Naruto : Masashi Kishimoto-san
Folllow You : Namikaze Asyifa
Pairing : SasuNaru
Rating : T – T+
Genre : Supranatural, Romance, and Friendship
Warning : AU (Alternative Universe), boy x boy, OOC, Future!Mpreg, typo(s), NO EDIT, alur super cepat terutama di chap ini, EYD berantakan, etc
PS : Fic ini mengandung unsur BOYS LOVE, jika sudah tidak suka dengan fic YAOI silahkan tekan tombol BACK untuk kembali daripada meninggalkan jejak buruk yang menyinggung perasaan author sendiri dan seluruh fujodanshi. Terimakasih...
"nana" dialog biasa
'nana' pikiran
"nana" sang sosok yang berbicara pada Naruto dan hanya Naruto yang mendengarnya
.
Chapter 7 :
.
Dan disnilah Naruto berada. Di sebuah café untuk mengisi perut mereka sebelum akhirnya meluncur ke game center. Bersama Kiba, Shikamaru, Neji, dan seluruh sahabat-sahabat Kiba dari Junior High School. Jangan lupakan si anak baru yang juga mengikuti reunian Kiba dan teman-temannya.
Mendengar nama Sasuke dari mulut Naruto tentu membuat Kiba terkejut. Meskipun Naruto bukan sahabatnya sejak JHS, Kiba tetap membawa sahabatnya serta. Lah ini… Sasuke. Mereka saja belum pernah bercakap-cakap secara langsung sejak pemuda berwajah datar itu menjadi murid baru di kelasnya, mengapa tiba-tiba Naruto menginginkan Sasuke ikut serta.
Awalnya Kiba menolak permintaan Naruto. Alasannya karena wajah Sasuke yang terlampau–dengan sangat terpaksa Kiba mengakuinya–tampan. Ia takut gadis yang ia sukai justru akan berpaling memuja Sasuke. Tapi pada akhirnya Kiba menyanggupi juga setelah mendapatkan tatapan memelas dari Naruto.
Shikamaru dan Neji pun tidak kalah bingungnya dengan KIba, ia bingung kenapa Sasuke ikut serta dalam acara reunian mereka. Dan lagi-lagi Naruto yang harus membujuk kedua sahabatnya itu agar mengizinkan Sasuke ikut serta.
Dan inilah akibat dari membawa Sasuke. Teman-teman perempuan Kiba yaitu Sakura, Ino dan Hinata mengerubungi Sasuke seperti semut mengerubungi gula. Mereka bertiga terus menyerang Sasuke dengan berbagai pertanyaan. Dan yang paling semangat adalah Sasura dan Ino. Bahkan perempuan-perempuan itu mengabaikan sahabat mereka yang masih menyantap makan siang mereka.
"Siapa dia?" tanya Gaara dengan penasaran. Iris jadenya terus menatap Sasuke yang duduk tak jauh darinya.
"Namanya Uchiha Sasuke, murid baru di sekolahku," jawab Kiba sambil memakan makanannya yang tadi ia pesan.
"Mengapa dia ikut?" tanya Sai dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.
"Hoahhm… karena Naruto yang mengajaknya," sahut Shikamaru dengan tatapan malas.
Semua laki-laki yang berada di meja tersebut langsung menatap Naruto yang menundukkan kepalanya. Ayolah~ Naruto mendapatkan enam tatapan intimidasi dari teman-temannya bukan hal yang menyenangkan jika kau ingin tahu.
"A-aku hanya berpikir jika kita harus mengajaknya bergaul bersama. Kulihat ia sedikit pendiam dan sulit bergaul," cicit Naruto masih dengan kepala yang menunduk.
"Sulit bergaul dari mana?" Lee menganga tidak percaya. "Lihatlah… justru karena ada dia… tidak ada satupun gadis cantik yang melirik kita," gerutu Lee. Pemuda dengan alis tebal itu mengunyah makanannya dengan brutal, berharap yan ia kunyah adalah sosok pemuda yang kini justru menjadi perhatian para wanita di café itu. Baik dari pengunjung café sampai para pekerja café. Bahkan dengan terang-terangan para pelayan café itu menggoda Sasuke ketika membawa pesanan sang raven.
Ia, Rock Lee merasa iri dengan rupa teman baru Kiba itu. Ia terlihat sempurna meskipun wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dan demi gurunya yang bernama Maito Guy, bentuk tubuh Sasuke memang sangat sempurna dengan wajah tampan yang melengkapinya dan itu membuat seorang Rock Lee iri. Sangat iri.
Gaara sebenarnya tidak masalah dengan adanya Sasuke. Toh… pria itu juga tidak mengganggu. Ia cukup penurut dan tidak cerewet. Hanya saja yang membuatnya rishi adalah tatapannya. Tatapan Sasuke selalu tertuju pada Naruto. Dan Gaara bukanlah manusia bodoh yang tidak menyadari arti tatapan itu. Bahkan beberapa kali Gaara mendapati tatapan dingin yang Sasuke layangkan untuk setiap orang yang menatap Naruto terlalu lama.
Pemuda berambut merah itu tahu jika Sasuke menyukai Naruto.
Sama halnya dengan Gaara, Neji juga tidak ambil pusing dengan keberadaan Sasuke di tengah-tengah mereka. Ia cukup bersyukur dengan keberadaan pria itu, karena pria itu, Hinata bisa dekat dengan pria lain selain dirinya dan sahabat-sahabatnya yang lain. Tapi ia kasihan dengan Kiba yang menyukai Hinata sejak lama.
.
Sedangkan objek yang dibicarakan hanya terdiam di tempat. Ia tidak menanggapi berbagai pertanyaan yang gadis-gadis itu berikan. Ia hanya diam. Duduk tenang di kursinya dengan tetap mengawasi matenya.
Ia bukannya tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Naruto dan yang lainnya. Ia seorang iblis. Ia adalah Akuma. Ia bisa mendengar apa yang mereka bicarakan dan apa yang mereka pikirkan. Dan sejauh pengamatan yang ia lakukan, sahabat dari pecinta anjing itu tidak ada yang memiliki ketertarikan pada Naruto, karena jika ada maka Sasuke tidak akan segan-segan untuk membunuhnya detik ini juga.
"Sasuke-kun… apa kau sudah memiliki kekasih?"
Lihatlah… betapa tidak tahu dirinya manusia. Mereka padahal baru bertemu satu jam yang lalu, tapi sudah memanggilnya dengan embel-embel kun.
Sasuke sebenarnya cukup jengah di keliliingi perempuan dengan pertanyaan yang terus meluncur dari mulut mereka. Ia juga cukup tahu tempat jika untuk memusnahkan mereka. Tapi mendengar pertanyaan dari gadis berambut pink itu mungkin ia bisa sedikit menjauhkan mereka dari dirinya.
"Sudah," jawab Sasuke dengan nada datar dan intonasi yang cukup keras memungkinkan Naruto, Kiba dan yang lainnya mendengar suaranya.
Dan memang benar, mereka semua menatap Sasuke penasaran. Terutama Naruto.
"Be-benarkah?" tanya Hinata.
"Gadis itu sangat beruntung memiliki kekasih setampan dirimu," Sakura mengatakan hal tersebut dengan nada sedih. Laki-laki yang menjadi incarannya justru sudah ada yang memiliki. "Aku jadi iri."
"Aku juga," sahut Ino dengan tampang murung.
Sama halnya dengan ketiga gadis itu, para laki-laki terkecuali Sasuke juga penasaran dengan rupa kekasih Sasuke apakah cantik atau tidak? Tapi mengingat wajah Sasuke yang hampir sempurna, kemungkinan besar kekasih Sasuke juga memilki paras yang hampir sempurna pula.
Dahi Naruto mengernyit bingung. Ia tidak tahu jika Akuma yang memiliki nama asli Uchiha Sasuke itu memilki kekasih. Lalu untuk apa ia repot-repot menjadi manusia dan bersekolah serta mengejarnya jika telah memiliki kekasih?
"Apa gadismu itu cantik?" tanya Sai tiba-tiba. Dan itu membuat rasa penasaran Sakura dan Ino bertambah.
"Dia tidak cantik," ujar Sasuke masih dengan nada datar, membuat semua orang yang mengenal Sasuke terbelalak.
Mereka pikir paras kekasih Sasuke itu cantik. Tapi ternyata…
"Tapi cenderung manis," ralat Sasuke. "Rambutnya pirang cerah dan memiliki iris sewarna blue sapphire."
Dan jelaslah sekarang siapa gadis yang dimaksud oleh Sasuke. Meskipun tidak ada yang menyadarinya, tapi Sasuke yakin jika Sabaku Gaara tahu siapa orang yang ia maksud. Karena iblis berambut raven itu tahu Gaara bukan manusia bodoh.
Sasuke menatap Naruto yang juga menatapnya. Mereka saling tatap, tanpa memperdulikan yang lainnya. Menulikan pendengaran mereka dari segala curhatan kegalauan Sakura dan Ino, dan mungkin juga Hinata. Lagi pula siapa yang tahu isi hati gadis Hyuuga itu.
.
Selesai dengan acara makan siang mereka, akhirnya rencana yang sebenarnya akan segera terlaksana. Menghabiskan sore dengan bermain sepuasnya di game center. Kesebelas orang tersebut kini sudah berada di salah satu tempat game center yang diminati sebagian besar warga Kyoto.
Masing-masing dari mereka juga sudah memilih permainan apa yang akan mereka lakukan. Terkecuali Sasuke dan Naruto. Mereka berdua memilih duduk di sofa yang disediakan. Mereka hanya memandang yang lainnya tanpa ikut bermain.
"Sasuke…" lirih Naruto, tapi berhasil ditangkap dengan baik oleh telinga Sasuke.
"Hn?"
"Kau-" Naruto menatap Sasuke intens. "Benar-benar Akuma?"
Sasuke berdecak kecil mendengar pertanyaan Naruto yang menurutnya konyol. Sudah tiga hari ia menjadi manusia dan mate pirangnya itu belum mempercayainya juga? Entah matenya yang polos atau bodoh. Seharusnya bukti yang Sasuke tunjukkan waktu itu sudah menjadikan alasan yang kuat jika ia seorang Akuma. Lagi pula… ada berapa banyak manusia yang memiliki mata merah menyala dengan tiga tamoe yang mengeliilinginya? Percayalah kau hanya akan bisa menemukan satu dan itu adalah Sasuke, seorang iblis yang menyamar menjadi manusia hanya untuk mendapatkan hati dari matenya.
"Kau masih tidak percaya?" Sasuke menatap Naruto dengan mata onyx yang telah bertransformasi menjadi mata merah. Mata merah khas Akuma.
"Bu-bukan begitu," Naruto mengibas-ibaskan tangan kanannya di depan wajahnya. Melihat tatapan tajam dari iris yang berwarna merah itu selalu membuat nyalinya ciut seketika. "Ma-maksudku kau itu… "
"Hn?"
"Kapan segel tousan akan menarikmu kembali ke hutan Konoha?" tanya Naruto mengalihkan pembicaraan.
Melihat Naruto yang mengalihkan pembicaraan mereka, Sasuke tahu jika matenya itu belum sepenuhnya mempercayai jika dirinya adalah Akuma. Atau justru Naruto belum mempercayai jika sosok iblis yang mengncurkan desa dan membunuh orang tua Naruto memiliki wajah yang tampan?
Entahlah…
Yang pasti salah satu dari keduanya.
"27 hari lagi. Kenapa kau menanyakan hal itu? Kau tidak suka kalau aku ada disini?"
Naruto menghela nafas lirih. "Kenapa kau selalu berpikir seperti itu sih?" sungut Naruto.
"Karena kau membenciku. Iblis yang membunuh kedua orang tuamu."
"Jangan bahas itu lagi," desis Naruto tajam.
Seharusnya Sasuke sadar kalau Naruto tidak ingin membicarakan masalah kematian orang tuanya yang dibunuh oleh pria itu. Tidak tahukah dirinya jika sekarang Naruto sedang mencoba menerima Sasuke sebagai matenya, meskipun rasa takut kadang-kadang muncul jika mata merah milik Sasuke menatap dirinya tajam.
Keduanya terdiam. Suasana canggung mulai menyelimuti mereka. Naruto memperhatikan segala arah, asal jangan sampai melihat Sasuke. Sedangkan Sasuke sendiri, meskipun ia memperhatikan beberapa anak kecil yang asik bermain, tetapi sebenarnya ia mengawasi Naruto melalui ekor matanya.
Dan sialnya Sasuke baru sadar jika hewan peliharaan sang kekasih tidak berada di samping Naruto sejak mereka keluar dari sekolah. Apa mungkin hewan yang sebenarnya jelmaan itu telah kembali ke rumahnya?
Mungkin saja…
Tapi itu cukup menguntungkan Sasuke, karena dengan ketidak adanya Kyuubi, Sasuke dengan leluasa bisa mendekati Naruto. Dan seandainya ia bisa, ia pasti akan membunuh hewan itu. Tapi gara-gara perintah dari keluarganya, terkhusus kakaknya, ia harus menahan diri untuk tidak membunuh Kyuubi.
Kyuubi sebenarnya berasal dari dunianya. Ia adalah siluman, siluman rubah. Di dunianya Kyuubi dikenal dengan Kurama no Kitsune. Dan hubungan Kurama no Kitsune dengan keluarganya adalah karena Kurama mate kakaknya. Dan Sasuke diperintah oleh keluarganya untuk membawa Kyuubi serta.
"Sasuke… apa hubunganmu dengan Kyuubi?" tanya Naruto tiba-tiba.
"Kau akan tahu setelah kau ikut denganku ke duniaku. Tempat dimana seharusnya kita berada."
…
#Namikaze_Ayifa#
…
Waktu sudah mulai menunjukkan malam hari. Dan acara reunian itu telah selesai satu jam yang lalu. Naruto sendiri kini sedang melangkah menuju rumahnya. Sebenarnya tadi Gaara berniat mengantarkannya, namun Naruto menolaknya karena ia tidak ingin merepotkan teman barunya itu.
Tapi ucapan Gaara sebelum mereka berpisah benar-benar membuatnya tercengang. Gaara mengatakan pada Naruto jika ia memiliki firasat aneh dengan tatapan Sasuke yang terus tertuju padanya.
Sempat juga Naruto merasa jika Gaara itu bukan manusia biasa. Tapi ditepisnya perasaan itu, karena ia tahu jika Gaara adalah manusia biasa. Sama seperti dirinya dan yang lain. Hanya saja Gaara memang sedikit memiliki sensifitas tinggi terhadap aura dan cara tatapan orang, itu yang Naruto ketahui dari Kiba.
Naruto terus berjalan menuju rumahnya yang lumayan jauh. Iris birunya menyapu segala sudut, memperhatikan took-tooko yang mulai menyalakan lampu took mereka. Sesekali langkah ringannya terhenti hanya untuk melihat hal-hal yang menarik perhatiannya. Sampai kemudian ia kembali melangkah setelah puas memperhatikan hal yang menarik tersebut.
Hari semakin sore, tugas matahari muali berakhir dan digantikan oleh bulan yang mulai menampakkan dirinya. Naruto terus melangkah karena emang itu yang ia inginkan. Ia ingin menikmati sore hari. jarang-jarang ia bisa melakukan ini, karena biasanya di jam-jam segini, ia tengah membantu Iruka di rumahnya membuat makan malam. Tapi untuk sekarang… biarlah ia sedikit menikmati hidupnya.
Tap
Tap
Tap
Langkah terus terdengar. Jalanan yang ia lewati masih ramai. Sepertinya para pekerja kantor yang baru pulang. Dan diantara keramaian tersebut, sepasang mata terus mengamati Naruto sejak berpisah dengan teman-temannya.
Akuma
"Sebaiknya kau percepat langkahmu."
Langkah Naruto terhenti ketika ia mendengan suara Akuma dalam pikirannya. 'Pasti Sasuke mengikutiku,' batin Naruto
'Memangnya kenapa?' Naruto kembali melangkahkan kakinya.
"Ada bahaya yang mengintaimu. Sebaiknya kau cepat pergi."
Tidak ingin berdebat dengan Sasuke terlalu lama, akhirnya Naruto menurut meskipun dalam hatii ia sangat penasaran bahaya apa yang sedang mengintainya. Toh walaupun ada bahaya bukannya Sasuke akan melindunginya.
"Jangan berpikir untuk menantang bahaya itu dobe."
Naruto berdecak lirih. Ia selalu lupa jika Sasuke bisa membaca pikirannya.
'Memangnya ada apa?'
"Kau turuti saja perintahku."
'Tidak!'
Dan tiba-tiba Sasuke sudah berdiri di hadapan Naruto, masih dengan seragam sekolah yang melekat di tubuh kekarnya. Iris merah menyala milik Sasuke menatap Naruto tajam. Tanpa memperdulikan ekspresi terkejut dari matenya, kedua tangan Sasuke terulur dan melingkar di pinggang Naruto. Sasuke merengkuh Naruto dalam dekapannya sebelum akhirnya menghilang dalam pusaran angin.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan waktu setengah tujuh malam. Dan Naruto baru sampai di rumahnya. Jangan salahkan dirinya jika ia pulang sangat-sangat terlambat. Salahkan Sasuke yang seenak pantat ayamnya malah menyeretnya, menculiknya hanya untuk menyaksikan pembunuhan yang Sasuke lakukan.
Yup… setelah Sasuke membawanya tadi, ia justru malah menemui dua orang yang membuntuti Naruto. Entah apa maksudnya orang-orang tiu membuntuti Naruto, yang jelas itu bukanlah niat yang baik mengingat kedua orang tersebut membawa senjata tajam yang disimpan dibalik jaket yang mereka kenakan.
Di gang sempit, Sasuke membunuh orang tersebut. Dan Naruto melihat pembunuhan itu dengan mata kepalanya sendiri. Ini pertama kalinya bagi Naruto melihat pemandangan keji. Tidak tahu apa maksud Sasuke yang memaksa Naruto untuk melihat pembunuhan itu. Karena Naruto sendiri tidak peduli dengan tingkah laku Akuma yang memang selalu ajaib.
"Naruto… kau baru pulang?" tanya Iruka. Pria dengan luka berupa garis melintang di hidungnya itu terlihat lega begitu melihat Naruto sudah kembali. Mungkin pria yang selama ini mengasuh Naruto merasa khawatir ketika Naruto amat sangat terlambat pulang. Dan lagi pulang terlambat bukanlah kebiasaan Naruto.
Naruto yang ditanya justru tidak menjawab. Ia malah melepas sepatunya yang masih terpakai dan menyimpannya di rak sepatu yang letaknya tak jauh dari tempat berdiri. Sesaat Naruto melirik Iruka yang sepertinya menunggu jawaban dari dirinya.
"Iya jisan. Maaf membuat jisan cemas karena aku tidak mengabari jisan," jawab Naruto.
Iruka tersenyum lembut, sebelum akhirnya ia berbalik dan pergi. "Jisan akan menyiapkan makan malam. Kau, bersihkan tubuhmu terlebih dahulu, setelah itu turunlah ke dapur,
pesan Iruka sebelum akhirnya sosoknya hilang di balik pintu.
Tanpa menjawab apapun, Naruto langsung menyeret kakinya menuju ke lantai atas. Tapi langkah kakinya harus terhenti, begitu ia melihat sesuatu yang janggal. Iris biru lautnya, memandang sepasang sepatu yang tidak pernah Naruto lihat. Jelas sekali itu bukan sepatu miliknya, karena ia sendiri tidak merasa memiliki sepatu itu. Kalau Iruka… juga tidak mungkin, sepatu itu memiliki ukuran satu nomor lebih besar dari ukuran sepatu sang jisan.
Dan jangan tanyakan mengapa Naruto bisa mengetahui ukuran kaki Iruka. Itu karena ia sering menemani Iruka membeli sepatu.
'Mungkin ada tamu,' Naruto mengangkat bahunya acuh. Ia kembali melanjutkan langkahnya menaiki tangga yang akan membawanya ke lantai dua, dimana kamarnya berada.
.
Dua puluh menit adalah waktu yang Naruto habiskan untuk mandi dan mengenakan pakaiannya. Malam iini mengenakan kaos lengan pendek berwarna putih gading dengan gambar spiral di bagian perut. Untuk bawahannya, Naruto hanya mengenakan celana trining berwarna hitam.
Naruro sudah siap di kursinya. Di hadapannya tersedia semangkuk besar ramen miso dengan banyak naruto di dalamnya. Iruka juga sudah siap di tempat duduknya. Mereka berdua sudah siap sejak dua menit yang lalu, tapi Iruka mencegah Naruto untukmenghabiskan makan malamnya terlebih dahulu. Ketika ditanya mengapa, Iruka menjawab 'tidak sopan memakan makanan terlebih dahulu ketika semua orang belum di meja makan. Tunggu beberapa menit lagi.'.
Memangnya mereka menunggu siapa? Jelas-jelas mereka hanya tinggal berdua di rumah itu. Lalu siapa yang pamannya tunggu?
"Memangnya jisan menunggu siapa?" tanya Naruto tidak sabar.
"Kita menunggu-"
Perkataan Iruka harus terpotong karena kedatangan seseorang.
"Maaf menunggu lama," ucap orang tersebut yang langsung ditanggapi dengan senyuman kecil Iruka sambil menggumam 'tidak apa-apa'.
Naruto menatap pria dewasa yang kini duduk di hadapannya. Jelas sekali Naruto sangat mengenal pria itu ketika pertemuan terakhir mereka adalah lima hari yang lalu di Konoha.
"Kakashi-sensei!" pekik Naruto sambil menunjuk Kakashi dengan tidak sopannya.
"Naruto, tidak sopan menunjuk orang yang lebih tua seperti itu," tegur Iruka.
Abaikan Kakashi yang hanya tersenyum kecil di balik maskernya. Dan lagi… bagaimana cara Kakashi memakan makan malamny jika tidak melepaskan maskernya?
Entahlah~~ toh itu tidak ada hubungannya dengan Naruto.
Tapi Naruto masih bingung dengan keberadaan pemandu camping yang tiba-tiba berada di rumahnya.
"Ke-kenapa kakashi-sensei ada di sini?" Naruto menatap tajam kakashi.
"Kakashi akan menjagamu selama satu bulan. Sampai Akuma kembali tersegel di dalam hutan," ujar Iruka sambil menatap balik Naruto.
Mata Naruto melebar, mulutnya terbuka, dan pekikan yang tidak bisa dibilang pelan itu kembali terdengar di rumah Iruka. "Untuk apa? Aku masih bisa menjaga diriku sendiri dari Sas- maksudku Akuma. Toh selama tiga hari ini ia tidak berbuat yang aneh-aneh padaku," hampir saja Naruto menyebutkan nama asli Akuma. Entah bagaimana jadinya jika ia kecleposan menyebutkan nama asli Akuma.
"Dan lagi… bagaimana caranya?" tanya Naruto.
"Itu… urusanku. Kau hanya perlu bersekolah seperti biasanya. Dan jauhi Akuma. Aku yakin Akuma pasti sudah menunjukan wujud aslinya padamu," jawab Kakashi santai, seolah-olah tidak terganggu dengan perdebatan kecil yang beru saja terjadi antara Iruka dengan Naruto.
Naruto mendengus sebal. Ia mulai memakan ramennya dengan brutal. Tidak memperdulikan Iruka dan Kakashi yang hanya menggeleng kepala mereka.
…
#Namikaze_Asyifa#
..
Keesokan harinya, Naruto mendiamkan Iruka dan Kakashi. Ia hanya mengumam kecil ketika Iruka atau Kakashi bertanya padanya. Naruto tidak tahu reaksi apa yang nanti Sasuke perlihatkan ketika melihat Kakashi menjadi salah satu guru di sekolahnya. Tapi Naruto sangat yakin jika Sasuke pasti mengenal Kakashi.
Tapi begitu bel masuk berbunyi dan kepala sekolah mengenalkan Kakashi sebagai guru sejaarah di kelas Naruto, Sasuke terlihat acuh dan tidak peduli. Mungkin jika seorang yang menjadi guru adalah orang paling berpengaruh di dunia pun, Sasuke masih akan terlihat cuek.
Dan bagi Kakashi, menemukan Akuma adalah hal yang sangat mudah. Apalagi Iruka pernah memberitahunya jika Akuma menjadi seorang siswa baru di kelas Naruto, dan siswa baru yang ada di kelas putra mendiang Manikaze Minato hanya satu dan itu adalah Uchiha Sasuke.
Akuma menyadarinya. Pria bermasker dengan rambut perak yang menjadi guru baru di kelasnya itu adalah salah satu penduduk Konoha dan seorang bawahan Tsunade. Sasuke yakin jika keberadaan Kakashi di Kyoto pasti karena ulah Tsunade yang menyuruhnya untuk menjaga Naruto dan mengawasinya. Tapi untuk apa mereka melakukan hal itu jika berakhir sia-sia? Apapun yang Tsunade rencanakan, wanita tua itu pasti tidak akan pernah bisa mencegah takdir yang memang sudah mengikat Naruto dengannya.
Di kursi yang paling belakang, pojok kanan, serta di belakang tempat duduk Naruto, Sasuke menatap Kakashi yang sedang menjelaskan materi pembelajaran dengan mata merahnya. Jangan lupakan seringai menakutkan yang tersungging di bibir tipisnya.
'Kau akan kalah Tsunade.'
.
Bel istirahat telah berbunyi lima menit yang lalu. KIba juga sudah meningglakan kursinya dan pergi mencari makanan di kantin bersama Neji dan Shikamaru. Sedangkan Naruto, ia masih harus tertahan di kelasnya dengan Sasuke beserta fansgirlnya yang entah sejak kapan sudah mengerubungi Sasuke. Bahkan Naruto terpaksa harus pindah kursi karena kursinya sekarang sedang di duduki oleh seorang gadis tingkat dua berbeda kelas dengan Naruto yang bernama Matsuri dan teman-temannya.
Naruto mendengus kecil, sebelum kembali melanjutkan aktifitasnya, yaitu mencoret-coret buku tulis miliknya dengan lukisan abstrak. Bibirnya terus bergerak, menggumamkan berbagai jenis umpatan yang ia ketahui. Tangan kanannya masih setia memegang pensil.
SASUKE
Tanpa sadar Naruto menuliskan nama Sasuke. Pemuda kelahiran Oktober itu sesaat berhenti mengumpat. Irisnya menatap tajam kata tersebut sampai di detik berikutnya ia mengumpat lebih keras–walau tidak lebih keras dari teriakan kekaguman para fansgirl Sasuke–dan jari-jari tangan kanannya semakin erat memegang pencil, memberikan tekanan yang lebih besar dari sebelumnya dan mencoret-coret nama Sasuke dengan semangat.
'Akuma sialan….'
Sang Akuma sendiri sangat menyadari kekesalan sang kekasih, tapi bukannya menghiburnya atau apa ia justru membiarkan Naruto mengumpat tidak jelas dan melampiaskan kekesalannya pada buku tulis yang tidak bersalah. Karena sebenarnya, Sasuke cukup menikmati pemandangan itu. Bibir cherry yang terus menggumamkan kata-kata kasar. Iris matanya yang berkilat tajam. Sangat menggemaskan.
"Kau memang cantik, Naruto."
Suara Akuma berhasil membuat Naruto terhenti dari aktifitasnya meluapkan kekesalan pada buku tulis.
'Waktu itu kau mengatakan kalau kekasihmu itu tidak cantik,' balas Naruto sinis.
"Berarti kau mengakui kalau kau adalah kekasihku, eoh?"
'Berhentilah berbicara omong kosong.'
"Itu bukan omong kosong, sayang."
'Kau membuatku mual.'
Sasuke tidak meyahut. Tapi di balik kerumunan gadis-gadis, Sasuke mengawasi matenya yang bisa dikatakan tengah merajuk itu.
Sebenarnya bisa saja Naruto meninggalkan kelasnya dan menyusul Kiba, tapi salahkan saja Sasuke yang kembali berbuat seenaknya. Iblis itu malah membekukan kaki Naruto sehingga Naruto tidak bisa berjalan terlalu lama.
Mentang-mentang dia bukan manusia jadi memperlakukan Naruto seenaknya. Coba saja jika mereka tukeran tempat, mungkin Naruto akan menjadi iblis yang baik hati, tidak membunuh, dan peduli lingkungan–abaikan kata terakhir.
'Aku lapar. Kalau kau ingin tahu,' keluh Naruto.
"Lalu?"
'Kau tahu maksudku.'
Selang beberapa detik, tidak ada jawaban dari Sasuke. Tapi Naruto yakin Sasuke pasti merencanakan sesuatu. Dan ternyata…
SRET!
Sasuke beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah Naruto. Semua gadis yang tadinya mengerubungi Sasuke hanya bisa terpaku kaget. Mata mereka terbelalak lebar begitu Sasuke menyeret Naruto keluar kelas secara paksa.
"Apa mereka sepasang kekasih?" tanya salah satu fans Sasuke pada yang lainnya. Masih dengan menatap punggung Sasuke yang sudah tak terlihat.
"Tidak mungkin," bantah seorang lainnya.
"Tapi bisa saja mungkin."
Dan dengung suara bermunculan tentang spekulasi hubungan antara Sasuke dan Naruto.
…
#Namikaze_Asyifa#
…
Di waktu yang bersamaan, di desa Konoha. Tepatnya di ruangan kerja Hokage, Tsunade kini tengah menelpon seseorang yang tengah menjalankan misi penting darinya.
"Jadi–bagaimana? Kau sudah bertemu dengannya?" tanya Tsunade.
"Sudah Hokage-sama. Di sekolah Akuma dikenal dengan nama Uchiha Sasuke. Satu kelas dengan putra Yondaime Hokage. Dan duduk tepat di belakang Naruto," lapor Kakashi.
"Bagaimana gerak-geriknya?"
"Masih terlihat normal, Hokage -sama. Tetapi saya masih belum bisa menebak rencana Akuma."
"Teruskan saja misimu. Awasi Akuma. Jangan sampai kita kecolongan," titah Tsunade sambil menegak sake langsung dari botolnya.
"Ha'i."
Tut
Tut
Tut
Sambungan terputus. Shizune yang berdiri tepat di samping sang Hokage menatap Tsunade penuh tanya. Tapi dihiraukan oleh Tsunade. Wanita yang sebenarnya sudah tua itu kembali menenggak sake yang ada.
Tsunade memang terlihat santai. Tapi sebenarnya, pikirannya tengah melalang buana. Ia pernah mendengar nama Uchiha Sasuke, tapi dimana dan kapan. Itulah yang membuat Tsunade merenung. Ia tahu jika saat ini Shizune tengah penasaran dengan hasil laporan Kakashi, tapi mau bagaimana lagi, ia harus mencari tahu tentang nama asli Akuma.
Dan detik berikutnya, mata Tsunade terbelalak. Kakeknya, Senju Hashirama adalah salah seorang dari dua orang yang membangun desa Konoha. Dan kalau tidak salah, orang lain yang turut membantu kakeknya itu juga memiliki marga Uchiha.
Tsunade masih ingat–meski samar-samar kakeknya berselisih paham dengan Uchiha Madara. Serta peristiwa yang membuktikan kalau ternyata Uchiha Madara bukanlah manusia pada umumnya. Uchiha Madara adalah sosok dari iblis.
Dan jika benar Akuma adalah seorang Uchiha, maka bisa dipastikan peristiwa tujuh belas tahun yang lalu sudah di rencanakan oleh para iblis Uchiha.
Dan satu-satunya petunjuk tentang semua itu adalah perkamen Uzumaki.
"Shizune, siapkan perlengkapan. Kita akan ke kuil Uzumaki dan rumah Minato," perintah Tsunade.
"Baik," sahut Shizune. Ia kemudian pergi meninggalkan ruangan Tsunade dan menyiapkan segala keperluan.
…
#Namikaze_Asyifa#
…
Malam ini, di kediaman Iruka terasa sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya. Lebih dingin dan lebih mencengkam. Kenapa? Itu semua karena Iruka kedatangan seorang tamu lain selain Kakashi. Dan dia adalah Akuma–Uchiha Sasuke.
Iruka dan Kakashi sedari tadi tidak pernah melepaskan tatapan mereka pada Sasuke. Naruto sendiri acuh, biarlah pamannya dan Kakashi melakukan apa asal tidak mengganggu ketenangannya.
Dan lagi–kenapa ada Akuma di rumah Iruka?
Itu karena setelah Sasuke menyeret Naruto secara paksa tadi siang, iblis raven tersebut membawa Naruto ke atap sekolah. Dan entah karena sihir atau apa, ketika sampai di atap, Naruto dikagetkan dengan banyaknya makanan yang tersedia di atas meja.
Naruto tidak tahu saja kalau sebenarnya ada sesuatu dibalik sikap baik Sasuke. Jawabannya adalah ini. Sasuke meminta pada Naruto untuk menginap di rumah sang blonde. Naruto sempat menolak. Karena ia tahu, akan sangat berbahaya jika membawa Sasuke ke rumahnya. Bisa-bisa rumah yang ditinggalinya itu akan menjadi abu jika membiarkan Sasuke memaksa menginap di rumah Naruto. Ingat… ada Iruka dan Kakashi di rumahnya. Dan itu berarti bukan hal yang baik.
Tapi dasar sifat iblis yang keras kepala, Sasuke tetap memaksa Naruto. Dan akhirnya Naruto mengalah. Ia mengizinkan Sasuke menginap di rumahnya dengan syarat tidak mengeluarkan kekuatan sekecil apapun.
Buat jaga-jaga kalau-kalau rumahnya hangus terbakar oleh Sasuke.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Iruka tajam pada Sasuke. Mungkin jika dilihat dari luar Iruka terlihat berani menatap Sasuke secara langsung, tapi sebenarnya, ia hampir memukul wajah datar Sasuke saking gemetarnya.
"Hn," gumam Sasuke tidak jelas.
Abaikan Naruto yang kini justru sedang memakan cemilannya sambil menonton televise.
"Akuma," desis Kakashi. Ia sudah siap jika Sasuke akan menyerang mereka.
"Tenanglah Kakashi-sensei… Sasuke tidak akan berbuat macam-macam," ujar Naruto tanpa melepas tatapannya dari acara yang disiarkan di televisi.
"Bagaimana kau bisa yakin Naruto?" pekik Iruka.
Naruto memasukkan cemilannya ke mulutnya. "Karena Sasuke sudah janji."
Iruka menghela nafas pasrah. Jika Naruto sudah menjanjikan hal tersebut, tidak ada alas an lain selain menuruti.
"Kau,," Iruka menunjuk Sasuke yang menatapnya datar. "..tidur di kamar tamu. Kakashi tidur di kamarku. Sedangkan aku akan tidur dengan Naruto," Iruka mengatur pembagian tempat tidur. Bagaimanapun juga ia hanya memiliki tiga kamar. Satu milik Naruto, satunya lagi milikinya sendiri, dan sisa satu kamar tamu yang baru di tempati oleh Kakashi.
Naruto mengangguk setuju disusul oleh Kakashi. Namun Sasuke hanya diam, tidak menyahut ataupun membantah.
Dan ketika semua orang sibuk menonton TV, diam-diam Sasuke menyeringai keji dnegan iris onyxnya yang berganti menjadi merah menyala.
.
Waktu sudah menunjukkan tengah malam, di kamar yang ditempati oleh Naruto dan Iruka, sang pemuda blonde tertidur dengan gelisah. Keringat dinginnya mulai bercucuran. Erangan-erangan yang tidak bisa dikatan kecil terus mengalun lembut dari kedua belah bibir Naruto. Kedua tangannya mencengkram selimut yang menutupi tubuhnya.
Anehnya, baik Iruka maupun Kakashi tidak menyadari erangan yang Naruto keluarkan.
Tanda merah seperti memar muncul di perpotongan leher Naruto. Dan itu tidak hanya satu, melainkan hampir lima buah. Ruam-ruam tersebut hampir seperti bekas kissmark.
Kakinya menjejal kesana kemari. Tidurnya tampak tidak nyaman, namun terlelap.
Sadar–tidak sadar, Naruto kini tengah dilecehkan oleh Sasuke dalam mimpi.
…
To
Be
Continued
…
Okey… chap 7 sudah datang.. maaf ya up date lama bin bgt..
Sebenarnya ada adegan enceh nya,.. tapi karena ni fic rate T, so enceh nya tersirat saja ya~~
Btw,. Buat para penggila M-Preg, gk lama lagi bakalan muncul..
Tanpa banyak cuap-cuap sekian dulu..
BYE.. sampai ketemu di chap depan..
..
Review ya,, saya merasa kalau chap ini sangat ancur..
Tolong saran untuk chap ini..
