Broken Arrow
2017 © tryss
.
Park Woojin X Ahn Hyungseob
JINSEOB
.
Demigod!AU\T\contain lots of typo(s)
WARN!
SEGALA HAL YANG ANDA TEMUI DIDALAM FF INI ADALAH KHAYALAN BELAKA. DAN FF INI MURNI DARI IMAJINASI SAYA TENTANG PAIR KESAYANGAN.
BIG THANKS TO
N-Yera48, , minsainza, kim naya, , Re-Panda68, Byunnie Puppy, seeyou-y, LaiGuan's, Vkshp, Yulia561, Aule22, jinseobsquad, yesgood, tititiaaa.
Aku sayang kalian, ih. Oh, ya kalo ada yang belum ngerti, ceritanya panah yang di Ucup itu belum bisa dicabut, trus kalo Ucup maksa narik panahnya, malah Ujin yang sakit. Ada yang penasaran endingnya? Aku juga, ngehehe. Mau buka request nih, aku pengen kalian yang nentuin endnya. Pilih langsung ending bahagia, atau bersedih dahulu bahagia kemudian? Sekalian, promosi ff One-Shot Jinseob, judulnya 'TIME LAPSE'. Baca ya..
STORY START!
.
I started to become greedy
I wanted to live with you
Grow old with you
Hold your hands
And say, how warm my life was
I wanted to be happy for once
But that made you cry
Watching over you, my heart fluttering
Even when I was ridiculously jealous
All of those moments that you gave to me
Some day, we'll meet again
It'll be the happiest day
.
Woojin merasa kepalanya masih sangat berat. Dia hanya tidak mengerti kenapa tadi pagi bangun di kasur padahal seingatnya kemarin sore dia ada di rumah sakit untuk menemui Hyungseob. Tertidur terlalu lama juga tidak bagus ternyata, Woojin bahkan tidak bisa fokus dengan pelajarannya.
Mengesampingkan hal itu, Woojin memilih menyalin tulisan yang ada di papan tulis ke bukunya daripada tidak melakukan apapun.
"Perhatian, anak-anak."
Guru yang sedang berjalan menuju depan kelas menghentikan pergerakan setiap siswa yang ada di kelas, begitu juga Woojin. Melihat gurunya membawa seorang siswa laki-laki berseragam sekolah lain di pagi hari seperti ini, sudah pasti siswa itu pindahan. Kakinya panjang serta kulitnya cukup pucat untuk ukuran seorang laki-laki, tapi dari kelihatannya dia tidak selemah itu juga, terlihat jelas dari lengan menonjolnya yang terbungkus seragam. Merasa keberadaannya terancam, Woojin lebih memilih meneruskan acaranya mencatat. Jujur, Woojin tidak suka bagaimana sosok itu terus mengumbar senyum. Woojin juga tidak suka kenyataan bahwa hawa keberadaan Woojin jadi menipis setelah orang itu datang. Biasanya, dia yang dipuja di kelas ini, namun melihat bagaimana seluruh penghuni kelas memperhatikan si Murid Baru, Woojin yakin posisinya akan segera tergeser.
"Perkenalkan dirimu."
Pemuda itu kembali mengumbar senyum termanisnya,"Halo teman-teman. Maaf datang terlambat, aku perlu menyelesaikan administrasi di sekolahku yang sebelumnya pagi ini. Aku pindah karena aku rasa, aku memang seharusnya berada disini."
Segerombol gadis yang duduk dibagian belakang kelas mulai meminta si pemuda menyebutkan namanya.
"Aku pindahan dari kelas Olahraga, XH High School," Woojin mengangkat kepalanya, mencoba berpura-pura peduli dengan perkenalan si anak baru.
"Namaku—
.
.
.
.
.
.
.
—Lai Guanlin."
Dan kedua pasang mata itu saling menatap dalam kemarahan.
Tidak habis pikir kalau Woojin bertemu Lai Guanlin disini. Akhirnya, Woojin ingat kenapa wajah Guanlin terasa begitu familiar baginya. Jelas saja, Guanlin adalah pemuda yang mengembalikan dompetnya, pemuda yang sama dengan pemuda yang mengajak Hyungseob pulang.
Pemuda yang sempat membuatnya merasa disaingi kala itu.
"Wah, bersyukurlah kalian sudah kedatangan murid setampan ini." kalimat sang Guru dibalas dengan berbagai sorakan bahagia dari murid-murid perempuan.
"Kau bisa duduk di belakang sana, Lai Guanlin." Sang Guru menunjuk meja kosong yang tepat berada di belakang meja Woojin.
Kedua pasang mata itu tetap saling menatap dengan kemarahan yang meletup-letup dan tidak dapat dibendung lagi. Saat Guanlin lewat di sebelah Woojin, barulah mereka memutuskan kontak mata seolah tidak terjadi apapun.
Sungguh seminggu ini banyak sekali yang terjadi pada Woojin. Mulai dari kecelakaan yang Hyungseob alami sampai Guanlin yang tiba-tiba pindah ke sekolahnya, seakan karma tengah mengejar hidup Park Woojin.
Woojin dan Guanlin tidak banyak bicara walaupun anak-anak satu kelas berubah jadi sangat dekat dengan Guanlin. Dialah satu-satunya orang yang tidak bisa, atau mungkin tidak mau dekat dengan Guanlin. Rasanya aneh saja berdekatan dengan pemuda itu karena Guanlin selalu mengingatkan Woojin dengan Hyungseob, hal itu juga yang menyebabkan Woojin tidak dapat berdamai dengan dirinya sendiri dan menemukan jalan keluar dari masalahnya.
"Guanlin-ah, ada yang mencarimu!"
Woojin mengangkat kepalanya, penasaran siapakan sosok yang mencari Guanlin di saat istirahat seperti ini. Namun apa yang ditemukannya bukanlah hal yang menyenangkan untuk Woojin.
Ahn Hyungseob berdiri disana. Wajahnya jauh lebih pucat dari terakhir kali Woojin mengingatnya, bibirnya kering dan tatapannya sendu, namun senyumnya terlampau ceria sehingga Woojin merasa lega walaupun pemuda manis itu masih perlu menggunakan gips di tangan kirinya.
Woojin memang mendengar kalau Hyungseob sudah mulai sekolah, pemulihan tubuhnya memang terlalu cepat, tapi setidaknya Woojin tidak kaget lagi mengingat Hyungseob seorang Naiad. Yang aneh adalah, Woojin merasa tidak rela kalau Hyungseob datang dan tersenyum untuk Guanlin—
.
—bukan untuknya lagi.
Besoknya, Woojin kembali menelan pil kepahitan. Dia sedang menyantap makan siangnya dalam diam. Meja panjang yang ada di kantin itu sedang ditempatinya sendiri, namun pemandangan yang tepat berlurusan dengannya nyaris membuat Woojin memuntahkan seluruh makanan yang sudah ditelannya.
Disana Guanlin tengah menikmati rasanya dimanja oleh Hyungseob. Ck, padahal Woojin saja yang tidak tahu kalau mereka lebih sering bermanja-manja kalau sedang dirumah.
Seorang duduk di bangku sebelahnya,"Mereka cocok, kan?"
Woojin menoleh, mendapati Daehwi tersenyum meremehkan. Entah kenapa, Woojin jadi tidak suka lagi dengan cara Daehwi menatapnya. Bukannya menjawab, Woojin malah meneruskan acara makannya terburu-buru. Dia tidak betah terus berada diantara Daehwi.
Keesokan harinya, Woojin kembali menemukan Hyungseob tengah duduk berdua bersama Guanlin di bangku lobi sekolah. Lalu, keesokannya lagi melihat mereka berangkat dan pulang sekolah bersama. Terus seperti itu, sampai Woojin merasa bahwa selalu ada Hyungseob dan Guanlin dimana-mana.
Begitu juga hari ini, Woojin kembali melihat Hyungseob dan Guanlin yang sedang duduk bersama di kantin. Untuk menghindari kekesalan yang berlebihan, Woojin memilih untuk duduk membelakangi kedua orang itu. Namun nyatanya kesialan Woojin tidak berakhir disana karena Daehwi sudah duduk berhadapan dengannya. Jangan lupa senyumnya yang menyebalkan.
"Sepertinya ada yang salah dengan wajahmu." Daehwi melipat tangannya diatas meja, memperhatikan wajah Woojin yang menyantap makanan dengan kecut.
"Tidak mau melihat dua orang dibelakang sana?"
Sungguh, Woojin tidak pernah punya niat untuk menoleh atau setidaknya mengintip, namun tubuhnya bergerak sendiri untuk menghadap ke arah Guanlin serta Hyungseob.
Daehwi terkekeh pelan,"Jangan lupa kalau aku penyihir." Ujarnya ditelinga Woojin.
Woojin sendiri sudah tidak kuat untuk menatap kedua orang yang tengah bercanda itu, berusaha memejamkan matanya, namun dia juga tidak bisa. Lee Daehwi telah menyabotase seluruh fungsi tubuhnya.
Nafasnya tercekat ketika matanya sempat bersirobok dengan mata Hyungseob, hanya sepersekian detik waktunya untuk menikmati keindahan mata itu, sebelum Hyungseob kembali menoleh pada Guanlin. Tubuh Woojin kembali ke posisi semula dan semuanya masih dalam kendali Daehwi.
Daehwi tersenyum,"Mereka cocok, kan?"
Woojin tidak menjawab, ingin menjawab tidak, tapi Woojin rasa sangat memalukan menjawab seperti itu, seakan dialah yang kalah disini. Kalaupun menjawab iya, Woojin juga tidak sudi.
"Kau bilang suka padaku, tapi cemburu melihat Hyungseob bersama Guanlin." Daehwi meneguk susu coklat yang dibawanya,"Dengar, kalau saja panah itu tidak menancap pada Hyungseob, kau tidak terbebani masalah dan tidak perlu cemburu melihat mereka bersama. Kau cemburu karena kesalahanmu sendiri. Lagian sebelum ada panah itu, Hyungseob sudah mulai menerima perasaan Guanlin kalau kau ingin tahu. Disini tugasmu hanya menjadi batu loncatan untuk mereka, kau tidak punya hak untuk iri."
"Kau mengharapkan segalanya jadi milikmu, padahal segala yang terjadi tidak mengarah padamu. Kau tidak akan dapat hasil apapun. Kalaupun ingin melihat Hyungseob tersenyum untukmu, minta maaflah. Tapi jangan sekalipun berharap Hyungseob memberikan hatinya lagi. Dia mungkin masih menyayangimu tapi dia menyayangimu hanya karena panah itu. Dan Guanlin akan segera menggeser keberadaanmu."
Setelah bicara sepanjang itu, Daehwi segera pergi.
Saat perjalanan pulang, Woojin tidak henti-hentinya meruntuki dirinya sendiri. Sudah tidak banyak yang mau berteman dengannya karena dia sudah dianggap sebagai tokoh pengkhianat. Teman-teman satu genk-nya juga tidak membantu sama sekali, mereka hanya peduli dengan uang dan uang. Sekarang, berjalan pulang sendirian menjadi kesehariannya. Menunggu bus di halte juga menjadi kebiasaannya.
Setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya bus yang ditunggu Woojin datang. Tanpa banyak pikir, Woojin naik dan duduk di salah satu bangkunya. Tidak lama kemudian bus itu melaju, namun bukannya melaju diatas jalanan, bus itu semakin melambung di udara.
"Jadi ceritanya ini penculikan?" Woojin berseru pada di supir, entah didengar atau tidak, Woojin tidak peduli.
Si Supir menoleh, wajahnya tampan dan disekitar tubuhnya terdapat sinar keemasan yang tipis, ciri-ciri penghuni Olympus,"Tugasku adalah mengantar jemput, bukan menculik. Lagian ini juga atas perintah Dewa Ares." Kemudian di supir kembali fokus kedepan. Mengarahkan busnya terus naik, melewati berlapis-lapis awan.
"Apa...ayah marah?"
"Memang menurutmu kapan Dewa Ares tidak terlihat marah?"
"...Entahlah."
Pada kenyataannya Woojin sendiri tidak pernah tahu bagaimanakah kebiasaan ayahnya. Sejak kecil dia hanya hidup berdua dengan ibunya, sesekali Ares datang untuk menjenguk walau hanya terjadi setiap beberapa tahun sekali. Woojin sudah cukup senang melihat ayahnya beberapa kali saja. Dia sendiri tahu, anak Dewa Ares banyak, sudah pasti ayahnya juga mendatangi istrinya yang lain bergiliran.
Bus berhenti di pinggiran jalan setapak yang mengarah ke pusat peradaban Olympus diatas awan. Jaraknya dengan Bumi sangat jauh, bahkan Woojin sendiri tidak dapat melihat dimanakah buminya berada. Sampai akhirnya mata Woojin terfokus dengan keadaan Olympus yang cukup rusak. Banyak bangunan yang runtuh, pepohonan tumbang, dan lain-lain. Sama persis seperti habis dilanda sebuah Badai.
"Dua hari yang lalu, gelombang dasyat baru datang dan semuanya tiba-tiba rusak." Hanya itu yang dapat Woojin dengar dari si supir yang sudah mengemudikan busnya pergi.
Meniti jalan yang ada, akhirnya Woojin sampai di depan gedung besar tempat pada Dewa tinggal. Woojin ingin meneruskan langkahnya, namun serorang gadis kecil mencekal pergelangan tangannya dan memberi Woojin sebuah batu permata tanpa banyak bicara lalu segera pergi. Barulah setelah itu Woojin melangkahkan kakinya pasti ke dalam sana setelah memastikan pemberian gadis itu aman di saku celananya.
Pintu besar yang ada dihadapannya terbuka sendiri. Obor dengan api berwarna emas menyala di setiap sudut ruangan, atapnya sangat tinggi, dan banyak sekali ukiran yang menceritakan suatu kisah yang Woojin sendiri tidak tahu apa itu. Dihadapannya sudah duduk para Dewa di kursinya masing-masing, siap menghakimi Park Woojin. Ares juga ada disana, duduk angkuh sambil menatap Woojin dalam diam.
"Park Woojin," Zeus mulai bersuara. Woojin sendiri merasa kakinya bergetar dan tidak kuat untuk menopang tubuhnya lebih lama,"Kau memang tidak melanggar peraturan apapun, namun apa yang kau perbuat telah menyebabkan kerusakan. Siapapun yang merusakan, terutama merusak Olympus akan dijatuhi hukuman, baik sementara ataupun permanen."
"Aku dan Ares," Woojin mengalihkan pandangannya pada sang ayah, wajah itu tetaplah kaku serta sombong,"Memutuskan untuk menghilangkan kekuatan demigod yang ada didalam tubuhmu."
Zeus mengayunkan tombak petirnya bersamaan dengan Woojin yang menutup matanya, berserah diri dengan apapun yang akan terjadi. Bahkan jika Zeus menyambarnya dengan petir sampai mati, Woojin siap menanggungnya. Setidaknya Woojin tidak perlu mati dengan memikul rasa bersalah nantinya.
Detik berikutnya, Woojin benar-benar disambar petir, tubuhnya oleng, lalu setelahnya dia tidak ingat apapun.
Saat kembali bangun, Woojin sudah duduk di halte dekat rumahnya. Tubuhnya terasa sangat lemas seakan Woojin belum makan selama berbulan-bulan. Sampai dirumahpun, Woojin segera makan dengan lahap. Ibunya tidak menanyakan apapun. Woojin yakin, ibunya tahu mengenai masalahnya dengan Olympus ataupun Hyungseob, namun lebih memilih untuk berpura-pura tidak tahu. Ya, memang lebih baik begitu.
Guanlin diam, menikmati elusan tangan Hyungseob di kepalanya. Hari minggu seperti ini, Guanlin harus demam karena kemarin sore kehujanan. Orang tuanya ada dibawah, tapi Guanlin lebih memilih Hyungseob untuk mengurusinya. Guanlin suka bagaimana Hyungseob akan berubah diam dan tenang saat dia sedang sakit. Sikapnya menjadi sangat lembut dan perhatian, persis seperti seseorang yang khawatir dengan pasangannya.
Kedua pasang mata itu tidak melepaskan kontaknya sama sekali. Guanlin seakan terlihat takjub dengan mata biru Hyungseob. Mata itu seolah menghanyutkannya ke dalam buaian tak berujung, menciptakan euforia yang belum pernah Guanlin rasakan.
"Aku suka mata birumu." Ujar Guanlin akhirnya. Selama dua minggu ini, Guanlin belum puas hanya melihat kedua mata itu hanya siang hari saja. Guanlin ingin selalu melihat mata itu, mulai dari bangun tidur hingga dia bersiap tidur lagi setiap hari.
Hyungseob tersenyum tipis,"Kau tidak takut?"
Guanlin ikut tersenyum dan menggeleng,"Sekalipun ini membuktikan kau bukan manusia biasa, aku tetap menyukainya. Aku harap kau tidak perlu menggunakan softlense ke sekolah—"
"—dan membuat penghuni sekolah berteriak ketakutan?" Potong Hyungseob,"Tidak, terimakasih."
Guanlin terkekeh,"Mereka harus melihat keindahan ini, Seob."
Tidak ada sahutan dari Hyungseob. Pemuda manis itu menggengam tangan Guanlin, matanya ikut fokus kearah kedua tangan yang bertautan itu.
Hyungseob mendongak,"Bagaimana kalau keindahan ini adalah kehancuran? Apa yang akan kau lakukan?"
Ya, kadang satu keindahan dapat menyimpan ratusan bahkan ribuan keburukan.
Dan sore kala itu berakhir canggung untuk keduanya, namun walau begitu, keduanya tetap berada di tempatnya masing-masing, menikmati setiap detik yang berlalu sambil mengamati langit jingga lewat jendela kamar Guanlin.
Siang (menjelang sore) di hari Minggu yang sama, Woojin memilih menikmati me-time di cafe langganannya, sendirian. Dihadapannya ada sepiring waffle bertopping es krim tiramisu yang baru saja datang. Bibirnya menyunggingkan senyum pahit, matanya terus saja menatap ke arah meja dimana dia dulu pertama kali bertemu dengan Euiwoong. Kalau saja saat itu Woojin tidak mendekati Euiwoong, akhirnya mungkin tidak akan seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur terjadi. Menyesalpun tidak akan mengubah apa-apa. Beruntung Zeus hanya menghilangkan kekuatannya sebagai demigod, setidaknya itu lebih baik dari pada harus memikul langit dipundak seperti Atlas. Memang tubuhnya jadi sedikit lebih lemas dari biasanta, tapi dia juga tetap laki-laki.
Sambil menikmati setiap suapan waffle dan es krimnya, Woojin mengarahkan matanya ke jalanan. Banyak sekali pasangan yang berjalan beriringan sambil tertawa, terlihat begitu bahagia. Kemudian, bayangan jalan berdua bersama Hyungseob sambil bergandengan tangan hadir di kepalanya tanpa diduga-duga. Sungguh, Woojin tidak sedang merindukan Hyungseob. Dia hanya merasa bersalah, namun tidak separah itu sampai Woojin harus memikirkannya kapanpun.
Lalu dia ini kenapa?
Menit-menit yang ada terus berlalu, Woojin sudah menyelesaikan acara makannya, namun memutuskan untuk tetap duduk disana, menikmati sejuknya pendingin cafe. Sampai akhirnya Woojin bosan sendiri, dia bangkit, membayar makanan kemudian keluar cafe, membiarkan kakinya bergerak dan membawanya ke suati tempat.
Selama lima belas menit berjalan kali, Woojin akhirnya baru sadar kalau dia sudah tiba di depan rumah Hyungseob.
Ya Tuhan, Woojin ini kenapa, sih?
Entah dia yang berdiam diri disana terlalu lama atau bagaimana, momentnya sangat pas dengan Hyungseob yang baru keluar dari gerbang rumah sebelah, lebih jelasnya, rumah Guanlin. Keduanya terlihat sama sama kaget, namun Hyungseob dengan cekatan kembali masuk kedalam rumah Guanlin setengah berlari. Sangat ketara kalau pemuda manis itu lebih suka menghindari Woojin daripada segera menyelesaikan masalah mereka.
Berbekal rasa kecewa, Woojin menarik kedua kakinya bergerak pulang. Mungkin Woojin bisa mencoba lain waktu.
Hyungseob tidak tahu harus bagaimana. Dia baru saja bertemu Park Woojin yang sedang berdiri di depan rumahnya. Tolong, Hyungseob sudah senang tidak lagi bertemu Woojin di sekolah (dia harus berterimakasih pada Guanlin yang selalu berusaha mengalihkan perhatiannya), namun kenapa Hyungseob malah harus bertemu Woojin di depan rumahnya, yang bahkan jarak antara rumahnya ke rumah Guanlin sangatlah dekat. Maka berakhirlah Hyungseob yang lari masuk lagi dan duduk di sebelah Guanlin. Pemuda itu sudah terlelap, padahal baru saja lima menit lalu ditinggal.
Langit yang mengintip dari jendela kamar sudah berubah gelap, Hyungseob harus segera pulang, tapi dia kembali memutuskan untuk tinggal lebih lama. Tangannya bergerak menyentuh dadanya, menunggu beberapa detik hingga sebuah ujung panah emas keluar sendiri dari dadanya. Hyungseob melihat panah itu sambil tersenyum pilu, merasa begitu bodoh selama ini karena membiarkan perasaannya pada Woojin mengalir lancar, padahal dia tahu kalau Guanlin juga mencoba menarik perhatiannya. Hyungseob sadar, tepat seminggu setelah Guanlin pindah ke rumah sebelah. Hyungseob tidak bodoh untuk tahu kalau Guanlin sering meliriknya dari jalan saat Hyungseob sibuk membersihkan halaman rumah dan dia juga tidak bodoh untuk mengingat setitik perasaan yang tumbuh atas nama Guanlin.
Satu hal yang membuat Hyungseob goyah adalah panah ini.
Hyungseob menekan masuk panah itu hingga tidak lagi terlihat dari matanya dan menatap Guanlin,"Kau harus membantuku melepas panah ini dan aku pasti akan segera membayar setiap perjuanganmu."
.
.
.
.
.
TBC
