Chapter 6 : REMEMBER OR FORGET

Title : That's Should Be Mine

Pairing : Meanie (Mingyu and Wonwoo)

Cast : Seventeen member

Rating : NC-17 for later

Genre : Angst, Violence, Smut, Rape, Romance

Long : Chaptered

Chapter : 6/?

.

.

REMEMBER OR FORGET?

.

.

"KIM MINGYU YOU BASTARD, WAKE UP YOU FAGGOT!"

Mingyu terbangun mendengar teriakan itu dan setelah itu kulihat seorang lelaki menampar wajah Mingyu persis saat aku membuka mata.

"ABEOJI."

.

.

Panik melanda Mingyu dan Wonwoo. Bagaimana tidak? Ayah Mingyu sekarang berada di kamar Mingyu dan menyaksikan anaknya dalam keadaan telanjang bersama dengan pemuda lain. Tanpa bertanya pun pasti Mr. Kim sudah tahu kalau mereka berdua baru saja melakukan sex.

"PULANG KE RUMAH SEKARANG JUGA DAN TINGGALKAN PEMUDA BEDEBAH INI!" suara Mr. Kim membahana di ruangan yang hening.

"Tapi Abeoji."

"TIDAK ADA TAPI-TAPIAN. IKUT AKU PULANG KE RUMAH ATAU AKU AKAN MENYERETMU DALAM KEADAAN TELANJANG SEPERTI INI?"

"Abeoji, aku bisa menjelaskan semuanya," sekali lagi Mr. Kim memotong perkataan sang model dengan melakukan sesuatu yang sungguh keji.

Mr. Kim manampar wajah Wonwoo dan secepat kilat menarik lengan Wonwoo yang masih gemetar ketakutan karena situasi yang sangat mendadak ini dan mulai menyeret sang model junior sehingga Wonwoo terjatuh dari tempat tidur dan sempat meringis kesakitan,"Mr. Kim. Please let me go."

"Abeoji, lepaskan dia. Kumohon."

"You faggot didn't deserve to be here," dengan kasarnya ayah sang senior terus menyeret Wonwoo yang masih dalam keadaan telanjang bulat hingga ke pintu apartemen dan mendorong tubuhnya sampai-sampai punggungnya membentur dinding apartemen sebelah.

"Apa yang ayah lakukan?"

"PERGI DARI SINI KAU PELACUR!"

BRAKK

Selepas berkata demikian, Mr. Kim langsung saja menutup pintu apartemen anaknya tepat di depan muka Wonwoo. Sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, Wonwoo hanya bisa menekuk tubuhnya dan menangis. Dia menangis sesenggukan sambil memeluk kedua lututnya. Sekarang, bukan hanya badannya saja yang sakit, tapi hatinya sudah hancur berkeping-keping. Harga dirinya tiada sudah. Dia bukan lagi Jeon Wonwoo seorang model yang terkenal, tapi hanya seorang pelacur yang diusir ke jalanan dalam keadaan telanjang dan terhina.

Dari luar, Wonwoo bisa mendengar suara barang-barang yang pecah karena membentur dinding atau juga suara tamparan dan suara teriakan, hingga tiba-tiba saja pintu apartemen terbuka dan memunculkan figur Mingyu yang kini sudah berpakaian lengkap yang segera saja mendekatinya dan membungkuskan selimut ke tubuh telanjang Wonwoo.

"Wonwoo hyung, mianhae," sambil berbisik di telinga Wonwoo yang masih sibuk menangis, Mingyu segera membopong tubuh sang junior dan membawanya pergi dari situ.

"YAH KIM MINGYU! ANAK TAK TAHU DIUNTUNG KEMBALI KEMARI KAU!" terdengar teriakan penuh amarah Mr. Kim dari dalam apartemen.

"Gyu, I'm scared," rintih Wonwoo yang terus-menerus gemetaran sembari menyembunyikan wajahnya di lekukan leher sang model tampan.

"It's okay. I'm here."

.

.

Mata Jisoo terbelalak kaget saat membuka pintu apartemennya terbuka dan menemukan Mingyu bersama dengan seseorang yang dikenalnya yang sekarang dalam keadaan tak sadarkan diri.

"Gyu, what's wrong?" Jisoo segera membukakan pintu lebar-lebar agar Mingyu yang masih membopong Wonwoo dapat masuk dengan mudah ke dalam tempatnya tinggal bersama Seokmin.

"Hyung, Seokmin ada di rumah?"

"Ne. Gyu, apa yang terjadi pada Wonwoo?" sang gitaris menatap ngeri pada tubuh lemah Wonwoo yang sekarang sudah terbaring di atas kasur kamar tamu.

"Kau kenal Wonwoo, Hyung?" Mingyu mengalihkan perhatiannya pada sang gitaris yang masih terlihat shock.

"Tentu saja Gyu. Dia adik kelasku saat SMA dan kebetulan kami lumayan dekat sebelum aku pindah ke Amerika."

"Baguslah kalau begitu kau pasti kenal Soonyoung dan Jihoon? Iya kan, Hyung?"

"Tentu saja."

"Tolong telepon mereka sekarang, dan katakan pada mereka untuk segera kesini. Tolong panggilkan juga Seokmin," sang model langsung memberikan instruksi pada Jisoo.

"Baiklah," Jisoo berlari keluar kamar dan langsung saja menabrak Seokmin yang masih sibuk mengucek-ucek matanya karena baru saja bangun tidur.

"Baby, kenapa kau lari-lari?" Seokmin membantu Jisoo yang terjatuh dan memberinya tatapan aneh seakan-akan bertanya padanya apakah ia barusan melihat hantu atau monster?

"Baby, temuilah Mingyu di kamar tamu. Dia ingin membicarakan sesuatu padamu."

"Mwo? Mingyu ada di sini? Kapan ia datang? Aku tidak mendengar suaranya barusan."

"Yah Seokmin-ah, masuklah ke kamar tamu sekarang!" Jisoo mendorong tubuh kekasihnya yang masih setengah sadar karena baru bangun tidur memasuki kamar tamu dengan susah payah.

"Hei-hei, apa-apaan ini?"

.

.

Mingyu POV

Aku duduk di pinggiran tempat tidur tempat Wonwoo terbaring tak sadarkan diri. Aku perhatikan dengan seksama wajahnya yang sekarang penuh dengan lebam dan pipinya yang bersimbah air mata. Oh, God apa yang telah aku lakukan padanya? Kenapa aku menyeretnya ke dalam persoalanku yang pelik?

Kususurkan jari jemariku ke wajahnya yang terlihat lebam, ke matanya yang pasti akan sembab karena ia kelelahan menangis, ke bibirnya yang berdarah. Kemudian kusibakkan rambut hitamnya yang menutupi dahinya dan kukecup pelan dahinya itu.

Kini kugenggam erat tangannya dan turut kukecup pula punggung tangannya. Aku benar-benar monster. Aku telah melukainya. Bukan hanya aku saja yang melukainya lahir dan batin, tapi ayahku juga telah melakukan hal yang sama padanya. Wonwoo tidak pantas menerima semua perlakuan keji itu, pikirku. Aku sangat ingin sekali membenturkan kepalaku pada dinding atau benda padat apapun sehingga pikiranku bisa jernih dan bisa membedakan mana yang seharusnya kulakukan dan mana yang tidak.

Saat aku masih terlarut dalam kesedihan, kudengar suara Seokmin memasuki kamar tempatku berada. Kuhapus airmata yang sempat bersarang di ujung mataku dan kupalingkan wajahku ke arahnya. Kutunjukkan sebersit senyum sebelum akhirnya aku mulai berbicara.

"Seok, I need to tell you something."

"Apa?"

"Kau lihat pemuda ini?" tanganku menunjukkan Wonwoo yang masih tak sadarkan diri," Dia Jeon Wonwoo. Dia adalah juniorku di perusahaan dan juga seorang model yang berbakat. Kau pasti pernah melihatnya kan?" kutunggu dulu reaksinya.

"Ne," ucapnya sambil menganggukkan kepalanya. Memang Seokmin pernah bertemu dengan Wonwoo suatu hari saat dia sedang menungguku di lobi perusahaan.

Setelah menarik napas panjang dan mempersiapkan mental, aku lanjutkan bercerita,"Dialah yang kuperkosa. Aku tidak memperkosa gadis manapun, tapi aku memperkosa pemuda ini."

Seokmin langsung saja melayangkan tinjunya ke wajahku saat aku bercerita padanya bahwa yang telah kuperkosa bukanlah seorang gadis, melainkan Wonwoo yang kini ada di hadapannya. Dia langsung naik pitam dan benar-benar marah karena kulihat dia sedang berusaha keras menguasai emosinya. Aku tak akan menyalahkannya, bahkan jika ia berniat membunuhku-pun, aku tak akan berusaha mengelak. Karena aku tahu, bahwa aku telah membuat Wonwoo amat menderita dan aku pantas mati karenanya.

"FUCK MINGYU, APA YANG KAU PIKIRKAN SEBENARNYA? KAU MENGANIAYA PEMUDA TAK BERDOSA INI DAN MEMBUATNYA SAMPAI SEPERTI INI. SHIT, YOU ARE SUCH A MONSTER GYU," Seokmin kembali mencengkeram kerah bajuku dan hendak melayangkan kembali tinjunya, namun entah mengapa diurungkannya niatnya itu. Sebagai gantinya, ia mendorong tubuhku dengan kasar hingga aku terjatuh ke lantai dan menabrak sisi tempat tidur.

Aku mendesis karena lenganku yang menabrak kaki tempat tidur serasa terbakar, namun aku tidak peduli. Sekali lagi kutatap mata sahabat karibku itu dan kuseka darah yang mulai keluar dari sudut bibir dan hidungku.

Setelah beberapa saat,"Lanjutkan," perintahnya setelah ia merasa agak tenang.

"Aku memaksanya ke apartemenku dan semuanya berakhir dengan sex. Pagi ini, ayahku datang ke tempatku dan menemukan kami berdua dalam keadaan telanjang. Dia marah besar dan memukulku. Tidak hanya itu, dia juga menyeret Wonwoo keluar dari apartemen dalam keadaan telanjang. Aku marah besar karena perbuatannya itu dan akhirnya tanpa sadar aku memukulkan asbak kaca di ruang tamu ke kepala ayahku."

"So, kau mau mengatakan kalau kau melakukan semua itu untuk menolong Wonwoo?" Seokmin berkacak pinggang di depanku membuatku takut. Memang otot lengannya tidak sebesar milikku, tapi karena seolah ia adalah penegak kebenaran sehingga aku merasa benar-benar kecil dihadapannya.

"Ne. Aku tahu apa yang telah kulakukan padanya selama ini adalah perbuatan keji yang bahkan tak mungkin bisa dimaafkan. Tapi, setidaknya aku akan mencoba untuk berhenti Seok," aku menunduk menatap lantai dan mendesah pelan.

"Baguslah, kau bisa melakukan sesuatu yang benar kali ini," Seokmin berjalan ke arahku dan menepuk pundakku seolah mengatakan bahwa dia ada di sisiku dan akan membantuku. Tangan kanannya terulur untuk membantuku berdiri yang dengan senang hati langsung saja kusambut.

"Seokmin-ah, aku mohon bantulah aku," aku mengiba pada Seokmin dan sahabatku itu langsung menarikku ke dalam pelukannya.

"Apa yang harus kulakukan?"

"Biarkan aku dan Wonwoo bersembunyi di sini untuk beberapa waktu."

Pemuda yang sebaya denganku itu tampak berpikir beberapa saat kemudian berkata,"Baiklah. Tapi, kau harus berjanji kalau kau tak akan menyakiti pemuda malang itu lagi."

Aku mengangguk.

.

.

"Wonwoo-ya," Jihoon masuk ke dalam kamar tempat aku dan Seokmin bercengkerama kemudian langsung menghambur memeluk tubuh Wonwoo yang terbaring lemah.

Mata Jihoon yang berlinang air mata segera beralih ke arahku dan dia beranjak ke tempatku berdiri kemudian memukul-mukul dadaku dengan kerasnya sambil berkata,"KIM MINGYU, KAU KURANG AJAR! BAGAIMANA BISA KAU MENYAKITI WONWOO HINGGA IA SEPERTI INI? KAU INI MONSTER... BAJINGAN."

Dia terus-terusan memukulku dan beberapa saat kemudian tangannya mencengkeram kerah bajuku dan mengguncang-guncang tubuhku yang saat itu berasa tidak ingin bergerak. Soonyoung datang dengan tergesa-gesa dan segera saja mencoba melepaskan cengkeraman tangan kekasihnya dari kerah bajuku.

"Baby, tenanglah!" Soonyoung hyung memeluk Jihoon yang langsung menangis sesenggukan di dada kekasihnya itu.

"Soonyoung-ah, bagaimana nasib Wonwoo?"

"Tenanglah, dia pasti akan sadar sebentar lagi," ucap Soonyoung menenangkan Jihoon.

"Dokter Kang sudah datang. Sebaiknya kita berikan ruang agar beliau bisa segera memeriksa keadaan Wonwoo," Jisoo yang tiba-tiba muncul diikuti oleh seorang dokter membuat kami semua menyingkir dari tempat tidur dan mempersilakan dokter itu untuk mengecek keadaan Wonwoo.

Setelah pemeriksaan ke sekujur tubuh Wonwoo, dokter Kang berkata,"Apakah dia korban perkosaan?"

Kami semua terdiam mendengar pertanyaannya yang begitu mendadak.

"Hm, baiklah kalau begitu. Saya rasa luka karena perkosaan itu sudah mulai sembuh, jadi tidak perlu terlalu khawatir. Yang harus segera disembuhkan adalah luka lebam dan memarnya. Saya akan menuliskan resep untuk pasien. Tolong segera ditebus obatnya dan usahakan agar pasien meminumnya secara teratur."

Begitulah saran dokter Kang.

"Aku dan Jihoon akan menebus obat ini. Kalian tolong jaga Wonwoo," ujar Soonyoung hyung.

"Baiklah, hati-hati di jalan," balas Jisoo.

End of Mingyu POV

.

.

Wonwoo POV

"Kau ini hanyalah seorang yang hina Jeon Wonwoo," kudengar sebuah suara yang membuatku membuka mata.

Tidak ada siapapun di sana. Bahkan tidak ada apa-apa sama sekali. Yang ada hanyalah putih dan putih serta cahaya yang benar-benar terang menyilaukan. Kutepis sinar yang menyilaukan itu dengan punggung tanganku.

"Kenapa kau tidak mati saja Jeon Wonwoo? Bukankah kau merasa sakit? Bukankah kau merasa terluka?" suara itu kembali terdengar.

"Siapa kau?" aku memberanikan diri untuk menanggapi perkataannya.

"Aku adalah kau Jeon Wonwoo. Aku adalah kau yang tersakiti. Aku adalah kau yang terluka. Aku adalah kau yang menderita. Aku adalah kau yang menangis. Aku adalah kau yang terhina. Dan aku ada disini untuk membantumu."

"Membantuku?" aku sedikit bingung dengan apa yang barusan dikatakannya, tapi kemudian aku hanya berkata,"Bagaimana caranya kau membantuku?"

"Semuanya mudah Wonwoo. Kau hanya tinggal memilih antara INGAT atau LUPA."

"Apa yang akan terjadi kalau aku memilih salah satu diantaranya?"

"Kalau kau memilih INGAT, maka kau akan mengingat semua yang pernah kau alami, baik itu hal yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Tapi, jika kau memilih LUPA, maka kau akan melupakan semua kesedihan yang pernah kau alami dan hanya akan mengingat kebahagiaan yang pernah terjadi padamu. Dan secara otomatis kita tidak akan pernah bertemu lagi."

"WAE?"

"Karena aku adalah bagian dirimu yang tersakiti Wonwoo."

"A-a-aku ti-tidak bisa memilih," akupun terduduk lemas karena tidak tahu apa yang harus kulakukan.

Jika aku memilih di antara keduanya, apa yang akan terjadi? Sekarang saja aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Sekarang saja aku masih tidak tahu aku ada dimana dan bagaimana aku sampai disini pun aku tidak tahu. Sekarang rasanya aku ingin menangis.

"Wonwoo, tidakkah kau lelah menangis? Tidakkah kau lelah tersakiti? Tidakkah kau lelah dihina?"

Aku mengangguk pada setiap pertanyaannya. Entah kenapa, tapi aku merasa bahwa perkataannya itu benar. Hatiku serasa remuk dan benar-benar sakit, seolah tubuhku tertusuk oleh ribuan pedang yang benar-benar tepat menghujam jantungku.

"Kau ingin bahagia?"

Untuk kesekian kalinya aku mengangguk pada pertanyaan suara yang tidak kuketahui asalnya.

"Pilihlah."

"A-a-aku me-memi-memilih..."

"Ya Wonwoo."

End of Wonwoo POV

.

.

TBC

Ya ampun ini ff terlalu banyak silent reader-nya. Dari 500an view, yang ninggalin komen Cuma 20. Ampun dah.. btw thanks buat yang udah komen.

Jawaban buat pertanyaan:

Ini mpreg nggak thor? –Mian ff ini nggak mpreg. Jadi si Wonwoo yang unyu-unyu nggak bakalan punya anak. Kalo mau baca yang mpreg, liat di ff yang baru author publish judulnya IT'S OKAY MY LOVE. Disitu Wonwoo sama Mingyu punya anak, si imut Minwoo.

Buat yang minta Mingyu ama Wonwoo cepetan dinikahin bapak sama ibunya.. –mian juga karena ff ini genrenya heavyangst, jadi kita perlu drama yang lama dan penyiksaan yang lebih kejam. Hehehe, jadi buat nikahannya Meanie, kita tunda dulu ya.

Komentar tentang adegan smut –ada yang byuntae mode on, ada yang bilang hot, ada yang bilang kurangin inggris. Bahasa inggris di sini biar anak kecil susah paham sama adegan itu.

Okay sekian cuap-cuap author, see you di chap berikutnya kalau komennya sudah memenuhi kuota. Wkwkk.. pyong..