Author : Park Shita

Tittle : G.O.L ( Game of Love chapter 7 )

Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Xi Luhan, Oh Sehun, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Zhang Yixing, Wu Yi Fan

Rating : T maybe T+

Masih ada yang inget sama ff ini ? atau ada yang menantikan kehadiran ff ini? Hehehe, aku minta maaf karena updatenya lama. Ini aku bawain chapter lanjutan dari G.O.L aku harap kalian suka.

Mohon dibaca dulu hingga selesai, sebelum kalian mengambil keputusan. Selamat menikmati, mohon maaf kalau banyak typo, atau ada yang tersinggung. Mohon review dan dukungannya ya..

Games Of Love

Part 7

(Under the tree )


Seorang namja tengah duduk di sebuah ruangan yang cukup luas, namun ruangan itu hanya berisi cermin besar yang menempel di dinding dan sebuah meja serta kursi di sudut ruangan. Dia mengatur nafasnya yang terengah-engah, sampai akhirnya seorang namja yang tiba-tiba muncul menginterupsinya.

"Ini sudah yang kesekian kalinya kau menyiksa dirimu. Ayo pulang chagi!" ucap namja yang sedang berdiri itu.

"Ani!" sahut namja itu ketus setelah mengetahui siapa gerangan yang bicara barusan.

"Aku tahu kau marah, tapi kau tak bisa menyiksa dirimu dengan menari seharian penuh tanpa berhenti. Tubuhmu butuh istirahat, kau bukan robot."

"Aku tahu." Sahutnya singkat.

"Kalau kau tahu sebaiknya kita pulang!"

"Ani. Kau saja yang pulang!" sahut namja itu tanpa mau menoleh kearah namja di hadapannya.

"KAI!" pekik namja yang berdiri itu, nampaknya ia sudah emosi.

"Jangan berteriak padaku!" pekik Kai tak mau kalah, sambil menatap lawan bicaranya tajam.

"Kalau begitu dengarkan aku!"

"Tch! Mendengarkanmu? Kau saja tak mau mendengarkanku."

"Apa? Apa yang tak mau ku dengarkan darimu?" nada Lay terdengar melemah.

"Jauhi dia!"

"Ck! Dia lagi. Kenapa kau selalu menjadikannya alasan atas pertengkaran kita, berulang kali aku katakan, aku tak ada hubungan dengannya."

" Kau bohong Lay-ah! Kau sering sekali menemuinya, aku rasa kalian menyembunyikan sesuatu dariku!"

"Terserah padamu! Aku sudah menjelaskan semuanya , berulang kali aku katakan. Aku dan Kris hanya sebatas teman."

"Teman? Apa kau tak merasa kalau si brengsek itu menyimpan perasaan padamu?" pekik Kai.

PLAK!

Pertemuan antara dua kulit itu menghasilkan suara yang keras dan meninggalkan bekas kemerahan di organ tubuh kedua pihak tersebut.

"Kau selalu menuduhku yang bukan-bukan Kai-ah. Kita seharusnya saling mempercayai, tapi kenapa kau seperti ini? " ucap Lay dengan mata yang mulai basah, sedangkan Kai hanya menundukan kepalanya menahan emosi terlihat dari rahangnya yang semakin mengeras.

"Baiklah! Aku tak akan mempermasalahkan ini. Kita harus fokus pada kontes menari itu. Bagaimana pun juga kita harus bisa menang." Ucap Lay sebelum akhirnya pergi dengan terisak. Kai masih menundukan kepalanya, perlahan tubuhnya melemas dan dia terduduk di lantai dengan punggung yang bersandar di dinding, ia mencengkram rambutnya kuat.

Lay duduk di dalam toilet, ia menangis sejadi-jadinya. Selama ini mereka memang terlihat akur, namun sebenarnya mereka juga sering bertengkar dan berakhir dengan dirinya yang mengurung diri di toilet. Lay tak pernah mempermasalahkan pertengkaran mereka, karena ia tahu yang namanya pasangan pasti akan bertengkar, tapi yang ia tak habis pikir selalu saja pertengkaran mereka berawal dari kecemburuan Kai terhadap sahabat masa kecilnya, Kris. Ia dan Kris memang bersahabat sejak lama, dan sudah seperti saudara, namun hal ini yang tidak bisa Kai terima, ia merasa kalau Lay tak pantas akrab dengan namja lain selain dirinya. Tiba-tiba ponsel Lay berbunyi, ia segera mengangkatnya.

"Yeobb_"

"Yixing-ah. Hari ini kekasihku berulang tahun. Menurutmu aku harus mengajaknya menonton atau mengajaknya jalan-jalan?" ucap seseorang di sebrang sana. Lay mengerutkan dahinya dan memperhatikan nama yang tertera di layar ponselnya.

"Kris? Memangnya kau dimana sekarang?"

"Aku sudah dicaffe, dan aku... eh tunggu dulu! Ada apa dengan suaramu?"

"A-ani." Sahut Lay

"Bohong! Apa kau menangis?"

"Ani." Lay berusaha menyembunyikan suaranya yang parau.

"Kau dimana sekarang Yixing-ah?"

"Ani, gwenchana. Jangan mengkhawatirkanku!"

"Jawab aku Zhang Yixing! "

"Aku..aku ada di dalam toilet tempatku latihan." Ucap Lay telak sambil terisak, tangisannya pecah, pertahanannya runtuh ketika Kris membentak dan menyebut nama lengkapnya.

"Diam disana!"

"Kris, kau tak usah_"

Tuut..tuut...tuut..

Lay menghela nafas pelan.

….

….

….

Kris mengambil ponselnya dan mengetik beberapa pesan, setelah itu dia bangkit dari kursinya dan berjalan keluar caffe dengan tergesa-gesa. Ia segera masuk ke dalam mobilnya sampai di dalam mobil ia segera melepas masker serta topi yang membuat dirinya bergerak terbatas. Dengan kecepatan tinggi ia membelah jalanan kota Seoul yang cukup padat. Yang ada dipikiranya sekarang hanya Yixing, sahabat masa kecilnya.

Kris memarkirkan mobilnya di depan gedung tari milik Lay dan Kai, lalu segera masuk ke dalam. Keadaan gedung memang sepi karena semua staf dan juga orang-orang yang kursus sudah pulang, tapi tanpa Kris sadari seorang yoeja yang merupakan fans Kris segera mengeluarkan ponselnya. Berdiri dari kejauhan , jauh di seberang gedung tari milik Kai dan Lay. Kris masuk dengan tergesa mencari tulisan ' toilet' saat sudah menemukannya ia segera mendobrak salah satu bilik kamar mandi itu, dan didapatinya Lay sedang menangis terisak dengan wajah yang sedikit terkejut.

"Ikut aku!" ucap Kris sambil menarik tangan Lay, Lay hanya diam tanpa melawan. Kris yang terlalu tergesa melupakan masker serta topi yang biasa ia gunakan untuk menyamar. Fans itu terus mengambil gambar Kris dan Lay, namun karena saat itu malam dan juga yang digunakan untuk mengambil gambar tersebut hanya kamera ponsel biasa jadi gambar itu tak terlalu jelas. Kris membukakan pintu untuk Lay dan menyuruhnya masuk, lalu mobil milik Kris segera melaju dengan kecepatan sedang. Tanpa ada yang mengetahui, ternyata Kai melihat semua kejadian itu dan dia hanya bisa mengepalkan tangannya dan memukulkannya ke tembok tak bersalah itu.

Lay hanya menatap Kris cemas, ia tahu Kris sedang marah sekarang. Ia sudah mengenal Kris cukup lama, jadi tak perlu bagi Kris untuk mengatakan apa yang ia rasakan sekarang, karena Lay sudah mengetahuinya.

"Kau ceroboh." Ucap Lay, dan Kris tak menjawab.

"Bagaimana kalau ada wartawan yang melihatmu? Kau hanya akan membahayakan dirimu." Ucap Lay lagi, Kris yang kesal segera membanting stir dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan.

"Bisakah kau tidak membicarakan keadaanku! Kau seharusnya mencemaskan dirimu." Ucap Kris dan Lay terdiam.

"Apa? Apa yang dilakukannya padamu lagi?" tanya Kris dengan suara yang lembut

"Kami hanya bertengkar kecil."

"Jika kau bertengkar kecil kau tak mungkin menangis sehebat itu. Aku tahu kau tak akan menangis semudah itu." Ucap Kris lagi dan Lay terdiam. Semua yang Kris ucapkan tak ada yang meleset sedikit pun, terima kasih untuk tahun demi tahun yang mereka lalui sehingga tak ada yang tidak mereka ketahui satu sama lain.

" Aku tak bisa memaafkannya, aku akan membuat perhitungan dengannya." Ucap Kris dengan wajah yang kesal.

"Andwe! Ini tak sepenuhnya salahnya."

"Wae? Wae? Apa kau takut dengannya? Apa dia mengancammu atau memukulmu?" ucap Kris sambil membolak-balik wajah Lay, dan Lay segera menampiknya.

"Dia bukan orang yang kejam Kris! Dan kau tak perlu mengkhawatirkan diriku, seharusnya kau mencemaskan kekasihmu itu, bukankah dia berulang tahun sekarang?" ucap Lay. Kris terdiam, dan sorot matanya seperti menyesal. Ia selalu berada kondisi ini, kondisi dimana ia menyesal dengan segala keputusan yang ia ambil jika itu menyangkut tentang Lay.

"Ne. Tapi aku lebih mencemaskanmu Yixing-ah."

"Berhenti mencemaskanku Kris. Kekasihmu itu yang lebih membutuhkan perhatianmu."

"ANI! Kau tahu kan? sejak awal aku memang tak mencintainya, aku hanya kasihan dengannya."

"Kris!" pekik Lay.

"Kau tahu kan? sejak dulu hingga sekarang aku hanya mencintai satu orang, dan sulit bagiku untuk melupakannya."

"Aku ingin turun!" ucap Lay, ia tak ingin topik pembicaraan mereka menjadi jauh. Tapi ia tak bisa berkutik karena Kris menahan lengannya.

"Ani."

"Biarkan aku turun!" ucap Lay lagi, namun Kris semakin mengeratkan jemarinya.

"Kris! Aku_" ucapan Lay terputus karena Kris segera memeluknya. Lay terkejut, ia berusaha mendorong tubuh Kris namun tenaganya tak cukup.

"Aku mohon jangan pergi! Jangan membenciku. Aku tak memiliki siapa-siapa lagi selain dirimu Zhang Yixing." Ucap Kris dengan suara yang bersedih, Lay terdiam, lalu membalas pelukan Kris. Tanpa mereka sadari, Kai yang sedari tadi duduk didalam mobilnya dan menyaksikan mereka dari belakang hanya bisa menghela nafas.

Tulitt..tullitt

Terdengar suara sirine ambulans dari kejauhan yang menjadi latar belakang kegiatan mereka. Semakin lama suara itu semakin mendekat dan terdengar cukup keras di telinga masing-masing. Suara itu memecah konsentrasi mereka, sebuah ambulans melintas di samping mereka. Kris dan Lay menoleh, Lay melepaskan pelukan Kris lalu matanya menatap keluar jendela. Mengikuti pergerakan dari mobil putih dengan garis merah tersebut, dan juga sebuah mobil hitam yang mengikuti dari arah belakang ambulans.

Sejak malam itu Kai dan Lay jarang berkomunikasi, Lay tak lagi berangkat bersamaan dengan Kai, ia lebih memilih naik bus. Sedangkan Kai terkadang naik bus, terkadang naik mobil terkadang berjalan kaki, tergantung moodnya. Lay tak mengetahui jika Kai marah bukan karena pertengkaran mereka malam itu, tapi karena Kai melihat Lay dan Kris berpelukan malam itu.

Terkadang Kai jarang pulang setelah mengajar, ia lebih memilih menghabiskan waktunya di taman. Taman menjadi tempatnya menghilangkan segala risau dihatinya, walau hanya melihat orang-orang berjalan dan bermain, atau mendengar suara burung di atas pohon dan juga angsa yang berenang di danau. Ia ingin mencari ketenangan, sekaligus mencari inspirasi untuk gerakan barunya.

Tempat favoritnya saat di taman bukan di bangku yang berjejer rapi, atau diatas tanah beralaskan rumput, melainkan diatas pohon. Baginya melihat segalanya dari atas lebih menarik ketimbang berdiri sejajar dengan obyek pandangnya. Ini bukan kebiasaan baru, ini adalah kebiasaannya sejak kecil namun seiring usianya bertambah ia berpikir dua kali untuk memanjat pohon dan duduk atau tidur disana. Tapi tidak untuk saat-saat ini, entah mengapa sekarang ini ingin melakukan banyak hal yang tidak bisa ia lakukan belakangan ini. Permasalahannya dengan Lay membuatnya ingin mencoba suasana baru.

Sampai suatu hari, Kai yang sedang tidur diatas pohon mengalami hal buruk sekaligus hal yang merubah hidupnya. Kai masih asyik tidur di atas pohon, sampai akhirnya ia kehilangan keseimbangan dan ia pun jatuh namun ia sedikit terkejut karena tubuhnya menindih sesuatu, dan sesuatu yang Kai tindih itu ternyata seorang namja manis dengan mata bulat yang indah. Semenjak itu Kai menjadi dekat dengan namja itu, padahal namja itu sangat tertutup dan sepertinya, ini hanya sepertinya ya ! sepertinya namja itu tak terlalu menyukai Kai, alias risih jika Kai berada di dekatnya, namun berbeda dengan Kai ia sangat suka menganggu namja itu, sedikit menghiburnya.

"Yeobbuseyo?" ucap sebuah suara yang lembut.

"Yaak! Do Kyungsoo ini aku K. Kau dimana sekarang?" tanya Kai.

"Darimana kau dapat nomer telponku?" tanya Kyungsoo pelan.

"Sepertinya kau harus mengenalku dengan baik, hehehehe. YaaK! kau belum menjawab pertanyaanku, kau dimana sekarang? Apa kau ditaman?"

"Ne. Aku ditaman."

"Bagus. Kalau begitu aku akan kesana sekarang, kau berada di tempat biasa kan ?" tanya Kai.

"..."

" Do ... do re mi? Jawab aku! hahahaha."

"Ne aku dibawah pohon itu. Dan namaku Do kyungsoo bukan Do re mi."

"Hehehehe.. aku akan kesana." Ucap Kai dan segera menutup ponselnya.

"Kau sedang bicara dengan siapa?" terdengar suara itu, yang membuat raut wajah Kai berubah dingin menyadari siapa pemilik suara yang paling tidak ingin dia dengar, jujur saja Kai masih kesal dengan kejadian beberapa waktu lalu, ia hanya merasa dikhianati.

"Dengan temanku."

"Oh, kau sudah makan siang? Bagaimana kalau kita makan siang sekarang?" tanya Lay lagi.

"Ani, aku ada janji dengan temanku." Ucap Kai yang langsung pergi. Bohong jika Lay baik-baik saja dengan jawaban itu, bohong jika hatinya tak sakit mendengar ucapan Kai barusan. Ia sakit hati, rasanya benar-benar sakit. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa ia hanya akan menunggu sampai Kai kembali seperti dulu lagi, itu harapannya tapi ia perlu tahu terkadang harapan berbeda dengan kenyataan.

...

...

Kyungsoo sedang duduk di bawah pohon sambil sibuk menulis sesuatu, sampai akhirnya seseorang menutup matanya.

"Keluarlah! Aku sudah tahu itu kau. Dan itu rasanya sakit, kau menekan mataku terlalu kuat." Ucap Kyungsoo polos dengan nada yang datar.

"Aisshh.. kau tak asyik." Ucap Kai sambil duduk disamping Kyungsoo yang masih mengucek-ngucek matanya dan terkadang mengerjap lucu.

"Apa itu benar-benar sakit? Mianhae." Ucap Kai.

"Ani, gwencahana." Sahut Kyungsoo.

"Apa kau sudah makan siang?" tanya Kai dan Kyungsoo hanya menatap Kai tanpa memberi jawaban sama sekali.

"Kalau begitu ayo kita makan!" ucap Kai sambil menarik tangan Kyungsoo. Hal ini yang Kai suka, Kyungsoo sama sekali tak pernah melawan ucapan Kai.

"Kau ingin makan apa?"

"Terserahmu." Sahut Kyungsoo.

"Itu saja, aku sedang ingin spagetthi." Ucap Kai lalu menarik Kyungsoo masuk ke dalam salah satu restourant. Setelah mereka memesan makanan, Kai tersenyum pada Kyungsoo namun Kyungsoo hanya tersenyum sungkan.

"Oh iya, karena kita sudah cukup dekat. Aku akan memperkenalkan namaku padamu. Namaku Kim Jongin." Ucap Kai.

"Hm. Berarti K itu singkatan dari Kim?"

"Ani. K itu singkatan dari Kai."

"Kai?"

"Ne, nama panggilanku Kai. Kau bisa memanggilku Kai."

"Baiklah. Kai sshi."

"eumm.. itu lebih baik."

"Oh iya, kita kan sudah cukup dekat. Kalau begitu aku boleh tahu seperti apa dirimu?" tanya Kai.

Kyungsoo mengangguk sekali dan dengan tempo lambat " Memangnya apa yang kau ingin tahu dariku?"

"Apa pekerjaanmu?"

"Aku seorang penulis."

"Jinja? Kenapa aku tak tahu itu? Jadi selama ini yang kau lakukan di bawah pohon itu adalah _"

"Ne."

"Kau tak ingin tahu apa pekerjaanku?" tanya Kai karena Kyungsoo tak bertanya padanya.

"Mwoya?"

"Aku seorang penari."

"Penari? Tapi kenapa kau mengatakan sering muncul di tv?"

"Ne aku terkadang menghadiri acara di stasiun tv, atau menjadi back dancer artis terkenal. Aku pernah menjadi back dancer Rain, Super Junior dan masih banyak lagi. Aku punya sebuah studio dan juga tempat kursus menari." Ucap Kai dengan bangga, seandainya dia tahu namja di depannya ini sama sekali tak tertarik.

"Jinja? Sepertinya kau sangat sibuk."

"Yah begitulah. Oh iya apa kau sudah menikah?" tanya Kai.
"Ani."

"Tunangan?"

"Ani."

"kekasih?"

"Eum." Angguk Kyungsoo.

"Oh kalau begitu kita sama. Tapi sepertinya hanya aku yang memiliki kisah cinta yang tragis." Ucap Kai langsung, seolah ingin menjadikan namja di depannya ini adalah sarana untuk menumpahkan seluruh isi hatinya. Kyungsoo hanya menoleh tanpa bertanya, ingat tanpa bertanya tapi Kai dengan percaya dirinya mengartikan tatapan Kyungsoo adalah rasa penasaran, padahal sebenarnya Kyungsoo kebingungan kenapa sosok dihadapannya mulai mengeluarkan curahan hatinya.

"Beberapa hari yang lalu aku melihat kekasihku berpelukan dengan seorang namja." Ucap Kai tanpa memperdulikan ekspresi bingung dari Kyungsoo.

"Jinja? Tapi apa kau sudah yakin itu dia?" tanya Kyungsoo ia hanya berusaha sopan dan memberi feedback pada Kai.

"Ne. Aku sangat yakin, karena aku mengikuti mereka. Dan kau tahu siapa namja itu?" ucap Kai, dan Kyungsoo menggeleng.

"Tentu kau tak akan tahu. Dia adalah teman masa kecil kekasihku. Dari awal aku memang tak menyukainya, aku sudah menebak kalau dia ada perasaan lebih yang ia simpan terhadap kekasihku. Tapi memang dasar kekasihku yang tak peka." Ucap Kai. Kyungsoo hanya diam mendengarkan ucapan Kai.

"Lalu kau sendiri bagaimana? Apa hubunganmu baik-baik saja?"

"Awalnya ia, tapi akhir-akhir ini dia sering pulang larut malam." Ucap Kyungsoo, sebenarnya ia bukan tipikal orang yang suka mengumbar-ngumbar masalah pribadinya tapi entah mengapa ia menaruh perasaan berbeda pada Kai, ia menaruh kepercayaan pada namja Tan di hadapannya.

"Lalu kau tak menanyakan dia pergi kemana?" tanya Kai.

"Ani. Aku memang tak pernah terlalu menuntutnya, jika ia tak mau cerita berarti itu memang rahasia."

"Mwo? dan kau hanya diam saat dia pulang larut?"

"Ani, aku selalu menunggunya dan saat aku bangun aku sudah berada di kamar kami."

"Ckckckck. Kau lebih tragis dariku. Aku rasa kekasihmu itu memang memiliki simpanan."

"Jangan sembarangan! Aku mengenalnya sejak lama, dan aku tahu sifatnya walaupun ia sedikit tertutup." Bela Kyungsoo.

"Heuh! Aku dan kekasihku itu sudah saling mengenal cukup lama, kami ini adalah sahabat sejak kami SMA. Aku sudah mengenalnya luar dalam."

"Maksudmu?"

"Yah! Itu.. kau tahu kan? apa yang aku maksud?" ucap Kai dengan wajah menundukan, bukan maksudnya mengucapkan hal seperti itu, tapi Kyungsoo terlalu lama untuk merespon maksud ucapannya.

"Apa?" tanya Kyungsoo masih tak mengerti.

"Itu.. hubungan layaknya suami istri."

"Mwo? jadi kalian sudah tidur bersama?" ucap Kyungsoo, tepatnya sedikit berteriak.

"Ssstt.. pelankan suaramu!" ucap Kai sambil menutup mulut Kyungsoo.


Lay berjalan di koridor gedung tarinya, ia membuka salah satu ruang studio. Saat ia akan memanggil Kai, tiba-tiba raut wajahnya berubah. Yang sedang menari disana bukan Kai, yang sedang mengajar di depan bukan Kai kekasihnya.

"Taemin-ah!" panggil Lay.

"Ne Lay hyung?"

"Kemana Kai?"

"Hhmm.. Kai hyung? Mollaseo. Sejak istirahat makan siang tadi dia belum datang." Ucap Taemin kikuk.

"Jinja?"

"Ne hyung."

"Baiklah, kalau begitu teruskan mengajari mereka, aku percayakan mereka padamu." Ucap Lay. Dan namja manis dengan rambut coklat itu pun segera berlari ke depan barisan. Taemin memang murid kepercayaan Kai dan Lay, selain itu Taemin merupakan junior mereka, dan sekaligus murid tersenior mereka, jadi mereka sudah mempercayakannya pada namja imut itu.

Lay mengambil ponselnya, dan menempelkannya di telinga.

"Kai-ah kau dimana?" tanya Lay.

"Aku sedang diluar."

"Kenapa kau tak mengajar?"

"Aku sudah menyuruh Taemin menggantikannya, kau tenang saja."

"Kau sedang bersama siapa?"

"Teman."

"Tapi kau akan pulang kan? aku akan menunggumu di_"

Tuut..tuut..

" _di depan gedung." Ucap Lay dengan wajah yang sedih.

"Yaak! lihatlah aku!" ucap Kai kesal saat Kyungsoo berulang kali membuang mukanya. Sekarang mereka ada disebuah taman, dan cukup sepi. Kai sedang memperlihatkan tariannya pada Kyungsoo, namun Kyungsoo tetap asyik menulis di bukunya.

"Ne." Sahut Kyungsoo pelan. Kai menari mengikuti musik yang ia putar. Kyungsoo hanya tersenyum melihat Kai beraksi, dan untuk pertama kalinya Kai merasa bahagia menari untuk seseorang. Selama ini ia jarang menari di depan Lay karena Lay akan selalu mengomentari semua gerakannya, tapi berbeda dengan Kyungsoo yang nampak begitu takjub dengan tariannya.

Kai mendekat ke arah Kyungsoo dan menarik tangannya untuk ikut menari bersamanya, tapi Kyungsoo menolak , akhirnya Kai memaksanya mau tak mau ia harus menurutinya. Kai menari dengan eloknya, dan satu tangannya memegang tangan Kyungsoo dan memutar tubuhnya, terkadang Kai menarik dan mengulur tangan Kyungsoo. Kyungsoo tertawa dengan senangnya, sedetik ia merasa benar-benar bahagia, kebahagiaan yang tak akan ia dapat dari Sehun, si manusia es yang kini menjadi kekasihnya.

***Games Of Love***

TBC

Gimana chingudeul chapter ini? Pada suka? Aku mau minta maaf kalau aku benar-benar ngaret updatenya, sungguh aku sibuk belakangan ini dengan laporan dan ujian. Oh iya aku bingung mau ngelanjutin ff ini gak, soalnya aku udah ngerasa bosen, hehehe…

Mungkin tergantung review, kalau reviewnya cukup banyak dan minta lanjut aku lanjut tapi kalau nggak mungkin aku …..ah gak tau lah chingu aku lagi dilema ini.. Buat chap sebelumnya makasi yang udah review…dan makasi buat masukannya. Untuk Chanbaek dan Hunhan shipper aku minta maaf karena disini moment mereka gak ada. Hehehehe…

Udah itu aja, inget reviewnya ya dan oh! Jaga kesehatan kalian, cuaca akhir-akhir ini cukup buruk. Jangan lupa makan yang sehat, saranghae…