SWEET DREAMS KIM JAEJOONG
Chapter Six
For Yunho & Jaejoong
Main cast :
Jung Yunho
Kim Jaejoong
Summary :
Jung Yunho seorang pengusaha berlian yang sangat terobsesi mencari pembunuh kedua orangtuanya. Jung Yunho tidak sengaja bertemu dengan Kim Jaejoong yang pingsan di depan gerbang rumahnya. Jung Yunho membawa Kim Jaejoong ke dalam rumahnya. Setelah mendengarkan cerita Kim Jaejoong, Jung Yunho memutuskan untuk memberi tempat tinggal bagi Kim Jaejoong yang artinya Jung Yunho dan Kim Jaejoong tinggal bersama. Jung Yunho mulai membuka diri terhadap Kim Jaejoong yang ia anggap seorang namja cantik yang polos. Jung Yunho masih melanjutkan pencariannya terhadap pembunuh kedua orangtuanya dibantu dengan sahabat kecilnya Park Yoochun dan Kim Junsu, tapi bagaimana bila suatu hari Jung Yunho mengetahui pembunuh kedua orangtuanya adalah seseorang disekitarnya ?
.
.
.
"Ahh..hyung.."
Perlahan dan tenang Yunho menyusuri sampa ke perut Jaejoong, melingkari pusarnya, lalu dengan perlahan dari pinggul ke pinggul. Yunho mencium, menggigit dan menghisap, dan semakin bergerak ke bawah.
Dan kemudian lidahnya berada disana, di kejantanan Jaejoong.
"Oh...hyung..."
Yunho meremas, memijat kejantanan Jaejoong. Terasa hangat bagi Jaejoong, untuk pertama kalinya Yunho memasukkan kejantanan seorang namja di mulutnya. Lidahnya berputar-putar, meremasnya semakin kuat.
"Engh..."
Membuat Jaejoong menjatuhkan kepalanya kembali dan berteriak saat dia hampir meledak menuju orgasme. Jaejoong berada di tepi jurang dan Yunho berhenti.
"Hmm..Joongie.." Suara parau Yunho terdengar sangat menggairahkan bagi Jaejoong.
Yunho berlutut di antara kedua kaki Jaejoong, kemudian Yunho mengangkat pinggang Jaejoong, dia mengangkat Jaejoong agar punggungnya tak lagi berada di tempat tidur. Membuat Jaejoong melengkung dan bertumpu pada bahunya.
"Ijinkan aku berada ditubuhmu malam ini, Jaejoongie."
"Hyung.." Jaejoong tidak mampu menahan suara yang begitu parau. Semakin meningkatkan gairahnya.
"Lakukan.." ucpanya lemah.
Dalam satu kali gerakan cepat Yunho memasuki diri Jaejoong.
"Arghhhh !" Membuat Jaejoong berteriak lagi.
Yunho mencengkeram Jaejoong, jari-jarinya mencengkeram pantat Jaejoong saat Jaejoong terengah-engah. Sangat perlahan, Yunho mulai bergerak. Keluar..lalu masuk..perlahan.
"Ungh..."
Yunho mengeram, dengan pasti gerakannya semakin bertambah cepat, sangat terkontrol.
"Ah...Hyung.."
Dengan satu gerakan cepat, Yunho menurunkan kembali Jaejoong ke tempat tidur dan Yunho berbaring diatasnya, tangannya di atas tempat tidur di samping dada Jaejoong untuk menumpu tubuhnya, dan Yunho mulai mendorong Jaejoong kembali, mendorong lebih dalam.
Membuat Jaejoong mencapai puncaknya, jatuh bebas ke dalam orgasme, paling intens yang didapat Jaejoong.
"Hyuungg...!"
Yunho mengikuti Jaejoong, mendorongnya lebih keras tiga kali.
"Jaejoongie...!" Yunho memanggil nama Jaejoong, dan akhirny hilang, ambruk diatas tubuh Jaejoong.
Saat kesadaran Yunho telah kembali, ia menarik keluar dari Jaejoong.
"Hai." Bisiknya.
"Hai juga." Jaejoong mengambil napas dengan malu-malu pada Yunho. Bibirnya dengan senyum khas-nya mencium Jaejoong dengan lembut.
"Kamu melakukannya dengan baik Jaejoongie."
Jaejoong merasakan wajahnya memanas, ini adalah pertama kalinya ia bercinta dengan seorang namja. Seorang namja yang dicintainya. Oh Tuhan..Jaejoong merasa bahagia.
"Hyung.."
"Tidurlah. Selamat tidur Jaejoongie. Aku mencintaimu."
Jaejoong memejamkan matanya dengan erat, semakin menenggelamkan kepalanya di dalam dekapan Yunho.
"Aku lebih mencintaimu, hyung."
Bagaimana hal ini bisa terjadi ? Mari kita bersama-sama kembali ke 1 jam yang lalu. Ini berawal dari Jaejoong yang mencuri sebuah kecupan di mobil Yunho.
Benar pada awalnya Yunho membatu di mobilnya, tapi tidak berapa lama kesadarannya pulih dan dia segera memasuki rumah Jung mencari namja cantik tadi.
Tujuan pertamanya adalah kamar tamu tempat dimana namja cantik itu tidur.
CKLEK
"Joongie ?" Hening, tidak ada penghuninya.
"Joongie ? Dimana kamu ?" Untuk kedua kalinya.
CKLEK
"Joongie ?" Masih hening, di kamar mandi-pun tidak ada.
Lantas Yunho menghempaskan tubuhnya di tempat tidur.
BRUK
"Aduuuhh !"
"Mwo ?"
Yunho membuka selimut yang menutupi tempat tidur itu. Salah satu hal yang tidak dia perhatikan. Di balik selimut itu ada seseorang.
"Joo..ngie.. ?"
"Ti..tidak apa-apa, aku mau tidur hyung. Selamat tidur."
"Eh ? Tunggu dulu !"
SREET
Yunho menarik selimut yang menutupi tubuh Jaejoong. Yunho melihat Jaejoong berusaha menutupi wajahnya, namun Yunho dapat melihat dengan jelas wajah putih itu memerah.
"Humpff..."
"Ya ! Tertawa saja !"
"Hm ? Kamu malu eoh ?" Yunho mulai menggoda Jaejoong.
"A..aniya..Aku mau tidur hyung !" Jawabnya gugup.
"Yah..sayang sekali, padahal aku ingin membalas ciumanmu."
Jaejoong melebarkan matanya, masih dengan posisi membelakangi Yunho. Tiba-tiba Yunho menggenggam tangannya dan membuat posisinya menjadi telentang dengan Yunho tepat duduk diatasnya.
"Hy..hyung.."
"Hm ? Kenapa harus malu ? Apa kamu menyesal telah menciumku ?"
Jaejoong dapat merasakan jari-jari Yunho membelai lembut pipinya.
"Aku.."
"Katakan saja, aku tidak akan marah." Jari-jarinya berpindah ke bibir merah Jaejoong. Ibu jarinya bermain-main.
"Engh..aku menyukaimu hyung !"
"Aku tahu !"
Yunho mencium cherry lips milik Jaejoong, melumatnya dengan lembut.
"Karena aku juga menyukaimu." Kembali Yunho menciumnya, sebuah ciuman berdasarkan perasaan yang menggairahkan.
Jaejoong membuka matanya perlahan, tersenyum ketika merasakan sebuah pelukan hangat mengenggamnya. Ia telah menjadi milik namja bermata musang itu seutuhnya, tubuhnya hanya untuknya, Jung Yunho.
Good morning gorgeous.
Jaejoong meniup-niup bulu mata Yunho.
"Engh..aku masih ngantuk.." suara Yunho terdengar parau.
"Bangun hyung, ini sudah siang."
"Sebentar lagi chagi-ah ~"
Jaejoong menepuk-nepuk pipinya, sungguh panggilan manja Yunho membuatnya merona merah.
"A..aku mau mandi dulu hyung."
"Hmm..ikut."
"Mwo ? Andwe !"
Jaejoong melepaskan dirinya dari genggaman Yunho. Ketika berdiri, ia meringis merasakan sakit pada pantatnya. Oh...bila mengingat semalam, wajahnya merona lagi. Yunho begitu lembut, menyatukan tubuh mereka.
BLAM
Jaejoong berendam di bathup, tidak henti-hentinya bibirnya tersenyum manis. Oh my God ! Perasaannya telah terjawab, Yunho juga mencintainya. Entah sejak kapan, Jaejoong tidak peduli. Dia hanya tahu sekarang Jung Yunho miliknya, yeah !
Yunho masih berbaring di tempat tidur Jaejoong, masih merasa malas untuk bangun. Tidak jauh berbeda dengan Jaejoong, bibir hati Yunho senyum-senyum sendiri. Hatinya terasa lega. Akhirnya seorang Kim Jaejoong miliknya.
Berbeda dengan Jaejoong, Yunho sebenarnya mengetahui bahwa Jaejoong menyukainya. Sikapnya begitu mencolok. Apalagi ketika Jaejoong cemburu, sangat terlihat jelas.
"Hihihi.."
"Apa yang kamu tertawakan hyung ?"
"Tidak."
Yunho melihat Jaejoong yang begitu menyilaukan hanya dengan handuk yang melilit manis dipinggangnya. Menatapnya begitu intens.
Jaejoong reflek menutup dadanya. "Ya ! Hentikan pandangan itu hyung."
Yunho hanya menyeringai, lalu ia menghampiri Jaejoong. "Jangan panggil aku hyung lagi, chagi-ah ~" bisiknya.
Oh Tuhan, demi jidat lebar Park Yoochun sekarang Jaejoong merinding mendengar suara itu.
"Ja..jadi ?"
"Pikirkanlah, itu homework untukmu."
CUP
Yunho mengecup bibir Jaejoong, lalu ia keluar dari kamar Jaejoong bersamaan dengan Kwon Ahjumma yang hendak membuka handle pintu kamar itu.
"Pagi Kwon Ahjumma !" sapanya.
"Yun..ho ?"
Yunho berlalu meninggalkan Kwon Ahjumma yang masih terlihat shock. Bagaimana tidak, siapa yang tidak akan shock bila melihat penampilan Yunho yang hanya memakai celana, bertelanjang dada, rambut yang acak-acakan. Dan jangan lupakan bekas cakaran dipunggungnya.
"Kwon Ahjumma ? Ada apa ?"
"Eh..tadi.."
"Oh, Yunho hyung semalam tidur di kamarku." Jaejoong menyela ucapan Kwon Ahjumma. Dia tahu bila Kwon Ahjumma pasti kaget.
Kwon Ahjumma memegang dadanya, sepertinya ia terkena serangan jantung sekarang. "A..apa terjadi sesuatu ?"
"Mwo ?"
"Ah..tidak apa-apa. Ahjumma hanya mengkhawatirkan kamu saja Jaejoong-ah, hari sudah siang. Ahjumma sudah menyiapkan makan siang."
"Ne, gomawo Ahjumma."
Kwon Ahjumma perlahan menutup pintu kamar tersebut. Kemudian ia tergesa-gesa menuju rumah belakang, mencari keberadaan suaminya.
"Yeobo !"
"Ne, aku disini ! Ada apa ? Kenapa teriak-teriak ?"
"Ini gawat yeobo."
"Ada apa ? Apa ada maling masuk ?" tanya Kang Ahjussi.
"Yunho,hosh..hosh..Yunho, Jaejoong.."
"Duduklah dulu, aku tidak mengerti."
Lalu Kwon Ahjumma duduk di kursi taman, meminum air pemberian Kang Ahjussi.
"Yunho terlanjur mencintai namja itu ! Bagaimana ini ?"
"Apa ? Aish..benarkah ?"
"Ne, aku melihatnya sendiri ! Mereka berdua tidur bersama yeobo."
Kang Ahjussi mengenggam tangannya. "Nona Bae Seul Gi tidak boleh mengetahui hal ini ! Kamu berbicaralah dengan Yunho, ingatkan bahwa dia sudah memiliki kekasih ! Ah, lebih tepatnya calon istri !"
"I..iya, aku akan berusaha."
Yah, hal yang dikhawatirkan oleh Kwon Ahjumma sudah terjadi. Inilah kenapa ia selalu marah bila Hwang Ahjumma menghubung-hubungkan Yunho dengan Jaejoong. Hanya Kwon Ahjumma dan suaminya, Kang Ahjussi yang mengetahui hal ini. Salah satu amanat dari Tuan Jung sebelum meninggal. Tertulis jelas di surat wasiat.
Bila umur Jung Yunho, anakku sudah mencapai 30 tahun. Perkenalkan dia dengan Bae Seul Gi, seorang yeoja kelahiran Korea yang saat ini tinggal di Los Angeles. Bae Seul Gi seorang anak perempuan salah satu klien-ku, Tuan Bae. Aku yakin kamu mengenalnya. Aku tahu Jung Yunho anak yang susah diatur dan terlalu keras kepala, namun tolong laksanakan amanat ini. Aku ingin Yunho menikah diumur 30 tahun, dimana usianya sangat matang untuk berkeluarga. Aku ingin melihatnya bahagia bersama yeoja pilihanku. Terimakasih Kwon.
.
.
.
Jaejoong sudah duduk manis di meja makan. Menumpukan kepalanya dikedua tangannya.
"Menungguku Joongie ?"
CUP
Yunho mengecup pipinya. Jaejoong tersenyum, merasakan wajahnya memerah lagi. Kebetulan saja Hwang Ahjumma sedang membawa segelas air putih untuk Jaejoong, tiba-tiba Hwang Ahjumma menjadi gugup bercampur senang.
"Jangan bermesraan dihadapan Ahjumma, Yunho-ah." Goda Hwang Ahjumma.
Jaejoong menundukkan kepalanya menahan malu karena pelayan lain di rumah Jung menangkap kemesraan mereka. Pasti akan segera tersebar begitu cepat di rumah Jung ini. Tentu saja karena si ratu gosip, Hwang Ahjumma.
"Dia sudah menjadi kekasihku, Ahjumma."
"Woaaah...itu kabar yang sangat baik untukku ! Selamat !" seru Hwang Ahjumma.
"Gomawo Ahjumma, aku sangat beruntung memiliki kekasih secantik Jaejoongie."
Jaejoong menyikut perut Yunho, dia sudah tidak tahan akan godaan Yunho. Hanya membuat jantungnya semakin berdetak cepat.
"Ah, silahkan makan." Kata Hwang Ahjumma.
"Terimakasih untuk makan siangnya Ahjumma." Kata Jaejoong.
Jaejoong mulai memakan makanannya dengan lahap sekali sampai ia tidak melihat Yunho yang memperhatikan gerak-geriknya.
"Uhuk..uhuk.." Jaejoong menepuk-nepuk dadanya.
"Minumlah, pelan-pelan makannya Joongie."
"Ne, terimakasih Yunnie.."
"Yunnie ? Aigo.."
"Wa..wae ?"
"Itu panggilan yang sangat manis untukku, tetaplah memanggilku seperti itu."
Panggilan itu terdengar sangat lucu bagi Yunho dan ia sangat menyukainya. Tak sada tangannya mengacak-ngacak rambut Jaejoong. Membuat bibir merah itu mengerucut, karena ia tidak bisa minum.
"Engh.."
Yunho mencium bibir Jaejoong dengan kuat, ciuman penuh gairah. Ciuman yang membuat Jaejoong kehilangan napas.
"Yunho-ah !"
"Wae Kwon Ahjumma ?" tanya Yunho dengan santai ketika si Ahjumma memanggilnya dengan nada agak membentak.
Kwon Ahjumma melirik ke arah Jaejoong yang menatapnya bingung. Sama halnya dengan Yunho.
"Ahjumma ingin bicara berdua denganmu saja, Yunho-ah. Akan Ahjumma tunggu hingga kamu selesai makan siang."
"Aku sudah selesai, di ruang pribadiku saja."
Yunho segera menuju ruang pribadinya yang diikuti oleh Kwon Ahjumma. Jaejoong ? Dia melanjutkan makan siangnya, tanpa ada prasangka buruk. Dipikirnya Kwon Ahjumma dan Yunho hanya membicarakan masalah biasa saja.
.
.
.
Jaejoong si namja cantik yang beruntung, mungkin saja, sekarang berada di rumah tingkat dua tidak dihuni. Disana ia kembali bertemu dengan sosok seorang namja bermata onyx yang tampan tapi menurutnya masih tampan Yunnie-nya.
"Jaejoong hyung ? Kenapa kemari ?"
"Aniya Changmin-ssi. Apa benar kamu mengenalku seperti yang kamu katakan kemarin ?"
"Aku tahu kamu bersembunyi di dalam lemari itu, keluarlah !"
Jaejoong yang mengetahui seseorang yang menggertaknya dan menyuruhnya keluar, masih diam di tempat. Menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Dia sangat takut saat ini.
TAP
TAP
Jaejoong mendengar langkah itu berhenti tepat di depan lemari.
KRIIETTT
Pintu lemari terbuka perlahan, Jaejoong menekuk lututnya, menggigit bibirnya, tidak berani memandang namja itu.
"Jaejoong hyung ?"
Merasa namanya dipanggil, Jaejoong mengangkat kepalanya.
"Kenapa berada disini hyung ?"
"Mwo ? Siapa kamu ?" tanya Jaejoong kemudian.
"Hyung ! Apa yang kamu katakan ! Aku Shim Changmin, hyung ! Minnie."
Jaejoong menggeleng-gelengkan kepalanya. Changmin menghela napasnya.
"Keluarlah dari lemari itu hyung."
Jaejoong keluar dari lemari, berdiri tepat di depan Changmin. Menatap wajah Changmin, berusaha mengenalinya.
"Aku tidak mengenalmu. Kenapa kamu memanggilku hyung ?"
"Hyung..apa yang terjadi.." lirih Changmin.
"Maafkan aku."
"Tidak, ini bukan kesalahanmu hyung."
"Eh ?"
"Sudahlah hyung. Sebaiknya tidak usah ke rumah ini lagi. Pergilah hyung ! Pergilah sejauh mungkin !"
"Aku.."
"Andwe ! Jangan berbicara lagi ! Pergi !"
Baru pertama kali dalam hidup Shim Changmin ia membentak seseorang yang lebih tua darinya.
"Ya, aku mengenalmu bahkan sangat mengenalmu hyung."
"Apa kamu mengetahui yang terjadi denganku ?"
Changmin berdiri, menatap jendela yang tepat mengarah ke rumah Jung.
"Aku tidak tahu." Kata Changmin berusaha jujur.
"Kenapa ?"
"Karena aku memang tidak tahu apa yang sedang terjadi sekarang."
"Mau mendengar ceritaku ?" Jaejoong menghampirinya dan berdiri disampingnya.
"Silahkan bercerita."
"Aku ditemukan pingsan di depan gerbang rumah Jung itu. Dan pemiliknya, Jung Yunho sangat baik denganku. Dia namja yang sangat baik."
"Baik ? Apa hyung yakin dia baik ?"
"Tentu saja, Changmin-ssi. Aku berpacaran dengannya."
DEG
Sebuah perasaan sakit menghampiri Changmin, bukan karena dia cemburu. Dia merasa sakit, kasihan bahkan ingin menangis mengetahui keadaan Jaejoong yang dipanggilnya hyung itu. Semua perkataannya sangat bertolak belakang.
"Oh, apa kamu bahagia bersamanya ?" tanya Chqngmin.
"Tentu saja Changmin-ssi. Ah, aku tidak tahu kenapa tapi aku sangat merasa nyaman mengobrol denganmu Changmin-ssi.
Changmin tersenyum, tubuhnya tergerak memeluk Jaejoong. Sosok yang sangat ia rindukan. Changmin tahu Jaejoong berada di rumah Jung itu. Karena selama Jaejoong berada disana, ia terus memantau dari rumah ini.
"Hyung, aku akan membantumu mengembalikan ingatanmu perlahan. Semua ini sangat tidak benar hyung. Suatu hari kamu akan mengetahui segala kebohongan yang ada." Bisik Changmin.
"Apa yang kamu katakan Changmin-ssi ?"
"Panggil aku Minnie, hyung. Aku merindukannya. Aku mengenalmu dan kamu mengenalku, hyung. Semua keluarga Jung adalah musuh."
Jaejoong mendorong kasar Changmin.
"Aku tidak mengerti denganmu !"
"Semua keluarga Jung adalah musuh. Itu katamu hyung. Kamu yang mengatakan hal itu kepadaku."
"Tidak ! Aku tidak pernah mengatakannya !"
"Itu karena hyung lupa ingatan. Seperti yang aku katakan, aku akan membantu hyung mengembalikan ingatan hyung perlahan."
Jaejoong berlutut di lantai, kepalanya terasa sangat sakit. Tangannya mencengkeram kepalanya.
"Minnie, lihat hyung membawakan makanan kesukaanmu."
"Benarkah ? Gomawo. Aku sangat menyayangimu hyung."
"Aku tahu Minnie."
"Aaarrgghhh !"
Jaejoong tidak kuasa menahan kepalanya yang sakit, sedikit memorinya yang hilang muncul kembali.
BRUUKK
Jaejoong pingsan di lantai yang kotor, dingin dan berdebu tersebut. Changmin berjongkok tepat di hadapannya.
"Aku sangat menyayangimu, Jaejoong hyung."
Changmin mencium kening Jaejoong, mengangkat kepala Jaejoong pindah kepangkuannya. Dielusnya dengan lembut kepala Jaejoong.
"Hyung, aku sangat menyukaimu mengelus kepalaku. Terasa sangat nyaman untukku."
"Hm ? Itu karena aku sangat menyayangimu."
Changmin mengingat dengan baik hal itu, yang ia lewatkan beberapa hari ini. Changmin sangat merasa membutuhkan sebuah kasih sayang yang sangat dirindukannya selama Jaejoong tidak ada. Changmin mengangkat tubuh Jaejoong yang pingsan, membawa ke dalam mobilnya. Lalu menidurkannya dikursi belakang.
Dengan setia, Changmin menunggu Jaejoong agar tersadar sendiri. Dan tidak berapa lama Jaejoong sadar.
"Ugh..sakit.."
Changmin menolehkan kepalanya ke belakang. "Hyung, tidak usah duduk dulu, nanti akan bertambah sakit."
"Di..dimana ini ?"
"Di dalam mobilku hyung. Haah...aku sungguh tidak percaya dengan yang terjadi denganmu hyung."
Jaejoong menyenderkan kepalanya. "Aku juga."
"Percaya kepadaku hyung, aku akan membantu memulihkan ingatanmu yang hilang."
"Tidak usah !"
"Eh ? Ke..kenapa ?" tanya Changmin gugup.
"Aku lebih senang dengan hidupku yang sekarang. Aku berpikir hidupku yang sekarang lebih baik daripada yang dulu. Aku mengingat ucapanmu yang mengatakan 'Semua keluarga Jung adalah musuh.' Hidupku yang dulu pasti tidak sebahagia sekarang."
Changmin terdiam untuk beberapa saat, sebenarnya menahan emosinya untuk tidak marah kepada Jaejoong. "Hyung, itu ucapanmu bukan ucapanku ! Aku bersumpah hyung akan menyesal dengan ucapan hyung !" Disetiap ucapannya terdengar emosi yang ditahannya.
"Gomawo, sudah saatnya aku pulang." Jaejoong tersenyum lalu menepuk pundak Changmin, setelahnya dia keluar dari mobil Changmin menelusuri trotoar komplek perumahan kembali menuju rumah Jung.
Changmin menggenggam erat stir mobilnya, kepalanya bersender pada stir. "Dasar bodoh ! Bodoh ! Bodoh !"
"Siapa itu keluarga Jung hyung ?"
"Mereka itu jahat, Minnie-ah. Ingat, semua keluarga Jung adalah musuh !"
Tanpa sadar Changmin membenturkan kepalanya di stir mobil.
.
.
.
Jaejoong baru saja sampai di rumah Jung, dia menuju kamar tamu hendak beristirahat mengingat kepalanya masih terasa pening.
"Joongie, darimana saja ?"
"Ah ! Hy..Yunnie, aku hanya berjalan-jalan saja."
"Oh, kenapa wajahmu pucat Joongie ? Apa sakit ?" tanya Yunho kemudian memegang jidat Jaejoong.
CUP
Jaejoong menunduk malu ketika Yunho mengecup bibirnya sekilas.
"Nah, sudah merah kembali wajahnya. Itu lebih baik." Goda Yunho.
"Yunnie.."
"Ah, Joongie ayo ikut aku. Kim Hyunjoong ingin bertemu denganmu. Tapi bila kamu lelah, aku bisa menundanya dulu."
"Siapa Kim Hyunjoong, Yunnie ?" tanyanya.
"Dia pemilik restaurant yang sedang mencari koki itu."
"Oh, ayo kita pergi Yunnie. Aku sehat-sehat saja."
.
.
.
"Selamat datang Yunho-ssi, silahkan masuk." Ucap Hyunjoong dengan ramah.
"Ne, terimakasih."
Lalu mereka bertiga sudah duduk di ruang tamu.
"Perkenalkan Hyunjoong-ssi, dia adalah Kim Jaejoong dan dia bersedia untuk kerja menjadi koki di restaurantmu."
Mata Hyunjoong memandang namja cantik yang duduk dihadapannya. Memang tadi dia melihat Yunho tidak sendiri, tapi dia baru saja memperhatikan bahwa namja itu terbilang cantik.
"Perkenalkan Kim Jaejoong."
"I..iya, saya Kim Hyunjoong."
'Tangannya begitu lembut.' Ucap Hyunjoong dalam hati.
"Jadi, apa kamu menerimanya sebagai koki di restaurantmu Hyunjoong-ssi ?"
"Iya, mungkin seminggu lagi Jaejoong-ssi dapat berkerja. Karena restaurant saya masih dalam tahap design interior-nya."
"Mwo ? Tanpa tes terlebih dahulu ?" tanya Jaejoong.
"Tidak perlu, aku yakin pilihan Yunho-ssi sudah yang terbaik. Benar bukan Yunho-ssi ?"
"Ne, masakannya sangat enak. Dia pernah memasak untukku."
"Oh. Kalau saya boleh tahu, apa hubungan Yunho-ssi dengan Jaejoong-ssi eoh ?"
Sebuah pertanyaan sensitif bagi Kim Jaejoong. Entah kenapa jantungnya berdetak cepat.
"Dia adik angkatku." Yunho menjawab dengan senyuman dibibirnya. Oh, dia melupakan seseorang yang menatapnya kesal, untuk kedua kalinya dianggap adik angkat saja."
"Hm, anda memang namja yang patut dicontoh Yunho-ssi." Hyunjoong membalas senyuman Yunho, namun lebih menjurus kesenyuman penuh rasa lega.
"Hyunjoong-ssi, seperti yang kamu katakan tentang pekerjaan, jadi Jaejoong dapat berkerja mulai minggu depan ? Lalu dengan jam kerjanya seperti apa ?"
"Iya, Jaejoong-ssi dapat berkerja mulai minggu depan. Untuk jam kerjanya, Jaejoong kuberikan waktu 8 jam kerja saja. Bagaimana ?"
"Bagaimana Jaejoong-ah ? Apa tidak keberatan ?" tanya Yunho.
"Tidak apa-apa, apabila sampai malam juga saya tidak keberatan Hyunjoong-ssi." Jawab Jaejoong tersenyum kepada Hyunjoong. Tidak peduli dengan Yunho yang menyikut lengannya cukup keras. Dia sedang kesal saat ini dengan Yunho yang tidak mengakui hubungan mereka. Apa salahnya ?
"Baiklah, Jaejoong-ssi. Saya harap anda menyukai pekerjaan ini. Sampai bertemu minggu depan." Akhirnya Hyunjoong menutup obrolan mereka, dia sempat melirik wajah tidak suka Yunho.
"Ne, terimakasih banyak Hyunjoong-ssi. Kuharap kita tidak usah se-formal ini." Jaejoong berdiri kemudian membungkukkan badannya.
"Baiklah. Terimakasih telah mencarikan karyawan, Yunho-ssi."
"Sama-sama Hyunjoong-ssi, kami permisi dulu." Yunho menggenggam tangan Jaejoong, sedikit menyeret namja cantik itu keluar dari rumah Kim.
"Sungguh pemandangan yang lucu." Hyunjoong menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku Yunho tadi yang seperti seorang kekasih cemburu.
.
.
.
Ketika sampai di rumah Jung, Jaejoong berjalan duluan meninggalkan Yunho. Langsung memasuki kamarnya, menutupnya dan menguncinya.
Yunho melihat dengan tatapan bingungnya, tidak mengerti apa yang terjadi. Benar-benar seorang Jung Yunho yang tidak peka.
"Halo Yoochun-ah ? Ada apa ?"
"Hyung dimana ? Aku mempunyai informasi menarik."
"Tentang siapa ini Yoochun-ah ?"
Yunho masih berbicara dengan Yoochun melalui telepo sambil berjalan ke kamarnya. Takut bila saja Jaejoong mendengar percakapannya dengan Yoochun.
"Tentang Kim Jaejoong, hyung. Aku sudah mengobrak-abrik semua data yang ada, dan akhirnya.."
"Apa Yoochun-ah ? Tidak usah bertele-tele."
"Akhirnya tentu saja membuahkan hasil. Ah, bagaimana bila aku ke rumah hyung saja ? Terlalu panjang bila melalui telepon."
"Ne, cepatlah kesini !"
.
.
.
"Selamat siang ! Terimakasih telah bersedia menemuiku Tuan Choi Siwon."
"Selamat siang. Anda Kim Junsu bukan ?"
"Ne, anda benar. Saya yang telah ke rumah anda bersama Yunho hyung."
"Ya, saya masih mengingatnya Junsu-ssi. Jadi ada perlu apa ?"
Kim Junsu dan Choi Siwon, mereka berdua sekarang berada di sebuah rumah makan pinggiran kota. Dimana Junsu mengundang Siwon untuk menemuinya disini.
"Langsung saja Siwon-ssi, apa anda mengenal Kim Jaejoong ?"
Good afternoon dear.
To be continued?
*Mianhe kalau Ze lama update. Ze baru pulang seminar di Surabaya. *abaikan*
Give me some review ~
Thank you for your review ~ I'm really appreciate that .
Balikpapan, 05 Juli 2013
ZE.
