DON'T GO!

Part 7

By : Ichizuki Takumi

Pairing : Sekai/Kaihun, HunHan/Hanhun, Krishun, slight Chanhun

Pairing bisa bertambah seiring berjalannya cerita

Disclaimer: EXO milik Tuhan, orang tua, dan agensinya. Saya hanya meminjamnya sebagai karakter tokoh saja.

Rated : T

Genre : Romance, Angst

WARNING: YAOI, UKE!SEHUN

Happy reading~

.

.

.

Kai duduk di kursi dengan laptop hitam menyala di hadapannya. Ruangan ber-AC dengan luas melebihi kamar apartemennya terlihat nyaman dengan pohon hias di sudut ruangan.

Ia melirik jam yang menunjuk pukul satu tepat. Biasanya saat seperti ini dia akan menghabiskan waktunya di kantin kampus kemudian menari di tempat latihan. Tapi kali ini berbeda. Beberapa hari ini dia lebih memilih menghabiskan waktu di tempat ber-AC yang menurutnya tidak nyaman. Senyaman-nyamannya tempat itu, dia tetap merasa pengap berada disana, dengan pakaian formal, jas dan dasi, serta tumpukan berkas yang berada di meja.

Kai memegang pangkal hidungnya. Matanya terasa perih karena sejak lima jam yang lalu tidak lepas dari layar elektronik di depannya. Ya, lima jam yang lalu. Dia hanya mengikuti kuliah pagi dan membolos di mata kuliah berikutnya.

Tubuhnya kembali ia tegakkan saat mendengar ketukan dari luar. Tanpa persetujuannya, seseorang berhasil masuk dengan senyum manis di wajah tampannya. Baekhyun. Pemuda yang bisa dikatakan telah membantunya terpenjara dalam ruangan ini. Bukan apa-apa, tapi seharusnya dia berterimakasih pada pemuda itu karena telah menempatkan dirinya disini.

"Kai, kau belum makan?" pemuda itu berjalan mendekat dan duduk di sofa. "Makanlah, aku membawakanmu kimchi."

Kai mengangguk dan beranjak dari kursinya. Perutnya memang sudah berbunyi dari tadi. Dia juga harus makan kalau tidak ingin pekerjaannya menumpuk karena kelaparan.

Dia menatap makanan yang dibawa Baekhyun. Memang benar ada kimchi disana, tapi selain itu ada beberapa hidangan lain yang tidak dia ketahui namanya, yang pasti rasanya sangat enak.

Berbicara tentang enak, dia jadi teringat dengan Sehun. Apa dia sudah makan, apa makanannya enak, apa dia menghabiskan makanannya, apa dia menikmati makanannya. Pikiran seperti itu sering terlintas dalam benaknya tiap kali merasakan makanan enak seperti saat ini.

"Bagaimana dengan tawaranku?"

Kai beralih dari mangakuk nasi digenggamannya dan mendongak menatap Baekhyun. Dia berpikir sebentar dan melanjutkan makannya.

"Entahlah, aku sedang memikirkannya."

Baekhyun menurunkan pandangan. Dia terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu.

"Baekhyun hyung..."

Dia mendongak saat namanya dipanggil.

"... terimakasih."

Baekhyun tersenyum mendengarnya. Senyumannya bertambah lebar saat melihat Kai makan dengan lahap.

Bagaimana mungkin dia tidak jatuh pada namja dihadapannya ini. Pesonanya terlalu kuat untuk ditolak.

.

.

XOXO

.

.

Sehun menatap cangkir berisi teh di hadapannya. Otaknya mencoba untuk berpikir, tapi dia tidak tau apa yang sedang dipikirkannya.

"Bagaimana paman? Itu 'Xi Luhan', si Luhan rusa itu kan?"

Sehun kembali menanyakan pertanyaan yang sama. Dan seperti sebelumnya, Paman Lee hanya menjawab dengan 'entahlah' dan 'tidak yakin'. Tapi dia tetap yakin kalau orang yang berada di koran adalah rusa penindas yang membuatnya menderita.

"Paman-"

Perkataannya terputus saat mendengar suara langkah dari ruang tengah yang menuju ke tempatnya berada. Dia langsung berdiri panik, bingung antara mengangkat kaki kiri atau kanan terlebih dahulu.

"Paman, aku ada urusan mendadak. Sampaikan salamku pada 'Xi Luhan'," ucapnya tanpa sadar.

Dia meminum tehnya dalam sekali teguk.

"Bye," lanjutnya.

Dia berlari ke pintu belakang yang ada di dapur itu. Mencoba mendorongnya, tapi tidak terbuka. Dengan panik dia memanjat jendela yang kebetulan terbuka di dekat pintu. Dengan secepat kilat tubuhnya sudah tak terlihat lagi.

"Ada apa dengannya?" tanya Luhan yang berdiri di ambang dapur.

Paman Lee hanya menggeleng sambil tersenyum geli melihat tingkah laku Sehun.

Luhan berjalan ke arah pintu dan menariknya. Dengan mudah pintu itu terbuka. Sedikit rasa geli menggelitik perutnya saat melihat kepanikan Sehun tadi.

"Tuan muda, ada hal penting yang harus kusampaikan."

Paman Lee memberikan koran yang dibawa Sehun saat Luhan duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Sehun.

"Sepertinya, beritanya sudah menyebar," kata Paman Lee.

Luhan menatap potret dirinya yang sedang berjabat tangan dengan tamu penting di sebuah pesta. Dia membaca judul yang tercetak besar di atasnya. Tiba-tiba perutnya tergelitik, perasaan geli kembali menghampirinya saat mengetahui kenapa Sehun terlihat panik ketika dia datang.

"Khekhekhekhekhe-hahahahaha..."

Paman Lee memandang Tuan mudanya dengan senyum yang bertengger di wajah tuanya. Dia tidak menyangka Luhan begitu menyukai Sehun. Ini adalah hal baru yang dia lihat selama bersama tuan mudanya.

.

XOXO

.

"Hampir saja, hampir saja aku mati berdiri."

Nafas Sehun sedikit terengah karena buru-buru berlari dari rumah Luhan. Dia tidak tahu harus berkata apa kalau sampai bertatap muka dengan rusa itu. Apa dia harus memberinya selamat?

Mengingat posisinya sekarang yang serba salah, dia jadi mengurungkan niatnya untuk memberi selamat.

Dia bukan namja bodoh yang melempar minyak dalam api. Dia tidak ingin memasukkan dirinya lebih dalam lagi di kehidupan monster rusa itu. Cukup sebatas simbiosis yang saling menguntungkan saja, tidak lebih. Dia berdo'a semoga hidupnya tidak lebih buruk dari ini.

"Wah-wah, lihat siapa disini."

Tiba-tiba tubuh Sehun menegang mendengar suara itu. Wajahnya terangkat memandang lelaki di depannya. Tidak salah lagi, itu Tao, cinta pertama sekaligus orang pertama yang membuat hatinya hancur.

"Lama tidak bertemu Hun-Hun. Apa kau merindukanku?"

Tanpa disadari, wajah Tao sudah ada di hadapan Sehun. Dia tersenyum kemudian mengecup bibir Sehun yang sedikit terbuka.

Sehun segera mendorong dada bidang pemuda di hadapannya. Matanya berkilat tajam, ekspresinya mengeras. Dia tidak percaya akan bertemu orang yang dibencinya disini. Sepertinya nasib buruk memang senang menghinggapinya.

"Kau tetap cantik seperti dulu Hun. Apa sudah ada yang memilikimu? Atau kau masih setia menungguku?" ujar Tao seduktif di telinga Sehun. Tangannya mendekap bahu kecil tapi lebar milik Sehun. Hidungnya mengendus wangi tubuh Sehun, mencoba menyimpannya dalam memori otak.

Sehun melirik tajam pemuda di sampingnya, kemudian mendorong keras hingga Tao hampir terjatuh. Dia langsung melangkahkan kakinya menjauh, tidak ingin berada di dekat pemuda itu.

"Kita akan bertemu lagi Hun-Hun. Annyeong!"

Sehun menggeleng. Dia tidak ingin bertemu lagi. Pemuda itu cukup merusak masa lalunya, tidak dengan masa depannya.

Dengan erat tangannya memegang bagian dada. Terasa sangat sakit seperti di remas. Dia memukul dadanya keras, berharap rasa sakit itu segera hilang.

.

.

XOXO

.

.

"Nomor yang ada tuju sedang tidak-"

Sehun kembali menekan tombol 'call' di layar ponselnya.

"Nomor yang-"

Dia menyerah. Sudah puluhan kali dia menelpon Kai, tapi tidak ada respon. Belasan kali pula dia mengirim pesan, tapi tidak dibalas.

"Kai, sakit. Kau dimana?"

Dia meremas dadanya lagi. Bajunya sudah kusut sekarang. Matanya tak beralih dari aliran sungai di hadapannya. Dia mencoba menghilangkan rasa sakit itu seperti aliran sungai yang mengalir, tapi sulit. Sakit itu terasa terperangkap di dadanya.

Setetes air mendarat di wajahnya, disusul dengan jutaan tetes lainnya. Hujan. Dia kembali berharap hujan bisa melunturkan rasa sakit itu. Dan lagi-lagi gagal.

Merasa putus asa, dia menenggelamkan wajahnya pada lutut yang ia dekap dengan erat. Sampai dia tidak merasa tetesan air membasahi tubuhnya lagi.

Kepalanya mendongak mendapati seorang pemuda sedang memayunginya dengan payung hitam. Pandangannya sedikit kabur karena air mata, tapi dia yakin siapa pemuda disampingnya. Dia segera berdiri dan memeluk pemuda itu hingga payung yang melindunginya dari hujan terjatuh.

"Hiks, hyung. Sakit. Rasanya sangat sakit."

Pandangan pemuda itu meredup melihat orang yang dicintainya berantakan seperti ini. Dia mengelus rambut lepek Sehun dan semakin menarik tubuh kurus itu dalam pelukannya.

.

.

XOXO

.

.

Kai mengaktifkan ponselnya yang sedari tadi sengaja ia matikan. Banyak pesan yang masuk dan kebanyakan dari Sehun. Sudut bibirnya tertarik. Apa Sehun begitu merindukannya?

Namun senyum itu seketika hilang saat membaca pesan pertama dari Sehun.

'Aku bertemu Tao. Rasanya sakit. Kau dimana Kai?'

Tangannya dengan cepat menekan tombol untuk melihat pesan berikutnya.

'Kim Jongin, aku membutuhkanmu.'

Genggamannya menguat. Tiba-tiba hatinya terasa panas.

"Kai, apa yang kau lakukan disini? Banyak tamu yang harus kau temui."

"Maaf."

Kai segera berlari keluar gedung pertemuan, meninggalkan Baekhyun yang menatapnya dalam diam.

"Kai, kapan kau membuka hatimu untukku. Tidak bisakah namaku berada disana?"

Ucap Baekhyun lirih disertai setetes air mata yang jatuh.

.

.

.

TBC

.

.

.

Adakah yang menunggu ff ini?

Terimakasih sudah mereview chap sebelumnya. Dan kurasa lebih dari setengah tahun ff ini terbengkalai. Bukan maksudku melupakannya, tapi WB selalu menyerang di tengah jalan. Yang pernah menulis pasti merasakannya.

Aku tau ini chapter yang pendek. Dan gaya penulisannya juga berubah. Aku sengaja memperpadat ceritanya agar cepat selesai. Dan soal chap yg pendek, memang sengaja kupenggal disitu. Aku masih memikirkan bagaimana cerita selanjutnya. Sebenarnya aku sudah punya gambaran dari awal sampai ending, hanya saja, ada yang missing di tengah2. Mungkin ada yang berbaik hati berbagi ide?

Thanks to reading ^^

Mind to review?