balasan review chap kemarin.
Guest apa cumin perasaan ku atw memang yang suka pair sasunaru or sasufemnaru tidak suka sakura ya? Maaf bukan menghina sakura buat fans x sakura. ^_^ v
Yuichi yapz… makasih udah nunggu ya… ^_^.
Hyull yapz… slalu di usahakan update cepet koqk. Di chap depan Naru bakal tau dia udah ditunangin mha sasuke. Kn emg sakuranya ngejar sasuke mskipun d canon. Untuk sasori… wah,, kayaknya aq harus minta maaf deh,, udh bikin peran antagonis. Hweehehehe. Salam juga Hyull, by Ama-chan. ^_^
Guest santai,,, masih ada konflik sebelum mereka bersatu kok…. N sekali lagi,, pasti slalu di usahakan update kilat buat para reader terhormat. ^_^
Ymd yupz… boleh,, tapi bisa juga panggil ama-chan koqk. Tapi untuk reaksi sakura, nanti ada sendiri chapter x… trims atas dukungannya….^_^
Yamashita Runa sakura bukan ngambil Sasori, hanya saja dia tau jika Sasori selingkuh. Yapz… lanjutkan!... itu pasti. ^_^
Versetta gk da koqk, jikalau pun ada, Sasuke pasti lebih memilih Naru. ^_^
Akbar123 so pasti itu… SasufemNaru always.. ^_^
Minyak tanah huuumb.. selama hayat dikandung badan,,, saya akan lanjutkan!. ^_^
Yosh….. untuk yang udah meluangkan waktunya buat mereview fic pertama saya,, Arigatou gozaimasita. #bungku-bungkuk…. Review, follow n fav anda berarti untuk saya. ^_^.
By : amakuza ryuu
Langsung aja….
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
The day you went away
Chapter 7.
Rate T, disclaimer oleh MK
By : rizhan
Pair : sasufemnaru
xxx
Sebelumnya….
'hm,,,, tou-san,,, tidak salah kau menjodohkan Naru denganku. Sekarang dia telah menjadi matahari tersendiri dihatiku. Tapi,,, aku belum yakin hati Naru untukku. Mengingat dia sangat mencintai orang yang menyakitinya.' Batin Sasuke.
xxxx
Waktu masih menujukkan pukul 15.30, namun Sakura sudah datang kerumah Naru. Setengah jam lebih awal dari perjanjian semula. Sebenarnya Sakura bukanlah orang yang selalu mengutamakan kedisiplinan. Namun, karena ini menyangkut Sasuke, sang cinta pertama, Sakura sebisa mungkin akan mengawalinya. Mau tidak mau mereka pun memulai belajarnya setengah jam lebih awal. Oh Naru, sepertinya kau harus berterima kasih kepada Sakura atas kedatangannya yang awal hingga kau dihadapi soal dari Sasuke lebih awal juga. Mereka pun mengerjakan soalnya dikamar yang Sasuke tempati.
'Dasar gadis pink. Tidak taukah dia jika aku ingin mengistirahatkan sejenak kepalaku yang panas akibat soal disekolah tadi? Kau tidak tau. Teme-sensei sangatlah sadis.' Batin Naru.
'Ck, sial. Ternyata dia tak seramah yang kufikirkan. Baru datang saja aku sudah harus mengerjakan 50 soal begini. Tapi untunglah. Otakku tak separah Naru yang akan kewalahan mengerjakan soal seperti ini. Khukukuku… lihat saja Naru. Akan kupastikan Sasuke-kun menyadariku lebih pintar darimu dan memilih mencintaiku.' Inner Sakura. Jujur, kedekatandan perhatiannya kepada Naru yang dilihatnya ketika di UKS sngatlah cukup untuk membuatnya cemburu kepada Naru. Dan seketika itu pula, Sakura bertekad untuk merebut perhatian Sasuke dari Naru. Apapun itu caranya. Meskipun harus menusuk Naru dari belakang, ia rela. Asal Sasuke bersamanya. Egois memang, tapi itulah cinta yang membutakan.
"Aku akan menunngu kalian mengerjakannya, jika ada yang kesulitan, silahkan tanyakan." Ucap Sasuke. Dia duduk di atas kasur sambil mengotak-atik notebooknya. Membiarkan Sakura dan Naru mengerjakan soal yang dia berikan dilantai. Kejam? Tentu.
"ne, Teme-sensei. Soal ini terlalu sulit untukku. Kau bahkan belum menjelaskannya padaku." Ucap Naru. Sasuke menghentikan kegiatannya sejenak, dan beralih kesamping Naru. Mencoba menjelaskan sedetail mungkin agar Naru mengerti. Sakura menatapnya dengan iri, bagaimanapun juga ia ingin diperhatikan Sasuke lebih dari itu.
Sakura masih memandangi Sasuke dengan diam-diam. Di matanya Sasuke terlihat begitu sempurna. Tubuhnya yang hanya terbalut kaos hitam press body dan jeans selutut ditambah kulit putih bersih yang menawan, membuat Sakura menengguk ludahnya. 'Aku harus mendapatkan Sasuke.' Kata itulah yang sekarang terngiang-ngiang di benak Sakura.
Sasuke telah selesai mengajari Naru. Dan mulai berkutat dengan kesibukannya yang tadi, sama sekali tidak mengindahkan kahdiran Sakura. Sakura yang merasa tidak dianggap mencoba cara lain. Satu cara yang terlintas dibenaknya adalah cara yang tadi dilakukan Naru, yakni meminta Sasuke mengajarinya materi. Namun sebelum Sakura berucap, Naru lebih dulu memotongnya.
"ne,, Teme-sensei. Aku haus, aku akan ke supermarket dekat rumah dulu untuk membeli jus dan beberapa cemilan. Boleh?"
"hn, jangan lama." Wajah Naru berubah cerah dengan jawaban Sasuke. Seketika dia mengangguk dan melesat keluar ruang yang ditempatinya itu. Sedang Sasuke hanya menggelengkan kepalanya, dia tau maksud Naru. 'pasti Naru ingin terbebas dari soal untuk sementara waktu.' Batinnya.
Sakura yang melihat kesempatan emas didepannya mulai melancarkan aksinya. Dia mulai menanyakan soal yang seharusnya dengan mudah ia kerjakan. Sasuke pun mengajarinya, namun Sakura hanya memperhatikan wajah Sasuke, baru kali ini dia langsung bertatap muka sedekat ini dengan Sasuke.
"kau mengerti?" sasuke menghentikan penjelasannya, Sakura yang tertangkap basah sedang memandanginya pun gelagapan. Buru-buru dia mengerjakan soal yang tadi dia tanyakan.
Sasuke POV.
'dasar, sebenarnya apa maksudnya tadi dengan meminta bantuanku? Soal semudah itu, bagaimana bisa dia tidak mengerti? Naru yang Dobe pun masih mengerti soal itu.' Batinku.
Hah…. Berdua dikamar ini membuatku risih. Bagaimana mungkin Naru dengan seenak udelnya meninggalkan aku dengan makhluk pink didepanku ini hanya berdua saja. Catat, HANYA BERDUA. Jika itu Naru, tidaklah masalah. Mungkin aku bisa meminta lagi ciuman padanya. Ah.,,, aku pasti sudah ketularan kemesuman Baka-Aniki. Tidak, tidak,,,, aku harus menghidari ini.
Kulangkahkan kakiku, bermaksud untuk keluar dari ruangan yang membuatku sangat tidak nyaman ini. Greepp… kulihat gadis pink itu memegang tanganku, mungkin bermaksud menghalangiku beranjak. Sontak aku menghentikan langkahku dan berbalik menghadapnya.
"kau mau kemana?" ucapnya.
"toilet."
"Sa-Sasuke-kun, apakah kau tidak mengenaliku sama sekali?" aku mengernyit, bicara apa dia?
"tidak" jawabku. Kulhat wajahnya memerah seperti menahan tangis. Ada apa sebenarnya dengannya?
"aku gadis yang kau temui ditaman, delapan tahun yang lalu. Apa kau masih ingat?" suaranya terdengar mulai serak, mungkin benar jika dia menahan tangis. Jika difikir-fikir, aku memang mengingatnya. Tapi aku sama sekali tidak ada perasaan khusus padanya.
"ya." Kuharap jawaban-jawaban singkatku membuat dia sebal dan berhenti mengejarku. Aku tau dia berusaha mengejarku, dan itu sangat terlihat dari sikapnya.
"yokatta ne,, akhirnya kau mengingatku." Air matanya mulai turun. Sepertinya pertahanannya runtuh. Cengeng,, dia sama sekali tak sekuat Naru. Dan aku benci wanita seperti ini. Bisa saja bukan? Airmatanya hanya air mata buaya, palsu. Airmata yang keluar hanya untuk menakhlukkan lelaki. "slama ini aku mencarimu, berharap menemukanku dan membalas cintaku. Kau tau, Sasuke-kun. Kau cinta pertamaku, dan aku masih mencintaimu hingga saat ini. Sasuke-kun, maukah kau mencintaiku?"sambungnya. aku tertohok mendengar penjelasannya. Dia senekat itu? Tak kusangka.
Aku menatapnya, kulihat dia menghapus airmatanya. "Aku memang mengingatmu, tapi maaf. Sejak hari itu, aku sama sekali tidak memiliki perasaan khusus padamu." Kulihat pegangan tangannya mengendur. Ah, aku tau aku terlalu kasar padanya. Tapi, disisi lain aku juga tidak ingin memberi harapan palsu padanya. Itu sama saja menyulut bom waktu, menyakitinya lebih dalam dengan tidak membalas perasaannya. Hatiku sudah untuk Naru. Dan saat ini hanya dia yang kumau. Bukan yang lain. Dan tidak ada yang lain. Egois bukan? Tapi itulah sisi terburuk cinta. Dan kurasa dia juga faham itu.
Aku meninggalkannya. Mungkin tangisnya tumpah, aku mendengar suara isakan yang semakin keras. Ah, apa peduliku? Kejam? Pasti. Dan aku tau itu. Ini semua demi kebaikannya dan kebaikan kita semua. Termasuk aku dan Naru pastinya.
Sasuke End POV.
Sakura masih menangis dikamar Naru. Tidak dia sangka ternyata Sasuke begitu kejam kepadanya. Sasuke bahkan menolaknya secara mentah-mentah. Sungguh, selama ini dia menginginkan Sasuke akan menyambut cintanya dengan hangat. Berharap Sasuke juga mengatakan bahwa dia mencantainya. Namun impiannya musnah sudah. Semua meleset jauh dari perkiraannya. Dan sepertinya Dewi Fortuna sedang tidak berpihak kepundaknya.
Naru yang baru datang dengan sekantong penuh cemilan dan minuman langsung melesat kekamarnya. Matanya melebar tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Sakura menangis. Sedang Sasuke tidak dia jumpai. Dengan perlahan dia dekati Sakura yang masih terisak. Mencoba menenangkan hati sahabatnya. Meski ada rasa jengkel dihatinya, dia sama sekali tidak tega melihat temannya menangis sampai seperti ini. Dan tentulah, hal yang buruk menimpa gadis berambut bubble gum dihadapannya.
'Apa mungkin Teme melakukan sesuatu hal yang menyakiti Sakura?' batin Naru. Didekatinya Sakura, dia peluk badan yang sedikit lebih besar darinya itu berharap yang dipeluk merasa tenang. Namun sepertinya niat baik Naru ditolak mentah-mentah. Sakura mendorong paksa badan Naru hingga terjungkal.
"Sa-Sakura…."
"UNTUK APA KAU MEMELUKKU HAH? AKU TIDAK BUTUH PELUKANMU ITU GADIS JALANG.." Naru yang mendengar bentakan Sakura hanya mencoba menahan air mata yang menggenang dipelupuk matanya. Dia tak menyangka jika Sakura akan bersikap sekasar ini padanya.
"a-aku ha-hanya ingin…"
"KAU INGIN TERTAWA BUKAN? MELIHAT KEADAANKU YANG SEPERTI INI?" Sakura emosi, entah apa yang membuatnya seperti itu. Segera dia berlari keluar, tak mempedulikan barangnya yang masih tertinggal dikamar yang mereka tempati untuk belajar tersebut.
Naru terdiam. Hancur sudah bendungan airmata yang susah ia tahan. Airmatanya menetes, merasa tersakiti oleh ulah Sakura tadi. Dia tidak tau hal apa yang menyebabkan tangis temannya itu tumpah. Namun yang terkena imbasnya malah dia.
Sementara itu,…
Sasuke yang berniat kembali kerumah Naru mengernyit bingung. Pasalnya, dia mendapati Sakura berlari sambil menangis. 'apa dia masih menangis gara-gara yang tadi?' batinnya.
Sasuke melangkahkan kakinya menuju kamar yang biasa ia tempati. Langkahnya dipercepat hingga setengah berlari ketika mendengar suara orang terisak. Dia keget, dilihatnya Naru terisak dilantai kamar yang dingin. Dipeluk dan dikecupnya dahi Naru, berusaha menyalurkan kehangatan dan seolah berkata "aku ada disini untukmu". Sedang Naru yang terisak hanya membenamkan wajahnya didada bidang Sasuke. Sedikit banyak hal ini membuatnya nyaman.
"apa yang terjadi? Ceritakanlah kepadaku." Hati Sasuke terasa teriris melihat Naru yang seperti ini. Di elusnya rambut pirang Naru yang berada didekapannya.
"Sa-Sakura…. "
"ada apa?"
"di-dia mem-membentakku tadi. Pa-pada hal a-aku tidak tau me-mengapa dia me-menangis." Sasuke menggertakkan giginya. Batinnya terus-menerus menghujat nama Sakura yang telah membuat orang yang dicintainya seperti ini. Dia tau, meskipun dari luar Naru terlihat kuat, tapi sungguh, dilubuk hatinya dia adalah pribadi yang lemah. Dibentak adalah hal yang tabu untuk Naru. Mentalnya akan lagsung down ketika dibentak. Itulah mengapa Minato-ayah Naru- sering mewanti-wanti Sasuke agar tidak membentaknya.
"Tenanglah, mungkin dia hanya emosi tadi. Jangan terlalu difirkan, ok?" naru terdian sejenak, lalu mengangguk lemah. Sepertinya ucapan Sasuke tadi menenangkan hatinya. "aku ingin melihatmu tersenyum." Lanjut Sasuke. Sasuke melepaskan pelukannya dan menatap lekat-lekat wajah Naru yang masih terisak dan berlinang air mata. Diusapnya airmata Naru dengan ibu jarinya. Perlahan Naru menyunggingkan senyuman dibibirnya. Sasuke yang melihatnya pun ikut tersenyum.
"besok, kutagih janjimu menemaniku ke café." Sasuke menyeringai, sedang Naru hanya menatapnya horror.
XXXXXXX
Esoknya,,,
Naru melangkah menuju kelas dengan langkah gontai, fikirannya masih teringat kejadian kemarin tentang Sakura. Rencananya hari ini dia akan mengembalikan barang milik Sakura yang tertinggal dirumahnya kemarin sekaligus meminta maaf. Meminta maaf meski bukan salahnya. Entah Sakura mau menerima permintaan maafnya atau tidak.
Naru merasa pagi ini adalah pagi tersepi didalam sejarah dia kelas 9 di KJHS. Lama-lama dia ternyata tidak tahan juga. Di acuhkan Sakura selama dia masuk kelas adalah hal yang ganjil. 'Ah, istirahat nanti akan kucoba berbicara padanya.'tekad Naru dalam hati.
Plukkkkkkkkk.
Sebuah kertas yang terlipat jatuh setelah menyentuh dahinya. Tentu saja, ada orang yang sengaja melempar benda itu kearahnya. Dipungutnya kertas yang sudah jatuh kelantai tersebut. Dan bingo! Di dalamnya terdapat tulisan yang berbunyi:
Temui aku di atap saat jam istirahat.
Ada yang ingin aku bicarakan.
Sakura
Pucuk dicinta ulam pun tiba! Tepat sekali. Naru senang, dengan begitu dia tidak perlu repot-repot mengajak Sakura berbicara.
Di atap, jam istirahat…
Naru berjalan dengan tergesa-gesa. Karena harus membantu Shion membawa lembar tugas ke ruang guru lah, dia terlambat menemui Sakura. Dan sesampainya di atap, dia menemukan Sakura dengan posisi menbelakanginya.
"ano,, Sakura. Gomen ne, aku tadi mengantar Shion dulu keruang guru. Jadi aku terlambat menemuimu. Eh ya, ini barang bawaan mu kemarin yang sempat tertinggsl dirumahku." Kata Naru sambil menyodorkan tas berisi barang milik Sakura. Sakura berbalik, lalu mengambil barang yang berada di tangan Naru.
"hm, arigato." Sakura mengambilnya dengan nada dingin. Namun Naru menanggapinya dengan senyuman. Tak peduli apa reaksi Sakura. "Dan apa hubunganmu dengan Sasuke-kun!" lanjut Sakura. Dari nada bicaranya tentulah menandakan Sakura sedang sebal.
"a-aku…. Tidak ada hubungan apapun dengan Suke-kun."
"bohong….. kau bohong, Naru. Cepat katakan… apa hubunganmu dengan Sasuke!" lagi-lagi Sakura membentak Naru. Air mata mulai menggenang dipelupuk mata Naru. Dikengkramnya dengan kuat pergelangan tangan Naru hingga Naru merasa kesakitan. "KATAKAN!" Sakura kalap. Entah setan apa lagi yang menguasai hatinya hingga dia terus membentak Naru tanpa sebab.
"aku dan dia hanya sebatas guru dan murid." Dan lagi-lagi, runtuh juga pertahanan Naru. Airmatanya mengalir, dan dengan segera dia melepaskan tangan Sakura kemudian lari secepat mungkin. Tujuannya hanya satu, taman belakang sekolah tempatnya menyendiri disaat fikirannya kalut seperti ini.
Gaara merasa heran ketika melihat Naru berlari menuju taman belakang sekolah sambil berlinang airmata. Diikutinya langkah Naru, namun dia tak ingin Naru mengetahui kehadirannya….
Naru terduduk di rerumputan taman. Hatinya kalut. Dia kira perbincangannya dengan Sakura akan membuahkan hasil yamg baik. Namun perkiraannya salah, bukan senyum yang dia peroleh, tapi airmata.
Greppp,,,, seseorang memeluknya. Seseorang yang dia kenal. Seseorang yang memiliki rambut merah bermata hazel menatapnya sendu. Yapz,, dialah Gaara, sahabat yang seolah ikut merasakan kesedihan yang dia rasakan saat ini. "ada apa lagi?" tanyanya. Naru menggeleng. Dia masih belum siap menceritakan hal ini kepada Gaara. "sudahlah, jangan terlalu difikirkan. Aku akan mendengar ceritamu ketika kau siap menceritakannya. Tenanglah. Aku disini dan sebagai sahabatmu, aku aka nada disisimu."lanjutnya. naru yang mendengar perkataan Gaara hanya mengangguk lemah. Ah, disadari atau tidak, sahabatnya yang satu ini selalu ada disaat-saat tersulit yang dia alami. Yah,, meskipun tidal selalu setiap waktu. Tapi, hal itu sudahlah cukup untuk membuatnya bersemangat dan tersenyum lagi. Dan setidaknya beban perasaannya sedikit berkurang.
XXXXXX
Naru POV.
Kurebahkan diriku dikasur empuk dengan seprai warna orange kesayanganku. Hari ini terasa begitu berat. Tak cukupkah kemarin Sakura membentakku? Hingga saat disekolahpun seperti itu. Hahhhh…. Aku lelah dengan sikapnya yang seperti itu kepadaku. Padahal aku tidak tau apa-apa. Tapi mengapa seolah-olah dia menumpahkan kekesalannya padaku. Entah apa yang kemarin dia bicarakan dengan si Teme itu hingga dia menangis begitu hebatnya. Tapi, mengapa lagi-lagi aku yang kena imbas kemarahannya? Aku tau dia mencintai Teme. Tapi mengapa harus aku yang dia bentak? Kalaupun memang kemarin Teme menolaknya, tidak harus aku kan? Yang menjadi sasarannya? Kenapa tidak sekalian si Teme saja yang dia pukul? Arggggg,,,, pemikiran ini terlalu banyak dan rumit. Untung saja Teme sedang dalam keadaan baik hati, sehingga jadwal belajar kali ini libur. Kalu tidak, mungkin kepalaku sudah mau pecah rasanya.
Cklekkk….
Seseorang membuka pintu kamarku, kutengokkan kepalaku, berusaha melihat siapa pelaku pembukaan pintu kamar ini. Dan… taraaaa…. Ternyata makhluk aneh berambut pantat ayam yang menyembul dari balik pintu. Baru saja difikirkan, ternyata orangnya sudah nongol duluan.
"Teme-Sensei,,, bisakah kau ketuk pintu dulu sebelum masuk? Beruntung sekarang aku dalam keadaan yang baik-baik saja. Tidak sedang ganti baju. Kau mau aku menjerit ketakutan he?"kataku. ku rubah posisiku hingga terduduk, dan Teme mengahmpiriku lalu duduk disampingku.
"salah sendiri, aku sudah ketuk pintu hingga tanganku pegal. Dan kau sama sekali tidak menyahutiku." Elaknya. Aku hanya menghela nafas, bosan. Alasan macam apa itu? "dan,,, jika aku melihat kau telanjang, kupastikan kau langsung kubekap dan… setelah itu kau akan tau sendiri." Lanjutnya sambil menunjukkan seringai mesumnya. Aku bergidik ngeri, hanya perasaanku atau memang dia bertambah hentai akhir-akhir ini?
Dukk,,,,, kulayangkan tinju ku ke atas kepalanya. Dia mengaduh dan menujukkan mimic wajah kesakitan. Aku tersenyum. "hentai,,,," kataku. Dan kulihat dia hanya bersungut saja sambil mengusap kepalanya yang terkena jitakan 'lembutku'.
"Jangan lupa, mala mini janjimu harus kau tepati." Ya tuhan,,,, dia mengingatkanyya lagi.
"tentu saja, kau fikir aku akan lupa?"
"ea, siapa tau?"
Aku bersungut. Tega sekali dia? Bukankah kalimatnya itu sama saja mengataiku pikun? Pelupa? Dan sebangsanya?
"kalau kau mau, kita berangkat sore ini jam 4. Kit jalan-jalan dulu ketaman. Kutraktir kau es krim." Lanjut Sasuke. Bibirku yang semula bersungut langsung berubah cerah. Es krim, makanan kesukaanku dan dia akan mentraktirnya? Ssungguh, aku bahagia mendengarnya. Saking bahagianya, langsung saja kupeluk erak tubuh Sasuke yang berada dihadapanku ini.
"he…. Hehak,,,, hohe. (hey,,, Sesak,,, Dobe)" ucap Sasuke dengan terbata. Apa mungkin aku terlalu erat memeluknya? Sontak kulepaskan pelukanku dan mendapatkan cubitan dipipi tembemku ini. Aku meringis, dan dia hanya menyeringai. "ini hukuman karena kau memelukku dengan erat, tidak dengan pelukan mesra." Lanjutnya. Entah hanya perasaanku atau memang kali ini menyeringai mesum lagi. Sedang aku susah payah menahan kesakitan dipipiku. Percuma membalas omongannya, yang ada hanya cubitan ini semakin erat.
Perlahan cubitanhnya mengendur, dan aku bisa bernafas lega. Dan tiba-tiba… cup! Dia menciumku lagi! Namun kurasakan ciuman itu hangat, hanya menempel, dan tidak ada lumatan-lumatan. Ya tuhan, mengapa baru kusadari jika bibirnya sangat amat lembut dan….. errr…. Terasa lebih manis? Arggg… bahkan Sasori saja masih belum pernah menciumku seperti ini. Tapi mengapa kubiarkan dia menciumku? Sepertinya aku telah gila olehnya.
Setelah sadar dari gejolak hatiku, aku mendorongnya dan melepaskan ciuman kami. Aku masih terdiam. Dan diapun begitu. Kupandang wajahnya, dia tersenyum meski samar dan beranjak keluar.
"Ingat, jam 4 nanti dan kau harus sudah siap di jam itu." Ucapnya sebelum meninggalkan kamar dan menutup pintuku, meninggalkan aku yang masih terdiam dan terpaku akibat ciumannya tadi….
Aku mengacak-acak rambut frustasi, bagaimana mungkin aku bisa seperti ini hanya karena dia menciumku? Arggg…. OMG…. Aku bisa gila jika setiap hari seperti ini.
Naru End POV.
Sasuke yang masih belum beranjak dari depan pintu kamar Naru hanya tersenyum mengintip tingkah frustasi Naru. Dia merasa terhibur dengan aksi Naru barusan. Entah mengapa. Dia merasa hanya Naru yang sanggup menenangkan hatinya. "hn, Dobe.." ucapnya. Dan sesaat kemudian dia beranjak dari sana. Meninggalkan Naru yang frustasi dikamarnya.
XXXX
Naru sudah siap dengan dandanan ala kadarnya. Dia menghampiri Sasuke yang sudah siap di ruang tamu. Sasuke ingin mengajak Naru berjalan kaki, bukan berboncengan dengan motor sportnya. Merepotkan hal itulah yang ada dibenak Sasuke sekarang. Sepertinya trade mark Sikamaru ini ikut menyerang Uchiha bungsu yang akan kencan dengan tunangan sepihaknya itu.
"ayo." Ucap Sasuke ketika melihat Naru telah siap. Naru hanya diam dan mengikuti Sasuke. Ketika melangkah keluar rumahnya dia bingung. Sangat-tumben-sekali dia tidak membawa motor kesayangannya itu.
"ne,, Teme-sensei, tumben kau tidak membawa motor?" Tanya Naru. Sasuke tersenyum samar. "malas. Sekalian kita olahraga." Jawab Sasuke. Naru mengangguk, membenarnya perkataan Sasuke. Lalu mengikuti langkah Sasuke dibelakangnya.
Sasuke berhenti dan menoleh kebelakang. Dia heran Naru hanya mengikutinya dan tidak berjalan dia mengharap Naru berjalan disisinya, dan menggandeng tangannya. "untuk apa kau berjalan di belakangku? Kau bukan pembantu atau pengawalku." Katanya. "aku,,, aku takut Sasori melihat kita dan disangka aku selingkuh dibelakangnya. Kau kan sudah tau aku masih memiliki Sasori." Jlebbb. Hati Sasuke terasa teriris mendengar perkataan Naru. Dia benci hal ini, bahkan sangat benci dan merasa cemburu ketika hal yang dibicarakan Naru hanya Sasori, Sasori, dan Sasori. Sasuke yang selalu ada disampingnya itu, tak dia hiraukan sama sekali.
"jika dia memergoki kita, aku yang akan menjelaskan padanya. Bahkan jika harus memukulnya, akan kulakukan." Sasuke mencoba bertahan dari rasa kecewanya. Namun hal itu membuahkan hasil. Naru mulai mengangguk dan melangkah disamping Sasuke. Meski Naru tidak menggandeng tangannya, dia sudah cukup lega. Yah,, setidaknya Naru mau berjalan disampinganya.
Sepanjang perjalanan menuju taman mereka hanya diliputi kedunyian. Tak ada yang memulai pembicaraan. Baik dari pihak Naru, ataupun Sasuke, tidak ada yang berusaha menghentikan kesunyian yang melanda mereka. Dan tentu saja, Naru hanya mengumpat dalam hatinya. Dia orang yang tidak bisa diam, namun entah mengapa dia kehabisan stok pembicaraan untuk mengusir senyapnya perjalanan mereka.
Sasuke POV.
Aku melangkah dengan hati sunyi, dia yang biasanya cerewet sekarang hanya bisa berdiam. Apa aku menularkan virus irit kata klan Uchiha padanya? Atau harus aku yang memulai pembicaraan duluan? Ah, sangat tidak Uchiha sekali aku disampingnya.. yah…. Aku selalu Out Of Character jika di depannya. Tidak apalah jika aku memulai pembicaraan lebih dulu. Toh, dia juga tunangan sepihakku.
"Naru-chan" tumben lidahku tidak kepleset mengucapkan Dobe-chan.
"Hn" OMG,,, dia benar-benar terkena virusku.
"Kau suka ice cream rasa apa?" tanyaku. Dan lagi-lagi… OMG… mengapa harus kalimat itu yang muncul dibenakku? Sangat-tidak-Uchiha-sekali-aku-didepannya. Tapi tidak apa-apa. Ini hanya berlaku jika aku berdua saja dengannya.
"Aku suka Ice Cream rasa Jeruk. Selain itu rasa Vanila juga tidak buruk. Atau lebih baik jika keduanya dipadukan." Aku tersenyum lai dibuatnya. Entah mengapa dia terlihat begitu menggemaskan jika bercerita tentang ice-cream yang dia suka. Mungkin jika ini tidak di tempat umum aku tidak akan menahan hasratku untuk tidak mencubit pipi tembemnya.
"ok, aku yang mentraktir semua ice-cream yang kau suka." Kulihat raut wajahnya yang cerah. Ya tuhan… tingkahnya sangat menggemaskan ketika jingkrak-jingkrak kesenangan mendengar aku akan mentraktirnya ice-cream. Dan,, oh… ternyata kami hampir sampai dan dia langsung berlari secepat kilat menghampiri kedai ice-cream yang berada di sebelah taman.
Kulihat dia gembira ketika menujuk ice-cream yang dia suka, ah,, batapa bahagianya meski hanya melihat wajah polos dengan senyum terkembang di bibirnya. Seperti bayi yang polos. Itulah gambaran untuknya. Terlalu polos dan seperti tidak menanggung beban sama sekali. Dan terkadang itu membuatku iri. Iri karena dengan leluasa berekspresi dan iri karena aku tidak bisa seperti dia. Tapi bagiku memiliki dia sampingku lebih dari cukup untuk mewakili semua hal. Ya,, hal yang membuatku terasa lebih sempurna dan membuat hidupku lebih berwarna.
Ingin rasanya aku tertawa terbahak-bahak karena tingkah lucunya saat membawa ice-cream yang sedemikian banyak dengan kedua tangannya. Akhirnya kuputuskan untuk duduk disalah satu bangku taman agar dia bisa menghabiskan ice-cream seabreknya itu. Ah, sekali lagi, aku seperti bukan Uchiha saja jika bersamanya.
Sasuke End POV.
Selesai makan ice-cream mereka berdua berjalan mengitari tamann sambil berolah raga. Naru mulai mengeluarkan sifat hyperactive nya. Sepanjang perjalanan hanya dia yang mengoceh dan hanya ditanggapi kalimat ambigu 'hn' ala Uchiha. Sontak hal itu membuat Naru sebal dan meracau tak jelas. Biar bagaimanapun juga dia sangat benci seperti itu. Berbicara banyak namun hanya ditanggapi dengan kalimat huruf yang bahkan lebih sedikit dari meongan kucing. Namun sasuke hanya terkikik melihat reaksi Naru.
"TEMEEE… tidak bisakah kau menghentikan kebiasaan mengeluarkan 'hn' ambigu mu itu? Aku bosannnnnnn… "ucap Naru.
"ya." Naru makin cemberut. Jawabannya sama sekali tidak lebih panjang.
"kalau kau masih mengeluarkan kata 'hn' ambigumu itu, akan kupastikan kau yang memasak untuk tiga hari kedepan. Huh." Naru bersedekap. Mencoba menunjukkan kepada Sasuke jika dia sedang ngambek dengan 'accesoris' sungutan dibibirnya.
"baiklah baiklah,,, aku menyerah, nona manis. Jika hanya kau dan aku, aku tidak akan mengeluarkan 'hn' itu lagi. Tapi aku tidak janji selamanya. Ahahahahaha. " OMG, Naru memandang Sasuke takjub. Sasuke tertawa lepas. Cata itu. TERTAWA LEPAS. Kesempatan yang langka bukan?
"Teme,,, aku baru menyadari kau itu terlihat konyol jika tertawa lepas begitu. Huahahahahahaha….." kini malah giliran Naru yang tertawa dan ekpresi Sasuke langsung cemberut. Poin untukmu Naru, Sasuke berubah ekspresi secepat kilat gara-gara kau.
DEG! Naru yang tertawa lepas berubah menyendu. Sasuke heran dengan perubahan ekspresi Naru yang seperti itu. Dilihatnya pandangan Naru yang tertuju pada café seberang jalan. "Sa-Sasori…"gumannya. Sasuke mendengar gumaman itu. Memang pandangannya menuju ke café, dan ada pemandangan lain disana. Ada seorang berambut merah tengah mencium tangan seorang wanita berambut ungu panjang. Bibir Naru bergetar, dan wajahnya memerah seperti mehanan tangis.
'mungkinkah ini yang dimaksud Naru dengan Sasori berselingkuh?' batin Sasuke. Dia memang tidak langsung percaya dengan apa yang diceritakan Naru waktu itu. Namun kini ia yakin 100%. Bahwa pemandangan yang berada di depannya menunjukkan bahwa Sasori benar-benar selingkuh.
Lalu….
Bagaimana lanjutannya?
TBC
Whuaaaa…. 3560 kata. Labih panjang untuk para readers semua….
bagaimana? RnR jangan lupa ya…..
By : amakuza ryuu.
