Disclaimer : Yuri on Ice not mine
Rage by Cyancosmic
Warning: AU, Fem!Yuuri, Fem!Yura, OOC, 1st pov
.
.
.
Enjoy!
Yura : Escape
Tsk, berita ini lagi?
Jemariku kembali menggeser layar, menyusuri artikel dengan judul besar-besar yang menarik perhatianku. Di sisi paling atas, tertulis 'Benarkah Viktor Nikiforov dibunuh?' disertai dengan foto pemuda itu, terpisah dengan keluarganya dan gambar perusahaan besar Nikiforov terpampang di satu kolom. Tanpa membaca lebih detail pun sebenarnya aku sudah dapat menduga isinya, namun biar begitu aku merasa perlu membaca dan menelusuri artikelnya.
Ahli waris grup Nikiforov yang diduga tewas beberapa minggu lalu kini berada dalam tahap penyidikan polisi. Tim forensik masih mencoba mengidentifikasikan jenazah yang mereka temukan di tepi sungai dan mencocokannya dengan ciri-ciri fisik dari Viktor Nikiforov. Hanya saja, tim forensik menemui jalan buntu mengingat begitu hancurnya wajah, serta sidik jari jenazah. Bahkan bentuk giginya pun tidak bisa dicocokan karena tidak ditemukan gigi pada jenazah.
Oleh karena itu, tim forensik hendak melakukan tes DNA pada jenazah untuk mendapatkan titik terang. Proses pencocokan DNA dilakukan dengan mengambil sampel pada keluarga terdekat korban. Sayangnya, Lilia Nikiforov, belum dapat dimintai keterangan mengenai pengambilan sampel DNA ini.
Sementara tim forensik mencoba mengidentifikasikan jenazah, polisi dan detektif yang bertugas tengah berusaha mengumpulkan bukti-bukti terkait kekerasan pada jenazah. Jenazah diduga mengalami tindak kekerasan sebelum jenazahnya dibakar. Sulit dipastikan, namun melihat kondisi jenazah yang tidak bergigi dan dihancurkan sidik jari juga ciri-ciri fisiknya, detektif dapat menyimpulkan bahwa siapa pun korbannya memang dibuat seperti itu agar penyidik tidak bisa mendapatkan identitasnya.
Kepolisian yang bekerja sama dengan detektif mengambil kesimpulan sementara bahwa jenazah belum tentu Viktor Nikiforov, sang ahli waris perusahaan tersebut. Hanya saja, melihat ada seseorang yang bersikeras menyamarkan jenazah sebagai Viktor Nikiforov, polisi menduga ada kasus lain yang lebih besar dibalik hilangnya sang ahli waris grup Nikiforov itu. Untuk itu, kepolisian berencana bekerja sama dengan badan internasional untuk mengungkap kebenaran di balik hilangnya Viktor Nikiforov.
Namun, kepolisian cukup pesimis untuk dapat menemukan Viktor Nikiforov. Pasalnya, dengan ditemukannya jasad tersebut, pemerintah seolah hendak menutup kasus ini dengan menyatakan bahwa Viktor Nikiforov telah meninggal. Oleh karena itu…
Kugerakkan jemariku menuju ke tombol kunci yang terletak di samping handphoneku. Aku menekan tombolnya, mematikan handphoneku dan langsung memasukkannya ke dalam tasku. Aku enggan untuk membaca lebih lanjut karena sudah memperkirakan apa yang akan tertulis selanjutnya. Antara penyelidikan mengalami jalan buntu dan kasus tak lagi dilanjutkan, atau pemuda itu ditemukan dengan sehat walafiat. Jelas bukan berita yang kuharapkan untuk kubaca.
Aku heran. Kenapa para polisi itu bisa menyimpulkan bahwa pemuda itu menghilang atau meninggal semudah itu? Pemuda sejahat itu mana mungkin semudah itu mati dan ditemukan sebagai jenazahnya. Kalau begitu berarti yang ada di rumahku itu hantunya? Memangnya ada hantu Rusia yang punya bayangan, bernapas, lincah dan gemar mengekor ke mana pun kakak perempuanku pergi? Kalau ada hantu semacam itu, sudah kuminta eksorsis untuk melenyapkannya dan mengirimkannya ke neraka.
Tapi sayangnya tidak ada eksorsis yang dapat mengirim hantu jenis itu ke neraka. Yang ada, para eksorsis, polisi ataupun detektif sudah menyerah duluan bila berhadapan dengan pemuda menyebalkan yang selalu mengekor kakak perempuanku ke mana pun ia pergi. Dugaanku, ia melakukan itu untuk mengingatkanku akan ancamannya. Ia berniat menyakiti Yuuri dan karena itu ia terus mengikutinya untuk mengambil tindakan di saat aku melakukan sesuatu yang membahayakan posisinya.
Ah sial! Inilah akibatnya kalau punya kakak perempuan yang terlalu polos dan naif. Ia tidak pernah bisa membedakan bahwa bodoh dan naif itu bedanya sangat tipis. Kebaikan hatinya suatu saat akan menjerumuskannya dan akulah yang lagi-lagi harus berjuang untuk menyeretnya keluar dari jebakan tersebut.
Kuacak-acak rambutku dengan ganas, membuat rambut pirang yang telah kukepang rapi itu berantakan. Memikirkan soal kakak perempuanku dan penjahat itu membuatku frustasi. Aku bingung, apalagi yang harus kulakukan untuk menyadarkan Yuuri bahwa pemuda itu seorang penjahat. Kulit kepala kakak perempuanku itu terlalu tebal sehingga ia tidak bisa mendengarkan kata-kataku. Kenaifannya tiada duanya. Ia sepertinya lupa bahwa orang yang ia beri makan, yang ia beri tempat tinggal itu adalah orang yang sama dengan orang yang merebut tempat tinggalnya dulu. Entah kenapa, fakta itu mudah sekali diabaikan olehnya.
"Yura!"
Lamunanku langsung buyar saat mendengar suara tersebut. Aku menggerakkan kepala dan menoleh pada satu-satunya teman perempuan yang tadi memanggilku. Melihat kedatangannya, aku pun melipat kedua tanganku di depan dada, menurunkan alis, memicingkan mata. Aku berjuang memasang ekspresi terbaikku untuknya.
"Mau apa kau, Mila?"
"Sinis sekali," tegur gadis itu sambil menaruh tangannya di kepalaku, membantu mengacak-acak rambutku yang sudah berantakan. Gadis dengan rambut pendek sebahu berwarna merah marun itu tersenyum lebar padaku dan kembali berkata, "Kau mau crepes? Kutraktir."
"Kenapa tiba-tiba kau mau mentraktirku?" Alis menukik tajam, dahi berkerut, begitulah ekspresiku untuk menyambut sahabatku satu-satunya itu. "Membelikan minuman kaleng saja kau tidak mau, sekarang kau mentraktirku crepes? Besok sepertinya akan turun hujan salju."
"Kenapa kau curiga begitu?" tanya gadis itu sembari mencibir. "Memangnya kau tidak bisa menebak bahwa aku baru mendapatkan honor dari kerja sambilanku?"
"Kerja sambilan?"
Mila tersenyum lebar sambil mengangkat dua jari di salah satu tangannya, membentuk tanda peace. Kemudian ia berkata, "Begitulah."
"Kerja sambilan di mana?" Aku kembali bertanya. Setahuku, gadis ini tidak pernah bekerja sambilan. Untuk apa? Keluarganya 'kan bukan orang susah sepertiku atau pun Yuuri. Justru akulah yang harusnya bekerja sambilan, bukannya dia.
"Di bar," jawab gadis itu sembari merangkulkan tangannya ke bahuku. "Aku bekerja di bar yang sama dengan kakakmu."
"Hah? Itu berarti kau bekerja larut malam?"
"Tidak, tidak, jam kerjaku hanya dari pukul 6 sore hingga 10 malam, shift yang singkat," jawab Mila sambil berjalan bersisian denganku sementara tangannya diletakkan di bahuku. "Tapi di sana, aku bertemu dengan pangeran tampan yang sulit kulupakan."
"Pangeran?" Aku memandangnya sinis, mendengar kata-katanya. Istilah 'Pangeran' itu agak berlebihan dan kuno menurutku. Memangnya zaman sekarang masih ada gadis yang mendambakan pangeran? Oh please!
"Iya, ada satu pemuda tampan yang menjadi DJ di sana." Mila berkata sambil tersenyum. "Mau kutunjukkan fotonya?"
"Tidak usah, terima kasih," jawabku cepat, tidak tertarik dengan pemuda tampan yang dikatakan Mila. Terakhir kali ia menyebut seseorang tampan ketika ia bertemu pria pengganti guru tari kami bernama Celestino. Kalau seperti itu saja sudah masuk standar tampannya, aku tidak mau tahu lagi pemuda macam apa yang ia bilang tampan kali ini.
"Jadi, kita beli crepes dulu ya?"
"Ah! Soal itu, aku harus segera pulang," jawabku sambil menyingkirkan tangannya dari atas bahuku. "Kakak perempuanku cerewet sekali kalau aku pulang terlambat. Belum lagi, sekarang ini ada tambahan satu orang yang perlu diawasi."
Mila mengerutkan dahi saat mendengar ceritaku. "Maksudmu ada saudaramu yang datang?"
"Begitulah." Aku menjawab asal sembari berjalan beberapa langkah lebih dulu di depan gadis itu. Begitu sudah berada jauh di depannya, aku mengucapkan selamat tinggal pada Mila dan segera berlari menuju ke rumah. Namun sebelum aku berlari lebih jauh, gadis berambut merah marun itu menarik syal bermotif totol binatang di leherku, membuatku terjerat hingga terpaksa menghentikan laju.
"Mila!"
"Kupikir-pikir, aku kehilangan mood untuk makan crepes," jawab gadis itu sembari mengangkat bahu. "Mungkin hari ini aku akan pulang langsung ke rumah saja."
"Jangan ikut-ikutan!"
Menanggapi ucapanku, ia hanya tertawa dan berkata, "Aku tahu Yura senang ditemani olehku. Tenang saja, aku tahu sifatmu kok, Yura! Kau tidak perlu malu."
Sungguh aku bingung menghadapi orang-orang berpikiran luar biasa positif seperti Mila. Logika sederhana yang kupikir masuk akal pun sulit diterapkan untuk orang-orang seperti mereka. Diusir seperti apa pun, ketidakpekaan gadis ini sanggup mementalkan ucapan sinis yang diterima olehnya. Alhasil, aku yang selalu lelah menghadapi semua tingkahnya.
"Ngomong-ngomong, Yura," gadis itu kembali memulai pembicaraan, sembari menempel-nempel padaku, "kakakmu sudah lunas membayar hutang?"
Aku menggerakkan kepala, enggan menatap gadis itu."Kenapa kau mengungkitnya lagi sih?"
"Bukan apa-apa, hanya saja, aku mendengar gosip tidak enak di tempat kerjaku itu," Mila berkata sementara aku berjuang menjauhkan wajahnya dari pipiku. "Kudengar beberapa orang yang berhutang pada JJ ditemukan tidak bernyawa, atau hilang. Bukan berita bagus 'kan?"
"Bukan," aku mengakui. "Tapi darimana kau kalau orang-orang itu menghilang? Orang yang sudah menghilang 'kan tidak bisa memberitahumu."
"Salah satu temanku berhutang pada JJ," lanjut Mila yang kembali menggerakkan tangannya, mencoba memelukku. "Temannya temanku, tepatnya. Kami bersama-sama bekerja di bar JJ, seperti kakakmu, dan minggu lalu ia menghilang, tak ditemukan."
"Bisa saja ia melarikan diri dari hutangnya dan kabur ke suatu tempat 'kan?" Kudorong kembali kepalanya dan kusingkirkan lengannya. Kakiku menjauh hingga dua tiga langkah untuk menghindari pelukan mautnya. "Hanya karena itu saja kau tidak bisa mengaitkannya dengan JJ."
"Memang sih, tapi… belakangan ini kondisi di bar juga aneh," Mila berkata lagi sembari memeluk dirinya sendiri. "Banyak orang-orang tak dikenal masuk sembari menodongkan senjata, bahkan sampai terjadi baku tembak waktu itu. Mereka marah dan meneriakkan hal-hal seperti kembalikan uang kami, dan semacam itu."
"Makanya kalau hanya itu saja…"
"Aku takut," ucap Mila sambil memeluk dirinya. "Aku takut, Yura."
Mendengar itu, aku pun mengatupkan semua perkataan sinis yang tadinya sudah hendak terlontar dari bibirku. Bila Mila, gadis super tidak peka yang kukenali saja sampai berkata begitu, berarti kondisinya benar-benar gawat. Herannya, dengan kondisi segawat itu Yuuri masih memilih untuk bekerja di sana. Apa itu berarti ia tidak takut?
Ah! Yuuri 'kan kenaifan dan ketidakpekaannya lebih parah dibanding Mila. Melihat baku tembak yang terjadi di bar, bisa saja ia mengira bahwa sedang diadakan sandiwara besar untuk memeriahkan suasana. Entah mengapa, biarpun tak sepenuhnya paham, aku mulai bisa menebak ke mana jalan pikiran gadis naif satu itu.
Tsk! Kenapa aku malah memikirkan Yuuri lagi?
"Kalau memang kau takut, berhenti saja," jawabku sembari meletakkan kedua tanganku di belakang kepala. "Kenapa harus memaksakan diri bekerja di bar?"
"Tapi…tapi…"
"Gara-gara pemuda tampan seperti pangeran yang barusan kau ceritakan?" Aku menebak duluan sebelum Mila sempat menyebutnya. "Paling-paling ia juga tidak sadar bahwa kau bekerja di bar yang sama dengannya. Lebih baik kau cepat berhenti sebelum kau menyesal."
"Kau tidak ingin mendukungku?"
"Apa untungnya buatku?" Aku berbalik, berjalan mundur sembari mengangkat bahuku. "Kau bekerja atau berhenti tidak ada pengaruhnya untukku."
"Kau tidak mau mempertimbangkan crepes gratis setiap gajian?"
Kuletakkan tanganku di pinggang, "Menantang bahaya hanya demi sebuah crepes? Otakmu bermasalah, ya?"
"Ah, benar-benar pedas mulutmu itu," kata Mila sambil menghela napasnya. "Tapi, Yura…"
Ucapannya terhenti mendadak ketika pandangannya bertemu denganku. Ralat, tidak bertemu denganku, melainkan bertemu dengan orang yang berada di belakang punggungku. Melihat ekspresinya, aku pun tidak ingin segera berbalik sebenarnya. Sayangnya, rasa ingin tahu yang tak tertahankan menekanku lebih daripada rasa takutku, sehingga membuatku menggerakkan kepala, menatap persis pada sosok yang dilihat Mila sebelumnya.
"Yura Plisetsky?"
Dahiku berkerut begitu melihat seseorang bertubuh besar dengan setelan jas serba tertutup menyebutkan namaku. Aku tidak ingat pernah bertemu pria ini, kenapa pria ini memanggil namaku? Belum lagi, lima atau enam pria berpenampilan serupa juga berdiri mengelilingku dan Mila. Ada apa sebenarnya? Sejak kapan pria yang mengenakan kacamata hitam, memiliki luka goresan di pipi juga tato di tangan punya urusan denganku?
Keenam pria itu semakin lama semakin mendekat, mengepung kami berdua. Beberapa orang yang lewat sempat melihat kejadian ini, tapi mereka memilih untuk pergi, berlari dan menjauh. Firasatku tidak enak.
Merasakan adanya bahaya dari kemunculan pria-pria ini, aku pun tidak lagi menimbang-nimbang. Aku menggerakkan kakiku dan melompat, menjauh. Sayangnya, aku yang gesit ini tidak cukup cepat untuk meloloskan diri dari jangkauan tangan pria-pria tersebut. Belum ada dua langkah aku berlari, seseorang sudah memegangi siku tanganku, mengangkatku dengan mudah hingga meronta pun percuma. Orang tersebut berkata, "Sebaiknya ikut dengan kami."
"Kenapa aku harus ikut?"Aku bertanya sambil tetap melakukan gerakan sia-sia tersebut. Setidaknya lebih baik dibandingkan Mila, sahabatku yang baik. Ia hanya dapat duduk di tempatnya dengan tubuh gemetaran, tidak sanggup lari. Sungguh, si bodoh satu itu. Kalau begini aku hanya bisa memancing mereka agar menaruh perhatian padaku dan bukan pada Mila. "Aku tidak punya urusan dengan Om-Om."
"Memang tidak, tapi kau punya urusan dengan petinggi kami,"ucap salah satu dari mereka yang berdiri di samping orang yang memegangi lenganku. Pria bertubuh besar yang mengenakan anting-anting di telinganya itu menyentuh wajahku dan berkata, "Mata biru, rambut pirang, pasti banyak orang yang akan membayar mahal untuk yang satu ini."
Apa maksudnya? Membayar mahal? Siapa? Aku?
"Y-Yura…"
"Gadis yang ini mau diapakan?" Salah satu pria yang mengenakan setelan jas hitam dan mengenakan kalung rantai besar di lehernya menarik rambut Mila, hingga ia menjerit. Namun jeritan itu tidak menghentikannya untuk menyentuh wajah si gadis, memutar-mutarnya dan berkata, "Apa sebaiknya dibawa juga?"
"Bawa saja," jawab yang berada di sampingku, sepertinya dialah pemimpinnya. "Kita memang sedang kekurangan orang."
Mendengar itu, tubuhku langsung bergerak, meronta dari cengkeraman orang yang memegangi tanganku. Melihat gerakanku, orang itu mencengkeram tanganku semakin erat, membuatku mengernyit pelan. Namun kuputuskan untuk mengabaikannya dan fokus pada hal-hal yang lebih meminta perhatianku.
Sialan! Apa di sekitar sini tidak ada satupun orang yang dapat menolong kami? Apa mereka semua hanya dapat memalingkan wajah dan berlalu tanpa ada niat untuk membantu? Setidak-tidaknya memanggil polisi akan lebih kuhargai dibanding pergi begitu saja.
Sayangnya, tidak ada seorang pun yang berniat begitu. Seperti sebelumnya, orang-orang yang lewat langsung memalingkan wajah, berjalan cepat-cepat, berusaha untuk tidak melihat kenyataan bahwa ada dua orang gadis muda yang tengah berurusan dengan pria-pria sangar. Tentu saja. Apa yang kuharapkan? Kalau aku jadi mereka, aku pun akan berlaku serupa. Untuk apa aku menyelamatkan seseorang yang tidak ada untungnya buatku?
Sadar bahwa aku tidak mungkin mengandalkan orang lain, aku pun mencoba menggerakkan kembali lenganku. Gerakanku membuat pria yang menjagaku itu mencengkeram sikuku dengan lebih erat, membuatku berjengit kesakitan. Mendengar jeritanku, bukannnya berhenti, pria itu malah tertawa keras-keras.
"Gadis kecil," ujarnya sembari berbisik di dekat telingaku dengan mulutnya yang berbau busuk, "sebaiknya turuti kami, dan kami akan memperlakukanmu dengan baik."
"Turuti?" Aku berkata sambil menatap pria ini.
"Benar, turuti kami dan kupastikan kau tidak akan…"
Sebelum ia menyelesaikan ucapannya, aku lebih dulu menarik pisau yang ia selipkan di pinggang. Secepat yang kubisa, kutusuk tangan yang mencengkeram sikuku itu sekuat tenaga, membuat pria itu menjerit keras. Sementara ia mengaduh, aku buru-buru melepaskan diri dan bergerak mendekat pada Mila. Aku mencoba meraih gadis itu, sebelum pria-pria yang lain menyanderanya.
Untungnya, gadis itu segera menyadari gerakanku. Melihatku berlari ke arahnya, gadis itu langsung bangkit berdiri dan menyesuaikan langkahnya denganku. Bersama-sama, kami memacu kecepatan berjuang meloloskan diri. Kami mencoba masuk ke dalam gang-gang sempit, menjatuhkan penghalang-penghalang kecil, berharap bahwa penghalang itu dapat memperlambat pengejar-pengejar kami. Namun, para pria itu sepertinya cukup terlatih untuk menghadapi dua gadis muda yang mencoba kabur. Pasalnya, setiap hambatan yang kutaruh tidak mempersulit mereka. Bukannya semakin lambat, mereka malah semakin cepat, sementara aku dan Mila semakin terpojok.
Puncaknya pun terjadi ketika kami sudah tidak punya tempat tujuan lain dan terpaksa berhenti di depan tembok setinggi empat meter yang berdiri menghadang kami. Terengah-engah, aku menoleh ke belakang, menyadari bahwa pria-pria itu akan datang sebentar lagi. Aku harus segera memikirkan cara untuk keluar dari masalah ini.
"B-bagaimana ini…" Mila berkata sambil memegangi kepalanya. "Mereka.. mereka akan menjualku, mereka…"
"Mila…"
"Mereka akan menjualku…, mereka akan menyakitiku, mereka… mereka…"
"Mila…"
"Kenapa… kenapa jadi begini? Aku… aku tidak bersalah… aku…"
Aku mengguncang bahu gadis itu. Dengan suara keras aku berkata, "Mila Babicheva, kalau kau punya waktu untuk berkomat-kamit tidak jelas, sebaiknya kau pikirkan cara supaya kita selamat!"
"Y-Yura…"
"Kenapa sih semua orang di sekelilingku seperti ini…," keluhku sembari memejamkan mata selama sesaat sebelum kembali berbalik, menatap ke jalan tempat kami datang. Aku menganalisis tempat yang kami datangi, sebelum memerintahkan diri sendiri untuk berpikir.
"Y-Yura..."
"Kalau kau hanya bisa menangis, sebaiknya kau diam," jawabku sambil menggerakkan kelima jariku dan menghadapkannya pada Mila. "Aku sedang berpikir."
"Ada kanopi."
Selama sepersekian detik, aku menatap Mila yang menunjuk ke sebuah kanopi yang tak kuperhatikan sebelumnya. Kanopi yang terbuat dari kain lentur yang sepertinya sanggup menyangga beratku dan berat Mila. Melihat kanopi itu, tumpukan peti telur tak terpakai dan teras bangunan, rupanya memberikanku sebuah ide.
"Kau duluan," ujarku sambil menyusun peti-peti kayu, membuatnya seperti barikade, sekaligus sebagai pijakan untuk Mila. "Aku menyusul."
"Tapi…"
"Kau lebih lambat dariku!" AKu menjawab sebelum ia sempat bertanya mengapa aku mempersilakan dirinya melarikan diri lebih dulu. "Kalau kau di belakang, kau bisa ditangkap."
"Kau sendiri…"
"Aku lebih cepat darimu!" Aku bersikeras sambil menyusun peti-peti tersebut. "Mila, cepatlah!"
Mendengar paksaanku, Mila pun tidak membantah lagi. Secepat yang ia bisa, gadis itu memanjat peti-peti bekas telur yang telah kususun membentuk sebuah tangga. Ia sedikit kehilangan keseimbangan saat memanjat, sehingga aku harus memeganginya. Untunglah ia berhasil naik ke kanopi tanpa terjatuh dari ketinggian dua setengah meter.
Aku pun mencoba mengikuti gadis itu dan memanjat kanopi menggunakan peti-peti kayu. Sayangnya, sebelum aku sempat melakukannya, seseorang sudah keburu menarik rambutku, membuatku jatuh menabrak aspal. Sakitnya membuatku pusing hingga sulit melihat situasi.
"Yura!"
Suara Mila masih terdengar jelas di telingaku. Melihat bahwa gadis itu hanya berdiri di atas kanopi dan memandangiku, membuat kesadaranku kembali. Kukeraskan suaraku, kusentak gadis itu dengan berkata, "Kenapa kau masih di sini? Cepat pergi!"
"T-tapi.."
"Panggil polisi!" Aku berteriak padanya. "Cepat!"
Mendengar teriakanku, Mila pun tak menoleh lagi. Dengan berhati-hati, gadis itu meniti tiang yang terhubung ke teras di bangunan sebelah. Melihat gerakannya, para pria yang sebelumnya menangkapku pun tahu bahwa ia takkan bisa diraih begitu telah mencapai teras. Alhasil, pria-pria itu pun kehilangan minatnya pada Mila dan beralih padaku.
"Polisi katanya," ujar yang bertato dan berbekas luka di pipi sembari tertawa sinis, "percuma saja, gadis kecil! Mereka takkan menolongmu."
Kuludahi mukanya, membuat pria itu diam tak bergerak. "Sesumbar saja sana! Aku yakin kalian takkan bisa apa-apa bila polisi sudah mengepung kalian."
Hantaman telak di pipiku membuat telingaku berdenging dan nyaris menghilangkan kesadaranku. Bukan main kerasnya tamparan pria berbekas luka itu. Pukulannya membuat keberanianku yang biasanya besar langsung menciut.
"Dengar, gadis kecil," kata pria tadi sembari menjambak rambut pirangku, "kau mungkin tidak tahu, tapi kami adalah bagian dari keluarga Nikiforov."
Nikiforov? Keluarga yang sama dengan Viktor? Bagaimana bisa pria ini menjadi bagian dari keluarga pembunuh itu? Lagipula, ini Jepang 'kan? Pria-pria ini sepertinya berdarah Mongoloid.
Oke, rasa penasaran memenuhi benakku sekarang. Aku tahu, pria ini mungkin akan menghantamku lagi, tapi aku tidak peduli. Rasa ingin tahuku seringkali mengalahkan rasa takut, seperti kali ini. "Memangnya kenapa kalau kau Nikiforov? Viktor Nikiforov saja tidak berhasil membunuhku, apalagi kalian! Kalian yang hanya cecunguk bisa apa?"
Tamparan mengenai pipi kananku, sekali lagi membuat telingaku berdenging. Aku sempat mencicipi kegelapan karenanya, namun aku masih belum mendapatkan jawaban atas keingintahuanku.
"Cecunguk?" Pria di hadapanku itu menarik rambutku, mendekatkan wajahku pada wajah jeleknya. "Asal tahu saja gadis kecil, cecunguk-cecunguk macam kamilah yang menghabisi Viktor Nikiforov. Kamilah yang membunuhnya dan melemparkan mayatnya ke sungai."
"Omong…kosong…," ujarku, di sela-sela penglihatan yang mulai kabur. "Viktor Nikiforov masih hidup…"
Para pria itu tertawa mendengar perkataanku. Mereka menunjuk-nunjukku dan kembali terbahak seolah yang kuucapkan adalah sesuatu yang lucu. Padahal aku mengatakan yang sebenarnya.
"Viktor Nikiforov sudah mati, Nona,"kata pria itu sambil mendekatkan wajahnya padaku. "Sekarang JJ lah yang berkuasa, JJ lah yang akan mewarisi keluarga Nikiforov."
"J... J?" Aku bertanya di tengah kesadaranku yang semakin menipis. Kenapa JJ?
Benakku mulai mencoba memroses informasi tersebut, namun aku sudah hampir tidak sanggup untuk tetap terjaga. Aku sudah tidak bisa bergerak saat salah satu dari mereka mengangkatku, membawaku seperti sebuah karung. Seluruh tubuhku terasa berat, aku bahkan tidak berniat meronta ketika mereka berjalan dengan santai, keluar dari terowongan dan terus berbicara sambil bercanda. Kupikir mereka akan terus berjalan, hingga orang yang mengangkatku berhenti secara mendadak.
Suara-suara menghilang, keheningan menyelimuti. Aku mencoba untuk menggerakkan kepala, penasaran pada apa pun yang membuat para pria bersetelan jas ini sampai tidak bisa bicara. Namun sialnya, rasa sakit menghalangiku untuk melakukan apa pun.
"Siapa kau?" Aku mendengar salah satu dari mereka berkata.
"Bukan siapa siapa," jawab suara yang tak begitu asing di telingaku, "tapi kebetulan aku ada urusan dengan 'itu'."
"Ini sudah berada dalam kekuasan JJ, " ucap suara yang kukenali sebagai suara si pria besar yang beranting. "Kalau mau merebutnya, mintalah izin pada JJ."
"Kenapa… aku harus minta izin padanya?"
"Karena dialah penguasa daerah ini!"
Aku mendengar suara helaan napas seseorang diikuti suara tawa para pria yang mengepungku. Hanya saja, suara itu langsung digantikan dengan suara hantaman.
Bak! Buk! Desh!
Bak! Buk! Desh!
Terdengar seperti sebuah irama memang, aku mengakui. Hanya saja, bukan jenis ritme yang akan kunikmati sembari menggoyangkan kepala. Alih-alih menikmatinya, aku malah bergidik ngeri, hingga akhirnya irama tersebut berhenti di bunyi 'Buk!' dan disusul dengan keheningan yang panjang.
"Nah," ujar suara yang sepertinya tak asing itu, "bagaimana kalau kau serahkan?"
"K-kau? Siapa kau?" Pria yang membawaku tergagap dan bisa kurasakan ia gemetar. "Bagaimana…"
"Bukan siapa-siapa," jawab suara itu dan memasukkan satu bunyi 'Desh!', penutup dari irama yang sebelumnya terdengar di telingaku.
Bunyi itu sekaligus mengubah pandanganku dan memindahkanku dari pundak si pria besar ke sosok yang familier. Dengan gaya potongan rambut undercut nya, jaket kulit berwarna hitam yang selalu dikenakannya, celana jins hitam dan syal berwarna merah bergaris membuatku tak sulit mengidentifikasikan orang itu. Walaupun sekali lagi, kami bertemu di waktu yang salah.
"Tiga kali," ucap pemuda itu saat pandangan mataku bertemu dengan bola mata kecokelatannya, "tiga kali, adik Katsuki-san."
Mendengar ucapannya, aku berkata, "Kau lagi…"
"Baru kali ini aku bertemu dengan orang sepertimu" ucapnya sambil mengangkatku dan membawaku di kedua tangannya. "Tiga kali bertemu dalam kondisi naas hingga perlu diselamatkan."
"Maaf," jawabku sambil mendorongnya dengan sisa tenaga yang kumiliki, "aku tidak pernah minta diselamatkan."
"Memang," ia berkata dengan santai, mengabaikan ucapanku yang sarkas. "Badanku bergerak dengan sendirinya."
"Turunkan aku!" Aku mendorongnya lagi. Kali ini aku berhasil menyingkirkannya dan mencoba untuk berjalan. Sayangnya, tungkaiku enggan bekerja sama denganku dan mereka berinisiatif untuk menjatuhkanku hingga menubruk trotoar. Untungnya, pemuda berambut hitam itu menarik sikuku tepat pada waktunya. "Ah…"
Ia menghela napasnya selama sesaat, sebelum ia kembali mengangkatku dengan kedua tangannya lagi. Sikapnya membuatku kembali meronta di tempat sembari mendorong wajahnya. Keributan kecil ini membuat beberapa pasang mata kembali tertuju pada kami, walaupun tidak ada yang berniat mendekat dan menyelamatkanku dari pemuda berambut hitam ini.
"Kau tahu, aku tidak keberatan bila kau diam atau berpura-pura pingsan," ujarnya sembari berjalan dengan tangannya di paha dan lenganku. "Aku tidak suka menarik perhatian orang, terutama yang seperti pria-pria tadi."
Kesadaranku kembali begitu mendengarnya menyebut pria-pria tadi. Benar. Kami baru saja lolos dari gerombolan yang hendak menangkapku, tapi bukan berarti bahwa kami sudah aman. Bisa saja ada gerombolan lain yang mengintai dan menyerang kami. Menyadari hal itu, aku pun bersikap kooperatif dengan membiarkan diriku diangkat olehnya.
Kurasa, ia juga merasakan perubahan sikapku. Makanya pemuda itu berkata, "Gadis pintar."
Mendengar perkataannya, aku hanya mengerucutkan bibir untuk menanggapi. Namun ketika teringat pada keenam pria-pria tadi, aku pun kembali bergidik ngeri dan menggerakkan jemariku, memegangi jaket kulit pemuda di sampingku. Aku tidak bisa menyalahkan Mila bila ia gemetar ketakutan kala itu, buktinya, aku sendiri pun gemetaran seperti seorang anak kecil. Memalukan sekali.
"Tidak apa-apa," jawab pemuda itu, "kau sudah aman."
Kuangkat kepalaku mendengar komentarnya. "Dari mana kau tahu? Bagaimana kalau gerombolan yang lain datang?"
Pemuda itu menggerakkan sedikit kepalanya, "Bukan masalah buatku."
"Buatmu bukan masalah, tapi buatku…," aku terdiam selama sesaat. Tunggu! Pemuda ini bilang bukan masalah? Apakah itu artinya ia berniat mengalahkan mereka seperti ia mengalahkan gerombolan yang tadi mengepungku? Tapi benarkah ia sendiri yang mengalahkannya?
Memikirkan hal itu, aku pun kembali bertanya, "Kau… seorang diri mengalahkan kelima pria itu?"
Ia menggerakkan bahunya, "Apa aku terlihat membawa kawanan bersamaku?"
Aku mengerucutkan bibir dan mengalihkan perhatianku darinya. "Aku tidak meminta bantuanmu."
Bukannya protes karena tidak mendapatkan ucapan terima kasih dariku, pemuda itu malah berkata, "Kusarankan, sebaiknya kau mulai banyak berdoa, adik Katsuki-san."
"Berdoa?"
Ia menganggukkan kepalanya. "Sudah tiga kali kesialan mendatangimu. Orang dulu bilang, kesialan sampai tiga kali itu bukan pertanda baik."
"Memang," jawabku sementara tanganku mencengkeram jaket kulit yang dikenakannya, "semua gara-gara Yuuri sialan itu membawa pulang orang bermasalah itu."
"Ng?"
"Bukan apa-apa," ucapku sambil menundukkan kepala.
Pemuda yang baru saja menyelamatkanku itu menghela napasnya dan terus berjalan. Kemudian ia berkata, "Tidak apa, kau masih beruntung karena tiga kali bertemu denganku."
Kuangkat kepalaku sedikit, mengamati pemuda berambut hitam yang telah tiga kali menyelamatkanku itu. "Aneh sekali kalau disebut kebetulan. Terlalu aneh bila tiga kali kau berada di tempat yang sama denganku dan menyelamatkanku."
Alis pemuda itu terangkat saat mendengar ucapanku. "Memang aneh."
"Apa kau mengikutiku?" Aku menggerakkan kepalaku. "Apa jangan-jangan kau juga suruhan JJ? Kau menyelamatkanku tiga kali, mencoba meraih kepercayaanku untuk akhirnya mengkhianatiku? Itu tujuanmu?"
Langkahnya terhenti ketika mendengar ucapanku. Ia mengangkat tubuhku agar berhadapan dengan matanya. Kemudian pemuda satu itu berkata padaku, "Apa untungnya mengkhianatimu, adik Katsuki-san?"
"Mana kutahu!" Aku mengalihkan perhatianku darinya, tidak dapat menjawab. "Kau yang melakukannya, kenapa kau bertanya padaku?"
"Aku bertanya karena kupikir kau tahu alasannya," jawab pemuda itu sembari menurunkanku kembali dan melangkahkan kakinya. "Kalau kau seorang yang berpengaruh, mungkin bisa kujadikan pertimbangan. Tapi kau ini siapa?"
"Apa?"
"Apa kau anak Perdana Menteri Jepang?" Pemuda itu kembali menghentikan langkahnya, sementara pandangan matanya yang menusuk diarahkan padaku. "Apa kau pewaris perusahaan nomor satu di dunia? Apa kau orang yang mengetahui informasi rahasia yang ditutupi oleh pemerintah dunia?"
"Bu-bukan, aku…"
"Kalau bukan, kenapa kau menganggapku mengkhianatimu?" Ia kembali mengutarakan pertanyaannya sementara kakinya melangkah. "Atau jangan-jangan kau sudah menganggapku sebagai seseorang yang dipercaya hingga kau merasa dikhianati?"
"Dipercaya?" Ucapannya membuat darahku kembali mendidih. "Kau? Jangan mimpi!"
"Si pemimpi menyebut orang lain pemimpi," jawabnya.
"Siapa yang kau sebut pemimpi?"
"Ada orang lain lagi yang kuajak bicara?" Pemuda itu berkata sambil menoleh ke kiri dan kanannya. "Aku tidak bisa melihat seorang pun, tapi mungkin kau melihat sesuatu yang tak bisa kulihat?"
Mendengar perkataannya, aku hanya dapat mengerucutkan bibir sembari berkata, "Kau menyebalkan."
"Terima kasih."
Ucapan terima kasihnya tidak membuatku senang, alhasil, aku malah semakin ingin mengalahkannya dalam adu mulut ini. Karena itu, aku pun mencoba memancingnya dengan berkata, "Jadi, kau menghabisi lima pria besar dengan satu hantaman? Siapa kau sebenarnya? Atlet boxing?"
Pemuda yang membawaku itu mengangkat alisnya mendengar ucapanku. Ia pun berkata, "Sekarang identitasku menarik perhatianmu?"
"Aku hanya ingin tahu," jawabku sambil mengalihkan perhatian. "Orang macam apa yang bisa menumbangkan lima orang sebesar itu hanya dengan hantaman tangan kosong. Kalau bukan atlet bela diri, lalu apalagi namanya?"
"Aku juga ingin tahu," ucapnya sembari mendekatkan wajahnya padaku, "orang macam apa yang sekali nyaris tertabrak truk, nyaris digigit anjing dan nyaris diculik yakuza?"
"A…"
"Tidak pernah ada orang yang…"
Pemuda berambut hitam itu menghentikan ucapannya secara tiba-tiba. Ia hanya mematung di tempat, menatap pada sesuatu yang ada di depan tanpa bergerak. Sikapnya yang tidak kusangka-sangka itu cukup menarik perhatianku. Alhasil, aku pun menggerakkan kepala, mengikuti arah pandangnya dan tenganga ketika menyadari apa yang tengah dilihatnya.
Banyak orang di sekelilingku panik dan berlarian ke sana kemari. Segelintir orang membawa ember dan menyiram bangunan yang tengah dilalap api itu sekuat tenaga. Ibu-ibu berteriak, anak-anak menangis, sementara kaum pria berlarian mencoba memadamkan api. Salah satu dari mereka mencoba masuk, namun ditahan oleh pria yang berdiri di barisan paling depan, menghalangi setiap orang yang nekat menerobos kobaran api.
"Anakku masih di dalam," kata wanita itu sambil menggerakkan tangan kea rah bangunan yang tengah terlalap api, "anakku ada di dalam…"
"Kami mengerti, Nyonya," salah satu pria itu berusaha menahan wanita yang meronta, "tapi kami tidak bisa membiarkan Anda masuk, di sana sudah parah…"
"Anakku, anakku…"
Tangisan mereka, cara Nyonya itu mengulurkan tangannya membuatku sadar akan satu hal. Menyadari hal tersebut, serta merta aku menggerakkan kepala, mencari-cari sosok yang kukenal. Ketika aku tidak menemukan sosok itu, kepanikan langsung melandaku.
Kudorong pemuda yang baru saja menyelamatkanku sekuat tenaga. Mengikuti insting, kakiku bergerak, menuju ke bangunan yang tengah dilalap api. Sayangnya, belum ada selangkah aku berjalan, pemuda yang membawaku itu menarik tanganku dan menahanku.
"Lepaskan!" Aku berkata padanya, walaupun sadar itu percuma. Menilai dari daya cengkeramnya yang erat pada lenganku, aku ragu ia akan melepaskanku walau nada suaraku sudah naik satu oktaf. "Lepaskan aku, Otabek Altin!"
"Jangan ke sana!" Ia berkata sambil menahanku. "Berbahaya!"
"Yuuri di dalam!" Aku menunjuk bangunan itu. "Yuuri ada di sana!"
"Apa?"
"Yuuri ada di dalam sana!" Aku berkata sekali lagi padanya. "Aku harus menolongnya! Aku harus menolong Yuuri!"
"Adik Yuu…"
"Lepaskan aku!" Aku berteriak dan mencoba menggerakkan tanganku. "Aku harus menolongnya. Aku harus menolong Yuuri. Lepaskan aku!"
Bukannya melonggar, tangan Otabek Altin malah mencengkeramku semakin erat. Aku pun meronta, menendang dan memukulnya, namun pemuda itu malah menahanku. Aku menjerit, aku memaki, namun ia tetap bergeming. Aku meneriakinya, aku marah, aku putus asa. Aku harus menyelamatkan Yuuri, tapi kenapa ia tidak membiarkanku?
"Yuuri!" Aku berteriak sembari mencoba mengulurkan tanganku. "Yuuri!"
Saat aku berteriak memanggil nama kakakku, bangunan yang selama ini menjadi tempat tinggal kami itu akhirnya roboh, memercikan kobaran api ke sekelilingnya. Hal ini membuat pemuda yang menahanku, menarikku secepat yang ia bisa dan menutupiku dengan tangannya, menjauhkanku dari kobaran api. Namun bukannya berterima kasih, aku malah mencoba melepaskan diri darinya. Aku malah mendorongnya, mencoba melarikan diri dan berusaha masuk ke dalam api.
Sekali lagi percikan api menyebar ke segala arah dan nyaris mengenaiku. Pemuda di sampingku lagi-lagi terlalu sigap dan segera menarikku menjauh sehingga percikan api tidak berhasil mengenaiku. Hanya saja, aku kerap kali mendorongnya, mengingatkan bahwa aku tidak membutuhkan pertolongannya. Aku hendak menyelamatkan Yuuri dan sebaiknya ia tidak menggangguku.
Ketika aku berpikir begitu, pemuda yang menyebalkan itu menahan pinggangku dan menarikku mundur. Sikapnya benar-benar membuatku muak. Aku ingin marah padanya. Namun kemarahanku langsung memudar begitu aku melihat sesuatu yang terlontar dari bangunan yang terbakar dan mendarat tiba-tiba di hadapan kami dengan bertelanjang kaki.
"Fiuh," sosok yang terlontar dari kobaran api itu menggerakkan satu tangannya, menyingkirkan asap dari rambut perak kelabunya, "nyaris saja."
"A-a…"
Suaraku membuatnya menggerakkan kepala. Iris toscanya bertemu dengan iris biru milikku dan senyum sinisnya pun mengembang. Melihatku, pemuda satu itu berkata, "Yura rupanya. Baru pulang sekolah, Yura?"
"Vik…tor…?"
"Apartemennya hangus," ucap pemuda itu sambil menunjuk ke belakang dengan tangannya yang senggang sementara bungkusan berwarna putih ia pegang di tangannya yang satu, "padahal kami sudah selesai membuatkan makan sore untukmu."
"Y-Yuuri?"
"Oh!"
Seolah teringat sesuatu, pemuda itu menurunkan benda yang selama ini ada di pundaknya, memindahkannya pada kedua tangannya. Ia membuka sosok yang terbungkus di dalam selimut itu dengan hati-hati dan memperlihatkan isinya. Telunjuknya ia letakkan di depan bibirnya terlebih dahulu sebelum ia berkata, "Jangan berisik, ya! Yuuri baru saja tidur!"
.
.
.
t.b.c
Author's note:
Holla! Tanpa saya sadar, ternyata uda buat Otabek jadi pahlawan beberapa kali T_T yasudahlah, ternyata jiwanya dia emang pahlawan. Aniway, for :
Fujoshi desu: Here's Otario as your request XD adu mulut mereka saya suka banget, cocok ternyata mereka dibuat adu mulut :p dan buat pertanyaanmu… ehem, babang Otabek itu sebenernya….
aicweconan1: Holla XD salam kenal, chapter sebelumnya agak sulit ya bayangin Yuuri nya? Saya juga nggak terlalu detail deskripsiin dia sih, ke depannya saya berusaha lebih detail buat gambarin mereka XD
Hiro Mineha: kayaknya dia nggak suka miliknya direbut orang deh XD dan kayaknya Yuuri uda dianggep miliknya? :p who knows? Otabek saya suka banget heeh XD, rencananya memang mau buat Otario, tapi sadar banget nggak ada Otario tanpa Victuuri, jadi akhirnya jadilah fic ini : D
Hikaru Rikou : LOL,sama, ane juga dag dig dug kalo ada Viktor deket Yuuri, kesannya kayak ada raptor lagi ngintai begitu (kebanyakan nonton Jurassic Park) dan heeh, Viktor bikin sebel ya? Tapi charanya yang bikin sebel itu saya juga demen XD maaf ya, kayaknya dia bakal tambah nyebelin deh ke depannya :p
Rikasasa: High five! Sama, saya juga demen dark Viktor XD
And for all of you, thank you for reading! I hope you enjoy reading this fic. Aniway, if you mind, please give any review so I can make it better XD
