sekaligus khawatir.
"Bukan urusanmu. Tolong jangan ganggu (your name) untuk saat ini. Dia sudah benar-benar kau buat pusing karena pernyataan cintamu itu." Pinta Armin dengan tegas.
"Ar... sudahlah. Baik, aku akan hiraukan dia setelah menjawab sebentar lalu kita kembali belajar..." Ucapmu lirih.
"Kamu tidak ingin dia tahu kalau aku juga menyukaimu, (your name)? Lalu jawaban apa yang akan kau berikan atas ajakan kencannya saat valentine besok?" Tanya Armin sedikit menuntut. Pemuda manis berambut pirang itu mempererat pelukannya.
Kau menunduk. Tepat.
Dan pemuda itu sengaja menanyakan hal itu saat ini juga agar Eren di seberang telepon sana dapat mendengarnya juga.
"APA? Hei, Amin siapalah itu! Apa tadi lo bilang? Lo suka sama (your name)?!" Teriak Eren dari ponselmu. Kau refleks merebut ponselmu dari tangan Armin.
"Eren! Dengar! Tenang dulu! Ar..."
"(your name)? Kalian lagi berduaan?!" Tanya Eren tak sabaran.
"I.. Iya bener sih... Ar lagi ngajarin gue Limit trigonometri tadi dan..."
Pip. Armin mematikan sambungan teleponmu dengan Eren.
"Ar! Aku baru mau memberinya penjelasan!" Protesmu sambil melepas pelukan Armin. Pemuda bersurai pirang yang sedikit lebih tinggi darimu itu menunduk.
Ia mengangkat kepalanya. Menatapmu tegas dengan kedua manik biru mudanya. "Penjelasan apa? Bukannya sekarang adil? Dia sudah tahu kalau aku juga menyukaimu dan kini kami berdua sedang menunggu jawabanmu. Kenapa hanya dia yang akan mendapatkan jawaban? Apakah itu artinya..." Armin meringis pelan. "Kau memilih Eren?"
"Bukan begitu. Aku tadi bahkan belum mengiyakan ajakannya dan belum bilang akan memberikan keputusannya besok!" Jawabmu cepat.
Armin tersenyum miris. "Belum... dan kamu menjawabnya tanpa sadar...?"
Kau menutup mulutmu dengan kedua tanganmu. Ya, benar tadi kau menjawab pertanyaan Armin dengan apa yang terpikir saat itu. Tapi...
"Ak.. Aku... sendiri tidak tahu... Ar..." Gumammu sedih. Armin mengambilkan segelas air putih untukmu lalu kau menyuruhmu meminumnya. Rasanya perasaanmu agak sedikit lega setelah minum air putih. Armin menggenggam tanganmu dan menuntunmu kembali ke pun kembali pada posisi semula, duduk berhadapan di kotatsu di kamarmu. Kali ini tanpa kertas-kertas maupun buku-buku matematika. Semuanya sudah dibereskan.
Armin membuka percakapan, "(your name), jika aku tiba-tiba pindah dan tidak lagi tinggal di sisimu, apakah kira-kira yang akan terjadi dengan dirimu?" Tanya Armin serius.
Kau terdiam. Berpikir. "Aku tidak ingin membayangkannya, Ar..." Jawabmu lirih.
"Itu pasti akan terjadi, (your name). Bahkan jika akhirnya kau akan menikah denganku sekalipun, itu pasti terjadi. Kumohon, coba bayangkan sekarang." Pintanya. Mendengar kata menikah dari Armin membuatmu sedikit malu, tapi akhirnya kau mencoba membayangkannya.
"Aku... akan merasa sangat kehilanganmu, Ar... Tidak ada lagi yang akan membuat hidupku bisa lebih rapi dan terasa tenang, hahaha..." Jawabmu sambil tersenyum kecil. Memandang mata Armin.
Mata itu menunjukkan ia sama sekali tidak puas dengan jawabanmu.
"Jika itu Eren... yang akan meninggalkanmu?" Tanya Armin lagi.
Kau kaget dan tiba-tiba menggebrak kotatsu-mu. "Tidak akan! Ia bilang ia akan masuk universitas yang sama denganku walaupun jurusannya berbeda! Bahkan jika aku berhasil mendapatkan beasiswa ke luar negeri ia akan sekeras mungkin menyusulku. Keras kepala sekali kan, anak itu, Ar?" Jawabmu cepat.
"Tapi, jika ia yang mendapatkan beasiswa ke luar negeri itu sendirian... Aku mungkin tidak akan bisa memaksa mengikutinya... Tapi aku akan sangat merasa kehilangan. Sekalipun ia suka meracau... tapi rasanya tidak enak sekali tanpa Eren. Dia membuat...ku selalu kembali senang disaat aku marah... sedih... dan sulit... Walau kadang dia sendirilah penyebabnya... Dan..."
Tanpa sadar air matamu menetes.
Armin menghela nafas lalu tersenyum miris. "Kenapa aku selalu begitu baik kepada semua orang ya?"
Kau memeluk Armin, lalu menangis dalam dekapannya. "Maafkan aku Ar... Maafkan Aku... Maaf..."
Armin mengelus rambutmu dan memeluk dirimu balik. Kotatsu itu cukup kecil sehingga kau dan Armin dapat berpelukan. Tapi Armin cukup tahu diri setelah ditolak secara tidak langsung dan melepaskan pelukan itu. Menyodorkan sapu tangannya padamu agar kau segera menghentikan tangismu dan mengusap air matamu. Susah payah kau hentikan tangis rasa bersalahmu kepada Armin itu.
"Oh ya, (your name). Apa tidak sebaiknya kau telepon Eren sekarang? Menurutku jika ia benar-benar menyukaimu pasti sekarang ia sedang khawatir setengah mati karena mengetahui ada pemuda yang menyukaimu sedang berdua denganmu... Yah kalau aku sih pasti begitu..." Saran Armin. Kau mengangguk pelan lalu meraih ponselmu yang terjatuh ke lantai saat kau berpelukan dengan Armin. Rupanya sudah banyak missed call dari Eren yang tidak didengarnya karena volume deringnya terlampau kecil.
Tuuuut... Tuuut...
Kau menatap Armin heran. Kok tumben ponsel Eren tidak diangkat? Padahal ia kan siap sedia 24 jam dengan ponselnya. Kau pun mencoba meneleponnya. Lagi... lagi.. lagi... tapi tetap tidak diangkat.
Pikiran-pikiran negatif mulai merasuki benakmu. "Oh ayolah Eren... Kamu..."
"(your name)! Ada apa? Kau diapakan oleh si Amin amin itu?!" Teriakan Eren terdengar samar di telingamu. Telepon itu tersambung. Tapi lingkungan di sekitarnya sungguh bising sehingga suara Eren yang keras itu hanya terdengar samar.
"Eren! Akhirnya! Aku tidak apa-apa!" Jawabmu riang.
"Apanya yang akhirnya? Kau yang sulit sekali dihubungi sampai aku penasaran setengah hisup dan rela dingin-dingin pergi... Eh. Lupakan. Kau benar-benar tidak apa-apa kan?" Tanya Eren lagi. Kali ini terdengar agak kaku karena bahasa gaul yang biasa digunakannya digantinya untuk menyesuaikan panggilan aku-kamu darimu.
Kau tertawa ringan. "Tidak apa-apa. Apa tadi kau bilang? Pergi? Pergi kemana?"
"Lupakan kubilang! Aku..."
"Oi! Jangan menelepon di jalan! Gue mau lewat nih! Jalan! Buruan!"
Kau mengernyitkan alismu. Eren ada di jalan?
Suara deru motor terdengar cukup keras di telepon. Lalu tak lama kemudian berhenti. Tampaknya Eren tadi ada di jalanan dan sekarang sudah menepi.
"Eren, jangan bilang kamu lagi dalam perjalanan ke rumahku?" Tanyamu khawatir.
Eren tertawa. "Ya kali! Nggak lah... Gue mau ke rumah tetangga lo itu buat nyulik adeknya yang cantik itu sebagai ganti lo yang udah diambil sama dia."
Kau tersentak. "Serius?!"
Tawa Eren semakin keras. "Ya enggaklah! Gue bercanda! Tadinya gue emang khawatir berat dan pengen nyusul ke rumah lo—nih udah di perjalanan—tapi kalo lo baik-baik aja... Eh tapi usir dulu gih si Amin amin itu. Gue tetep ga tenang!"
Kau diam. Sedikit gusar karena Eren membohongimu tapi itu memang khasnya. Bercandanya kadang kelewatan.
"Eh... Tadi dia bilang dia suka sama lo juga... Tunggu... Jangan-jangan malah gue yang lagi ganggu kalian... Oh... Mm.. Oke. Sorry. Gue paham."
Sesak rasanya. Padahal pemuda beriris zamrud itu sudah mengkhawatirkanmu setengah mati tapi kalau ternyata kamu memang menerima Armin...? Begitulah yang dirasakan Eren.
"Ren... Besok... Aku terima ajakan kamu sepulang try out dan... Kita bakalan pesta kecil buat ngerayain lepasnya status single-ku.. dan selesai try out tentu. Oke? Aku tidak merayakan valentine dengan Armin, aku akan menjawab pernyataanmu besok. Pulanglah."
Lalu pip pip pip. Kau memutuskan sambungan teleponnya. Meninggalkan Eren di pinggir jalan yang sedang terdiam tidak percaya dengan ucapanmu, dimana ia mengira kau dengan tega menghabiskan valentine dengannya hanya untuk menolaknya.
.
.
.
Harga diri Eren Jaeger itu jauh lebih tinggi dari puncak Tokyo Sky Tree.
Padahal hari ini valentine, hari kasih sayang, hari yang seharusnya digunakan untuk bersama dengan orang-orang yang disayangi. Kesimpulannya, hari yang (seharusnya) bahagia. Tapi pemuda beriris zamrud itu teringat kembali kejadian semalam. Satu malam sebelum try out matematika dilaksanakan hari ini, ia khawatir setengah mati pada gadis yang disukainya yang kabarnya sedang berduaan dengan cowok yang entah bagaimana wujudnya itu. Dan cowok itu menyukai gadis yang disukai Eren. Radar di kepalanya langsung berbunyi kencang menandakan bahaya tengah terjadi. Ia langsung tancap gas menuju rumah gadis itu dan gadis itu menghencurkan hatinya ketika ia menerima telepon darinya di tengah jalan.
Gadis itu meneleponnya untuk menerima ajakan kencannya malam ini namun dengan tagline 'Pesta kecil pelepasan status single sang gadis dan selesainya try out tahap dua'.
Gigi putihnya menggeram. Tidak menyangka bahwa gadis yang sangat disukainya walau sedikit gengsi diakuinya itu tega-teganya mengajaknya pesta setelah jadian dengan cowok yang tak dikenalnya—alias menolak sang Jaeger secara tidak langsung.
Itulah pemikiran yang mengusik pemuda berambut coklat itu selagi membulatkan jawaban di lembar jawaban try out matematika sekarang.
Jahat ya? Ya, gadis itu adalah kamu.
Tidak peduli lagi berapa bulatan di lembar jawaban yang sudah terisi, bel tanda selesai ujian pun berbunyi. Eren tersenyum puas. Ini cuma try out, bisik setan kecil dalam hatinya. Yang jelas Eren tersenyum puas ketika tiga belas gambar voodo dirimu dan voodo Armin—yang jelas-jelas dikarangnya habis-habisan karena tidak tahu Armin seperti apa—telah terlukis dengan indahnya di kertas soal. Psikopat? Bisa jadi. Serem juga. Tapi ya akhirnya Eren buru-buru menghapus voodo Armin ketika guru pengawas berjalan menuju mejanya tapi membiarkan voodo dirimu yang menurutnya cantik. Tepat ketika guru itu datang, Eren buru-buru menamai kertas soalnya agar kelak dapat kembali kepada dirinya karena soal-soal itu memang akan dibagikan kembali untuk latihan menjelang UN.
Ah, lucunya. Pemuda beriris zamrud itu memang benar-benar menyukaimu.
Eren merapikan alat tulisnya lalu beranjak keluar dari kelasnya... yang sayangnya sudah diblokir oleh beberapa gadis. Jean yang ada di belakang Eren sudah nyengir kuda karena merasa antrian itu untuk dirinya, tapi ternyata gadis berkacamata dengan rambut coklat kemerahan lurus sebahu—yang manis—yang ada di barisan paling depan malah memberikan Eren cokelat.
Ya don't say that a bunch of girls in front of us is waiting for ya, Jaeger?
Eren mengangkat bahu, tidak peduli dengan pertanyaan retoris Jean.
HELL. Jean menampik antrian itu dengan tatapan kucing garong yang kelaparan—akan cinta—dan mencari-cari pacarnya. Eren mengikuti di belakang Jean dengan ucapan minta maaf sepanjang antrian karena pemuda itu memang benar-benar tidak suka cokelat—terutama COKELAT SUSU!—kecuali dark chocolate atau cokelat pahit. Gadis-gadis itu tidak menyerah dan tetap mengejar Eren yang terpaksa berlari menghindari mereka. Untungnya Jean yang setia kawan—baca: mengambil kesempatan dalam kesempitan—berinisiatif menahan amukan massa gadis-gadis itu dan mengambil satu per satu kotak cokelat dengan mengatakan akan memberikannya ke Eren.
Kelihatannya agak kufur nikmat sih ya menolak cokelat yang cukup banyak padahal bisa dijual lagi itu, tapi Eren tidak ingin memberikan secuil pun harapan kepada gadis-gadis yang tidak disukainya. Tak peduli ia dikatakan berhati dingin, kejam, dan tirani oleh Jean. Biasa. Eren langsung tancap gas dari situ ke parkiran untuk meraih motornya tercinta, secepatnya, kabur dari sekolah!
Wajah Eren langsung berlipat ketika menemukan motornya tidak bisa keluar karena dihalangi motor Rivaille, guru baru di sekolah. Sebenarnya mudah saja, Rivaille ada di situ, kok. Hanya saja ia sedang kewalahan memasukkan cokelat-cokelat valentine yang diterimanya ke dalam tas kerjanya—yang sebenarnya cukup besar—tapi kurang besar untuk menampung semua cokelat.
"Permisi... Pak... Motor saya mau keluar..." Tegur Eren pelan. Rivaille menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu memandangi muridnya itu dengan tajam. Eren jadi sedikit salah tingkah.
Tangan atletis guru perancis itu berhenti memasukkan cokelat terakhir ke dalam tasnya, lalu memberikannya ke Eren. "Kamu kelihatannya belum dapat cokelat ya, hari ini. Nih, Bapak bagi satu. Udah nggak muat lagi di tas Bapak." Dan untungnya cokelat itu dark chocolate. Eren kan nggak enak kalau menolak pemberian gurunya.
Tapi kesal juga, sih. Berasa homo. Sekali lagi, Eren nerima ini dengan ikhlas karena ini dark chocolate, plis. Itu aja. Dan dengan menerimanya tidak memberikan sedikit harapan terhadap gurunya, kan? Kan ga mungkin gurunya itu homo, alias suka sama dia.
"Makasih, pak. Ga nyangka ternyata ada juga yang punya nyali buat ngasih Bapak cokelat. Kirain bakal Bapak tolak semua." Celetuk Eren, bercanda. Ternyata masih punya nyali juga dia ngajak Rivaille bercanda.
Rivaille yang sedang memindahkan motornya berhenti. Memandang Eren tajam, lagi.
"Ini buat istri saya di rumah. Dia suka eksperimen pake macam-macam cokelat dan malah menyuruh saya mengambil semua cokelat yang diberikan pada saya." Jelas Rivaille. Oh, oh, ternyata dia udah punya istri /3.
Eren mengangguk-angguk lega sampai sebuah teriakan terdengar di telinganya.
"EREN JAEGER!" "SIR RIVAILLE!"
"Mampus! Mesti cabut secepatnya nih!" Umpat Eren mulai panik. Ia langsung lompat ke motor begitu menyadari bahwa Rivaille sudah tancap gas ke gerbang luar sekolah. Mengabaikan uang parkir yang ditagih satpam, Eren melaju dengan kecepatan setinggi-tingginya yang ia bisa dan menghindar dari kerumunan gadis ganas yang ingin memberinya cokelat.
Kalau kamu tau gimana ya? Pikir Eren.
Ah, ngapain mikirin orang yang udah nyakitin hati. Mending pulang, lalu bermalas-malasan di rumah karena besok libur. Tekad Eren.
Sementara itu kau sedang membuka pintu Starbucks tempat kau dan Eren biasa nongkrong dan berhadapan dengan senyum manis sang pelayan.
.
.
.
.
Valentine untuk Armin adalah suatu hal yang menjengkelkan, selama ia ada di sekolah. Hari itu biasanya para gadis akan memberikan cokelat kepada orang yang disukainya, dan para pria tinggal menunggu gadis-gadis itu datang dengan senyum manis membawakan cokelat. Bohong bila Armin tidak begitu. Ia juga pria biasa yang ingin mendapatkan cokelat dari wanita—walaupun tidak disukainya—walaupun ia sendiri masuk ke dalam kategori cowok manis.
Namun harapan itu pupus hari ini. Yah, beberapa anak perempuan ada yang memberinya cokelat persahabatan kecil—untuk sekelas atau satu klub—tapi yang didapatnya hari ini kebanyakan adalah lirikan-lirikan tak senonoh dari berbagai lelaki yang sengaja bolak-balik hanya untuk memberinya kode untuk memberikan cokelat ke mereka. MAAF, ARMIN MASIH LURUS.
Armin cepat-cepat pulang dengan hati remuk redam menahan muntah berharap cokelat Christa di rumah dapat menyembuhkan mata sucinya.
Soalnya dia tidak mungkin lagi, kan, mengharapkan cokelat darimu?
Pemuda manis itu berlari secepat mungkin setelah keluar dari stasiun menuju ke rumahnya. Merasa harus segera bertemu dengan malaikat kecilnya dengan cokelat yang manis di rumah, seakan kesialannya hari ini sudah mencapai ambang batas empat puluh derajat suhu tubuh manusia. Dan ternyata memang belum cukup, karena di tengah perjalanan itu ia hampir saja diserempet sebuah motor gede yang berjalan oleng karena bawaannya tumpah kemana-mana. Kotak-kotak cokelat pun bertaburan di jalan.
"Eh! Maaf! Aduh, kok cokelat-cokelat ini jadi nyusahin!" Pria yang mengendarai motor itu pun menghentikan motornya dan bergegas menyelamatkan Armin, dibandingkan menyelamatkan cokelat-cokelatnya yang berserakan.
Armin tersenyum karena pengemudi motor ini rupanya bertanggung jawab. "Aku tidak apa-apa. Sebelum jatuh tadi malah sempat menimpa salah satu cokelatmu yang jatuh sehingga tidak jadi lecet. Maaf jadi penyok salah satu cokelatnya..." Armin pun membantu pemuda berambut cokelat susu itu memunguti cokelat-cokelat lain yang terjatuh.
Dan tangannya terhenti ketika membaca kartu ucapan yang ditempelkan di bungkus cokelat yang ditimpanya tadi. To : Eren Jaeger.
"Makasih udah mau bantuin gue ngambilin cokelat-cokelat ini. Lo mau pulang ke rumah? Rumah lo deket ga? Sini, biar gue anterin aja dari pada nanti lo keringetan kan..." Nada pemuda berambut cokelat susu yang agak mirip kuda itu mulai terdengar merayu. Biasanya Armin akan marah disangka cewek dan dirayu atau malah dirayu walau tahu kalau ia cowok. Tapi pemuda manis dengan iris biru cemerlang itu terlalu terkejut dengan kartu di cokelat milik si pemuda pengemudi motor itu.
"Kamu... Eren Jaeger?" Tanya Armin sambil menatap pemuda itu tajam.
Pemuda itu mendelik kesal. "Ya kali gue Eren? Ih ogah deh gue disamain sama si dodol itu. Gue Jean Kirschtein. Oke—gue sobatnya. Tapi jangan bilang kalo lo mau ngasih cokelat ke Eren? Muak gue. Tapi kalo ngasih ke gue, ehehe... Siap bos. Gue gabakalan buang sia-sia cokelat dari lo... Atau malah mau makan bareng langsung aja tuh cokelat di sini?" Rayu Jean, ngegas abis.
EMANGNYA COWOK INI GABISA LIAT APA KALO ARMIN GAPUNYA DADA? PLIS.
Setidaknya tolong sadarilah Armin pakai celana panjang kok!
Gusar, Armin menahan emosinya dengan mengepal tangan, menunduk, wajahnya pun mulai memerah. Jean terkekeh karena merasa telah berhasil membuat orang di depannya ini blushing dengan rayuannya. Dengan geram, Armin meraih kedua tangan Jean lalu menaruh tangan kiri Jean di dadanya yang rata dan tangan kanan Jean di ... antara selangkangannya.
"Hai, gue cowok, plis. Gue lelah menjelaskannya dengan kata-kata." Rupanya Armin segitu marahnya sampai pake bahasa gaul.
Sudah, sudah, cukup fanservice-nya. Author sendiri udah ga nahan.
"Kenapa cokelat-cokelatnya Eren kamu yang bawa, deh?" Tanya Armin kepo.
Jean rada salah tingkah karena bahasa Aku-Kamu Armin, walau tau dia cowok tulen. "Dia cabut entah kemana buat ngehindar dari para cewek. Aneh emang, lebih pilih TV dari cewek-cewek itu. Mungkin karena abis sakit hati kali ya kemaren abis ditolak secara ga langsung sama cewek yang dia suka." Astaga Jean ember bocorin Love-life Eren. "Eh btw lo kenal Eren?"
"Namaku Armin Arlelt. Sahabatnya temen les Eren Jaeger, (your name). Ng... yah aku juga tahu soal hubungan... mereka... tapi setahuku (your name)... err... suka kok sama Eren. Kenapa ditolak... secara nggak langsung?" Tanya Armin ragu-ragu.
Mata Jean membelalak dan jemari telunjuknya menunjuk Armin. "OH! Jadi lo Armin yang suka juga sama (your name) itu! Eren cerita semuanya ke gue! Wah jadi elo yang bikin sohib gue patah hati? Anj*r, manis banget... EH." Komentar Jean, offside. Armin cemberut, jengkel abis.
"Jadi dia sekarang lagi males-malesan nonton TV? Eh tahu nggak itu (your name) lagi nungguin dia di Starbucks! Dia salah paham! (your name) itu... Yah... Sebenernya suka sama dia! Aku yang patah hati kok sekarang dia yang menyia-nyiakan (your name)!" Ujar Armin geram.
Dengan sigap, Jean mengeluarkan ponselnya dan menelepon Eren sambil marah- marah dan menjelaskan semua—kecuali di bagian ia merayu Armin. Tadinya Jean sudah oper-operan ponsel dengan Armin karena merasa belum begitu paham masalahnya tapi pemuda manis itu sama sekali tidak mau bicara dengan Eren.
Tapi nyatanya ia membantunya .
Dan pemuda beriris zamrud di seberang telepon Jean sedang berteriak-teriak kesal sambil berterima kasih, tampaknya sedang melepas seragam sekolahnya dan mencari-cari baju yang pantas.
.
.
.
Starbucks, 18.00 pm
.
.
.
"Abis diperkosa siapa, mas? Jean ya?" Sambutmu dengan mimik cemberut ketika mendapati Eren baru tiba tiga jam setelah jam yang telah ditentukannya sendiri dengan penampilan... cukup acak-acakan. Tapi seksi.
Eren menghela napas lelah dan duduk di hadapanmu. Kau tersenyum lalu merapikan rambutnya yang agak berantakan. "Iya, love-life gue semua dibeberin ke tetangga lo itu, Amin amin itu."
Kau tertawa cekikikan mendengarnya, walau agak aneh karena Jean kok bisa tahu Armin. "Kalau nggak bisa pasang dasi biasa, jangan paksain sok necis segala deh. Pakai dasi kok berantakan sih." Kau merapikan dasi Eren yang diikat asal-asalan.
Eren tersenyum salah tingkah. "Jadi... mana cokelat gue?" Tanyanya malu-malu.
Kau menatap Eren bingung. "Lho, jadi lo nggak salah paham? Padahal gue sengaja bikin lo ngira kalo gue udah jadian sama Armin, padahal nggak." Akumu jujur.
"Jadi itu beneran?! Jahatnya..." Gumam Eren sambil menggelengkan kepala. "Yaudahlah, cokelatnya mana?"
Kau tertawa renyah. "Pasti hari ini cokelat-cokelat dari cewek lain ditolak. Dasar gengsi. Akibatnya jadi haus akan cokelat, kan?"
"Lagian nggak ada yang dark chocolate juga." Eren beralasan. "Mana cokelatku... mana cokelatku..."
Kau tersenyum penuh arti. Mengeluarkan sebungkus cokelat dari dalam tas jinjingmu. Sebatang Dark chocolate tujuh sentimeter. Kau buka bungkus yang melapisi cokelat itu perlahan.
"Yah? Kok dibukain sih cokelatnya? Padahal mau dipajang di freezer dan dimakannya di saat-saat spesial aja." Aku Eren. Kau tertawa geli.
Bungkus emas cokelat itu pun sukses dibuka. "Yakin nggak mau dimakan sekarang?" Kau pun menggigit ujung batang cokelat tersebut dan mendekatkannya ke wajah Eren. Tampak wajah pemuda itu sama merah padamnya denganmu karena malu.
.
.
.
Eren mendekatkan bibirnya ke telingamu.
"Hei, ternyata kamu bisa menggoda juga, ya..."
.
.
.
Lalu kedua bibir merah itu bertautan setelah habis cokelat yang menjadi pemisah kedua bibir mereka.
.
.
.
.
Starbucks, 20.00 pm
.
.
.
.
Tanganmu yang kedinginan oleh salju yang turun di malam valentine ini digenggam erat oleh Eren, pemuda yang kau pilih. Rona hangat muncul di pipimu. Bahagia. Pelayan mengucapkan terima kasih banyak kepada kalian dan kalian keluar dari kafe itu dengan beberapa pasang mata memandang dengan aneh, mengingat ciuman yang tadi kalian lakukan di dalam.
"Oh iya, lo kelupaan satu hal, (your name)." Eren mengingatkan.
"Hah? Apa? Dompet? Untung belum jauh, ayo kembali!" Ajakmu sambil menarik tangan Eren ke arah yang berlawanan.
"Bukan, cokelat sudah, pelukan sudah, ci... ciuman sudah..." Eren terhenti sebentar. "Tapi ada satu ucapan yang belum diucapkan. Lo nggak lagi main-main sama gue kan, (your name)?" Selidik Eren.
Kau tertawa mendengar permintaan Eren. "Apakah cinta harus diwujudkan dengan kata-kata juga? Yah... Kalau begitu..."
.
.
.
"Aku mencintaimu juga, Eren Jaeger. Sangat, asal kau tahu."
.
.
.
.
A/N : Gomen nasaaaai minna-samaaaaaa
Ya ampun ini telat abis rencananya mau bikin pas valentine. Ini semua gara2 dat damn ulangan2 huh. /mengambinghitamkan ulangan
Anyway, yang Armin itu melodrama banget ya..? Ini sudah berusaha Yuki perbaiki supaya nggak drama banget kalau ada yang kurang sreg tulis aja di review ya minna, ini untuk peningkatan mutu chapter selanjutnya juga Terima kasih~~!
