HaiHai~
Apakah saya membuat Kalian menunggu? Hihihiw
#LagiLagi Ketawa tanpa Dosa
OkeDeh langsung dibaca aja yaa –Happy Reading– *muahh!
DISCLAIMER:
*Eiichiro Oda
RATE:
*Always Teen
PAIRING:
*Luffy x Hancock
MUGIWARA'S SON
Chapter VII
Hancock mendesis perih merasakan tubuhnya yang terkulai penuh luka.
Dengan sisa-sisa tenaganya ia berusaha menyeret tubuhnya untuk meraih sepasang kaki kokoh yang berdiri di hadapannya. Ia mendongak menatap wajah bengis laki-laki bertato bunga itu. "Lepaskan Axel-kun…"
Laki-laki itu tak bergeming, ia angkat tinggi-tinggi tubuh Axel yang sedari tadi menangis ketakutan.
"Mamaaa…"
"Sebagai salah seorang sekutu pemerintah dunia kau terlalu berani. Tidak hanya menjalin hubungan terlarang dengan seorang kriminal, kau bahkan melahirkan seorang anak. Kau pasti tahu apa yang seharusnya aku lakukan pada anak ini,"
"Sakazuki!" Hancock mencengkeram kaki mantan admiral garang itu.
"Lihat baik-baik! Beginilah seharusnya garis keturunan terlarang dimusnahkan!" Sakazuki, Fleet Admiral angkatan laut melempar tubuh Axel lalu memuntahkan meteor magmanya. "Ryusei Kaza!"
"AXELLL-KUUN!" Hancock terbangun. Ternyata ia hanya bermimpi.
"Onee-sama!" Sandersonia dan Marigold saling berdesakan masuk ke kamar Hancock setelah mendengar suara teriakan.
"Axel-kun…" Hancock meremas bajunya, menangis. Hatinya benar-benar pilu.
"Apa telah terjadi sesuatu?"
"Aku hanya bermimpi buruk. Jangan khawatirkan aku," sahut Hancock, getir.
"Sebentar lagi kita akan sampai ke pulau Amazon lily, setelah mendapatkan apa yang kita butuhkan, kita akan mencari Axel-kun sesuai rencana yang telah kita susun bersama Rayleigh,"
"Heum," balas Hancock sekedarnya.
"Onee-sama," Sandersonia menepuk pundak kakaknya, "Kita pasti bisa menemukan dan membawa Axel-kun kembali ke suku Kuja."
.
.
"Irasshaimase!" Makino menyambut para pengunjung yang datang.
"Makino-san kemana aku harus membawa botol-botol kosong ini?"
"Ahh Nana-chan kau tidak perlu melakukan pekerjaan itu, berikan padaku. Aku yang akan membereskannya," Makino berniat mengambil botol-botol sake di tangan Nana tapi gadis berkerudung merah itu malah menjauhkan diri.
"Kau sudah memberiku makan dan mengijinkanku untuk tinggal. Bagaimana bisa aku berdiam diri, setidaknnya biarkan aku untuk membalas budi,"
Makino tersenyum ramah, "Kau tidak perlu membalas budi, sekarang duduklah dan biarkan aku yang mengerjakan ini."
"Makino-san…"
GBRAAK! Tiba-biba seseorang menendang pintu bar dengan kasar.
Seorang pria bersenjata memasuki bar diikuti segerombolan pria lainnya. Mereka adalah gerombolan bandit gunung yang akhir-akhir ini sering mengacau. Dan pria bersenjata itu adalah ketuanya.
"Sake! Berikan kami sake!" teriak ketua bandit itu.
"Maaf kami sudah tidak punya persediaan sake lagi," sahut Makino, ramah.
"Apa maksudmu dengan sudah tidak punya persediaan?" Ketua bandit itu memincingkan mata lalu memecahkan botol sake di dekatnya. "Jangan coba-coba membohongi kami Nona!"
"Jika Makino-san mengatakan tidak punya itu artinya memang sudah tidak ada sake di tempat ini, kenapa kalian tidak pergi saja ke tempat lain?!" sahut Nana.
"Hei gadis kecil kau jangan ikut campur," gertak ketua bandit itu sambil menyodorkan pecahan botol ke wajah Nana.
Makino menghela tangan bandit itu, "Jangan lukai gadis ini!"
"Kalau kau tidak ingin aku melukai gadis itu, berikan kami sake maka kami akan segera pergi,"
"Kau harus membayar terlebih dahulu baru boleh pergi!" sahut Nana lagi.
"Membayar? Hahaha konyol sekali, kau menyuruh seorang bandit membayar?"
Semua bandit tertawa geli. Kalimat Nana seperti sebuah lelucon bagi mereka.
"Apa yang sedang kalian tertawakan? Bagiku kalian itu tidak lebih dari sekumpulan keledai, baka!"
"Apa katamu?! Coba ulangi!" Ketua bandit itu mulai marah. Matanya melotot menatap Nana tapi dengan entengnya Nana malah mengulang kata-katanya.
"Kalian-Keledai-Bodoh!"
"Gadis sialan!" marah bandit itu lalu memukul Nana hingga terpental.
"Nana-chan!" teriak Makino.
"Sepertinya aku harus memberimu sedikit pelajaran!" Bandit itu mengangkat meja dan menghantamkannya ke tubuh Nana.
BRAAAK! Meja itu hancur.
Tapi meja itu hancur bukan karena menghantam tubuh kecil Nana melainkan hancur karena menghantam punggung kekar seorang laki-laki berambut merah yang tiba-tiba muncul menyelamatkan Nana.
"Shanks-sama…"
"Hahaha… Gadis pemberani apa kau terluka?"
"Akagami?!" gumam ketua bandit itu, ketakutan. Sadar kini posisinya tidak aman pria dekil itu membalikan badan untuk melarikan diri. Tapi sayang sebuah pistol sudah menghadangnya.
"Apa kau ingin melarikan diri?!" Lucky menarik pelatuk dan menempelkan mulut pistolnya tepat di kening ketua bandit itu.
Bandit itu mengangkat kedua tangannya dan terduduk memohon ampun. "AAAM-PUUN-I AA_KU TU-TUANN!" ucapnya gemetaran.
"Kapten…" Lucky melirik Shanks sambil mengunyah gumpalan daging di tangannya.
"Tidak ada yang terluka biarkan saja mereka pergi,"
Sesaat kemudian,
"GYAAAAAA KAMI TIDAK AKAN DATANG KE TEMPAT INI LAGI!"
"Kapten apa Anda terluka?" Makino tampak khawatir.
"Aku baik-baik saja, hahaha!" Shanks tertawa salah tingkah.
"Kau tidak perlu berpura-pura Kapten, kalau sakit katakan saja tidak perlu ditahan!" sahut Beckman.
"Tutup mulutmu!"
"Benarkah itu? Bagian mana yang terasa sakit? Ijinkan aku mengobatinya!" Makino tampak semakin khawatir. "Apakah di bagian ini?"
Shanks menangkap tangan lembut Makino yang hampir menyentuh pundaknya.
"Aku baik-baik saja," ulang Shanks.
Untuk beberapa detik Shanks dan Makino saling beradu pandang. Pandangan mereka begitu dalam sampai lupa kalau di tempat itu mereka tidak sendirian.
"Eheem!" Beckman berdehem.
Sontak Shanks melepaskan tangan Makino dan mulai bertingkah konyol, "Lihat semut bodoh itu! Dia pasti sedang mabuk sampai tidak bisa membedakan air gula dan air sake, hahaha!"
"Kau lebih bodoh Shanks, kata semut itu!" sahut Beckman.
"EHHH~"
"Hihihi…" Makino terkikih.
Nana berjalan menghampiri Shanks dan menarik kerah kemeja Shanks ke belakang.
"Hei apa yang kau lakukan?"
"Memar seperti ini masih bilang baik-baik saja?" sahut Nana sambil menunjuk punggung Shanks yang membiru.
"Ini hanya luka ringan, aku rasa aku tidak perlu membesar-besarkannya,"
Nana meletakan kedua telapak tangannya di atas luka memar Shanks. Lalu gadis itu menutup mata berkonsentrasi.
Telapak tangan Nana mengeluarkan cahaya.
Semua orang mendelik takjub saat luka memar di punggung Shanks perlahan mulai menghilang.
"Gael?" ucap Shanks.
"…" Nana.
"Gael? Apa itu Gael?" sahut Yasopp.
"Gael adalah sebutan untuk orang-orang yang memiliki kekuatan khusus, seperti kekuatan untuk menjelajah waktu, kekuatan spiritual dan kekuatan penyembuh seperti yang baru saja gadis itu lakukan," jelas Beckman.
"Ahh aku ingat kemarin gadis itu mengatakan bahwa dia kabur dari kejaran pasukan angkatan laut! Apakah gadis itu yang sedang pemerintah dunia cari?!" sahut Yasopp, menunjuk-nunjuk Nana.
"Nana-chan," Makino.
Nana terdiam sejenak, "Aku bukan seorang Gael. Pasukan angkatan laut mengejarku bukan karena aku seorang Gael tapi karena aku berusaha membebaskan adik laki-lakiku yang mereka tangkap,"
"Jika kau bukan Gael bagaimana bisa kau memiliki kekuatan yang hanya dimiliki oleh seorang Gael?" sahut Lucky.
"Dan kenapa angkatan laut menangkap adikmu, apa kalian berasal dari keluarga kriminal?" tambah Yasopp.
"Hei! Hei! Berhentilah menanyakan hal-hal yang tidak perlu kalian tahu!" Shanks memukul kepala Yasopp dan Lucky bergantian.
"Ibuku… kekuatan ini aku dapatkan dari ibuku," sahut Nana tiba-tiba.
"…" Shanks.
"…" Lucky.
"…" Yasopp.
"Ibuku adalah seorang shaman agung yang dipercaya oleh masyarakat Majonoia sebagai seseorang yang menerima anugrah dewa atau yang disebut masyarakat luar dengan Gael. Aku lahir dari seorang Gael mungkin itulah satu-satunya alasan kenapa aku bisa memiliki kekuatan ini."
"Lalu kenapa angkatan laut menangkap adikmu?"
"Seperti kalian, seorang petinggi angkatan laut tanpa sengaja melihat adikku yang juga memiliki kekuatan penyembuh. Dia mengira adikku adalah seorang Gael karena itu mereka menangkapnya. Hampir saja aku berhasil menyelamatkan adikku tapi seorang admiral datang dan memisahkan kami,"
"Hmm… sekarang aku mengerti, lalu apa rencanamu selanjutnya?" sahut Shanks.
"Dengan kekuatanku sekarang aku tidak mungkin bisa membebaskan adikku, karena itu aku harus kembali ke pulau Majonoia,"
Di pulau Majonoia.
"Shaman generasi terakhir?" ulang Nami. "Maksudmu Luffy adalah orang yang ada dalam ramalan itu? Kalian pasti salah orang,"
"Bukankah tadi kau mengatakan bahwa shaman adalah orang yang menerima anugrah dewa, coba kau pikirkan sekali lagi mana mungkin orang seperti dia adalah orang yang memiliki anugrah dewa," sahut Sanji.
"Dalam ramalan terakhir shaman agung Majonoia tidak dikatakan bahwa shaman berikutnya adalah seorang penerima anugrah dewa. Jadi besar kemungkinan dialah orang yang telah diramalkan,"
"Ini gila!"
"Jika Luffy menjadi shaman itu artinya dia harus tinggal di pulau ini untuk selamanya lalu bagaimana dengan kita?" sahut Usopp mendramatisir keadaan.
"Aku akan membunuhnya jika benar dia lebih memilih untuk melupakan tujuan hidupnya hanya demi sesuatu yang tak masuk akal ini!" timpal Zoro.
Semua pandangan langsung beralih kepada Luffy yang sedang asyik bergumul dengan makanan-makanannya. Tidak seperti kru bajak laut topi jerami yang lainnya, manusia karet itu sama sekali tidak menggubris pernyataan Yaoi tentang laki-laki dalam ramalan yang diduga kuat adalah dirinya. Lihat saja! Sekarang dia malah asyik memenuhi pundi-pundi makanan dalam perutnya.
"Owee minnaww apwa kaliwan tidwak maw mwakan?" Luffy berteriak sambil mengacungkan tangannya yang sedang menggenggam potongan paha super besar.
"Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada semua penduduk di pulau ini jika dipimpin oleh orang seperti Luffy,"
Dalam imajinasi Nami;
"Luffy-sama lusa akan diadakan upacara perayaan untuk menyambut panen hasil bumi negeri kita, semua penduduk berharap Anda sebagai shaman agung Mojaonoia untuk memimpin upacara tersebut,"
Luffy dengan wajah seriusnya yang lebih mirip ekspresi orang yang sedang menahan kentut menjawab, "Wakatta!"
Dalam imajinasi Usopp;
"TIDAK ADA ORANG YANG BOLEH MAKAN DAGING SELAIN AKU!" kata Luffy dengan gaya ala penyihir, jubah hitam, gigi dan kuku panjang serta jari-jari yang bergelitik. "SHISHISHI! SHISHISHI!"
Dalam imajinasi Sanji;
Luffy sambil mengupil, "Aku akan meninjau langsung dari rumah ke rumah,"
"Anda tidak perlu sampai turun langsung ke lapangan, biarlah kami yang melakukannya,"
"Baiklah ku serahkan pada kalian! zzzZHH…" sahut Luffy langsung tertidur.
Nami, Usopp dan Sanji sweatdropped, "Mengerikan!"
.
.
"Paman satu mangkuk lagi!" Axel mengacungkan mangkuknya pada pemilik kedai.
"Kau masih mau tambah lagi?" sahut Sabo heran.
"Aku masih lapar!"
"Ini pesananmu adik kecil!" kata pemilik kedai seraya menyodorkan mangkuk penuh mie.
"Itadakimasu!" Axel berseru untuk yang kelima kalinya. Lalu dengan lahap dia langsung menyeruput mie di mangkuknya.
Saat ini Axel dan Sabo telah memasuki kawasan kerajaan Goa. Tepatnya di dalam kota yang dikelilingi tembok tinggi pemisah Gray terminal dan kota kaum bangsawan Goa, kota kelahiran Sabo.
"Haaa~ kau benar-benar menyusahkan," kata Sabo sambil membenarkan posisi tubuh Axel yang tertidur dalam gendongannya. "Bisa-bisanya kau tertidur setelah kenyang,"
Sabo berjalan sambil mengenang masa lalunya bersama Ace dan Luffy, saat pertama kalinya dia mengajak dua saudaranya itu memasuki kota Goa. Dia tersenyum teringat kenakalan yang pernah mereka buat. Seperti kabur dengan melompat dari jendela setelah menghabiskan puluhan mangkuk ramen. Menghajar dan menjarah harta preman sampai keributan dengan anggota bajak laut Bluejam. Kenangan indah itu kini hanya bisa disimpannya dalam hati. Setelah kematian Ace mana mungkin dia bisa mengulang semua kekonyolan itu.
"Mammaa…" Axel mengigau.
"Kau pasti sangat merindukan ibumu," gumam Sabo. Sekali lagi membenarkan gendongannya.
Sabo kembali berjalan lalu melihat sebuah percekcokan.
Seorang pria tinggi berkumis diusir keluar dari sebuah rumah dan seorang pemuda yang kemungkinan adalah seorang anggota keluarga kerajaan goa menghina dan mengintimidasinya. Pria itu hanya bisa berlutut merendahkan diri memohon sebuah belas kasihan. Bersama istrinya ia rela mempermalukan diri di depan banyak orang.
"Kalian sudah jatuh miskin, tak sepantasnya kalian tinggal di tempat ini! Aku akan mengambil rumah kalian sebagai ganti uang yang telah kalian pinjam padaku,"
"Beri kami waktu satu bulan lagi, kami pasti akan membayar hutang-hutang kami Tuan," Pria paruh baya itu berlutut hampir mencium kaki pemuda di hadapannya. Tapi dengan angkuhnya si pemuda menendangnya.
"Tidak akan!"
"Tuan! Tuan! Aku mohon padamu, beri kami waktu," Pria itu belum menyerah untuk memohon.
"Arrgh! Bukankah kalian punya anak laki-laki?! Suruh dia membayar hutang-hutang kalian atau setidaknya suruh dia menjadi budakku seumur hidupnya untuk melunasi hutang kalian!"
Sabo melempar sebuah kantong ke muka pemuda bangsawan itu. Tepat di jidatnya.
"Hei kau! Apa kau sudah bosan hidup hah?!" gertak pemuda itu. Otot-otot kemarahan di wajahnya nampak keluar.
"Kantong itu berisi berlian seharga lebih dari 200 juta berry,"
"Du… Du… Dua ratus juta?" sahut pemuda itu sambil membuka isi kantong yang dilempar Sabo. Dan benar kantong itu berisi berlian mahal. "Rubydhina! Ini adalah rubydhina!"
"Bukankah itu cukup untuk melunasi hutang mereka?"
"Ini lebih dari cukup!" sahut pemuda itu lagi. "Hei kalian berdua! Bersyukurlah karena kali ini kalian tidak akan menjadi gelandangan!"
Pria berkumis itu menangis haru sambil memeluk istrinya. Mereka merasa sangat berhutang budi.
Sabo menunduk menyembunyikan wajahnya saat istri dari pria itu terhuyun-huyun melangkah mendekatinya. "Terima kasih Tuan, berkat belas kasihan Anda kami tidak menjadi gelandangan. Besar budi Anda tidak akan pernah kami lupakan!"
Sabo diam.
Kini giliran si pria yang mengungkapkan rasa terima kasihnya, ia berlutut di kaki Sabo dan menangis.
Mulut Sabo semakin kelu sampai sepatah katapun tak bisa dia ucapkan.
Pria itu menengadah menatap wajah Sabo. Dan tiba- tiba saja ia melepaskan kaki Sabo dari genggamannya.
"Suamiku…" sahut sang istri.
Segera Sabo menyerahkan beberapa lembar uang dan pergi menghilangkan diri diantara kerumunan orang. Meninggalkan pasangan suami istri itu dengan perasaan tak karuan.
"Aaa… Anakku… Sabo…" ucap pria itu.
Sabo berjalan keluar dari kota bangsawan Goa. Berjalan diantara timbunan sampah Gray terminal. Sesekali dia melirik Axel yang masih pulas bersadar di bahunya.
"Syukurlah dia tidak terbangun," gumam Sabo.
Sabo kembali melangkahkan kakinya. Tujuannya sekarang adalah mencari tempat untuk bermalam sebelum dia mencari kapal untuk memulangkan Axel.
Beberapa saat kemudian tibalah mereka di depan sebuah penginapan.
Dengan penuh semangat Sabo masuk ke penginapan. Dia berharap bisa segera membaringkan badan. Berjalan ratusan meter dengan seorang bocah di punggungnya membuat tulang-tulang belakangnya serasa retak. Karena itu dia perlu mengistirahatkan tulang-tulangnya.
"Selamat datang Tuan, apa Anda ingin memesan kamar?" sambut ramah seorang gadis.
"Ya! Aku ingin memesan sebuah kamar untuk satu malam,"
"500 ribu berry untuk kamar kelas VIP, 150 ribu berry untuk kelas sedang dan 100 ribu berry untuk kamar biasa,"
Sabo melongo sebentar, lalu merogoh saku celananya. Satu…, dua…, dia menghitung uang dalam genggamannya. Hanya ada 30 ribu berry.
"Tidak cukup," gumam Sabo, mendecak lidah. "Hmm… Nona apa ada kamar yang lebih murah?"
Gadis itu tersenyum, "Maaf Tuan, tidak ada kamar dengan harga dibawah harga yang telah saya sebutkan."
"Haft!" Sabo keluar dengan wajah kecewa. Tubuhnya benar-benar lelah sekarang.
Sabo melihat Axel yang masih tertidur pulas. Sebenarnya tak jadi masalah dimana dia akan bermalam, dia bisa tidur dimana saja. Tidur dijalanan, tidur di tengah hutan, semua itu bukan lagi hal yang baru baginya, hanya saja saat ini dia tidak sendirian. Ada seorang bocah bersamanya.
Dia tidak tega membiarkan seorang bocah tidur tanpa alas dan selimut ditengah hutan besamanya.
Hari semakin senja.
Seorang pria cebol bersorban dan seorang pria tinggi dengan jambul merah meyerupai jambul ayam berjalan melewati Sabo yang sedang merenung memutar otak.
"Aku tidak tahan! Akhir-akhir ini bos sering marah-marah sendiri, apapun yang aku lakukan selalu saja salah!" curhat si pria cebol, Dogra.
"Sabar! Sabar! Pasti ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran bos dan sebaiknya kita tidak terlambat membawa sake-sake ini pulang atau nanti bos akan memarahi kita sepanjang malam," sahut pria berjambul, Magra.
"Terserahlah aku sudah muak! Sejak kematian Ace dia selalu melampiaskan emosinya untuk Garp kepada kita,"
Mendengar ada orang yang menyebut nama Ace, konsentrasi Sabo langsung terpecah. Dia melihat kedua pria yang sedang berbincang itu. "Ano otoko…"
"Bos sangat terpukul karena Garp membiarkan Ace mati meskipun saat itu dia bisa menyelamatkannya,"
"Haaaah~! Aku tidak tahu apa yang Garp pikirkan saat itu!" Dogra menghela nafas.
"Oii kalian! Berhenti!" seru Sabo menghentikan dua pria yang sedang berjalan tak jauh darinya. Setelah beberapa detik berpikir akhirnya dia ingat kedua pria itu adalah Dogra dan Magra, bandit gunung yang pernah merawat Ace dan Luffy saat masih anak-anak.
Dogra dan Magra membatu, tak berani berbalik ataupun menengok ke belakang.
"Magra apa kau mengenali suara itu?" tanya Dogra was-was.
"Aaaa… tidak!"
"Aku yakin dia ingin merampas sake yang kita bawa!"
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Bodoh! Tentu saja kita harus kabbuuuuuuuuuuurr!" Dogra langsung berlari secepat kilat.
"Hyaaaaaa…."
"EEEH~ cottoo mateeee!" teriak Sabo ikut berlari.
(Sebenernya si Axel tidur atau pingsan ya?! Kok ga bangun-bangun XP)
"DOGRAA DIA MENGEJAR KITA!"
"JANGAN PEDULIKAN DIA! LARI SAJA SEKUAT TENAGA KITA!"
"TUNGGU! JANGAN LARI!"
Dogra, Magra dan Sabo berlari memasuki hutan pegunungan Corvo. Sabo berlari sambil memegangi Axel, menjaga agar anak itu tidak terjatuh dari gendongannya.
Sadar tidak bisa berlari lebih jauh lagi karena lelah, Sabo memotong dua buah pohon besar dengan jurusnya.
"HEI BERHENTI!"
DOOM! Dogra dan Magra sudah tidak bisa berlari lagi. Jalannya sudah tertutup tumbangan pohon yang Sabo potong. Mereka berbalik dan merancau ketakutan.
"Jangan mendekat atau kami akan… akan…" Dogra tidak tahu cara menggertak.
"Dogra dia semakin dekat…"
"Jangan rampas sake kami!" teriak Dogra ketakutan.
"Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak berniat merampas sake yang kalian bawa," sahut Sabo ngos-ngosan.
"Lalu apa yang kau inginkan dari kami?"
"Dogra! Magra! Apa kalian tidak ingat padaku?" Sabo balik bertanya.
"Dia tahu nama kita," sahut Magra heran.
"Siapa kau? Dari mana kau tahu nama kami?" tanya Dogra, masih takut-takut.
Sabo hanya nyengir sambil menujuk muka.
Dogra dan Magra menatap Sabo dari ujung kepala sampai ujung kaki. Topi google, rambut pirang dan cengiran itu…
"Mustahil!"
"Dogra apa kau mengenalinya?"
"Tidak!" Dogra nyengir sambil garuk-garuk kepala.
Sabo sweatdropped.
"Sebenarnya siapa kau?"
"Aku Sabo! Kalian ingat?"
"Sabo?" Dogra dan Magra saling memandang.
"Aku Sabo! Teman Ace dan Luffy!"
"HEEEE~ SABO?!" Dogra memekik dengan mengangkat satu kakinya, bergaya komikal.
"Mustahil!" Magra melirik Dogra.
"Apa maksudmu dengan 'mustahil'? Kalian tidak percaya bahwa aku Sabo?"
"Sabo sudah meninggal! Aku melihat sendiri dengan mata kepalaku saat kapal yang bocah itu naiki ditembaki hingga tenggelam! Jadi mana mungkin kau adalah Sabo!"
"Ahh~ jadi selama ini kalian mengira bahwa aku sudah mati?!"
Apa Ace dan Luffy juga mengira aku sudah mati? Sabo bergumam dalam hati.
"Tapi jika diperhatikan dia memang mirip dengan Sabo," sahut Magra.
"Apa buktinya jika dia benar-benar Sabo?"
"Aku tidak tahu bagaimana cara memuat kalian percaya tapi saat itu, saat Tenryuubito menembaki kapalku ada seseorang yang menyelamatkanku sebelum aku mati karena tenggelam,"
"Tenryuubito? Dia tahu…"
Sabo, Dogra dan Magra saling pandang dan sedetik kemudian Dogra dan Magra berhambur memeluk Sabo.
"SABO KAU MASIH HIDUP!" seru Dogra dan Magra gembira.
"Ehh jangan terlalu erat! Kalian bisa membangunkan Axel!"
"Axel?" sahut Dogra lalu menengok Axel yang masih ayem tentrem menempel di punggung Sabo.
"Siapa bocah yang bernama Axel ini?" Magra ikut menengok.
"Dia…"
.
.
"Luffy apa kau sudah membuat keputusan?" tanya Usopp.
"Keputusan?" Luffy balik bertanya.
"Soal ramalan yang shaman itu katakan, apa kau akan menerimanya jika benar kau adalah laki-laki yang telah diramalkan untuk menyelamatkan negeri ini?"
Luffy meletakan kedua tangannya ke belakang kepala, "Tentu saja aku akan menyelamatkan orang-orang di negeri ini, mereka sudah memberiku makanan yang lezat,"
"Lalu bagaimana dengan posisi sebagai shaman?! Apa kau juga akan menerimanya begitu saja?" Usopp menarik Luffy yang sedang berjalan di depannya.
"Hmm… tidak, shishishi…" sahut Luffy lalu nyelonong pergi.
Usopp menghela nafas lega mendengar jawaban Luffy.
"Seharusnya tanpa bertanya pun kau sudah tahu apa jawaban Luffy," sahut Robin.
"Kau benar Robin, aku salah telah mengkhawatirkan hal itu, lagipula kita belum tahu isi dari ramalan itu, shaman itu hanya mengatakan bahwa Luffy adalah shaman terakhir yang telah diramalkan,"
"Meskipun tolol, dia adalah orang paling teguh memegang impiannya," sahut Zoro.
"Dan tak seharusnya kita mengkhawatirkan hal itu,"
"Yah! Seperti apa yang Nami-san katakan tidak seharusnya kita mengkhawatirkan ramalan itu," Sanji menghisap rokoknya, "Membayangkannya saja aku tidak berani,"
"Oii Minnnaaa cepatlah! Aku tidak mau melewatkan pesta itu! Nenek itu bilang akan ada banyak daging disana!" teriak Luffy kesal dengan mata berbentuk paha ayam.
"Dasar si bodoh itu! Apa hanya ada kata makan di otaknya?"
"Fufufu…"
Luffy berlari kembali ke tempat Usopp dan kawan-kawannya yang lain. Dan seperti anak-anak dia mendorong tubuh Usopp dan Zoro agar berjalan lebih cepat, syukur-syukur mereka mau berlari. "Ayolah! Aku tidak mau Franky, Brook dan Chopper berpesta sendiri!"
Di kediaman shaman Yaoi, tempat berlangsungnya pesta.
"Yoohohohoo Yohohoho!"
"Awww!"
"Yoohohohoo Yohohoho!"
"Awww!"
"Bink's no sake woo! Todoke ni yuku yo! Umikaze kimakaze namimakaze!"
Franky, Brook, dan Chopper menjadi bintang pesta. Mereka bernyanyi dan menari sesukanya.
Brook bernyanyi sambil bermain piano, sedangkan Franky dan Chopper menari di atas meja makan dengan tarian konyol andalan mereka.
Semua penduduk yang menyaksikan bertepuk tangan dan tertawa gembira bersama mereka.
Para penduduk yang semula menentang keberadaan mereka kini berubah menjadi kebalikannya. Sikap mereka tampak berbeda setelah tahu bahwa Luffy-lah laki-laki yang telah diramalkan untuk menjadi penyelamat mereka.
Tiga ratus tahun menunggu akhirnya mereka akan terbebas dari belenggu yang membelit mereka selama ratusan tahun. Belenggu peperangan yang telah menumpahkan banyak darah.
"Akhirnya kalian datang juga, Yaoi-sama sudah menunggu kalian," sahut Benitora pada rombongan Luffy yang baru datang.
"Apa masih ada hal yang ingin nenek itu katakan?"
"Heii Sanji lihat! Itu Franky, Brook dan Chopper!" seru Luffy mengacuhkan keberadaan Benitora. "Oiiiiii Franky! Brook! Chopper kalian tidak boleh bersenang-senang tanpa aku!"
"Kalian juga tidak boleh bersenang-senang tanpa aku!" Usopp berlari menyusul Luffy.
"Luffy! Usopp tunggu! Lebih baik kita temui nenek shaman itu terlebih dahulu!" teriak Nami saat Luffy dan Usopp berlari menyusul Franky, Brook dan Chopper untuk berpesta. "Mereka selalu saja bertingkah seenaknya!"
"Ikutlah denganku! Yaoi-sama sudah menunggu kalian di ruang pribadinya," sahut Benitora.
Lalu…
Zoro, Sanji, Nami dan Robin dibawa masuk ke sebuah ruangan tak jauh dari tempat berlangsungnya pesta. Dan disana telah menunggu seorang nenek yang mereka tahu bernama Yaoi, seorang shaman yang memimpin Majonoia selama ratusan tahun.
"Dimana bocah itu?" sahut Yaoi.
"Jika bocah yang kau maksud adalah Luffy, dia sedang berpesta dengan Franky dan yang lainnya," balas Sanji.
"Sokka…"
"Tentang ramalan itu apa kami boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Nami.
"Aku juga ingin tahu apa isi dari ramalan itu," sahut Sanji.
Yaoi berjalan ke jendela dan menatap langit, "Itu adalah ramalan terakhir kakakku sebelum ia meninggal dunia,"
Kembali ke masa tiga ratus tahun sebelumnya.
Di tanah suci Majonoia.
"Onee-sama bertahanlah!" Yaoi muda memapah kakaknya yang sekarat akibat luka panah di perutnya.
"Tinggalkan aku di tempat ini! Yang mereka inginkah adalah aku, kalian pergilah ke tempat yang aman!" ucap Yuya dengan susah payah.
"Aku tidak akan meninggalkan kakak sendirian di tempat ini, sebentar lagi kita akan sampai ke perbatasan dan mereka tidak akan bisa mengejar kita lagi."
"Yaoi benar! Anda harus bertahan!" sahut seorang prajurit.
Yuya terjatuh dari papahan Yaoi dan memuntahkan darah.
"Yuya-sama!"
"Yuya-nee-sama! Aku mohon bertahanlah…"
"Kalianlah yang seharusnya bertahan. Jangan karena kematianku kalian menyerah dan membiarkan iblis-iblis itu menginjak tanah leluhur kita , tanah suci kita, Majonoia!"
"Bagaimana bisa kami bertahan tanpa kekuatan Anda?!"
"Sudah lebih dari empat ratus tahun kita berjuang, sudah lebih dari ratusanya nyawa warga kita melayang tapi bukannya mendekat, kedamaian malah serasa menjauhi kita, apa ini kutukan yang langit turunkan untuk menghukum kita?"
"Maafkan segala kekuranganku, sebagai shaman agung Majonoia aku terlalu lemah sehingga aku tidak bisa melindungi negeri ini seperti pendahuluku. Bahkan dari orang-orang seperti mereka sekalipun,"
"Apa yang Anda katakan? Anda adalah shaman terhebat Majonoia! Dibandingkan shaman terdahulu Andalah yang terbaik!" sahut prajurit itu lalu menunduk menangis.
Yuya tersenyum simpul dan menangis "Waktuku sudah tak lama lagi, jadi dengarkan aku baik-baik!"
"Onee-sama sebaiknya jangan terlalu banyak bicara, simpan tenagamu!"
"Tidak! Aku harus segera menyampaikan hal ini sebelum mereka memisahkan nyawa dan ragaku,"
"Yuya-sama!"
"Suatu hari nanti dari langit timur akan jatuh seorang 'D' ke altar suci Majonoia. Dengan pedang keadilannya dia akan menebas segala kegelepan yang menutupi altar suci kita. Dialah cahaya terakhir menuju kedamaian. Teruslah berjuang sampai pembawa harapan itu tiba," Yuya kembali memuntahkan darah. Dia menatap sayu wajah adiknya, "Aku titipkan negeri ini padamu, jadilah ibu yang bijaksana untuk penduduk Majonoia! Begitu pula dengan Nana dan Nara aku titipkan mereka kepadamu…"
Yuya mengusap air mata Yaoi lalu menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyum penuh kedamaian.
Kembali ke masa sekarang.
"Di dunia ini tidak hanya Luffy yang menyandang nama 'D' bagaimana kau bisa yakin Luffy adalah orang yang ada dalam ramal itu?"
"Aura penguasa yang terpancar dari tubuhnya yang membuatku semakin yakin, dialah cahaya harapan kami menuju kedamaian,"
"Tapi negeri tidak tampak sedang berperang," sahut Robin.
"Benar! Negeri ini terlihat damai dan tak bermasalah,"
"Jika kalian datang beberapa tahun lebih awal mungkin kalian bisa melihat neraka di negeri ini…"
"…" Nami.
"…" Sanji.
"…" Robin.
"…" Zoro.
"Beberapa tahun yang lalu ketiga Guardian berhasil membuatnya terluka dan memukul mundur semua pasukannya. Meski begitu kami belum bisa bernafas lega, sebelum kami berhasil menusuk jantungnya dia bisa kembali menyerang negeri ini kapan saja,"
"Siapa yang kau maksud 'dia'?"
"Ratu penyihir hitam yang selama ratusan tahun berusaha mengambil dan menguasai harta Majonoia, Gecko Maria!"
.
.
Tok! Tok! Tok! Dogra mengetuk pintu.
"Okashira! Kami sudah kembali!"
Pintu terbuka, muncul sesosok wanita paruh baya berwajah om-om yang langsung berteriak marah-marah.
"Apa saja yang kalian lakukan, kenapa selarut ini kalian baru kembali hah?! Kalian pasti sengaja membuatku menunggu, iya kan?!" damprat Dadan.
"Maaf!" kata Dogra dan Magra pasrah.
Dia sama sekali tidak berubah, batin Sabo ngeri.
"Ehh~ siapa laki-laki itu?" tanya Dadan saat mendapati sosok yang tidak dia kenal.
"Hai! Lama tidak bertemu kau masih saja garang seperti dulu," sahut Sabo cengingisan.
"?!" Dadan melihat Dogra dan Magra bergantian. "Apa aku mengenalmu?"
"Aku…"
Thuuuut~ Sabo kentut sebelum selesai menjawab.
"Jangan menjawab pertanyaanku dengan sebuah kentut!"
Sabo nyengir dan tanpa sengaja kentut lagi, "Maaf!"
"Bocah sialan siapa kau sebenarnya?!" umpat Dadan, marah.
"Dia Sabo, teman Ace dan Luffy yang pernah mengacau di rumah ini," sahut Dogra straight-faced.
"Dia adalah bocah yang kita kira sudah mati beberapa tahun yang lalu Bos," tambah Magra.
"Sabo?" Dadan mengamati Sabo dengan seksama.
"Sepertinya aku harus segera ke toilet," Sabo nyengir dan kentut lagi.
Tiga puluh menit kemudian.
Sabo keluar dari toilet sambil mengusap-usap perut, "Lega sekali!"
Di ruang tengah, Dadan, Dogra dan Magra menatapi Axel yang tertidur pulas tanpa berkedip. Mereka seperti melihat kembali sosok Luffy yang berusia tujuh tahun.
"Apa bocah ini benar-benar…"
"Ya! Bocah itu benar-benar anak Luffy, aku yakin kalian belum bisa mempercayainya, hahaha!" Sabo memotong kaliamat Dadan.
"Saat melihatnya aku seperti melihat Luffy, mereka saat mirip," sahut Magra.
"Bahkan caranya mendengurpun sama, apa ini yang disebut buah jatuh tak jauh dari pohonnya?"
Keesokan harinya.
Sinar matahari menyelinap masuk ke celah-celah kecil rumah Dadan. Axel mulai terbangun dari tidur panjangnya. Dia duduk sambil mengucek mata, mengumpulkan nyawa.
Dadan yang tahu Axel sudah terbangun langsung menghampiri dan menyapanya.
"Ohayou!" sapa Dadan sambil mengedip-ngedipkan mata bertingkah seperti gadis muda yang sok imut. Dia sangat berharap Axel akan balas tersenyum dan menyapanya. Tapi sayang yang terjadi malah kebalikannya, bukannya balas tersenyum atau menyapa Axel malah menjerit dan menonjoknya.
"ARRRRGHHH BANCII!" teriak Axel ketakutan.
(NgakNgakNgak! XD)
.
.
~bersambung~
Terimakasih udah baca ^^p
Sampai ketemu di chapter berikutnya!
