Discalimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
"Apa yang kau katakan pada Sakura, Naruto." tanya Sasuke yang terbaring dirumah sakit.
"Semuanya…tidak ada satu kejadianpun yang tidak kuceritakan padanya." Kata Naruto.
"Sempurna…sekarang dia tidak mau bertemu denganku…dan lebih menyebalkan lagi…kenapa aku harus satu kamar dengannya!" sewot Sasuke memandang kesamping tempat tidurnya.
"Memangnya aku mau satu kamar denganmua! Menjijikan!" kata Gaara.
"Kau yang menjijikan, aku lebih baik mati dari pada satu kamar denganmu!" kata Sasuke.
"Itu bisa diatur, tenang saja." Jawab Gaara.
BRAK
Naruto menggebrak meja yang letaknya berada diantara kasur Gaara dan kasur Sasuke.
"Berdebat satu kata lagi yang keluar dari mulut kalian, akan kubuka jahitan kalian pelan-pelan!" kata Naruto dengan nada pelan tapi menekan sambil memegang pisau untuk mengupas apel.
Gaara dan Sasuke terdiam, baru kali ini Sasuke melihat Naruto bisa marah, kalau Naruto tidak bisa membuat mereka akur, bisa-bisa Naruto ikut-ikutan gila seperti mereka. Gaara dan Sasuke terdiam sementara Naruto mengupas apel untuk mereka berdua, selagi Naruto mengupas apel, Hinata datang mengunjungi Sasuke dan Gaara.
"Hai…" sapa Hinata.
"Oh hai Hinata." Jawab Naruto."bagaimana keadaan Sakura hari ini?"
"Sudah membaik, tapi masih sering agak pusing katanya." Kata Hinata.
"Dia…" kata Gaara yang mengehntikan omongannya.
Hinata dan Naruto memandang Gaara dengan tatapan sedih, mereka tahu rasanya perasaan cinta yang tidak terbalas.
"Sakura, dia bilang seperti ini padaku…" kata Hinata.
'Hinata, aku hanya ingin mereka berdua bisa berteman, walaupun aku sudah pacaran dengan Sasuke, bukan berarti aku melupakan Gaara, aku tidak mungkin membiarkan Gaara, tapi perasaan tidak bisa dibohongi, aku sayang pada Gaara hanya sebagai kakak. Apa aku salah Hinata kalau aku menginginkan orang yang aku cintai bisa berteman baik dengan kakakku? Apa aku salah?'
"Dia mengucapkan itu dengan wajah yang bingung… untuk saat ini, itulah yang Sakura harapkan, untuk selanjutnya, itu terserah kalian berdua." Kata Hinata sambil membereskan meja karena berantakan gara-gara Naruto yang mengupas apelnya acak-acakan. Sehabis hinata bicara seperti itu, Sasuke diam-diam memandang kearah Gaara, dan Gaara pun diam-diam memandang kearah Sasuke, lalu mereka memergoki satu sama lain, dan keduanya membuang muka mereka.
"Setidaknya buatlah satu hal yang membuat Sakura senang, dan hal itu berasal dari kalian berdua." Kata Hinata yang tidak ditanggapi omongannya.
"Dimohon kerja sama antara kalian berdua yaaah." Kata Hinata sambil menancapkan pisau yang dipegang Naruto ke meja sambil tersenyum ramah. Lalu Hinata pergi keluar tanpa mengucapkan salam. Tindakan Hinata membuat mereka bertiga terdiam dan tidak berkutik.
"W…wanita itu sangat menyeramkan yaaah." Kata Naruto.
Gaara termenung, dia berfikir dia telah banyak menyakiti Sakura, apa yang bisa membuat Sakur bahagia, setelah dipikir-pikir, Gaara selalu membuat Sakura sengsara, bahkan hanya Sakura yang selalu membahagiakan dia, betapa egoisnya dia selama ini karena meminta lebih dari Sakura. Dari dulu hingga sekarang, Sakura selalu menuruti apa kemauannya, dari yang biasa sampai yang tidak biasa. Apa yang bisa dia lakukan untuk Sakura. Lalu Gaara menoleh kembali kearah Sasuke, dan kemudian dia mengela nafasnya, sepertinya dia sudah tau apa yang harus dia lakukan, satu-satunya hal yang bisa membuat Sakura memaafkannya dan mau menerimanya kembali seperti dulu.
"Sasuke…" panggil Gaara.
Sasuke dan Naruto menengok terkejut karena kali ini Gaara memanggil nama Sasuke tidak dengan nada dingin melainkan dengan nada yang sangat tenang.
"Maafkan aku." Kata Gaara menatap mata Sasuke.
Naruto tersenyum lebar dan Sasuke hanya bengong mendengar perkataan maaf yang keluar dari mulut Gaara.
"Jangan salah paham…" kata Gaara, baru saja Naruto tersenyum lebar, dia sudah merubahnya kembali mejadi wajah bingung. "Aku meminta maaf bukan karena kamu, tapi untuk Sakura."
Sasuke melihat wajah Gaara yang memerah karena meminta maaf, lalu dia tersenyum dengan jantan. "Hn…sama-sama." Jawab Sasuke singkat.
"Hah? loh?" kata Narruto yang bingung karena Sasuke tersenyum sambil melihat kearah kiri dan Gaara tersenyum melihat kearah kanan, sedangkan Naruto yang ditengah-tengah masih kebingungan, kenapa suasananya berubah menjadi hangat.
"Hahahahaa…begitu dong! Kalau begini kan aku juga tidak repot." Kata Naruto sambil memuku kedua bahu mereka yang sedang terluka.
"Aaakhh." Rintih Sasuke dan Gaara lalu memberikan pandangan death glare kearah Naruto.
"aahh..m…maaf…hahaha…lebih baik aku keluar dulu yaaah..daaaah…" kata Naruto yang langsung lari keluar.
"Huaaaah….syukurlaaah…mereka sudah mulai mau berbaikan, harus dirayakan nih…" kata Naruto sambil berjalan kearah kamar Sakura. "Hei Sakura." Sapa Naruto.
"Ah Naruto, apa kabar?" tanya Sakura.
"Naik…sangaaat baiiik…kau tahu, ada kabar bagus" kata Naruto.
"Wah…apa itu?" tanya Sakura penasaran.
"Gaara dan Sasuke, mereka sudah mulai berabaur…tadi Gaara meminta maaf pada Sasuke." Kata Naruto.
"Haa? Masaaa? Lalu?" kata Sakura senang.
"Yaah..aku pikir itu tahap mereka untuk menjadi teman, dan lagi tadi ada wanita yang menyeramkan mengusulkan agar mereka berbaikan, karena wanita itu seram, akhirnya mereka menurut." Kata Naruto.
"Wanita seram?" kata Sakura bingung.
"Apa yang kau maksud itu aku, Naruto?" kata Hinata dari belakang tersenyum seram.
"Aaahhh…Hinata…ti…tidak…maksudu, wanita yang cantik dan hebat telah membuat Gaara dan Sasuke berbaikan…hehehehee" kata Naruto gugup.
Sakura melihat keakraban Naruto dan Hinata yang tidak sewajarnya sepasang teman, Sakura merasa aura mereka beda dari biasanya, seperti alami.
"Kalian…pacaran?" tanya Sakura.
Hinata yang sedang menjambak Naruto langsung memerah wajahnya, lalu Naruto merangkul pinggang Hinata dan menjawab pertanyaan Sakura dengan bahagia.
"Iyaaa…beri selamat dooong." Kata Naruto.
"Waaahh…aku ikut senaaaang…selamat yaaah kalian berduaaa…" ucap Sakura.
"Sakura, karena Sasuke dan Gaara sudah mau mencoba berbaikan, kenapa kamu tidak pergi menjenguk mereka? lagipula kau sudah boleh jalan kok." Usul Hinata.
Sakura memikirkan perkataan Hinata, tidak ada salahnya dia menjenguk kedua orang itu, tapi dia khawatir kedatangannya malah akan membuat mereka bermusuhan lagi.
"Baiklah, sepertinya aku akan melihat mereka sekarang." Kata Sakura tersenyum.
Hinata memberikan senyuman hangat kepada Sakura begitu pula Naruto, Sakura beranjak dari tempat tidurnya, dia berjalan pelan menuju kamar Sasuke dan Gaara yang letaknya tidak jauh dari kamar Sakura. Ketika Sakura hampir sampai ke kamar mereka, Sakura mendengar percakapan antara Sasuke dan Gaara.
"Hei…boleh aku tanya sesuatu." Kata Sasuke kepada Gaara.
Gaara tidak menjawab tapi dia menoleh kearah Sasuke.
"Sakura…dia…seperti apa dia sebelum datang kembali kesini." Tanya Sasuke.
Gaara melihat kewajah Sasuke yang berubah menjadi lembut saat mengucapkan nama Sakura.
"Dia…anak yang manis…tidak bernah berpikiran negative tentang orang lain… hangat…selalu tersenyum…dan…penyayang." Ucap Gaara.
"Haha…yah…dia memang seperti itu dari kecil." Kata Sasuke yang sedikit tertawa.
"oh ya? Kalau begitu dia tidak berubah sama sekali ya." Sambung Gaara.
"Kau salah kalau bilang dia tidak berubah, Sakura berubah total menjadi wanita dewasa yang sangat cantik." Kata Sasuke.
"ya…dia sangat cantik." Kata Gaara mengulang.
"Selain itu, tubuhnya juga seksi." Kata Sasuke dengan malu-malu.
"Ya…dadanya pun besar." Kata Gaara.
"Bibirnya juga begitu menggoda." Kata Sasuke.
Mereka berdua memerah sendiri ketika membicarakan bagian tubuh Sakura, mereka memang benar-benar setipe,.
"Tapi kalau dia sedang marah seperti monster." Sambung Gaara.
"Oh ya? Aku belum pernah melihatnya marah." Kata Sasuke.
"Ya, jangan sampai…karena benar-benar menakutkan." Kata gaara.
"Wah…berarti Sakura itu seperti Monster berdada seksi ya." Kata Sasuke.
Entah sejak kapan obrolan mereka menjadi nyambung seperti itu.
"Hahahahahaa." Mereka berdua tertawa.
"Ooohhh…sepertinya kalian berdua sudah sangat akrab yah, sehingga menikmati obrolan kalian yang mesum itu." Kata Sakura dari pintu yang tiba-tiba datang.
"Haaa? Sakura..s…sejak kapan kamu…" kata Sasuke gugup.
"Sejak dari bagian 'tubuh seksi'!" sewot Sakura yang mendekati mereka berdua lalu menjitaknya.
"Aaawww.." rintih Sasuke dan Gaara.
"kau ini, bersikap lembut sedikit lah pada orang sakit." Kata Gaara.
"Jangan lupa kalau aku juga orang sakit disini." Jawab Sakura. "Hhhh…bagaimana keadaan kalian?"
"Buruk, aku merasa saat Sasuke melempar pisau itu keperutku, sepertinya ususku berantakan kemana-mana." Jawab Gaara dengan wajah tanpa ekspresi.
"Heii…heeeii…jangan berlebihaaan…luka seperti itu tidak cukup untuk membuat ususmu keluar berantakan, harus terluka 5 cm lagi baru ususmu bisa keluar." Kata Sasuke yang pakai penjelasan.
"Oh begitu." Kata gaara yang menanggapinya.
"Heeiii…! Obrolan kalian itu aneh sekali! Dasar! Sudah hentikan, aku merinding mendengarnya." Kata Sakura.
"Oh iya Gaara, tadi malam ibu datang dan menceramahiku habis-habisan, pokoknya aku tidak mau tahu, kau juga harus kena ceramah ibu!" kata Sakura ngambek.
"Hahahaa..iyaa…aku akan bertanggung jawab, kau tenang saja." Kata Gaara.
"Ibu juga mau memarahimu Sasuke, karena telah berkelahi dengan Gaara." Kata Sakura.
"Yaaahhh… baiklah…tapi sepertinya sebelum aku menghadap ibumu, aku mau ke toko dulu sebentar." Kata Sasuke.
"Ha? Untuk apa?" tanya Sakura.
"Membeli penyumbat telinga." Kata Sasuke.
"Ah…ide bagus." Sambung Gaara.
"Heeeii! Tidak sopaaan…" kata Sakura sewot. "Oh iya…setelah kita semua sembuh, mau tidak pergi bersama-sama?"
Gaara dan Sasuke saling tatap lalu menatap kearah Sakura. "Kemana?" tanya Sasuke.
"Kita karaokkeeeeeeeeeee" kata Sakura dengan ceria, tapi ditanggapi hanya dengan tatapan datar dari Sasuke dan gaara.
"Hei…kenapa kalian memasang ekspresi seperti itu?" kata Sakura sebal.
"Aku tidak bisa bernyanyi." Kata Gaara.
"Hn." Sambung Sasuke.
"Aaahhh…yasudah, kita kemana sajaaa terserah kalian, nanti aku juga akan ajak Hinata dan Naruto…ya ya ya." Kata Sakura.
"Iyaaa…sekarang kamu istirahat yah, kau kan belum pulih total." Kata Sasuke dengan lembut.
"Iya, kalau kau sudah pulih total, baru kita pergi bersama-sama." Kata Gaara.
"Baiklah…aku kembali ke kamar yaah…daahh…aku sayang kalian berdua." Kata Sakura yang tertawa lebar.
Melihat Sakura tertawa bahagia dan mendengar kalimat sayang mereka berdua membuat merka senyum-senyum sendiri, begitu Sakura benar-benar sudah pergi, Sasuke melihat kearah Gaara dan begitu pula Gaara, tanpa mereka sadari, mereka sudah sedikit membaik hubungannya, tapi mereka tidak mau mengakuinya, akhirnya mereka membuang muka mereka masing-masing lagi.
Setelah beberapa hari berlalu, mereka bertiga pun keluar dari rumah sakit, Gaara yang baru pulang dari rumah sakit langsung diceramahi habis-habisan oleh ibunya, ketika sang ibu sedang berceramah panjang lebar.
"Kau tahu yang kau lakukan itu sangat salah sehingga membuat Sakura dan Sasuke jadi begini dan lagi kamu juga kenapa harus berkelahi dengan Sasuke pakai acara tusuk-tusukan segala kalau kamu mau berklahi…"
"Ibu tunggu sebentar." Kata Gaara menghentikan ocehan ibunya yang tidak ada titiknya itu. Gaara keluar sebentar dan beberapa menit kemudian dia kembali bersama Sasuke yang ditariknya secara paksa. "Silahkan lanjutkan." Kata Gaara.
Akhirnya sang ibu melanjutkan ocehannya panjang lebar terhadap Sasuke dan Gaara, mereka berdua diam dengan duduk bersila sedangkan sang ibu berdiri dengan gaya bertolak pinggang menceramahi mereka sampai kuping mereka panas. Sesudah sang ibu menyelesaikan ceramahnya, dia kembali kekamarnya sambil menggumel.
"Haahh…. Aku heran anak muda jaman sekarang senangnya menyelesaikan masalah memakai kekerasan." Kata sang ibu yang lalu masuk kamar.
Sakura, Sasuke dan Gaara saling tatap dan menahan tawa mereka agar sang ibu tidak mendengarnya dan kembali menceramahkan mereka lagi. Untuk menghilangkan omongan sang ibu yang terus mengiang ditelinga mereka, akhirnya mereka memutuskan untuk berjalan keluar sebentar, mereka pergi ke tempat rumah pohon markas mereka.
"Hahahahahaha…wajah kalian sangat lucu saat diceramahi ibu." Kata Sakura yang berjalan ditengah-tengah Gaara dan Sasuke.
"Kau harus merasakannya Sakura." Kata Gaara
"Sudah…aku udah sering merasakannya." Jawab Sakura.
"Ah…aku ingat waktu kecil, aku, kamu, dan Naruto tertidur dirumah pohon yang baru jadi, sehingga lupa pulang, dan ibumu mencaimu kemana-mana tidak ketemu sampai panic." Kata Sasuke yang bernostalgia.
"Ahahahaa….iyaa….saat itu kak Itachi yang memberi tahu ibu kalau kita ada disitu." Kata Sakura.
"Ya, saat itu karena kamu takut dimarahi ibumu, ka uterus-terusan menggenggam tanganku dan Naruto." kata Sasuke sambil tertawa.
"Hahahahaa…iyaa…aku sangat takut kalau ibu marah." Jawab Sakura.
Gaara mendengar percakapan mereka yang tidak dia mengerti, dia merasa jadi sepeerti ada jarak diantara mereka, akhinya dia memelankan langkahnya dan perlahan Sook Sasuke dan Sakura terlihat dari belakang sedang asyik berbicara tentang masa kecil mereka. Gaara tersadar, ternyata tidak ada tempat lagi untuknya di hati Sakura. Ketika sedang memandangi mereka, handphone Gaara berbunyi.
"Hahahahaa…saat itu wajahmu lucu sekali…" kata SAsuke yang masih membicarakan masa kecil mereka."
"Iiihhh…jahaat, saat itu aku benar-benar ketakutan loh…" kata Sakura yang tidak melanjutkan omongannya karena sadar Gaara tidak lagi disampingnya, begitu dia menoleh kebelakang, dia melihat Gaara sedang menerima telepon.
"Gaara?" panggil Sakura, Gaara yang sepertinya sedang serius menerima telepon memberi tanda 'tunggu sebentar' kepada Sakura sambil berbicara lewat telepon, Sakura merasa Gaara sedang berbicara dengan orang yang sangat penting, sampai-sampai Gaara tidak bisa menjawab panggilan Sakura, karena biasanya siapapun yang menelepon Gaara, dia pasti akan mendahului Sakura daripada orang yang meneleponnya itu.
"Sedang bicara dengan siapa dia?" tanya Sasuke kepada Sakura.
"Tidak tahu." Jawab Sakura murung.
"Hei…kenapa?" tanya Sasuke lembut sambil memegang pipi Sakura.
"Entahlah…aku merasa perasaanku tidak enak." Jawab Sakura."Kau tidak enak badan? Apa kita kembali saj kerumah?" tanya Sasuke memegang wajah Sakura memakai kedua tangannya.
"Tidak…tidak ap-apa kok." Kata Sakura.
Sementara itu Gaara yang masih menerima telepon memandangi mereka. "Ya… akan kupikirkan baik-baik…terima kasih…paman." Kata Gaara yang mengakhiri percakapannya.
"Gaara…siapa yang meneleponmu?" tanya Sakura pada Gaara yang sudah selesai menelepon.
"Ah…itu…pamanku yang berada di luar negri." Jawab Gaara.
"Loh? Ada apa?" tanya Sakura.
Gaara tidak menjawab Sakura. "Bukan apa-apa, ah…sepertinya aku harus kembali kerumah…" kata Gaara tiba-tiba. "Dan kau! Awas kalau berani macam-macam pada Sakura." Kata Gaara menunjuk ke wajah Sasuke.
"Kau ini tidak berubah sama sekali yah, menyebalkan!" sewot Sasuke.
Gaara berlari kearah pulang, Sakura memandang sosok Gaara yang sedang berlari, dan tanpa Sakura sadari, dia sedikit mengeluarkan air mata.
"Kau kenapa Sakura?" tanya Sasuke yang menyadari air mata Sakura.
"Ah…tidak…aku…tidak tahu, tiba-tiba aku merasa sedih." Jawab Sakura menghapus air matanya.
"Kita pulang saja yah, kau juga sepertinya masih harus butuh banyak istirahat." Ajak Sasuke.
"Ng.." jawab Sakura mengangguk.
Sasuke dan Sakura berjalan menuju pulang kerumah mereka, sesampainya Sasuke dan Sakura didepan rumah mereka, Sasuke mencium kening Sakura dan Sakura berpamitan masuk. Ketika Sakura masuk kedalam rumahnya, tidak adda siapa-siapa didalam rumah, dia mencari sosok Gaara atau ibunya diruang tamu, ruang TV, dapur, bahkan kamar mandi. Sampai akhirnya dia berhenti didepan kamar ibunya karena mendengar percakapan Gaara dan ibunya.
"Lalu bagaimana dengan Sakura? Apa kau sudah memberi tahunya?" tanya sang ibu.
'Ha? Aku? Memberi tahu tentang apa?' pikir Sakura bertanya-tanya.
"Belum, tadi dia sedang bersama Sasuke, aku…tidak mau mengganggunya." Jawab Gaara.
"Sebaiknya cepat kau katakan, besok kau berangkat kan." Kata sang ibu.
"Yah." Jawab Gaara.
'Berangkat? Berangkat kemana?' sakura bertanya-tanya sambil menguping.
"Hhh…lagi pula pamanmu itu mendadak sekali, meminta bantuanmu yang satu-satunya keturunan dari keluargamu yang ada." Kata sang ibu.
"Hn..aku permisi, aku harus menyiapkan barang-barangku." Kata Gaara pamit keluar. Ketika Gaara membuka pintu, Sakura sedang berdiri didepan pintu yang telah mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"S…Sakura…? Kau…dengar?" tanya Gaara.
"Kamu…mau kemana?" tanya Sakura. "Kenapa tidak cerita padaku dulu?"
Melihat wajah Sakura yang ingin menangis Gaara menghela nafas.
"Hhhh…." hela Gaara. "Ikut aku" kata Gaara menarik tangan Sakura menuju kamarnya, kali ini tarikan Gaara sangat lembut, tidak seperti dulu yang selalu menarik Sakura dengan kasar.
Gaara mengajak masuk Sakura kedalam kamarnya dan dia menutup pintunya, dia mendudukan Sakura dikasurnya, lalu Gaara berlutut dihadapan Sakura, dia tidak berkata apa-apa, dia hanya memandangi wajah Sakura yang kelihatan bingung.
"Yang tadi siang meneleponku adalah pamanku…" kata Gaara yang mulai bicara.
"…" Sakura tidak menjawab, dia menunggu Gaara melanjutkan omongannya.
"Dia memintaku kembali untuk meneruskan perusahaannya, karena hanya aku keturunan yang tersisa." Lanjut Gaara.
"K…kapan kau akan pergi?" tanya Sakura.
"Besok." Jawab Gaara.
"Apaa! Kenapa begitu mendadak? Gaara kita baru saja menyatu, tapi…"
"Sakura…" potong Gaara meletakkan telunjuknya di bibir Sakura. "dari kemarin aku selalu berfikir, hal apa yang dapat kulakukan agar kau bisa bahagia dan selalu tersenyum padaku, akhirnya kutemukan jawaban itu…"
Sakura yang kini tidak tahan menahan air matanya perlahan mulai menangis.
"Semoga kau bahagia bersama Sasuke." Kata Gaara dengan lembut.
Sakura langsung memeluk Gaara, entah kenapa dia sangat sedih sekali, Gaara yang sudah benar-benar seperti kakaknya harus pergi meninggalkannya.
"Huuu….huuuu..huu…aku tidak mau kau pergiii.." tangis Sakura memeluk Gaara.
Gaara tersenyum lembut, karena baru kali ini dia merasa seperti seorang kakak, Sakura memeluknya dan merengek agar Gaara tidak pergi dengan suara manjanya.
"Aku akan sering mengunjungimu...mungkin 2 tahun sekali setiap natal aku akan datang kesini." Kata Gaara.
"1 bulan sekali!" tawar Sakura sambil menangis.
"1,5 tahun sekali." Tawar Gaara.
"2 bulan."
"1 tahun."
"3 bulan."
"Bagaimana kalau 6 bulan sekali aku mengunjungimu?" tawar Gaara mengelus kepala Sakura.
"Huuu…huuuuu…aku akan sangat merindukanmuu…" kata Sakura yang kembali memeluk Gaara.
Gaara membalas pelukan Sakura dengan lembut, dan untuk pertama kalinya Gaara meneteskan air mata karena suatu hal berharga yang sudah dia lakukan untuk Sakura.
Malam hari itu menjadi makan malam terakhir di keluarga Haruno, suasananya jadi tak mengenakkan, sakura yang biasanya ceria, kini berdiam diri, bahkan tidak nafus untuk makan.
"Sakura, kenapa makananmu tidak kau sentuh?" tanya Gaara.
"Iya, makanlah yang banyak, kamu kan baru sembuh." Kata sang ibu.
"Iya," kata Sakura yang menyentuh makanannya secara perlahan.
Selesai makan malam, semua kembali ke kamarnya masing-masing, Sakura tidak bisa tidur, yang ada dipikirannya sekarang adalah Gaara, dia masih belum bisa menerima kepergian Gaara. Akhirnya dia memutuskan untuk menelepon Sasuke agar bisa membuatnya tenang.
"Halo." Jawab Sasuke.
"Hai." Sapa Sakura kembali dengan nada yang lesu.
"Ada apa?" tanya Sasuke yang langsung tahu sepertinya Sakura sedang memendam sesuatu.
"Ng, tidak ada apa-apa, aku Cuma…"
"Sakura jangan bohong."
"…" sakura terdiam, dan akhirnya dia memutuskan untuk menceritakannya pada Sasuke.
"Kau ingat, saat Gaara menerima telepon tadi siang?" kata Sakura.
"Ah, ya aku ingat."
"Itu telepon dari pamannya, dia meminta Gaara agar tinggal bersamanya untuk meneruskan perusahaannya, kau tahu Sasuke, aku sudah sangat sayang pada Gaara sebagai kakakku, aku tidak mau berpisah dengannya, bahkan dia sudah mulai akrab denganmu, tapi sekarang, kenapa dia malah pergi, aku…" suara Sakura sudah mulai panic dan gemetar.
"Sakura!" teriak Sasuke ditelepon untuk memberhentikan kepanikan Sakura."Lakukanlah hal yang kamu bisa lakukan untuk Gaara."
Sakura terdiam mendengar perkataan Sasuke, akhirnya Sakura menangis ditelepon.
"Huhuuuuu" Sakura menangis pelan, dia tidak mau tangisannya itu terdengar oleh ibunya dan Gaara.
Sasuke hanya mendengarkan Sakura menangis, dia membiarkan Sakura menangis sampai dia puas. "Apa perlu aku datang kesana?" tanya Sasuke.
"Ng. tidak perlu, terima kasih Sasuke sudah mau mendengarkanku." Kata Sakura.
"Apapun untukmu, Sakura." Jawab Sasuke.
Sakura menutup teleponnya, dia keluar dari kamarnya, dia berjalan mnuju kamar Gaara yang berada diatas, dia menaiki tangga satu persatu hingga sampai didepan kamar Gaara, dia mengetuknya.
"Masuk." Kata Gaara yang masih bangun. "Ah, Sakura? Ada apa?"
"Gaara, mala mini, bolehkah aku tidur bersamamu?" pinta Sakura.
Gaara sangat kaget mendengar permintaan Sakura, karena biasanya yang meminta tidur bersama adalah Gaara.
"Tentu saja boleh, ayo kesini." Kata Gaara mengulurkan tangannya pada Sakura.
Sakura meraih tangan Gaara dan mengambil posisi tidur disamping Gaara. Sakura terus memandangi wajah Gaara seolah dia tidak mau Gaara menghilang dari hadapannya.
"Ada apa? Kenapa memandangiku seperti itu?" tanya Gaara heran
"Tidak, hanya saja, waktu telah berjalan sangat cepat." Kata Sakura.
"Ya, dulu kau masih sangat kecil, tapi sekarang kau sudah tumbuh menjadi wanita dewasa." Kata Gaara.
"Kau juga, sekarang tumbuh menjadi pria tampan." Balas Sakura.
"Hahaha." Tawa Gaara ."…"
"Kau ingat? Saat aku mengganggu ibu saat masak, lalu pisau yang ibu pegang jatuh ketanganku, dan akhirnya tanganku luka?" tanya Sakura kepada Gaara.
"Ya, kau menangis habis-habisan saat itu." Jawab Gaara.
"Hihihi, iya, dank au membalut lukaku memakai perban, balutanmu sangat rapih." Kata Sakura. "Tapi, saat kau sendiri yang terluka, aku melihatmu, kau tidak bisa membalut lukamu sendiri, makanya aku belajar membalut dari ibu, dan aku juga sadar saat itu, kau tidak bisa mengurus dirimu sendiri." Kata Sakura. "Makanya aku berusaha untuk jadi adik terbaik untukmu."
Gaara terdiam mendengar Sakura bercerita tentang masa kecil mereka, Gaara memeluknya dan mengelus kepalanya hingga Sakura tertidur, mungkin ini yang terbaik, keadaan seperti ini sudah cukup bagi Gaara, Sakura yang mencintai Gaara seperti kakaknya sendiri adalah yang terbaik.
Keesokan harinya di bandara, kepergian Gaara diantar dengan Ibu, Sakura, Sasuke, dan Hinata.
"Gaara, sudah tidak ada yang tertinggal kan?" kata sang ibu.
"Iya bu, sudah kumasukan ke koper semua, bahkan kalau koper masih muat, aku akan memasukan Sakura ke dalam koper." Kata Gaara bercanda.
"Aku akan mencegahnya!" kata Sasuke.
"Jangan berkelahi dengan client mu nanti disana." Ejek hinata.
Gaara hanya tersenyum mendengar ejekan Hinata.
"Hilangkanlah sifat burukmu itu, kalau tidak kau tidak akan mendapatkan istri loh." Kata Naruto.
"Ya, terima kasih banyak yah, Naruto." kata Gaara mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, Gaara sangat berterima kasih pada Naruto atas nasehat-nasehat yang diberikannya pada Gaara.
"ah…kau kebiasaan." Kata Sakura menghampiri Gaara dan membetulkan kerahnya. "Kalau memakai kemeja harus perhatikan bagian kerahnya ya, lalu jaga kesehatanmu, jangan bertingkah macam-macam." Kata Sakura yang tangannya bergetar sambil membetulkan kerahnya Gaara. "Makan yang banyak dan bergizi, kalau pulang larut sebaiknya mandi pakai air hangat, jangan terlalu banyak begadang, sering-seringlah tersenyum." Kata Sakura yang menangis dan menempelkan keningnya di dada Gaara.
Gaara memegang kepala Sakura dan mengelusnya, lalu dia mencium kepala Sakura dengan lembut, kemudian dia menatap Sasuke. "aku titip Sakura, jaga dia baik-baik, kalau tidak, aku akan mengambilnya kembali."
"Huh!, Sakura bukan barang tahu." Kata Sasuke tersenyum pada Gaara dan mengangkat tangannya keudara, begitu pula Gaara, mereka berjabat tangan untuk yang pertama kalinya. "hati-hati." Kata Sasuke, dan Gaara mengangguk.
"Sakura." Panggil Gaara yang masih dipeluk Sakura. "Sudah saatnya aku pergi."
Sakura melihat kewajah gaara dan menghapus air matanya lalu tersenyum pada gaara, sebisa mungkin Sakura memberikan senyum terbaiknya untuk kakaknya itu.
"Iya, hati-hati di jalan yah, kakak" kata Sakura untuk pertama kalinya memanggil Gaara dengan sebutan kakak.
Gaara tersenyum dan memberikan ciuman kecil di bibir Sakura, tindakan Gaara membuat Sasuke naik pitam dan Ibu Sakura bengong.
"Heiii! Gaara! Kau cari mati ya!" teriak Sasuke.
"Hahahahaa, sampai jumpa!" teriak Gaara sambil melambaikan tangannya.
Ketika Gaara sudah pergi Ibu Sakura pamit untuk pulang duluan karena masih ada urusan yang harus diselesaikan.
"Gaara, tersenyum." Kata Hinata.
"Ya, alangkah baiknya kalau dulu dia seperti ini." kata Naruto.
Sasuke melihat kearah Sakura yang melihat kearah langit dengan wajah pelepasan.
"Heiii mau sampai kapan kau begini." Kata Sasuke memegang kepalanya.
"Sasuke, tanganmu berat." Kata Sakura.
"Ah heii, bagaimana kalau kita jalan-jalan?" ajak Naruto.
"Wah ide bagus, kemana?" tanya Hinata.
Spontan Sakura ceria dan mengatakan tempat tujuan mereka selanjutnya dengan wajah ceria. "Karaokeeeeeeee" teriak Sakura.
"Hhhhh, kemana saja asal tidak kesitu." Tolak Sasuke.
Akhirnya ketiga sahabat itu berjalan menuju tempat tujuannya dengan ceria. Kejadian demi kejadian telah berlalu, dan itu membuat hubungan Sasuke dan Sakura makin kuat, Gaara telah mengambil hikmah dari semua kejadian ini bahwa dia tidak bisa memaksakan kehendak yang bukan ditakdirkan untuknya. Sasuke yang makin overprotective pada Sakura, Naruto yang makin menyayangi Hinata karena setia telah menunggunya dan sempat mendukung perasaan Naruto pada Sakura, kini mereka berempat berjalan menuju masa depan mereka. dan persahabatan mereka tetap untuk selamanya.
"Ah…Sasuke, kenapa malam itu kau menyuruhku melakukan apa yang mau kulakukan untuk Gaara? Kau tidak khawatir kalau aku memutuskan untuk ikut dengan Gaara?" tanya Sakura bingung.
"Tidak." Jawab Sasuke singkat.
"Kenapa?" tanya Sakura
"Karena, kau milikku, selamanya." Jawab Sasuke sambil mencium bibir Sakura.
huaaaaaaaa...ngga nyangka reviewnya lebih banyak dari lucky for loving you...terima kasih banyak semuanyaaa...^3^
Maaf yah kalo endingnya kurang menarik, ini yang ada dibenakku, tadinya aku ingin membuat Gaara mati, tapi berhubung aku pecinta Gaara...AKU TIDAK TEGAAAA...hahahahaa.
aku tuh nulis fict ini lagi di suatu cafe yang berada di mall jakarta selatan, saat lagi ngopi2 sama temenku lucy...(special big thanks for her), dia bilang gini.
Lucy: lagi ngapain sih lo fit.
V3: bikin fanfict (jawab aku dengan coolnya sambil ngetik di laptop).
Lucy: fict apa fict apa? dia nyamber laptopku dan ngebaca semua fict ku, dan kau tau apa komentarnya?
'astaga fitriiii, dapet ide dari mana sih lo bikin karakter psycho kaya gini! mending ubah cerita deh, ntar banyak yang g suka baru tahu rasa lo!'
sakiiit hatiiii gueeeee...hahahahaha terus aku bilang.
V3: yah...cy, udah gue update semua, nih tinggal chapter terakhir.
Lucy: terus endingnya mau gmn?
V3: Gaaranya mau gue bikin mati karena nyelametin Sasuke kena bom, atau nyelametin Sasuke keserempet sepeda.
Lucy: najis g elit bgt lo! jangan lah, cerita lo sebelumnya udah mati tuh Sakura, demen bgt ada karakter yang mati sih lo, mending buat Gaaranya pergi aja.
padahal lucy ngomongnya sambil minum kapuchino, dan aku yakin dia asal ngomong, tapi jadi muncul ide ini deh...jadi begini lah endingnya, hahahahahahaha.
aku lagi mau bikin cerita baru, tapi masih bingung ber genre apa, aku minta masukan kalian yaaah...
apa aku bikin romance/fantasy yaaah...bingung...=_=.
sekali lagi makasih atas semua masukannya yaaah...luv u...
