Disclaimer : Naruto bukan milik saya

Don't like don't read

Warning : Bahasa tidak baku, EYD tidak sempurna, karakter OOC

.

CHAPTER 7

.

"Hey Sasuke, Haruno-sama datang mengunjungimu." Kata Hinata sambil mencibirkan bibirnya.

Sasuke memijit keningnya. Pria itu terlihat letih dan stress. "Bukakan pintu."

"Tidak mau!" Tolak Hinata secara langsung. "Aku bukan pembantu di rumah ini, terlebih lagi aku tidak mau jika ia sampai mengamuk padaku hanya karena melihat wajahku lalu melemparkan vas bunga ke arahku. Ini semua adalah salahmu jadi kau yang harus bersiap menanggung semuanya!"

"Sasuke-kun!" Teriak Sakura.

"Hadapi semua ini seperti laki-laki sejati Sasuke, jangan jadi pengecut seperti itu." Ejek Hinata.

Sasuke mendelik ke arahnya. Tanpa banyak bicara lagi pria itu kini berjalan ke pintu depan.

Haruskah Hinata pergi dari sini? Tapi ia ingin menonton drama antara Sasuke dan Sakura!

Akhirnya Hinata berjalan mengendap-endap dan bersembunyi diantara dinding pemisah dapur dan ruang tamu.

"Sasuke-kun… aku minta maaf atas sikapku kemarin. Rasa cemburu telah mendorongku untuk bertindak berlebihan." Kata Sakura sambil memeluk Sasuke.

"Mm." Jawab Sasuke sambil memeluk Sakura.

"Apa kau membenciku?"

"Tidak."

Hinata mendecih. Jadi mereka berdua sudah berbaikan ternyata. Padahal ia masih ingin menonton drama pagi ini.

"Tidak seharusnya aku marah padamu, ini semua adalah salah wanita itu!" Kata Sakura sambil melepaskan pelukannya.

"Sakura…"

"Mengapa kau selalu saja mempertahankan wanita itu di sisimu?! Kau bilang jika kau mencintaiku, tapi mengapa kau tidak melepaskannya?" Sepasang mata hijau Sakura kini membulat. "Apakah… apakah kau juga mencintainya?" Tanya Sakura dengan panik.

Hinata tertegun. Apa yang wanita itu katakan? Tidak mungkin Sasuke mencintainya!

Kumohon buat dia mencintaiku…

Hinata mengepalkan tangannya. Permintaan Hinata Hyuuga adalah sesuatu yang mustahil ia laksanakan. Bagaimana bisa ia memisahkan Sasuke dan Sakura?! Ia tidak tahu caranya!

"Aku tidak mencintainya." Bantah Sasuke.

Sepasang tokoh utama itu kini saling bertatapan.

"Sasuke-kun… mengapa kita selalu saja berdebat?" Tanya Sakura. "Kita berdua saling mencintai, apa yang salah diantara kita?"

Sasuke menghela nafas. "Entahlah."

Hinata ingin sekali memukul kepala dua orang tolol itu yang telah menghancurkan hidup Hinata Hyuuga. Mereka berdua itu salah! Mengapa mereka tidak menyadari kesalahannya?!

Hinata lalu berjalan pergi meninggalkan dua orang itu. Ia sangat muak dengan tingkah mereka.

Kumohon buat dia mencintaiku…

Hinata tersenyum miris. Mengapa Hinata Hyuuga yang asli harus mencintai seseorang seperti Sasuke Uchiha?!

Hinata menepuk-nepuk dadanya. Hey Hinata Hyuuga, jika aku tidak bisa membuat Sasuke mencintaiku, apa yang akan kau lakukan?

.

.

Hinata membuka pintu rumah dan menjumpai sosok Naruto Namikaze disana.

Si jahanam ini! Apa yang ia lakukan disini?!

"Sasuke tidak ada." Kata Hinata dengan singkat.

"Bolehkah aku masuk?"

Hinata ingin sekali menjawab 'tidak' namun niatan itu ia batalkan.

"Silahkan masuk."

Hinata kini mengamati sosok Naruto yang duduk di sofa dengan santai.

"Mau kubuatkan minum?" Tawar Hinata.

Naruto memandangi Hinata dengan penuh kewaspadaan. "Boleh. Terima kasih."

"Mau minum apa?"

"Sesuatu yang dingin."

Tak lama kemudian Hinata menyodorkan segelas teh dingin pada Naruto.

Naruto mengamati gelas berisi minuman dingin didepannya itu dengan ekspresi curiga.

"Aku tidak menaruh racun di minuman itu." Kata Hinata dengan datar. Ternyata Sasuke dan Naruto sama saja. Mereka berdua tidak mempercayainya.

Naruto tidak berkomentar apapun. Ia hanya melirik sekilas ke arah Hinata lalu meminum teh dingin itu.

Hinata tertawa dalam hati.

Baru meminum satu teguk, Naruto langsung memuntahkan minumannya. "Uhuk! Asin!"

Hinata berusaha menahan bibirnya agar tidak tersenyum. "Aku memang mengatakan tidak menaruh racun di minumanmu, tapi aku lupa mengatakan jika aku menaruh lima sendok garam di dalamnya. Maaf." Kata Hinata tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Naruto mendelik ke arah Hinata, namun sebelum pria itu sempat mengatakan apapun, Naruto justru menjulurkan lidahnya.

"Pe-pedas! Apa yang kau masukkan huh?!"

"Ups, aku juga lupa mengatakan padamu jika aku menaruh bubuk cabai didalamnya." Kata Hinata sambil tersenyum manis.

Naruto langsung berlari menuju dapur dan mengabaikan Hinata. Kini pria berambut kuning itu mambuka kulkas dan mencari-cari minuman dingin.

Hinata membuntuti Naruto yang terlihat memerah karena menahan rasa pedas yang membakar lidahnya.

"Kenapa tidak ada minuman disini?!" Kata Naruto dengan kesal.

Hinata mengangkat bahunya. "Aku lupa mengisi air minum di kulkas." Kini jarinya menunjuk kran air yang berada di tempat cucian piring. "Kau bisa minum air kran."

Kini pria berambut kuning itu berusaha mencari-cari sesuatu. Apa yang ia cari?

Ah, ternyata gula.

Dengan secepat kilat Naruto memasukkan gula ke mulutnya untuk menghilangkan rasa pedas. Ternyata Naruto masih mempunyai otak huh.

Hinata menyilangkan tangannya. Rasa panas di mulut Naruto tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa panas di hati wanita yang terbakar api cemburu.

Lima menit kemudian rasa pedas di mulut Naruto sudah berkurang. Kini pria itu mendelik tajam ke arah Hinata.

"Hinata! Kau adalah wanita-"

"Aku adalah wanita yang jahat, licik, dan berhati busuk." Potong Hinata. "Aku sudah terbiasa mendengar itu." Kata Hinata dengan santai.

"Apa yang kau-"

"Apa yang kau rencanakan kali ini, rencana busuk apa yang kau sembunyikan, bla, bla, bla… aku juga sudah terbiasa mendengar itu hingga membuatku bosan." Kata Hinata sambil mengibaskan tangannya.

Kini Naruto terlihat geram. "Kau tahu, aku tidak-"

"Kau tidak mempercayaiku, kau juga ingin memperingatkanku untuk menjauhi Sakura, ingin mengawasiku dan ingin membongkar semua topeng busukku, bla, bla, bla…" Potong Hinata kembali.

"Jadi ternyata kau sudah sadar seberapa jahatnya dirimu." Kata Naruto sambil memandangi Hinata dengan tatapan penuh keseriusan.

"Hei, hei… sebelum menuduh orang lain sebaiknya berkaca dulu. Bukankah kau dan Sakura juga jahat? Kalian berdua telah berusaha mengancurkan pernikahanku. Mengapa kau hanya menyalahkan orang lain?"

Naruto tertawa garing. "Berbicara dengan wanita sepertimu membuatku muak."

"Aku juga muak berbicara dengan pria brengsek sepertimu." Kata Hinata sambil menatap dengan penuh kebencian pada Naruto. "Jika tidak ada kepentingan lagi, silahkan pergi dari rumah ini."

"Kau mengusirku? Kau pikir siapa dirimu?! Hanya karena Sasuke masih mempertahankanmu sebagai istri lantas kau langsung lupa diri."

"Aku adalah nyonya rumah disini. Dan ya, aku sekarang sedang berusaha mengusirmu." Kata Hinata dengan tegas.

Naruto tertawa terbahak-bahak. "Oh my God… aku tidak percaya ini." Pria itu kini menggelengkan kepalanya.

"Kau masih tidak ingin pergi?"

Mata biru pria itu berkilat tajam. "Aku akan membuatmu menyesali semua ini."

Hinata berusaha menyembunyikan kepanikan di hatinya.

.

.

Hinata menghampiri Sasuke yang sedang sibuk membaca dokumen di tangannya. Lalu ia mendudukkan dirinya di kursi yang berada tidak jauh dari tempat Sasuke duduk.

"Hey Sasuke, tadi siang si rubah kuning datang kemari."

Sasuke mengalihkan perhatiannya ke arah Hinata. "Naruto?" Tebak Sasuke.

"Ya."

"Ada apa Naruto berkunjung kemari?"

Hinata mengangkat bahunya. "Entahlah. Yang jelas kami bertengkar. Lalu ia mengancamku."

Hinata tidak bermaksud mengadu pada Sasuke atau meminta perlindungan pada pria itu. Ia hanya mengatakan apa adanya.

Sasuke tersenyum tipis. "Mengancam? Apa kau takut?"

"Bohong jika tidak takut." Kata Hinata dengan jujur. "Bagaimanapun juga diantara kami berdua, aku adalah pihak yang lebih lemah pasti aku akan kalah. Oh ya, apakah kau sudah berbaikan dengan Haruno-sama?"

Sasuke melemparkan tatapan penuh kecurigaan pada Hinata. "Bisa dibilang begitu. Mengapa kau bertanya?"

"Hanya penasaran." Jawab Hinata dengan santai. "Aku juga penasaran, sebenarnya apa yang kau sukai dari sosok Sakura?"

"Bukan urusanmu."

Hinata cemberut. "Kau pelit sekali. Ayolah, katakan padaku apa yang kau sukai darinya hingga membuatmu mengabaikan istrimu."

"Dia cantik." Jawab Sasuke.

"Lalu?" Desak Hinata. Semua orang juga tahu jika Sakura memang cantik, Hinata harus mengakui fakta itu.

"Aku mengenalnya dengan baik."

Alis Hinata berkedut. Alasan macam apa itu? "Lalu?"

"Dia seksi."

"Lalu?"

Sasuke mengangkat bahunya.

Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya. Hanya itu saja?! apakah pria ini sedang bercanda?

"Lalu?" Desak Hinata. "Jangan bilang kau memilihnya hanya dengan tiga kriteria itu."

"Kukatakan sekali lagi, ini bukan urusanmu. Jangan mencampuri urusan pribadiku."

"Apa kau juga tidur dengannya?" Selidik Hinata.

Alis Sasuke berkedut, namun pria itu tetap bungkam.

"Itu jawaban ya atau tidak?" Tanya Hinata dengan penasaran. Sebenarnya sudah sejauh apa hubungan Sasuke dengan Sakura. Di novel tidak diceritakan jika mereka berdua tidur bersama.

Ah… ia paham.

"Jadi kau belum tidur dengannya ternyata." Kata Hinata dengan nada mencemooh. "Kau tidak menjawab pertanyaanku karena merasa malu untuk mengakui itu."

Sasuke tetap bungkam.

"Mengapa kau tidak melakukannya? Apa kau tidak bisa melakukan 'tugas seorang laki-laki' dengan benar? Apakah ada 'bagian tubuhmu' yang tidak berfungsi normal?"

Tanpa peringatan, Sasuke menjitak kepala Hinata.

"Aw! Sakit! Kenapa kau memukul kepalaku?" Protes Hinata.

"Jaga mulutmu itu. Lagi pula aku tidak memukulmu, aku hanya menjitak kepalamu." Kata Sasuke dengan ekspresi datar.

"Tetap saja ini sakit!"

"Makanya lebih baik kau diam saja."

Hinata menatap Sasuke dengan cemberut. Ia hanya mengajukan pertanyaan biasa, mengapa pria itu marah?

Jika hubungan Sasuke dan Sakura sudah sejauh itu… apa yang bisa ia lakukan?

Memikirkan Sasuke dan Sakura yang sedang bersama, dadanya terasa nyeri.

Kini mereka berdua diam. Sasuke kembali menekuni dokumen di tangannya.

"Hey Sasuke, apa kau tahu dimana boneka singaku?"

"Tidak tahu." Jawab Sasuke dengan acuh sambil tetap membaca dokumen di tangannya.

"Apa kau membuangnya? Aku tidak menemukannya dimanapun juga."

"Entahlah, mungkin saja iya."

Hinata menatap Sasuke dengan curiga. "Kau… tidak menyembunyikannya kan?"

Sasuke membalas tatapan Hinata. "Untuk apa aku menyembunyikan hal-hal bodoh seperti itu?"

Hinata menundukkan kepalanya dengan perasaa kecewa. Ia sangat menyukai boneka singa yang ia beri nama Saon, singkatan dari SAsuke liON. Boneka itu sangat lembut dan lucu, ia juga membelinya dengan mahal. Sayang sekali boneka itu kini hilang.

"Besok hari sabtu malam Chouji mengundang kita untuk menghadiri pembukaan restorannya." Kata Sasuke dengan nada datar.

Hinata mengerutkan keningnya dengan bingung. "Chouji? Siapa dia?"

"Chouji Akimichi, dia adalah salah satu temanku saat masih sekolah dulu. Ia juga salah satu rekan bisnisku."

"Oh." Hinata menganggukkan kepalanya. "Eh?! K-kau mengajakku?"

Sasuke menoleh ke arahnya. "Ya. Mengapa kau terlihat schock begitu?"

"Kau mengajakku?! Aku?" Kata Hinata sambil menuding-nuding dirinya sendiri. "Aku?! Tidakkah kau seharusnya mengajak Sakura?"

"Chouji secara spesifik meminta tuan dan nyonya Uchiha untuk hadir."

"Jadi kau masih ingat siapa nyonya Uchiha yang sebenarnya huh…" Sindir Hinata.

"Jangan memancing emosiku Hinata." Kata Sasuke dengan nada dingin.

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Mengapa? Apa kau malu jika semua orang tahu Sasuke Uchiha terlibat perselingkuhan dengan mantan kekasihnya saat SMA dulu?" Tantang Hinata. "Jika kau merasa malu sebaiknya jangan melakukan sesuatu yang memalukan."

Sasuke hanya bungkam, tidak menanggapi perkataan Hinata.

Perselingkuhan…

Sebuah kata yang menjijikkan.

.

.

Hinata menatap pantulan wajahnya yang berada di cermin.

Wajah Hinata Hyuuga.

Ia meletakkan tangannya di pipi, bayangannya di cermin melakukan hal yang sama.

Ini bukan dunianya, ini bukan kehidupannya, ini bukan memorinya, dan ini juga bukan tubuhnya.

Hey Hinata Hyuuga, jika aku mengabulkan permohonanmu dan membuat Sasuke mencintaiku apakah aku bisa kembali ke duniaku yang seharusnya?

Hinata mengusap rambutnya yang panjang. Rambut ini sangat halus dan lembut, tapi tetap saja ini bukan rambutnya. Haruskah ia memotong rambutnya menjadi pendek?

Hinata kembali mengamati wajahnya di cermin. Seperti apa jika ia berambut pendek? Apakah ia tetap cantik?

Ia ingin sekali memotong rambutnya, tapi entah kenapa ia juga merasa sayang.

.

.

"Hey Sasuke, bagaimana jika aku memotong rambutku menjadi pendek?" Tanya Hinata saat mereka berdua sedang sarapan.

"Terserah padamu." Jawab Sasuke singkat.

"Aku ingin meminta pendapatmu."

"Jika kau ingin memotongnya maka potong saja."

Hinata lalu teringat pada Sakura dan rambut merah mudanya yang dipotong pendek.

"Hey Sasuke… kau suka wanita berambut panjang atau pendek?"

"Sama saja keduanya."

Hinata lalu memainkan rambutnya. Jika ia memotongnya menjadi pendek, bukankah nanti Sakura akan menuduhnya mengikuti gaya rambutnya? Mungkin Sakura juga akan mengatakan jika Hinata sengaja melakukannya untuk merebut perhatian Sasuke.

Kalau begitu Hinata bertekad tidak akan memotong rambutnya!

"Sasuke, aku sudah memutuskan untuk tidak memotongnya."

Sasuke menghela nafas. "Bukankah sudah kubilang terserah padamu."

"Hey Sasuke… sebenarnya seperti apa tipe wanita yang kau sukai?" Tanya Hinata dengan penasaran. Apakah seseorang seperti Sakura merupakan tipe idaman Sasuke?

"Seseorang yang pendiam dan tidak banyak bicara. Yang jelas bukan kau."

Hinata mengerucutkan bibirnya, Sasuke sangat ketus.

"Tapi Sakura bukan orang yang pendiam, dia juga banyak bicara. Lalu kenapa kau menyukainya?"

"Aku berangkat kerja." Kata Sasuke sambil bangkit berdiri.

"Eh?! Sasuke, apa kau pergi karena ingin menghindari pertanyaanku? Sasuke?!"

.

.

Please review^^

.

saya juga membuat fic sasuhina baru yang berjudul COMPASS, jika ada yang tertarik silahkan mengeceknya