Akhirnya selesai juga. Aku ga bisa berkata-kata, ini bagus apa nggak.... hahaha

Tapi mudah-mudahan kalian menyukainya.


Chapter 6 : My Zanpakutou, Hanabira

"Nah, tugas minggu depan yang sudah ibu berikan ini harus dikumpulkan secepatnya. Ini akan dijadikan bahan untuk mengikuti ujian akhir semester. Tidak mengumpulkan tugas akan menjadi sanksi perseorangan di hari ujian nanti. Nah, jaa minna-sa~n!"

Bel istirahat berbunyi keras sekali. Ichigo segera mengeluarkan bekalnya. Yuzu sudah susah-susah membuatkannya bekal setidaknya dia harus mencoba bekal yang disiapkan adiknya. Dia berjalan menuju atap sekolah. Di sana adalah tempat yang bagus untuk menikmati makan siang. Dan melupakan masalah…

Ichigo duduk di tepi pagar. Dia menyandarkan tubuhnya lalu mendongak menatap langit.

Atap sekolah adalah tempat yang paling menyenangkan. Beberapa keping kenangannya bersama Rukia bermunculan di pikirannya. Sesungging senyum kecil muncul di ujung bibirnya. Ya, Ichigo ingat semuanya. Semua yang dilaluinya dengan Rukia. Semua dia ingat. Tak ada yang terlewatkan. Tidak ada yang terlupakan.

Angin
Langit
Bintang
Hujan

"IIII~~~CHIII~~~GOO~~~!!!" Ichigo dengan cepat memukul wajah si pemilik suara itu. Ichigo melakukannya secara refleks. Keigo terjungkang dan Mizuiro hanya tertawa kecil. Ada Uryuu, Chad, Tatsuki, dan Orihime.

"Oh, kau Keigo. Kukira siapa," kata Ichigo begitu sadar kalau orang yang disangkanya akan menyerangnya adalah Keigo. Keigo memegang hidungnya yang berdarah.

"Kau…baru…sadar?" tanya Keigo.

"Kau mau istirahat tanpa kami?" Pertanyaan Mizuiro tidak langsung dijawab Ichigo. Dia menggrauk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

"Ah, iya. Aku lupa…"

"Jangan mengatakan hal itu dengan wajah bodohmu itu! Alasanmu selalu lupa!" protes Uryuu.

"Kenapa sih? Aku memang lupa."

"Ah, aku paling benci melihat wajah bodohmu sambil mengatakan 'ah, aku lupa'! Jangan membuat wajah seperti itu di depanku!"

"Wa-wajah bodoh?! Kenapa kau selalu mengatakan itu padaku? Hei, jangan memalingkan wajahmu, Ishida!"

"Kalian ini berisik sekali. Nikmatilah waktu makan siang yang singkat ini," kata Tatsuki yang bermaksud melerai. Akhirnya mereka mencoba membuat waktu makan siang yang menyenangkan.

"Kuchiki dirawat di rumah sakit kan?" tanya Tatsuki pada Ichigo. Ichigo menghentikan suapan terakhirnya lalu menoleh ke arah Tatsuki. "Orihime mengatakannya padaku. Benarkah itu? Katanya kau dan Kuchiki menjadi model baju pengantin."

"Diam kau!" kata Ichigo saat Tatsuki mulai tersenyum jahil.

"Kami akan menjenguk Kuchiki sepulangnya nanti. Orihime akan mengantar kami ke ruangan Kuchiki dirawat. Kau juga mau menjenguknya kan?" Ichigo terdiam.

"Kalian duluan saja. Aku mau pergi ke tempat lain dulu."

"Eh? Jahat sekali. Lebih baik datang dulu ke rumah sakit kan?" Tapi Ichigo tidak menjawab apapun. Dia hanya melanjutkan suapannya dengan malas.

"Nanti juga aku datang," ucapnya singkat. "Lagipula kenapa kalian di sini menggangguku? Katanya mau makan siang dengan tenang!"

"Ichigo! Jahat sekali kamu terhadap temanmu! Padahal kami sudah capek-capek pergi ke atap hanya untukmu!" protes Keigo.

"Mm, kami? Keigo, koreksi kata-katamu barusan," kata Tatsuki.

"Aku tidak menyuruhmu menemaniku di atap. Salah sendiri kau pergi ke atap," ucap Ichigo.

"Be-begitukah kata-kata yang pantas untuk temanmu?" Ichigo menutup telinganya karena temannya yang satu itu berisik sekali. Kenapa dia harus berteman dengan teman yang bahkan suaranya sudah menjadi mimpi buruknya sendiri?

NNN

Ichigo membuka pintu toko. Sapaan Yuri tidak digubrisnya. Dengan cepat dia mencari-cari krisan putih. Matanya menangkap seikat krisan putih di dekat lemari penyimpanan. Ichigo mengambilnya satu lalu beranjak ke kasir.

"Hei, kalau kau mau, kau bisa membayarnya langsung dan tidak usah ke kasir sesering ini," kata Yuri mengusulkan sarannya.

"Tidak apa-apa. Lagipula aku tidak terlalu sering membeli bunga," tolak Ichigo. Dia sadar kalau Ichirin tidak ada di toko. "Ke mana Ichirin?"

"Anak itu? Dia memang suka telat datang. Tapi itu juga bukan salahnya sih." Ichigo tidak mengerti apa yang dikatakan Yuri. Dia merogoh saku celananya dan mengambil satu keping uang logam lalu memberikannya pada Yuri. Tidak lama dia mendengar pintu toko dibuka. Ichigo dan Yuri sama-sama menoleh ke arah pintu toko.

"Maaf aku terlambat," ucap Ichirin lemah. Dia berlari ke belakang meja kasir lalu menaruh tasnya dan memakai celemeknya. Yuri memandangnya dari atas sampai bawah.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Yuri khawatir.

"Hah? Tidak, aku tidak apa-apa. Kenapa menanyakan hal itu?" Ichirin menyunggingkan senyum untuk meyakinkan Yuri kalau dia baik-baik saja. Dia lalu sadar kalau ada Ichigo di depan kasir. "Hei, strawberry-chan! Bagaimana kabarmu?"

"Nada bicaramu sangat menyebalkan," gumam Ichigo.

"Setidaknya aku mencoba untuk bersikap sopan." Ichigo memperhatikan baju yang dipakai Ichirin. Baju yang dipakainya adalah seragam SMA yang diketahui Ichigo.

"Kau bersekolah di SMA Oonan?" tanya Ichigo sambil menunjuk sailor fuku Ichirin.

"Ya. SMA mana lagi yang mempunyai sailor fuku seperti ini?" Ichirin balik bertanya. "Strawberry-chan sepertinya bersekolah di SMA 1. Seragammu bagus."

Ichigo tidak menggubris kata-kata Ichirin. Ichigo teringat kejadian yang dialaminya saat berangkat sekolah. Kalau tidak salah dia melihat Ichirin yang menangis waktu itu. Memang Ichirin terlihat tidak baik-baik saja tapi dia tidak ingin menanyakan apapun pada gadis itu.

"Baiklah kalau begitu, terima kasih, Iwamoto-san," kata Ichigo. Yuri melambaikan tangan sambil berkata 'sama-sama'. Lalu matanya memandang Ichirin yang mulai membereskan susunan bunga.

"Kamu pintar sekali memnyembunyikan perasaan ya? Ceritakan padaku apa yang terjadi!" kata Yuri sambil melipat tangan. Ichirin hanya menjauhi tatapan Yuri. Dia tidak berani menatap mata Yuri. Karena Ichirin pikir Yuri bisa menembus pikirannya jika dia menatap mata Yuri langsung.

"Hanya seperti biasa. Ke sekolah, bertemu dengan para guru, memberi salam, masuk kelas, bertemu teman-teman―"

"―Kau bahkan tidak punya teman," potong Yuri. Ichirin mendesah. Entah kesal atau merasa Yuri benar. Yang pasti, Ichirin tidak menyukai kenyataan itu.

"Ya, kau benar. Aku bahkan ingin menanyakan itu padamu," kata Ichirin dengan nada sinis. Yuri tersadar kalau kata-kata yang tadi meluncur dari lidahnya salah. Dia menepuk dahinya.

"Ma-maksudku bukan itu. Maksudku semua anak di sekolah itu sama sekali tidak mengakuimu dan tidak ingin berteman denganmu." Yuri terlanjur mengatakan itu. Dia menutup mulutnya dengan cepat bersamaan dengan Ichirin yang menatapnya geram. Ichirin memalingkan wajah dan berjalan cepat ke arah pot yang dipenuhi krisan putih.

"Itu tidak benar," kilah Ichirin tanpa menatap Yuri. Yuri kesal sekali karena gadis itu tidak mau mengaku dan menghindar dari kenyataan.

"Kenapa sih kau tidak ingin mengatakannya padaku? Apa dengan tidak mengakui seperti itu bisa membuatmu bahagia?"

"Lalu kau bisa memberitaukan aku bagaimana rasa bahagia itu?! Apa kamu bisa memberiku jaminan kalau aku bisa bahagia kalau menjelaskan semuanya padamu?" Tidak ada jawaban dari Yuri. Kata-katanya terhenti di tenggorokan dan tertelan dengan ludahnya. Ichirin yang tadi marah sambil menatap Yuri kini kembali memalingkan wajah. Dia melepaskan celemeknya dan menaruhnya di tempat semula celemek itu tersimpan.

"Aku mau pulang. Ada tugas sekolah yang harus kukerjakan," kata Ichirin meski dia tau kalau dia baru saja bekerja di toko. Yuri tidak bisa melakukan apapun untuk melarangnya. Ichirin menarik pintu toko dan terdengar deritan halus pintu.

"Kalau begitu, semoga tugasnya bisa kaukerjakan," ucap Yuri akhirnya. Ichirin menoleh sedikit lalu mengangguk pelan. Dia meninggalkan toko dan Yuri di dalamnya dengan diam.

NNN

Ichigo sengaja tidak pulang bersama yang lainnya. Tatsuki dkk sudah pulang sepuluh menit yang lalu. Kini Ichigo masih di ruangan tempat Rukia dirawat. Dia menikmati waktu yang tersisa sebelum jam besuk berakhir. Ichigo duduk di samping ranjang tempat Rukia berbaring. Dia membaca buku yang sengaja dibawanya dari rumah. Sesekali dia melirik Rukia yang tenang tertidur di ranjangnya. Terkadang napasnya teratur dan terkadang napasnya memburu. Ichigo jadi ingin sekali tau apa yang sedang dimimpikan Rukia dalam keadaan koma seperti ini.

Ichigo menutup bukunya yang dari tadi dibacanya. Dia menaruh kembali buku itu ke dalam tasnya lalu menatap Rukia.

"Kenapa kau tidak bangun-bangun, bodoh? Apa mimpimu sangat menyenangkan sampai-sampai kau tidak ingin bangun dari tidurmu?" ucap Ichigo lirih. Rukia seperti mengambil napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan susah payah. Ichigo tidak tega melihatnya seperti itu.

"Cepatlah bangun. Kau tau, adik-adikku menanyakanmu beberapa kali sampai-sampai aku kehilangan kata-kata. Teman-teman sekelas juga mencemaskan keadaanmu. Baru saja mereka menjengukmu, yah kalau kau tidak merasakannya tadi," kata Ichigo. Dia menarik napas panjang lalu dihembuskannya dengan keras sambil mengusap rambutnya ke belakang. Tapi Rukia hanya berbaring di sana, tidak bergerak sama sekali dan napasnya jadi teratur.

"Kon juga merengek-rengek ingin menjengukmu. Tapi dia tidak mungkin kubawa ke sini karena dia pasti membuat keributan." Ichigo memaksakan tawa sumbang sambil memikirkan Kon yang akan menangis berlebihan sambil memeluk tubuh Rukia, meskipun Rukia sendiri masih tidak bergerak. Dengan malu-malu dia memegang telapak tangan Rukia yang dingin. Ichigo susah payah bernapas saat menyentuh telapak tangan Rukia. Dia ingat kalau saat ini Ichigo merindukan Rukia. Merindukan semua tentang Rukia. Merindukan senyumnya…

Ayo baca ini sama-sama…

Entah kenapa Ichigo teringat kejadian itu. Apa karena Ichigo membawa buku itu sekarang? Ichigo akhirnya mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. Buku ber-cover kelinci. Dia membuka asal-asalan buku itu dan didapatinya sebuah pembatas buku bergambar. Ichigo tersenyum saat melihat pembatas buku tersebut yang ternyata buatan Rukia dan digambar sendiri oleh Rukia. Ichigo memperhatikan kovernya dengan seksama.

Dongeng-dongeng Sebelum Tidur : Mori Naoko

Ichigo akhirnya memperhatikan halaman terakhir yang dibaca Rukia. A Star to Guide; cerita tentang seekor kelinci.

"Dasar. Halaman ini belum kaubaca? Sayang sekali, padahal ada kelincinya," keluh Ichigo. Dia memperhatikan Rukia dan buku di tangannya bergantian. Ichigo lalu mendesah. "Baiklah, aku akan membacakannya untukmu, dari awal."

Ichigo menghela napas lalu mulai membaca. "Di sebuah hutan dekat desa, banyak sekali kelinci yang hidup di sana. Kelinci yang paling dikenal di hutan itu adalah seekor kelinci berbulu kuning. Kelinci ini tidak mempunyai nama tapi dia dikenal oleh hewan-hewan lainnya karena bulu-bulu di bagian telinganya berwarna kuning mencolok, seperti bunga matahari di musim panas, sehingga dia dipanggil kelinci kuning. Suatu hari, kelinci kuning sedang bermain-main di dekat tempat tinggalnya. Lalu satu kupu-kupu lewat di depannya dan mengajaknya main kejar-kejaran. Kelinci kuning akhirnya bermain dengan kupu-kupu dan mengejarnya.

"Namun kupu-kupu cukup gesit. Kelinci kuning tidak habis-habisnya kesusahan mengejar kupu-kupu. Tanpa sadar kelinci kuning keluar dari hutan tempat tinggalnya dan memasuki kawasan kota. Kelinci kuning sempat bingung sesaat dan saat kebingungannya menghilang, kupu-kupu juga menghilang.

"Kelinci kuning panik namun akhirnya dia menemukan sebuah taman luas. Di sana ada seekor kelinci putih bersih dengan mata indah. Kelinci kuning sempat terkagum dan memberanikan diri untuk mendekatinya. Kelinci bermata indah itu dengan senang hati menolong kelinci kuning kembali ke rumahnya.

"Hari berganti hari, musim berganti musim, kelinci kuning bersahabat dengan kelinci putih. Kelinci kuning juga akhirnya kembali ke rumahnya. Kelinci kuning mengajak kelinci putih bersinggah ke rumahnya tapi kelinci putih menolak. Kelinci putih pergi dan membuat kelinci kuning amat merindukannya.

"Dua hari setelahnya, ada kabar yang baru saja didengar kelinci kuning dari kupu-kupu. Kelinci putih yang dikenal kelinci kuning mati ditembak pemburu. Kelinci kuning tidak percaya dengan berita yang diberikan kupu-kupu, tapi kupu-kupu meyakinkan bahwa tidak ada lagi kelinci putih di kota itu selain kelinci putih kenalan kelinci kuning."

Ichigo merenung. Dia memutuskan untuk tidak membaca terusannya karena ini tentang kematian. Tapi dia tidak enak hati kalau sampai ternyata Rukia mendengarkan cerita hanya sedikit. Ichigo mengembuskan napas lalu melanjutkan.

"Kelinci kuning merasa bersalah. Tentu saja, karena dialah yang membawa kelinci putih ke hutan dan membiarkannya pergi. Kelinci kuning tidak habis-habisnya menyalahi dirinya sendiri. Dia kesal, sedih, kecewa. Semuanya campur aduk dan membuat kelinci kuning tidak labil.

"Malam harinya, kelinci kuning keluar rumah. Dia memandang langit penuh bintang di atas kepalanya. Dia menatap bintang paling terang di sana. Tiba-tiba cahaya bintang itu terlalu menyilaukan matanya dan turunlah kelinci putih. Kelinci kuning tidak percaya dengan apa yang dilihatnya; seekor kelinci putih bermata indah yang dikenalnya.

"Kelinci putih berkata, 'Ini bukan salahmu. Aku senang bisa berkenalan denganmu. Terima kasih kau mau menerima pertolonganku dan menjadi temanku'. Lalu kelinci putih kembali ke langit, meninggalkan kelinci kuning yang menangis di tanah. Kelinci kuning tidak menyalahkan dirinya sejak saat itu. Dan setiap malam dia selalu melihat bintang paling terang di langit. Bintang kelinci putih, sahabatnya."

Ichigo menutup buku itu dengan cepat dan kontrol dirinya sudah tidak berfungsi lagi. Dia membiarkan buku itu jatuh ke lantai sementara tangannya menopang kepalanya. Menahan air mata yang akan keluar. Dan tanpa Ichigo sadari, mata kiri Rukia mengeluarkan setitik air mata yang jatuh melewati ujung matanya.

Kelinci putih yang menyelamatkan kelinci kuning akhirnya mati…

NNN

Hari ini hujan

Ichirin menatap keluar jendela. Biasanya kalau hujan, dia selalu teringat pada kejadian yang terjadi empat belas tahun yang lalu, saat dirinya masih berumur dua tahun. Mungkin bagi sebagian orang, ingatan sewaktu umur dua tahun itu mustahil akan teringat. Tapi ada satu ingatan yang selalu membekas pada memori Ichirin.

Hujan

Di sana berdiri seorang gadis berambut hitam. Dia menoleh ke arah Ichirin lalu menyunggingkan senyumnya. Dan yang tak pernah Ichirin lupakan adalah matanya yang berwarna violet dan rambutnya yang hitam.

Saat itu hujan

Mata Ichirin tidak dapat melihat jelas ciri-ciri orang itu. Dia saja lupa-lupa-ingat. Saat Ichirin berumur tujuh tahun dan menanyakan hal itu pada orangtuanya, orangtua Ichirin menjawab dengan gelengan kepala dan mengangkat bahu.

Jika Ichirin menemukan orang itu, dia harus tau kenapa orang itu ada di dekatnya saat dia berumur 2 tahun dan kenapa orang itu tidak pernah muncul lagi.

NNN

"GOOD MOO~RNII~NG ICHII―" Lagi-lagi Ichigo bisa menangkis serangan pagi dari ayahnya. Setelah membanting ayahnya ke lantai dia segera turun ke ruang makan.

"Ohayou, Yuzu."

"Ohayou, oniichan. Makan pagi sudah siap," jawab Yuzu.

"Ada apa lagi? Ayah mengacau lagi?" tanya Karin tidak minat. Ichigo mengangguk tidak minat (juga) lalu duduk berhadapan dengan Karin. Mereka makan dengan tenang, begitu pula Isshin. Ichigo mencomot nasi dan lauknya asal. Ini membuat Karin bingung.

"Ichi-nii, kenapa? Makanannya nggak enak?"

"Ah, nggak. Makanannya enak, tenang saja, Yuzu," jawab Ichigo cepat sebelum Yuzu kecewa.

"Oniichan, bagaimana kalau kapan-kapan oniichan mengajak Rukia-neechan main kemari? Aku mau bercerita banyak dengannya," kata Yuzu.

"Tidak bisa, tidak bisa. Rukia banyak tugas dari sekolah."

"Oniichan selalu bilang begitu. Bilang banyak tugaslah, terlalu sibuklah, inilah, itulah… Aku kangen Ruki-neechan!" Ichigo merenung mendengar rengekan Yuzu. Dirinya juga merindukan Rukia, sangat.

"Kapan-kapan dia pasti ke sini. Kalau tugasnya sudah selesai," jawab Ichigo. Sementara itu Isshin sempat memandangnya. Dia menyeruput kopinya pelan. Isshin teringat pembicaraannya dengan Kisuke dua hari yang lalu.

"…Maaf, Kurosaki-san. Sepertinya memang tidak bisa," kata Kisuke sambil menatap layar di depannya. Isshin juga sedang menatap layar tersebut. Dia memejamkan mata lalu mendesah. Isshin memijat-mijat pelipisnya.

"Pasti ada sesuatu yang kurang," kilah Isshin masih tidak percaya.

"Tidak, semua lengkap. Dan kitalah yang terlambat. Penipisan reiatsu Kuchiki-san makin bertambah dari hari ke hari. Orang-orang Soul Society juga sudah berusaha semampunya tapi…kau tau apa maksudku," jelas Kisuke. Isshin sekali lagi memijat pelipisnya.

"Ini bukan tentang Kuchiki," desisnya. "Ini bukan tentang Kuchiki! Ini tentang Ichigo, anakku! Dia makin buruk dari hari ke hari. Selalu merenung dan tanpa kusadari dia menangis! Aku tidak ingin dia kehilangan orang yang dicintainya lagi!"

"Tenanglah, Kurosaki-san. Setidaknya kami sudah berusaha. Yang membuat Rukia sekarang bertahan adalah alat-alat medis manusia dan bantuan shunsun rika Inoue-san. Kita mungkin hanya bisa berharap…"

Isshin sadar kalau Ichigo sudah menyelesaikan sarapannya dan hendak pergi ke sekolah bersama adik-adiknya.

"Oi, Ichigo!"

Ichigo menoleh dengan tampang malas.

"Hah? Apa?" Isshin tersenyum lalu mengacungkan jempolnya.

"Good luck!!" teriaknya. Ichigo bingung dengan sikap ayahnya tapi dia akhirnya menjawab dengan senyuman paksa dan kata' ya'. Karin yang mengeluh dengan tindakan ayahnya barusan dan Yuzu yang masih merengek menemani Ichigo yang bertanya-tanya pada sikap Isshin. Isshin masih tersenyum lalu senyumnya pudar.

"Setidaknya aku masih bisa melakukan ini," gumamnya.

NNN

Ochi-sensei sedang mati-matian menjelaskan materi pelajaran. Tapi Ichigo tidak dapat berpikir jernih saat itu. Dia beberapa kali memain-mainkan pulpennya. Uryuu yang ada di depannya jadi merasa terganggu.

"Kurosaki, hentikan itu!"

"Apa?"

"Memain-mainkan pulpenmu. Berisik tau!"

"Tutup saja kupingmu! Aku tidak bisa konsentrasi."

"Kasihan sekali kau. Begitulah otak yang tidak sering dipakai."

"Apa kata―UGH!!" Ichigo dan Uryuu sama-sama mengaduh. Begitu sadar ternyata Ochi-sensei baru saja memukul kepala mereka dengan buku sejarahnya.

"Sedang apa kalian? Dasar! Aku tau kalian dekat satu sama lain tapi jangan manfaatkan waktu belajar untuk ngobrol akrab begitu!" nasihat Ochi-sensei.

"Kami sama sekali tidak dekat!" protes Ichigo dan Uryuu bersamaan. Lalu shinigami-badge Ichigo berbunyi keras sekali. Uryuu mendengarnya juga. Maka dengan cepat mereka berdua keluar kelas.

"Hei kalian! Mau ke mana?" teriak Ochi-sensei.

"Ke toilet!"

"Apa sebegitu akrabnya kalian harus ke toi―Inoue! Sado! Kalian juga mau ke mana?"

"Toilet! Sakit perut!" teriak Orihime.

"Lagi? Astaga! Apa yang dimakan anak-anak jaman sekarang?" tanya Ochi-sensei.

NNN

"Kalian tidak usah ikut juga tidak apa-apa. Ini hanya hollow," kata Ichigo begitu tau kalau Orihime, Chad dan Uryuu juga ikut membolos. Ichigo sekarang sudah berpakaian shinigami.

"Kami juga ingin membantumu, Kurosaki-kun," kata Orihime. Mereka masih terus berlari mencari-cari di mana hollow akan muncul. Dan mereka kaget karena hollow akan muncul di depan pusat perbelanjaan Karakura.

"Bagaimana ini, Kurosaki? Kita tidak bisa mengevakuasi semua orang dengan cepat!" kata Uryuu.

"Aku tau. Sebaiknya―" Mereka telat. Dua hollow besar datang saat itu. Salah satu dari mereka menghancurkan dinding sehingga para warga panik.

"Inoue, Chad, lindungi semua orang! Ishida, bantu aku!" perintah Ichigo. Orihime dan Sado cepat-cepat pergi menyelamatkan yang lain sementara Uryuu dan Ichigo berlari ke arah hollow. Ichigo menyerang tangan salah satu hollow. Hollow itu menjerit kesakitan lalu mulai menyerang balik Ichigo. Ichigo bisa menghindar lalu berusaha menyerang kepala hollow itu. Tapi hollow itu terlalu gesit.

"Sial! Hollow ini menyebalkan sekali!" keluh Ichigo kesal. Sementara itu Uryuu juga belum bisa menembak hollow di depannya dengan tepat. Tanpa disadarinya, di belakang Uryuu muncul hollow baru. Ichigo baru tersadar. Matanya langsung membelalak dan dengan refleks dia berteriak, "Ishida, awas!"

Uryuu menoleh ke belakang dan melihat hollow besar di belakangnya. Orihime berusaha melindunginya dengan santen keshun tapi…

Seorang gadis berambut keriting mendorong Uryuu menepi saat kedua hollow itu melayangkan serangan pada Uryuu. Mereka berempat kaget dengan kejadian tadi. Apalagi Ichigo yang mengenali sosok penyelamat Uryuu tadi.

"Ichirin?" gumam Ichigo dari kejauhan. Ichirin melepaskan pegangannya pada seragam Uryuu. Uryuu juga berusaha duduk saat gadis di depannya sudah tidak menindihnya lagi.

"Kau tidak apa-apa? Tidak luka? Maaf, aku mendorongmu terlalu keras," ujar Ichirin dengan nada cepat. Ada semburat merah di pipinya. Uryuu tidak bisa berkata apa-apa.

"Ya, tidak apa-apa," jawab Uryuu akhirnya. "Terima kasih."

"Sama-sama," balas Ichirin sambil tersenyum. Dia lalu menoleh ke arah kedua hollow yang tadi menyerang Uryuu. "Lagi-lagi monster itu ada."

"Lagi-lagi? Kau bisa melihatnya?" tanya Uryuu.

"Ya, sejak aku berumur tiga tahun, bukan hanya kamu saja yang bisa kulihat," jawab Ichirin. Ichirin lalu menatap Ichigo dan matanya membulat. "Itu…Ichigo?"

"Kau kenal Kurosaki?" Ichirin mengangguk.

"Aku bertemu dengannya di rumah sakit sial itu," cibir Ichirin. Dua hollow penyerang Uryuu mulai mendekati mereka. Uryuu mendecak sambil maju untuk bersiap menyerang mereka. Lalu dia baru sadar kalau tangan kanannya terkilir.

"Sial!" umpatnya.

"Biarkan aku saja," kata Ichirin. Dia maju dan berdiri di depan Uryuu.

"Apa yang kaulakukan? Cepat menyingkir! Mereka bisa melukaimu! Kau tidak akan bisa mengalahkannya!" perintah Uryuu.

"Aku bisa mengalahkannya. Aku bukan hanya bisa melihat tapi bisa mengalahkan monster seperti itu," jawab Ichirin sambil berpaling ke belakang. Uryuu tidak mengerti dengan kata-kata Ichirin tapi yang jelas dia cemas dengan situasi sekarang ini.

Ichirin mengangkat tangannya sehingga sejajar dengan dadanya. Ichirin menggapai udara seakan sedang memegang sesuatu. Dan mata Uryuu menangkap sesuatu. Tangan Ichirin yang semula kosong tiba-tiba terdapat pedang dalam genggamannya. Ichigo juga menyadari ada perubahan reiatsu. Dia menoleh ke arah sumber reiatsu dan melihat Ichirin di sana, memegang zanpakutou.

"Ichirin?" ucapnya. Ichirin membuka sarung zanpakutou-nya dan mengeluarkan pedang dari situ. Ichirin mengacungkan zanpakutou-nya dan menyebutkan sebuah nama.

"Hiraku, Hanabira!" Zanpakutou biasa yang semula digenggam Ichirin berubah. Pedangnya berpendar ungu muda. Dan di ujung pegangan pedangnya terdapat satu pita merah panjang dengan dua lonceng kecil. Sementara itu terdapat pita merah yang mengikat beberapa helai rambut Ichirin di sebelah kiri.

Ichigo melihat perubahan zanpakutou Ichirin. Apakah Ichirin shinigami? Tapi dia tidak memakai shihakushou seperti Ichigo. Apakah Ichirin salah satu dari Vaizard?

"Hitotsu, Hanamichi." Dalam sekejap mata, hollow-hollow di depan Ichirin kalah. Mereka menghilang. Lalu dia menoleh ke arah hollow satunya yang sedang menyerang Ichigo. Dengan menggunakan shunpo, Ichirin berada di depan Ichigo. Ichigo terbelalak melihat seorang gadis berambut keriting tiba-tiba sudah ada di depannya.

"Hanamichi," bisik Ichirin. Dan darah mengucur dari hollow tersebut lalu menghilang. Ichigo menatap semuanya dalam diam. Ichirin berbalik dan menatap Ichigo. Mata Ichirin membulat saat melihat pakaian yang dipakai Ichigo.

"Kurosaki-kun, kau tidak apa-apa?" tanya Orihime sambil mendekati Ichigo. Chad dan Uryuu juga berlari mendekatinya.

"Yah, aku tidak apa-apa," jawabnya.

"Ishida-kun, sepertinya kau terluka."

"Ya," jawab Uryuu. Orihime dengan sigap menggunakan soten kisshun-nya. Ichigo menatap Ichirin di depannya. Dia harus menunduk karena Ichirin lebih pendek daripada Ichigo.

"Kamu kenapa―"

"―Beli di mana baju itu?" potong Ichirin. Ichigo sempat ingin menyela tapi akhirnya dia menjawab.

"Ini pakaian shinigami, shihakushou. Tidak dijual di manapun," jawab Ichigo. Dengan gerakan cepat, Ichirin memegang bagian kerah pakaian Ichigo lalu menariknya dekat ke matanya.

"Bohong! Ini pasti dijual, kan? Ada yang memakai baju ini selain kamu," paksa Ichirin.

"Shinigami tidak hanya satu tapi banyak! Kau pernah lihat shinigami sebelumnya?" Ichirin tidak menjawab. Tangannya menyentuh kepala kanannya. Tiba-tiba terlintas gadis yang memakai shihakushou di benaknya. Gadis bermata violet yang selama ini selalu membuatnya penasaran.

"Aku tidak tau," gumam Ichirin tidak jelas tapi Ichigo menganggapnya sebagai jawaban atas pertanyaannya tadi. Orihime sadar kalau suasananya menegang maka dia berusaha memecah keheningan yang tidak mengenakkan ini.

"Anu, apa ada yang terluka?" tanya Orihime hati-hati. Ichigo memperhatikan Chad, Uryuu, dan Ichirin.

"Tidak, kami tidak terluka," jawab Ichigo cepat. "Sebaiknya kita cepat kembali ke kelas. Ochi-sensei juga pasti marah besar."

"Ah, kalau begitu, sampai jumpa," kata Ichirin. Dia segera berlari meninggalkan mereka berempat. Rasa penasaran Ichigo terhadap Ichirin semakin memuncak. Siapa sebenarnya Ichirin dan kenapa dia mempunyai zanpakutou? Sepertinya Ichigo akan digerogoti rasa penasarannya malam ini.


Arigatou minna-saaan!! Makasih buat yang udah baca. Jangan lupa R&R ya???

Dan makasih juga buat yang masukin cerita ini ke fav story. Aku sungguh terharu... Domo arigatou!!

Pokoknya makasih buat semuanya!! Jaaa.......


Ke manakah KON??! (Sambungan dari The Bleeding Bride)

Saat Hitoshi keluar dari tubuh Ichigo, tanpa Ichigo dan Rukia sadari, Kon masuk ke lubang selokan. Karena Kon yang saat itu berbentuk permen, tidak bisa berteriak minta tolong. Dua hari kemudian baru ditemukan Urahara. Tragisnya, Ichigo lupa sama sekali pada Kon.

"Dasar sial!" rutuk Kon.