"Ano, Akashi-san. Apa kau benar-benar bisa melihatku?"
"Tentu saja benar."
"Akashi-san, apa kau tahu kenapa aku tak bisa mengingat dengan baik? Maksudku, memoriku rasanya sedikit kabur pada beberapa detail."
"Mungkin itu karena benturan saat 'orang itu' mengambil alih tubuhmu. Benturan itu maksudnya benturan jiwa. Kurasa fenomena seperti kalian pasti ada efek sampingnya kan."
"Aku tak pernah memikirkan kemungkinan itu. Akashi-san kau hebat. Ah, tapi bagaimana kau tahu?"
"Berhenti memanggilku dengan sulfik –san. Kedengarannya seperti memanggil anak perempuan saja."
"Kalau begitu, Akashi-kun?"
"Itu lebih baik."
"Lama tak berjumpa."
||Preview Chapter 5||
.
.
.
KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI
WITH! © KEN SAITO
Note : AU, OC, and OOC.
'jiwa aniki yang bicara'
"jiwaku yang bicara"
.
.
.
WITH
By AOIYUKI
.
.
CHAPTER SIX : Fire, Fear, and warm Feeling
.
.
Gadis dengan rambut berwarna navy blue yang dikucir kuda, menawarkan sebotol minuman pada seorang pemain yang tergeletak tak berdaya. Di belakangnya, seorang pemuda bersurai dark green terlihat mengobrol dengan santai bersama seorang pemain lain bersurai hitam yang kukenali sebagai kapten tim basket putra. Sang gadis terlihat tersenyum, sedang sang lelaki terlihat datar dengan kalkulator berwarna orange di genggaman tangan kanannya.
Seorang gadis lainnya dengan surai merah muda yang juga dikucir kuda memperhatikan keduanya dengan seksama. Mulutnya bergerak-gerak tak mengeluarkan suara jelas, hingga akhirnya kalimat itu dapat juga meluncur dari bibir pink cherry itu.
"Ano, apa kalian masih akan seperti ini sepanjang hari?"
Kalau saja aku bisa berbicara dengan mereka, aku pasti akan mengatakan hal yang sama.
Saat ini, kedua kakakku terlihat sangat kekanakan.
||WITH © BLUESNOW||
Kembali pada saat beberapa jam lalu.
Saat aku kembali ke kelas, seperti yang bisa kuduga, aniki tak ada di sana. Pasti dia bolos ke atap lagi deh. Padahal sudah kusuruh untuk diam di kelas saja, dasar.
Dengan malas, akhirnya kuputuskan untuk mengunjungi atap. Hah, kalau tidak diawasi sebentar saja tubuhku sudah dibawa pergi entah ke mana.
Tak butuh waktu lama untukku sampai di atap. Kali ini aku tak segan-segan menunggu seseorang untuk membukakan pintu. Toh yang ada di balik pintu ini hanyalah aniki. Jadi begitulah, dengan wajah inonsen tanpa secuilpun niat jahat yang tersembunyi aku membuka pintu. Lalu langsung menyesali perbuatanku barusan, karena ternyata bukan hanya ada aniki yang berada di balik pintu itu. Untungnya, saat ini aniki sedang berbincang, atau lebih tepatnya melakukan adu mulut dengan seseorang. Orang yang sangat kukenal. Shin-nii.
Ya ampun, bagaimana bisa aku melakukan hal ceroboh seperti tadi? Hah, mungkin makin lama pengaruh buruk aniki makin merasuk dalam sanubariku.
Jangan sampai. Jangan sampai. Jangan pernah. Ulangku dalam hati sambil menggosok-gosokkan kedua tangan dan menunduk berharap pada yang di atas.
Namun kegiatan itu tak berlangsung lama. Karena aku merasakan perasaan itu. Perasaan ditatap oleh seseorang. Penasaran, akupun berbalik. Mataku mencari-cari siapa sekiranya orang yang sedang memperhatikanku. Sedikit berharap kalau pelakunya adalah aniki, dan untuk pilihan terburuknya adalah Akashi-kun yang tidak sengaja terdampar di atap sekolah. Namun apa yang kuharap tak pernah terwujud.
Di sanalah aku melihatnya. Seorang gadis dengan rambut pirang sedang tersenyum padaku. Rambutnya yang panjang menari bersama terpaan angin. Matanya yang biru terlihat hangat, membuat segala perasaan resah dan gundah hilang dari hatiku. Senyumnya menumbuhkan perasaan familiar. Perasaan seperti rasa... rindu? He~, apa itu artinya aku... mengenalnya? Tapi dia itu siapa?
Di saat aku sedang kebingungan dengan duniaku sendiri, kedua kakakku masih setia beradu argumen. Samar-samar di sela waktu merenungku, aku dapat mendengar kata-kata ini.
"Kenapa kau bolos nanodayo?"
"Sudah kubilang aku tidak bolos nii-chan. Aku hanya pergi sebentar dari kelas."
Lalu sekejap itu pula aku tersadar dari lamunanku. Serta mendapati sosok anggun tadi sudah menghilang tanpa jejak dari hadapanku. Aku pun mencari lagi sosok gadis berambut pirang tadi. Namun sebanyak apa pun aku mencarinya, aku tak menemukannya di mana pun. Padahal aku sudah menelusuri setiap sudut atap. Pada akhirnya aku menyerah melakukannya.
Sebagai gantinya, aku menyadari helaan nafas depresi dari Shin-nii serta wajahnya yang terlihat menahan amarah.
"Jangan kau kira aku bodoh [name]. Mana ada anak yang tidak bolos tertidur lelap di bawah terik matahari alih-alih tertidur di kelasnya nanodayo.", katanya dengan suara yang terdengar sedikit menggeram.
Mendengar penjelasan Shin-nii entah kenapa rasanya dia itu sedang mengejekku. Yang perlu Shin-nii ketahui, aku bukan tipe anak yang akan tidur di kelas. Yah, kalau kepepet saja sih. Itu semua kan nggak bisa ditahan.
Sepertinya aniki merasakan hal yang sama denganku. Maksudnya bagian merasa sedang diejek. Karena saat ini aniki memandang sebal Shin-nii sementara mulutnya menggumamkan kata-kata tak jelas. Biar kutebak, semua yang diucapkannya pasti sumpa serapah yang tak pantas didengar telinga.
"Aku tak pernah bilang Shin-nii itu bodoh.", ucap aniki dengan mimik wajah mencibir. Matanya memandang malas tetapi terlihat kobaran api kesal dari sana. Sedangkan mulutnya bergerak perlahan, mengucapkan kata demi kata dengan kejelasan yang berlebihan.
"Apa kau sedang mengejekku nanodayo?", tanya Shin-nii dengan wajah yang terlihat makin memerah menahan marah.
"Aku tidak mengejek nii-chan kok. Mana mungkin aku berani.", kali ini aniki menjawab pertanyaan Shin-nii dengan lebih hati-hati. Bahkan nada suara yang diimut-imutkan mulai keluar lagi, demi terjaganya emosi Shin-nii.
Dalam hati aku sudah komat-kamit memohon agar pertengkaran yang tak kuketahui awalnya ini berakhir. Sekaligus berharap aniki berhenti bertingkah sok imut dengan menggunakan wajahku.
Tanggapan yang aniki dapatkan adalah helaan nafas panjang. Setelahnya dengan suara yang terdengar seperti berhati-hati dia berkata, "Apa ini semua karena Daiki?"
Mataku terbelalak mendengarnya. Dengan kecepatan yang sangat tinggi kupalingkan kepalaku menghadap Shin-nii lalu pada aniki. Saking cepatnya kepalaku mendadak pusing, membuatku harus sedikit merentangkan tangan demi menemukan keseimbangan kembali.
Selesai dengan rasa pusing yang makin memudar, aku memfokuskan diri pada aniki. "Memangnya kenapa? Ada apa denganmu aniki?", tanyaku cemas. Habis, aku kan belum pernah mendengar Shin-nii begini hati-hati.
Aniki menengokan kepalanya padaku dengan begitu cepat. Matanya melebar dan terpancar rasa terkejut yang begitu besar dari sana. Mulutnya sedikit terbuka seakan hendak meneriakan sesuatu.
Namun hanya kata, "[name]?", yang terdengar seperti bisikan dari mulutnya.
Aku sendiri mengerjap bingung mendapati aniki yang begitu terkejut dengan kehadiranku. Apa mungkin sejak tadi dia tidak menyadari kehadiranku ya? Tapi kurasa itu tidak terlalu penting. Lagipula kenapa dia harus seterkejut itu mendapatiku di sini? Bukankah setiap hari pun aku selalu berada di sampingnya? Harusnya kan malah kalau aku tak ada di sampingnya itu yang disebut dengan aneh. Aku benar kan?
Aku masih menatap aniki dengan wajah bingung, dan aniki masih menatapku dengan wajah syok seperti... oh tuhan.
Perlahan tatapanku pada aniki berubah. Tatapan yang awalnya meminta penjelasan perlahan memudar menjadi tatapan terluka, seiring dengan kenyataan yang memasuki pikiranku. Perlahan mulutku perlahan mengucap, "Apa… saat ini… aniki… melihatku sebagai… han… tu?"
'Bukan begitu. Untuk sekarang ini, diamlah dulu [name].'
Tiba-tiba saja aniki berkata tanpa menggunakan mulutku. Suara jiwa yang begitu dalam dan terkesan kelam, suara aniki yang dulu. Suara Daiki-niichan.
Kembali. Aku hanya bisa menampakan tatapan terkejut yang lama kelamaan berubah bingung. Sedangkan aniki hanya diam menundukan kepalanya. Aniki menyuruhku untuk diam, tapi ada yang ingin kutanyakan ketika melihatnya bertingkah seperti ini.
"[name]?"
Secara reflex aku dan aniki mengalihkan pandangan pada Shin-nii. Saat ini wajahnya terlihat bingung. Dengan suara yang tidak terlalu yakin dia kembali bertanya, "Kenapa kau memanggil namamu sendiri nodayo?"
Gulp.
Tanpa sadar aku sudah menelan ludahku sendiri. Wajah dan pergerakanku kaku. Apa ini yang namanya keadaan sial di saat yang tidak tepat? Mengalahkan semua rasa takutku, pada akhirnya aku dapat menggerakan tubuhku. Walau hanya melirikan mata, untuk mencuri pandang pada apa yang aniki lakukan.
Di luar dugaan, aniki memasang wajah kalem. Tak ada kekagetan atau pun rasa takut yang kutangkap dari wajahnya. Malahan yang kutangkap dari wajah datar itu adalah hm... aku sendiri tak tahu apa itu. Wajah itu seakan siap untuk menerima kenyataan terburuk tetapi tetap memegang teguh apa yang dijaganya. Seakan siap menjaga rahasia besar yang sedikit terbuka?
Tunggu. Kalau itu benar... apa itu artinya, ada yang disembunyikan aniki dariku?
Aku menatap aniki dalam diam. Sedangkan aniki sendiri sedang mengatakan sesuatu pada Shin-nii. "Maaf, nii-chan. Bisa kau keluar dulu."
Shin-nii terlihat terkejut saat mendengarnya. "Kau mengusirku? Aku tak salah dengar kan nodayo?"
Masih dengan ekspresi yang tadi, aniki kembali berkata paa Shin-nii dengan nada bicara itu, "Bukan begitu nii-chan. Tapi maaf, tolong keluar dulu."
"Baiklah.", ucap Shin-nii akhirnya. Meski nada yang digunakannya masih menunjukan adanya amarah. Bahkan kalkulator berwarna orange yang sempat kuacuhkan keberadaannya, hamper saja dibanting. Tetapi kurasa Shin-nii masih bisa berpikir dingin meski hanya sekedar mengingat itu adalah lucky item cancer hari ini.
Dengan langkah yang terlihat terasa berat, akhirnya Shin-nii meninggalkan atap. Setelah sosoknya menghilang di balik pintu, barulah aku menyadari, betapa sendiriannya aku di sini. Betapa rasanya jarak yang memisahkanku dan aniki begitu jauh. Daiki-niichan.
"A-aniki, itu, aku—"
"[name] maaf, tapi jangan bicara apa-apa dulu."
"Hm."
Hanya kata itu yang bisa kugumamkan. Bahkan hanya untuk menatap ke dalam matanya pun aku tak mampu. Saat ini, aku merasa sangat jauh dari aniki. Dan aku merasa tak mampu melakukan apapun dengan hal itu.
||WITH © BLUESNOW||
Setelah itu pun kami hanya menghabiskan waktu dalam diam. Mulai dari pergi dari atap, masuk ke kelas, bahkan hingga datang ke gym. Untuk lebih tepatnya, aku hanya terus mengikutinya dalam diam.
Dan sekarang aku hanya bisa melihatnya bertingkah seperti itu tanpa berani memberi komentar apapun.
"Apa yang harus kulakukan?", ucapku sambil duduk menopang dagu, memandang ke depan. Melihat kerumunan anak yang berlari, dan juga berlatih melakukan shot.
Detik berlalu dan hanya suara decit sepatu dan juga pantulan bola basket yang terdengar. Di sekelilingku terdengar juga suara-suara percakapan yang lebih mirip dengungan lebah.
"Bukankah menurutmu itu kejam, Akashi-kun?"
Anak laki-laki yang kupanggil namanya itu tak memberi reaksi. Matanya masih terarah ke depan, tempat anak-anak lainnya berlatih three point shot.
Aku sendiri masih menopang dagu, dan memandang kedua kakakku dengan wajah murung. "Rasanya seperti diacuhkan oleh orang yang kau percaya."
Untuk kali ini, Akashi memalingkan wajahnya. Iris merah itu menatap tajam ke dalam mataku. Aku sedikit melirik ke arahnya, dan mendapati wajahnya yang terlihat terganggu. Aku sedikit tersenyum saat berkata, "Akhirnya kau memperhatikanku."
"Kenapa kau menggangguku lagi?", ucap Akashi kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Tangan kanannya meraih botol minum lalu meminumnya hingga setengah botol.
Aku menurunkan kedua tanganku untuk beralih memeluk kedua lututku. "Kalau bisa, aku juga inginnya tidak mengganggumu. Tapi saat ini aku butuh bicara pada seseorang. Dan hanya kau yang bisa mendengarkanku.", aku melirik Akashi yang masih setia menatap ke depan, hal itu membuatku sedikit menghela nafas. "Tidak melihatku pun tidak apa. Tapi tolong dengarkan ya."
Melihat tidak adanya indikasi penolakan, aku melanjutkan perkataanku. "Kau tahu Akashi-kun. Hari ini, untuk pertama kalinya aku melihat wajah aniki begitu serius selain dalam hal basket.", saat ini mataku menangkap sosok gadis berambut dark blue yang sedang memberikan handuk pada anak yang telah selesai melakukan shot dan sedang berjalan ke pinggir lapangan. "Dan aku takut melihatnya.", ucapku datar.
Ya, aneh memang. Tetapi sejenak tadi, wajah kalem yang terlihat serius di mataku itu terlihat mengerikan. Tepatnya, untuk alasan yang tidak begitu jelas, aku merasa takut pada aniki. Aku merasa takut hingga tak berani menatap matanya atau pun bicara padanya. Menyedihkan.
"Payah."
Aku sedikit tersentak, lalu berbalik menatap Akashi. Anak itu hanya melihat ke depan dengan wajah datar. Dengan tidak yakin kuikuti arah pandang Akashi dan mendapati seorang anak kelas dua sedang melakukan three point shot. Dan shot itu masuk. Lalu apa payahnya?
"Akashi-kun, aku tak tahu kalau kau itu orangnya sok sekali."
"Kau mau cari mati.", suara seperti bisikan iblis itu keluar dari mulut seorang pemuda beraura seperti shinigami.
Aku menahan nafas saat mendengarnya. Apalagi saat pandangan tajam menusuk dari iris merah darah menghujamku. Mau tak mau kalimat, "Aku masih ingin hidup.", menggema dalam pikiranku.
Suara helaan nafas mencairkan kebekuanku. "Kau memang payah.", ucap Akashi dengan suara yang lebih bersahabat. "Bahkan dengan keadaanmu yang sekarang ini kau masih bisa takut? Kau sungguh payah. Hantu yang payah."
"Hah? Jadi, payah itu- aku?", dengan bingung, aku menunjuk diriku sendiri.
"Dan juga lemot."
"Apa? Aku tak sangka kau bisa berkata seperti itu.", kataku kesal. "Akashi-kun, kau itu terdengar menyebalkan. Aku kan— hm? Tunggu... Apa Akashi-kun sedang menghiburku?"
Dapat kulihat mata merah itu melirik sebal ke arahku. "Kenapa aku harus menghiburmu?"
"Eh? Salah ya? Kalau begitu maaf.", aku mengatakan itu tapi sebenarnya aku masih menganggap Akashi berusaha menghiburku. Habis, setelah dia berkata seperti itu, rasanya ada beban berat yang menghilang dari hatiku. Meski jadinya aku merasakan kesal. Tapi yah, kurasa kesal lebih baik daripada perasaan anehku tadi. Hehehe. Sepertinya Akashi-kun itu anak yang baik.
"Kenapa tertawa aneh seperti itu? Hentikan pemikiran konyolmu."
He~, meski mulutnya berkata seperti itu dadaku tidak merasakan sakit. Kau memang anak baik Akashi-kun. Hehehehe.
"Maaf ssu! Aku terlambat!", teriakan dari arah pintu masuk mengalihkan perhatian semua orang yang ada di gym.
Sepasang kaki jenjang melangkah cepat memasuki gym yang tiba-tiba sepi. Surai pirang bergerak-gerak seiring langkah pemiliknya. Wajah yang familiar menyunggingkan senyum lebar. "Pemotretannya ternyata memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan ssu. Gomen ne.", katanya pada kapten tim basket putra dengan wajah tersenyum berseri-seri.
"Jadi begini caramu minta maaf?", kapten mengucapkannya dengan wajah tersenyum yang mengerikan. "Enak saja. Lari kelilingi lapangan 10 kali. Dan jangan coba-coba menguranginya tanpa sepengetahuanku, atau akan kulipatkan menjadi 10 kali lipatnya lagi.", ujarnya sambil memukul kepala pemuda yang baru masuk tadi dengan papan catat.
"Huwe, ampun Nijimura-senpai. Jangan terlalu kejam padaku ssu.", ucap pemmuda tadi dengan air mata bercucuran dari matanya.
"Berisik. Cepat lari, Kise.", kali ini Nijimura-san memasang wajah marah dan menendang pemuda yang dipanggilnya Kise.
Pemuda tadi menuruti perintah kapten dengan berat hati. Terlihat dari cara larinya yang tidak terlalu bersemangat, serta mulutnya yang terlihat seperti menyuarakan berbagai gerutuan.
Semua orang masih melihat pemuda tadi berlari, hingga suara seorang perempuan mengalihkan perhatian mereka.
"Am I have to run ten lap too?"
Nijimura-san mengalihkan perhatiannya kembali ke arah pintu masuk. Setelah itu mendecakkan lidahnya kesal saat melihat pemilik suara tadi.
"Akhirnya kau datang juga. Semuanya berkumpul.", ujar Nijimura-san sambil menepukan sebelah tangannya pada papan catat.
Segera seluruh anak string satu berkumpul. Termasuk kedua manager tentunya. Membuatku tinggal duduk sendirian di tempat yang ditinggalkan Akashi-kun.
"Alex ini murid baru kelas 11, tetapi dari pengalamannya dia akan menjadi asisten pelatih.", terang Nijimura-san. "Dia berasal dari amerika tetapi sejak beberapa tahun lalu dia sudah tinggal di jepang. Jadi jangan…"
Mendengar penjelasan yang lumayan panjang itu, membuat sedikit bosan juga. Mataku menelusuri setiap penjuru mencari apapun yang dapat menarik perhatianku. Dan pandanganku jatuh pada seorang gadis berambut pirang panjang dengan kacamata berbingkai pink bertengger manis di wajahnya.
"My name is Alexandra Gracia, nice to meet you.", ucap gadis itu riang.
Wajah itu, rasanya aku pernah melihatnya. Tapi di mana?
Sekejap. Gym berubah menjadi lautan kobaran api. Berpendar-pendar dan membakar segala sesuatu yang dilaluinya. Menari-nari, berkelebat membentuk warna indah gradasi kuning dan orange. Di sana, seorang gadis terlihat berada dalam selubung api. Wajahnya tidak begitu jelas, tetapi aku dapat melihat senyumnya. Senyum yang seindah senja. Manis, lembut, dan juga membakar semangat hdupmu. Lalu di sanalah dia. Sepasang iris emerald memandangku dengan pandangan menusuk. Dan rambut pirangnya terlihat diterbangkan angin.
Ya, aku pernah melihatnya. Bahkan sekelebat ingatanku pun muncul sekejap. Tapi, yang tadi itu a-pa?
-tsuzuku-
Note : Hai lama tak jumpa. Maaf ya, chapter ini makan waktu lama dibuatnya. Sebenarnya ini semua karena mood dan feel untuk chapter ini sempet ilang lantaran banyak tugas dan fokus nglanjutin fic lainnya, meski akhirnya malah jadi sama-sama nggak selesai. Plotnya juga lagi disusun ulang. Maaf ya, kebanyakan alesan gini, dan juga mungkin chapter ini tidak begitu memuaskan. Untuk yang sudah nunggu fic ini (hanya berlaku jika ada yang nunggu fic ini update), dan juga mungkin yang baru baca (baik sengaja maupun kesasar), semoga kalian suka. Terima kasih sudah membaca sampai sini. Untuk yang review chapter 5 kemarin, terima kasih ya.
ShizukiArista : Bagus deh kalau bisa dimengerti. Jadi sudah nggak bingung lagi kan. Akashi ya? Pfft, entah kenapa aku malah bayangin dia jadi tsundere baca review kamu. Sory tiba-tiba nggak nyambung gini, hehe. Iya :), kelihatan banget ya kalau sukanya ke Kuroko? Untuk yang masalah rambut pirang, biar Shizu tebak-tebak sendiri dulu, oke? Masalahnya aku juga belum yakin itu siapa hehehe. Dan untuk hubungan mereka pasti nanti dijelasin kok kalau sudah saatnya. Ini sudah dilanjut, meski pun lama sih. Doushite shimashita (bener gini nggak sih jawab arigatonya?)
Yuuki Hanami : Eh, nggak pa-pa loh Yuuki. Aku aja baru lanjut chapter sekarang, hehe. Wah, kurikulum 2013 ya... semangat ya. Akashi itu bukan cenayang, karena dalam pikiranku, cenayang itu orang yang bisa melihat masa depan dan Akashi di sini tidak bisa melihat masa depan. Jadi kesimpulannya Akashi itu bukan cenayang. He~, gimana ya? Hm, mungkin gini. Meskipun belum meninggal tapi jiwanya sudah tidak ada dalam tubuhnya. Gitu kali ya? Haha. Bukan bukan bukan bukan. Kise jadi cowok ko di sini. Ya, dan semoga jawabanku ini belum termasuk nggak nyambung. Ini lanjutannya, meskipun telat. Arigato
HAPPY READING reader.
