.
Apakah di masa depan kita masih bisa terus bersama dengan bergandengan tangan?
.
.
.
.
.
Harta & Tahta
oleh Angchin
Gundam Seed/SD (c) Sunrise, Bandai.
[AU]. OOC. OC. Family. Drama. Crime. Romance. Hurt/Comfort. Typo. Didominasi dengan teknik penulisan "suka-suka gue", serta kata plus kalimat kasar.
FANFICT INI HANYALAH FIKTIF BELAKA!
Dilarang plagiat & jangan meng-copy fanfic ini ya...
DLDR!
Terima kasih dari saya kepada Fuyu Aki, sehingga saya berpikiran untuk membuat Bab ini :) Bab yang sebelumnya nggak pernah saya perhitungkan akan saya buat saat saya memutuskan membuat FF ini pertama kali :)) Yap! Anggota keluarga Zala akhirnya berkumpul dan makan di satu meja yang sama!
Bab 6: BERKUMPUL
Rolle, Swiss
TIDAK pernah terpikirkan oleh Jianluca Hibiki Zala bahwa ia akan dimasukkan ke sekolah asrama termahal di dunia—sebuah Institut yang mencakup SD, SMP dan SMA—yaitu La Rosey. Sang kakek Patrick Zala-lah yang berkeras bahwa ia mesti mendapatkan pendidikan dengan fasilitas mewah dan terbaik. Hingga akhirnya tahun lalu Jian resmi menyandang sebagai siswa di sekolah tersebut.
Ya, Institut La Rosey adalah sebuah sekolah asrama, dan tak Jian pungkiri sedikitpun kalau sekolah yang areanya terdiri dari kastil, lapangan, hutan, dan berbagai tempat untuk aktivitas outdoor dengan fasilitasnya yang serba modern itu adalah sekolah terbaik.
Tetapi semenjak Jian menyadari dirinya merupakan cicit dari seorang Don, tinggal dalam sebuah ruangan kamar asrama menurutnya tidaklah efisien.
Setiap minggu terakhir dalam satu bulan Don Athha selalu mengirimi Jian surat permintaan berkunjung ke Sisilia—entah itu permintaan untuk menemani sang Don menemui rekan bisnis atau sekadar kunjungan biasa ke rumah orang-orang di desa Montelepre—dan sang Don selalu mengutus salah seorang prajuritnya dari Sisilia untuk menyampaikan pesan itu kepadanya.
Memang sejauh ini belum pernah terjadi masalah ketika para prajurit Don Athha datang ke kamarnya saat malam hari, Jian bahkan kagum para prajurit itu bisa dengan mudah melewati penjagaan ketat La Rosey dan menyelinap masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua gedung melalui jendela. Tetapi lambat-laun Jian sadar tindakan orang-orang suruhan sang Don itu rentan. Ya, kalau sampai ada orang-orang di La Rosey memergoki kegiatan mereka, sudah pasti hal itu akan menyulitkan dirinya.
Jian berpikir akan lebih baik bila dirinya tinggal di tempat yang terpisah dengan La Rosey tetapi tetap bersekolah di sana, jadi ia mengusulkan hal itu dan Don Athha dengan tanpa keberatan sedikitpun menerima gagasan Jian. Sang Don pun akhirnya memutuskan membelikan Jian rumah di kota Rolle.
Kini sudah seminggu berlalu sejak Jian menempati manor yang dibelikan Don Athha. Dan sampai sejauh ini pun tidak ada guru-guru yang menyadari ruangan kamar Jian di asrama La Rosey kosong. Itu karena kelihaian Jian menyelinap melalui gerbang usang di taman belakang sekolah ketika datang dan pergi dari La Rosey.
Seperti pagi ini, Jian baru saja memasuki area La Rosey dengan melewati gerbang usang di taman belakang. Ia berjalan dengan langkah biasa, dengan pandangan mata diarahkan sekilas ke jam yang tertera pada layar ponsel di genggamannya. Jian mendapati waktu tengah menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh lima menit.
Aku terlambat, pikir Jian. Tetapi walaupun telah menyadari dirinya sudah pasti terlambat masuk kelas, Jian tetap tak mempercepat laju jalannya dan malah tersenyum. Siapa juga yang peduli kalau aku terlambat? Karena aku akan kembali membolos. Jian mengangguk penuh tekad ketika memikirkan ide itu. Sejak berangkat dari manor sepuluh menit yang lalu ia memang tidak berniat mengikuti pelajaran di kelas, karena alasan ia datang ke La Rosey hanyalah untuk memastikan keberadaannya pada guru-guru, dan juga, karena ia ingin melihat Jenny Joule.
Lagi pula, apalagi yang Jian butuhkan dari mengikuti pelajaran? Jian tidak pernah merasa kesulitan untuk mengetahui jawaban-jawaban dari semua soal yang pernah diberikan guru-gurunya dari semua mata pelajaran. Seandainya saja guru-guru itu tahu Jian pernah meretas website La Rosey hanya untuk merevisi artikel terkait metode pembelajaran terhadap siswa dan menyelipkan artikel baru seperti cara menghitung cepat matematika, mereka pasti tidak akan berkeras meremehkan serta membawa dirinya ke konselor.
Bahkan, kalau ingin membuat mereka lebih terkesan lagi, Jian hanya perlu memamerkan prestasinya dalam menulis berbagai macam program komputer yang telah mengalirkan jutaan pound dari rekening-rekening Inggris ke rekening pribadinya, juga kehebatannya yang beberapa bulan lalu memenangkan turnamen Bridge online dengan mengalahkan Silvio Hahnenfuss, pebridge terbaik Rusia. Semua itu dilakukannya dengan menggunakan nama samaran Croccifixio a.k.a 'Cross'.
Tapi Jian tak berniat menggembar-gemborkan kehebatan dirinya. Ia senantiasa mengingat perkataan Don Athha di masa lalu yang menasihatinya; 'Jian, semakin sedikit orang-orang mengetahui jati dirimu sesungguhnya, semakin mereka terkecoh maka itu akan semakin baik. Selalu waspada, jangan biarkan musuh-musuhmu mengetahui setiap titik-titik dalam dirimu'. Dan kata-kata itu selalu menjadi pegangan Jian, sampai saat ini.
"Jian!"
Jian menengadah dari pemandangan taman di depan tubuhnya, menolehkan kepala ke arah kanan tubuhnya saat mendengar suara seseorang yang baru saja memanggilnya. Seketika ia menghentikan langkah ketika mata hijaunya menangkap sosok seorang perempuan berambut coklat sebahu dan berkacamata telah berdiri beberapa meter di sampingnya. Jian langsung mengenali perempuan itu. "Jenny?"
"Kau darimana saja, sih?" tanya Jenny dengan menampakkan ekspresi sedikit kesal seraya berjalan mendekati Jian. "Seluruh orang di kelas gempar karena ketidakhadiranmu hari ini. Sebaiknya kau segera ke kelas sekarang!"
Jian mengernyitkan dahi. Ketidakhadirannya dapat membuat orang-orang di kelas gempar merupakan sesuatu yang tidak biasa baginya. "Kupikir diriku salah satu orang tidak penting di kelas, jadi mustahil ketidakhadiranku dapat membuat kegemparan. Apa yang terjadi, Jen?"
Jenny menghela napas. "Aku tidak akan memberitahumu, lebih baik kau lihat dengan mata kepalamu sendiri. Ayo ikut aku!"
Tidak ada waktu bagi Jian untuk membalas perkataan Jenny karena tiba-tiba saja gadis remaja itu meraih salah satu tangannya, menarik paksa tubuhnya agar mengikuti berjalan dengan langkah cepat. Mereka menjauhi taman, bergegas memasuki salah satu gedung yang letaknya paling pinggir dari deretan gedung lainnya yang ada di sekolah La Rosey.
Jian kembali mengernyit memikirkan sikap Jenny sedari tadi terhadapnya, yang tanpa alasan jelas menarik dirinya dengan pegangan erat di tangan seolah-olah ia pencuri yang baru saja diringkus dan hendak dibawa ke kantor polisi. Jian merasakan firasat tidak enak.
"Jen, tidak bisakah kita berjalan dengan langkah santai saja?" kata Jian, tidak tahan untuk tidak membuka mulut. Mereka kini tengah melintasi koridor lantai dasar sekolah yang sepi.
Jenny melirik sekilas ke arah Jian yang berada di belakang tubuhnya. "Tidak bisa," jawabnya mantap. "Aku diberi tugas ini oleh Ms. Flay, untuk menemukan dan membawamu ke kelas. 'Jangan sampai kabur' pesannya padaku."
"Kabur?" Jian menelan ludah. "Astaga, aku benar-benar menganggap diriku makhluk buruan sekarang. Terlebih, kau menyebut 'Ms. Flay', apa lagi yang akan tersisa dariku sesampai di kelas? Kurasa dia akan mencincangku, karena kegemparan yang kata kau disebabkan olehku. Sudah pasti."
"Sudah pasti?" Jenny mengangkat sebelah alis. "Kenapa kau seyakin itu?"
"Aku tidak bisa mengabaikan fakta bahwa aku memiliki segudang masalah di sekolah ini," Jian berdecak. "Jadi apa yang hendak mereka tuntut dariku, Jen? Ganti rugi kaca jendela di samping meja Nancy Campbell yang kupecahkan beberapa waktu lalu? Atau—semoga bukan yang ini—mereka mengecamku karena aku beropini tentang wajah ibunya Nancy yang operasi plastik?"
"Aku benar-benar tidak tahan ingin mengatakannya padamu," lagi-lagi Jenny menghela napas. "Jian, kenapa sih kau terlalu paranoid? Dari buku yang pernah kubaca di perpustakaan; terlalu berprasangka itu tidak baik buat kesehatan. Sebaiknya mulai dari sekarang kau berhenti berpikiran yang tidak-tidak."
"Wow," Jian pura-pura terkesan. "Sangat tidak biasa kalimat 'nasihat' bisa keluar dari mulut seorang Jenny Joule. Kau begitu perhatian kepadaku, Jen. Apa kau berharap suatu saat nanti aku berumah-tangga denganmu?"
"Pasti butuh pertimbangan penuh untuk mengharapkan membina rumah tangga dengan seseorang seperti dirimu," kata Jenny datar. "Jangankan berharap, membayangkan diriku jadi istrimu saja aku belum sanggup."
"Siapa bilang aku sudah pasti hendak menjadikanmu istriku?" Jian tersenyum miring. "Selalu ada tahapan, Jen. Jikalau pun aku serius ingin berumah-tangga denganmu, tentu saja tahap yang pertama adalah pertunangan, dan setelahnya baru aku ke tahap kedua, yaitu lamaran pernikahan. Kutegaskan sekali lagi; aku akan memulainya dari tahap pertama, dan di tahap itu aku memiliki waktu untuk juga 'mempertimbangkan'. Jadi jangan terlalu percaya diri aku sudah pasti melaju ke tahap kedua, karena penilaian setiap orang selalu bisa berubah."
"Oh?" Jenny menyipitkan mata, merasa teremehkan. "Kalau begitu sebagai perempuan aku akan membuatnya mudah saja; tidak akan membiarkan kau menjalani tahap pertama dan setelahnya, karena aku akan langsung menolakmu bahkan sebelum kau menginjakkan kaki di halaman depan rumahku."
Jian tertawa seketika, sangat puas ketika melihat ekspresi cemberut dari wajah gadis itu. Jian yakin, tidak akan ada yang menyangka percakapan barusan dapat tercipta dari dua orang remaja berusia duabelas tahun. Tidak akan kaget bila itu berasal dari dirinya yang memang memiliki kemampuan berpikir di atas rata-rata orang kebanyakan, tetapi, dari Jenny Joule? Jian benar-benar terkagum, terpesona pada cara gadis itu membalas ucapan-ucapannya. Ia sudah bisa membayangkan akan seperti apa masa depannya kelak bila bersama gadis itu; rumah tangga harmonis yang setiap harinya tidak kaku, tetapi selalu hidup karena dibumbui percakapan-percakapan cerdas tak biasa. Aku harus segera menyuruh Rusty memesan cincin berlian terbaik Afrika Selatan, gagas Jian dalam hati.
Mereka menghentikan langkah ketika telah berdiri tepat di depan sebuah ruangan berpintu ganda putih, ruangan kelas mereka. Walaupun terbatasi dinding, pintu, serta jendela yang tertutup rapat, Jian dan Jenny kini masih bisa mendengar celotehan teman-teman sekelasnya dari dalam ruangan.
"Lihat, penampilannya benar-benar memesona, 'kan?"
"Berlian di cincin milik Ibuku tidak sebesar dan se-berkilau miliknya, kurasa."
"Kupikir yang dia kenakan semuanya barang mahal!"
"Aku benar-benar tidak menyangka Ibunya semuda ini, kira-kira berapa ya umurnya? Dia terlihat seperti masih dua puluh empat!"
"Cara dia berbicara dengan Ms. Flay sangat tenang dan anggun, benar-benar wanita berkelas!"
Dan komentar-komentar para murid dari dalam kelas terus bergema di telinga Jian. Ia bukannya muak mendengar celotehan teman-temannya, ia hanya penasaran, siapa wanita yang tengah dibicarakan mereka?
Memakai barang-barang mahal dan seperti wanita berkelas? pikir Jian. Kupikir itu hanya ditujukan kepada wanita-wanita berpengaruh seperti Aktris, atau…
Jian langsung membelalakkan kedua mata saat ini juga.
"Astaga, jadi benar Ibunya Nancy ada di dalam?" tanya Jian, entah pada Jenny atau pada kehampaan koridor. Ia tidak peduli pertanyaannya tertuju kepada siapa, karena yang ia pedulikan saat ini adalah dirinya sendiri. Ia mesti kabur, karena seingatnya ibunya Nancy, Meer Campbell, adalah seorang aktris, wanita berpengaruh. Merupakan hal buruk bila Nancy benar-benar mengadu pada ibunya. Setidaknya, mereka kemungkinan akan mempermasalahkan opininya tentang wajah Meer dengan membawanya ke jalur hukum atas tuduhan pencemaran nama baik, dan juga sudah pasti akan ada media-media yang mengambil kesempatan untuk membesar-besarkan masalah ini.
Jian menggerakkan kedua kakinya, memutar tubuh dengan gelisah. Tetapi sebelum memulai langkah, ia merasa tangan Jenny meraih lengannya, menahan tubuhnya.
"Mau kemana, kau?" tanya Jenny.
Jian seketika menoleh. "Aku harus pergi, Jen—"
"Tidak boleh!" potong Jenny. Detik berikutnya gadis itu membuka pintu ganda putih di depan tubuhnya dan dengan cekatan langsung menarik tubuh Jian, memasukkan paksa remaja lelaki itu ke dalam ruangan kelas.
Jian tak sempat meloloskan diri dari Jenny karena selagi tangan kanan gadis itu mencengkeram kuat lengannya, ternyata di waktu bersamaan tangan kiri gadis itu juga mencubit kuat pinggang Jian. Ketika telah masuk ke dalam ruangan Jian benar-benar tidak tahan untuk tidak merintih, tetapi pekik kesakitan itu tidak keluar karena tiba-tiba saja terkalahkan oleh rasa terkejutnya.
Mengabaikan desah kaget dari delapan belas murid lain di dalam kelas karena kehadirannya yang tiba-tiba, Jian tidak mendapati dirinya akan menghadapi ibunya Nancy, melainkan melihat seorang wanita berambut pirang duduk di kursi depan meja guru—duduk berhadap-hadapan dengan Ms. Flay. Jian memfokuskan pandangannya ketika memerhatikan wanita yang tengah bercakap-cakap dengan wali kelasnya itu, dan tanpa berpikir lama ia langsung menyadari bahwa wanita berambut pirang itu adalah wanita yang sama dengan wanita yang telah melahirkannya. "Ibu?"
Cagalli seketika menoleh. Wajahnya tak berekspresi, tetapi sorot matanya menyiratkan makna lain ketika menatap Jian. "Kemarilah," ucap wanita itu singkat pada Jian.
Setelah melihat kepergian Jenny ke kursi paling belakang ruang kelas, Jian segera melangkah mendekati meja guru. Sesampainya di sana ia langsung memposisikan diri di samping kanan ibunya, berdiri bergeming.
"Ayo minta maaf pada wali kelasmu," lirih Cagalli, memberi perintah pada Jian.
Jian patuh. Walaupun tidak langsung mengetahui alasan mengapa ia mesti meminta maaf pada Ms. Flay, tetapi Jian paham maksud dari perintah ibunya. Tak bisa dipungkiri ia telah banyak melakukan perbuatan buruk di La Rosey, dan sudah pasti Cagalli mengetahui hal itu. Apalagi baru saja ia datang terlambat ke kelas.
"Saya minta maaf, Ms. Flay," kata Jian, dengan sekilas membungkukkan badan.
Ms. Flay menanggapi permintaan maaf Jian hanya dengan anggukan singkat, kemudian menoleh ke arah Cagalli. "Mrs. Zala, saya mengijinkan bila Anda ingin membawanya, tetapi hanya beberapa jam."
"Itu saja sudah lebih dari cukup," balas Cagalli. Ia berdiri untuk mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Ms. Flay. "Saya sangat berterimakasih."
Ms. Flay juga mengikuti Cagalli berdiri, menjabat uluran tangan wanita berambut pirang itu. "Saya rasa mendapatkan pelajaran dari orangtuanya langsung juga sangat diperlukan."
"Ya," Cagalli mengangguk. "Saya akan menasihatinya nanti. Dan maaf telah membuat Anda beserta guru-guru lainnya repot."
"Tidak, tidak," Ms. Flay menggeleng. "Itu memang sudah tugas kami, mendidiknya semampu kami."
"Baiklah," kata Cagalli. "Kalau begitu saya dan putra saya akan pergi," Ia menoleh ke arah Jian, menepuk pelan pundak remaja itu. "Ayo, Jian, berpamitan pada wali kelasmu."
"Saya permisi pergi, Ms. Flay," kata Jian sopan.
"Ya," balas Ms. Flay.
Setelahnya tidak ada percakapan apa pun lagi yang tercipta di antara mereka bertiga karena Cagalli segera mengajak Jian keluar dari dalam kelas.
Ketika tengah berjalan melintasi koridor Jian mengernyitkan dahi memandang ibunya yang berjalan di depannya. Bukan karena melihat penampilan memukau Cagalli—yang mengenakan celana kulit dan jaket kulit hitam yang terkancing dengan sempurna, memakai jam rado di pergelangan tangan, serta cincin berlian yang melingkari salah satu jarinya—tetapi ia mengernyit karena bertanya-tanya dalam benaknya mengapa ibunya berada di Swiss dan kenapa sekarang hendak membawanya pergi dari La Rosey? Ia benar-benar tidak memprediksinya, karena semuanya terjadi begitu tiba-tiba.
Kernyitan di dahi Jian musnah ketika ia melihat Cagalli menghentikan langkah dan berbalik menghadap dirinya, memandangnya dengan tatapan menyelidik. Jian pun seketika ikut menghentikan langkah, menunduk, merasa ciut dipandangi seperti itu oleh ibunya.
Apakah Ibu berniat memarahiku? Apakah Ibu akan menghukumku? pertanyaan-pertanyaan itu kini berkelebat dalam kepala Jian.
"Tidak seperti yang dikatakan guru-gurumu," ucap Cagalli tiba-tiba. "Mereka bilang, setiap hari kau sangat bersemangat untuk membuat orang-orang kesal. Apa yang terjadi pada putra Ibu? Kau terlihat gugup sekarang."
Terlihat gugup? Jelas! Jian tidak akan pernah lupa seperti apa kepribadian yang dimiliki ibunya, yang sangat tidak suka melihat kecacatan atau hal buruk terjadi di sekitarnya. Jian pernah melihat tatapan dingin Cagalli ketika menegur karyawannya di Vegas, hanya karena resepsionis malang itu salah memberitahukan nomor kamar hotel kosong untuk tamu baru, yang ternyata kamar tersebut sudah ditempati tamu lain. Ya, seingat Jian ibunya sangat disiplin dan tidak menyukai kesalahan sekecil apa pun. Jian benar-benar takut dirinya akan bernasib sama seperti sang resepsionis, setelah ibunya mengetahui dirinya cukup bermasalah di sekolah ini.
"Kau baik-baik saja?" ucap Cagalli lagi, bertanya. "Kalau kau sedang tidak enak badan sebaiknya kau tidak perlu ikut dengan Ibu. Ibu akan mengantarmu ke kamar asramamu."
Jian lega dalam hati ternyata ibunya tidak berniat memarahinya, malah mencemaskannya. Ia cepat-cepat mengangkat wajah dan menggeleng. "Tidak, Bu, aku baik-baik saja," katanya. "Aku hanya…" ia menjeda ucapannya sejenak karena ragu, lalu melanjutkan, "Aku hanya tidak mengira Ibu akan mengunjungiku secara tiba-tiba, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu."
"Ibu minta maaf tidak memberitahumu lebih dulu, karena waktunya sangat terbatas." Cagalli mengangkat sebelah tangan dan mengarahkannya ke pundak Jian. "Kau pasti bertanya-tanya mengapa Ibu berada di sini dan hendak membawamu pergi dari La Rosey. Ibu akan menjelaskannya nanti. Sekarang sebaiknya kita bergegas, karena Ayah dan ketiga adikmu sedang menunggu kita di luar gerbang."
Jian membelalakkan kedua matanya seketika. "Ayah dan Adik-adik juga di sini?"
Cagalli mengangguk. Sekarang ia merangkul Jian. "Ya, dan kita akan makan bersama di bistro yang sudah disewa Ayahmu di dekat danau." Cagalli tersenyum. "Kau rindu pada mereka, 'kan?"
Jian balas mengangguk, terpaksa. Entah mengapa, hal terakhir yang diinginkannya saat ini adalah kabur. Ia sudah berbulan-bulan lamanya tidak bertemu ayah dan ketiga adiknya, jadi ia tidak yakin mesti bersikap bagaimana di hadapan mereka nanti. Kupikir menghadapi Ibunya Nancy adalah hal terburuk, pikirnya. Ternyata tidak, ada yang lebih buruk dari itu… menghadapi Bian, Eve dan Ema secara mendadak? Astaga!
...
Bianica Hibiki Zala tidak henti-hentinya tersenyum ketika memandang ke luar jendela mobil Limusin. Dan senyumannya semakin semringah tatkala ia melihat dua orang yang sudah ditunggu-tunggu dan sangat disayanginya berjalan keluar melewati gerbang sekolah La Rosey. Bian membuka pintu, menggerakkan kedua kaki untuk turun dari Limusin, bergegas menghampiri dua orang yang ternyata adalah ibu dan saudara kembarnya, Jianluca.
"Jian!" teriak Bian selagi berjalan cepat menghampiri ibu dan kakaknya. Setelah sampai di hadapan mereka ia langsung mendekatkan diri ke tubuh Jian, memeluk erat kembarannya itu. "Sekarang kita bersama lagi."
Jian tidak lebih dulu membalas ucapan Bian, ia malah menggerakkan kedua tangannya untuk meraba lengan, punggung, perut serta pinggang Bian yang terlapisi kemeja kotak-kotak warna laut. Akhirnya ia berkomentar, "Sekarang kau lebih kurus dari terakhir kali kita bertemu tiga bulan lalu."
Bian tampak cemberut ketika melepaskan diri dari pelukan. "Sebelumnya kupikir kalimat yang akan kau ucapkan pertama kali saat bertemu lagi denganku adalah pertanyaan 'apa kabar?'," kata Bian merengut. "Ternyata aku salah. Aku malah mendapat komentar tentang keadaan tubuhku darimu."
"Aku tidak menanyakannya karena aku dapat melihat dengan jelas seperti apa dirimu sekarang," ucap Jian. Sorot matanya tiba-tiba berubah protektif memandang Bian. "Pola makanmu teratur, 'kan?"
"Ya," jawab Bian. "Kalau kau tidak percaya kau bisa tanyakan langsung pada Ibu."
Jian menengadah ke wajah Cagalli untuk mendapatkan jawaban pasti, tetapi sebelum bertanya ia melihat ibunya telah mengangguk lebih dulu, yang berarti membenarkan ucapan Bian. Jian kembali menolehkan kepala ke arah Bian. "Baguslah kalau begitu."
"Ayo, kalian berdua," Cagalli menginterupsi kedua remaja itu. "Cepat menuju mobil, Ayah kalian sudah menunggu kita."
Jian dan Bian mengangguk secara bersamaan menanggapi instruksi Cagalli. Mereka memulai langkah, dan ketika tengah berjalan beriringan tiba-tiba saja Bian meraih tangan kiri Jian menggunakan tangan kanannya, menggenggamnya. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan.
"Kau ingat?" ucap Bian. "Dulu saat masih kecil kita selalu bergandengan tangan seperti ini. Saat di dalam mansion mau pun saat bermain di halaman dan kebun anggur."
"Ya, aku ingat."
"Bahkan saat kita berlarian di koridor mansion," Bian tersenyum. "Walaupun aku terkadang kesulitan menyamai langkah larimu, tetapi kau tetap menuntunku. Entah mengapa, sekarang aku jadi rindu masa-masa itu. Bagaimana kalau sekarang kita berlari sampai mobil—"
"Tidak," tolak Jian tegas. "Dengar, Bian, aku akan menuruti apa saja yang kauinginkan, asalkan permintaanmu tidak aneh-aneh dan bukan hal-hal yang dapat membuat tubuhmu menjadi lelah. Keadaan kita dulu dengan sekarang tidak lagi sama, kuharap kau mengerti."
"Sebenarnya terus-menerus dikhawatirkan orang-orang juga melelahkan bagiku." Bian menghela napas. "Tetapi, baiklah, aku mengerti."
Setelahnya tidak ada percakapan apa pun lagi yang berlanjut. Bian menoleh sekilas ke arah wajah Jian, dan ia mendapati ekspresi wajah kakaknya kini tampak cemas. Bian tidak bisa mengetahui hal apa yang sedang dicemaskan Jian, yang bisa ia lakukan hanyalah semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Jian. Menurutnya mereka seharusnya gembira sekarang, mengetahui sebentar lagi keluarga mereka akan bersama-sama secara utuh. Bian benar-benar tidak mengerti apa tengah yang Jian rasakan sekarang.
Sesampainya mereka di dekat mobil Limusin, Cagalli langsung membuka pintu dan masuk lebih dulu, diikuti Jian dan Bian. Saat telah berada di dalam mereka disambut senyuman hangat dari Athrun yang mengenakan setelan jas abu-abu, yang duduk di kursi panjang Limusin. Di samping kedua sisi tubuh Athrun duduk Eveline dan Emaline, yang keduanya sama-sama memakai gaun sutera sepanjang lutut berwarna merah muda yang bagian tengah pinggangnya dihiasi pita-pita kecil, dan rambut biru gelap mereka diikat menjadi satu kepangan penuh hingga menjuntai ke punggung. Kedua gadis cilik itu tampak sinis ketika memerhatikan Jian.
"Ibu, aku tidak ingin dia duduk di sampingku," celetuk Ema.
"Aku juga tidak mau dia duduk di sampingku, Bu," tambah Eve.
"Siapa 'dia' yang kalian maksud?" tanya Cagalli dengan mengangkat sebelah alis.
"Jian!" jawab Eve dan Ema kompak.
Cagalli menghela napas. "Bukankah Ibu sudah mengingatkan kalian berkali-kali? Kalian berdua tidak boleh memanggil kakak kalian hanya dengan nama, kalian harus mengucapkan—"
"Tidak apa-apa, Bu," sela Jian. Ia langsung mengambil posisi duduk di bagian ujung kursi panjang, sebisa mungkin menyingkir dari jangkauan adik-adik perempuannya yang duduk di tengah. "Aku cukup nyaman duduk di sini."
"Kalau begitu biar aku saja yang duduk di samping Jian," kata Bian. Ia duduk di sebelah Jian, yang juga bersebelahan dengan ibunya.
"Sebaiknya kalian tidak perlu ribut-ribut memasalahkan posisi duduk," tegur Athrun. "Toh tujuan kita juga ke tempat yang sama."
"Ayah kalian benar," tambah Cagalli. "Lebih baik sekarang kalian pakai sabuk pengamannya."
"Ya, Bu."
Kedua pasang kembar itu menurut, dan di antara mereka tidak ada lagi yang berani membantah ucapan Athrun mau pun Cagalli. Dominasi kemarahan Athrun dengan Cagalli adalah sesuatu yang tidak diharapkan mereka semua, bagi mereka sekarang diam dan patuh adalah pilihan terbaik.
Ketika Kisaka yang duduk di kursi kemudi mulai melajukan Limusin, Bian kembali mengaitkan tangannya pada tangan Jian. Ia membuka topik pembicaraan, "Dari luar La Rosey terlihat mengagumkan."
"Karena satu-satunya sekolah paling bergengsi di Eropa," sergah Ema. "Saking mengagumkannya menurutku La Rosey sangat tidak cocok diisi murid-murid bodoh dan kurang beradab."
"Apakah murid-murid seperti itu ada di sana?" tanya Eve.
Seketika Ema menoleh ke arah Jian yang sedang melamun memerhatikan pemandangan di balik jendela. Ia memasang senyum miring meremehkan. "Pastinya selalu ada. Walau segelintir, murid-murid seperti itu biasanya hanya bisa membuat masalah dan nilainya tidak pernah bagus dalam ujian."
"Ketika nanti aku bersekolah di sana, kuharap aku tidak bertemu murid-murid menyedihkan seperti itu," harap Eve.
"Semoga saja," tambah Ema.
"Jadi kalian juga menginginkan di La Rosey?" tanya Athrun.
"Ya, Ayah. Aku dan Eve sepakat ingin di sana," jawab Ema.
"Ibu pikir sekolah-sekolah asrama di Inggris juga tidak kalah bagus," kata Cagalli. "Kalian juga bisa mengunjungi kakek dan nenek kalian di sana."
"Kakek Patrick dan Nenek Lenore memang sangat baik, tetapi kami tetap ingin di La Rosey, Bu." Eve bersikukuh.
Dan percakapan antar orangtua dengan anak itu pun terus berlanjut.
Bian memutuskan bergeming setelah tadi mendengar kalimat-kalimat yang dilontarkan Ema. Walaupun menurutnya Jian tidak menyadari kata-kata sindiran Ema, tetapi dengan jelas ia dapat menangkap ke arah mana ucapan adiknya itu. Bian mendekatkan wajah ke telinga Jian dan berbisik, "Tenang saja, saat libur pertengahan tahun nanti aku akan membantumu belajar di mansion. Kita akan buktikan ke mereka kalau kau mampu mendapat nilai bagus."
Jian tiba-tiba tersentak dari lamunan. Ia menoleh kepada Bian seketika. "Apa?"
Bian tertawa kecil. "Astaga, sedari tadi kau tidak mendengarkanku, ya?" Ia kembali mendekatkan wajahnya ke telinga Jian, berbisik, "Kubilang; saat libur pertengahan tahun nanti aku akan membantumu belajar di mansion. Kita akan buktikan ke Ema dan Eve kalau kau mampu mendapat nilai bagus."
"Tidak perlu repot-repot, Bian." Jian berkata sekenanya. "Tapi, terima kasih."
Tak lama kemudian Limusin yang mereka tumpangi sampai di depan sebuah bistro yang sehari sebelumnya telah disewa dan dipesan Athrun agar steril dari pengunjung lain selama dua jam saat anggota keluarga Zala makan di sana. Lokasi bistro tersebut berada di tepi Danau Jenewa, dengan bagian depan restoran mengarah langsung ke kota dan bagian belakang dihiasi jendela kaca besar yang memperlihatkan langsung pemandangan danau. Kisaka memberhentikan Limusin di lahan parkir yang tersedia di samping bistro.
Ketika mesin Limusin telah berhenti sepenuhnya, Bian mengikuti ayah, ibu dan saudara-saudaranya yang lain membuka sabuk pengaman. Ia keluar dari mobil setelah seluruh anggota keluarganya lebih dulu, dengan dituntun Jian. Mereka masuk bersama-sama ke dalam bistro.
"Ayah tidak pernah salah memilih tempat liburan," puji Eve senang.
"Kita bukan sedang liburan, Eve," koreksi Ema. "Kita hanya 'menumpang' makan bersama di kota ini."
"Kau benar," kata Eve cemberut. "Dua jam lagi kita sudah harus bertolak ke Las Vegas."
Seorang laki-laki paruh baya bertubuh gemuk yang merupakan pemilik bistro menyambut kedatangan keluarga terkemuka itu dari pintu masuk, lalu mengantar mereka ke meja bulat paling besar yang berada di tengah-tengah ruangan restoran. Enam kursi sudah tersedia dari baliknya, dan alat makan kuningan tertata dengan rapi di atas meja. Seluruh yang ada dalam restoran tersebut tampak kemilau dengan nuansa warna emas.
Setelah seluruh anggota keluarga Zala duduk di kursi yang telah disediakan, salah seorang pramusaji pria bergantian dengan sang pemilik bistro mendatangi Cagalli dan Athrun. Ia menyerahkan sebuah buku menu kepada pasangan suami-istri tersebut.
"Izinkan saya mengenalkan menu terbaik di restoran ini, Ma'am," kata pramusaji itu pada Cagalli. "Pertama-tama ada berner platte; hidangan daging khas Bernese. Zürcher geschnetzeltes; daging sapi yang dimasak dengan jamur, bawang, anggur dan krim, sangat cocok dimakan dengan rösti; kentang setengah matang yang diparut kasar dan digoreng dengan ukuran besar. Lalu ada—"
"Saya sudah mempelajari daftar menunya," potong Cagalli, sembari mengembalikan buku menu pada sang pramusaji. "Hidangkan saja zürcher geschnetzeltes dengan rösti lima porsi, cheese fondue, serta semangkuk muesli dan coklat truffle Swiss."
"Untuk minumannya rivella dan air putih dingin," tambah Athrun. "Tetapi air putih yang telah dimasak, bukan air mentah langsung dari keran."
Pramusaji itu mengangguk, mencatat pesanan sejenak, lalu undur diri dari hadapan mereka.
Delapan menit kemudian… makanan-makanan khas Swiss itu pun telah tersedia di atas meja di hadapan para anggota keluarga Zala, dan Cagalli langsung menginstruksikan anak-anaknya agar menyantapnya segera selagi masih hangat.
Emaline mendengus ketika melihat mangkuk yang di dalamnya berisi makanan berupa campuran oat, buah, dan kacang-kacangan. "Jadi ini yang namanya muesli, Bu?" tanyanya. "Apakah kita jauh-jauh datang ke Swiss hanya untuk makan sereal?"
"Itu hanya untukku, Dik." Bian mengambil mangkuk berisi muesli dari hadapan Ema dan menaruhnya ke atas meja di hadapannya. "Benarkan, Bu?"
Cagalli mengangguk. "Ya, kid. Itu untukmu."
Tiba-tiba saja Bian merasa sesuatu menyentuhnya, dan ketika menoleh ia mendapati Jian yang duduk di sampingnya tengah menyenggol pelan lengannya dengan siku.
"Kau yakin hanya makan itu?" lirih Jian pada Bian. "Kau tidak ingin makan yang lain?"
"Tidak," balas Bian dengan sedikit berbisik pada Jian. "Saat masih berada di mansion Ibu telah mewanti-wantiku agar tidak memakan makanan berat seperti daging. Aku cukup kenyang walau hanya dengan sereal."
Jian langsung mengangguk mengerti.
"Nah, Ayah, Ibu, jadi apa tujuan kita datang ke Swiss?" tanya Ema tiba-tiba.
"Tentu saja mengunjungi Jian," Athrun yang menjawab.
"Kita sudah berbulan-bulan tidak melihat Jian," kata Cagalli. "Kalian juga pasti kangen pada kakak kalian, 'kan?"
Eve dengan acuh tak acuh mengangkat kedua bahu. "Aku sih tidak," ungkapnya jujur.
"Pastinya bukan hanya sekadar kunjungan biasa, 'kan?" Ema mengernyit.
"Ya, hanya kunjungan biasa, sayang," balas Cagalli.
"Apakah Ibu tidak ingin menyinggung tentang tingkah laku dia selama di La Rosey?" sergah Ema.
Bian berbicara dari seberang meja, "Kupikir sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan itu."
Eve menoleh memandang wajah Cagalli. "Terus kapan waktu yang tepat itu, Bu? Kalau aku tidak salah bukankah dua jam lagi kita harus sudah berada di bandara?"
"Kita tidak bisa terus-terusan bersikap seakan tidak terjadi apa-apa," kata Ema. "Bukankah Ayah dan Ibu sudah muak mendapat aduan dari pihak sekolah tentang tingkah buruk memalukan Jian di La Rosey?"
"Ema," tiba-tiba saja Cagalli menaruh sendok dan garpu yang sedari tadi di genggamannya ke piring. Ia menatap intens putri bungsunya tersebut. "Kami—Ayahmu dan Ibu tidak pernah merasa muak pada kalian."
"Sebisa mungkin kami akan selalu memaklumi kalian," kata Athrun. "Dan seburuk apa pun perbuatan yang Jian lakukan di sekolah, Ayah dan Ibu hanya menganggap itu hal yang wajar, hanya kenakalan remaja biasa, dan itu tak akan mengubah penilaian kami sebagai orangtua; kalian tetap anak-anak kesayangan kami."
"Oh, begitu?" Ema juga seketika menghentikan seluruh aktivitas menyantap makanan di piring. "Jadi menurut Ayah dan Ibu keluarga kita terus-terusan dipermalukan oleh tingkah buruk Jian adalah hal yang biasa saja? Baiklah, kalau begitu. Kurasa keberadaanku di sini juga tidak ada kepentingannya buat Jian, makanku juga sudah selesai, aku akan kembali ke mobil." Emaline mendorong kursi dan berdiri, tanpa memedulikan tatapan intens ibunya ia langsung pergi meninggalkan meja.
"Ema!" panggil Athrun. "Dengarkan Ayah dan Ibumu dulu!"
"Ayah, Ibu," Eve juga tiba-tiba juga berdiri. "Aku juga sudah selesai." Sesaat setelah mengatakan itu ia langsung melangkah menjauhi meja, mengikuti Ema.
Cagalli menghela napas. "Kid, maukah kau menyusul Adik-adikmu?" pinta Cagalli pada Bian. "Hanya untuk memastikan mereka benar-benar sampai ke mobil."
Bian mengangguk patuh. "Ya, Bu."
Bian pun pergi juga dari meja. Ketika tengah berjalan dan hendak melewati ambang pintu masuk utama restoran ia mengernyit karena bertanya-tanya dalam benaknya; mengapa hubungan di keluargaku jadi seperti ini?
...
Saat masih di La Rosey Jian memang sudah memprediksinya; bahwa perjumpaan dirinya dengan adik-adik perempuannya tidak mungkin tidak menimbulkan perdebatan. Tetapi ia tidak menyangka kedua adik perempuannya akan seterang-terangan itu mencibirnya, padahal seingatnya tiga bulan lalu kebencian yang mampu adik-adiknya tunjukkan kepadanya hanyalah sekadar pelototan sinis.
Tentu saja Jian juga menyadari semua kata-kata sindiran Ema sejak di mobil, tetapi ia pura-pura tidak mendengar dan diam saja karena menurutnya sikap itu adalah pilihan terbaik. Ia tidak bisa lebih jauh lagi memancing kebencian mereka.
Kini yang tersisa di sekitaran meja hanya tinggal Jian dan kedua orangtuanya. Setelah kepergian Bian, Jian tetap memperlihatkan sikap tenang seolah-olah tak ada yang salah dengan kepergian adik-adiknya. Tetapi ia berhenti mengunyah dan meletakkan alat-alat makan ke meja ketika merasa Athrun dan Cagalli terus memerhatikannya.
"Silahkan saja bila kalian ingin menyalahkanku atas kepergian mereka," kata Jian. Ia memandang bergantian Athrun dan Cagalli. "Tetapi seperti yang Ayah dan Ibu lihat, sedari tadi aku tidak melakukan apa-apa."
"Kami tidak akan menyalahkanmu," kata Cagalli. "Kami hanya ingin menyampaikan sesuatu kepadamu."
"Sebelum Ibu menyampaikannya," Jian mengangkat kedua tangan dan melipatnya di atas meja. "Aku ingin tahu kenapa kalian berada di Swiss. Saat masih di La Rosey Ibu sudah janji akan menjelaskannya."
"Sebenarnya besok kami akan menghadiri acara peresmian perluasan Hibiki Hotel di Vegas," Cagalli mulai menjelaskan. "Ayahmu setuju untuk mengajakmu, tetapi Ibu tidak. Ibu tidak ingin kegiatan belajarmu di sekolah terganggu, jadi Ibu mengusulkan lebih baik mengunjungimu sebentar sebelum ke Vegas."
"Baiklah." Jian mengangguk. "Jadi apa yang ingin Ayah dan Ibu sampaikan?"
"Jian," kata Athrun. "Kami berdua sepakat ingin mengeluarkanmu dari La Rosey."
Jian seketika tersentak. Mengeluarkan? pikirnya. Itu artinya aku tidak akan berada di La Rosey, aku sepenuhnya tidak akan akan berada di kota ini lagi, dan akses untukku bepergian ke Sisilia semakin terbatas. Itu buruk! Aku juga tidak bisa meninggalkan Jenny dan orang-orang di manor yang baru saja dibelikan sang Don!
"Tapi kenapa, Ayah?" tanya Jian. "Bila ini menyangkut soal perilakuku di sana, bukankah tadi Ayah bilang akan memaklumiku?"
"Bukan soal itu, Jian," ucap Cagalli. "Ayahmu dan Ibu tidak suka melihat renggangnya hubunganmu dengan adik-adik perempuanmu. Kami berpikir; dengan membawamu kembali ke Mainz, mungkin hubunganmu dengan Ema dan Eve bisa kembali membaik."
"Aku pribadi tidak memiliki masalah dengan Ema dan Eve, Bu," jelas Jian. "Lagi pula, aku sangat menyukai La Rosey. Aku ingin terus di sana."
"Kau yakin menyukai La Rosey?" tanya Athrun. "Apa kau tidak tertekan terus-menerus berhadapan dengan konselor? Setidaknya, di mansion kau masih bisa memiliki teman bermain, kau bisa bersama Bian."
"Tentu saja yakin, Yah," jawab Jian dengan sebisa mungkin menampakkan ekspresi wajah meyakinkan. "Aku juga memiliki teman di La Rosey."
"Sungguh?" Cagalli mengangkat sebelah alis. "Teman biasa atau teman dekat?"
"Teman dekat," jawab Jian.
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Cagalli.
"Perempuan."
"Siapa namanya?"
"Jenny," ucap Jian. "Jenny Joule."
"Kau tidak berbohong, 'kan?" Athrun kembali bertanya.
"Aku tidak berbohong," jawab Jian jujur.
Setelahnya tidak ada pertanyaan apa pun lagi yang terlontar dari mulut kedua orangtuanya. Sesaat setelah mendapat jawaban bertubi-tubi dari Jian, Cagalli dan Athrun malah saling tatap, lalu tersenyum satu sama lain.
"Baiklah, kalau begitu," Cagalli menoleh, kembali memandang wajah Jian. "Ayah dan Ibu tidak akan mengeluarkanmu dari La Rosey."
"Asalkan," tambah Athrun. "Saat libur pertengahan tahun nanti kau mengajak Jenny ke mansion, dan mengenalkannya kepada kami."
Jian tidak terkejut mendengar permintaan orangtuanya, ia malah menyipitkan kedua mata. "Tapi kenapa, Yah?" tanya Jian. "Aku dan Jenny hanya sebatas teman."
"Memang hanya sebatas teman," ucap Cagalli. "Tetapi kami ingin tahu teman seperti apa yang selama ini menemanimu di La Rosey."
"Kurasa Ibu sudah mengetahuinya, Ibu sudah melihatnya tadi di kelas."
"Ah," Cagalli mengeluarkan suara seolah-olah baru menyadari sesuatu. "Jadi gadis yang tadi membawamu ke kelas?"
Jian mengangguk.
"Gadis seperti apa, sayang?" Athrun menatap Cagalli ingin tahu.
"Berambut pendek sebahu dan memakai kacamata," jawab Cagalli. "Cukup manis, dan aku menyukai bentuk bibirnya. Dia kelihatan tegas."
Athrun menoleh ke arah Jian, tersenyum. "Kau benar-benar pintar memilih yang berambut pendek," katanya. "Ayah tidak sabar ingin bertemu dengannya."
Akhirnya Jian menurut dengan pasrah. "Baiklah, akan kuusahakan mengajaknya."
"Nah," tiba-tiba saja Jian melihat ibunya bangkit dari duduk dan pindah ke kursi di samping kanan tubuhnya. Cagalli mengambil garpu lalu mengarahkan potongan daging ke depan mulut Jian. "Sekarang, habiskan makananmu."
"Ibu!" Jian langsung memundurkan kursi yang didudukinya. "Aku sudah bukan anak kecil lagi, Bu!"
Athrun juga bangkit dari duduknya dan pindah ke kursi di samping kiri tubuh Jian. Setelah duduk kembali ia langsung mengangkat tangan kanannya untuk mencubit pelan hidung mancung putranya tersebut. "Memangnya ada yang bilang kau sudah dewasa?" kata Athrun.
"Aku bisa menghabiskannya sendiri."
"Satu suap saja, Jian," kukuh Cagalli. "Sedari dulu Ibu ingin sekali selalu melakukan ini padamu. Tapi sejak berumur tiga tahun kau susah sekali disuapi, selalu berlarian tidak bisa diam."
Jian mengedarkan penglihatan ke seluruh sisi ruangan dan mendapati bagian dalam restoran tampak sepi. Memang tak ada pengunjung lain kecuali dirinya dengan kedua orangtuanya, tetapi tetap saja ia tidak bisa mengabaikan sang pemilik restoran dan para pramusaji yang berdiri di sudut ruangan. Menurutnya cukup memalukan disuapi saat usianya sekarang hampir menginjak angka duabelas.
"Ayo, Jian, buka mulutmu."
Tetapi Jian juga tidak bisa mengelak bila ibunya sudah berkeinginan, dengan pasrah ia memajukan tubuhnya mendekati Cagalli. "Hanya satu suap saja ya, Bu?"
"Dua," tawar Athrun. "Satu suap dari Ibumu, satu lagi dari Ayah."
"Ya, dua," setuju Cagalli dengan mengangguk.
Astaga. Rasanya Jian benar-benar ingin memutar bola mata sekarang, tetapi yang mampu ia lakukan hanyalah membuka mulut lalu memakan potongan daging yang disuapkan Cagalli kepadanya.
"Omong-omong," kata Jian. "Kenapa Ayah dan Ibu menginginkan restoran ini sepi dari pengunjung selagi kita makan di sini?"
"Saat kemarin sore kami sampai di bandara," ucap Cagalli. "Kami dihadang beberapa orang pencari berita. Para wartawan itu kukuh ingin mewawancara Ayah dengan Ibu, mereka ingin bertanya seputar perkembangan bisnis kapal pesiar Ayah di Inggris dan hotel Ibu di Vegas. Tetapi Bian harus segera istirahat di hotel, jadi kami tidak bisa memenuhi keinginan mereka. Akhirnya Ayahmu mengusulkan agar wawancaranya dilaksanakan hari ini saja, di bistro ini selama setengah jam. Tentunya kami juga tidak bisa memancing keriuhan para pengunjung saat sesi wawancara dilaksanakan. Itu sebabnya Ayahmu meminta kepada pemilik bistro agar mensterilkan tempat ini dari pengunjung selama dua jam."
"Hn, begitu," gumam Jian. Ia lalu kembali membuka mulut untuk menerima potongan daging yang disuapkan Athrun. "Kalau begitu sebaiknya aku kembali ke mobil saja?" usul Jian, setelah melihat dua orang wanita dan tiga orang laki-laki berjalan memasuki restoran. Ia melihat kelimanya sama-sama menenteng kamera dan memegang alat seperti perekam audio. "Mereka pasti para wartawannya."
"Ya, sayang," Cagalli menyerahkan segelas air putih pada Jian. "Tapi ayo minum dulu, setelah itu tunggu kami di mobil. Kami hanya setengah jam."
Jian mengangguk. Setelah minum ia langsung berdiri bangkit dari kursi, lalu pergi meninggalkan meja. Ketika tengah berjalan melewati deretan meja lain Jian berpapasan dengan lima orang wartawan tersebut.
"Si rambut pirang," kata salah seorang pewarta wanita. "Kau pasti Jianluca."
"Kau benar-benar tampan seperti Ayahmu, Nak," kata wanita yang satunya. "Kau juga berminat diwawancara?"
Jian cepat-cepat menggeleng. "Tidak, terima kasih."
Setelah sampai di luar bistro Jian memutuskan mengubah rencananya yang tadi hendak kembali ke mobil. Ia berpikir menghabiskan setengah jam di dalam mobil bersama Ema dan Eve bukanlah ide yang bagus.
Seketika Jian teringat danau di belakang bistro yang pemandangannya tadi terlihat dari jendela. Dengan berjalan cepat melintasi sisi samping restoran yang arahnya berlawanan dengan tempat parkir, akhirnya ia memilih pergi ke danau itu sejenak.
Ketika sedang berjalan menyusuri batu-batu di tepi danau, Jian tiba-tiba saja tersentak. Ia melihat seorang gadis kecil dengan mengenakan gaun merah muda tengah menangis terduduk di antara batu-batu di dekat air. Tanpa berpikir panjang Jian langsung berlari karena meyakini gadis kecil itu adalah salah satu adiknya.
"Apa yang terjadi?" tanya Jian, dan langsung mengenali gadis yang sedang menangis itu adalah Eveline ketika ia telah berada di dekatnya. Seingat Jian di antara kedua adik perempuannya hanya Eveline yang memiliki tahi lalat di bawah mata kiri, dan ia dapat melihat itu sekarang. Jian berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Eveline.
"Jian!" Eve seketika menengadah, memandang Jian dengan mata berair. "Lututku rasanya sakit sekali!"
Jian menggunakan salah satu tangannya ketika menyingkap gaun Eve hingga sebatas paha. Ia terkejut melihat di lutut kanan adiknya kini sudah terdapat luka dan mengeluarkan sedikit darah. "Astaga, kenapa bisa seperti ini, Eve?"
"A-Aku benar-benar bosan di dalam mobil," Eve menjelaskan dengan terisak. "Jadi aku ke sini. Tetapi ketika aku hendak mendekati air kakiku terpeleset, dan lututku membentur batu."
Jian menghela napas, lalu tanpa berpikir panjang ia langsung merobek bagian bawah seragam putih yang dikenakannya di balik blazer hingga menjadi potongan kain panjang. Ia melilitkan potongan kain itu ke luka di lutut Eve dan mengikatnya perlahan-lahan.
"Lukanya sudah kututup, tidak usah menangis lagi, ya?"
"Tetapi kakiku sakit, Jian," lirih Eve masih dengan terisak.
"Menurutku wajahmu tampak jelek ketika sedang menangis seperti sekarang," kata Jian.
Eve tiba-tiba saja berhenti terisak. "Sungguh?" tanyanya polos.
"Ya," jawab Jian. "Lebih baik sekarang kau tersenyum, supaya wajah jelekmu berubah menjadi cantik."
Eve tidak berniat mengikuti instruksi Jian. Ia malah mengernyitkan alis. "Kau mencoba membodohiku!" jeritnya. "Ayah dan Ibu selalu mengatakan aku anak tercantik di keluarga kita!"
Jian seketika tertawa. "Maafkan aku," katanya tanpa sesal. Ya, ia tidak menyesalinya, karena akhirnya ia dapat membuat adiknya benar-benar berhenti menangis sekarang. Jian mengubah posisi tubuhnya menjadi membelakangi Eve. "Ayo naik ke punggungku, aku akan menggendongmu sampai mobil."
Eve menurut. Tetapi ketika telah menyandarkan tubuhnya pada punggung Jian, ia berkata, "Jian, aku tidak ingin ke mobil sekarang."
"Baiklah," kata Jian sembari berdiri menggendong Eve. "Jadi kau ingin jalan-jalan dulu?"
Gadis kecil berusia tujuh tahun itu pun mengangguk.
"Jian," Eve kembali berkata ketika mereka tengah menyusuri bebatuan tajam di pinggir danau.
"Hn?" gumam Jian.
"Kau orang baik atau orang jahat?" tanya Eve.
"Baik atau jahat tidak bisa hanya dinilai dari diri sendiri, Eve," jawab Jian. "Perlu penilaian dari orang lain juga."
Eve memukul kepala Jian dengan kepalan tangan kanannya. "Jangan berkata seperti itu!" bentaknya. "Kau benar-benar tidak cocok mengucapkan kata-kata bijak."
Jian mendengus. "Kau benar-benar adik yang nakal, ya," komentarnya. "Apa kau melakukan hal itu pada Bian juga? Memukul kepala dan membentak seperti itu?"
"Tidak," Eve menggeleng. "Aku hanya melakukannya padamu."
Entah mengapa Jian merasa lega mendengar jawaban Eve. "Bagus, hanya lakukan saja padaku, dan jangan pernah lakukan itu pada Bian."
"Daripada itu," balas Eve. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau orang baik atau orang jahat?"
"Bagaimana kalau kau saja yang menjawabnya?" Jian balas bertanya. "Menurutmu aku baik atau jahat?"
Eve mengangkat kedua bahu. "Emaline selalu mengatakan kau kakak terjahat di dunia, dan aku selalu memercayai perkataannya. Tetapi rasa percayaku sedikit goyah sejak beberapa menit yang lalu."
"Kenapa?"
"Bila kau benar orang jahat, kau pastinya tidak mungkin berbuat baik dengan menolong diriku yang tadi terluka, 'kan?"
Akhirnya Jian memutuskan untuk tidak membalas lagi.
...
Jian berdiri bergeming di depan gerbang La Rosey ketika memerhatikan ayah, ibu dan adik-adiknya turun dari mobil. Padahal saat masih di dalam Limusin Jian sudah berkeras kalau mereka tidak perlu ikut turun, tetapi ibunya ngotot mereka mesti turun juga dan mengantarnya sampai ke dekat gerbang.
Kini seluruh anggota keluarganya telah berdiri di hadapannya. Jian melihat ibunya memegang pundak Ema dan Eve, mendorong pelan tubuh kedua bocah itu ke hadapan Jian.
"Emaline, Eveline," kata Cagalli. "Ayo berikan pelukan perpisahan pada kakak kalian Jian."
"Aku? Memeluk dia?" kata Ema, sembari mengangkat sebelah alis dan melipat kedua tangan di depan dada. "Yang benar saja!" sesaat setelah mengatakan itu ia langsung berbalik dan berlari ke arah mobil, lalu masuk ke dalamnya.
"Jian," panggil Eve, yang seketika membuat Jian menoleh. Jian mendapati adiknya itu tidak balik memandang dirinya, Eve malah tampak gugup dan membuang muka—seperti tidak berani melihatnya. "Aku tidak mau memelukmu," lanjut Eve. "P-Pokoknya aku sudah memasukkannya ke saku! Dengan itu semoga kau selalu ingat waktu sehingga tidak datang terlambat lagi ke kelasmu! Terima kasih sudah menolongku!" ia pun berbalik lalu mengikuti Ema masuk ke dalam mobil.
Jian mengerutkan kening melihat sikap aneh Eve. Memasukkan ke saku? pikirnya. Memasukkan apa?
Dan pertanyaan-pertanyaan dalam benak Jian langsung buyar ketika ia melihat Bian tiba-tiba saja berjalan mendekati dirinya dan langsung mendekapnya dengan pelukan hangat.
"Jian," ucap Bian. "Tanggal enam Juni, dua bulan lagi, kau tidak lupa, 'kan?"
Jian mengingatnya. "Ulang tahun kita?"
"Ya," kata Bian. "Setahuku di tanggal itu kebetulan kau juga sedang libur sekolah, kuharap kita dapat merayakannya bersama-sama di Mainz."
"Pastinya."
"Jaga dirimu baik-baik, ya?" Bian semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh Jian.
"Kau juga," kata Jian. Ia menggerakkan kedua tangannya yang sedari tadi dilingkarkan ke tubuh Bian untuk mengelus pelan punggung kembarannya itu. "Jaga kesehatanmu selalu, pokoknya kau tidak boleh sampai terlalu lelah."
Bian mengangguk patuh. "Aku menyayangimu, Jian."
"Aku juga menyayangimu," balas Jian.
"Jadi mau sampai kapan kami menunggu kalian selesai berpelukan?" Athrun tiba-tiba menginterupsi. "Ayo, Bian, lekas ke mobil. Kita harus bergegas ke bandara."
"Ya, Ayah." Bian menarik tubuhnya dari pelukan dan tersenyum sejenak pada Jian. "Sampai bertemu lagi," katanya, yang segera dibalas anggukan oleh Jian. Ia lalu memutar tubuh dan memulai langkah menuju mobil.
Setelah Bian masuk ke dalam Limusin, kini giliran Cagalli dengan Athrun yang menghampiri Jian. Mereka memeluk Jian secara bersamaan.
"Dengar, Jian," Athrun yang berbicara pertama kali. "Walaupun kami memaklumi perbuatan buruk yang telah kaulakukan selama di La Rosey, tetapi bukan berarti Ayah dan Ibu akan diam saja. Kalau bisa saat liburan nanti kita mendatangkan guru les ke rumah. Kau harus tetap memperbaiki nilai-nilaimu."
"Dan juga," tambah Cagalli. "Mulai dari sekarang kau harus belajar bersikap sopan pada guru-gurumu. Walaupun mungkin mereka cerewet, tetapi kau harus tetap menghormati mereka. Kau juga tidak boleh membuat masalah dengan teman-teman sekelasmu, biasakan bangun lebih pagi agar tidak terlambat masuk kelas, dan—"
"Aku mengerti, Bu," Jian mengangguk dari dalam pelukan ayah dan ibunya. "Dan karena aku mengerti, Ayah dan Ibu tidak perlu menasihatiku lebih banyak lagi. Bukankah kalian harus bergegas ke bandara?"
"Dasar kau ini!" Cagalli mencubit pelan pipi kiri Jian. "Kau hanya mencari-cari alasan karena tidak ingin berlama-lama diceramahi kami, 'kan?"
Walaupun kini Jian menggeleng, tetapi diam-diam ia tersenyum.
"Jaga dirimu baik-baik, Jian," pesan Athrun. "Walaupun kita berjauhan, tetapi Ayah selalu menyayangimu."
"Ibu juga menyayangimu."
"Terima kasih, Ayah, Ibu," balas Jian. "Aku juga menyayangi kalian."
Setelah menerima elusan singkat di kepala dari tangan ayah dan ibunya, Jian langsung memundurkan tubuh, melepaskan diri dari dekapan mereka. Ia melihat Athrun dan Cagalli tersenyum kepadanya sejenak sebelum melangkah menuju mobil.
Jian hanya bergeming ketika memerhatikan mereka masuk ke dalam mobil. Tetapi saat suara mesin Limusin dihidupkan mulai terdengar di telinganya, Jian tidak dapat menahan diri. Ia langsung melambaikan salah satu tangannya dan tersenyum muram melihat Limusin bergerak menjauhi dirinya.
Jian menurunkan tangan saat menyadari mobil itu telah menghilang sepenuhnya dari pandangannya. Sekarang, dengan menghela napas ia melepas satu-persatu kancing blazer hijau gelap yang dikenakannya. Dengan memasang raut wajah datar ia menatap bagian bawah seragam putihnya yang robek.
"Kalau sudah begini, aku tidak mungkin masuk kelas," gumamnya. "Lebih baik aku meminta Rusty membawakan seragam baru."
Jian berniat menelepon Rusty. Tetapi ketika ia hendak mengeluarkan ponsel dari saku blazernya, ia mengernyit karena merasa memegang benda padat lain yang ia yakini bukan ponsel di dalam sakunya.
Jian mengeluarkan benda tersebut dari dalam saku, dan ia mendapati benda asing itu ternyata adalah sebuah jam tangan Snoopy. Seketika ia teringat perkataan terakhir Eve sebelum berpisah dengannya tadi.
'P-Pokoknya aku sudah memasukkannya ke saku! Dengan itu semoga kau selalu ingat waktu sehingga tidak datang terlambat lagi ke kelasmu!'
Jian tersenyum. Ia menempelkan jam tangan Snoopy di tangannya ke dada. Kau tidak perlu repot-repot memberiku ini, Eve, gumamnya dalam hati. Kemudian ia memejamkan kedua mata untuk mengingat-ingat kebersamaan mereka tadi di dekat danau. Tetapi terima kasih, dan juga maaf aku telah berbohong mengatakan dirimu jelek, sebenarnya bagiku kau bukan hanya adik tercantik di keluarga kita, tetapi juga tercantik di seluruh dunia—
"Akulah gadis tercantik di dunia ini, Shinn! Tetapi para pelayan menjijikan itu benar-benar buta! Mereka telah menghinaku dengan memanggilku Master Briliant, seharusnya sudah sewajarnya mereka memanggilku Miss Guire! Kalau mereka tidak pergi dari vila, terpaksa aku akan memerintahkan komuni. Oh, seandainya tidak harus mematuhi hukum omerta, aku lebih suka membunuh mereka secara terang-terangan!"
Jian tersentak dan membuka kedua matanya seketika. Pertama, karena ia telah lengah tidak menyadari seseorang baru saja melintas dari depan tubuhnya, melewatinya. Kedua, ia terkejut ketika mendengar kata-kata yang diucapkan seseorang itu. Ia tidak menyangka di sekolah ini ternyata ada seorang Sisilia lain selain dirinya. Ya, Jian meyakini seseorang itu berasal dari Sisilia karena dua kata asing yang tadi diucapkannya. Komuni dan omerta, Kakek pernah memberitahuku. Komuni adalah istilah membunuh bagi para mafia Sisilia yang berarti 'mayat si korban mesti dilenyapkan', dan omerta adalah kode etik yang mewajibkan para mafia Sisilia untuk 'tutup mulut'—sebisa mungkin meminimalisir berurusan dengan para penegak hukum.
Karena penasaran ingin mengetahui siapa seseorang itu, Jian menolehkan kepala ke belakang tubuhnya. Dan ia kembali terkejut ketika mendapati di belakang tubuhnya hanya ada seorang gadis remaja berambut hitam sepinggang yang sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon genggam. Wajah gadis itu terlihat tak asing di mata Jian.
'Prospek untuk memburu dan memusnahkan semua orang yang menganggap dirimu batu permata tiba-tiba saja terpikirkan olehku.'
Astaga. Jian menepuk pelan dahinya tanpa sadar. Ia merasa menyadari sesuatu. Aku mengingatnya, batinnya. Dia adalah gadis di ruangan konseling waktu itu!
Jian buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku, hendak menghubungi Rusty. Tetapi kali ini Jian menelepon bukan untuk minta dibawakan seragam baru, ia bahkan sudah melupakan robekan di seragamnya. Ia berniat memberi instruksi lain pada Rusty.
"Rusty," kata Jian setelah panggilan teleponnya dijawab oleh pengawal itu. "Jemput aku sekarang. Aku harus bersiap-siap, malam ini kita ke Sisilia."
"Bukankah pertemuan dengan para Don dilaksanakan lusa?" tanya Rusty. "Kenapa terburu-buru seperti ini?"
"Aku akan menjelaskannya nanti," tiba-tiba saja Jian merasa suasana hatinya menjadi tidak sabaran. Dengan jengkel ia mengeratkan pegangannya pada ponsel. "Sekarang jemput aku, Rusty, dan jangan ada pertanyaan lagi!"
"Ya, Sir."
Ini bukan hanya sekadar tentang pertemuan dengan para Don, Rusty, pikir Jian. Aku harus segera mencari tahu siapa gadis itu. Dia sempat mengatakan 'memerintahkan komuni', itu artinya dia bukanlah orang sembarangan dalam organisasi ini, kemungkinan dia putri atau cucu dari seorang Don yang diberi wewenang untuk memerintah para mafioso. Dan jika dia tidak pernah main-main dalam ucapannya… bukan hal yang tak mungkin suatu saat nanti dia menjadikanku musuhnya.
Aku harus ke Sisilia, karena hanya di Sisilia aku bisa mencari tahu tentang dirinya, hanya di Sisilia aku bisa menghadapinya. Mulai dari sekarang aku juga tidak boleh gegabah dalam bertindak, aku harus berhati-hati agar nyawa orang-orang terdekatku tidak menjadi taruhannya.
…
Saat Limusin mulai melaju menjauhi area sekolah La Rosey, Bianica merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhnya. Bian merasa kedinginan, padahal ia dapat melihat dengan jelas Rolle begitu cerah karena sinar matahari yang memancar hampir ke seluruh sisi kota.
Bian melepas sabuk pengaman dari tubuhnya, kemudian beringsut mendekati Cagalli. Ia sedikit menggigil ketika melingkarkan kedua tangan ke tubuh sang ibu dan menyandarkan kepala pada dadanya. Ia bersyukur tanpa ada pertanyaan Cagalli langsung membalas dekapannya.
"Ibu, maukah kau mengusap kepalaku?" pinta Bian.
"Tentu saja, kid."
Saat Cagalli baru menyentuhkan tangannya pada kepala Bian, tiba-tiba saja Eveline memekik. "Ibu! Lihat hidung Kakak Bian!"
"Hidungku?" Bian sontak langsung memegang hidungnya dengan tangan kanan. Dan ketika ia menarik tangannya kembali ke hadapan wajahnya, ia melihat jari-jarinya sudah terlumuri darah.
"Astaga, Ath, dia mimisan!" Cagalli seketika berkata panik.
Athrun segera mendekati mereka. Ia mengeluarkan saputangan bersih dari saku jasnya, menyerahkannya pada Cagalli. "Cagalli, pakai ini untuk membersihkan darahnya."
Cagalli menerima saputangan yang disodorkan Athrun, lalu dengan tangan sedikit gemetar ia langsung membersihkan noda darah di hidung Bian. Ia menoleh ke arah Kisaka yang duduk di kursi kemudi, kemudian berkata, "Kisaka, kita ke rumah sakit terdekat sekarang."
Kisaka sedikit kaget mendengar perintah itu. "Tapi, Cags, setengah jam lagi kita harus sudah di bandara," katanya. "Bagaimana dengan acara penting di Las Vegas?"
"Putraku lebih penting!" sergah Cagalli dengan nada suara penuh emosi.
"Bagiku dan bagi istriku keselamatan Bian lebih penting dari acara mana pun, Kisaka," Athrun memandang pengawal itu skeptis. "Tidakkah kau mengerti?"
"Ah, ya, maaf," wajah Kisaka yang tercermin di kaca spion depan tampak menyesal. "Oke, kita ke rumah sakit sekarang."
"Ayah, Ibu," Bian tiba-tiba berkata lirih. "Kisaka benar, kita harus segera ke bandara."
"Apa yang kau katakan, kid? Tentu saja kita harus ke rumah sakit. Kau harus segera diperiksa."
"Aku tidak apa-apa, Bu," gumam Bian. Tetapi sepersekian detik setelahnya Bian memang merasakan ada apa-apa pada tubuhnya. Ia merasa tubuhnya lemas, kepalanya pusing, perutnya mual dan matanya benar-benar terasa berat untuk terus ia buka. Walaupun begitu Bian tetap kukuh, "Begini saja; Ibu dan Adik-adik tetap pergi ke Vegas, biar Ayah dan Kisaka yang menemaniku ke rumah sakit. Bagaimana?"
"Tidak, sayang," tolak Cagalli. "Kita akan pergi ke rumah sakit bersama-sama."
"Ibu, please," Bian memohon sembari menggenggam pergelangan tangan kanan Cagalli. "Aku tahu acara itu sangat penting bagi Ibu, para karyawan Ibu pasti sangat membutuhkan kehadiran Ibu di sana. Lagi pula ada Ayah yang menemaniku," dengan mengerahkan segenap tenaga Bian menoleh ke arah Athrun. "Ya, 'kan, Yah? Kau akan menemaniku?"
"Ayah tidak akan pernah meninggalkanmu." Athrun berjanji.
"Baiklah, sayang," Cagalli semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Bian, mengelus punggung dan puncak kepala putra bungsunya tersebut dengan penuh kasih sayang. "Walaupun berat sekali rasanya bagi Ibu meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini."
Aku pun begitu, Bu, balas Bian dalam hati. Berat sekali bagiku melihat Ayah dan Ibu selalu cemas karena mengkhawatirkanku. Seandainya saja keadaan tubuhku sama seperti anak-anak sehat lainnya... aku pasti tidak akan melihat wajah murung Adik-adik seperti sekarang, Ayah dan Ibu tidak terus terepoti olehku, dan mungkin sekarang aku sedang belajar di kelas yang sama dengan Jian di La Rosey.
Ah, Jian saudaraku... apakah di masa depan kita masih bisa terus bersama dengan bergandengan tangan? Aku tidak yakin, karena aku tidak tahu sampai berapa lama aku bisa bertahan menghadapi ini.
Memiliki tubuh invalid... benar-benar tidak mengenakkan.
Dan kesadaran Bian pun akhirnya menghilang. Ia pingsan dalam pelukan Cagalli.
TBC
A/N : Bridge itu permainan kartu ya genks, yah asah otak juga kayak catur. Bistro di fic ini maksudnya restoran informal ;)) Mohon dimaklumi kalau ada kata, kalimat dan paragraf yang aneh. Bab ini nyaris 9k, lumayan capek juga saya revisinya:))
Eyooyoo e tim apa kabar? *plak* canda kok hehe biar gak tegang. Oke langsung saja seharusnya Bab ini adalah Bab SISILIA, tetapi akhirnya saya memutuskan untuk membuat Bab yang menceritakan kebersamaan keluarga Zala secara utuh lebih dulu. Latar tempat di bab-bab depan kita bakal ke Sisilia, Jerman dan Inggris :)) Saya nggak sabar pengin langsung ke crime-nya sebenarnya, yah tapi mesti nunggu 2 sampai 3 Bab :')) Omong-omong, ada yang penasaran Bian kenapa? Hehe yups Bian emang lemah dari segi fisik:( spesifik dia kenapa tunggu bab-bab depan aja ya genks jawabannya:P Walau begitu jangan remehin Bian ya:)) gitu2 dia calon kuda hitam saya di fic ini:)) *jgn spoiler bgst!*
Dan maaf ya kalau updatenya lama :")) Saya udah mulai diracuni maen game lagi sama temen2 saya soalnya:")) yah saya hiatus setahun kemarin juga gegara betah maen di server mcpc ama dota:((, jujur dari hati terdalam saya pengin cepet2 tamatin nih FF kok:)) semoga saya selalu niat!
Balasan review :
Fuyu Aki: Halo, Fuyu! Akhirnya aku membuat Bab ini! Semoga nggak mengecewakan yah hehe. Thnks sudah review ;)) dan balasannya sudah kusampaikan di pm kan waktu itu :P
Mia Fu Ars: Haduh bosque masa sih sampe mewek? Ini cuma FF boss, gak perlu sampe sedih gitu lah wkwkw. Tapi thnks ya sudah review :))
Alyazala: Ini sudah di next, Kak. Makasih sudah review :))
Titania546: Halo, Titania! Makasih ya sudah menyukai OC-ku, dan makasih juga sudah review dan mendukungku! Kalau kamu bertanya-tanya apa yang terjadi sama AZ, silahkan pantengin aja ya bab-bab depan:)) bye!
Pilih Jian atau Bian? Kalau mau review... waktu dan tempat dipersilahkan:))
