Jawaban chapter sebelumnya :
Satu : Clue-nya ada pada palu yang dibawa. Umumnya palu berfungsi untuk memukul. Di chapter ini juga sama, untuk memukul dan menghancurkan. Yap, menghancurkan patung singa yng dia kagumi, karena sebenernya yng dikagumi bukan patungnya, melainkan sesuatu yang tersembunyi atau terbungkus di dalamnya. Well, anggaplah Orochimaru itu mavia, atau ketua sindikat perdagangan ilegal. Jadi, bisa aja di dalam patungnya itu obat terlarang atau barang2 illegal lainnya yang diselundupkan dalam bentuk patung. Hehe, apa penjelasannya terlalu jauh?
Dua : Yap, Naruto sangat mencintai Hinata. Sehingga pas Hinata hamil malah dia yng ngidam. Haha
Tiga : Neji salah kasih kertas ke Hinata XD
.
.
.
Satu
Shion menatap heran pada nampan pipih di atas meja dapur. Seharusnya itu berisi enam belas mini red velvet cupcake. Tapi seseorang mungkin telah memakannya satu.
Tapi siapa?
Seingatnya Kabuto sedang mandi saat ia keluar sebentar untuk membuang sampah melalui pintu belakang. Sedangkan dua keponakan ciliknya sedang mewarnai gambar di ruang tengah, ditemani televisi yang menayangkan kartun kesukaan mereka.
Ugh, ia tidak ingin menuduh.
"Ada apa? Kenapa melamun?" Kabuto keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil tersampir di lehernya.
Shion mengerjap sejenak demi menceritakan isi kepalanya. "Kau tahu, seharusnya kue ini jumlahnya enam belas. Tapi sepertinya ada yang sudah lebih dulu mencicipi tanpa seizinku."
Kabuto mengernyitkan dahi. "Siapa?"
Shion mengangkat bahu. Ia lalu terdiam memikirkan sebuah ide. "Aku akan melihat anak-anak dulu."
Sarada dan Boruto tampak asik dengan buku bergambar mereka. Keduanya tidak menyadari Shion yang berjalan mendekat.
"Sayang, bibi baru saja membuat cupcake kesukaan kalian," ucap Shion dengan senyum lebarnya. Membuat dua bocah berusia lima tahun itu terlonjak kegirangan.
"Benarkah, Bibi?" Boruto yang paling semangat, sedangkan Sarada hanya tersenyum menanti jawaban sang bibi.
"Benar. Tapi- ada yang aneh." Shion mengubah mimik wajahnya pura-pura berpikir.
Sarada dan Boruto mengerjapkan matanya tak mengerti.
"Cupcake-nya berkurang satu. Apa mungkin tikus telah mencurinya ya?"
Mata kedua makhluk mungil di depannya melebar mendengar kalimat bibinya barusan.
"Ah, tapi kalian jangan khawatir. Kuenya masih tersisa banyak," ucap Shion menenangkan. Wanita itu lantas bergerak lebih dekat untuk mengusap kepala Sarada lembut. Sedikit membungkuk demi menyamai tinggi badan mereka sehingga wajahnya sangat dekat dengan wajah bocah itu. "Apa kau senang?"
Sarada mengangguk antusias. "Aku senang, Bi."
"Bagaimana dengan Boruto-kun?" Kini Shion beralih mendekatkan wajahnya dan mengusap kepala bocah bersurai pirang itu.
"Aku sangat suka cupcake," jawab Boruto semangat.
Shion tersenyum dalam hati. Ternyata cara ini cukup ampuh.
.
.
.
Dua
"Kenapa kau membeli banyak sekali lilinnya?"
Lee menoleh mendengar suara Itachi. "Yeah, sesuai usia Sasuke."
Itachi menatap rekannya datar. Ia memang menyuruh pemuda bersurai unik ini untuk membeli lilin ulang tahun untuk adiknya. Tapi maksudnya adalah dua angka yang melambangkan usia Sasuke. Dua dan tiga. Tidak harus lilin berjumlah dua puluh tiga.
Tapi sudahlah. Setidaknya lilinnya sudah ada.
"Ayah, Paman, kalian sedang apa?" Inari muncul dengan seragam Senior High School-nya. Ia baru pulang sekolah, omong-omong.
Itachi baru akan menjawab tapi Lee sudah lebih dulu bersuara. "Ah, Inari-chan, dengarkan paman."
Gadis berusia empat belas tahun itu mendudukkan dirinya di salah satu kursi meja makan, lalu menatap Lee demi mendengar kelanjutan kalimat yang akan pria dewasa itu keluarkan.
"Ada dua puluh tiga lilin di sini. Jika tiga lilin memerlukan waktu dua puluh lima menit untuk berlangsung hidup,"
Itachi memutar bola matanya mendengar kalimat Lee yang berlebihan.
"Berapa waktu yang dibutuhkan untuk dua puluh tiga lilin?"
Itachi mengangkat satu alisnya. Sementara Inari menopang dagu mulai berpikir. Tapi lantas ia berseru dengan percaya diri. Sudah tahu jawabannya.
.
.
.
Tiga
Temari menarik tangan Shikamaru begitu mereka keluar dari bandara. Membuat pria bersurai nanas itu mengerutkan dahinya heran. Tidak adakah yang wanita itu ingin katakan padanya?
Ia baru saja kembali dari perjalanan dinas. Dan istri cantiknya itu tanpa kata malah menyeretnya ke kafe terdekat. Well, ia akui dirinya memang sedikit lelah. Tapi, kafe?
Ah, sudahlah. Pikirkan itu nanti.
"Untuk suamiku tercinta."
Sekarang ia semakin heran melihat sebuket bunga berwarna merah muda yang Temari sodorkan padanya. Ya Tuhan, tidakkah ini terbalik? Ia kan jadi malu dilihat oleh pengunjung yang lain.
Dua puluh empat tangkai bunga anyelir? Ck, wanita ini ada-ada saja.
Tapi tidak dipungkiri hatinya menghangat melihatnya dan senyum sang istri yang menenangkan.
"Aku juga," bisik Shikamaru di telinga Temari, lalu mengecupnya singkat.
.
.
.
.
.
END
.
.
.
.
.
.
Review?
