A Naruto fanfiction

Cherry Blossom and Marauders

Written by Emi Yoshikuni


Chapter 7 : DE JAVU AND THE STATION!

Mata hitam yang terlihat sendu itu menelusup ke sela-sela teralis jendela gedung tinggi di tengah kota Ten no Michi. Ia baru saja terbangun dari tidur malamnya yang tidak terlalu nyenyak, mengingat kejadian empat malam lalu yang benar-benar mengubah dirinya. Senyum tulus yang selalu terpatri di wajahnya kini berubah menjadi raut wajah yang tak memiliki emosi. Tatapan matanya pun berubah menjadi kosong, seakan-akan bumi ini tidak lagi berbentuk bulat oval namun kubus. Ditambah dengan rona wajah dan kulitnya yang semakin memucat―seputih kertas―dan adanya semacam lingkaran ungu tepat di bawah matanya, benar-benar membuat dirinya memperlihatkan sosok dirinya yang sebenarnya.

Jemarinya sedikit menyapu anak rambut hitam kelamnya yang terjatuh di kelopak matanya. Suara-suara decitan dan kekehan kecil dari arah bawah semakin membuatnya harus terbangun walaupun ia masih ingin tidur di pagi yang chilly itu. Vampire biasanya tertidur di pagi dan siang hari, tetapi ia tidak terbiasa dengan hal itu. Bukan tidak terbiasa sebenarnya, lebih tepatnya tidak mau dan tidak akan pernah membiasakan dirinya melakukan hal-hal yang berhubungan dengan makhluk-bertaring-penghisap-darah.

Selama empat hari belakangan ini, ia berusaha untuk mengenal sosok yang telah membantunya mengenal dirinya. Kejadian sedih yang berusaha ia lupakan bersama dengan menetesnya air matanya itu telah menjadi pelajaran terbesar bagi dirinya, pelajaran pertama bagi dirinya yang lemah bahwa komunitas sihir telah rusak dan benar-benar rusak.

"Ayah... Ibu..."

Ia menelungkupkan wajahnya dalam-dalam dan memegang lututnya. Beberapa kali pun dicoba, setiap memori indah bersama ayah dan ibunya yang tiba-tiba datang di kepalanya membuatnya tak bisa menahan air mata terlalu lama. Ia pun hanya bisa menggigiti bibirnya agar air mata itu tak jatuh lagi. Ia pun mencoba mengingat kembali perkataan Kakashi malam sebelumnya. Meskipun dengan nada yang enggan, Kakashi menceritakan sebagian hal yang ia ketahui mengenai penyebab kematian orang tuanya dan seluruh penduduk desa terpencil itu.

Mendengar kata Akatsuki rupanya membuat bocah berusia sebelas tahun itu sedikit terkejut. Ia merasa pernah mendengar nama itu sebelumnya namun tidak mengetahui kenyataan bahwa Akatsuki adalah perkumpulan penyihir kelas atas yang konon merupakan abdi paling setia Kau Tahu Siapa.

"Dia Yang Namanya Tidak Boleh Kau Sebut..."

Sai semakin mengeratkan genggamannya. Butir-butir darah sedikit keluar dari telapak tangannya berkat geraman kuku-kuku jemarinya. Dan semakin ia eratkan hingga ia menyakiti dirinya sendiri. Ia ingin sekali menghukum dirinya yang lemah tapi ia hanya anak laki-laki berusia sebelas tahun yang baru akan mengetahui dunia sihir secara lebih baik hari ini. Ya, hari ini adalah hari pertama dan merupakan awal dari kisah hidup seorang Torazu Sai sebagai penyihir.

Mata itu kembali menatap jendela yang sedikit begetar tepat di sebelah kanannya. Suara kekehan dan tawa membuatnya tersadar dari lamunannya. Ia lalu membawa penglihatannya ke arah luar jendela. Sinar mentari yang sembunyi-sembunyi keluar dari awan keabuan itu sedikit menyinari kulit pucatnya. Ia tahu sudah saatnya ia bangun dan memulai harinya dengan meletakkan koper-kopernya ke lantai bawah sebelum nyonya gemuk yang suka berteriak itu memarahinya lagi.

TOK TOK TOK

Sai menelengkan kepalanya dan memandang kosong ke arah wanita bekerudung seperti seorang gypsy yang baru saja masuk ke dalam kamar sempit milik Sai. Gaun merah berjumbai-jumbai aneh dengan kalung besar yang melingkar di sekitar lehernya membuat Sai mengernyitkan dahinya. Wanita nyentrik itu pun tengah menggendong kucing gemuk berbulu hitam yang mengeong aneh.

"Kau belum mengganti pakaianmu? Pria tampan berambut aneh itu ada di bawah. Cepatlah kau bersiap-siap." ujar wanita itu seraya memutar badannya hingga efek suara decitan yang bersumber dari sepatunya membuat si kucing mengeong lagi. Ia lalu keluar dari kamar sempit yang disewa Kakashi untuk Sai selama beberapa hari ini sebelum akhirnya ia akan dijemput ke Konoha Train Station.

"Yes Ma'am." jawab Sai dengan nada yang begetar.

Melihat koper-kopernya yang sudah tertata rapi di sudut kamar sempitnya itu, Sai bisa sedikit tenang. Ia menghela nafas pendek dan kembali memandang ke arah awan yang begerak, sedikit memberi ruang bagi sinar matahari agar bisa menyinari pagi yang dingin itu. "Selamat pagi dunia." ungkap Sai seraya meregangkan otot-otot lengannya.

Setelah merasa telah mendapatkan sinar mentari yang cukup, Sai lalu mulai menggerakkan tubuhnya dan turun dan kasur tak-empuknya itu. Dengan sigap, ia lalu membuka satu persatu kancing pyjama putihnya dan menggantinya dengan seragam Konoha Wizard Academy pemberian Kakashi dua hari yang lalu―kemeja putih, vest hitam, celana dan jubah hitam panjang. Badge, dasidan syal akan diberikan setelah acara penyeleksian asrama, mengingat warnanya akan berbeda untuk tiap asrama.

"Aku akan masuk asrama apa ya?" tanya Sai pada dirinya tepat di depan cermin oval panjang. Ia menatap dirinya beberapa saat dan memastikan semuanya sudah terpasang rapi. Ia lalu mengancingi kancing pergelangan tangan kemeja putihnya dan melihat darah kering di telapak tangannya. "Dasar bodoh..."

Sai sedikit menjilat darah yang masih basah di sekitar jemarinya. Ia pun mengernyitkan dahinya. "Merasakan darah sendiri memang tidak enak," komennya. Menganggap bahwa darahnya tidak enak, Sai memutuskan untuk mengambil saputangan putih yang tergeletak di atas meja kecil di samping cermin oval itu dan mengelap darah kering di kedua telapak tangannya.

Suara decitan aneh itu semakin lama semakin terdengar lagi. Dengan cepat, Sai lalu memasukkan saputangannya ke dalam saku jubahnya dan mengangkat koper-kopernya tepat di depan pintu. Baru saja ia akan membuka kenop pintunya sebelum nyonya berpakaian gypsy itu menarik lebih duluan dan mulai memarahinya.

"Kau ini lama sekali! Apa yang kau lakukan, hah? Dan lihat―astaga! Kau tidak merapikan kasurmu?!" teriak wanita gypsy itu. Kerutan mengerikan muncul di raut-raut wajah tuanya, membuat Sai sedikit membulatkan mata lelahnya. "Dasar anak-anak. Kalau saja pria tampan itu bukan dari Kementerian, aku tidak akan mau menyewakan kamarku pada anak-anak sepertimu." sindirnya seraya mengucapkan suatu mantra dan menggerakkan jemarinya hingga selimut, bantal, dan sprei kasur yang ditiduri Sai bergerak dan tertata rapi. "Nah, begini lebih baik. Dan kau―"

Sai sedikit mengeluarkan wajah takutnya saat telunjuk gemuk milik nyonya gypsy itu tepat berada di ujung hidungnya. "Y-yes Ma'am?"

"Cepat bawa koper-kopermu dan turunlah ke bawah. Setelah sarapan kau langsung pergi."

"Yes Ma'am." jawab Sai. Kupikir aku akan dimarahi habis-habisan. Hahh... syukurlah.


"Kau mau ke mana, Kakashi-san?"

Pria berambut perak jabrik itu mengeluarkan wajah bingungnya sembari menggaruk-garuk belakang kepalanya. Sepertinya ia tak rela meninggalkan Sakura sendirian di tengah-tengah kerumunan stasiun kereta yang mungkin bagi Sakura bukan pertama kalinya ia alami―kondisi stasiun kereta di komunitas sihir tidak jauh berbeda dengan yang ada di dunia Muggle. Namun, mengingat segala hal bisa terjadi di tempat seperti ini, Kakashi merasa harus melakukan sesuatu. Ia harus mengambil anak yang satunya lagi di sebuah flat kecil di tengah kota Ten no Michi dan itu cukup membuatnya kebingungan.

"Kau tahu, selama beberapa hari ini, kau terlihat sedikit―"

Sakura melipat kedua tangannya seraya menampilkan tampang waspada ke arah Kakashi. Setelah kejadian di Kementerian beberapa hari lalu, Kakashi jadi semakin aneh. Meskipun dari perawakannya sudah aneh bagi Sakura namun kali ini Kakashi sungguh membuat dirinya semakin aneh saja. Setiap hari, ia seperti terlihat kebingungan, dan tampak ingin sekali menghindari Sakura. Dan itu cukup membuat Sakura sedikit kesal.

"―aneh." lanjut Sakura, melepas lipatan tangannya.

Kakashi berhenti melakukan aktivitas―menggaruk belakang kepalanya―dan kembali menatap tatapan tak yakin dari Sakura, "erm―"

"Setiap kali kau ingin pergi ke suatu tempat, kau selalu menunjukkan wajah ingin-rasanya-menghindari-anak-ini di depanku. Ada hal yang kau sembunyikan, Kakashi-san?"

"Well... er― yah, kau tahu kan, pekerjaanku seperti itu―" jawab Kakashi, membuat Sakura semakin menampilkan wajah bak seorang detektif yang sedang menginvestigasi seorang kriminal yang berusaha menutupi kesalahannya, "―apa? Wajahmu itu terlihat seperti ingin mengatakan tolong selamatkan aku dari penyihir jahat ini. Aku bisa dikira melakukan kejahatan padamu kalau kau menampilkan wajah seperti itu, Sa-ku-ra."

Mendengar ucapan Kakashi yang sedikit memelas itu, Sakura hanya bisa menghela nafas pendek dan memutar badannya, memandangi keramaian yang terjadi di Konoha Train Station itu.

Mata hijau cemerlang Sakura menangkap pemandangan yang sama, kumpulan anak-anak berbagai usia yang memakai seragam yang sama seperti yang dikenakannya. Jubah hitam terlihat menghiasi kesan luar siswa-siswi Konoha Wizard Academy. Suara kekehan maupun keributan yang berasal dari segerombolan siswi yang mungkin berada pada tingkat lima atau enam terdengar memenuhi sayap timur stasiun kereta itu. Namun, ada juga beberapa orang dewasa yang berpakaian berbeda tampak berjalan bersebelahan dengan para murid itu.

"Orang tua ya? Hahh... Kalau saja Kaa-san dan Tou-san ataupun Karin-nee ada di sini, pasti akan terasa lebih―"

PUKK

Sakura tersadar dari lamunannya saat Kakashi tiba-tiba menepuk pundaknya. Sebuah senyum hangat menghiasi wajah Kakashi dan saat Sakura menatapnya, perasaan sedikit sendu itu sedikit berubah ceria. "Hei, maaf ya. Kau tahu kan, aku ini apa? Erm, maksudku pekerjaanku." ungkap Kakashi seraya memegangi kedua pundak Sakura. Sakura pun hanya mengangguk. "Mm, saat ini ada hal yang harus aku urusi dan aku tak bisa menceritakan pada siapapun akan hal itu―"

"Meskipun pada diriku?" potong Sakura.

"Ya, meskipun pada dirimu." ulangnya seraya menganggukkan kepalanya. "Jadi..."

"Apakah itu berkaitan dengan seseorang yang aku lihat bersamamu ketika aku menyusup bersama Anko-san di Kementerian?" potong Sakura sekali lagi. Mata hijau emerald-nya terlihat semakin penasaran.

Kakashi sedikit melebarkan tatapannya kala Sakura menanyakan hal itu. "Kita sudah membicarakan masalah itu, Sakura. Kau tahu kan, jangan pernah menyebutkan apapun tentang Kementerian di tengah-tengah kumpulan penyihir seperti ini. Dan... mengenai kejadian itu, jangan kau ulang lagi, mengerti? Sangat berbahaya, kau tahu itu."

Sakura hanya menjawab dengan anggukan kecil, "maaf. Waktu itu, kupikir ada apa-apa padamu dan kau juga tidak pulang-pulang. Makanya..." ujar Sakura dengan nada seperti anak kecil tapi terdengar aneh di telinga Kakashi.

"Kau memang cemas padaku atau ada hal lain, hm, hm?"

Sepersekian detik kemudian, Sakura nyaris berteriak sambil bertolak pinggang ke arah Kakashi, "Aku cemas! Kalau kau tiba-tiba menghilang atau lebih buruk lagi, mati, siapa yang akan bertanggung jawab membawaku pulang ke rumah?! Dan, dan, aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya meminta bantuan kepada penyihir-penyihir itu seandainya terjadi apa-apa pada diriku. Soalnya, semua orang yang kulihat terkesan jahat."

Mendengar kata mati yang diucapkan kecil oleh Sakura sedikit membuat Kakashi terkejut. Dia memang sudah tahu bahwa resiko terbesar akan pekerjaannya adalah kata mati. Tapi, siapa yang mau mati muda apalagi di saat genting seperti ini? Kakashi hanya menghembuskan nafas perlahan dan kembali memegang pelan kedua pundak Sakura.

Kakashi berusaha untuk mencari kata-kata yang tepat untuk dilontarkan atas pengakuan Sakura yang childish itu. Kedua mata onyx-nya yang terkesan mengantuk tertutup untuk waktu yang lama hingga keheningan terasa muncul di sekitar mereka. Padahal, jelas sekali banyak kumpulan penyihir atau Muggle yang berjalan cepat di antara mereka berdua. Suara-suara gerbong kereta batu bara yang baru saja berhenti tepat di samping sebuah pilar tinggi bertuliskan 9 ¾ terdengar menyapukan keheningan sesaat itu.

"Aku akan terus hidup hingga misiku selesai. Dan bagaimanapun juga, aku harus menjamin akan hal itu. Jadi, tak perlu khawatir, ok?"

Sakura agak menimbang-nimbang jawaban Kakashi, "kau yakin?"

"Seratus persen. Yah, kalaupun tiba-tiba aku harus― erm, mati, aku menganggap diriku sebagai penyihir yang gagal, apalagi kalau harus mati demi mengantar anak perempuan berusia sebelas tahun ke Konoha Wizard Academy. Aku bisa malu kalau begitu. Dan― ah!"

Di antara kerumunan penyihir itu, terdengar sebuah suara nyaring dan khas yang membuat Kakashi sedikit terlonjak kaget. Masih dengan senyum ramah yang selalu terpatri di wajahnya, ia menyapa sosok itu dari kejauhan. Suara melengking itu semakin lama semakin terdengar dan membuat Sakura ikut terkaget juga. Sakura memutar badannya dan memandang seorang penyihir berpakaian layaknya bukan seorang penyihir pada umumnya telah berdiri tepat di hadapan mereka. Sakura bisa mengenali sosok penyihir itu dari senbon di mulutnya.

"HEY KAKASHI! Tidak biasanya kau meminta bantuanku. Sekarang, ada apa?"

Pria yang suka menggerak-gerakkan senbon di mulutnya itu terkekeh ke arah Sakura dan Kakashi. Sakura terus saja menatap senbon yang bergerak-gerak itu dan cukup membuatnya ingin― muntah, "kenapa dia bisa tahan dengan sesuatu-yang-bergerak-gerak itu sih. Iyakk..."

Mata pria penyihir itu merasa terganggu dengan adanya sosok anak perempuan yang tak lain dan tak bukan adalah Sakura. Ia beralih menatap ke arah Sakura dan mengeluarkan cengirannya, "oho... si anak itu. Ini hari pertamamu ke sekolah kan? Hm, hm, hm. Hei Kakashi, kau tidak merencanakan sama seperti dengan apa yang tiba-tiba saja terlintas di kepalaku, kan?" tanyanya dengan pandangan waspada ke arah Kakashi. Kakashi hanya tersenyum.

"Memangnya, apa yang tiba-tiba saja terlintas di kepalamu, Genma?"

Kekehan yang keluar dari balik cengiran lebar Genma menghilang saat Kakashi sepertinya sudah mengetahui apa yang tengah dipikirkan partner kerjanya itu. Genma jadi salah tingkah dan beberapa saat kemudian, ia mengeluarkan wajah bosannya. "Kau pasti sudah tahu hal yang kupikirkan itu kan, Kakashi? Well, nampaknya aku harus menggantikan tugasmu ya? Jadi babysitter, huh?" ujar Genma dengan tatapan sedikit mengejek ke arah Sakura, yang kemudian dibalas dengan jurus tatapan sengit milik Sakura.

"Jouzo-san harus mengurus murid-murid baru di stasiun Konoha Wizard Academy. Makanya, aku hanya bisa mengandalkanmu, Genma. Lagipula, aku kurang percaya dengan mantan partner-mu itu." kilah Kakashi masih mengeluarkan senyum ramahnya. Tapi, Sakura sangat mengerti mengapa Kakashi mengatakan kurang percaya pada mantan partner-nya Genma. Sebab, si mantan partner itu tak lain dan tak bukan adalah nona Mintarashi Anko.

"Oh yeah, aku mengerti maksudmu. Si pencari berita itu kan? Ya, ya, ya. Sudah kubilang, dia itu wanita yang suka bergosip dan sangat suka mencari-cari berita hingga ke ujung dunia. Anehnya, bahkan berita putusnya ekor tikus milik Homura-sama yang sangat-sangat-tidak-penting-sekali itu bisa diketahuinya. Memangnya dia seperti Golden Retriever ya? Mengendus-endus berita dengan hidungnya itu, he he he." kekeh Genma―yang menurut Sakura sangat tidak lucu.

Dan sepersekian detik kemudian, Genma menertawai perkataannya sendiri hingga ia harus memegangi perutnya, menahan rasa ingin terus tertawa.

"Dia itu― aneh." bisik Sakura ke arah Kakashi, memperlihatkan wajah bosannya. Kakashi hanya bisa tersenyum.

"Tidak sepenuhnya." jawab Kakashi seraya mengacak-acak ubun-ubun kepala Sakura yang dipenuhi rambut pink bubblegum itu. Sakura pun mengelak. "Kau ini lucu sekali, Sakura." ungkapnya masih berusaha mengacak-acak rambut Sakura yang terurai sepanjang pinggangnya itu.

Sakura lalu menarik jauh-jauh lengan Kakashi dari kepalanya dan mengeluarkan pose bertolak pinggang ke arahnya, "aku-tidak-lucu. Kata lucu hanya untuk anak sembilan tahun, Ka-ka-shi-san. Lagipula, kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi."

"Oh. Soal ke mana aku akan pergi ya? Terima kasih sudah mengingatkan. Sepertinya kereta tujuan Konoha Wizard Academy akan bersiap-siap pergi dalam beberapa menit. Sebaiknya aku juga pergi. Dan, oh ya Genma―hey Genma, berhentilah tertawa seperti itu."

Decak tawa yang keluar dari mulut Genma itu kemudian berakhir kala Kakashi menepuk sebelah pundak miliknya. Genma pun tersadar dan kembali pada kenyataan, "apa?" tanyanya seraya menyapukan butir air mata yang nyaris keluar dari ujung ekor matanya. Kakashi pun menghela nafas panjang.

"Lakukan tugasmu, sekarang. Aku harus pergi. Dan kau harus memastikan nona Haruno benar-benar telah duduk di dalam kompartemen-nya tanpa masalah. Kau ingat itu?"

Genma mengangguk perlahan sebelum kembali menatap Sakura yang tengah mencangklengkan tas sampingnya, "hanya mengawasi hingga ia masuk ke dalam kompartemen-nya, kan?" tanyanya, yang dijawab dengan anggukan oleh Kakashi.

"Plus, memastikan dia baik-baik saja hingga ia duduk di kursinya."

"Iya, iya." jawab Genma dengan nada tidak sabar. "Baiklah, kalau begitu." lanjutnya sembari mengeratkan ikatan kain berwarna merah bercorak polkadot hitam yang terikat menutupi bagian atas kepalanya. "Nah, ayo ikut aku, Ms. Haruno-san."

Sakura menggerak-gerakkan bola matanya, mengalihkan pandangan dari arah Kakashi kemudian Genma, terus saja seperti itu hingga akhirnya Genma menarik ujung lengan jubah hitam Sakura, "kita harus mengejar kereta kalau terlambat." ujarnya, masih dengan gaya menggerak-gerakkan senbon di mulutnya.

"Kau belum menjawab pertanyaanku sama sekali, Kakashi-san." tuntut Sakura sebelum akhirnya ia ditarik oleh Genma.

"Kau akan tahu nanti, Sakura."

Sakura menaikkan alisnya dan bertanya dari kejauhan, "aku tidak mengerti!"

Mau tidak mau, Sakura pun harus meninggalkan Kakashi yang masih berdiri diam di tempatnya semula. Suara panggilan dari arah dalam stasiun membuat Genma semakin mempercepat langkahnya sehingga Sakura pun harus menyesuaikan langkahnya yang pelan. Ia masih mengedarkan pandangannya ke arah Kakashi yang semakin lama semakin menjauh. Kakashi pun hanya melambaikan tangannya dari arah jauh. Semakin lama, sosok Kakashi tidak terlihat lagi. Kumpulan pada murid yang berjubel-jubel memenuhi peron 9 ¾ menjadi alasan sosok Kakashi menghilang begitu saja.

"Kau akan tahu nanti―

"―Hahh, semoga dia baik-baik saja. Kurasa aku harus pergi sekarang."

Asap putih terlihat mengelilingi tubuh Kakashi dan secepat kilat, ia menghilang bak ditelan oleh asap itu. Ia ber-dissaparate ke suatu tempat yang mungkin agak jauh dari Konoha Train Satation tapi cukup untuk membuat tubuhnya terhuyung-huyung akibat teleportasi yang terasa seperti menyedot bagian tubuhmu dalam sebuah botol berleher sempit.

Suasana di sekitar stasiun kereta terbesar di komunitas sihir itu semakin lama semakin ribut. Kepulan asap hitam dan keabuan memenuhi udara di peron 9 ¾. Cukup aneh untuk disebut sebagai angka dalam peron stasiun. Pada umumnya, setiap peron kereta akan dimulai dari bilangan bulat. Tapi, tidak akan sama dengan yang ada di komunitas sihir seperti itu.

Sakura pun harus berusaha mengejar langkahnya agar ia tidak terlindas oleh orang-orang yang tubuhnya jauh lebih tinggi darinya. Sedangkan Genma rupanya tidak terlalu banyak memberikan bantuan untuk Sakura tapi cukup dengan meringankan berat beban koper-koper yang dibawanya. Tapi, dengan mantara locomotor, koper-koper itu akan bergerak sendiri menuju gerbong penyimpanan bagasi.

Kumpulan siswa-siswi berjubah hitam semakin membuat Sakura tidak bisa melangkah. Ia lalu berusaha untuk melambaikan tangannya ke arah Genma yang jaraknya telah jauh darinya tapi alas, tidak cukup berhasil. Sakura pun merasa kakinya diinjak-injak oleh orang-orang di sekitarnya. Ia meringis kesakitan dan memaki kecil, "dia itu. Apanya yang menjaga dengan baik? Dasar..."

Bunyi letupan asap dari gerbong masinis terdengar begitu nyaring, membuat para siswa Konoha Wizard Academy yang akan memasukinya semakin berbondong-bondong mendekati pintu masuk. Mereka mungkin berharap mendapatkan tempat dengan sudut pandang yang bagus. Rute perjalanan yang akan dilewati menuju Konoha Wizard Academy ialah rangkaian pegunungan tinggi berwarna hijau yang sangat indah. Dan para murid itu tentunya berharap mendapatkan gerbong paling depan.

Suara seorang kondektur kereta batu bara tujuan Konoha Wizard Academy itu sedikit meringankan beban Sakura yang tampak tak bisa menggerakkan sedikitpun badannya. Ia rupanya tersangkut diantara murid tingkat lima yang bertubuh tinggi besar dan itu sangat menyesakkan baginya. Kondektur itu memiliki tubuh pendek dengan hidung dan telinga yang panjang, seperti kurcaci yang pernah Sakura lihat ketika berjalan-jalan bersama Anko di kota Ten no Michi. Suara melengking dari kondektur itu membuat gerakan-gerakan cepat para murid sedikit demi sedikit berhenti dan mereka mulai memperhatikan kata-kata yang dilontarkan si kondektur.

"Ehem! Namaku Choujuro. Senang sekali bisa mengantar calon atau para siswa-siswi Konoha Wizard Academy di kesempatan ini. Hari ini aku berkesempatan untuk membantu masinis kita mengantar kalian semua hingga kalian tiba dengan selamat di Konoha Wizard Academy. Well, sebagai informasi penting, gerbong paling depan akan diisi oleh siswa-siswi tingkat tujuh dan secara berurutan akan diisi oleh siswa tingkat enam, lima, empat, dan seterusnya. Dan kuharap, untuk para calon murid Konoha Wizard Academy, berhati-hati saat meletakkan koper yang tak dimasukkan ke dalam gerbong bagasi. Sekian dan selamat menikmati perjalanan kalian!"

Pria pendek berhidung panjang itu kembali masuk ke dalam gerbong masinis dan menarik tuas yang membuat asap keabuan keluar dari cerobongnya. Tak lama kemudian, suara-suara ribut dan gerakan-gerakan cepat kembali membuat Sakura tidak bisa bergerak.

"Ti-ti-dak bisa ber-ge-rak..."

Murid-murid tingkat lima yang membuat Sakura tidak bisa bergerak akhirnya menjauh dan meninggalkan Sakura yang terengah-engah mencari nafas. Sakura pun terjatuh dan lututnya menjadi lemas. Bulir-bulir keringat terasa jatuh di sekitar pelipis Sakura. Sepertinya ia bisa melihat sosok Genma dari kejauhan tapi saat ingin sekali berteriak, suaranya seperti tercekat di tenggorokannya. Mungkin karena efek kekurangan oksigen dalam waktu lama, mata Sakura seperti berkunang-kunang.

Gerbong-gerbong hitam dan bayangan jubah hitam yang terlihat tepat di depan pandangan Sakura semakin membuat penglihatannya mengabur. Ia lalu menjatuhkan kandang kecil yang berisi kucing berbulu merah muda pemberian Kakashi beberapa waktu yang lalu. Semakin lama, segalanya semakin mengabur hingga akhirnya―


Sasuke baru saja memasukkan kopernya di atas bagasi kecil yang disediakan oleh kereta batu bara tujuan Konoha Wizard Academy di kompartemen-nya. Sebagai calon murid baru, cukup banyak juga barang yang dibawanya apalagi saat ibunya mendengar ucapan langsung putra bungsunya yang mengatakan ia akhirnya bersedia mengenyam pendidikan di sekolah sihir terbaik di seluruh komunitas sihir di dunia. Begitu banyak barang bawaan yang dimasukkan ibunya ke dalam koper-kopernya itu hingga ia memutuskan untuk memasukkan semuanya ke dalam gerbong bagasi, kecuali satu koper yang berisi buku-buku sihir kesukaannya.

Baru saja ia akan duduk di salah satu kursi empuk di dekat jendela kompartemen saat suara nyaring khas milik sobat karibnya terdengar memenuhi koridor gerbong milik siswa-siswi tingkat satu Konoha Wizard Academy. Suara seorang Uzumaki Naruto membuat Sasuke sedikit terkejut apalagi secara tiba-tiba, Naruto menggeser pintu berkaca kompartemen Sasuke sambil mengeluarkan cengiran lebarnya.

"HAI SASUKE!" serunya―sedikit membuat Sasuke terlonjak kaget tapi berusaha ditutupinya dengan cepat.

"Ya, hai juga. Bisakah kau diam dan duduk dengan tenang? Kau membuat gerbongnya bergetar dengan suaramu itu." jawabnya dengan nada datar. "Kau terlihat sangat senang."

Suara kikikan dari arah koridor gerbong lokomotif membuat Naruto ikut terkekeh juga. Sasuke yang sedikit kesal akhirnya berdiri dan menutup pintu kompartemen-nya yang tidak sempat Naruto tutup. Naruto terus saja terkekeh hingga akhirnya luapan tawa itu terbebas saat sebuah jeritan keras dari arah koridor terdengar menggema hingga ke ujung gerbong.

Melihat wajah Naruto yang memerah akibat terus saja tertawa, Sasuke pun mengambil buku tebal yang ingin dibacanya dan dilemparnya tepat ke arah wajah Naruto. Naruto pun meringis dan berhenti terkekeh, "sakit, tauk!" keluhnya sambil memegangi hidungnya.

"Sepertinya aku melewati satu hal asyik di sini, hah? Apa yang kau lakukan kali ini, Naruto? Memasukkan serangga air ke dalam jubah seseorang? Atau meniup permen karet anti selip hingga mengenai wajah seseorang." tanya Sasuke sembari mengambil kembali buku yang dilemparnya dan mulai membuka lembarannya perlahan. Naruto pun mendudukkan dirinya tepat di hadapan Sasuke dan menjatuhkan tasnya yang entah berisi apa.

Meskipun masih mengeluh akan hidungnya yang tepat terkena hantaman buku tebal milik Sasuke, terlihat jelas Naruto masih ingin tertawa. Terlebih lagi, suara jeritan itu semakin lama semakin terdengar keras.

"Well, aku hanya tak sengaja memakan permen coklat Boddley edisi terbaru dan tiba-tiba saja permen coklat itu seperti berubah bentuk dalam mulutku. Saat kubuka mulutku ternyata keluar kodok hijau besar. Dan buzz... kodok itu melompat ke arah kompartemen seorang anak laki-laki gendut yang terus saja mengunyah. Kemudian, ahahaha... tak kusangka, kodok itu membuat takut anak-anak yang duduk di dalam kompartemen-nya hingga terjadilah keributan itu." ungkap Naruto dengan nada enteng sembari meletakkan lengannya ke belakang kepalanya, menjadikannya sebagai bantal. Ia lanjut terkekeh lagi. "kau melewati bagian saat bocah gendut itu nyaris menelan kodok hijau itu dalam mulutnya. Soalnya, dia hanya bisa melongo saat si kodok melompat ke pangkuannya. Hahahaha..."

Sasuke hanya menghela nafas panjang saat mendengar tawa lebar sahabatnya itu. "Terdengar lucu tapi bukannya kau sudah janji sama ibumu untuk tidak berbuat nakal lagi, hm?"

Naruto mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke―sedikit tersindir dengan bagian itu, "aku kan tidak sengaja memakannya, jadi itu bukan salahku. Aku juga tidak tahu kalau permen coklat itu akan berubah menjadi kodok hijau. Tapi... hihihi... yang tadi itu benar-benar lucu. Hmm, tertawa membuatku jadi kekurangan gula. Untung saja ada persiapan! Yosh... ITADAKIMASU!" seru Naruto seraya membuka tas ranselnya yang semuanya berisi permen coklat dan manisan-manisan lainnya. "Kau mau?" tawarnya ke arah Sasuke. Sasuke kemudian mengalihkan pandangannya dari arah barisan kalimat di dalam bukunya ke arah barisan permen coklat yang disodorkan oleh Naruto padanya.

"Aku sudah kelebihan gula, Naruto. Dan―aku tidak suka sesuatu yang terlalu manis."

Naruto yang sudah mencomot habis kembang gula coklatnya―membuat mulutnya jadi belepotan coklat―hanya bisa memanyunkan bibirnya. Dia lupa kalau sahabatnya ini tidak terlalu suka manisan atau yang berkaitan dengan kelebihan gula dari kadar yang sesungguhnya.

"Kau takut gendut ya, Sasuke?" sindir Naruto dengan kekehan kecil. "Hei, kau tahu. Kita ini masih anak-anak dan kita butuh banyak gula!"

Sasuke memutar bola matanya dan kembali menikmati bacaannya. "Aku punya rencana yang lebih besar, Naruto."

Mendengar kata rencana, Naruto sedikit tertarik. Ia lalu berhenti memasukkan bola-bola coklat meledak ke dalam mulutnya, "rencana? Rencana apa?"

Dengan hentakan pelan, Sasuke meletakkan buku tebal dengan sampul yang bergerak-gerak di pangkuannya. Mata onyx-nya terlihat berusaha memastikan tak ada siapapun yang mendengar pembicaraan mereka sebelum akhrinya menatap tajam ke arah Naruto. "Kita akan membuat sebuah peta."

"Peta? Maksudmu, peta sungguhan? Peta yang berisi gambar dan nama jalan? Peta yang berisi warna-warna dan peta yang―"

"Iya, baka. Peta."

"Peta apa?" tanya Naruto dengan tatapan ingin tahu seraya mengunyah perlahan bola-bola coklat meledak yang nyaris meledak di tangannya.

"Peta akan denah seluruh lorong dan ruangan Konoha Wizard Academy." jawab Sasuke dengan nada pelan. "Aku berencana menggunakan itu sebagai referensi bagi kita bila suatu saat nanti kita merasa jenuh dengan sekolah dan kita bisa kabur tanpa ada yang mengetahui."

Meskipun terdengar tak meyakinkan, Naruto pun membulatkan matanya sebelum menelan semua coklat yang dikunyahnya. "Kau yakin kita bisa membuat peta macam begitu? Bagaimana caranya?"

"Aku belajar dari buku, baka. Dan buku ini adalah salah satunya." Sasuke memperlihatkan cover buku tebal yang dibacanya tadi tepat di depan wajah Naruto. Naruto sedikit mengernyitkan dahinya dan mulai mengeja seluruh huruf yang tertulis di buku itu.

"How to make your own magic. Written by―umm, To-To-To―"

"Tobirama Senjuu. Salah satu pendiri Konoha Wizard Academy." potong Sasuke, membuat Naruto semakin melebarkan bola matanya yang dihiasi iris mata berwarna biru langit yang cerah. "Aku mendapatkannya di salah satu perpustakaan tua di mansion milik keluargaku. Sangat berguna kupikir. Jadi... apa kau mau membantuku membuat peta itu, Naruto?"

Dengan wajah yang menimbang-nimbang, Naruto tampak berpikir lama. Kedua alisnya berkedut dan tampak jelas ia sedang berusaha memutuskan hingga akhirnya ia berteriak lagi.

"OK! Aku akan membantumu! Asalkan itu untuk kepentingan bersama, he he."

"Baguslah kalau begitu." jawab Sasuke.

"Tapi... kenapa kereta ini lama sekali jalan sih? Huhh, bisa-bisa aku mati kebosanan di dalam sini. Mana harus duduk berjam-jam lagi. Hahh..."

Sasuke kembali membaca buku yang berisi sihir praktis untuk membuat sihirmu sendiri dan menekuninya. Melihat pembawaan Naruto yang tidak sabaran, mungkin benar ia akan mati kebosanan di dalam kompartemen dan akan terus begitu hingga berjam-jam kemudian. Jika saja Naruto punya hal lain yang bisa menahannya dari rasa kebosanan seperti buku yang akan membawa rencana besar Sasuke di Konoha Wizard Academy terwujud, ia takkan menjadi segelisah itu.

"Hei, Sasuke." Tiba-tiba Naruto mengeluarkan suaranya, membuat Sasuke menaikkan bola matanya dan menatap Naruto dari atas bukunya.

"Hn."

"Mm, kenapa kau tiba-tiba membuat rencana aneh seperti itu? Sebenarnya, apa yang kau pikirkan?" tanya Naruto seraya menyandarkan kepalanya di sisi tembok berornamen dekat kaca jendela kompartemen-nya dan meluruskan kakinya hingga ia memperlihatkan pose ingin tidur.

Untuk beberapa saat, Sasuke tidak menjawab pertanyaan Naruto hingga suara peluit tanda kereta akan segera berjalan membuatnya mengalihkan pandangannya sebentar ke arah jendela. "Entahlah. Mungkin bisa digunakan untuk mengungkap rahasia besar yang tersembunyi di balik tembok-tembok misterius di sekolah itu. Lagipula―"

Mata onyx Sasuke beredar dan menangkap sebuah pemandangan yang sepertinya pernah ia alami sebelumnya. Dari balik jendela kompartemen-nya, ia seperti melihat sesosok anak perempuan berambut merah muda tampak ditolong oleh seorang anak laki-laki yang mungkin seusianya. Ia terus memandangi kedua sosok itu sehingga membuat ia mengernyitkan dahinya. Ia merasa pernah melihat kejadian itu sebelumnya, bahkan pernah mengalaminya. Pandangannya terhadap kedua sosok itu semakin lama semakin menghilang saat kedua sosok itu berjalan bersama menuju ke arah pintu masuk gerbong. Rupanya, kereta terlambat bergerak karena kedua anak itu. Pasti karena mereka―

"Sasuke? Sasuke? OI SASUKE!"

Tiba-tiba saja Sasuke seperti merasa ada yang berteriak kencang ke arahnya. Ia pun memutar kepalanya dan menatap wajah beringas Naruto, "dasar berisik."

"Kau ini aneh sekali, tauk. Tiba-tiba saja melongo dan melamun begitu. Memangnya ada apa di luar sana? Tidak ada apa-apa kok. Hmm― hey, keretanya bergerak! Akhirnya..."

Suara roda-roda lokomotif kereta batu bara berwarna hitam itu terdengar memenuhi tiap koridor gerbong dan membuat anak-anak tingkat satu berteriak kegirangan. Mereka semua terdengar seperti tak sabar lagi melihat keindahan yang akan mereka lewati dan lebih hebat lagi setelah sampai di stasiun Konoha Wizard Academy yang katanya begitu megah. Naruto pun adalah salah satu anak yang sangat senang akan hal itu. Ia terus saja berceloteh di depan Sasuke akan kehebatan-kehebatan yang didengarnya oleh ibunya tentang sekolah sihir termasyur itu. Namun, Sasuke hanya bisa menatap dengan kosong. Pikirannya entah kenapa secara tiba-tiba beralih ke sebuah memori aneh saat menangkap sosok dua anak di peron tadi.

de javu?


Sakura bisa mendengar suara derap langkah di sekitarnya. Lama-kelamaan, suara derap langkah itu semakin terdengar jelas di telinganya. Saat ia berusaha membuka matanya, perlahan ia melihat sosok jubah hitam yang hampir sama dengan jubah hitam yang dikenakannya. Sosok itu tampak mengulurkan lengannya dan menggunakannya sebagai bantal bagi kepala Sakura. Tak lama kemudian, penglihatan yang mengabur itu pun ikut menjadi jelas dan semakin jelas.

"Kau sudah sadar?"

Untuk beberapa saat, Sakura mengedipkan matanya perlahan dan berusaha untuk bangkit. Ia pun meringis kesakitan dan refleks memegangi belakang kepalanya yang sakit. Ia masih merasa lututnya agak lemas. "Dare?" tanyanya ke arah sosok yang sudah menolongnya.

"Tenggelam di antara sekumpulan penyihir tingkat lima memang tidak menyenangkan ya?"

Meskipun masih sedikit sakit, Sakura berusaha berdiri dari posisinya. Namun, mengingat lututnya yang sedikit lecet akibat terjatuh di antara kerumunan siswa Konoha Wizard Academy yang berbadan besan dan tinggi, ia jadi terhuyung dan nyaris terjatuh untuk kedua kalinya. Dengan cepat, Sakura seperti bisa merasakan adanya dua lengan besar mengelilingi perutnya dan membuatnya tidak terjatuh. Saat sadar memang benar-benar ada dua lengan besar mengitari perutnya, dengan sigap, Sakura berdiri tegap meskipun harus menggigiti bawah bibirnya untuk menahan sakit di lututnya.

Entah kenapa, muncul sesuatu yang hangat di kedua pipi Sakura. Saat berbalik menghadap pemilik kedua lengan itu, Sakura langsung membungkukkan badannya dalam-dalam. "Ar-Arigato Gozaimasu! Te-terima kasih sudah membantu!"

Sosok yang sudah membantu Sakura hingga ia akhirnya tersadar itu sedikit terkejut dengan tindakan tiba-tiba Sakura. Namun, ia hanya bisa tersenyum ramah ke arah Sakura.

"Dou Itashimashite―" jawabnya dengan lembut.

"―lututmu lecet. Aku bawa saputangan, mungkin bisa menutupi lukanya sedikit. Oh ya, itu kucingmu ya? Lucu sekali. Dia terus saja mengeong dan menjilati lukamu supaya kau bangun."

"Ah! Ichigo!" teriak Sakura ke arah kucingnya yang berbulu merah muda itu dan langsung menggapainya dan memeluknya, kontan membuat rasa nyeri di lututnya semakin menjadi. "Aduh!"

Sosok yang telah membantu Sakura itu kemudian mengambil selembar sapu tangan putih yang sedikit bernoda dari arah saku jubahnya. Ia kemudian berlutut tepat di hadapan Sakura dan mulai mengikatkan sapu tangannya itu di daerah sekitar luka Sakura. Sakura yang sedikit terkejut semakin membulatkan matanya saat ia menatap warna rambut sosok itu. Ia merasa pernah melihat sosok itu sebelumnya tapi entah di mana.

"Ma-maaf, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Sakura dengan hati-hati.

Tiba-tiba saja, sosok anak laki-laki yang menolong Sakura itu berhenti sebentar sebelum kembali mengikat dengan erat sapu tangannya di lutut kanan Sakura. Tak lama, ia akhirnya berdiri tegap dan mengeluarkan senyum ramahnya sekali lagi―membuat pipi Sakura memerah.

"Apakah itu adalah ungkapan pertama yang diucapkan oleh seseorang setelah ia telah ditolong oleh orang lain?"

"Eh?"

Sakura sedikit mengeluarkan wajah bingungnya saat mendengar perkataan sosok anak laki-laki itu. Ia merasa bodoh sekali. Tidak semestinya ia bertanya hal itu pada orang yang telah menolongnya. Hal yang dilontarkannya tentu saja tidak sopan.

"Eh, erm― well, aku merasa―"

"Mungkin pernah. Kurasa, kita berdua adalah dua anak terakhir yang terlambat. Kita harus segera masuk ke dalam kereta kalau tidak mau dimarahi oleh tuan masinis." potong anak laki-laki itu.

Melihat wajah anak laki-laki yang sepertinya pernah ia lihat, Sakura semakin penasaran. Sambil terus memeluk Ichigo―kucingnya―ia akhirnya berjalan perlahan menuju pintu masuk gerbong murid tingkat satu. Dari kejauhan, tiba-tiba saja muncul Genma yang berlari mendekati Sakura yang tengah berjalan tertatih-tatih.

"Ms. Haruno! Oh Merlin! Untunglah kau baik-baik saja!"

"Yeah, aku baik. Ke mana saja kau saat aku tenggelam di antara kerumunan siswa-siswi berbadan besar itu?" umpat Sakura dengan wajah kesal. Anak laki-laki yang berjalan di depannya pun ikut berhenti.

Genma mengeluarkan wajah bersalahnya dan berusaha meminta maaf, "maafkan aku. Aku tidak melihatmu. Kupikir kau sudah masuk ke dalam kereta soalnya aku tadi melihat anak perempuan berambur merah yang mirip denganmu telah duduk di dalam kompartemen."

"Hahh... ya sudah. Aku juga sudah baik. Anak itu yang membantuku." ujar Sakura dengan nada lelah, meskipun pada kenyataannya rona merah di wajahnya belum menghilang.

Genma memutar kepalanya, memandang dalam-dalam ke arah anak laki-laki yang Sakura maksud. Anak itu pun hanya tersenyum, "dia― baik, kurasa." komen Genma. "Karena kereta akan berjalan sebentar lagi, kurasa kau harus segera naik ke atas. Aku akan pergi dari peron ini kalau aku sudah melihatmu duduk di salah satu kompartemen, oke?"

"Baiklah."

Dengan langkah pelan, Genma lalu berjalan lebih duluan dan berada di depan Sakura. Sesampainya ia di samping anak laki-laki itu, dengan cepat ia menepuk bahunya, "tolong jaga dia."

Anak laki-laki itu sedikit membulatkan matanya namun dengan cepat kembali normal saat Sakura telah sampai tepat di depan pintu masuk kereta. Ia sedikit menghela nafas pendek dan mata onyx-nya kembali berubah kosong, "aku tahu itu."

Saat berikutnya, baik Sakura maupun anak laki-laki itu telah berada dalam koridor gerbong murid tingkat satu. Mulai dari ujung pintu masuk hingga pertengahan gerbong, nyaris semua bahkan semua kursi dalam kompartemen telah terisi oleh siswa-siswi tingkat satu. Sakura pun merasa bersalah karena telah membiarkan anak laki-laki yang secara sukarela membantunya bangun tidak mendapatkan tempat.

Mereka terus berjalan menelusuri koridor panjang itu hingga mata jeli Sakura mendapatkan sebuah ruang kosong di sebuah kompartemen. Ia pun tersenyum riang dan memutar kepalanya menatap ke arah anak laki-laki yang sedari tadi ikut bersamanya mencari kursi yang masih kosong. Tak menunggu waktu yang lama, Sakura lalu mengetuk pintu kompartemen yang masih memberi ruang kosong itu.

"Permisi, bisakah kami duduk di situ?" tanya Sakura dengan sopan.

Seorang anak perempuan bercepol dua yang tampak serius membaca harian Daily Triumph tiba-tiba menoleh dan menatap ramah ke arah Sakura. Ia pun tersenyum dan sedikit menggeserkan badannya ke ujung pintu kompartemen, memberi ruang sedikit bagi Sakura. Sakura pun dengan senang meletakkan koper kecilnya di atas bagasi dan akan segera duduk.

"Mm, bisakah kalian memberikan ruang untuk temanku?" tanya Sakura ke arah anak laki-laki yang sedang menulis entah-apa-itu di balik perkamennya, tepat di hadapan gadis bercepol tadi. Karena tidak digubris, gadis bercepol itu kemudian menarik perkamen anak laki-laki berambut bob itu itu agar ia memperhatikan Sakura yang berusaha meminta ruang untuk duduk.

"Hei, Ten-Ten! Kau kenapa sih?! Aku sedang menulis daftar nama orang yang sudah kukenal hari ini!" umpat anak laki-laki berambut mengkilap itu. Terlihat ada anak laki-laki berambut nanas yang terlihat mengantuk di sebelahnya menguap lebar.

"Beri dia ruang. Temannya mau duduk." kilah gadis bercepol yang bernama Ten-Ten itu.

"Tapi, ini tempat untuk Shino-kun. Dia sedang di toilet sekarang." jawabnya tak mau kalah, "kembalikan perkamenku!"

Gadis bercepol itu pun menyerahkan perkamen milik anak laki-laki berambut bob itu. Ia kemudian menatap sedih ke arah Sakura. "Maaf, sudah ada yang menempati. Tapi, untuk kau masih ada tempat kok."

"Demo..."

"Tidak apa-apa. Aku akan cari kompartemen lain. Tidak mungkin kursinya tidak cukup untuk semua murid kan?" ujar anak laki-laki yang telah menolong Sakura.

"Tapi..." Sakura merasa benar-benar tidak enak kali ini. Ia sudah ditolong dua kali oleh anak itu. Tak lama, Sakura akhirnya mendudukkan dirinya di sebelah gadis bercepol bernama Ten-Ten. Di sebelahnya ada seorang anak perempuan lain yang tengah tertidur pulas sambil memeluk hamster besar berbulu kecoklatan.

Anak laki-laki itu akhirnya berjalan meninggalkan kompartemen yang ditempati oleh Sakura. Namun, Sakura sepertinya belum mengetahui nama anak laki-laki yang baik hati itu. Sepersekian detik kemudian, ia lalu berdiri dan menggeser pintu berkaca kompartemen-nya dan berteriak dari arah belakang anak laki-laki berambut kehitaman itu.

"Maaf! Aku belum tahu namamu. Namaku Haruno Sakura! Kalau kau?"

Kontan, anak laki-laki itu berhenti dan sedikit memalingkan kepalanya. "Sai. Torazu Sai."

"Sai..." ulang Sakura dalam hatinya. Ia pun tersenyum riang ke arah Sai seraya melambaikan tangannya dari kejauhan. "Sai-kun! Nanti kita bertemu lagi ya!"

Meskipun sedikit terkejut, Sai berusaha tersenyum kecil. Perkataan Kakashi padanya waktu itu mungkin benar adanya.

"―dia itu anak yang baik. Berteman dengannya ya."

Sai memutar kembali kepalanya dan berjalan menelusuri koridor panjang itu. Dalam hatinya ia terus berharap mungkin saja benar-benar ada seseorang di luar sana yang mau berteman dengannya meskipun dengan dirinya yang seperti itu―


"Hei Sasuke."

"Hn."

"Aku punya lelucon lucu."

"Hn. Apapun itu tidak akan membuatku tertawa, baka."

Naruto melipat kedua tangannya dan memperlihatkan wajah geramnya, "kau tak asyik. HAHH... seandainya saja ada orang yang mau menghargai lelucon lucuku. Hmm..."

TOK TOK TOK

Sebuah ketukan pelan terdengar dari arah pintu berkaca kompartemen yang ditempati oleh Sasuke dan Naruto, hanya mereka berdua. Para murid lain sepertinya tidak mau atau bahkan malah tidak akan pernah mau masuk satu kompartemen dengan kedua anggota The Marauders itu. Mungkin ada aura aneh yang mengitari kedua orang ini dan bisa saja membuatmu ingin menghabiskan waktu berminggu-minggu di dalam toilet.

Naruto lalu menolehkan kepalanya dan segera membuka pintu kompartemen-nya agar orang yang mengetuk bisa masuk.

"Permisi, bisakah aku duduk di sini. Tampaknya masih ada kursi yang kosong di kompartemen ini."

Dengan menampilkan cengiran lebarnya, Naruto pun segera membereskan sampah kembang gulanya yang berserakan di mana-mana. Sasuke sedikit menaikkan bola matanya dari arah atas buku yang masih saja dibacanya. Tatapannya sedikit tajam dan dahinya mengkerut tipis.

"Oh yeah. Tentu saja, buddy. Kau bisa duduk di sini. Maaf sedikit kotor, kurasa, hehehe." kekeh Naruto.

Anak laki-laki berambut hitam kelam itu lalu meletakkan koper kayunya di atas bagasi gerbong dan mengedarkan pandangannya ke seluruh kompartemen itu sebelum duduk di sebelah Naruto. Naruto terus saja menatap anak laki-laki itu dengan wajah cerianya. Ia akhirnya memutuskan untuk menyodorkan tangannya.

"Namaku Uzumaki Naruto. Panggil aku Naruto. Kalau kau?"

Anak laki-laki itu menoleh dan sedikit mengeluarkan senyumnya ke arah Naruto. Ia lalu membalas sodoran tangan Naruto, "aku Torazu Sai. Senang berkenalan denganmu, Naruto."

"He he, aku juga. Dan orang aneh yang duduk di depanku ini namanya Sasuke, Uchiha Sasuke lengkapnya. Kau tahu tidak, dia itu orang yang sangat tidak asyik. Dia tidak pernah tertawa kalau aku menceritakan lelucon tentang ayam hitam yang tersesat di gunung. Huh."

Merasa kesal, Sasuke menghentakkan buku yang dibacanya di pangkuannya dan menatap sengit ke arah Naruto, "mana mungkin aku bisa tertawa kalau melihat wajah anehmu saat menceritakan bagian si ayam hitam terjepit bebatuan gunung. Wajahmu mirip kepiting rebus, kau tahu." kilah Sasuke. Ia mengalihkan pandangannya ke arah anak laki-laki bernama Sai. Mata onyx-nya seakan berusaha mencoba membaca apa yang tengah dipikirkan oleh Sai. Tak hanya itu, aura aneh terasa melingkupi diri Sai. "Dia itu... jangan-jangan..."

"Hai, Sasuke. Kuharap kita bisa berteman." ujar Sai dengan ramah.

"Ya."

Sasuke sangat heran dengan Naruto. Bisa-bisanya ia tidak merasakan aura aneh yang terasa mengelilingi Sai. Naruto juga penyihir berdarah murni sama seperti dirinya tapi ia tidak menyadari hal itu. Sasuke menatap agak lama ke arah Sai sebelum akhirnya kembali menekuni bacaannya.

"Kurasa dia itu memang―"

To be Continued—


A/N :

Untuk waktu yang sangat lama, saya tidak menulis fanfic apapun. Ah iya, mungkin karena kesibukan mempersiapkan SNMPTN 2009. Tapi, yang sudah berlalu, berlalulah. ^_^

Yaiyy! Akhirnya Sakura ketemu ama Sai. Dan Sai juga udah ketemu ama Sasuke dan Naruto. Fiuhh... capek juga nulisnya. Di chapter ini Sasuke sedikit tahu kalau Sai itu adalah vampire, soalnya menurut versi saya, penyihir berdarah murni bisa tahu tipe makhluk seperti apa orang yang ditemuinya melalui auranya.

Great Thanks to:

Kumiko a.k.a Panda, uchibi nara, MzProngs, Furukara Ruki, hiryuka nishimori.

Arigatou gozaimashita.