Hi, guys! :)

It's great to read your reviews for previous chapter. And I thank you guys for giving me your support so I can continue to write this story.

Please look forward for next chapter! And please write more reviews, I can't wait to read them :)

Xiexie ni men ^^

.

.

.

.

Luhan hanya bisa menatapi layar handphone yang terus berkedip di tangannya. Nama "Xiumin" tertera di sana. Ini sudah panggilan yang kesekian kalinya ia abaikan. Ia tahu Xiumin pasti sangat khawatir padanya karena Luhan tidak menjawab panggilannya dari semalam. Tapi ia juga sulit untuk menjelaskan keadaannya sekarang, ia tidak ingin pula Xiumin mengetahuinya. Tapi Luhan juga tidak bisa berdalih jika Xiumin menanyakan keadaannya saat ini. Tidak menjawab panggilannya adalah pilihan terbaik, walau rasanya lebih mudah jika ia menonaktifkan handphone -nya.

Tangannya merasakan reaksi aneh ketika getaran dari handphone-nya terasa lebih singkat. Ia lantas membuka sebuah pesan yang baru saja masuk, dari Xiumin:

Kenapa tidak menjawab? Kris sudah memberitahuku, Lu.

Mata Luhan terbelalak membaca kalimat terakhir. Kenapa tidak terfikir olehnya? Kris sudah pasti memberi tahu Xiumin.

Apa yang ia katakan? Luhan pun membalas pesannya.

Dia bilang kau di rumah sakit karena mengalami kecelakaan. Apa kau kehilangan pikiranmu! Kenapa tidak berusaha menghubungiku? Kau fikir bagaimana perasaanku disini mendengar keadaanmu seperti itu?

Aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Lalu kenapa kau masih disana?

Luhan terdiam. Di kepalanya sudah terfikir kalimat untuk membalas pesan terakhir itu dan jari-jarinya pun siap menari, tapi rupanya ia terlalu takut dan segera diurungkan niatnya tersebut. Disakukan kembali handphone-nya ke celana jeans yang baru saja ia kenakan semenit yang lalu. Kemudian dengan kaus yang menggantung di lengannya ia membungkus tubuhnya yang sedari tadi dibiarkan setengah telanjang. Melapisinya sekali lagi dengan sweater rajut lalu melangkah keluar dari karavannya.

Kenapa semua jadi runyam

Luhan terus memikirkan kejadian awal sampai sekarang, kenapa bisa jadi serunyam itu. Sambil melangkah keluar dari karavannya Luhan memikirkan hal-hal yang telah terjadi itu berkali-kali. Masuk kembali ke dalam rumah sakit membuat nafas Luhan terasa berat. Ia benci dengan alasan ia harus berada disana. Langkahnya semakin berat kala ia menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai tempat kamar ICU berada. Sungguh ia tidak ingin jauh-jauh dari ruangan itu.

Seharusnya tidak seperti ini.

Sambil terduduk di depan kamar rawat Sehun, tidak ada yang bisa dipikirkan lagi selain kejadian beberapa hari terakhir ini. Luhan hanya terdiam di tempat duduknya, mengacuhkan keadaan rumah sakit yang ramai di depan matanya, beberapa orang lalu lalang tidak digubrisnya.

Pening. Mungkin rasanya sekarang Luhan lah yang membutuhkan pertolongan dokter karena sakit kepalanya memikirkan ini semua. Luhan tanpa sadar mengambil kembali handphonenya yang berada di sakunya, dibaca sekali lagi percakapan dipesan-pesan singkat yang dikirim oleh Xiumin. Hingga sampai pesan terakhir. Luhan belum berani untuk membalasnya.

Ia mengamati pintu itu, tidak bisa masuk dan melihat keadaan di baliknya. Ia menerawang ke dalam, melihat Sehun terbaring di atas ranjangnya. Kemudian mata Sehun terbuka dan menyadari kehadiran Luhan, lalu anak pirang itu tersenyum padanya seperti berkata bahwa ia baik-baik saja. Tapi semua itu hanya khayalan Luhan. Ia tidak sungguh-sungguh mengetahui seperti apa keadaan di dalam sana.

Jantungnya berdegup sedikit lebih keras ketika ia beranjak dan sekarang berusaha menempelkan telinganya di pintu itu untuk mencuri dengar suara apapun yang bisa ia dengar dari dalam. Pintu itu terasa dingin ketika menyentuh daun telinganya, tapi hanya untuk beberapa saat. Karena tiba-tiba pintu itu terbuka.

" Lu?" Luhan hampir terhuyung ketika Suho membuka pintunya. Mulutnya pun terkunci tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjelaskan keadaannya. Beruntung Suho langsung menambahkan. " Apa kau ingin melihat Sehun?" matanya mendelik dan Luhan pun dengan segera memberikan Suho anggukan dengan semangat. Tapi Suho hanya tertawa dan menepuk pundak Luhan.

" Maaf Luhan, belum waktunya." Segera Suho menutup pintunya kembali, dan Luhan menyadari kesempatannya melihat ke dalam berusaha mencari celah di balik kepala Suho dan, nihil. Ia hanya bisa melihat gorden pembatas.

" Bagaimana keadaannya?" Luhan sangat berharap kali ini kabar baik yang diterimanya. Ia tidak tahu apakah ia masih sanggup menerima "pukulan-pukulan" lagi di dadanya.

" Let's have a walk." Ujar Suho tersenyum. Suho selalu menyampaikan berita apapun dengan keramahannya. Ia berusaha membuat ekspresi seperti semua akan baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan walaupun pada kenyataan adalah sebaliknya.

" Aku harus menghubungi keluarganya. Tapi aku khawatir mereka akan panik, dan mungkin menyusul kesini sedangkan mereka sangat jauh dari tempat ini."

" Berikan kabar seperlunya, dan katakan pada mereka bahwa semua akan baik-baik saja." Suho tersenyum lagi.

" Apa yang harus aku katakan pada mereka tentang keadaan Sehun saat ini?"
" Hm..keadaan Sehun saat ini, begini, Sehun kekurangan darah. Aku sedang berusaha mencarikan tambahan darah tapi sepertinya rumah sakit kehabisan stok."

" Bagaimana mungkin itu terjadi? Untuk rumah sakit sebesar ini?"

" Tentu saja mungkin, golongan darah seperti Sehun memang tidak begitu banyak persediaannya. Dan kami membutuhkan darah utuh segar, yaitu yang umurnya di bawah 24 jam masa simpan. Di saat seperti ini cukup sulit untuk mendapatkan yang seperti itu."

" Apa golongan darah Sehun?" Suho melirik pada Luhan. Untuk beberapa detik Suho memberi tatapan heran. Tapi mata Luhan tidak lepas darinya menuntut jawaban dengan segera.

" Lalu apa yang kau lakukan jika kau tau?"

" Aku akan mendonorkan darahku, jika golongan dan rhesus-nya sesuai."

" Sungguh?" Suho bertanya meyakinkan. " Tapi yang kita butuhkan cukup banyak. Dan kau..kau begitu kurus, aku ragu." Suho mengamati tubuh Luhan dari kaki hingga kepala.

" Sungguh! Aku memang terlihat kurus, tapi tubuhku sehat. Berat badanku juga ideal. Aku tidak selemah yang kau fikirkan." Suho masih terdiam mengamati Luhan dan sejenak langkah mereka terhenti.

" Kau semangat sekali, Lu."

" Suho, saat ini, apapun yang bisa aku lakukan agar Sehun selamat, pasti akan ku lakukan." Suho terdiam lagi, sedang Luhan mengunci pandangannya pada Suho agar Suho bisa melihat kesungguhan di matanya saat ini.

" Apa golongan darahmu?"

" B. Rhesus positif."

" Wah, aku terkejut. Golongan darah kalian sama." Suho tersenyum.

" Tunggu apa lagi?" Suho terkekeh mendengar kalimat itu dari Luhan, anak ini lebih semangat dari rusa penarik keraeta santa.

Mengabulkan permintaan Luhan, Suho membawanya ke ruangan di sisi lain rumah sakit. Mereka tidak dapat langsung melakukannya karena antrian pasien sedang penuh. Hanya menunggu beberapa antrian pasien, Luhan akhirnya bisa masuk atas wewenang Suho sebagai dokter disana. Di laboratorium seorang petugas memeriksa Luhan atas perintah dokter Suho. Setelah semuanya dipastikan dalam keadaan baik, Luhan siap diambil darahnya. Tapi kemudian sesorang yang baru saja muncul di depan pintu menghentikannya.

" Let me do it." Kehadiran Kris cukup mengejutkan Luhan, dan juga Suho.

" Kris? I thought you were doing surgery right now?"

" I postponed it." Kris memberikan isyarat pada petugas lab untuk pergi.

" For this?" tanya Suho heran. Tapi Kris tidak menjawab pertanyaan lelaki itu.

" You really wanna do this, Lu?" tanya Kris pada Luhan yang wajahnya memucat. Luhan hanya mengangguk ragu. " You don't have to do this, Lu. We can find another donor."

" No." Luhan menahan tangan Kris yang sedang berusaha membuka ikatan yang membendung darah di lengannya. " I have to." Kris menatapnya keheranan. Masih tidak percaya dengan yang dilakukannya.

" But you afraid of-"

" I know. But I have to." Luhan segera menghentikan ucapan Kris. "Please just do it." Luhan dan Kris saling bertatap, dan Kris menuntut penjelasan yang panjang setelah semua ini selesai. Dan pada akhirnya Kris siap mengambil sekantung darah Luhan.

" Kalau kau merasakan sesuatu yang tidak enak pada dirimu, katakan saja Lu." Ujar Suho mengarahkan.

" Close your eyes. It will make it easier for you." Luhan menurut pada Kris. " And hold your breathe when I say 'ready'." Luhan menarik nafas dalam-dalam. "Ready?" Luhan menahan nafasnya dan..

" Akh!" Luhan merintih sakit ketika jarum menusuk kulitnya.

" Tenang, Lu. Ini hanya akan terasa sakit sedikit." Suho menenangkan.

" No. It won't be a little bit hurt for him." Ujar Kris menggoda Luhan yang mukanya masih menahan ngeri.

Setelah 10 menit berlalu, Luhan akhirnya bisa bernafas lega ketika jarum itu sudah lepas dari tubuhnya. Suho memberikannya sebotol susu untuk memulihakan kondisinya. Dan tidak sampai beberapa menit susu itu langsung habis diteguknya.

" I need more." Luhan segera meninggalkan ruangan itu setelah berterima kasih pada Suho dan Kris. Ia harus segera menjernihkan pikirannya dari apa yang barusan terjadi yang cukup memberikan nya tambahan tekanan atas apa yang sudah ia rasakan hingga saat ini.

Luhan mendekati toko konvenien yang berada di depan rumah sakit, dia membeli beberapa kaleng soda dan sekotak cigarette. Lalu mendudukan dirinya sambil menyalakan satu batang dari sekotak yang baru saja ia beli. Ia hisap dalam-dalam dan dihembuskannya perlahan.

Di sekitarnya sedang turun butiran salju membuat lapisan es itu menebal di kakinya. Lama hingga batangan itu habis ia hisap dan dua kaleng sodanya telah habis dia melihat handphonenya yang bergetar. Jantungnya berdegup lebih keras takut-takut mendapati nama yang sama di layarnya dengan beberapa panggilan-panggilan sebelumnya. Ternyata itu hanya Kris.

Where are you?

I'm outside. In the convenience store across the street.

Tak lama setelah Luhan membalas pesan singkat dari Kris, dia melihat Kris menyebrang keluar dari rumah sakit sudah melepaskan jas dokternya. Kris berlari kecil sambil melindungi kepalanya dari butiran salju yang menghujamnya dari langit, dengan tangannya.

Dia menatap kearah Luhan dan ke meja tempat asbak yang penuh itu berada secara bergantian.

" Jeez, Lu! How much did you smoke?" bicara Kris sedikit kaget melihat beberapa batang yang memenuhi asbak, ditambah sebatang yang masih menyala di tangan kanan Luhan.

" Almost a pack. Maybe." Jawab Luhan asal menghiraukan nada pertanyaan Kris yang tinggi

" You're losing your mind." Kris duduk di sebrang Luhan. " It's about him, isn't it?"

" Who?" asap mengepul keluar bersama kalimat Luhan.

" Who? Who do you thik it is? Wow Lu, you're in dilema."

" No, I'm not."

" Then why you still asking who? You knew what I mean is Xiumin. Who else?" Luhan terdiam, dan dahinya seperti berusaha mengeluarkan peluh walau suhu disini hanya beberapa derajat. Luhan tidak bisa menyangkal bahwa Kris benar. Siapa lagi yang Kris maksud yang bisa mengganggu pikirannya, selain xiumin. Apakah pikirannya yang salah? Atau dugaan Kris yang salah? Xiumin tidak benar-benar satu-satunya yang dapat menguasai pikiran Luhan?

" Or, is there anybody else, Lu?" Luhan masih terdiam, tatapannya kosong kearah asbak yang isinya berantakan . " It's actually Sehun, right?"

" You can tell." Jawab Luhan datar.

" Why so afraid to tell Xiumin the truth?"

" I can't. I'm gonna mess up everything. I feel guilty." Luhan menarik nafasnya dalam dan mematikan sebuah puntungan yang menyala di tangannya.

" What will you do if you were me Kris?"

" I'll tell Xiumin everything. Well, there's nothing to be afraid of. What's so wrong for being with your friend right now in this kind of situation? You just wanna help him right? As a friend? Xiumin will understand."

Lagi-lagi kalimat Kris menghantam kepalanya dengan keras. Kebenaran yang Kris sampaikan hanya semakin membunuhnya untuk menerima kenyataan bahwa yang Luhan rasakan kini lebih dari yang Kris pikir.

" It's all up to you. How you see your self in this situation."

" But Xiumin won't get that easy."

" Sure. Because you act like this. You ignoring his calls. You didn't reply his text. What do you think he feels right now?" hawa di sekitarnya terasa semakin dingin. Luhan pun mengusap tengkuknya yang tidak terlindungi syal. " Xiumin is going crazy. He knew that there might be something between you and Sehun. And when you act like that, xiumin more sure that he was right. But if you tell him what actually happen, you help him to believe that there's nothing to worry about."

" But there is nothing to worry about." Luhan menyangkal.

" Really?"

" Yes." Kris dapat mencium keraguan pada Luhan.

" Okay then, if 'there is nothing to worry about'. You should go home now."

" What?" Kris mengeluarkan sebuah potongan kertas yang Luhan yakini adalah sebuah tiket. Diambilnya potongan kertas itu dan dilihatnya nama kampung halamannya tertulis pada kolom tujuan. Itu adalah sebuah tiket kereta untuk satu perjalanan ke Guangzhou.

" Xiumin wants you to take that train to go home. It's not easy to get that ticket these days." Luhan terdiam cukup lama.

" How about Sehun?" jelas Luhan memikirkan Sehun. Karena anak itu lah yang menjadi alasan ia tidak mengambil jalur cepat untuk pulang ke Guangzhou dari awal.

" He's fine. After we transfused your blood to him, he's better now. He'll wake in a couple hours."

" Good." Ujar Luhan datar berusaha menahan kebahagiaan di hatinya.

" You don't need to worry. We'll give him a ride." Luhan mengangguk. Tapi hatinya masih ragu untuk pergi walaupun dia bisa memastikan mereka akan mengantar Sehun pulang. Bukan Luhan tidak percaya pada sahabatnya itu, tapi untuk meninggalkan Sehun sendirian? Entahlah. Pikirnya.

Kris mengantar Luhan ke karavan Sehun. Ia membantu Luhan membereskan sedikit barang-barangnya yang akan dia bawa untuk berangkat nanti. Kris terkesan dengan mobil besar itu, dan ia meyakinkan Luhan bahwa ia pun akan memilih melakukan perjalanan dengan box besar itu ketimbang menggunakan transportasi lain yang lebih cepat. Kris banyak bicara selama ia membantu, tapi di kepala Luhan hanya ada Sehun dan dirinya yang sedang mengendarai karavannya menembus kabut dan badai salju, membelah padang rumput yang memutih karena tumpukkan es, dan tentu saja saat-saat mereka tersesat tapi malah menemukan pemandangan indah dari pantai di musim salju. Tapi lagi-lagi kejadian itu menghantam pikirannya sekeras hantaman truk pada karavan mereka.

Setelah semuanya beres, Kris membiarkan Luhan menunggu dengan Suho di loby rumah sakit sebelum ia mengantarnya ke stasiun. Ia menghirup nafasnya berat, terasa lebih berat bahkan sempat membuatnya tertahan dan memberikan sensasi sesak di dadanya.

This is it. This is the end of our journey, Sehun.