Loveina CruelWorld Chap. 7 -END-

Title : Love in a Cruel World

Author : Putri ChanBaek26

Casts :

- Byun Baekhyun - Park Chanyeol

- And All EXO members

Pairing : ChanBaek

Genre : Shounen-ai! Yaoi! BoyXBoy! Yang gak suka BoyxBoy mending kembali..

Summary : Baekhyun membuat iklan keperjakaannya disalah satu situs xxx karena ia harus membayar uang sekolah secepatnya. Apa jadinya jika ternyata ia menerima penawaran dari namja yang ia cintai sekaligus membenci dirinya? Apa yang akan terjadi?

"Aku juga mencintainya ahjumma. Aku pasti akan menemukannya dan membawanya kehadapan ahjumma." Ucap Chanyeol berjanji.

"Ahjumma tunggu janjimu Park Chanyeol."

Happy Reading

Chap. 7

3 Tahun Kemudian...

Terdengar bunyi sendok dan garpu yang saling beradu di dalam ruang makan rumah mewah tersebut, empat orang yang berada di ruang makan itu terlihat hikmat saat menikmati makanan yang ada dihadapan mereka. Namun suasana hikmat itu terpecah saat seorang yeoja paruh baya membuka percakapan.

"Chanyeol, dari tadi Eomma lihat kau hanya mengaduk – aduk makanan mu saja. Apa rasanya tidak enak?" Tanya yeoja itu yang ternyata adalah Eomma Chanyeol.

"Tidak. Aku hanya tidak selera." Jawab Chanyeol sambil menjauhkan makanannya.

"Aish, kau ini! Berhentilah bersikap seperti itu! Sudah tiga tahun ini kau selalu diam dan mengurung diri dikamar. Kau juga jarang sekali memakan makananmu. Apa yang sebenarnya kau pikirkan Chanyeol~ah?" Tanya yeoja itu lagi.

"Ya, benar! Apa kau ditinggalkan pacarmu?" Seorang yeoja muda yang bertanya.

Chanyeol menatap tajam kearah yeoja itu, ia sangat kesal karena tebakan yeoja itu benar.

"Kau tidak perlu tau Park Yoora." Kata Chanyeol tajam.

"Yak! Kau ini juga sudah tidak sopan kepada noona mu sendiri. Apa yang terjadi padamu Chanyeol?"

"Sudahlah Eomma. Aku sedang tidak ingin berdebat." Chanyeol segera beranjak dari kursinya.

"Sudah tidak usah perdulikan eomma. Oh iya, kita membahas tentang namja yang diberita tadi saja Eomma, siapa tadi namanya?"

"Byun.. Bae-Baek.. Hyun kalau tidak salah." Ucap Eomma sambil berpikir.

Deg~

Chanyeol yang belum begitu jauh menghentikan langkahnya saat mendengar perkataan Eommanya.

"Ya! Kasihan sekali namja itu. Karena terlalu miskin ia rela mencopet."

"Ya, padahal ia masih muda dan cantik."

"Tampan dan imut Eomma." Kata Yoora mengkoreksi.

"Ya, haha."

Chanyeol segera kembali menuju meja makan, kemudian ia berdiri disamping eomma nya.

"Siapa namanya eomma?" Tanya Chanyeol tidak sabaran.

"Memangnya kenapa?"

"Jawab saja eomma."

"Byun Baekhyun"

Chanyeol memenjamkan matanya mencoba untuk berpikir positif. Mungkin saja namanya kebetulan sama.

"Bagaimana ciri – cirinya eomma?"

"Memangnya kenapa sih?"

"Sudah jawab saja eomma!" Bentak Chanyeol kasar.

"Yak! Kau ini tidak sopan sekali!" Noona Chanyeol, Park Yoora berteriak marah.

"Aish, aku hanya ingin tau!"

Eomma terlihat kesal, namun ia berusaha untuk bersikap biasa saja didepan anak – anak dan suaminya.

"Dia pendek, kurus, dan cantik untuk ukuran seorang namja."

Chanyeol mencoba menerawang, ciri – ciri yang disebutkan Eommanya sangat mirip dengan ciri – ciri Baekhyun. Namun, ia tidak berharap bahwa orang itu adalah Baekhyun. Tapi kalau tidak begitu, kapan lagi ia akan bertemu dengan BaekhyunNYA?

"Dimana Eomma?"

"Apanya?"

"Dikantor polisi mana ia ditahan?"

"Tentu saja dikantor polisi Seoul."

Mendengar itu Chanyeol langsung berlari ke arah depan rumahnya, tak lupa sebelumnya ia mengambil kunci mobil dan jaket.

"Anakmu itu sangat aneh Yeobo." Kata Eomma Chanyeol kepada namja paruh baya yang sedari tadi hanya diam.

Namja paruh baya itu hanya berdehem sambil menikmati makanannya yang hampir habis.

-oOo-

Namja berkulit susu yang kita kenal sebagai Oh Sehun itu terlihat berkali – kali menegak minuman yang ada dihadapannya. Sesekali dari bibir nya terdengar racauan sebuah nama yang tidak asing.

Saat ia akan kembali menegak minumannya, seorang namja cantik menarik paksa agar minuman itu terlepas dari tangan Sehun.

"Lulu cantik! Kau ingin membuat aku marah eum?" Kata Sehun sambil tertawa.

"Yak! Berhenti bertingkah seperti itu Sehun~ah! Hyung tidak suka kalau kau bermabuk – mabukan terus!" Teriak namja yang dipanggil Lulu itu, yang ternyata adalah Luhan.

"Lalu aku harus bagaimana Lulu? Kau yang membuat aku seperti ini. Kenapa kau pisahkan aku dulu dengannya?" Sehun berdiri dengan oleng. Ia memegang bahu Luhan dengan kuat.

"Lepaskan! Kau gila Oh Sehun! Hyung hanya melakukan hal yang benar!" Pekik Luhan. Ia mulai menangis.

"Begitu ya? Haha." Sehun tertawa dengar keras. Ia kemudian menguncang – guncng tubuh mungil Luhan.

"Lepaskan!" Teriak Luhan keras.

Sehun pun menghentikan guncangannya, dan melepaskan tangannya dari bahu Luhan.

Kemudian ia menatap Luhan dengan sendu.

"Ternyata kau mirip juga dengan Baekhyun."

"A-Apa?"

Tanpa menunggu reaksi dari Luhan, Sehun langsung melumat bibir mungil Luhan.

Sepertinya ini diluar dari kesadaran Sehun. Karena ia terus melumat bibir itu, tanpa memperdulikan rontaan dari hyungnya tersebut.

"Lepa-sh-ka-anh—" Kata Luhan disela – sela ciuman mereka.

Sehun langsung melepaskan ciuman mereka. Kemudian ia kembali menatap Luhan.

"Baekhyun kau sudah kembali!" Katanya sambil tertawa bahagia.

Sungguh Sehun terlihat seperti orang gila, mungkin karena ia mabuk. Mungkin.

"Ini aku hyung-mu Sehun!" Ucap Luhan sambil mengusap bibirnya.

Ia tidak marah, ia tau bahwa kesadaran Sehun tidak normal.

"Aku tau! Baekhyun!" Kata Sehun lagi.

Tiba – tiba Sehun mengangkat tubuh mungil Luhan itu ala Bridal Style.

Tanpa bisa dicegah ia pun membawa tubuh Luhan ke ranjangnya. Kemudian ia menindih dan mengunci pergerakan tubuh hyungnya itu.

Jelas saja perbuatan Sehun itu membuat Luhan takut setengah mati, bagaimana pun juga Sehun itu adik kandungnya. Ia tidak mau kalau adiknya itu sampai memperkosa dirinya. Itu benar – benar diluar akal pikiran. Apalagi Sehun menganggapnya sebagai Baekhyun.

"Lepaskan hyung! Sehun! Aku hyungmu!" Teriak Luhan menjadi – jadi.

Sehun tidak menghiraukan teriakan Luhan itu, ia malah kembali membungkan bibir mungil Luhan dengan bibirnya.

Air mata Luhan kembali membanjir, sungguh ia tidak punya tenaga lagi untuk berusaha melepaskan diri dari serangan Sehun itu. Apalagi tangan Sehun sudah berada didalam bajunya.

"Se-hun~aahhh." Teriakan Luhan telah berubah menjadi desahan.

Siapapun pasti tidak akan tahan diperlakukan seperti itu.

"Malam ini kau milikku Baekhyun~ah." Kata Sehun sebelum menurunkan jilatannya ke leher Luhan.

"Sehuuuuuuunnnnaahh!"

'Mianhae Hyung..'

-oOo-

'Brak!'

Terdengar suara pecahan kaca dari dalam rumah sebuah yang cukup besar, teriakan juga terdengar saling sahut menyahut dari dalam. Sungguh suasana yang dapat memekakkan telinga.

"Kim Jong In! Apa kau sudah gila?! Appa membesarkanmu bukan untuk menjadi brengsek seperti ini! Bajingan kau!" Teriak namja paruh baya sambil menghancurkan apapun yang berada dihadapannya.

"Hiks.. Eomma benar - benar kecewa padamu Jong In!" Seorang yeoja menangis pilu disudut ruangan.

Sementara seorang namja muda yang bernama Kim Jong In, atau kita lebih mengenalnya dengan nama Kai sedari tadi hanya menunduk. Ia tidak mau mengangkat kepalanya.

"Jawab Appa! Kenapa kau sampai melakukan hal seperti itu hah?!" Teriak namja paruh baya itu lagi, Appa Kai.

"Appa terlalu berlebihan! Hal itu sudah sering terjadi, bahkan dari jaman dahulu pun sudah ada." Kata Kai yang menatap appanya tajam.

"Apa kau bilang? Bajingan kecil kau! Dari dulu juga orang tau bahwa itu perbuatan yang salah!" Ucap Appa Kai sembari memukuli Kai. Kai hanya diam tak bergeming.

"Sudah lepaskan Yeobo!" Pekik Eomma Kai. Ia berlari ke arah Kai dan Appanya.

"Anak ini memang perlu diberi pelajaran! Berani sekali dia berbicara seperti itu!" Appa Kai tetap memukuli Kai tanpa ampun.

"Sudah yeobo! Ku mohon." Eomma Kai kemudian berlutut memeluk kaki Appa Kai.

"Lepaskan! Bajingan kecil ini harus diberi pelajaran biar ia jera!" Appa Kai melepaskan tali pinggangnya. Ia pun memukuli Kai dengan tali pinggangnya itu. Membuat Kai jatuh bersimpuh dihadapan Appanya.

Kai menggigit bibirnya keras untuk mengurangi sakit yang ia rasakan. Sungguh cambukan Appanya benar - benar sakit. Tapi bagaimana lagi, itulah resiko yang harus ia hadapi.

"Sudah Yeobo! Sudah!" Pekik Eomma Kai sambil memeluk Kai dengan erat. Mau tidak mau Appa Kai kemudian menghentikan cambukannya. Ia pun berkacak pinggang didepan Istri dan anaknya itu.

"Pokoknya Appa tidak mau tau! Kau harus menikahi yeoja itu!" Kata Appa Kai dengan keras. Mendengar itu Kai pun mendongak. Ia menggelengkan kepalanya cepat.

"Aku tidak mau Appa!" Teriaknya keras.

"Apa kau bilang? Kau yang sudah menghamilinya, tapi kau tidak mau bertanggung jawab? Manusia macam apa kau ini hah?"

"Aku dijebak Appa!" Kai mencoba membela diri.

"Kau pikir ini drama murahan? Mana ada istilah seperti itu! Sekarang kau masuk kamar, dan tunggu waktu pernikahan kalian!" Kata Appa sambil berjalan pergi.

"Tidak! Aku tidak mau!"

'Dasar kau Yeoja Sialan!'

-oOo-

Suara dentuman musik memenuhi sebuah ruangan, lampu kelap - kelip dan bau alcohol juga menyeruak diruangan itu. Anda pasti sudah bisa menebak bukan? Jadi tidak perlu dijelaskan lebih lanjut.

Terlihat seorang namja tinggi sedang duduk melamun disalah satu kursi disudut ruangan itu, tak menghiraukan suara musik yang mampu memekakkan telinga. Sesekali ia meraih gelas yang berisi minuman beralcohol.

Dari jauh terlihat seorang yeoja seksi berjalan menuju kearah namja itu, dengan senyum menggoda ia pun menyapa namja tinggi itu.

"Hai tampan, mau ku temani?" Tawar yeoja itu.

Namja tinggi itu mendongak, kemudian dengan senyum menawan ia mengibaskan tangannya. Tanda penolakan. Dengan merengut yeoja itu pun pergi dari hadapan namja tinggi itu.

"Kris hyung!" Panggil seorang namja manis yang tiba – tiba muncul kepada namja tinggi itu.

Namja tinggi yang ternyata adalah Kris itu menoleh, kemudian ia melambaikan tangannya.

Namja yang memanggil Kris tadi mendekat, lalu ia mendudukkan dirinya disebelah Kris.

"Apa yang hyung lakukan disini?" Tanya namja manis itu sambil mengeraskan suaranya, berusaha mengimbangi suara musik diruangan itu.

"Tidak ada." Jawab Kris singkat.

Namja manis itu menghela napas panjang. Kris tidak biasanya seperti ini.

"Apa hyung masih sedih?" Tanya namja itu lagi.

"Sedih atas?" Kris balik bertanya.

"Atas kematian yeoja chingu hyung."

Kris menunduk, ia sedikit tersenyum miris.

"Hyung tidak pernah sedih atas kematiannya. Hyung hanya kecewa pada diri hyung sendiri karena tidak bisa mencintainya."

Namja manis itu mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti.

"Selama dua tahun berpacaran hyung tidak pernah mencintainya." Kata Kris membuat namja manis itu sedikit mengerti.

"Kenapa hyung tidak mencintainya? Padahal dia kan cantik."

"Karena.. Karena hyung mencintai orang lain."

"Siapa?" Tanya namja manis itu penasaran.

"Namanya Byun Baekhyun."

Namja manis itu mengepalkan tangannya. Tanpa perlu dijelaskan pun ia sudah tau siapa namja itu. Ia mengenal namja yang bernama Byun Baekhyun itu beberapa tahun yang lalu.

"Hyung s-suka namja?" Tanya namja itu lagi gugup.

"Ya. Hyung sangat mencintainya. Hyung menyesal telah menolaknya dulu. Padahal kalau dulu kami bersama, pasti sekarang hyung sangat bahagia."

Namja manis menunduk mendengar perkataan Kris. Ada rasa sesak didadanya saat mendengar hal itu. Ia tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya. Bahkan saat yeoja chingunya ketahuan selingkuh pun ia tidak merasakan sesesak ini.

"Hyung bahkan merasa ingin mati saat tahu bahwa ia menghilang. Kau lihat ini? Hyung pernah mencoba untuk bunuh diri." Kata Kris sambil menunjukkan pergelangan tangannya. Melihat bekas itu namja manis itu merinding, padahal sejujurnya dulu ia sangat sering mencelakakan korban pelecehan yang ia lakukan bersama temannya.

"Hyung—"

"Eum?"

"Hyung jangan terlalu memikirkannya. Mungkin ia sudah mati." Ucap namja itu tak berperasaan.

Kris menatap namja itu tajam, kemudian ia meraih wajah namja itu.

"Walaupun ia sudah mati, tapi dihatiku ia tetap hidup." Kata Kris membuat namja itu berkeringat dingin.

"H-Hyung."

Kris melepaskan tangannya, kemudian ia meneguk minumannya sampai habis.

"Huang Zitao! Temani hyung malam ini." Kata Kris sambil beranjak dari kursinya.

"Ba-Baik hyung."

'Kena kau hyung! '

-oOo-

Chanyeol melangkahkan kaki jenjangnya kearah kantor polisi yang beberapa meter dihadapannya. Ia kemudian membuka pintu kantor polisi itu dengan perasaan tak karuan. Ia benar - benar berharap kalau namja itu adalah Baekhyun. Karena pencariannya selama 3 tahun ini sama sekali tidak membuahkan hasil. Jadi ia sangat berharap namja itu adalah Baekhyun. Ia sudah merasa mati karena tidak tahan untuk menahan kerinduan.

Ketika ia memasuki ruangan itu, seorang polisi menahan langkahnya.

"Bisa saya bantu?" Tanya Polisi itu sopan.

Chanyeol memperhatikan polisi itu sejenak. Kemudian ia menganggukkan kepalanya ragu.

"Ya.. Aku ingin melihat namja yang ditangkap karena kasus pencopetan."

"Oh, apa kau keluarganya?" Tanya Polisi itu lagi.

"A-Aku hanya ingin melihat apa aku mengenal namja itu." Jawab Chanyeol sambil memandang berkeliling.

Polisi itu mengangguk, kemudian menepuk pundak Chanyeol pelan.

"Tunggu disini, aku akan menyuruh temanku membawanya kemari." Polisi itu pun terlihat menuju kearah polisi lain. Setelah berbincang sebentar kemudian teman Polisi tadi menuju kesebuah ruangan.

Sementara Chanyeol menunggu dengan perasaan yang tak karuan, sulit untuk digambarkan.

Setelah beberapa lama, polisi yang masuk keruangan tadi keluar dengan seorang namja kecil dengan pakaian lusuh. Namja itu terlihat menundukkan kepalanya.

Polisi dan namja kecil itu pun berjalan mendekat kearah Chanyeol. Setelah sampai dihadapan Chanyeol, polisi tadi tersenyum sebentar.

"Apa anda mengenal namja ini?" Tanya polisi yang bername tag Lee SooMan itu.

Chanyeol tak menjawab, ia memperhatikan namja itu dari atas kebawah. Secara fisik namja itu memang terlihat seperti Baekhyun, namun Chanyeol tidak tahu wajahnya karena namja itu terus menunduk.

"Aku tidak dapat melihat wajahnya." Kata Chanyeol.

Lee SooMan mengangguk, kemudian mengangkat wajah namja kecil itu.

'Deg~'

'Yeollie.'

Seluruh persendian Chanyeol serasa ingin lepas saat melihat wajah namja kecil itu. Namja kecil itu Baekhyun. Yah, BaekhyunNYA.

Ia sungguh senang saat melihat wajah namja yang ia cintai itu. Namun disisi lain ia merasa sangat sedih, karena namja yang ia cintai terlihat sangat kurus dan wajahnya sangat kotor. Menunjukkan betapa menderitanya namja kecil itu.

"Apa kau mengenalnya anak muda?" Suara Lee SooMan membuyarkan lamunan Chanyeol.

Ia segera mengangguk.

"Ya, aku sangat mengenalnya."

"Ah syukurlah."

"Aku akan menjaminnya agar bisa keluar dari sini."

-oOo-

Chanyeol tak henti - hentinya menciumi wajah Baekhyun, tak ia perdulikan meski wajah namja cantik itu sangat kotor. Ia bahkan tak melewatkan satu senti pun wajah Baekhyun, ia terus saja menciumi untuk menyalurkan rasa rindunya.

"Baekkie~ah! Bicaralah!" Kata Chanyeol serak. Sedari tadi ia hanya menangis, tak mampu melihat keadaan namja yang sangat ia cintai itu. Benar - benar menggenaskan.

"Baekkie~ah?" Ucap Chanyeol lagi, ia memeluk tubuh kurus itu semakin erat.

"Aku mencintaimu! Ayo jawab Baekkie! Kau belum pernah menjawab itu!"

Diam~

Lagi - lagi Baekhyun hanya diam tanpa ekspresi.

"A-Aku sudah menemukanmu! Dan lihat, aku sudah lebih dewasa Baekkie! Aku.. Aku akan menikahimu secepatnya!"

Chanyeol semakin terisak, ia tidak peduli kalau ada orang yang melihat keadaannya yang memalukan itu dibalik kaca mobilnya.

"Baekkie~ah? Jawab aku!" Kata Chanyeol dengan keras.

Lagi - lagi Baekhyun tidak merespon, wajahnya masih saja datar.

"Kau tau? Aku sudah berjanji kepada Eomma mu untuk membawa mu pulang padanya. Kau tidak merindukan Eomma?" Tanya Chanyeol melembut, ia menangkup wajah Baekhyun.

"E-Eomma?" Ucap Baekhyun akhirnya.

Chanyeol sangat senang mendengar respon Baekhyun tersebut.

"Ya, Eomma mu. Dia menunggumu Baekkie."

Air mata mengalir dari mata sipit Baekhyun, ia menangis.

"Eomma.."

Chanyeol mengambil sapu tangan dari kantongnya, kemudian mengusap air mata namja cantik itu.

"Jangan menangis Baekkie~ah, aku akan membawamu padanya. Aku berjanji."

Tangis Baekhyun semakin keras, ia tidak dapat menyembunyikan rasa rindu pada Eommanya dan tentu saja pada Chanyeol, namja yang sangat ia cintai sampai sekarang.

Chanyeol hanya bisa memeluk erat tubuh Baekhyun, membenamkan wajahnya pada ceruk namja cantik itu. Ia juga menangis pilu. Karena ia juga sakit saat melihat Baekhyun sakit. Baekhyun adalah segala - galanya bagi dirinya.

-oOo-

"Mandilah Baekkie." Kata Chanyeol lembut saat mereka sudah berada di apartemen Chanyeol. Selama ini Chanyeol memang tinggal sendiri diapartemennya, sesekali Eommanya akan datang untuk melihatnya. Namun sejak 2 tahun terakhir ia sudah kembali kerumah orang tuanya.

Baekhyun mengangguk kecil, kemudian berjalan kearah kamar mandi, Chanyeol menuntunnya.

"Pakai baju ini ya?"

Baekhyun lagi - lagi mengangguk.

Setelah Baekhyun masuk, Chanyeol segera berlari keluar apartemen. Ia akan membeli makanan untuk Baekhyun.

-oOo-

Tidak sampai sepuluh menit Chanyeol sudah kembali, ditangannya terlihat bungkusan makanan.

"Baekkie, cepat sekali mandinya?" Heran Chanyeol saat melihat Baekhyun duduk dikasur. Baekhyun memakai baju hangat bergambar pororo, bawahannya ia memakai celana training Chanyeol yang sudah kekecilan.

Chanyeol mendekat karena pertanyaannya tak kunjung dijawab, ia mengelus kepala Baekhyun. Membuat wangi shampoo menyeruak masuk ke dalam hidungnya.

"Apa kau lapar?" Tanya Chanyeol sambil mengecup pucuk kepala Baekhyun. Ia tidak tahan.

Baekhyun menggeleng, matanya fokus menatap kearah pintu.

"Baekkie~ah, jangan seperti itu. Aku tidak sanggup." Kata Chanyeol dengan mata berkaca - kaca. Baekhyun mengalihkan pandangannya kearah Chanyeol, kemudian ia memandang seperti tatapan memohon. Membuat Chanyeol bingung setengah mati.

Chanyeol mengusap air matanya kasar, kemudian tersenyum kearah Baekhyun.

"Aku tidak mau tau. Pokoknya Baekkie harus makan! Karena kalau tidak, aku tidak akan memberikan Baekkie susu rasa Chocolate." Kata Chanyeol berusaha untuk mencairkan suasana.

Baekhyun kembali menolehkan kepalanya kearah Chanyeol. Ia menggeleng lemah.

"A-Aku tidak suka rasa Chocolate. Aku suka rasa Strawberry." Kata Baekhyun sangat lirih.

Chanyeol membulatkan matanya sangat mendengar itu. Namun sedetik kemudian ia tertawa keras.

"Ya! Aku akan memberikan Baekkie susu rasa Strawberry!" Ucap Chanyeol bersemangat.

"Janji?"

"Ya.. Aku berjanji"

Baekhyun tersenyum membuat Chanyeol terpukau. Ia benar - benar merindukan senyuman itu, senyuman seindah matahari.

Chanyeol pun ikut tersenyum, kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah Baekhyun. Menggigit hidung kecil itu dengan gemas. Baekhyun meringis kesakitan, membuat ia tak sadar mempoutkan bibirnya.

Chu~

Tanpa diduga Chanyeol mencium bibir itu tanpa nafsu. Bibir manis yang sangat ia rindukan. Ia sempat berpikir apakah ini mimpi? Tapi Baekhyun terasa sangat nyata.

-oOo-

Chanyeol menidurkan dirinya berhadapan dengan Baekhyun, sibuk menelusuri wajah indah namja cantik itu dengan tangannya. Kemudian ia tertawa kecil saat mengingat kejadian tadi, dimana saat selesai makan malam Baekhyun merengek minta susu Strawberry. Membuat Chanyeol harus berlari ke mini market disamping apartemen nya. Untung saja mini market itu belum tutup.

Ia pun menghentikan tawanya karena takut malaikat kecilnya itu terganggu.

Benar – benar pemandangan yang indah melihat wajah damai Baekhyun saat tidur. Chanyeol saja sedari tadi tidak dapat mengalihkan pandangannya dari namja cantik itu.

Dengan perlahan Chanyeol kembali menelusuri wajah damai itu.

"Kau sudah 23 tahun Baekkie~ah, tapi kenapa wajah mu makin kelihatan muda? Ck.. Membuat aku iri saja"

"Orang - orang pun juga pasti iri dengan wajahmu itu. Sudah imut, cantik, muda, ah.. Kau benar - benar sempurna."

"Aku yakin saat Kris sialan itu melihatmu, ia juga pasti akan iri. Karena wajahnya dulu saja sudah kelihatan tua sekali, apalagi sekarang.. Haha.. Namja brengsek itu."

"Kenangan yang menyakitkan."

Chanyeol terdiam beberapa saat, memutar kembali memory lama dalam ingatannya. Tapi ia cepat menepis pikiran yang menyakitkan itu.

"Selamat tidur Baekkie~ah. Aku sangat mencintaimu." Ucap Chanyeol setelah sebelumnya terdiam beberapa saat. Ia mengecup singkat bibir berwarna pink itu. Kemudian menenggelamkan tubuh mungil itu dalam dekapannya.

-oOo-

Chanyeol memeluk erat tubuh mungil Baekhyun yang berada di pangkuannya. Berkali – kali ia menciumi pipi putih namja cantik itu, membuat si pemilik pipi semakin memerah.

"Yeollie, jangan seperti itu." Ucap Baekhyun berusaha menutupi wajahnya.

"Kenapa? Kau tidak suka?"

Baekhyun menggeleng pelan. Kemudian menundukkan wajahnya yang masih memerah.

"Aku malu." Gumamnya.

Chanyeol terkekeh, dengan lembut ia kembali menciumi wajah Baekhyun. Setelah melepaskan ciumannya. Ia pun menatap lembut wajah cantik itu.

"Baiklah, bagaimana kalau sekarang Baekkie menceritakan tentang perjalanan Baekkie selama 3 tahun ini." Kata Chanyeol sambil menyandarkan kepala Baekhyun ke dadanya.

Raut wajah Baekhyun berubah saat mendengar perkataan Chanyeol tersebut, namun Chanyeol tidak dapat melihat wajahnya.

"Tidak ada yang Special."

"Benarkah?"

"Itu menyakitkan." Lirih Baekhyun.

Chanyeol segera mendudukkan Baekhyun.

"M-maaf Baekkie~ah." Ucap Chanyeol penuh penyesalan.

Ia lupa bahwa selama 3 tahun itu merupakan sisi kelam kehidupan Baekhyun.

"Tidak apa – apa. Kau memang seharusnya mengetahui semua itu."

"T-tidak. Tidak usah Baekkie~ah." Kata Chanyeol panik.

"Waktu itu aku bekerja di salah satu restoran sebagai pelayan." Baekhyun memulai ceritanya.

Sementara Chanyeol yang sempat ingin menghentikan, menjadi terdiam. Ia juga penasaran.

"Hidupku normal selama beberapa tahun disana. Aku punya seorang teman, dia sangat baik padaku. Kami tinggal bersama." Baekhyun berhenti sebentar, kemudian menoleh kearah Chanyeol.

"Namun kehidupanku berubah ketika temanku memiliki pacar. Pacar nya sangat matrealistis. Temanku bahkan sering meminjam uang padaku. Semula karena aku kasihan padanya aku meminjamkan uangku. Namun akhir – akhir itu ia sering memukulku karena aku tidak mau meminjamkan uang padanya. Aku tidak meminjamkannya karena aku ingin menabung agar bisa pulang kerumah." Tiba – tiba tangis Baekhyun pecah. Membuat Chanyeol memeluknya dengan panik.

"Pada hari dimana aku ingin pulang kerumah, ia mencuri semua uangku. Lalu ia kabur. Kemudian setelah itu aku diusir dari rumah kontrakan kami, karena aku tidak mampu membayar uang sewanya. Berhari – hari aku bekerja keras. Namun pada hari itu, restoran tempat ku bekerja ditutup karena bangkrut. Aku tidak bisa berbuat apa – apa lagi. Pikiran ku sangat pendek sehingga aku mencopet di dalam kereta bawah tanah. Aku benar – benar pembawa sial! Hiks.."

Tak terasa air mata Chanyeol juga mengalir saat mendengar cerita Baekhyun. Entah kenapa kesialan selalu mendatangi namja yang ia cintai itu. Sungguh saat ini juga ia ingin berteriak marah kepada Tuhan, kenapa Tuhan sangat senang melihat mataharinya itu menderita?

"Jangan menangis Baekkie~ah, mungkin kalau saat itu kau tidak ditangkap, kita pasti tidak akan bertemu seperti ini." Chanyeol mencoba menenangkan.

"Aku memang pembawa sial Yeoliie!" Kata Baekhyun disela – sela tangisannya.

"Tidak! Kau tidak pembawa sial Baekkie~ah! Kau keberuntunganku!"

Chanyeol menangkup wajah cantik itu, kemudian mempersempit jarak diwajah mereka.

Membuat kedua bibir itu menyatu sempurna.

"Aku mencintaimu! Aku akan segera menikahimu!" Ucap Chanyeol disela – sela ciuman mereka.

-oOo-

"Baekkie, apapun yang terjadi kau harus tetap berada disini sampai aku keluar. Aku tidak akan lama. Apa kau mengerti?" Kata Chanyeol saat mereka berada didepan sebuah rumah mewah.

Baekhyun mengangguk ragu. Ia menatap rumah mewah itu sebentar.

"Berjanjilah Baekkie.."

"Aku janji Yeollie."

Chanyeol tersenyum.

Sebelum melangkah masuk, ia terlebih dahulu mencium bibir mungil itu.

Kemudian ia melangkahkan kaki jenjangnya kedalam rumah mewah yang notabene adalah rumahnya sendiri.

Ketika ia sudah masuk kedalam, ia melihat keluarganya sedang bersantai. Kebetulan hari itu adalah hari minggu. Appa nya sedang membaca koran, Eommanya sedang menonton televisi, sementara Noonanya sedang melihat majalah fashion.

"Aku ingin bicara." Kata Chanyeol tiba – tiba sehingga mengejutkan keluarganya.

"Yak! Kau ini mengejutkan saja!" Kesal Noona Chanyeol, Yoora.

"Kau dari mana saja? Kenapa tidak pulang? Membuat khawatir saja." Kata Eomma.

Chanyeol memutar bola matanya malas.

"Kalau Eomma khawatir tentu Eomma sudah menelepon ku!" Ucap Chanyeol tajam.

"Yak! Sebagai anak yang baik kau seharusnya menelepon Eomma mu kan!" Bela Yoora.

Chanyeol hanya mendengus kesal. Lagi – lagi ia selalu salah.

"Aku ingin bicara!" Katanya akhirnya.

"Bicaralah, Eomma sedang sibuk."

Chanyeol membelalakkan matanya, padahal Eommanya sedang menonton, tapi ia mengatakan sibuk? WTH!

Chanyeol kemudian menatap Appanya, Appa nya ini memang selalu mengacuhkannya. Tidak pernah menganggapnya ada.

"Aku ingin menikah!" Kata Chanyeol sambil mengeraskan suaranya.

Eommanya yang semula fokus menatap ke layar televisi kini mengalihkan pandangannya kearah Chanyeol karena kaget. Sementara Appanya yang semula sibuk membaca, kini menatap Chanyeol. Hanya Noona nya yang tidak peduli. Ia masih saja sibuk dengan majalah fashionnya.

"Apa katamu?" Tanya Eomma mencoba memastikan pendengarannya.

"Aku ingin menikahi pacarku." Kata Chanyeol untuk yang kedua kalinya.

"Apa? Apa kau sudah menghamilinya?" Tanya Eomma lagi.

"Tidak! Dia tidak hamil. Karena aku akan menikahi seorang namja!"

"APAAA?!" Ketiganya mengucapkan kata yang sama dengan ekspresi kaget.

"Ya! Aku akan menikahi namja!"

"Apa kau sudah gila Park Chanyeol?!" Teriak Appa dengan keras. Suaranya terdengar sampai keluar rumah. Membuat Baekhyun yang mendengar itu menunduk takut.

"Ya aku memang sudah gila!"

PLAK!

Satu tamparan mengenai wajah tampan Chanyeol. Appa nya lah pelakunya.

"Kenapa kau tumbuh menjadi anak bodoh seperti itu hah?!" Teriak Appa lagi.

"Appa bertanya padaku? Kenapa tidak Appa tanya kepada diri Appa sendiri? Memangnya Appa pernah bertanya soal kehidupanku layaknya seorang Appa kepada anaknya? Pernah? Tidak pernah! Bahkan Appa tidak pernah menganggapku anak! Iyakan?"

"Tutup mulutmu Park Chanyeol! Kau tidak tahu apa – apa!"

"Tidak tahu? Memangnya apa yang perlu ku ketahui? Tidak ada!"

Plak! Plak! Plak!

Tamparan berkali – kali mendarat diwajah tampan Chanyeol, membuat pipinya semakin merah.

"Jangan harap kau akan menikahi namja sialan yang sudah berani membodohimu itu! Jangan harap!" Teriak Appa Chanyeol lagi.

Dan itu juga terdengar oleh Baekhyun.

Ia mengepalkan tangan mungilnya kuat, dengan terisak ia kemudian berlari dari tempat itu.

Ia tidak tahan mendengar semuanya. Sangat sakit.

"Aku tetap akan menikahinya!" Chanyeol tetap keukeuh pada pendiriannya.

"Kalau kau sampai menikahi namja itu! Jangan harap kau bisa kembali kerumah ini! Dan juga jangan pernah mengakui bahwa kau anak kami! Karena kami tidak punya anak menjijikkan sepertimu!"

Chanyeol terdiam mendengar itu semua. Ia menutup matanya dengan keras.

"Yeobo sudahlah!" Ucap Eomma Chanyeol sambil mengusap pundak suaminya.

"Camkan itu Park Chanyeol!"

-oOo-

Namja mungil itu melangkahkan kakinya tak tentu arah. Yah, dia benar - benar tidak tau kemana kakinya akan membawa. Pikirannya sibuk memutar kembali kejadian beberapa menit yang lalu, benar - benar sakit saat mengingat hal itu. Ya, Chanyeol memang tidak pantas untuknya, Chanyeol sempurna. Masa depannya terjamin, tidak seperti dirinya yang hanya pantas menjadi sampah.

Sepanjang jalan ia hanya menatap tanpa ekspresi, tak ia hiraukan pandangan aneh ketika orang lain menatapnya. Air matanya juga tak berhenti mengalir. Sungguh menyedihkan. Kesakitan memang telah menjadi bagian dari hidupnya.

Tak terasa kaki mungilnya membawa ia menuju sungai Han. Tidak buruk. Mungkin ia dapat menerjunkan dirinya, dengan begitu semua masalah yang dihadapinya akan hilang. Benar - benar pikiran yang sempit.

Namun, entah kenapa kaki mungilnya kembali melangkah. Menjauhi sungai Han yang indah. Oh ayolah, kenapa kaki mungil? Kenapa kau terus melangkah? Tidakkah kau dapat melihat gerbang kebahagiaan menantimu dialirannya sungai itu?

Benar – benar bodoh!

Tiba - tiba namja cantik itu berhenti, entah kenapa ia merasa sakit didadanya. Bukan karena ia punya penyakit jantung, tapi karena mengingat bahwa ia harus berpisah kembali dengan Chanyeol. Itu hal yang benar - benar menyakitkan. Ia bahkan meremas dada kirinya. Sakit sekali.

Kemudian ia kembali melangkah dengan perasaan sedih. Sangat sedih, mungkin tak bisa untuk digambarkan.

Namun tiba - tiba sebuah tangan menggenggam tangan mungilnya, menyalurkan rasa hangat dari tangan pemiliknya.

"Kenapa kau meninggalkanku? Bukankah sudah kukatakan apapun yang terjadi kau harus menungguku?" Tanya namja itu. Mereka kini saling berhadapan.

"Y-Yeollie." Tangis Baekhyun semakin pecah. Ia menatap tidak percaya pada namja dihadapannya.

"Kenapa menangis lagi, hah? Aku sudah disini Baekkie." Tangan besar Chanyeol menyentuh pipi mulusnya. Mengusap lembut pipi itu.

"K-kenapa kau bisa disini?"

Chanyeol tertawa kecil. Kemudian ia merendahkan badannya agar bisa berhadapan dengan wajah Baekhyun. Kedua tangannya berada dipundak namja cantik itu.

"Kenapa? Pertanyaan bodoh! Tentu saja aku disini untuk memenuhi janjiku yaitu menikahimu."

Baekhyun menutup mulutnya karena tidak menyangka Chanyeol berani mempertahankan cinta mereka.

"Yak! Lihat wajahmu sangat acak - acakan. Pantas saja saat aku bertanya pada orang mereka langsung mengenalmu, ternyata kau sangat mencolok. Rambut dan baju yang acak - acakan, mata sembab yang penuh air mata, dan lihat ingusmu kemana - mana, benar - benar seperti anak yang kehilangan Eommanya."

Baekhyun mempoutkan bibirnya, membuat Chanyeol merasa gemas.

"Aku tidak ingusan." Protes Baekhyun.

"Lalu ini apa, hah?" Tanya Chanyeol sambil menunjuk disekitar hidung Baekhyun.

"Itu air mata!"

"Benarkah?"

"Aish..."

Melihat Baekhyun yang sedang kesal, Chanyeol pun langsung mengecup singkat bibir mungil itu.

Setelah melepaskan ciumannya Chanyeol langsung menatap Baekhyun dalam.

"Asin."

Baekhyun membulatkan mata sipitnya, benar – benar terlihat menggemaskan.

"Yak!"

"Hahaha.. Aku bercanda. Bibirmu sangat manis, madu saja kalah."

Baekhyun tersenyum mendengar itu. Tapi sedetik kemudian wajahnya berubah muram.

"Bagaimana dengan orang tuamu? Mereka tidak akan menganggapmu anak lagi Yeollie."

Chanyeol tersenyum lembut. Kemudian membawa Baekhyun kepelukannya.

"Sejak awal mereka memang tidak pernah menganggapku anak mereka."

Baekhyun menengadahkan kepalanya dengan sedih.

"Yeollie."

"Ah sudahlah. Yang penting sekarang kita bersama."

Baekhyun mengangguk kecil. Kemudian kedua wajah itu kembali menyatu, saling menyalurkan cinta kasih mereka. Cukup lama, hingga Baekhyun memutuskan ciuman mereka.

"Aku mencintaimu Byun Baekhyun."

"Aku juga mencintaimu Park Chanyeol."

Chanyeol kemudian menggenggam tangan Baekhyun dengan erat.

"Sudah siap menuju kebahagiaan?"

Baekhyun mengangguk kecil sambil tersenyum lebar.

"Baiklah. Eomma mertua kami akan datang!" Teriak Chanyeol dengan riang.

Keduanya pun tertawa sambil berpegangan tangan menyambut kebahagiaan yang menanti mereka.

.

.

.

TBC

Next Chap End. Terima kasih udah ngikutin FF gak jelas ini :)

Bagaimana kelanjutan hubungan ChanBaek dan pasangan lain? Apakah berakhir bahagia?

Jawabannya ada di next Chapter :v