POLAR
.
.
a story by minseokmyass
www asianfanfics com/story/view/1016240/polar-mingyu-seventeen-meanie-wonwoo-meaniecouple
Disclaimer : I do not own this story. I got the permissions to translate and post the fic here.
Rate : T
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
and the others SVT members
Happy reading!
#10 Understanding
Wonwoo dan Mingyu terus saling berkirim pesan, sampai akhirnya Wonwoo jatuh tertidur dengan ponsel di dadanya. Ketika Wonwoo terbangun keesokan paginya, karena mendengar suara alarm yang berdering lebih keras dari biasanya, ia mengerang dan membuka matanya dengan perlahan. Wonwoo meregangkan tubuhnya, membuat suara-suara aneh, dan menggosok matanya yang terasa masih mengantuk. Ia mematikan alarm di ponselnya, dan ketika ia melakukannya, Wonwoo tersenyum mengingat percakapannya dengan seseorang yang spesial dengan emoji hati di daftar kontaknya. Pesan terakhir dikirimkan oleh Mingyu, kemungkinan dikirim setelah Wonwoo tertidur.
Mingyu️❤️ : kau berhenti membalas, hubungi aku besok pagi, jadi aku tahu kau belum mati... semoga saja.
Wonwoo menatap pesan yang isinya aneh itu, tertawa dan memutuskan untuk menghubungi Mingyu, untuk meyakinkan Mingyu kalau ia belum mati. Ia masuk ke fitur kontak di ponselnya dan menekan nomor 1 di daftar 'Favorites'nya. Ponselnya menyambungkan selama beberapa saat, dan Wonwoo baru akan menutupnya ketika ia mendengar sebuah suara gemerisik dari seberang sana.
"Halo?",
Suara normal Mingyu sudah terdengar berat, tapi suaranya saat baru bangun tidur benar-benar terdengar seksi. Wonwoo terkejut mendengar suara berat, yang masih kedengaran mengantuk itu dari seberang sana. Ia baru akan mengucapkan selamat pagi, dan memberitahu Mingyu kalau ia baik-baik saja, tapi ia memutuskan untuk sedikit bermain-main dengan Mingyu, karena Mingyu juga selalu melakukan hal yang sama padanya.
"Oh maaf! Aku bermaksud menghubungi Jun."
Wonwoo berkata, menahan suara tawanya yang hampir meledak.
"Selamat pagi juga, kalau begitu."
Mingyu berkata setengah mengantuk. Berbeda dengan Wonwoo yang sudah duduk tegak di tempat tidurnya, Mingyu masih berada di tempat tidurnya, tubuh atasnya yang polos terbaring bersama dengan selimut dan bantal-bantal di sekitarnya.
"Selamat pagi." Wonwoo membalas, dengan sebuah senyuman di wajahnya.
"Kenapa kau menghubungiku sepagi ini? Apa sesuatu terjadi?" Mingyu bertanya, masih setengah sadar.
"Kau menyuruhku untuk menghubungimu, jadi aku melakukannya dan aku mau memberitahumu kalau aku masih hidup." Wonwoo menjawab.
Ia mendengar suara tawa yang terdengar berat dan serak, lalu Mingyu berkata,
"Aku hanya bercanda..."
"Oh." Wonwoo menjawab dengan canggung.
Suara tawa itu terdengar lagi,
"Aku tidak percaya kau akan benar-benar menghubungiku..."
Wonwoo jadi semakin kebingungan,
"Kau yang memintaku!" Wonwoo yang sudah sepenuhnya terbangun menjawab sambil membela dirinya.
"Oke, well... Aku senang karena ternyata kau masih hidup." Wonwoo berkata, lalu setelahnya diikuti dengan keheningan yang canggung.
"Terima kasih...?" Wonwoo berkata, nada suaranya sedikit meninggi, membuatnya lebih terdengar seperti pertanyaan dibandingkan pernyataan.
Mingyu tertawa lagi, lalu mengerang sambil meregangkan tubuhnya dan dengan susah payah mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Sebelum Wonwoo atau Mingyu sempat mengatakan sesuatu, sambungan telepon mereka terputus. Wonwoo menatap ponselnya yang sekarang mati, dan sebuah simbol loading berwarna putih muncul di layarnya. Karena ia jatuh tertidur saat sedang berkirim pesan dengan Mingyu semalam, ia sadar kalau ia tidak mengisi ulang baterai ponselnya semalam. Jadi, sekarang ponselnya mati karena kehabisan baterai. Wonwoo mengerang dan mencari chargernya, untuk mengisi ulang baterai ponselnya. Sedangkan, Mingyu yang tadi sedang bicara dengan Wonwoo dengan kedua mata yang tertutup, mencoba melawan rasa kantuknya, dengan perlahan membuka sebelah matanya dan menatap ponsel hitamnya. Layar ponselnya menampilkan pemberitahuan bahwa panggilan teleponnya dan 'Nerd' sudah terputus. Mingyu tidak repot-repot mencoba menghubungi Wonwoo lagi, ia berpikir kalau ponsel kekasihnya pasti mati. Ia tersenyum manis mengingat percakapan mereka, dan malu dengan sikapnya sendiri. Ia mengacak rambutnya, dan bangkit dari tempat tidurnya.
"Aku sangat payah."
Mingyu berkata pada dirinya sendiri sambil mengusap wajahnya, mencoba untuk membangunkan dirinya sendiri. Mingyu mengerang saat ia meregangkan tubuhnya untuk terakhir kalinya, lalu ia akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Ia menatap jam di meja nakas di sebelah tempat tidurnya. Jam 6:27 pagi.
"What the hell, orang normal mana yang akan menelepon sepagi ini?"
Lalu ia tersenyum sendiri memikirkan jawabannya. Mingyu ingin kembali tidur, karena sebenarnya ia tidak ingin berangkat ke sekolah. Mingyu tidak ingin mengakuinya, tapi Wonwoo membuatnya lebih bersemangat berangkat ke sekolah, menghadiri kelas lain selain kelas Sains, dan mencoba untuk mentoleransi murid-murid lainnya. Jadi, dengan gugup ia mulai memakai pakaiannya. Ia memakai kaus putih polos, yang menutupi kalung dengan bandul cincinnya. Ia mengacak-acak lemarinya, dan mengambil sepasang seragam, dan memakainya. Meskipun kesan pertama orang-orang tentang penampilan Mingyu kurang baik, ia sebenarnya adalah orang yang rapi. Satu-satunya alasan kenapa seragamnya terlihat rapi dan selalu terlihat baru adalah karena ia terlalu sering berkelahi. Akhirnya, ia selesai memakai seragamnya, menyambar tasnya, dan keluar dari kamarnya. Ketika ia melewati dapur, ia melihat ibunya sedang membuat sarapan. Mingyu duduk di meja makan, menunggu ibunya untuk menyiapkan sarapannya. Ketika ibunya selesai menaruh makanan di piringnya, Mingyu tersenyum lembut pada ibunya, yang di balas oleh ibunya, lalu Mingyu menikmati sarapannya. Setelah selesai makan, Mingyu kembali naik ke kamarnya untuk menggosok gigi dan menunggu sampai waktunya berangkat sekolah di kamarnya. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 7, Mingyu berjalan keluar kamar, tidak mengucapkan selamat tinggal pada ibunya, tapi hanya tersenyum canggung, dan pergi.
Junhui sudah kembali masuk sekolah setelah satu hari kemarin absen. Ia mencoba menahan Wonwoo untuk bertanya apakah mereka bisa bertemu sebelum kelas dimulai, jadi ia bisa bertanya pada Wonwoo apa yang sudah ia lewatkan kemarin... dan kenyataannya, memang banyak sekali yang ia lewatkam. Wonwoo tidak membalas pesannya dan Jun menatap ponselnya. Ia duduk di bangkunya, ketika Wonwoo masuk ke dalam kelas.
"Wonwoo-ya!"
Wonwoo tersenyum melihat kehadiran Jun, menutupi rasa gugupnya.
"Kenapa aku gugup? Lagipula aku tidak melakukan kesalahan apapun pada Jun... Iya, kan?"
"Jun-ah!"
Mereka berdua saling berhigh-five, lalu Jun meminta untuk bicara dengan Wonwoo di luar kelas,
"Yah, aku sudah berusaha menghubungimu sejak pagi!" Jun berkata, menunjukkan kalau ia sedikit khawatir karena biasanya sahabatnya itu akan membalas pesannya, tapi kali ini tidak.
"Ah~, maaf. Ponselku mati tadi pagi, jadi aku meninggalkannya di rumah." jelas Wonwoo.
Jun hanya tersenyum, lalu melanjutkan,
"Jadi~, apa kau punya sesuatu yang ingin kau katakan padaku?" Maksud Jun adalah tentang tugas-tugas dan pelajaran yang ia lewatkan kemarin. Tapi, Wonwoo mengartikan pertanyaan itu dengan sesuatu yang lain. Wonwoo jadi gugup, matanya beralih kesana-kemari dan menghindari kontak mata dengan Jun.
"O-Oh... kau sudah tahu?", Wonwoo bertanya, sedikit rasa bersalah terdengar dari suaranya.
"Tentang apa?" Jun menjawabnya dengan pertanyaan, bingung dan yakin kalau mereka tidak sedang membahas hal yang sama. Tapi, Wonwoo berpikir kalau Jun sedang menunggunya untuk mengatakan yang sejujurnya... jadi ia melakukannya,
"Kalau sebenarnya Mingyu dan aku sekarang berkencan."
Jun menarik napas terkejut, tidak terlalu keras sehingga Wonwoo tidak mendengarnya. "Jadi pada akhirnya, Mingyu yang menang, huh?" Jun berkata dalam hati.
Orang-orang bilang, ketika kau benar-benar jatuh cinta pada seseorang, kau akan lebih memilih melihat orang itu bahagia, meskipun bukan kau yang menjadi alasan kenapa ia tersenyum, atau tertawa. Meskipun orang itu tidak bersamamu, kalau ia bahagia, lalu semuanya akan baik-baik saja. Jadi, Junhui tersenyum palsu dan berkata,
"Tentu saja aku sudah tahu. Kau tidak bisa menyembunyikan apapun dariku~", ia berkata sambil memukul lengan Wonwoo. Wonwoo tersenyum canggung, bertanya-tanya apa Jun benar baik-baik saja.
"Jun-ah... apa kau... tidak masalah dengan itu?"
Jun tertawa, meskipun terdengar dipaksakan,
"Yah. Kenapa kau butuh izin dariku?"
"Jun-ah-"
"Aku harus ke kamar mandi. Sampai bertemu di kelas, oke?"
Jun masih memasang senyum terpaksanya, dan melambaikan tangannya sambil berjalan di koridor, meninggalkan Wonwoo berdiri sendiri di depan kelas mereka, tidak tahu harus melakukan apa. Begitu ia menjauh dari pandangan Wonwoo, senyumnya menghilang dan ia berjalan ke kamar mandi. Jun masuk ke salah satu bilik kamar mandi, emosinya bergejolak, antara marah, sedih, menyesal, cemburu, dan sedikit merasa bersalah karena tidak bisa menjadi sahabat yang merasa senang ketika sahabatnya juga sedang senang. Emosi-emosi itu membuat Jun merasa frustasi, dan mengeluarkan rasa frustasinya dengan sebuah tinju. Ia menunju dinding di depannya.
"Yah. Apa yang kau lakukan?" ujar sebuah suara dari bilik kamar mandi lainnya. Jun, masih terlarut dalam emosinya, tidak menjawab pertanyaan itu, dan memukul dinding sekali lagi.
"Yah... Kau punya masalah?" suara itu bertanya lagi, suaranya terdengar kesal.
Jun berhenti memukuli tembok dan berkata,
"Aku sedang tidak mood."
Ia mendengar suara bilik kamar mandi itu dibuka, dan mendengar suara langkah kaki mendekat. Suara itu berkata lagi, semakin dekat dengan tempatnya,
"Sedang tidak mood?" anak itu mendengus, "Yah, jangan memukuli tembok, aku bisa membantu. Keluarlah." suara itu berkata, terdengar mengintimidasi.
Jun tetap diam di biliknya. Suara itu terdengar tidak asing, tapi tidak dengan caranya bicara, atau dengan caranya membuatnya sedikit merasa takut. Anak itu berdiri di luar biliknya dan menendang pintunya,
"Tch."
Ia berdecih, tidak sabar. Jun dengan ragu membuka kuncinya dan pintunya perlahan-lahan terbuka. Ketika pintunya sudah sepenuhnya terbuka, pria yang sedang memandang lantai di depannya, mengalihkan pandangannya pada Jun, tapi matanya tiba-tiba berubah dan Jun menyipitkan matanya dan mengerenyitkan alisnya, terkejut melihat siapa yang ada di depannya.
"Jun-ah?"
"Minghao-ya?" Jun bertanya, tidak percaya kalau suara yang baru saja terdengar menantangnya adalah milik seorang pria berambut biru yang manis dan memiliki senyum yang lucu.
"Yah, Jun-ah. Ada apa?" Minghao bertanya, tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres, karena Jun yang tenang dan selalu berpikir positif di depannya ini, tiba-tiba memukuli dinding kamar mandi.
"Tidak ada," ia berbohong, biasanya itu berhasil pada Wonwoo yang tidak pernah menekannya lebih jauh ketika ia menjawab seperti itu.
Minghao memutar bola matanya, dan mengerang.
"Really? Kau akan tetap berbohong? Aku benar-benar khawatir, jadi jangan coba-coba membohongiku." Ia berkata dan melangkah mendekatinya.
"Ada apa?", Minghao bertanya lagi.
Jun menghela napas, dan mengunci pandangannya pada Minghao. Sebelum ia sempat mengatakan apapun, suara bel berbunyi. Mata mereka berdua melebar, dan mereka langsung berlari keluar kamar mandi menuju kelas. Untungnya, mereka belum terlambat. Setengah hari tersebut terlalui dengan cepat, Jun tidak berbicara sebanyak biasanya. Ketika bel istirahat makan siang berbunyi, Jun berjalan menuju meja Wonwoo, dan Wonwoo bergerak di kursinya dan bersiap untuk menyapa sahabatnya, tapi Jun tiba-tiba berbelok dan sekarang berdiri di depan meja Mingyu. Mingyu sedang tertidur, seperti biasanya, ketika Jun memanggil namanya, dan ia membuka matanya dengan perlahan dan menatap pria di depannya.
"Bisa kita bicara sebentar?" Jun berkata.
Wonwoo menatap dua orang di depannya, bisa merasakan ketegangan di antara mereka. Mingyu mengangguk, dan berdiri dari kursinya. Mingyu mengikuti Jun keluar, lalu mereka berdiri saling berhadapan.
"Jadi, aku sudah dengar tentang kau dan Wonwoo." Jun berkata langsung pada intinya. Mingyu tersenyum miring dan berkata,
"Oke, jadi ada apa dengan kami?", Jun memasang wajah muak saat mendengar kata 'kami'.
"Kau sebaiknya membuat Wonwoo bahagia...", ia berkata. Ekspresi wajah Mingyu berubah, melihat Jun menyampaikan perasaannya dengan lebih tenang, meskipun kebencian masih terlihat jelas, tapi itu sudah tidak setegang biasanya.
"Pasti." Mingyu menjawab.
"Karena begitu kau menyakitinya... Aku akan ada untuknya. Dan aku tidak akan memberikannya lagi untukmu, atau memaafkanmu. Kau mengerti?" Jun berkata, hampir menggeretakan giginya karena tidak percaya ia akhirnya harus mengatakan ini pada Mingyu.
Mingyu mendengus,
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu memilikinya.", Mingyu berjanji. Mereka berdua kembali ke kelas, dan Minghao tiba-tiba melingkarkan tangannya di leher Jun.
"Jun-ah. Ayo kita pergi makan siang," ia berkata. Jun sebenarnya sedang tidak ingin tinggal di dalam kelas setelah apa yang terjadi selama setengah hari pertama tadi, lalu ia tersenyum pada Minghao yang juga membalas senyumnya. Mereka berdua meninggalkan kelas, dan pergi bersama untuk makan siang. Ketika Mingyu kembali ke bangkunya, dan mulai membereskan barang-barangnya, Wonwoo berkata,
"Apa yang kalian bicarakan?"
Mingyu tersenyum,
"Kau", yang lebih tinggi menjawab dengan jujur.
"Kau mau kemana?" Wonwoo kembali bertanya. Mingyu menyampirkan tasnya, dan tersenyum lagi sambil berkata,
"Aku akan kembali. Aku hanya akan makan siang di markas."
Mingyu lalu mencium kening Wonwoo, dan berjalan ke arah pintu.
"Oke, sampai jumpa."
Mingyu hanya mengedipkan sebelah matanya pada kekasihnya dan kembali berjalan, keluar kelas menuju ke tempat biasa.
.
Sedangkan Minghao dan Jun berjalan menyusuri lorong, dan tiba-tiba Minghao membuka pintu yang menuju ke sebuah tangga, dan mulai menaikinya. Jun sedikit merasa kaget, dan hampir terjatuh saat mengikuti pria berambut biru itu. Mereka berdua berakhir di atap, dan Jun yang tidak pernah berada di tempat itu berkata,
"Apa kita boleh ada disini?"
"Yup! Sampai kita ketahuan." Minghao berkata, membuat Jun tertawa. Mereka berdua menaiki tangga dan duduk di pembatas atap itu. Jun duduk bersila, sedangkan Minghao menumpukkan sikunya di lututnya,
"Minghao-ya, kau sebenarnya sedikit menyeramkan." Jun berkata sambil tertawa, saat mengingat Minghao yang ia lihat di kamar mandi tadi pagi. Minghao juga tertawa,
"Aku bukan apa-apa dibandingkan dengan Mingyu ketika ia kehilangan kontrol..." ia berkata, tidak tahu kalau Mingyulah yang menyebabkan Jun kehilangan kontrolnya tadi pagi.
"Jadi, beritahu aku, ada apa denganmu tadi pagi?" Minghao bertanya, benar-benar khawatir pada temannya.
"Tidak ada apa-apa, aku bilang!" Jun berbohong lagi. Sebagian besar alasannya adalah karena ia tidak ingin membebani Minghao dengan masalahnya, dan sebagian lainnya adalah karena ia ingin lihat apakah Minghao akan terus menekannya untuk mengatakannya yang sejujurnya, ataukah ia akan seperti Wonwoo yang tidak pernah memaksanya.
"Baiklah..." pria berambut biru itu berkata, membuat Jun sedikit merasa kecewa.
"Apakah kau pikir aku akan mengatakan itu?" Minghao melanjutkan,
"Aku tidak bodoh, jadi katakan padaku ada apa... Dan jika kau tidak bisa mengatakannya, bilang saja. Jangan berbohong dan mengatakan 'tidak ada apa-apa' ketika sesuatu memang terjadi, dan mengatakan itu pada orang yang benar-benar khawatir padamu..."
Jun terkejut mendengar jawaban Minghao, dan akhirnya memutuskan untuk memberitahunya.
"Sebenarnya alasannya cukup bodoh, tapi aku merasa marah karena Wonwoo dan Mingyu sekarang sudah resmi berkencan."
Minghao hampir menyemburkan minumannya, lalu ia menatap Jun dengan mata yang melebar,
"Tunggu! Mereka resmi berkencan?!" ia bertanya.
Jun memandang Minhao bingung, mengingat bahwa Mingyu adalah sahabatnya.
"Well.. ya."
Minghao berkata dalam hati, "Jadi itu yang terjadi kemarin."
"Dan ya, itu benar-benar menghancurkan pagiku... Mengetahui kalau pria yang kucintai sudah berkencan dengan orang lain," ia mendengus, "berita bagus."
Minghao menatap mata Jun yang terlihat sedih,
"Aku tidak bisa mengatakan sepenuhnya, tapi aku pikir aku bisa sedikit mengerti perasaanmu..." Minghao berkata,
"Tapi bedanya, untukku, aku tidak mencintai pria itu. Dan, aku tidak tahu kenapa, tapi aku menyukainya. Tapi dia jatuh cinta dengan orang lain..." Ia menyelesaikan kalimatnya.
Jun berpikir sebentar,
"Tunggu... Apakah orang itu... Mingyu?"
Minghao menatap Jun yang bertanya dengan serius, lalu tertawa keras, memegangi perutnya, mencoba untuk mengambil nafas. Jun menatap pria di depannya yang sedang tertawa terbahak-bahak,
"Apa yang lucu?" Ia bertanya, tidak mengerti dimana bagian yang lucu dari pertanyaannya.
"Aku- tidak- percaya- kau- berpikir- kalau- aku- menyukai- Mingyu." Mingyu mengatakan itu dengan terbata-bata, setiap katanya diselingi oleh suara tawanya yang belum bisa berhenti. Sekarang, matanya sudah berkaca-kaca,
"No~, dia seperti saudaraku sendiri. Kalau aku menyukainya, itu berarti incest." ia melanjutkan, memasang wajah geli karena membayangkan dirinya sendiri bersama Mingyu.
"Lalu siapa orang itu?" Jun bertanya, Minghao masih terkekeh ketika mengatakan,
"Pria itu sebenarnya bisa dibilang bukan temanku... Aku sebenarnya tidak tahu kenapa aku bisa menyukainya, kami juga tidak begitu dekat."
Jun tetap diam.
"Tapi, ia benar-benar jatuh cinta dengan seseorang... Jadi, aku pikir aku bisa sedikit mengerti perasaanmu."
"Aku merasa, seperti... bersalah? Karena aku tidak bisa dengan tulus bahagia untuk Wonwoo... Tapi di saat yang sama, Aku-"
"Senang melihatnya bahagia, meskipun bukan denganmu." Minghao menyelesaikan kalimat Jun dengan kata yang sama persis dengan yang akan dikatakan Jun. Junhui menganggukkan kepalanya mendengar kebenaran yang diucapkan pria berambut biru itu. Tiba-tiba, Minghao berdiri dan berjalan ke ujung atap yang sedang mereka duduki,
"Yah!" Jun berteriak, panik, berpikir kalau Minghao akan melompat.
"AKU BERJANJI UNTUK MEMBUAT..."
Jun tidak bisa mendengar nama yang diucapkan Minghao dengan jelas, karena pesawat terbang yang tiba-tiba melintas di atas mereka. Suara mesinnya benar-benar ribut, jadi ia hanya mendengar sisa kalimatnya,
"BAHAGIA!" Minghao berseru. Ia berbalik untuk menatap Jun yang masih duduk dan tersenyum. Jun balas tersenyum dan berdiri, berlari ke samping Minghao.
"MINGYU-YA! AKU BERJANJI AKAN SELALU ADA UNTUK WONWOO KETIKA KAU TIDAK ADA! JADI, AKU MEMPERINGATKANMU!"
Setelah meneriakkan harapan mereka, Jun merasa jauh lebih baik dan senyumnya kembali seperti biasa. Minghao merasa bahagia ketika kesedihan Jun sudah sedikit mereda. Mereka berdua menghabiskan sisa waktu makan siang mereka di atap, makan, mengobrol, dan berbagi Bubble Tea yang Minghao beli.
.
Mingyu sudah sampai di markas dan disambut oleh teman-temannya yang sudah ada di sana,
"Dimana Minghao?" Jisoo bertanya, sadar kalau temannya yang berambut biru itu tidak datang bersama Mingyu.
"Aku tidak tahu, pergi ke suatu tempat bersama Jun kalau tidak salah," ia menjawab, menjatuhkan dirinya di atas sofa.
"Jadi Mingyu-ya! Ceritakan pada kami!", Mingyu mengangkat kepalanya dari lengan sofa.
"Ceritakan apa?"
"Jangan katakan hal bullshit seperti itu pada kami," Hansol berkata, dan Seungcheol memukul kepalanya,
"Perhatikan bahasamu... Dumbass."
Mereka semua tertawa, lalu kembali mengalihkan fokusnya pada Mingyu dan kejadian yang terjadi kemarin.
"Tentang Wonwoo hyung!" Lee Chan memperjelas.
"Ah~ dia," Mingyu berkata.
Teman-temannya berhenti mengunyah makanan mereka, dan keadaan jadi sepi, fokus pada jawaban yang akan Mingyu ucapkan.
"Kami sudah resmi berkencan." Mingyu berkata.
Setelah mendengar jawaban itu, semua teman-temannya saling bertukar pandang, dan berdiri dari posisi mereka lalu bergegas menuju ke arah Mingyu. Mereka memberi ucapan selamat dan mulai memukuli pelan ketua mereka, yang sekarang tersenyum dan kesulitan menghalau pukulan teman-temannya di sofa. Selagi Mingyu menerima pukulan dari teman-temannya, ponselnya berbunyi, tapi ia tidak menyadarinya. Yang menghubunginya adalah Wonwoo, memberitahunya kalau ibu Mingyu sekarang berada di kantor guru, dan Wonwoo menyuruhnya untuk kembali ke sekolah.
.
Di sekolah, kelas Wonwoo mendapatkan telepon, dan Wonwoo yang menjawabnya. Ternyata, Ny. Kim masih berada di kantor, dan Mingyu masih belum kembali. Wonwoo menjelaskan kalau ia sudah mengirimi Mingyu pesan, dan mengatakan kalau ia akan turun ke kantor guru untuk menemani ibu dari kekasihnya itu.
Waktu makan siang hampir berakhir, dan Mingyu berjalan kembali ke sekolahnya ketika ia akhirnya memeriksa ponselnya. Pesan itu berbunyi,
Nerd️❤️ : Mingyu-ya, ibumu ada di kantor guru, cepat kembali ke sekolah.
Mata Mingyu melebar membaca pesan itu, lalu ia mulai berlari menuju ke sekolah. Ia berlari langsung menuju kantor guru. Di luar ruangan itu, duduk ibunya, dan disampingnya ada Wonwoo. Ibunya tersenyum, dan Mingyu berkata,
"Ibu! Kenapa ibu ada disini?"
Tapi, bukan dengan suaranya. Pria tinggi itu menggunakan tangannya, dan bahasa isyarat untuk menyampaikan perkataannya.
"Aku datang untuk mengantarkan buku catatanmu yang tertinggal di rumah." Ibunya menjawab menggunakan bahasa isyarat.
"Aku tidak memerlukan buku itu hari ini! Sudah berapa lama Ibu menunggu?", tangan Mingyu berkata.
"Tidak terlalu lama! Pria manis yang baik ini menemaniku... Dia bilang kalian berdua dekat."
Mingyu menatap Wonwoo, yang sedang memegang pulpen di tangan kanannya. Di antara ia dan ibunya ada banyak kertas-kertas kecil yang di atasnya tertuliskan pesan-pesan.
"Maaf, aku tidak bisa bahasa isyarat." Wonwoo berkata, dengan senyum sedih. Mingyu menatap ibunya lagi.
"Kenapa akhir-akhir ini kau rajin berangkat sekolah..." Ny. Kim menatap Wonwoo, lalu ia melanjutkan,
"Ibu mengerti, sekarang."
.
.
.
To Be Continued...
Jun so sweet bgt ngga sih:(( sukak bgt karakternya Jun di polar HUHUHUHU he's the best bestfriend ever:( manada orang yg ngerasa bersalah karena ngga bisa bahagia pas sahabatnya lagi bahagia:') DUH JUNN
kaget ngga sih pas baca ibunya Mingyu pake bahasa isyarat? Aku sih kaget... jadi mamanya itu tuna rungu gitu:''
Banyak yg ngga dapet notif email ya chapter sebelumnya? Kayanya kalau updatenya dari aplikasinya ffn emang ngga ada notif ya... chapter ini dapet notif tapi kan, ya?;)
Btw, svt ke ina ya tahun ini HAHAHAHA:((( nabung guys:') habis lebaran ha ha:((
Happy holiday, guys!
Last but not the least, thanks to justcallmeBii, Hannie, Mrs. EvilGameGyu, WooMina, ChibaYumiii61, hoshilhoutte, KMaddict, Syupit, Nikeisha Farras, kurangaqua, utsukushii02, , xiuminbae, Kyunie, reminie, Re-Panda68, 7D, nikeagustina16, mgxww, Yemiie, adellares, Park RinHyun-Uchiha, bananona
Read n Review?
Love,
seulgibear
