Tittle : LOTTO (MEANIE FANFICTION)

Author: Hani Hwang

Casts: Jeon Wonwoo

Kim Mingyu

Genre: Romance, criminal *maybe* School life, Yaoi

Disclaimer: Plot ceritanya punya author, Wonwoo juga punya author

Rated: M

DONT LIKE DONT READ!

.

.

.

.

.

.

.

.

Mingyu bangkit dan berlari menerobos kerumunan mengejar pria misterius itu. Mengabaikan Taehyung yang berteriak-teriak memakinya, ataupun orang-orang yang memperhatikan mereka. Mingyu berlari sampai kehalaman, dan mendapati pria itu sudah berlalu melewati pintu gerbang dengan mobilnya.

"Cih, beraninya kau pergi setelah berkata begitu." Mingyu bersungut-sungut. Lalu merogoh ponselnya.

"Halo?"

"Kau dimana?"

"Oh begitu, baiklah. Aku kerumahmu sekarang." Ucap Mingyu.

"Untuk apa? aku ingin bermain denganmu malam ini." Ucap Mingyu, menyeringai. Lalu menutup teleponnya.

.

.

.

.

Ruangan itu hening. Dan sesosok manusia bergulung dalam selimutnya. Jam dinding baru menunjukkan pukul satu dini hari. Dan sesaat kemudian, sosok itu terbangun. Menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, dan terlihatlah wajah cantiknya. Minki menguap. Lalu mencoba bangkit, namun tiba-tiba saja punggungnya ngilu.

"Argh!" Rintihnya. Minki teringat, ia tadi tertidur setelah dicambuki Mingyu.

Minki memperhatikan tubuhnya yang terbalut piyama. Ini artinya Seungkwan sudah mengobati lukanya dan sudah mengganti pakaiannya. Minki ingin bangkit, ia sudah puas tidur. Dan sebenarnya Minki agak lapar, ia ingin keluar dan mengambil makanan. Jam segini jelas semua pelayan sudah tertidur. Tak mungkin Minki membangunkan Seungkwan atau lainnya. Akhirnya, Minki memutuskan untuk kembali berbaring.

Menatap lurus-lurus langit-langit kamarnya, menerawang jauh. Minki memikirkan Wonwoo. Apakah ia sudah berhasil lari, sudah kembalikah kerumahnya dan bertemu adiknya? Minki tersenyum. Tapi detik berikutnya senyumnya lenyap. Atau, mungkin saja Wonwoo sedang dikejar-kejar oleh anak buahnya Mingyu. Minki menarik napas panjang. Ia sudah dihukum tadi, dan tentunya, kalau Wonwoo tertangkap ia pasti dihukum lebih berat lagi.

"Wonwoo-ya, baik-baiklah diluar sana, dan lekaslah pulang."

.

.

.

.

Wonwoo berjalan menyusuri rumah itu. Mengamat-ngamati sekelilinganya. "Rapih." Gumamnya pelan. Kakinya terus melangkah. Wonwoo merasa lapar. Ia belum makan sejak tadi. Maka dibawanya kakinya menuju dapur. Jonghyun bilang tadi kalau tak apa, kan jika ia melakukan apapun? dan lagipula Jonghyun belum pulang. Perutnya Wonwoo sudah mendesak minta makan. Maka mau tak mau Wonwoo harus segera mengisi perutnya.

Wonwoo membuka kulkas. Meraih sebuah kotak yang ia tahu sebagai makanan beku. Dibawanya kotak itu menuju microwave. Memanaskannya. Kemudian ia berlih menyeduh segelas susu sambil menunggu makanannya selesai dipanaskan.

Wonwoo menyingkap gorden didepannya. Dan tampaklah pemandangan malam yang tenang. Wonwoo tersenyum, menatap langit berkerlip penuh bintang. Wonwoo ingat, dulu ia sering menatap bintang lewat jendela bersama Jungkook. Mencocokkan rasi bintang dilangit dengan yang dibuku mereka. Biasanya Jungkook akan bersikeras menentukan sebuah rasi, meskipun salah. Dan ujung-ujung, mereka tertawa karena perdebatan kecil itu. Wonwoo menunduk. Rasa rindu itu kembali menyergapnya. Mengisi tiap relung jiwanya. Membuatnya merasa sedikit sesak.

"Jungkook-ah, sabarlah. Sebentar lagi hyung pulang." Ucap Wonwoo lirih.

Wonwoo beranjak, meraih makanannya dari dalam microwave. Duduk tenang dimeja makan dan mulai menyantap makan malam-terlambat-nya dalam diam.

.

.

.

.

Taehyung bangkit dari duduknya, mengelap sudut bibirnya yang berdarah karena pukulan Mingyu. Taehyung bersikap acuh dengan sekelilingnya, membersihkan debu-debu yang menempel di tubuhnya, sebelum kembali duduk tenang di sofa yang tadi didudukinya. Taehyung meraih segelas wine, lalu mereguknya. Orang-orang sudah kembali asik dengan kegiatannya kembali. Bersikap seolah tak pernah tahu apapun dan seolah tak terjadi apapun. Taehyung tetap duduk, mengatur nafas dan emosinya yang masih belum stabil. Tangannya mencengkeram erat gagang gelas wine yang diminumnya. Meremasnya seolah-olah dia sedang meremas wajah Mingyu. Taehyung mendesis.

"Kim Min-bastard-gyu! berani-beraninya kau membuat wajah tampanku jadi begini lalu pergi begitu saja? kau fikir kau siapa? lihat saja. . ." Geram Taehyung, cengkeramannya semakin kuat pada gagang gelas itu.

TRAK!

Gagang itu patah, tapi Taehyung tetap meminum wine digelas itu. Setelah tandas, dilemparnya gelas yang patah itu kesembarang arah.

"Argh!"

Taehyung menoleh, saat menyadari sepertinya lemparannya mengenai seseorang. Taehyung tersenyum tipis. Seorang pria bersurai hitam dalam balutan jaket kulit hitam dan jeans belel menghampirinya.

"Kau yang melempar ini?" Pria itu menunjukkan gagang gelas yang patah itu. Dan Taehyung nyengir.

"Maaf, aku tak sengaja." Sahut Taehyung santai.

Pria itu mendudukkan dirinya disebelah Taehyung. Lalu meraih gelas yang lain, ikut menuang wine dan minum.

"Namamu Kim Taehyung?" Tanya pria itu. Taehyung menghentikkan gerakannya, lalu menatap pria itu.

"Ye?" Gumam Taehyung.

"Aku Min Yoongi, dan aku mencarimu." Ucap pria itu, Yoongi. Dengan gayanya yang khas dan santai. Taehyung menaikkan sebelah alisnya.

"Kenapa? kau menyukaiku?" Tanya Taehyung dengan senyum jahilnya.

"UHUK!" Dan Yoongi tersedak. Kali ini bukan vodka, tapi wine. Dan tetap saja, rasanya menjengkelkan.

Taehyung tertawa. Sementara Yoongi kelabakan mengembalikan napasnya.

"Aku? menyukaimu?" Ulang Yoongi. Taehyung menaikkan alisnya sekilas.

"Bhuahahahahaha!" Tawa Yoongi meledak, sampai-sampai matanya yang sipit menghilang dan berair karena tawa.

"Hei, hentikan tawamu!" Taehyung tampak tersinggung.

Yoongi meredakan tawanya, lalu tersenyum-nyengir- lebar.

Taehyung berdehem, "Baiklah, ada apa kau mencariku?" Tanyanya lagi.

Yoongi terdiam. Tak mungkin kalau ia berkata, 'Kau yang menculik Jungkook, kan? lalu katakan, pada siapa kau menjualnya? yang kau jual itu kakaknya!' Yoongi menggaruk tengkuknya. Tidak, bukan seperti itu. Jelas Taehyung akan mengelak.

"Kudengar kau sering main kartu, dan katanya taruhanmu selalu menarik." Ucap Yoongi akhirnya. "Bagaimana kalau kita berdua main?" Tanya Yoongi.

Taehyung tertawa, lalu tanpa curiga apapun dia menjawab. "Hm, boleh juga. Kebetulan aku sedang senggang. Baiklah, mau taruhan apa?" Ucap Taehyung pula.

Yoongi terdiam. Dia bukan orang kaya. Orang tuanya berbeda jauh keadaan finansialnya dibanding Zuho yang berkecukupan. Yoongi menimbang-nimbang. Zuho pasti tak keberatan walau harus mengeluarkan uang banyak. Yoongi tahu, Zuho pasti menyukai Wonwoo. Tak mungkin pemuda itu bersikap sejauh ini kalau memang tak menyukai Wonwoo?

"Baiklah, kau maunya apa?" Tanya Yoongi kaku. Taehyung menopang dagunya, berfikir sejenak.

"Hm. . . aku sedang suka traveling belakangan ini. Bagaimana kalau. . . ah, aku akan tulis angkanya!" Taehyung menjentikkan jarinya. Lalu ia meraih secarik post it dan menulis nominal diatasnya. Lalu menyodorkannya kedepan Yoongi.

Yoongi membacanya, mata sipitnya melebar, menatap tak percaya nominal dikertas itu. Mulutnya menganga, Taehyung pasti sudah gila!

"Bagaimana? nanti kucarikan kelinci yang manis dan menggemaskan untukmu. Tapi tunggu dulu. . ." Taehyung berhenti bicara, lalu mengamati Yoongi-yang masih terkejut- dari atas sampai bawah.

"Kau sendiri kelinci, jadi sebaiknya kucarikan seekor macan untuk menemanimu bermain." Taehyung berucap dengan senyum lebar idiotnya. Berkata seolah-olah ucapannya adalah lelucon koran semata.

Yoongi terdiam. "Ya, ya, terserahmu saja."

"Baiklah, kita main besok, deal?" Taehyung mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan,

". . .deal. . ."

.

.

.

.

Tepat ketika mobil itu memasuki pekarangan rumahnya, Jeonghan langsung berdiri dari duduknya. Dengan wajah yang tak bisa diartikan ia menyambut kedatangan tamunya. Seorang pria berambut biru dalam balutan mantel hitamnya. Wajah pria itu dingin, bahkan lebih dingin dari suhu malam ini. Jeonghan mengerutkan keningnya.

"Ada apa dengan wajahmu itu, Kim?" Tanya Jeonghan.

Mingyu berdecih, lalu tanpa sepatah katapun menghambur memeluk dan menciumi Jeonghan.

"Ey, ini masih diluar, Kim Mingyu!" Jeonghan menghindar, namun Mingyu dengan cepat mengangkat Jeonghan keatas bahunya. Membawa masuk sosok berambut panjang itu. Beberapa kali seruan Jeonghan minta diturunkan terdengar, namun Mingyu tak peduli.

.

.

..

Jungkook mendapati dirinya berada di sebuah tempat yang asing. Semuanya gelap dan tak bertepi. Hanya ada seberkas cahaya dari atas yang seolah mengikutinya, menerangi langkahnya. Jungkook berjalan, mencoba mencari jalan keluar. Namun jalan yang dilaluinya tiada berujung. Jungkook mulai takut. Suasananya begitu mencekam. Jungkook ingin pulang. Ia ingin pergi dari tempat asing dan aneh ini. Jungkook merasa tubuhnya mulai gemetar. Sampai ia menemukan tubuhnya ambruk dan ia menangis tersedu-sedu.

"Wonwoo hyung. .. ini dimana, hiks. . . tolong aku!" Jungkook berteriak disela tangisnya. Pundaknya bergetar hebat dan tangisnya makin deras. Jungkook benar-benar takut sekarang.

"Wonu hyung!" Isaknya lagi.

Tiba-tiba saja semuanya menjadi putih. Terang benderang. Tapi tetap tak berujung. Jungkook menoleh kekiri dan kekanan. Kemudian mulai bangkit dan kembali berlari kesana kemari. Mencari pintu keluar. Namun nihil. Ia seperti berada dalam sebuah studio foto yang yang tak terhingga. Semuanya sama, putih dan hampa. Jungkook merasa kakinya lemas dan tak bertenaga. Ia tak mampu lagi berlari. Tapi ia ingin pulang.

"Wonu-hyung!" Teriaknya sekuat tenaga.

"Jungkook-ah!"

Jungkook dengan cepat menoleh kearah suara itu. Dan ia terbelalak. Mendapati Wonwoo dalam keadaan terikat disebuah sangkar emas yang besar. Lehernya dirantai untaian emas bertahtakan berlian. Dan ia tak bisa keluar dari sangkar raksasa itu. Jungkook menghampiri.

"Wonu-hyung!"

"Jungkook-ah, berbahaya! menjauhlah!" Teriak Wonwoo, tapi Jungkook tak peduli ia ingin menghampiri.

"AWAS!"

DORR

Jungkook tiarap. Menghindari ledakan peluru yang tiba-tiba itu. Air matanya kembali menggenang. Ia bingung dan takut sekarang.

DOR! DOR!

Kali ini suara tembakan saling bersahutan. Dan terdengar derap langkah dari dua arah yang berlawanan. Jungkook mengangkat pandangannya, dan dilihatnya dua orang pria mengenakan topeng hitam membawa senapan. Keduanya berpakaian serba hitam mirip koboi. Jungkook mengamati mereka.

"Wonwoo adalah milikku! Kembalikan dia" Teriak salah satu koboi itu.

"Tidak, sebelum kau kembalikan milikku!" Sahut yang satunya menantang. Jungkook tambah bingung dan takut.

"Lepaskan aku!" Teriak Wonwoo dari dalam sangkarnya. Dua koboi itu menoleh.

"Diam!"

"Lepaskan aku, kalian brengsek!" Maki Wonwoo dengan tangisnya. Jungkook kembali menangis.

"Berisik, kalau kau tak mau diam, maka jangan salahkan aku kalau senapan ku yang menyuruhmu diam!"

DORR!

"WONU-HYUNG!"

Jungkook terlonjak dan langsung duduk seketika. Tubuhnya banjir peluh dan piyamanya basah kuyup. Tangannya menggapai-gapai udara, dan sebuah tangan merengkuhnya.

"Jungkook-ah, kau tak apa?" Tanya Minghao, teman Jungkook yang berasal dari Tiongkok. Hari ini Minghao menginap karena kemalaman setelah mengerjakan tugas. Dan lagipula, Minghao juga hidup sendirian di Seoul. Dan ia menganggap Jungkook sudah seperti saudaranya sendiri.

Minghao meraih segelas air, memberikannya pada Jungkook yang masih terengah-engah.

"Kau mengigau saat tidur, aku sudah berusaha membangunkanmu, tapi kau terus mengigau." Ucap Minghao dengan cemas.

Jungkook menaruh gelas kosong itu. Lalu berusaha meredakan napasnya yang ngos-ngosan.

"Kau mimpi buruk?" Tanya Minghao akhirnya.

Jungkook menghela napas panjang. "Wonu-hyung. . ." Lirihnya.

"Sudah Jungkook-ah, kita doakan saja semoga hyungmu cepat kembali kerumah. Sekarang kau istirahat. . ." Minghao merasa prihatin.

Jungkook merebahkan tubuhnya. Begitupun MInghao. Tapi saat Minghao kembali terlelap, Jungkook tetap terjaga. Ia terus memikirkan hyungnya.

"Wonu-hyung. . ."

.

.

.

.

Keadaan bandara internasional Incheon ramai dan sibuk seperti biasanya. Orang-orang berlalu lalang menarik koper dan mengurus dirinya masing-masing. Meskipun jam menunjukkan pukul sebelas malam, dan udara musim dingin mulai menusuk tulang, tapi itu tidak menyurutkan sedikitpun kesibukan bandara itu. Padahal besok sudah malam natal, dan orang-orang masih saja sibuk bepergian keluar negeri. Pria dan wanita berbaur satu sementara suara mereka bicara terdengar seperti dengung yang tak ada habisnya.

Dari arah kedatangan luar negeri, seorang pria tampan mengenakan kacamata hitam dalam balutan mantel hitamnya yang panjang dan jeans hitamnya yang mengkilat, ia menarik sebuah kopor berwarna putih dengan plat hitam, sedang tangannya yang lain menenteng sebuah kantong dari kertas berwarna cokelat yang lebar. Pria itu menoleh kekanan dan kekiri, seperti mencari seseorang. Tapi langkahnya tidak berhenti. Ditengah kepadatan lalu lalang, ia mendudukkan dirinya di lobi yang tenang. Menyandarkan punggungnya sambil merogoh saku, mengeluarkan ponsel pintarnya. Tangannya yang putih yang panjang mulai menari-nari diatas layar ponsel yang datar. Menekan-nekannya dengan penuh minat. Sementara wajahnya terlihat kaku.

Detik berikutnya, pria itu membawa ponselnya ketelinga. Menelfon seseorang.

Beberapa jeda berlalu, tapi pria itu tetap bungkam. Ia mengamati ponselnya, lalu dengan agak jengkel mendial nomor yang barusan dipanggilnya. Menunggu beberapa detik, namun hanya operator yang menyahuti panggilannya. Ia berdecih, jengkel. Kemudian bergegas bangkit dan meninggalkan lobi.

Dari arah yang berlawanan, seorang pemuda berambut cokelat dengan wajah blasteran berlari menuju punggung pria tadi, sambil berseru nyaring.

"Seungcheol-hyung!" Panggilnya.

Pria bermantel hitam itu menghentikan langkahnya, lalu menoleh. Seulas senyum manis mengembang diwajahnya.

"Choi Hansol." Gumam Seungcheol, sambil menyambut kedatangan Hansol.

"Hosh, hosh. . . hyung, maafkan. Aku telat. Jalannya macet." Keluh Hansol ditengah napasnya yang terengah-engah. Seungcheol hanya menepuk pundaknya.

"Tak apa, tapi . .. lho? kau datang sendirian, Jeonghan mana?" Tanya Seungcheol sambil mencari-cari seseorang dibalik punggung Hansol.

Hansol menggendikkan bahunya. "Jeonghan hyung tak bisa dihubungi." Sahut Hansol pelan.

"Ya sudah, tak apa. Mungkin dia menungguku di rumah. Ayo pulang. Hari ini kau akan menginap, kan? aku punya sesuatu yang bagus untukmu." Seungcheol kemudian membimbing adiknya meninggalkan bandara. Mereka berjalan beriringan menuju mobil yang menunggu diparkiran.

.

.

"Hyung, tak biasanya pulang sebelum natal? bukankah seharusnya kau pulang minggu depan?" Tanya Hansol, sambil mengawasi jalan raya yang didepannya. Kemudi dipegang Hansol, karena Seungcheol masih kelelahan setelah perjalanan panjangnya.

"Akan ada badai setelah natal, jadi kuputuskan pulang cepat." Sahut Seungcheol, membuka kacamatanya.

"Oh, benar. Itu ada diramalan cuaca." Timpal Hansol, tanpa menoleh. Ia harus mengawasi jalannya dengan benar.

"Tapi, terkadang aku heran. Saat aku diluar negeri, Jeonghan seolah tak mempedulikanku. Dia tak pernah menghubungiku duluan, kalaupun aku menelfon, dia hanya terus mengoceh tentang aturan-aturannya. Membalas pesanpun, singkat saja. Aku jadi berfikir, sebenarnya apa yang dikerjakannya selama aku tak ada?" Ucap Seungcheol panjang lebar, sambil memeriksa kotak email diponselnya.

Hansol meliriknya, lalu menyahut. "Aku tak tahu, hyung. Mungkin dia sibuk, belakangan ini bisnisnya memang sedang ramai, kan?" Hansol justru balik bertanya.

"Yah. . . mungkin begitu. . ." Jawab Seungchaol mengambang.

Lalu keduanya diam. Seungcheol sibuk sendiri dan Hansol sibuk mengawasi jalan raya.

.

.

Mobil mewah itu memasuki pekarangan sebuah rumah megah, kemudian terparkir di sebelah mobil yang sudah lebih dulu ada disana. Seorang pria turun dari sana, dan seorang lainnya turun dari kursi kemudi.

"Mobil siapa, itu?" Tanya Seungcheol, pada Hansol yang sedang menurunkan kopornya.

"Hm, mungkin temannya Jeonghan hyung, atau rekan bisnisnya?"

Seungcheol acuh tak acuh, ia berjalan mendahului Hansol memasuki rumah itu. Kaki-kakinya yang panjang langsung dibawanya menyusuri tangga menuju lantai dua. ia sudah tak sabar untuk bertemu istrinya, Yoon Jeonghan. Rindu? pasti. Seungcheol sudah sebulan tak pulang. Perusahaannya yang sedang berkembang pesat di manca negara memaksanya untuk bolak-bolik luar negeri. Dan hari ini, dia baru pulang dari Australia. Dan Seungcheol tak sabar untuk segera menemui Jeonghan.

Tap, tap tap,

"Nggh~"

Seungcheol mengernyit. Desahan? Seketika fikirannya kemana-mana. Suara yang samar-samar itu sudah berhasil menaikkan emosinya. Seungcheol mulai berfikir yang tidak-tidak. Dia hanya tinggal berdua dengan Jeonghan di rumah ini-selain itu ada seorang pembantu yang selalu pulang setelah gelap- jadi, dari mana sumber desahan itu? mungkinkah Jeonghan membawa seseorang kerumah.

Seungcheol mengeraskan rahangnya, lalu dengan wajah masam diputarnya knop pintu. Dan ketika pintu itu terbuka, Seungcheol terbelalak kaget, dengan pemandangan didepannya.

.

.

.

.

To be continued OR END/?

REVIEW PLEASE

Note: Huweee UAS depan mata, author mau hiatus lagi :') entah sampai kapan :') entah kenapa Fict ini kagak ada feel-nya, kurang greget bener dah :'v dan oh ya, ada yang nanya, 'Minki, siapa? OC?' Ouh, sakit bener :') Minki itu bukan OC, Choi Minki itu member boyband kok :') Dia debutnya duluan malah :') barengan exo ;')

Oh ya, author kasih tau biar gak bingung, Minki dan Jonghyun itu member Nu'est. . . dan Nu'est itu abangnya seventeen :') dan maaf kalau cast di ff ini asing semua ;') dan makasih banyak buat yang udah review~ bu-bye!

KECEPATAN UPDATE TERGANTUNG BANYAKNYA REVIEW