Relationship are worth fighting for but you can't be the only one fighting
(unknown)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
WARNING
OOC,Mainstream, typo bertaburan, EYD/EBI berantakan, gaje de el el.
#~~~~#
Kuroko mengelap meja dengan sedikit tenaga dalam yang dikeluarkan membuat meja berjibaku ricuh tergesek paksa. Wajahnya masih disetel sedatar meja yang tengah Ia gosok, tapi tampaknya orang lewatpun tahu bahwa si biru sedang dalam aura buruk radius siaga untuk di dekati.
Sedang disudut lain tampak empat orang yang sedang memperhatikan dengan seksama sambil berjibaku dengan pikiran masing-masing. Tak ada satupun yang berani mendekat atau sekedar menyapa Kuroko saat ini, setelah kejadian tadi siang yang jelas masih segar dalam ingatan, mereka benar-benar putus dalam kemampuan menganalisa apayang harus didahulukan.
Bersikap professional seolah tak terjadi apapun atau memikirkan kata-kata Kuroko tadi yang sukses membuat bulu roma mereka berbaris rapih berdiri tegak layak tuntutan upacara.
Kise dan Takao benar-benar stagnan saat mendengar kata dari untaian sibaby blue yang sanksi dikatakan dengan sebutan semangat 45. Tapi sungguh ini pertama kali dalam seumur hidup mereka melihat Kuroko yang biasanya tenang damai layak nya air berkobar tersulut emosi mempertahankan diri.
Kise dan Takao sih paham sebenarnya, perasaan yang sudah lama mati kini serasa muncul kepermukaan menyisakan goresan luka yang sukar dilupakan atau disembuhkan, tapi mendengar apayang dikatakan Kuroko mereka membenarkan dan setuju untuk mulai membentengi diri dari luka yang mungkin akan menggores kembali.
Sedang dua orang lagi, Murasakibara dan Himuro terpekur bingung harus berbuat apa, sebenarnya mereka mendengarkan apayang dikatakan Kuroko dan itu cukup membuat mereka terkena serang semaput lanjutan, antara kaget, heran dan merinding disko. Apa efek dari si setan merah segitu membahananya membuat mental berubah total?.
"Ku,Kuroko-chii sudah malam ssu , a,ayo Kita pulang bersama" Kise akhirnya angkat berbicara.
Kuroko mengangkat kepalanya menatap Kise dan teman-teman lainnya, Ia sedikit menghela nafas lalu berkata.
"Duluan saja Kise-kun, Aku akan pergi Ke perpustakaan pusat untuk meminjam buku baru"
"Eh? Mau Kami antar?" Tawar Takao yang dibalas gelengan pelan dari Kuroko, " Tidak apa-apa, kalian pulanglah dan istirahat" Sahut Kuroko yang ditanggapi anggukan mengiyakan dari kedua orang itu.
Selepas Kise dan Takao pergi dari kedai Ia segera membereskan pekerjaannya dan berpamitan kepada Murasakibara dan Himuro dan lekas pergi dari sana.
Kuroko berjalan dengan tenangnya menikmati suasana temaram namun masih ramai oleh mudi yang sedang menikmati saturday night ala remaja kasmaran. Sebenarnya kedai biasanya buka sampai jam sembilan saat weekend seperti ini, hanya saja karena ini sudah bulan desember yang artinya akhir bulan di penghujung tahun, maka kedai sudah memulai mengadakan check kuality dan stock of name untuk segala kebutuhan pangan, sarana dan prasana dikedai agar menghasilkan kepuasan pelanggan ditahun yang akan datang. Tapi tugas itu hanya dalam wewenang Murasakibara dan Himuro selaku pemilik kedai, sedang Ia dan pegawai lain diberi libur untuk hari ini.
Kuroko berjalan diantara keramaian anak remaja yang bergandengan tangan saat mereka berjalan dengan penuh canda tawa penuh romansa lovey dovey khas remaja membuat Kuroko sedikit menghela nafas kecil
Sesuatu dalam dirinya sedikit tercubit melihatnya, Ia seolah tertarik keroda waktu dimasa lampau ketika tangannya begitu hangat ditaut penuh otoritas dan dominasi dari pemuda bersurai darah yang pernah mengisi hatinya. Saat itu Ia ingat, mereka juga akan mengunjungi perpustakaan pusat di awal-awal hubungan mereka, yahh bisa dibilang kencan perdana mereka yang akan dihabiskan diperpustakaan kota.
Kuroko ingat, Akashi sengaja menemuinya jauh-jauh dari Kyoto ke Tokyo dengan alasan ingin berkencan dengannya. To the point sekali, itulah Akashi dan keabsolutan tak ingin dibantah miliknya. Tapi saat itu Ia cukup senang juga walaupun sifat Akashi agak menyebalkan juga karena menaksanya kencan dimalam musim dingin yang amat dingin namun mampu menghangatkan hatinya.
Mengingatnya membuat Kuroko tersenyum kecil untuk sesaat sebelum benaknya terpukul telak oleh kelebat bayangan memori musim dingin lain yang membuatnya menggigil dalam artian beku hatinya yang membuat Ia tersingkir dalam luka.
Ia menggelengkan kepalanya, mencoba mengenyahkan memori-memori yang harusnya tidak usah muncul lagi, tapi entah kenapa sejak kemunculan Akashi kembali, semua kenangan bermunculan tanpa bisa Ia kendalikan.
lupakan Tetsuya! untuk saat ini treatment dirimu dengan semua surga buku disana
Kuroko membuka pintu perpustakaan dan seketika matanya di sambut manja oleh jajaran rak-rak buku yang menentramkan jiwa, membuat Kuroko tersenyum kecil dibalik wajah datarnya.
Ia berjalan menuju jajaran rak yang menyediakan light novel dan novel-novel lainnya. Ia menyusuri setiap buku dengan hati ringan, yah setidaknya buku menjadi obat termanjur untuk hati yang dilanda gegana, Kuroko bisa mengexplor semua buku untuk mendapatkan buku yang benar-benar mencuri hatinya dan menggodanya untuk menghabiskan malam bersama si novel-kun. Ia akan mengenyampingkan urusan besok tentang benteng yang akan Dia bangun kalau- kalau Akashi benar-benar datang.
Sudah cukup lupakan Tetsuya! fokus untuk novel-kun saja untuk saat ini!
Kuroko menggeleng kembali berusaha mengenyahkan bayangan seseorang dalam benaknya, rasanya Ia mulai terlihat gila dengan terus melamun dan menggelengkan kepalanya dari tadi seolah sedang mengikuti orkesta ala anak nakal di diskotik, jip ajip ajip ajip jip jip!
Plak! tamparan imajiner Ia arahkan pada pemikiran absurd kelewat nista miliknya, dan sekarang Ia merutuki kembali kehadiran Akashi yang sudah mulai membuat kenormalannya geser hingga presentase 45 derajat.
Damn! Akashi lagi, kenapa pemuda itu harus mengganggunya bahkan dalam otaknya ini sehingga Ia terus mengingat pemuda itu, mengingat kata-kata yang tadi si...ang.
Oh hell! lupakan, lupakan, cari buku, cari buku Tetsuya!.
mengalihkan perhatiannya, netranya menangkap sebuah novel yang bersampul biru dongker dengan aksen ukiran yang cantik. Ia melihat seksama si novel-kun yang tampaknya akan jadi tambatan hatinya malam ini. Kuroko senang dan tersenyum kecil dibalik ke flat-an wajahnya, namun cukup indah tersungging membuat orang yang dapat melihatnya atau menyadari keberadaan Kuroko bisa salah fokus.
" Berhentilah tersenyum seperti itu Tetsuya"
deg
Kuroko tertegun sesaat lalu menggelengkan kepalanya mengenyahkan bayangan akan sebuah suara yang berseliweran tanpa izin dikepalanya.
" Kau memang pendosa Tetsuya, Kau membuat orang lain terbunuh karena kehilangan darah setelah melihat senyum itu"
Kuroko dengan cepat mendongak melarikan pandangannya ke intensitas sebelah kirinya yang terdapat sesosok setan merah yang tengah menyeringai kecil kearahnya.
Kuroko terperanjat sehingga memundurkan jaraknya satu langkah, matanya membulat lucu dengan bibir sedikit terbuka yang malah memperlebar senyum dari Akashi yang entah dari mana datangnya.
Kuroko berani bersumpah, selama hidupnya Ia tidak pernah takut yang namanya hantu, karena hantu kadang lebih takut padany ketika Ia menyapa si hantu-san atau si hantu-san yang tak bisa menemukan keberadaannya. Tapi kali ini Ia benar-benar merasa horror ketika melihat pemuda merah itu ada dihadapannya. Mungkin Kuroko lupa hantu-san tidak ada apa-apanya dibandingkan raja setan macam Akashi.
" Tetsuya, Aku bukan setan sehingga Kau menatap ku seperti itu" Ujar Akashi menebak apayang dipikirkan sibaby blue dihadapannya.
"Tapi Kau sejenis dengan mereka" Sahut datar dari Kuroko yang sudah kembali Ke mode wajah nihil ekspresi miliknya.
"Ah tajam seperti biasanya Tetsuya," Ucap Akashi membuat sebal Kuroko.
"Untuk apa Akashi-san ada disini?" Tanya Kuroko sambil mengalihkan netranya pada jajaran buku yang tampaknya lebih menarik dari pada sepasang iris belang yang masih menatapnya lekat.
"Tentu saja untuk melihat-lihat buku itu tujuan mu keperpustakaan bukan?"
" Aku tidak menanyakannya tujuan Ku, Aku menanyakannya tujuan mu, untuk apa Akashi-san jauh-jauh datang kemari, bukan kah dirumahmu sudah ada perpustakaan sendiri" Kuroko tak habis pikir dari tadi atas kedatangan pemuda ini untuk kesekian kalinya dihadapannya untuk hari ini. Kuroko memang berkata bahwa Ia siap untuk besok membangun tembok dihatinya kalau-kalau Akashi merealisasikan kemauannya, tapi tidak secepat ini juga kan? Moodnya berantakan ditambah tembok itu juga belum jadi karena Akashi malah nekat membuntutinya dan membuat Kuroko Moody.
"Kau benar, tapi perpustakaan ini memiliki sejarah yang amat Aku rindukan,... sebuah kenangan manis" Sahut Akashi membuat Kuroko tertegun lalu menghela kecil. Ia tahu, tentu saja sangat tahu kenangan macam apa itu, tapi kenapa harus mengungkitnya saat ini, membuat hati Kuroko sesak saja.
"Terserah" Gumam Kuroko beranjak pergi menjauhi Akashi serasa jadi solusi terbaik untuk awal benteng penolakan yang berusaha Ia mulai bangun dari dini.
Akashi yang melihat itu tersenyum kecut, Ia tahu pasti bahwa sikap itu benar-benar menolak kehadirannya. membuat sesak atas sesal yang Ia rasakan semakin terasa. Tidak, Ia akan berusaha memperbaiki segalanya Dan merengkuh kembali hati sibaby blue itu kembali.
Hhh~
Kuroko sebal sekarang, Ia tidak tahu kenapa hari ini salju harus turun dengan lebatnya, menjebaknya diperpustakaan ini dengan orang yang paling ingin Kuroko jauhi number one.
Kini Ia tengah berdiri didepan perpustakaan dengan putus asa dan bimbang memilih pulang menerobos dinginnya salju atau tetap disini semalaman.
Mama Tetsuya mau pulang...
" Sepertinya salju akan turun semalaman" Ujar Akashi yang sejak tadi diabaikan kehadirannya oleh Kuroko.
" Tetsuya mau disini semalaman?" Tanya Akashi lagi yang masih dibalas dengusan rendah tanpa vokal apapun keluar dari bibir mungil yang memutih kedinginan.
" Ayo pulang, Aku akan mengan-"
" Tidak perlu repot-repot, Aku akan pulang sendiri sebentar lagi" Sela Kuroko keras kepala.
" Memangnya tidak apa-apa? dingin Lho" Sahut Akashi lagi serta merta dijawab dengan Nada monoton namun penuh kesaldari Kuroko.
" Tidak apa-apa, sebaiknya Akashi-san yang pulang saja, dan tolong berhenti mengganggu Ku"
"Aku tidak mengganggu mu, dari tadi Aku diam saja tuh" Elak Akashi menambah pening dikepala Kuroko.
"Kehadiran mu saja membuatku terganggu Akashi-san" Celetuk sibiru membuat Akashi tertohok mendengarnya, tetapi pemuda itu kembali pulih dengan cepat untuk kembali menggoda sibiru.
" Ah, Tetsuya perhatian sekali, Kau pasti khawatir Aku kedinginan kan?" Sumpah Kuroko ingin menjedukkan kepalanya sekarang juga, hell sejak kapan keturunan tunggal Akashi itu jadi PDOD(percaya diri over dosis)? apa ini efek kedinginan? Bodo! Kuroko tidak akan peduli pokoknya.
"Pergi saja Akashi-kun Ke Greenland sana!!" Seru Kuroko kesal maksimal dengan tingkah pemuda itu sampai-sampai melupakan sikap formalnya tadi dan tak ayal membuat Akashi tersenyum kecil karena hangat menyebar dalam rongga dadanya.
"Oh, jadi Kau ingin bulan madu di Greenland , romantis sekali karena ingin berduaan bersama Ku saat dingin Greenland menyapa ya?"
Oh demi kepala botaknya Tong Sam Tong, Kuroko rela jadi bakta Buddha sekarang, dari pada mendengar gombalan yang bikin mual ala Akashi.
"Jangan membuatku muntah Akashi-kun" Sahut Kuroko kesal.
"Eh, padahal Kita sudah lama tidak melakukan 'itu', Tetsuya sudah-"
"Stop! Apayang Kau mau sebenarnya" Kuroko berang dengan tingkah Akashi yang kali ini sukses membuatnya harus mati-matian menahan malu, sedang Akashi hanya terkekeh kecil melihat pipi Kuroko yang memerah yang kini Ia yakini bukan karena udara yang semakin dingin.
"Aku akan berhenti jika Tetsuya mengizinkanku mengantar mu pulang, sudah larut dan udara semakin dingin"
Akashi dan kelicikannya memang menyebalkan, Kuroko mendengus kesal tapi akhirnya menyetujui. Akashi tersenyum penuh kemenangan lalu memanggil supirnya untuk membawa mobilnya.
Begitu di mobil yang mulai berjalan itu meninggalkan perpustakaan membawa mereka kekediaman sibaby blueblue, kendati begitu senyap melingkupi mereka. Kuroko jelas tak ingin membuka suara,sedang Akashi bukannya ia tidak mau sekedar membuka obrolan, hanya saja sikap apatis Kuroko membuat Akashi menyadari bahwa Ia tidak boleh gegabah dengan frontal memaksa Kuroko untuk menerima kehadirannya saat ini.
"Berhenti disini pak" Sahut Kuroko tiba-tiba membuat Akashi menatapnya yang mulai membuka pintu mobil itu setelah sang supir memberhentikan lajunya.
"Disini Tetsuya?" Tanya Akashi yang dibalas anggukan dari Kuroko. pasalnya sejak tadi Akashi tidak terlalu memerhatikan ketika Kuroko mengarahkan sisupir untuk sampai kealamat rumah sibaby blue itu, Ia terlalu sibuk memikirkan hubungannya dengan Kuroko.
"Hm, terimakasih Akashi-kun" Kuroko beranjak dari mobil dan tanpa diduga di ikuti Akashi.
" Tetsuya!" panggilannya kemudian.
"Apa lagi Akashi-kun?" Entah karena terlalu lelah atau apa, Kuroko tidak mendebat atau mendebat Akashi yang menatapnya intens dan mendekat kearahnya.
" Kau tau jika Aku menyadari bahwa Aku mencintaimu" Jeda " Tapi Aku tau, apayang Aku lakukan-"
"Itu sudah berlalu Akashi-kun, lupakan dan tolong pergilah, tidak ada alasan untuk mu untuk tetap disini, Aku sudah melupakannya, lagi pula bukankah dulu Aku berkata untuk jangan menyapaku?" Sela Kuroko berusaha menahan gejolak dalam hatinya dengan nada suara dibuat semenoton mungkin.
" Karena Aku tahu sisa perasaan itu masih ada dalam hatimu, dan aku kembali untuk sisa perasaan itu" Jawab Akashi tak gentar, membuat mata mereka bersirobok, dan Akashi dapat melihat kilat mata Kuroko yang seolah bertanya 'kenapa Kau berpikir seperti itu?'
"Karena Tetsuya membenciku, Kau ingat saat Kau bagian berkata bahwa Kau takut jika sisa perasaan itu masih ada dan membuatmu membenci Ku?" Jeda sesaat untuk menilik wajah Kuroko yang terpekur. " Cinta adalah perjuangan Tetsuya, dan Kau tau begitu jelas Aku tidak suka kalah, dan itu artinya Aku akan bertahan untuk perjuangan Kali ini suka atau tidak suka" Ujar Akashi dengan menekan nadanya mencoba meyakinkan Kuroko, walaupun Ia yakin takkan semudah itu.
"Aku bukan permainan Akashi-kun, tapi Kau benar jika cinta adalah perjuangan... tapi Kau tidak bisa berjuang sendiri untuk itu, jadi menyerahlah karena Aku pernah mencobanya, berjuang sendiri dalam hubungan seperti itu, lalu membuat Ku jatuh..." Ucap Kuroko membuat Akashi tercubit hatinya, karena tau apa maksud dari sibaby bluenya itu.
Kuroko berbalik meninggalkan Akashi yang masih terdiam, Ia harus pergi Secepatnya sebelum sesuatu akan keluar dari pelupuk matanya yang sejak tadi Ia tahan, namun tiba-tiba terhenti ketika Ia mendengar ultimatum berikutnya dari Akashi.
"Kau benar Tetsuya, tapi Aku akan membuat Kita memperjuangkan kembali hubungan Kita bersama-sama, dan saat itu, bukan Kau atau hanya Aku yang berjuang, tapi Kita berdua."
Kuroko melanjutkan langkahnya lalu menutup pintu rumah mungilnya tanpa memedulikan Akashi.Kuroko bersandar pada pintu sambil meremas dadanya.
Tidak lagi, tidak akan lagi Akashi-kun...
TBC.
Author note.
Special Thanks to,
Hagane runa, nimuixkim90, Yuki chaniago, divanabila.
Dan...
Mbak tisaaaaaa!! rasanya kok ketemu idola Hahaha, Ihhh padahal Aku nunggu lanjutan dunia Tetsuya jungkir balik, Sumpah Aku fans berat karya mu huhu. Ihhh tersanjung Kalau fic abal ini disukai Mbak.
eh, Gomen agak telat karena Aku lagi dalam suasana berduka karena sahabat sekaligus dosen Ku , Mrs Dinda meninggal, ini part Ku persemahkan buat beliau yang buat plot chap ini, beliau walaupun dosen tapi baik sekaliiiii, Dan bisa membaur dengan mahasiswa, semangat nya juga gak pernah padam wlpun lagi sakit. kaget, sedih , Dan gak percaya karena pas sabtu malam masih kontekan eh, pagi jam 7 udah dikabarin udah gak ada.
but I know God love she more than us. she'll never feel the pain or sick again... God always bless you, love you
eh Gomen malah curhat hehe, Emh... udah panjang Blum? OK thanks for your attention, review please but not to flame OK?
OK see you next chap.
