Love and Pride

By Dragonjun

Harry Potter itu adalah milik J.K. Rowling.

Chapter 07. Friends

3 Oktober 1998

Seperti hari-hari biasa yang aku lalui, pada jam segini aku akan kembali ke perpustakaan untuk menyelesaikan PR atau hanya sekedar membaca buku-buku yang belum pernah ku baca. Ini sudah buku kedua yang kubaca, novel roman tentang percintaan. Mungkin kebanyakan dari mereka tidak percaya, tapi aku juga gadis dalam masa puber, tidak masalah kan kalau juga ikutan membaca novel.

Aku agak terkejut mendapatkan novel yang sedang aku baca ini, judulnya cintaku ada dan itu nyata. Novel ini terbitan baru, berkisah tentang sepasang kekasih yang berbeda status darah dan mengalami perjalanan cinta berliku. Aku menduga bahwa novel ini sebagai bentuk menciptakan era baru ini, atau mungkin penulisnya memang memiliki pengalaman seperti yang dia tulis.

Sayangnya ada yang mengganguku saat aku membaca bagian seru saat Taylor Bunn akan mengajak kawin lari si tokoh wanita Adele Lim yang merupakan perempuan darah murni. Dan orang itu adalah juga darah murni, Draco Malfoy.

"Kau mau apa, Malfoy?" tanyaku tanpa menegadahkan wajah dari novel yang sedang kubaca.

Draco menaikkan alisnya dan duduk di depanku.

"Kitasepakat untuk mengerjakan PR aritmancy, Granger! Apa kau lupa?" tanya Draco ketus.

"Okey. Maaf aku lupa," kataku. Aku menutup novelku seketika. Aku baru ingat kalau kami sudah sepakat akan mengerjakan proyek yang diberikan Professor Vektor.

"Kau membaca roman picisan?" tanya Draco jijik, aku melirik dari posisiku yang membungkuk sedang mencari bukuku. Aku menarik novel itu dari tangannya.

"Memangnya tidak boleh?" tanyaku balik, kumasukkan novel itu kedalam tasku.

"Hanya tidak pernah terpikir olehku kau punya sisi romantis," jawabnya, kemudian dia mulai membuka-buka bukunya.

Aku hanya memutar bola mataku, apakah tidak ada orang yang menganggap kalau aku juga gadis remaja biasa. Aku juga menyukai roman picisan, ataupun bergosip tentang cowok-cowok tampan. Tapi kenapa semua orang hanya menganggapku sebagai si kutu buku.

"Kadang membaca selain buku pelajaran juga berguna. Kau tidak pernah tau kapan kau bertemu dengan jodohmu," jawabku asal.

"Bukan masalahku. Terserah kau saja," kata Draco.

Aku kesal akan jawabannya, tapi kenapa juga aku harus mendiskusikan tentang diriku padanya? Kami mulai mengerjakan tugas kami. Ternyata Draco adalah orang yang sangat metodik, aku bisa melihat kenapa dia bisa menjadi orang yang sejajar dalam membahas masalah pelajaran. Aku terkejut mendapati diriku sangat nyaman berbicara dengannya, sesuatu yang tidak aku dapatkan dari Harry dan Ron.

Untuk dua jam kami membahas bagaimana memulai tugas kami, tahapan persiapan yang perlu di lakukan dan langkah awal memulai stimulasi formula yang sudah di berikan. Badanku terasa pegal-pegal karena duduk selama dua jam dan aku juga merasa bahwa Draco sama tidak nyamannya sepertiku.

Aku mengeluarkan cangkirku dan menyesap isinya. Terima kasih atas kehebatanku karena teh yang ada di dalamnya tidak tumpah. Tidak lama kemudian aku menyadari bahwa orang yang ada di depanku mulai membaui wangi teh yang kutambah dengan kayu manis dan sedikit lemon, kombinasi yang aneh kata Harry.

Aku mengeluarkan cangkirku yang satu lagi. Draco menaikkan alisnya, aku harus menahan diri untuk tidak tertawa. Kudekatkan cangkir itu ke arahnya tanpa memberikan insyarat lebih padanya, aku melihat dia mulai resah. Lima menit kemudian, Draco menarik cangkir itu dan menyesapnya.

"Ah.." desahnya tanpa bias ditahan.

Aku diam-diam menyeringai padanya.

"Apa yang kau tambahkan? Kayu manis?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Dan sedikit lemon," jawabku.

"Kombinasi yang aneh," komentarnya.

"Kau hanya perlu berterima kasih," kataku pelan.

Dia tertegun kemudian menatapku seakan baru pertama kali dia benar-benar melihatku. Dan kata-katanya kemudian membuatku lebih tercengang.

"Thanks!"

"Apa?" tanyaku memastikan.

"Terima kasih," katanya sambil menyeringai.

Aku berkedip satu kali.. dua kali.. tiga kali...

"Apa kau akan terus melongo seperti itu? kita harus menyelesaikan ini secepatnya, sebelum madam Pince mengusir kita dari sini," katanya mengagetkanku dari lamunan.

Aku hanya mengangguk tidak jelas.

"Sepertinya semua sudah selesai kita bisa membahasnya lagi di kelas, sekaligus mungkin kita bisa meminta saran dari Professor Vektor," jawabku setelah setengah jam kemudian.

Dia mengangguk.

"Baiklah kalau begitu," kata Draco.

Dia membereskan barang-barangnya dan mulai berdiri untuk pergi. "Okey, night Granger! Terima kasih untuk tehnya," katanya.

Aku terkesiap mendengarnya, namun buru-buru kujawab.

"Kau juga, mimpi yang indah," jawabku. 'mimpi yang indah? What's the hell with me?' pikirku horor.

Dia menatapku bertanya, kemudian tersenyum. "Kau juga, bye."

Setelah dia pergi dari pandanganku seakan badanku lemas semua. Kepalaku jatuh ke meja dan rasanya sakit. Aku tersadar dari lamunan sesaat aku melihat madam Pomfrey meneriaki mereka untuk meninggalkan perpustakan. 'apa yang terjadi padaku?'

..

Mengulang kelas tujuh berarti juga berbagi kamar dengan kelas dengan murid yang ada di tingkatku. Tapi untungnya kami tidak berbagi kamar juga. Aku sudah terlalu nyaman hanya berbagi kamar dengan Lavender dan Parvati. Walaupun mungkin aku akan senang juga untuk berbagi kamar dengan Ginny, tapi kenanyaman menurutku tidak bisa di tukar.

Aku tidak ingin memiliki satu orang sebagai jembatan diriku pada dunia, maksudku kebanyakan dari mereka hanya tau bahwa aku adalah sahabat baik Harry dan Ron, tapi sebenarnya aku juga punya banyak teman selain dari mereka. Memang mungkin aku tidak terlalu dekat dengan Lavender dan Parvati tapi aku cukup menikmati berbagi gosip dengan mereka, aku juga kadang belajar bersama Neville di perpustakaan tertutama Herbologi. Aku juga sering berdiskusi dengan para perfek diluar asrama Gryffindor, bahkan kadang aku merasa bahwa Harry juga menyadarinya tapi karena dia tidak berkomentar apapun, itu bukan masalah. Lagipula Harry tau dia tetaplah sahabat baikku apapun yang terjadi, Ron? Jangan tanya, dia jelas tidak akan menyadarinya.

Kenyamanan karena sekamar dengan Lavender dan Parvati adalah waktu-waktu seperti akulah yang memiliki kamar ini sendiri. Aku bisa meneruskan kembali belajar sendiri di kamar atau seperti saat ini membaca novelku sebelum tidur, sementara mereka sedang di ruang rekreasi untuk bergosip. Aku duduk di tempat tidur dan bersender di kepala dipan. Pintu kamar terbuka dan munculah dua teman sekamarku itu. aku melirik meja di sebelah tempat tidurku sudah hampir pukul sebelas malam.

Mereka masih berkikik sambil menganti piyama untuk tidur. Aku menutup bukuku ingin mendapatkan gosip terbaru.

"Jadi kenapa kalian mengikik? Adakah hal yang spektakuler yang terjadi?"

"Hermione, kau sibuk membaca novel terus sih! Kami mendengar kabar terbaru dari si Raja!" kata Lavender.

"Raja?"

"Raja, Hermione. Sekarang dia bukan lagi Pangeran, tapi Raja," kata Parvati.

Aku mengerutkan dahi, berpikir dan mengingat apakah aku pernah mendiskusikan tentang kerajaan dengan mereka.

"Aduh! Kau pasti tidak mengerti," kata Lavender sok. "Itu Pangeran Slytherin, dia sudah kembali dan mengambil posisi Raja," katanya lagi. Aku mengerti sekarang yang mereka bicarakan yaitu Draco Malfoy, sudah hampir dua tahun, tidak aku lupa yang pastinya saat kami di kelas lima mungkin, itu terakhir kali aku mendengar gosip tentangnya.

"Ya, mungkin dia ingin membuktikan bahwa dialah yang paling top. Kalian ingatkan minggu kemarin Zabini melakukan perayaan di depan aula besar," kata Parvati ada rasa kesal di nada suaranya.

"Oh, jadi siapa gadis itu?" tanya Hermione datar.

"Melanie Thone, anak kelas lima Ravenclaw. Gadis kecil berambut coklat menyebalkan," kata Parvati kesal, Lavender memberi tatapan.. kasian? Hermione sudah curiga bahwa Parvati tertarik dengan Draco Malfoy, tapi hubungan Slytherin-Gryffindor tidak pernah ada dalam daftar.

"Oh, ya. Anak kelas lima?" tanyaku memastikan.

Lavender mengangguk.

"Padma yang mengatakan. Dia melihat sendiri mereka sedang snoging di ruang kelas kosong tadi," kata Lavender.

Aku tidak percaya baru saja tadi Malfoy belajar bersamaku, dan dia langsung mendapatkan gadis. Aku mengeleng tidak percaya, mungkin lebih seperti tidak percaya apakah itu benar bisa terjadi. Tapi benar kata Lavender ini sudah waktunya si Raja Kembali pikirku.

"Kita harus menyiapkan penyumpal telinga besok, awas nenek sihir!" kata Lavender mengingatkanku dengan Parkinson, pacar resmi Draco Malfoy. Aku hanya bisa menggelengkan kepala sebagai respon.

"Tidakkah menurut kalian anak kelas lima itu terlalu muda?" tanya Parvati lebih kepada diri sendiri berpikir.

"Mereka hanya berbeda tiga tahun," jawabku datar.

"Ya, tapi bukankah si raja seharusnya lebih menyukai gadis yang sudah berpengalaman dari pada seorang amatir," katanya lagi.

"Kau tidak bisa bilang amatir pada Lavender waktu dia berusia lima belas tahun," jawabku keceplosan.

Lavender langsung memandangku menghina. "Setidaknya itu lebih baik daripada tidak memiliki pengalaman sama sekali," katanya sinis padaku.

Aku tersenyum kecut, menarik selimutku, malas untuk terus melanjutkan diskusi ini. Mereka masih membahas gossip-gosip terbaru, bahkan mulai membicarakan Ron. Aku jelas tidak ingin mendengarnya, membayangkan Ron yang sudah aku anggap sebagai saudara sendiri dari bibir Lavender bukanlah dongeng sebelum tidur yang aku inginkan. Beruntung besok adalah hari sabtu.

04 Oktober 1998

Rencananya adalah aku ingin tidur sampai siang karena ini hari sabtu, tapi nyatanya aku malah terbangun pukul lima pagi. Bahkan mataharipun malas untuk bersinar. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan dulu sebentar, mungkin danau adalah pilihan yang menarik, sambil menunggu Hagrid bangun dari pondoknya. Aku ingin belum mengunjungi Hagrid selama tahun ajaran baru dimulai. Aku sudah tidak sabar untuk melihat kebun labunya yang sudah berbuah.

Udara dingin oktober nyatanya tidak terlalu dingin untukku. Aku berjalan menyusuri danau, walaupun masih gelap, namun matahari subuh itu benar-benar indah. Aku tertegun saat melihat matahari terbit, beruntung selama aku sekolah di Hogwarts aku bisa melihat momen seperti ini, tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Aku tertegun melihat hal yang menurutku aneh. Ada tanaman bunga mawar di pinggir tepian danau. Baru kali ini aku melihat tanaman yang bukan tanaman sihir, ini agak konyol menurutku. Namun tiba-tiba ada suara yang memanggilku dari belakang, membuatku terkejut dan jatuh ke danau. Tetiba itu pula sekujur tubuhku basah oleh air danau yang dingin. Segera aku berenang kepermukaan dan kulihat orang yang baru saja semalam kutemui. Dia tidak mengulurkan tangan atau pun membantuku. Hanya melihatku kembali ke tepian.

"Sialan kau, Malfoy!" kataku saat mengambil tempat duduk di akar besar yang menonjol ke permukaan tanah. Aku mengeringkan pakaianku dengan cepat, untungnya tongkat sihirku tidak jatuh ke danau.

"Nice Granger! Tidak ada yang bisa mengalahkanmu dalam memberi salam," jawabnya acuh.

Aku mulai menyisir rambutku dengan tangan. Aku paling suka saat rambutku baru saja kering seperti ini, gelombangnya tidak terlalu berantakan dan rambutku terasa sangat lembut. Aku agak terkejut ketika Malfoy mengulurkan jubahnya untukku, dan aku baru menyadari bahwa aku hanya menggunakan kaos berlengan pendek dan celana pendek katun. Aku menerimanya saat dia juga duduk di sampingku.

"Kau tau ini, tempat terindah yang pernah kulihat," kata Draco menatap jauh ke matahari yang masih setengah terbit.

Aku mengangguk setuju.

"Kau beruntung bisa melihatnya," katanya lagi. Kata-katanya persis sama dengan apa yang aku pikirkan tadi, jadi aku tidak menjawabnya.

"Apa kau sering ke sini?" tanyaku.

"Kadang."

Aku menengok ke arahnya, dia masih memperhatikan matahari terbit. Entah kenapa aku merasa ada yang melilit di dadaku seakan aku tak bisa bernafas dengan benar. Apa yang salah? Aku hanya ngobrol dengan Malfoy.

Draco menengok kepadaku, sadar aku memperhatikannya.

"Apa sekarang kau sadar kalau aku tampan?" tanyanya.

"Apa?" tanyaku tersadar dari lamunanku.

"Kau menatapku, Granger!"

Aku mendengus. "Tidak seperti itu, Malfoy."

"Lalu seperti apa?" tuntutnya.

"Aku hanya sedang berpikir, siapa yang sebenarnya ada di sebelahku sekarang. Tapi ternyata aku hanya tertipu. Dia tetaplah musang menyebalkan," jawabku acuh sekarang giliranku yang menatap matahari terbit.

"Ya musang memang menyebalkan," katanya membuatku semakin terkejut.

"Ada apa Malfoy? Ini bukan Draco Malfoy kan? Apa ada orang yang mengakuisisi tubuhmu? Kau seharusnya menghinaku. Tunggu…. Darah lumpur? Tahu-segala? Semak?" tanyaku.

"Kau lebih suka kalau aku memanggilmu dengan semua itu?" tanyannya retoris. Okey, Draco Malfoy yang ini agak sedikit sulit kupahami.

"Tidak juga. Tapi .. bagaimana aku mengatakannya.. kau tidak seperti dirimu," kataku beralasan.

"Kau tidak pernah mengenalku, Granger!" sip fakta yang konkrit.

"Ayahku akan mendengar ini! Aku rasa aku cukup mengenalmu," tambahku, kenapa sekarang aku berpikir bahwa aku yang menyebalkan.

"Kau salah kalau begitu," katanya. Dia tersenyum simpul. Tersenyum…

"Katakan, Malfoy. Apa yang membuatmu berubah?" tanyaku.

"Aku tidak berubah. Kau yang tidak mengenalku," katanya lagi.

Aku hanya diam tak menimpali. Ya, aku tidak mengenalnya. Atau aku mungkin beranggapan aku mengenalnya. Selain seorang darah murni, mantan pelahap maut, anak manja, apa yang aku ketahui tentang seorang Draco Malfoy? Tidak ada.

Aku tidak bisa menghentikan diriku untuk memandangnya lagi, namun kemudian aku melihat tanda kegelapan di lengannya. Tanda hitam itu memudar seperti tato lama. Tapi jelas membuat cacat keindahan lengan itu.

"Apakah itu.." kataku menunjuk tanda kegelapan. ".. sakit?" tanyaku

Draco terkejut dan melihat arah mataku. Aku bisa melihat dia tidak nyaman,

"Tidak lagi," jawabnya.

"Apa kau menyesali. Bergabung dengan pelahap maut?" tanyaku memberanikan diri. Aku cukup mendengar bahwa dia bergabung menjadi pelahap maut dibawah ancaman, namun tidak bisa dipungkiri dia pernah mengembar-gemborkan bahwa dia ingin menjadi pelahap maut –tentu sebelum mengetahui dan berhadapan langsung dengan Voldermort-.

Cupingnya memerah dan hidungnya mengerut, dia terlihat amat tidak nyaman, namun kemudian dia menjawab, "Sangat. Aku kehilangan hal yang berharga hanya karena ini."

Sulit bagiku untuk tidak membalas perkataannya, "Itu bukan kau," kataku tanpa aku sadari. Draco menengok kepadaku seakan-akan dia belum pernah melihatku dengan jelas.

"Tanda itu mungkin tidak akan pernah hilang. Sama seperti pemberinya, jahat dan jelek. Tapi tanda itu bukan milikmu, kau masih bisa memilih jalanmu sendiri, dan belum terlambat," kataku kemudian.

Dia kemudian tersenyum padaku… berterima kasih? Mungkin.

"Nice, Granger!" katanya. Kemudian berdiri, aku ikut berdiri dan memberikan jubahnya. Dia mengambilnya dan langsung pergi begitu saja. Melihat pungungnya dari belakang disinari oleh cahaya matahari terbit. Perasaan sedih meluap dan keinginan untuk memeluknya muncul tiba-tiba, untuk mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja.

Menarik nafas untuk menenangkan diri akan perasaan meluap aneh itu. Aku melihat kembali matahari yang sekarang sudah sepenuhnya terbit. Benar, ini adalah tempat paling indah.

_TBC_

AN/ ah ... terima kasih atas reviewnya. saya akan berusaha untuk update lebih cepat tapi entahah,, hahha, semonga cerita ini ngk jadi basi hehehe.

NB: tetiba ingin makan pizza...