ROYAL SCANDAL
-Lost in Maze III -
.
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
Lost in Maze pv © RAHWIA
This fict © Shigeyuki Zero
.
Happy reading
RnR please
Chapter 7
.
.
"Aku mohon."
Permintaan itu terlontar begitu saja dari mulut Levi. Dalam sejarah hidupnya ia tak pernah memohon seperti ini. Tapi cukup, untuk kali ini ia menurunkan harga diri dan egonya untuk mempermudah sesuatu yang sulit. Sulit karena dirinya hampir berubah menjadi iblis sekarang. Tubuhnya tak lagi bisa bergerak bebas. Rasa sakit itu tentu masih ada di sekujur tubuhnya, dan pandangan sebelah matanya sudah hilang. Ia yakin waktunya yang hanya tinggal satu jam kurang itu akan berakhir dengan cepat tak sesuai dugaan.
Tangan kanannya yang menggenggam pistol –siap menembak, tampak masih bergetar. Pandangan satu mata lainnya itu mengabur. Merasakan banyak sekali bagian tubuhnya yang tidak bisa dikendalikan sendiri membuatnya ingin sekali berteriak dalam situasi ini, ingin menghiraukan semua tatapan yang sudah mengarah padanya itu.
"Tidakkah kau sudah terlalu jauh menghalangiku?" Levi masih mencoba berbicara dalam ketidakmampuannya.
Tak ada respon. Eren masih bersiaga di depan Petra, melindungi wanita itu. Cukup memuakkan baginya. Dalam hening sebuah suara mulai menguasai pikirannya, sebuah interupsi untuk melakukan hal gila.
(Apa yang kau tunggu? Negosiasi sudah tidak mempan kan? Ancam dia. Kau sudah tahu kelemahannya.)
Mau tak mau Levi melirik keberadaan seorang gadis berambut pirang yang berdiri tak jauh dari mereka. Dan dengan sekali hentakan, ia memindahkan diri menuju keberadaan gadis itu, gadis yang akan membuat Eren lemah –Historia.
Levi menahan tubuh Historia dalam dekapannya, setengah mencekik. Melihat hal itu tentu Eren bereaksi, tak terima dengan apa yang dilakukan Levi. Persetan dengan itu, Eren yang sudah menghalangi jalannya lebih dulu.
"Lepaskan aku.." Historia meringis, mulai sesak dengan posisinya.
"Aku akan melepaskanmu jika pacarmu itu mau memberikan gadisku." Levi membisik, hanya bisa didengarkan oleh Historia.
Mata emerald tampak murka, ia sudah bersiap dengan kuda-kuda untuk menyerang.
"Berani sekali melibatkannya dalam masalahmu."
"Salahmu melibatkan diri denganku lagi."
Eren semakin mengerutkan alisnya dengan kesal. Ia bahkan hampir melupakan keberadaan Petra yang ada di belakangnya. Saat pistol yang ada di tangan Levi kembali menodongnya, Eren mulai mengeluarkan sebuah pisau lipat yang ia simpan di dalam saku celana. Dalam posisi seperti ini siapa saja bisa terbunuh dengan cepat.
"Ayolah Eren, biarkan aku membunuhnya agar semua ini cepat selesai. Aku tidak yakin kesadaranku akan bertahan lebih lama."
Napas pria kelam itu mulai terengah, bahkan setelahnya ia terbatuk mengeluarkan darah. Dugaannya benar, bahwa perlahan organ dalamnya akan hancur. Cipratan darah darinya mengenai pipi lembut Historia, tanpa sengaja.
"Jika kau terbunuh disini, aku minta maaf telah melibatkanmu." Tiba-tiba Levi berbisik lagi pada Historia, membuat gadis bermanik biru itu membelalakkan matanya.
(Kau begitu lama bertindak. Sebanyak itukah kau merasa ragu pada korban terakhirmu? Kau mulai memainkan perasaanmu disini? Kau mencintainya? Wanita yang tengah mengandung itu?)
Suara iblis itu terdengar lagi menyerang otaknya. Membuat Levi tak bisa berpikir jernih meski dirinya berusaha. Banyak fakta yang terungkap, disaat yang sempit ini. Dan sepertinya iblis itu yang sudah membantunya menemukan fakta akan dirinya.
Levi memejamkan mata, kali ini sepertinya ia akan dikuasai sang iblis. Salahnya, terlalu lama mengulur waktu untuk menghibur diri dalam situasi ini. Ini yang akan ia dapat, dikuasainya.
Mata Eren membelalak lagi, begitu juga beberapa pasang mata yang menyaksikan hal ini. Kini Levi kembali menatapnya, namun dengan tatapan dingin dan mata kelam milik iblis. Satu hal yang bisa Eren simpulkan dalam hal ini, Levi sudah sepenuhnya dikuasai iblisnya. Pria itu pasti sudah kehilangan kesadaran di dalam sana, sesuatu yang buruk akan terjadi. Secepat mungkin ia harus membawa Historia dalam posisi aman.
Dengan cepat Eren langsung menerjang, hendak membawa Historia dan menusukkan pisau yang ia genggam pada Levi –pisau keturunan Jaeger yang bisa memutuskan takdir. Namun kenyataannya gerakan Levi jauh lebih cepat darinya. Saat si pemilik mata emerald sudah ada di depan Levi, dan memosisikan pisaunya pada posisi tubuh Levi berada beberapa detik lalu, yang ia kenai ternyata bukan targetnya. Melainkan..
"Eren..."
Suara itu terdengar lirih, menahan sakit di perutnya. Keringat dingin Eren keluar begitu saja. Dan seringai licik Levi terlihat. Memanfaatkan keadaan ini, Levi langsung menembakkan pistol di tangannya pada Petra. Dan dalam sekali tembak, wanita karamel itu jatuh berlumuran darah –meski kesadarannya masih bertahan dalam tubuh kesakitan itu.
Tangan Eren bergetar hebat saat ia menerima tubuh Historia terkulai lemas dilepaskan Levi. Seperti dugaannya, orang yang terkena pisaunya ini takkan memiliki banyak waktu untuk tetap hidup. Tak lain karena takdirnya sudah diputus, itu artinya tak ada masa depan baginya.
Dalam pertunjukkan drama yang Eren pertunjukkan, Levi berjalan menghampiri Petra. Mata kelam itu memandang balik pada manik karamel yang terlihat mengeluarkan emosinya itu. Levi membungkuk, menggapai tubuh tak berdaya itu sampai sebuah pisau tiba-tiba menghujam punggungnya.
Tak salah lagi, Eren yang telah melakukan hal ini. Tanpa berbalik memandang pelakunya, Levi tampak membelalakkan matanya. Darah kembali keluar dari manik kelam itu, begitu pula dari mulutnya. Dalam situasi itu tak disangka sedikit kesadarannya kembali, menyebabkan rasa sakit yang memuakkan ia rasakan di kepalanya. Levi memegangi kepalanya yang serasa meledak. Dalam diam ia meringis. Semuanya tak berjalan sesuai rencana.
Petra masih menyaksikan, bagaimana ekspresi kesakitan yang memilukan dirasakan Levi. Dalam heningnya ia hanya bisa meraih tangan dingin Levi, berusaha menghangatkan tangan dingin itu meski mengetahui bahwa tangannya juga kini tak kalah dingin dengannya.
Dalam kesakitannya, Levi menyadari hal itu. Hal kecil yang seharusnya ia hiraukan. Dengan sadar Levi turut menggenggam tangan dingin itu, menerimanya. Pisau terkutuk yang menancap di punggungnya ini akan menentukan nasibnya kan? Bagaimana dengan Kuchel? Apa yang akan terjadi dengannya? Levi bertanya dalam diam.
(Ini akibat karena kau melemahkan hatimu karena wanita ini.)
Suara itu lagi. Levi mulai merasa muak.
Kali ini Eren sudah bisa menguasai dirinya yang larut dalam emosi beberapa saat lalu. Ia menghampiri Levi, mengeraskan hatinya untuk sedikit menghibur hari yang kacau ini.
"Ini akan sangat menyakitkan daripada kontrak dengan iblismu, tapi ini akan berjalan cepat. Dan Kuchel juga akan binasa sepertimu." Eren berucap.
Darah semakin mengucur dengan deras dari luka tusuk yang ada di punggung Levi, hampir memenuhi lantai. Perasaannya terasa lega mendengar apa yang dikatakan Eren. Setidaknya semua ini akan berakhir sebentar lagi. Detik selanjutnya Eren mencabut pisau yang tertancap itu, tanpa emosi.
"Aaaaargghhh!"
Teriakan yang memekakan telinga terdengar. Petra semakin mengeratkan genggamannya, menahan dadanya yang terasa sakit menyaksikan hal ini. Levi yang berteriak membabi buta mulai mengeluarkan siluet-siluet hitam yang mengerikan. Iblisnya keluar dengan paksa. Tentu ini mengerikan, karena itulah kini bar itu hanya berisi mereka saja –yang berurusan dengan Levi.
Kulit pucat semakin namak tatkala teriakan Levi berakhir. Tubuh pria itu tumbang disamping Petra, matanya terpejam seperti takkan lagi terbuka. Semakin dingin tangan yang Petra genggam, tanpa harapan.
"Maafkan aku." Suara serak terdengar sebelum tubuh pemiliknya perlahan menghilang seolah menjadi abu yang terbakar.
Petra menggigit bibir bawahnya menahan tangis, kenapa ia merasa sesedih ini. Padahal dirinya tak lama bertemu dengan pria yang masih tidak ia ketahui namanya itu. Pria yang membuatnya dekat dengan kematian, pria yang menandakan dirinya dengan topeng kelinci. Tak banyak kenangan yang bisa ia bawa dalam matanya yang akan terlelap.
"Aku.. tidak mengenai daerah vitalmu, jadi kurasa kau masih bisa hidup." Suara itu kembali terdengar.
Semakin digenggam semakin berubahlah kulit pucat itu menjadi abu. Kini Petra terisak dalam diam, sosok pria itu sudah seutuhnya menghilang dari hadapannya, dari genggamannya. Petra sudah melupakan rasa sakit dari luka tembak di bahunya. Yang ia rasakan hanya kehilangan yang mendalam, rasa kehilangan yang lebih menyakitkan daripada saat kehilangan hidup rasionalnya.
Eren menghembuskan napasnya yang sempat tercekat saat melihat kehancuran yang ia lihat. Jadi seperti itukah akhir keabadian?
Tak ada pergerakan sama sekali. Yang menjadi objek pandangnya saat ini hanyalah sosok Petra yang menangis meratapi sesuatu yang tidak dimengertinya. Dan di belakang tubuh Eren ia mendengar suara isak dari Mikasa. Banyak yang harus ia selesaikan setelah ini. Sangat banyak.
Saat kau menggunakan pisau takdir itu, kau akan kehilangan setengah dari jatah hidupmu
Ucapan seseorang tiba-tiba terngiang di telinganya. Ah.. ia harus ingat akan hal itu.
oOo
.
Tak ada akhir bahagia dalam kehidupan. Semuanya akan berakhir dengan kematian, sebahagia apapun manusia hidup. Bagai takdir yang sudah membelenggunya sejak mereka lahir. Ikatan benang merah yang bertautan tak beraturan berbenturan dengan banyak kisah manusia lainnya. Sedikit demi sedikit, perlahan, semua itu terhubung. Sadar atau tidak, mau atau tidak, takdir itu takkan bisa berbelok dengan mudah. Kecuali ada penggerak waktu yang menyusup pada sistem masa depan manusia.
Semua hal itu tak dapat dipikirkan semalam suntuk saja. Bahkan beberapa tahunpun takkan cukup untuk memikirkan hal gila yang penuh filosofi itu. Dan tahun selalu bertambah sejak hari itu, hari yang sekeras apapun dilupakan oleh Petra takan pernah bisa menjinakkan pemikirannya.
Jika bertanya mengenai masa depannya, masa depan itu tetap ada. Buktinya kini kaki jenjang itu masih bisa melangkah dengan yakin sambil menggandeng tangan kecil. Jika dikatakan bahagia, ia memang cukup bahagia dengan hidup sederhananya –sederhana akan gemerlap kebahagiaan yang diimpikannya.
Anak itu berhasil lahir, dan kini genap berusia 9 tahun. Dan karena anak inilah Petra takkan pernah bisa melupakan banyak rintangan yang pernah ia alami. Ia masih ingat bagaimana wajah Farlan dengan senyuman penuh tipu dayanya, dan ia juga masih ingat bagaimana wajah Levi yang dingin menatapnya tanpa belas kasihan. Petra menyadari perbedaan yang sinkron tersebut, sangat yakin bahwa ingatannya tidak rusak mengenai siapa ayah dari anak dalam genggamannya ini.
Tentu secara biologis anak ini seharusnya milik Farlan. Namun entah mengapa, entah memorinya yang rusak atau matanya yang mulai berhalusianasi, sosok anaknya ini sangat mirip dengan pria itu. Ya, pria kelam yang lenyap dihadapannya 9 tahun lalu. Manik kelam yang dimiliki anak ini, perangai dinginnya, sikap acuhnya, dan rambut hitamnya sangat nampak seperti Levi. Petra yakin akan hal ini.
Meski banyak yang tidak logis akan hidupnya sejak Farlan singgah, namun Petra tetap menapak dengan pasti. Menyerahkan semua yang ia miliki pada anaknya, menyayangi harta karunnya itu, tak peduli semua media mempertanyakan kehadiran anak itu. Tak peduli ayahnya memusuhi Petra karenanya. Yang ia yakini hanya satu, bahwa ia harus menjaga apa yang sudah dikorbankan banyak nyawa. Ya, setahun lalu Eren memenuhi janji pisau keluarganya. Ia menghilang dari dunia ini, mungkin urusannya berlanjut dihadapan Tuhan.
Kisah Cinderella dan apel beracun akhirnya berakhir, dengan cukup tragis dan bahagia. Tragis karena sudah terlalu lama mereka bertahan, bahagia karena akhir cerita mereka benar-benar terjadi. Kata 'never ending story' tidak akan pernah ada. Dan saksi hidup yang bertahan sampai hari ini adalah Petra, dengan segala beban keterlibatannya dalam hal ini. Bukankah tidak sopan jika saat seperti ini menyalahkan Tuhan? Meski ia ingin?
Pada akhirnya, Cinderella tidak lagi terjebak oleh apel beracun
Dia akan damai dalam penghakimannya
.
oOo
-fin or to be continued?-
.
.
Hai readers tercinta yang udah nunggu fict ini tamat.
Ok, sekarang author bingung apa ini akan menjadi akhir atau masih berlanjut...
Apa ada bagian yang kurang jelas? Jika iya nanti author bikin rinciannya di next chapter. Tapi kalo dirasa cukup berarti author mau fokus di fict sebelah wkwk
Dou?
Lanjut atau udah?
Mohon sarannya ya guys :'))
Review please
-with love, Shigeyuki Zero-
