Okeh. Aku kembali :3 Hummm tadinya, aku mau bikin cerita ini 10 chappie. Tapi kayaknya… udah ada ide numpuk nih di otak buat bikin cerita baru. Jadi aku mau tamatin nih cerita, terus lanjutin satu lagi. hehe, tapi masih dalam proses, tuh cerita GAJE. ^^
Kayaknya genrenya bakal humor lagi deh. Sama romance.
Aku cuma bisa bikin genre dua itu aja (^w^)
.
.
Hepi reading :]
.
.
"Ouuch!" Lucy memegangi perutnya yang terasa sakit. "Luce?! Ada apa? Inikah saatnya?! Iya kah?!" Tanya Natsu panik, mondar-mandir diruang tamu mereka. Natsu menuntun Lucy duduk di sofa. "Ah.. tidak apa. Nashi hanya menendang perutku saja Natsu"
Natsu menghela nafas. "Lucy—tidak. Kalian berdua ini.. dapat membuatku terkena serangan jantung. Selalu saja membuatku panik,tsk" Natsu membanting tubuhnya disofa.
Lucy tertawa kecil "Gomenne Natsu. Entahlah.. akhir-akhir ini Nashi seperti tidak sabar untuk keluar" Lucy mengelus perut buncitnya. Nashi seperti terlalu bersemangat untuk segera lahir. Padahal kandungan Lucy baru 6 bulan. "Tentu saja ia tidak sabar! Ia akan bertemu dengan kita! Orang tua terhebat yang pernah ada!"
"Oh? Benarkah? Aku rasa jika Nashi lahir, kalian berdua akan tambah membuat kekacauan"
"Apa? Tidak akan Luce! aku akan mengajari Nashi jurus-jurus hebat!" Natsu meninju-ninju udara disekitarnya dengan semangat. "Karna kau gurunya , makanya aku takut" Lucy mengalihkan pandangannya dari Natsu.
"Geez.. percaya padaku Luce. Nashi akan menjadi anak yang luar biasa. Ia akan menjadi anak yang sangat kuat. Lalu ia akan dapat mengalahkan Ice Princess dengan mudah!" Natsu bercerita panjang lebar "Lalu pada akhirnya.. Nashi menjadi penyihir nomor satu di dunia!" Teriaknya.
Lucy hanya berpikir, meski Natsu sudah dewasa, pemikirannya tetap tidak berubah. Cita-citanya tetap seperti anak kecil. Penyihir nomor satu di dunia? Yeah..
"NATSUU! LUSYYY!" Happy mendobrak jendela rumah mereka dengan keras. "Hei! Happy! Masuklah lewat pintu! Siapa yang mengajarimu masuk lewat jendela!" Teriak Natsu.
"Kau bodoh Natsu. Siapa lagi kalau bukan kau" Kata Happy sewot.
"Ah.. ehehe…" Natsu tertawa malu."Jadi.. seperti ini rasanya kalau seseorang masuk kerumahmu melalui jendela?"
"Bagus kau merasakannya sekarang, Natsu. Jadi…" Lucy kembali menghadap Happy. "Ada apa?"
"GRAY!"
"Gray?"
"Ice Princess?"
"Gray akhirnya menyatakan perasaannya pada JUVIA!"
"GRAY.. APA?!"
.
.
Before the birth of baby Nashi.
.
Disclaimer of Fairy tail
Hiro Mashima
.
WARNING : MARRIED LIFE, TYPO(S) LIFE, DRAGNEEL FAMILY LIFE, FAIRY TAIL LIFE
.
.
Natsu dan Lucy masuk kedalam guild dengan terengah-engah. Meski Lucy tengah mengandung, tapi ia termasuk salah satu wanita yang luar biasa. Maksudnya—tak biasa seorang wanita tengah mengandung dapat berlari lumayan cepat. (*Dan wanita seperti ini hanya ada dalam cerita ini :p).
"Natsu! Lucy! Ayo temui pasangan baru,disini!" Mira melambaikan tangan kearah mereka. Semua anggota guild kini tengah mengerumuni pasangan baru yang duduk di pojok bar.
"Wowow~ Akhirnya kau mengatakannya juga, Ice princess" Natsu cengar-cengir.
"Tsk. Jangan ganggu aku Flamehead. Aku sedang tidak ada mood untuk bertarung" Kata Gray sembari menggenggam tangan *ehem* pacarnya. "Gr-Gray-sama?"
"Juvia. Panggil aku Gray" Perintah Gray. Juvia tertunduk malu. Saat ini ia sangat bersyukur karna selama bertahun-tahun doanya baru terkabul sekarang. "Gr-Gray..." Gray tersenyum kearahnya. "Bagus"
"Ju-Juvia! Mati sekarang pun rela kami-sama!" Teriak Juvia menangis bahagia. "Bodoh! Kalau kau mati, aku sia-sia menyatakan perasaanku!"
"Hihihi… Jadi Gray? Juvia? Kapan menyusul kami?" Lucy menampakan cengiran menggoda pada mereka.
"A-Apa? Lucy! Itu masih terlalu jauh! Aku saja baru menyatakan perasaanku!"
"Oh.. ayolah Gray! Nashi butuh teman!" Kata Lucy kecewa atas perkataan Gray.
"APA LUCE?! Maksudmu, Nashi akan berteman dengan anaknya Ice Princess?! Tidak untuk seumur hidup pun Nashi akan berteman dengannya!" Teriak Natsu.
"Hei! Aku juga tidak akan membiarkan putri atau pun putraku bermain dengan anakmu, Flame-fart!" Bales Gray sembari menunjuk perut Lucy.
Natsu menepas tangan Gray. "Jangan menunjuk Nashi!"
"Jangan berbicara yang tidak-tidak tentang anakku kalau begitu!"
"Kalau itu wajar Stripper! Anakmu akan berpengaruh buruk untuk anakku!" Teriak Natsu dengan mulut penuh busa. "Aku tidak ingin anakku tertular penyakit telanjang di depan umum!"
"ANAKMU YANG BERPENGARUH BURUK!"
"ANAKMU STRIPPER! HAHA! BAHKAN AKU MEMILIKI ENAM ANAK KELAK!"
"HUH? KAU INGIN MELAWANKU , HUH?"
"Huh?!"
"Lihat saja Flame-fart! Aku akan mempunyai 6 putri dan 6 putra! Juga 6 anak kembar! HAHA!" Kata Gray, berbicara tanpa berpikir. Tanpa sadar Gray terlalu bersemangat mengenai jumlah anaknya kelak, tidak melihat Juvia yang sudah terkulai tak sadarkan diri di lantai guild. Dengan Lucy, Levy dan Mira yang membantu mengipasinya.
"Kalian berdua ini!" Erza menjitak kepala mereka "Jangan berteriak seperti itu! lihatlah sekelling!" Perintah Erza. Natsu dan Gray mengalihkan pandangan mereka pada anggota guild lain yang cekikikan. Mereka pun baru merasa malu sekarang.
"Jangan berbicara sevulgar itu.. kalian ini" Lisanna menahan tawanya.
"Natsu.. mungkin aku percaya jika ia dapat berteriak seperti itu. tapi kau Gray? Pfft." Cana cekikikan sampai tak dapat melanjutkan minumnya.
"Aku juga ingin bertarung mengenai hal itu.. itu jantan.." Kata Elfman sedikit blushing.
"Salamander.. Ice boy.. kalian ingin membuat perternakan anak kecil di guild ini?"
"Gunakan kata-kata yang baik Gajeel… penampungan"Lily membenarkan kalimat Gajeel.
"Dasar.. dua orang bodoh itu bahkan membicarakan sesuatu yang belum ada"
"Aku benar-benar harus menyiapkan banyak dana… hiks.. jika guild ini akan banyak anak Natsu dan Gray.." Master Makarov meratapi nasibnya di pojokan guild.
"Hah.." Natsu berjalan mendekati Gray "Psst… Ice Princess. Semoga anak-anakmu lahir dengan selamat ya.. kalau aku.. 6 cukup. Aku memikirkan nasib Lucy juga kelak, Gi hee" Natsu menutup mulut pada kalimat terakhir, kesal, karna ia memakai logat Gajeel lagi.
"Cih"
"Okeh!" Teriak Mira membuatnya menjadi pusat perhatian. "Aku masih menunggu satu pasangan lagi disini" Katanya melirik Levy dan Gajeel secara bergantian.
Merasa diperhatikan Mira. Levy menjadi tidak nyaman "L-Lu-chan, Juvia.." Levy bangkit dari tempat ia berjongkok "A-Aku.. ingin.. ano.. pergi k-ke toko buku.. jadi.." Levy perlahan melangkah menjauh.
"Levy-chan" Lucy menahan tangannya. " .Tsk" Lucy menggoyangkan telunjuknya di depan wajah Levy sembari berdecak. "Tidak secepat itu" Lucy menghadap Gajeel. "Oh.. ayolah muka besi.. Levy-chan menunggu disini"
"SIAPA YANG KAU PANGGIL MUKA BESI? HUH? BUNNY-WOMAN BUNCIT?"
"KAU PANGGIL LUCE APA, BURUK RUPA?"
"Apa? Bukannya ia memang terlihat buncit?"
"SIALAN! Meski memang Luce terlihat gendut dan sedikit melar sekarang.. tapi—"
"—Oho.. jadi.. aku gendut dan melar , ne Natsu?"
"Ahaha..." Natsu tertawa gugup. "T-Tidak! Tentu tidak! Wooow! Kau terlihat sangat sexy Luce!" Nastu mengacungkan kedua jempolnya. "Hmm?" Lucy menatap tajam Natsu. "A-Apa aku ha-harus mengangkat jempol kakiku, ju-juga Luce?"
"Hah.. terserahlah.. jadi Gajeel? Kau tidak ingin mengatakan apa-apa pada Levy-chan?"
"Apa yang harus kukatakan?"
"Dasar. Muka besi bodoh. Untuk kali ini kuakui Ice Princess jauh lebih 'ehem' hebat dari pada kau"
"Ohoho! Terima kasih frenemy-ku " Gray menepok-nepok punggung Natsu "Untuk kali ini sebaiknya kita bersekutu" Ajak Gray.
"Haha. Tak masalah Ice Princess, lagi pula.. disini ada seorag pria pengecut yang perlu kita bantu"
"Hmm.. apa yang harus kukatakan? Pria seperti itu sangat lemah"
Merasa tersindir Gajeel akhirnya tidak dapat menahan emosinya "SIALAN! KALIAN PIKIR ITU MUDAH?! MESKI AKU SUDAH MENYUKAI SI KECIL DARI DULU! TAPI APAKAH IA DAPAT MENERIMAKU, HUH?!"
"G-Gajeel?" Levy menutup mulutnya yang menganga. Gajeel membuang wajahnya.
"Door! Bingo! Kau masuk perangkap, muka besi. HAHAHA!" Natsu dan Gray tertawa terbahak-bahak.
"Serangan bagus, Natsu! Gray!"
"Itu bagus, Natsu-nii!"
"Kalian berdua… aku bangga dengan kalian" Erza memeluk mereka berdua, membuat kepala mereka terbentur baju bajanya yang keras. "Begitulah harusnya tim"
"M-Makasih.. Erza"
"Hihihi… bukankah mereka terlihat lucu Juvia?"
"Juvia juga senang, jika mereka kompak seperti itu, Lucy-san"
"Levy-chan… hiks…" Jet dan Droy menangis di pojokan.
Gajeel mengacak rambut hitamnya. Mencoba menahan malunya. "Cih. Lalu?" Gajeel menghadap Levy.
"L-Lalu?" Tanya Levy balik. Ia tidak yakin apa maksud dari pertanyaan Gajeel.
"Geez.. kau pintar tapi.. kau juga bodoh"
"H-Hey!" Protes Levy.
"Bagaimana jawabanmu, kecil?"
Kini guild terasa hening. Ini adalah adegan romantis kedua untuk hari ini. Mira kembali menatap tanpa berkedip sedikit pun. Hari ini guild sangat dipenuhi oleh kebahagian. Lucy tersenyum lembut 'Akhirnya.. Levy-chan' Pikirnya. Juvia, Lisanna dan Erza hanya memperhatikan mereka. Natsu dan Gray menyengir lebar. Puas karna rencana mereka berhasil. Master Makarov menangis tambah keras. "Aku tahu kau bahagia Master" Kinana tersenyum ramah.
Tapi sebenarnya yang dipikirkan Master adalah 'Aku benar-benar akan mati sekarang… jika akan ada anak Gajeel juga.. hiks.. bunuh aku kami-sama..' Batinnya tersiksa. Jet dan Droy saling berpelukan. Mereka belum rela menyerahkan Levy pada Gajeel.
"Te-Tentu.. G-Gajeel…"
"YYAAAAA!" Sorak semuanya. "AKU SANGAT MENCINTAI KALIAN SEMUAAAA!" Teriak Mira penuh kebahagiaan. "Jadikan guild ini ramai dengan anak kecil okeh?" Mira mengedipkan matanya.
"Okeh" Jawab Gajeel singkat "Itu tak masalah, Gi hee"
"A-Apa maksudmu dengan 'Okeh'?!" Levy menutup wajahnya malu.
"Kau dengar itu.. Nashi? Kau akan memiliki banyak teman…" Lucy mengelus perutnya. Lucy merasakan Nashi menendang perutnya "Wow. Kau sepertinya juga senang, ne Nashi?"
"Lucy.. jangan bilang kau akan membiarkan Nashi bermain dengan anak muka besi?"
"Kenapa tidak, Natsu? Lagi pula kenapa? Ia kan paman?"
"Oh tentu tidak, Luce! Anak Ice Princess itu sudah cukup parah!"
"Geez… tidak kah kau berpikir ini menyenangkan?"
"Tidak!" Jawab Natsu singkat. "Ini bagus jika… mereka berteman, lalu salah satu dari mereka saling menyukai, hihi. Itu sangat manis" Lucy tertawa kecil.
Natsu menatap Lucy horror. "SEUMUR HIDUP PUN AKU TAK RELA BERKERABAT DENGAN STRIPPER MAUPUN MUKA BESI, LUCE!"
"Kami dengar itu Salamander!" Gajeel dan Gray menghampirinya, kesal.
"Lalu? Anak kalian akan membuat anak-anakku sengsara!"
"Huwoo! Seperti aku mengizinkan anakku kelak bermain dengan pria berjenis kadal, sepertimu Flamehead!"
"Aku juga tak ingin anakku menjadi pembuat onar sepertimu Salamander!" Dengan begitu. Ketiga pria itu kembali bertarung, meneriaki tentang 'Anakku' , 'kesengsaraan' dan 'Pembawa pengaruh buruk'.
"Hah… ini dia. Mulai lagi…" Lucy hanya dapat bersweatdrop melihat suaminya bersama kedua anggota guildnya bertarung.
"Juvia tidak dapat berpikir Lucy-san. Jika mereka bertiga saja dapat membuat banyak kekacauan. Bagaimana di masa depan nanti?"
"Woaah, jangan bayangkan sekarang Juvia. Itu akan membuatmu sakit kepala" Levy mengibas-ngibaskan tangannya.
Tiba-tiba Lucy merasakan seseorang menepuk punggungnya. "E-Eh? Erza? Kau membuatku kaget"
"Lucy.. ada yang ingin kubicarakan denganmu" Kata Erza serius. Membuat Lucy sedikit khawatir. "Y-Ya?"
"Sebenarnya.. aku sudah mengatakan hal ini pada Natsu, Gray dan …" Erza melirik Juvia sebenetar "Juvia"
"Dan… mereka setuju untuk ikut denganku.."
"Ikut denganmu kemana, Erza?"
"Untuk mengikuti misi denganku? Aku hanya meminta izin untuk membiarkan Natsu ikut bersamaku" Lucy tertawa kecil. Lalu apa masalahnya?
"Tentu Erza—"
"—Lucy. Misi itu 3 bulan" Lucy menatap Erza lama. 3 bulan? 3 bulan! Itu tepat pada saat kandungannya genap 9 bulan? Apa ia akan melahirkan Nashi tanpa Natsu? Lucy hanya takut ia tidak bisa jika tanpa Natsu di sampingnya. Apa lagi.. ini hal yang pertama buatnya.
"Lucy.." Erza memanggilnya pelan. Menyadarkannya dari lamunannya.
"Ano.. Erza.. ke-kenapa tidak dengan yang lain?"
"Hmm.. aku tahu ini berat untukmu Lucy.. tapi.. bayaran dari misi itu sangat besar, bahkan jika kami bagi untuk berempat pun masih sangat banyak. Aku mengajak Natsu karna kupikir kalian membutuhkan banyak uang Lucy.."
Lucy terlihat berpikir. Erza benar. Ia memang butuh banyak uang ketika Nashi lahir. Jadi..
"Baiklah Erza.." Lucy tersenyum kecil.
Erza memeluknya "Terima kasih kau dapat mengerti Lucy"
"Tidak Erza. Terima kasih karna peduli dengan keluargaku"
Lucy menarik nafas dalam "Jadi.. Umm.. kapan kalian pergi?" Tanyanya.
"Besok pagi"
Lucy kembali dibuat terkejut oleh Erza. Ke-kenapa secepat itu!
(^^)
Lucy membantu Natsu menyiapkan keperluannya selama misi. Waktu itu memang berjalan cepat. Tak terasa ini sudah esok harinya. Lucy menarik nafas terus berkali-kali, sembari terus merapikan barang-barang Natsu.
"Luce" Panggil Natsu. "Ya?"
"Apa kau yakin dengan ini? aku dapat menjalankan misi sendiri yang bukan memerlukan waktu 3 bulan?"
Lucy menggelengkan kepala "Tak apa Natsu. Kau juga melakukannya demi kami. Jadi.. pergilah"
"Kurasa semua ini cukup, Luce" Natsu memakai tas ransel yang biasa ia pake saat menjalankan misi. "Baiklah.. inilah saatnya.." Natsu perlahan melangkah kepintu mereka.
"Natsu.." Lucy menarik ujung syalnya. "Bo-bolehkah aku mengantarmu sampai guild?"
Natsu menatap Lucy, sebelum tersenyum dan mengelus kepalanya "Tentu. Ayo"
Seperti biasa. Kenapa waktu berjalan begitu cepat? Biasanya.. perjalanan menuju guild itu cukup jauh dan lama. Tapi.. kenapa hari ini terasa sangat dekat dan cepat?
"Itu mereka" Gray menunjuk Natsu dan Lucy yang berjalan menghampiri mereka. Natsu dan Lucy melihat Erza, Gray dan Juvia yang sudah menunggu mereka di depan pintu guild. Dengan gerobak Erza yang penuh akan barang-barangnya.
"Lucy.. aku minta ma—"
"—Erza. Tak apa. Sungguh" Lucy memotong permintaan maaf Erza. Serius? Kenapa Erza harus merasa bersalah? Ini semua kan juga karna kepentingan Lucy dan Nashi, Natsu pergi.
"Jadi, Flamehead? Siap kah kau?"
"Sebentar.." Natsu menghadap Lucy "Hah.. jadi Luce. Aku sudah menitip kau pada Happy setelah ia pulang misi dengan Charle dan Wendy. Jika kau merasa kesepian datanglah ke guild. Dan.. aku sudah memberitahu Mira, Levy dan yang lainnya untuk terus memperhatikanmu selama aku pergi" Natsu menjeda perkataannya sebentar.
" Aku juga sudah membayar semua makanan yang mungkin kau pesan pada Mira 3 bulan kedepan. Jika kau merasa lelah, jangan paksakan dirimu untuk melakukan kegiatan apapun. Kau bisa menyuruh Happy untuk melakukan pekerjaan rumah" Jelas Natsu panjang lebar.
Lucy hanya tercengang mendengar perkataan Natsu. Awalnya Lucy berpikir.. dialah yang terlalu mengkhawatirkan Natsu. Tapi.. itu salah. Natsu jauh lebih khawatir akan keadaannya.
"Aye, sir" Lucy memberikan hormat pada Natsu. Tersenyum manis. "Ya ampun, Luce!" Natsu tiba-tiba memeluknya erat. "Kau akan membuatku sangat rindu!"
"Hihihi… hey.. hey.." Lucy menepuk-nepuk punggungnya. "Kapan kalian akan pergi, kalau seperti ini?"
"Ah.. kau benar" Natsu melepaskan pelukannya. "Aku akan membawakanmu oleh-oleh, okeh?"
"Hihi.. yang terpenting Natsu.. jangan lupa kau punya istri" Canda Lucy. "Pfft! Itu perkataan bodoh Luce. Jadi…" Natsu mengecup kening mulus Lucy "…jaga dirimu baik-baik"
Lucy mengangguk. "Sampai bertemu nanti Lucy-san"
"Dah.. Lucy.. kami pergi dulu" Pamit Gray.
"Kami pergi Lucy" Erza memeluknya sebentar.
Lucy melambaikan tangannya pada mereka. Menatap punggung mereka yang semakin kecil karna jarak diantara mereka semakin jauh.
"Hah.. siapa sangka aku akan rindu padanya secepat ini"
(^^)
Selama 3 bulan tanpa Natsu. Lucy benar-benar menjaga kesehatannya. Jika ia bosan, ia akan meminta Happy menemaninya untuk pergi ke guild. Kadang ia membaca buku di perpustakan. Mira dan Levy selalu bertanya akan keadaannya setiap saat. Anggota guild sangat peduli dengannya. Bahkan orang-orang yang tadinya tidak begitu dekat dengannya. Gajeel bahkan membantunya mengangkat belanjaannya hingga rumah saat ia pulang dari pusat perbelanjaan.
Jet dan Droy menuntunya jalan jika Lucy merasa kakinya sakit. Dan.. siapa sangka Happy jauh lebih berguna dari biasanya. Suatu malam, badan Lucy tiba-tiba panas. Ia demam. Dan Happy rela keluar malam-malam demi membawa Wendy kerumahnya. Padahal malam itu dingin dan cuaca tengah hujan.
Lucy sangat terharu akan perlakuan teman-temannya yang baik. Dan.. tak terasa kini ini sudah 2 bulan lebih… tinggal beberapa hari lagi genap 3 bulan Natsu pergi. Ia hanya takut, tiba-tiba perutnya sakit tanda Nashi akan keluar.
Lucy memandang keluar jendela. Malam ini bulan bersinar dengan terang. "Natsu.. cepatlah pulang.." Katanya dengan nada sedih.
Tiba-tiba sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang "Tadaima.. Luce.."
Lucy tersentak kaget. Bahkan sempat terlompat dari tempatnya duduk "Na-Natsu?" Lucy membalikan badannya. Dilihatnya wajah orang yang paling ia sayangi itu tersenyum kearahnya. "KAU KEMBALI!" Lucy memeluknya erat.
Natsu membalas pelukannya "Tentu Luce!"
"Kenapa ini lebih cepat dari perkiraan?"
"Hihihi kau tahu Luce? Bahkan Erza kaget, aku dapat menjalankan misi selancar itu, tanpa membuat kekacauan apapun"
"Sungguh?" Lucy tak percaya dengan apa yang Natsu katakan. "Woow! Itu sangat langka!"
"Kau mulai jahat lagi Luce…"
"Hehe, baiklah. Aku akan membuatkanmu minum" Lucy beranjak dari tempat ia duduk menuju dapur untuk membuatkan Natsu minuman.
Beberapa saat kemudian Lucy keluar dengan segelas teh. "Natsu—" Lucy menghentikan kalimatnya. Tiba-tiba ia berhenti berjalan.
"Eh? Kenapa kau terdiam disitu, Luce?"
Lucy merasakan adanya cairan yang mengalir diantara kakinya. "Natsu.. bawa aku…"
"Huh? Bawa kau kemana?"
"Bawa aku.. sekarang!" Lucy sudah berteriak. "I-Iya! Tentu! Tapi kemana?!" Natsu masih terus bertanya.
"KE RUMAH SAKIT BODOH! NASHI AKAN LAHIR!"
Natsu terpaku ditempat. Ia tidak percaya. Inilah saatnya ia menjadi seorang ayah. Natsu berdiam diri sangat lama. Membuat Lucy tambah sakit.
"Natsu…" Lucy menahan perkataannya sebentar. "BANTU AKU ATAU KAU MEMBUAT AKU DAN NASHI DALAM BAHAYA!"
Dengan begitu Natsu menggendong Lucy ala bridal style. Mendobrak pintu mereka dengan keras. "APA YANG KAU LAKUKAN BODOH! RUMAH SAKIT DISEBELAH SANAAANAAA!" Protes Lucy karna Natsu salah mengambil jalan.
"Tidak Luce! Nashi akan lahir di guild!"
Natsu pun berlari secepat yang ia bisa. Menendang pintu guild dengan keras. Membuat beberapa orang guild menghadapnya "Semuanya! Bantu aku!"
"Ada apa Natsu?"
"Inilah saatnya Nashi lahir"
Perkataannya itu , seketika membuat satu guild panik.
.
The end
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hihihi! Bercanda! sampai jumpa di chappiee selanjutnya yaaaa :p RnR?
Kayaknya tuh bakal jadi chappie terakhir :3
