Disclaimer- HETALIA © Hidekazu Himaruya
Genre- Friendship, Romance, supernatural (?)
Rating- T ah tidak M…M apa T yah…. kebimbangan melanda.
Pairing- NethxfemNesiaxAus, IvanxYao... sisanya nambah dgn sendirinya..
Warning- OOC, Typo(s), gaje, Yaoi tapi dikit
SHE'S BACK
.
.
Chapter 7
.
Tik…
Tik…
Tik…
Terdengar suara jam yang berdetak.
Tik…
Tik…
Tik…
Masih dalam kondisi yang sama, tanpa ada suara sama sekali. Entah sudah berapa lama kedua pemuda itu terdiam, tidak ada satu pun yang mengeluarkan suara.
Tik…
Tik…
Tik…
Kembali yang terdengar helaan nafas pada salah satu pemuda itu, mungkin bosan dengan keadaan ini atau karena ada yang dipikirkan.
Tik…
Tik…
Tik...
Detik demi detik kian terlewat, kembali keduanya membisu.
Tik…
Tik…
Tik…
Srekkk‼
Terdengar suara kursi yang digeser. Sepertinya salah satu dari pemuda itu sudah bosan dan siap melangkah keluar.
.
"…Dia kembali bermimpi buruk."Akhirnya terdengar juga suara dari pemuda yang masih duduk.
Berbeda dengan pemuda itu yang akhirnya berbicara, pemuda yang satunya tampak membeku ditempat. Batal untuk membuka pintu dan keluar, meninggalkan lawannya sendirian diruangan itu. Perlahan – lahan kepala itu menoleh keasal suara itu, memandangnya kaget.
"Bisa kau ulangi Kiku?"Tanyanya ingin memastikan pendengarannya, berharap apa yang tadi didengarnya adalah hal yang salah.
Kiku, pemuda yang dari tadi diam itu pun menghela nafasnya. Terlihat enggan untuk kembali bersuara, hanya lirikan matanya saja yang bermain. Menatap lawan bicaranya yang tak lain adalah Yao. Pemuda asia yang paling tua dari dirinya, dan sudah dianggap sebagai kakak bagi semuanya.
"Kau bilang apa, aru?"Kembali Yao bertanya tatapan kaget tersirat dari matanya.
"…Dia kembali bermimpi buruk." Dengan terpaksa Kiku kembali berkata, memandang Yao yang terlihat kaku.
"Bagaimana bisa, aru?" terlihat mata itu menunjukan rasa tidak percaya, menatap kearah Kiku "Apa kau yakin,aru?"Tanyanya memastikan lagi.
"Aku tidak akan bicara padamu, jika tidak yakin, Yao-nii." Tatapnya, membalas pandangan Yao.
.
Lama keduanya terdiam, larut dalam pikiran masing – masing. Entah mengapa setelah berbicara dan mendengar itu, tidak ada yang ingin kembali berbicara. Bahkan Yao yang ingin keluar pun, memilih kembali duduk di bangkunya. Padahal mereka hanya membicarakan mimpi, tapi wajah mereka berdua entah mengapa begitu serius. Apa mimpi buruk itu merupakan hal yang aneh? Sepertinya dalam kasus ini, yah.
"…Kurasa ini karena mereka?" Akhirnya setelah lama diam Kiku kembali bicara.
"Maksudmu, aru?"
"…Maksudku! Kurasa Yao-nii tahu apa maksudku?" Dengan tatapan lurus Kiku memandang Yao yang bungkam, terlihat sedikit kaget "Hah…kurasa baik aku maupun Yao-nii sama – sama tahu, kenapa selama ini kita selalu menjaganya mati – matian." Desahnya mengalihkan mata.
"Aku tau. Kau tidak usah mengatakan apa – apa lagi, aru,"Perlahan Yao memijat keningnya 'Ya, aku sudah tau. Karena itu aku diam saja, karena aku sudah tahu.'Batinnya sedih.
Mendengar itu Kiku pun diam. Walau Yao tidak bicara apa - apa lagi, tapi Kiku tahu bahwa didalam hatinya Yao pasti merasa dilema juga. Memilih mana yang lebih penting bagi dirinya. Siapa pun itu pasti ada yang harus dikorbankan. Walau itu artinya akan membuat pihak yang dikorbankan sedih, bahkan diri sendiri.
"…Untuk sementara sebaiknya kita mengawasinya saja dulu, aru," Seakan tersadar dari pikirannya Kiku kembali menatap Yao "Jangan sampai dia tahu bahwa kita mengkhawatirkan dirinya, aru,"Sambungnya melihat Kiku yang mengangguk "Kau sendiri tahu bagaimana sifatnya jika kita mengkhawatirkannya kan,aru."
"Yah, karena itu lah aku menyayanginya."Senyumnya pahit.
Yao sendiri mendengar kalimat Kiku barusan, hanya menatap ambigu. Antara yakin dan tidak, benarkah hanya sayang? Melihat bagaimana over proktektifnya terkadang pemuda ini, membuatnya tidak yakin jika hanya rasa sayang saja yang dirasakan pemuda itu. Tapi, kalimat tanya itu, tidak pernah dikatakan Yao. Yang ada hanya anggukan, menyetujui ucapan pemuda jepang itu.
.
.
_#IMY#_
.
.
Tersenyum, itulah yang dilakukan Nesia sekarang. Tidak dipedulikannya tatapan aneh yang dilontarkan anggota asia yang lain, melihat sifatnya yang makin aneh itu. Malah senyumnya saja yang makin lebar, melihat ke suatu arah. Thai, pemuda dari Thailand itu saja yang sepertinya paham, kenapa Nesia sepertinya gembira hari ini.
"Jadi kau berhasil, Nes?" Tanyanya melihat Nesia tampak gembira.
Sementara yang lainnya hanya mencuri dengar percakapaan mereka berdua. Berpura – pura hidangan di meja lebih menarik, dari pada percakapan itu. Padahal, telinga mereka terpasang penuh untuk lebih mendengarkan apa yang menyebabkan Nesia tampak begitu gembira .
"Hmm, begitulah,"Senyumnya riang, sedikit mengangguk mengikuti jawabannya "Menyenangkan sekali, tidak kusangka dia sepenakut itu."Sedikit tertawa Nesia kembali berkata.
"Apa yang menyebabkan kau terus – terus mengganggunya beberapa hari ini, ana?" Tanyanya sedikit penasaran melihat Nesia melakukan hal seperti itu, seperti bukan dirinya saja.
.
Sedangkan Nesia ditanya seperti itu, hanya diam memandang Thai. Sepertinya, pertanyaan barusan membuatnya kembali teringat kenangan menyebalkan. Thai sendiri, melihat tatapan Nesia, hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sepertinya dia melontarkan pertanyaan yang salah pada Nesia.
"…Yao-nii mau pergi?."Tanya Hong melihat Yao melintas diruang makan dengan pakaian rapi.
Sepertinya pertanyaan yang dilontarkan Hong barusan, menyelamatkan Thai dari pandangan Nesia yang menurutnya menyeramkan. Walau dia tahu, bahwa itu bukan ditunjukan untuknya. Tapi, aura yang dikeluarkan Nesia, saat mengingat kenangan buruknya. Membuat mahluk – mahluk menyeramkan yang biasa dilihatnya berkeliaran di sekeliling Nesia, bertambah banyak. Walau sama – sama bisa melihat mahluk seperti itu. Tetap saja, jika dalam jumlah sebanyak itu, cukup mengerikan.
"Ya, kenapa? Kau mau titip sesuatu Hong?" Herannya, melihat Hong.
"Eh, tidak."Gelengnya cepat.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu, aru" Senyum Yao melihat keluarga asianya.
Seulas senyum diberikan yang lain pada Yao, sebelum akhirnya kembali makan. Sementara Nesia, melirik sekilas kedua saudara kembar yang kini menatapnya balik. Satu anggukan diberikan mereka pada Nesia yang kini tersenyum. Berbeda dengan Kiku, Viet dan Malay yang kini timbul tanda tanya melihat reaksi ketiganya. Tidak biasanya mereka akrab, minus Nesia tentunya, yang bisa akrab dengan siapa pun, kecuali Nether dan Aussie.
"Baiklah kalau begitu aku selesai, da ze."Ucap Yong meletakan mangkuk nasinya yang kini kosong.
"Aku juga." sahut kembarannya, melirik Nesia yang ikut meletakan mangkuknya.
"Kau sudah selesai, Nes?." Tanya Malay melihat Nesia ikut berdiri dan mengangguk kearahnya "Tumben?" Herannya merasa aneh, tidak biasanya Nesia secepat itu makannya.
"Memangnya seaneh itu yah, kalau aku makan lebih cepat dari kau."Gerutu Nesia yang disetujui anggukan oleh Malay, membuatnya down saja.
"Sudahlah Nesia, cuekin saja Malay. Sebaiknya kita pergi sekarang, da ze,"Rangkul Yong pada Nesia yang kini menegakan badannya "Semuanya kami pergi dulu." Lanjutnya menarik Nesia pergi.
.
Heran, sepertinya itulah yang ada dibenak mereka semua, melihat Yong dengan santainya menyeret Nesia untuk pergi. Sedangkan kembarannya, tampak berjalan santai di belakang mereka berdua. Seperti seekor bebek yang kini mengikuti induknya. Benar – benar aneh, bahkan keduanya yang biasanya ribut dari pagi hingga malam jika bertemu, walau terkadang yang diributkan hanya masalah kecil, bisa begitu akrab seperti sekarang. Aneh bukan, apa yang sebenarnya terjadi pada ketiga orang itu?
"Kau tau sesuatu Kiku?."Tanya Malay melirik ke arah Kiku yang dengan tenang memakan sarapannya.
"Soal apa?"Tanyanya balik.
"Mereka."
"Tidak"Singkat jelas padat, jawaban dari seorang Kiku.
Sementara para pendengar yang menguping, hanya bisa saling melirik dan melempar pandang. Melihat ke arah Malay yang tampak geram memandang Kiku. Sedangkan yang ditatap dengan tenang menyantap sarapannya.
"Bukannya kau akrab dengan Nesia?!"Tampak kemarahan keluar dari nada Malay.
"Akrab bukan berarti harus selalu tahu urusannya kan" Kembali lagi jawaban yang tidak ingin didengar Malay keluar.
"Kau‼"Geramnya menggebrak meja.
"Aku selesai," Sahut Kiku menaruh sumpit di atas mangkuk nasinya dan meminum tehnya "Kau juga akrab dengan Nesia bukan, kenapa kau tidak cari tau sendiri saja?" Lirik Kiku tajam membuat Malay benar – benar menahan amarah "Kau seperti orang tua, yang khawatir pada anaknya saja."Geleng Kiku berdiri dari kursinya dan berjalan keluar.
.
Meninggalkan Malay yang kesal, sedangkan anggota asia lain hanya diam saja. Sepertinya akhir pekan ini, dimulai dengan kejadian yang tidak diduga semuanya. Yao yang keluar saat liburan, si kembar Soo yang tidak biasanya akrab, Nesia yang tersenyum – senyum aneh dari tadi, sebelum akhirnya dibawa pergi oleh si kembar, serta Kiku dan Malay yang tidak biasanya tampak ribut. Ada apa dengan akhir pekan ini? Sepertinya itulah yang ada dibenak semuanya.
Berbeda dengan Hong dan Viet yang lebih memilih diam memakan sarapannya dengan tenang, seolah tidak ambil pusing. Kecuali Viet tentunya, yang matanya terus melirik kearah Kiku dari tadi, hingga pemuda asia itu keluar dari ruang makan.
'Bukannya kau sama saja dengan Malay.' Batin Viet, mulai mengunyah makanannya kembali.
.
.
_#Gie#_
.
.
Kencan, yang namanya kencan itu pasti menyenangkan. Berdua dengan kekasih, berjalan bergandengan tangan, berbicara berdua dan kalau bisa ditambah efek bunga – bunga, dan bisa jadi melakukan ini itu. Ah, maksudnya ciuman singkat di pipi. Yah, paling tinggi di bibir lah, saat mengantarkan sang kekasih pulang. Kalau bisa lebih dikit juga tidak apa – apa. Sepertinya itu lah pikiran Ivan, atau lebih tepatnya harapan Ivan saat bisa berkencan dengan Yao.
Tapi kenapa semua tidak bisa sesuai dengan rencananya. Pertama, saat dia berjalan bersama Yao, pemuda itu kelihatannya sibuk dengan pikirannya sendiri dan tidak mendengarkannya bicara. Kedua, saat mereka menonton bioskop, yang tentu saja tiketnya didapat dari Nether. Lagi – lagi pemuda itu memasang wajah datar, padahal film yang mereka tonton adalah film seram. Sedikit berharap pemuda itu akan ketakutan dan menempel padanya. Jangankan menonton, sepertinya pemuda itu, pikirannya tidak berada ditempatnya saat ini. Menerawang entah kemana tidak tahu rimbanya.
"…Kau tidak suka filmnya?" Akhirnya Ivan pun bertanya setelah beberapa puluh menit film itu berputar.
"Tidak kok aku suka, filmnya lucu"Senyum Yao.
Lucu? Hei ini film horor, sejak kapan horor itu bisa lucu. Oke, anggap saja ada. Tapi tetap saja bukan ini yang diharapkannya dari ekspresi Yao. Apa lagi ini T** W***n in B***k, apa kah film ini ada sisi humornya? Bagaimana bisa dia bisa memasang ekspresi dan bersikap seperti itu.
"Apa ada masalah?" Tanyanya, sedikit khawatir melihat Yao.
"Eh, tidak kok. Tidak ada apa – apa. Kenapa, aru?"Senyum Yao memandang Ivan.
.
Cukup lama bersama pemuda asia ini, membuat Ivan yakin bahwa senyum yang diberikan Yao barusan adalah palsu. Dan yakin ada sesuatu yang disembunyikan olehnya. Tapi apa? Apa ini berkaitan dengan orang – orang asia itu? Kalau ya, siapa? Apa Nesia? Bukankah yang selama ini selalu dikhawatikran Yao adalah Nesia. Tapi, kenapa? Ada masalah apa lagi dengan gadis itu? Jangan – jangan, Yao tau kejadian antara Nesia dan Nether. Tapi, siapa yang bilang? Berani sekali orang itu.
"Apa ada hubungannya dengan Nesia?" Tanyanya menatap Yao yang bingung.
"Kenapa dengan Nesia?."
"Kau dari tadi terlihat tidak fokus."
"Eh? Maaf, aku tidak bermaksud begitu."Sesal Yao sedikit merasa bersalah.
Melihat pemuda itu menunduk, membuat Ivan merasa tidak enak hati. Dielusnya rambut pemuda asia itu, dan ditariknya pelan mengarah pada dada bidangnya. Berusaha membuat pemuda itu merasa tenang dengan perbuatannya. Sepertinya situasi romantis yang tercipta diantara mereka, sangat dan amat sangat, tidak cocok dengan film yang kini mereka tonton. Dimana tampak beberapa suara menjerit ketakutan. Yah, tapi siapa peduli? Selama bisa bermesraan tanpa gangguan dari gadis biang masalah. Bisa dikatakaan suara teriakan ketakutan ini ,tidak seberapa dibandingkan gangguan yang selalu dilakukan oleh Nesia.
.
Mengingat Nesia, jadi mengingatkannya dengan kejadian waktu itu. Sedikit merinding juga, jika teringat apa yang dilakukan gadis itu pada Nether. Yang akhirnya membuat Nether tidak pernah bisa tidur di kamarnya sendiri beberapa malam ini. Sepertinya dia harus memikirkan ide lain buat gadis asia tenggara itu. Yah, sekedar ide cadangan buat berjaga – jaga jika rencananya gagal nanti.
"…Nesia." Ucap Yao membuyarkan lamunan Ivan.
"Eh, apa?" Tanya Ivan melihat Yao duduk dengan tegak melihat ke arah depan
"Bukankah itu Nesia, aru?" kagetnya, menatap lurus ke depan.
Tampak dua orang, ah ralat tiga orang, berjalan menuju ke bangku mereka. Membuat Yao dan Ivan kaget menyadari sosok itu. Sementara ketiganya, ah dua diantaranya terlihat mencocokan nomor bangkunya. Sedangkan sosok yang mereka kenal sebagai Nesia, memandang kearah mereka dengan senyum diwajahnya.
Senyum yang bagi Ivan, bagaikan senyum devil. Sepertinya Nesia menyadari keberadaan mereka sebelum Ivan menghindar untuk bersembunyi, mengajak Yao tentunya. Yah, mana mungkin Ivan rela kencan berharganya diganggu.
"…Nee-chan."Senyum ceria Nesia, menghampiri keduanya sambil menarik salah seorang yang bersamanya.
.
Ahhh, sepertinya biang pengganggu kencan hari ini bukan Nesia saja. Melihat dua orang yang dibawa oleh Nesia, membuat Ivan yakin ini adalah hari terburuk yang akan dialaminya. Bagaimana tidak buruk? Jika orang no satu dari wilayah asia yang ingin memisahkannya berada disini. Ibarat kata, jika Nesia adalah Letnan Jendral. Maka orang yang dibawanya ini adalah Jendralnya. Benar – benar hari terburuk sepanjang sejarah.
"…Biasakah kau bergeser, da ze?" Senyum manis terpampang diwajah Yong, kini menatap kearah Ivan.
"Eh? Apa kau bilang? Bergeser yang benar saja,da" Tampak nada tidak terima pada diri Ivan, tersenyum mengancam menatap Yong "Kenapa aku harus bergeser,da?"
"Karena aku mau duduk disitu, da ze,"Dengan tampang innocent Yong berkata, melirik kembarannya yang kini menempati sebelah kiri Yao "Aku ingin duduk disebelah Yao, da ze." Lanjutnya.
"Kau kira, kau saja, da."Sinis Ivan, tidak peduli akan keberadaan Yao. Berbanding terbalik saat berhadapan dengan Nesia dan Yao berada disampingnya. Sekesal apa pun tidak akan diperlihatkannya.
Beruntung, yah beruntung mereka duduk di baris belakang, dan beruntung bioskop itu lumayan sepi, (Sepi disini menurut pandangan Yao, yah kira – kira 80 % yang menonton. Sedangkan ramai menurutnya itu sekitar 99%). Jadi pertengkaran itu tidak mengganggu penonton yang lain. Yao sendiri melihat pertengkaran keduanya, hanya bisa mengurut keningnya. Sepertinya ini merupakan pola pertengkaran biasa yang selalu dilakukan keduanya. Hyun sendiri, selaku kembaran Yong tampak tidak ambil pusing. Menikmati acara menonton sambil memakan popcron yang dibelinya tadi. Sayang tiketnya, sepertinya itulah yang ada dipikiran Hyun, seandainya Aussie berada disana dan membacanya. Berbanding terbalik dengan Nesia yang diam memperhatikan keduanya.
.
"Kau tidak duduk Nesia?"Tanya Yao melihat Nesia memperhatikan karcis tiketnya, yang ternyata memang menunjuk kebaris Yao dan Ivan. Atau lebih tepatnya bersebelahan dengan mereka berdua duduknya.
"…Nee-chan," ditatapnya Yao yang kini heran melihatnya "Pangku bisa?" Pertanyaan yang membuat ketiga pemuda asia itu menatapnya heran, plus Ivan "Habisnya aku mau duduk di sebelah Nee-chan, tapi Ivan dan Yong tidak mau mengalah." Sedikit mengerucutkan bibirnya Nesia berkata.
Manis, sepertinya itulah kata yang pas untuk menggambarkan ekspresi Nesia saat ini. Tapi berhubung semua rada memiliki kelainan, jadi kata manis itu tidak mumpan untuk semuanya. Yah kecuali, untuk anggota asia yang merasa Nesia lebih tepat kearah sangat imut. Mengingatkan mereka saat – saat masih bocah, betapa senangnya membuat gadis itu berekspresi seperti tadi. Hal yang sangat jarang dilakukannya sekarang.
Ivan sendiri, menyadari raut perubahan ketiga pemuda tersebut yang kini menatapnya. Mau tidak mau, dan terpaksa mau, harus merelakan kursinya diduduki oleh Nesia. Yah, itu lebih baik dari pada Nesia harus duduk, dipangkuan kekasihnya. Tidak, Ivan benar – benar tidak akan pernah rela. Demi dewanya heracles sekalipun, dia tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.
.
.
_#CHAN#_
.
.
Sunyi, senyap, sepertinya itu adalah gambaran yang cocok bagi suasana di meja makan yang diduduki tujuh pemuda dan satu pemudi. Siapa sajakah mereka? Tentu saja, Ivan, Yao, si kembar dan Nesia jangan dilupakan. Dan tambahan anggota sekarang Arthur, Nether dan Aussie. Bagaimana mereka bertiga bisa berada disana? Pastinya itu kerjaan Ivan.
Tidak terima acara kencan yang berharga diganggu, maka bala bantuan pun dipanggil. Apalagi mengingat kejadian beberapa hari yang lalu antara Nether dan Nesia. Dan perbuataan Nesia malamnya, pada Nether. Membuat pemuda itu, sepertinya berniat balas dendam pada Nesia. Sebagai teman yang baik, tentu Ivan tidak akan menghalangi bukan. Jika sohibnya sedari dulu itu, berniat balas dendam. Yah, sebenarnya tidak tega juga, tapi demi kelancaraan hubungannya dengan Yao. Terpaksa, walau sebenarnya ikhlas. Mengizinkan Nether untuk membalasnya. Lagian Nether tidak mungkin berbuat macam – macam kan. Dalam konteks ini, tidak kejam.
Berbanding terbalik dengan Ivan yang tampak berpikir didalam hati. Semuanya hanya diam meresapi sajian dihadapannya, kecuali Aussie yang kini mendumel dalam hati. Ternyata memiliki kemampuan membaca pikiran itu ada merepotkannya juga. Seperti sekarang ini.
.
Walau kelihatannya tersenyum dari luar sambil meminum tehnya. Tapi isi kepala Nesia terus saja membatin, sepertinya khusus ditunjukkannya pada dirinya 'Hei, katakan sesuatu! Tidak bosan apa kau dengan keadaan seperti ini dari tadi?' Batin Nesia menggerutu.
Belum lagi isi pikiran Hyun, yang kini ikut mengarah langsung padanya 'Sebaiknya ada yang memulai, jika tidak kita akan terus seperti ini.'
'Hei, aku sudah bosan diam terus seperti ini,' Batin Arthur, dengan tenang meminum tehnya sama seperti Nesia 'Belum lagi pandangan yang diarahkan mahluk – mahluk Nesia pada kita. Tahu bakal seperti ini lebih baik aku diam saja di asrama.' Gerutunya dalam hati.
'Bosan.' Batin Yong, yang duduk disamping Yao. Melirik Nesia yang tersenyum padanya.
'Jauhkan tanganmu dari Yao ku,da!' Sepertinya ini adalah isi pikiran Ivan. Tidak terima kiri kanan Yao ada Nesia dan Yong. Ditambah lagi Yao yang kini mengelus kepala Nesia.
'Hei, katakan sesuatu cepat!' Kali ini giliran Nether yang membatin, membuatnya makin frustasi saja
Kenapa semua malah menyarankan dia yang memulai? Kenapa tidak mereka saja sendiri? Dasar suka seenaknya. Tidak terima atas prilaku rekan – rekannya. Membuatnya sedikit merasa kesal, Aussie pun balas membatin.
'Brengsek, kenapa tidak kalian saja sendiri?!' Batinnya geram, satu lagi kemampuan Aussie. Dapat mengirim telepati ke orang yang diinginkannya.
'Karena kau bisa membaca pikiran kami.' Batin semuanya serentak, minus Yao, Ivan dan Yong. Sepertinya kata kami disini mereka pakai, karena Aussie sendiri mengatakan kata kalian pada mereka. Membuat mereka yakin, bahwa bukan mereka sendiri yang berpikir begitu, pasti yang lainnya juga memiliki pikiran sama.
.
Benar – benar membuat Aussie, harus menahan amarah melihat kelakuan teman – temannya. Nether sendiri tampaknya menyadari lirikan Arthur di sampingnya. Membuatnya mengangguk dan tidak lama kemudian.
"AAAHHHHHHH‼!" teriak kesakitan Aussie menggema saat Nether menginjak kakinya.
.
.
Tbc
.
A/N : Ahhhh, hidup itu memang indah, apa lagi jika chapter 7 berhasil dibuat (lagi makan roti dengan santainya) #Plakkkk#.
Nesia : Sudah mulai tau.
Gie : Eh? Kyaaaaa, ya ampun – ya ampun (panic mode on) Uhuk - uhuk*keselek gara2 makan buru2*
Malay : mulai…gak nation, gak author. Sama saja (geleng2kepala)
Nesia : bilang sesuatu lay (senyumDevil)
Malay : enggak (senyumAngel)
Gie : (senyum campuran keduanya)
All : rada stress tuh tiga – tiganya *bisik2,sekecilMungkin*
Yao : (nyeret2 author dan menyuruh duduk dibangku dengan manisnya) bisa dimulai gie – chan *senyum angel* capek ngurus bocah ini dari kemarin *dalam hati tentunya*
Gie : *angguk2*liat makanan yang disuguhin oleh yao*SelamatMakan*Plakkk*
Yao : balasan review gie – chan *senyumDevil*
All : kayaknya yao, lagi pms tuh *bisik2lebih pelan*
Gie : gleak*takut liat senyum yao yang gak biasa* ba – baiklah. Sa-saya akan membalas review dari semuanya yang selalu setia membaca dan menyempatkan diri mereview *liat yao yang tersenyum manis* dan tentu saja, seperti biasa *makin semangat liat senyum yao yang kembali normal*saya tidak akan pernah sendirian, hahahaha *narik2nation yangudah mulaipada kabur* saatnya dimulai.
.
.
pemimpin fujoshi
A-apa 5 ta-tahun *mulai ngitung2 keterlambatan*benar juga yah,hari diganti tahun* maaf kan saya yang terlalu lama merantau ke negeri sebrang#Plaaaakkk#. Nesia: negeri mana?. Gie: negeri alam mimpi *PLAKKK*. Nih, aussie, kangguru ma koala mu gak ada yang laku. Aussie : *pundung*.
Nesia: benar – benar, nether mesum ah salah, AMAT MESUM. Galakan santet buat nether, ayo dukung.
Ckckc, Nesia ternyata menyeramkan *geleng2* Ah ya, salam hantu juga. Eh? Salam apa?Ha-hantu? Kyaaa tidakkkkkkk *ngibrit lari*
.
Ayane Shioda
Eh, benarkah. Kyaaa*blushing akut* #PLAKKKK#digeplakNesia#. Eh, benarkah typo *mulai mencari*. Kiku n Aussie: eh Y-Yaoi *saling lirik*. Nesia: makasih untuk dukungannya, yeee, ayo dukung saya*mulai jingkrak2*. Eh, kilat lagi? Kyaaaa *mulai mencari penangkal kilat*
.
Hibiki Yuka
Slamat datang kembali^^,. Eh, walah kok bisa*Panic*, ba-baiklah akan saya jawab. Tapi tidak saya tanggung loh he :D *DUAKKKK*dapatlemparandariNesia*. Maaaf kan untuk update saya yang lama, salahkan saja mereka*ngelus2benjol,sambil tunjuk Alfred ma kiku* yang sudah buat saya pingsan selama ini *PlaKK* Nesia: ho, berani ngeles(senyumDevil). Ahhhh,s-saya yang sa-salah T.T. akan saya usahakan untuk kemunculan si ALIS TEBAl. Arthur:Bisa diulangin gie (ketularanSenyum nesia). Ma-maksud saya Arthur. Nesia:yeee, dukung Nesia,ayo santet ramai2 *makin semangat saking banyak yang dukung*. Alfred:ye, dukung saya juga *ngelirik kiku yang diam dipojokan*
.
Yazawa Kana
I-Iya review,*ngarep*Blushing* Nesia:sadar woy sadar*nyadarin author yang masih sibuk berfantasi*.
Kiku: eh…ti-tidak masalah*senyum ala model*dalam hati nangis,liat Alfred loncat – loncat*. Belarus yah *liat Ivan yang mulai nyuap nesia,biar bujuk Author*kayaknya bakal seru nih. Kiku catat . Kiku: bisa diulangi gie-chan *senyumDevil*. Eh, Kiku, bisa tolong catatkan *gemetaran*. Kiku: baiklah.
.
lady black22
Kyaaaaa, saya dipuji jenius *Blushingakut*. Nesia: Kyaaa, Author'y pingsan *panic*. Alfred: Hero, tentu saja *senyumPd* memang mimpi besar no 1'y apa? Eh, Gie-chan, sadar cepat, gara2 naskah gak benar mu nih*guncang2Author* All: walah, setelah diangkat tinggi2*dengan pujian*, Alfred benar2 dibanting, hebat *turutbersimpatipadaAlfred*. Nether: boleh2 *liatAussiepundung*. Ivan : gak akan muncul, jangan sampai muncul *. Eh *mulaisiuman* Jangan seenaknya kalian berdua *ngamuk2samaIvan&Nether,ygBalasMengeluarkanPistol*.
.
*mulai baca review yang kedua,sambil bawa tulip buat hadiah*. Hohoho soal itu biar Alfred yang jelaskan. Alfred: Apaaaa?kenapa? Mau gie yang jelaskan nih *senyumDevil*. Alfred: *mikir* gak usah, tar aneh2 lagi. Gie: Yang singkat jelas padat Al. Alfred: Sebenarnya, asrama ini terdiri atas 6. Afrika,Amerika,Australia,dkk Behubung authornya rada malas. Gie:Hei. Alfred: *lanjutGakPeduli* jadi dengan Authornya dipangkas. Dan lagi sebagai lima sohib, kami tidak mungkin terpisahkan Hahahaha. Gie: Aish, bilang saja, kalau aslinya Alfred tidak berani di asrama Amerika*diacunginpistoldenganAlfred*. Alfred: Bisa di ulangi. Gie: Ehm..sedari kecil mereka sudah bersama di Asrama Eropa, karena mereka lima sekawan tidak terpisahkan dan tiga dari lima sekawan itu berada di Eropa jadi ditetapkan mereka tinggal di asrama Eropa, walau harus memaksa kakek roma agar bisa bersama2. Jadi intinya adalah… All: Authornya malas, ribet banget jelasinnya. Gie: *Pundung*. Tidak, yao dan anggota asia tidak tau soal itu *nyengir,liat Nether yang geleng2dan pucat* Iya kayaknya seru tuh. Jadi jangan suruh Nesia untuk menyantet saya yah*Puppy eyes*. Eh, swiss? *liat Alfred*.
.
Melting. Azure-Sky
Hola juga. Eh, ivan? *lirik Ivan*garuk2 kepala*. Aussie : sa-sadis *pundung* apa salahku?. All:tabahkan hatimu nak *bersimpati semua*. Eh ada usul,asik*mulai baca usulnya*berunding tingkat dewan* usulnya bagus *jempol*. Sayangnya,saya tidak bisa*pose,cindrella yang disiksa* . All: mulai deh, drama anak tirinya *geleng2 liat kelakuan Author*. Iya nih benar nama yao tinggal ditambah I jadi yaoi *para nation ketawa bersama – sama Author*. Yao: Pada tertawakan apa *senyum medusa*.
All: *ngibrit lari,ninggalin Author sendiri*. Ah masih ada lanjutan, Denmark yah *alihkan perhatian*maaf kan saya yang belum dapat gambaran . sepertinya diantar semua permintaan, hanya Indopan saja yang bisa saya kabulkan untuk sekarang *merenung*. Hah,berikutnya kalian jawab*liat para nation dan kembali merenung*
Nether :oh baiklah, asal sesuai euro. Aussie: ti-tidak akan kuberikan*ngibrit bawa kanggurunya*.Ivan : konechno. Nesia: apa tuh artinya. Ivan :tentu saja, Nesia mau ikutan *senyum andalan*. Nesia: eh, tidak *ngibrit kabur*. Yao dan Alfred: *sudah lari duluan*. Arthur: daun teh? Baiklah. Kiku : Searus? *mulai mencari*. Eh, sudah yah? *liat nation yang pada sibuk dan kabur. A-Apa kilat? Ah, selamat untung sudah ada antena penangkal kilat. Eh,A-api hades dan po-poseidon? *lagi mikir cara mengelak dari keduanya*.Sa-salam juga
.
.
Matsuki Sanae dan Yazawa Kana
H-hai juga ^^, eh benarkah. Terima kasih buat para kakak yang sudah merekomendasikan *senyum girang*. Dan terima kasih sudah bersedia merekomendasikan *bungkuk2 sambil berlindung didekat antena penangkal petir*. Nesia : Yeee, ayo bantu dukung, santet buat nether. Berniat kenalan dengan teman – teman saya?. Ckckckc, kambuh deh,hati2 saja Net *bisik2dengan Nether liat kelakuan Nesia*
.
Mifune Haruka
Eh…eh..*bingung*. Eh…ah..i-iya, tidak apa2. Eh benarkah, makasih ^^ *cengir lebar* Nesia: Sadar woy *GeplakAuthor* ayo dukung buat kalahkan Nether *mengepalkan tangan keatas*. HIDUP FFN *author teriak2 diri*, HIDUP FHI *ditemani Nesia*, HIDUP UANG *semua bergabung ikut teriak*. Idih, giliran uang aja, semua pada kompak.
.
Tendo MegumiEtou Hiroki
Eh benarkah Awesome ^^ *blushing* Gil: Ada yang manggil saya *Muncul tiba2*. Gak – gak ada *dorong Gilbert kembali ketempat asalnya*.
Untuk Megumi: Iya, akan saya usahakan untuk diperbanyak *Liat Kiku dan Nesia yang Blushing* Kiku dan Nesia : Makasih.
Untuk Hiroki : England yah *Liat Arthur yang ikut kaget*. Arthur: ternyata ada yang memperhatikaan saya juga,Makasih. Nesia: hahaha, Ayo ikut galakan santet nether*bawa spanduk*. yah, mulai lagi. Eh, ki-kilat? Hehehe *tawa hambar*
yao dan Ivan :aru, da? bukannya itu tr...*dibekapArthur&Alfred,atasPerintahAuthor*
.
Yukishirozakura
Ow, akhirnya ada yang senang dengan koalamu Auss. Aussie: Jangan singkat nama orang sembarangan.
Nesia: iya, Tidakkkkkkkk. Eh, sama Aussie? Nih si sama saja lepas dari mulut buaya ke mulut harimau *liat kearah Author dan Aussie yang cekikian*. Hoho,tar diungkapin satu2, sabar saja yah yuki. Soal Neth, tanya saja pada teman – teman Nesia yang transparan itu *Author tidak bertanggung jawab*
.
.
.
Sekian balasan review untuk chapter kemarin. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mereview. ^^. Serta memberikan usul buat perkembangan cerita ini *nangis haru,dipelukan nesia* Nesia: iya2 sudah2 *bujuk2authoryangmakinjadi* WOY SUDAH *kesabaranhabis*. Dan bersedia untuk mendukung mereka *liatParaNationYangCengar-Cengir*. Dan maafkan atas keterlambatan untuk mengupdate chapter lalu. Dikarenakan perubahan jadwal yang mendadak . Jadi mungkin paling telat, seperti kemarin, yah kira-kira 3 minggu. *DoublePlakkkk*. Nesia: Yang benar dikit kenapa?. Itu kan jika saya terlambat lagi mengupdatenya Nes. Tapi paling cepat seperti biasa, tenang saja. Saya usahakan cepat. Jadi akhir kata, terima kasih buat kritik dan sarannya. Walaupun masih ada typo yang nyelip, jangan jera untuk kembali mereview ^^
.
.
Cerita para nation setelah membalas review
Kiku dan Alfred: ternyata masih ada yang setia dukung kami *nangisharu sambilberpelukan*
Malay : Hah, iya2 *geleng2kepalaliatKeduanya* Eh,Nether kenpa tuh? *liat Nether yang mojok*
Arthur: oh, itu biasa review *sambilsenyum bahagiasetelah bacareview*
Malay : lah, bukannya dia dapat banyak dukungan juga seperti Kiku dan Alfred
Aussie: Iya tuh, tau si Nether, bukannya yang dukung lebih banyak, dari pada aku. *senyum2*
Malay: seharusnya kamu senang kan *angguk2*
Nether : dukung sih, dukung *masihpundung*
Malay: Lalu?
Kiku dan Alfred : Tapi lebih banyak yang dukung buat dia disantet ma Nesia *ketawaNgakak*
Nether : ini, semua salah dia *tunjuk author yang numpang lewat sambil liat Nesia*
Nesia : hahahah, ayo dukung gerakan santet Nether *terus teriak2 bawa Spanduk*
Nether : Kesini Gie-chan *muka nyeramin*
Gie: eh, a-apa salah saya? Se-seharusnya Neth, senang diberi kesempatan Kiss dengan Nesia *Author gugup mundur perlahan2*
Nether: dan gara – gara itu, mereka dukung dia *tunjukNesia yang masih sibuk dengan spanduknya* buat nyantet gue, Sini kau.
Ivan: Yao tidak bantuin gie-chan,da
Yao: bosan, bantuiin dia terus mendingan *liatNation yang asik mandangin Author yang ngibrit lari* Woy
All : eh *sontak liat Yao dan tersenyum, mengangguk* Makasih sudah membaca RnR
All: Read n Review Plizzzzzzzzzzzzz
