Mata itu menatap taman cantik di luar kamarnya dengan tatapan bosan. Sesekali ia mendesah kesal dan mengacak rambutnya gusar. Ia terkurung di ruangan ini baru satu hari dan ia sudah luar biasa bosan. Dan ia dilarang keluar dari ruangan ini selama perawatan. Ayolah… itu jelas siksaan baginya yang sangat tak suka ruang geraknya dibatasi.

"berapa kali lagi kau akan menghela nafas seperti orang tua?" suara itu membuat minseok membeku dan menoleh ragu ke arah pintu kamarnya dan so damn sexy… kapan pria itu tak nampak sexy di mata minseok.

Luhan berdiri sembari bersandar santai pada bingkai pintu kamarnya dengan senyum kecil di bibir merah pria itu. Senyum pertama yang luhan berikan untuknya. Dan sekarang ia bagai remaja yang sedang mengalami jatuh cinta untuk pertama kalinya. Perutnya bagai dipenuhi jutaan kupu-kupu dan nafasnya tercekat melihat kesempurnaan luhan. Pria itu nampak menawan dan santai dengan kemeja hitam pas badan dan jeans yang juga berwarna hitam. Nampak luar biasa tampan dan menggoda. Rambutnya baru saja di warnai menjadi sewarna platinum dan nampak tertata rapi dan bergaya dengan bantuan gel rambut.

Oh sialan, ini tidak baik untuk jantung minseok. Terlebih lagi kerlingan menggoda yang baru saja luhan berikan untuknya itu. Sepertinya pria itu berniat membunuhnya dengan pesona luar biasa luhan. Dengan pelan di aturnya nafasnya dan mengerjap pelan sembari mengatur ekspresinya. Tawa renyah luhan membuatnya kembali tercekat dan membuatnya menggigit bibir bawahnya pelan menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba saja menyerang.

"aku tahu aku menawan tapi kau tak harus kehilangan kata-kata seperti itukan" goda luhan sembari mengedip genit ke arah minseok yang seketika merona malu

'sialan… memalukan sekali kau kim minseok..' desis minseok pelan dan menatap luhan dengan ekspresi kesalnya

"wah… rasa percaya dirimu makin menggila ya rusa!" ketus minseok sembari mengalihkan tatapannya dari luhan yang sudah menegakkan tubuhnya dengan perlahan bagai predator ganas yang lues.

Minseok menelan ludah kelu ketika otot-otot bisep itu mengencang ketika luhan bersedekap sembari mengamatinya dengan kilau menggoda pada mata sekelam malam itu. Terkutuklah xi luhan dengan segala pesonanya.

"I'm" jawab luhan cuek dan melangkah mendekati minseok yang nampak mendengus kesal. Luhan dan kepercayaan diri tingkat dewanya.

"kapan kau datang?" Tanya minseok penasaran dan melirik ruang kosong di belakang luhan, memastikan keberadaan orang lain dan hasilnya nihil

"baru saja dan mereka langsung menyuruhku menemuimu" jawab luhan sembari mendudukkan dirinya pada kursi di samping minseok sedangkan minseok hanya mengangguk kecil sebagai respon

Seketika suasana canggung merebak. Mereka hanya saling curi pandang layaknya bocah yang baru bertemu dan merasakan virus merah jambu yang terkenal itu. Minseok bahkan nampak bergerak-gerak gelisah di kursinya dan menghasilkan kernyit heran pada dahi luhan

"kau kenapa?" Tanya luhan pelan dan tetap saja membuat minseok terlonjak pelan dan tertawa canggung

"apa?kenapa?"

"kau kenapa?" dan minseok malah menatap luhan dengan ekspresi bingung yang membuat luhan menahan tangannya agar tidak dengan lancang mencubit pipi minseok gemas."kenapa bergerak tak nyaman seperti itu? Kau ambeyen?" goda luhan jahil dan menghasilkan cebik menggemaskan pada bibir mungil minseok

"kau dan sikap mengesalkanmu" rutuk minseok kesal dan menendang pelan kaki luhan yang menghasilkan tawa kecil luhan. Oh… sepertinya suasana canggung itu telah hilang

"bagaimana keadaanmu?"

"sudah lebih baik dan mereka tetap mengurungku layaknya pesakitan" gerutu minseok layaknya anak kecil yang dilarang bermain di luar rumah. Oh, ia memang dilarang keluar istana jika kalian lupa

"kurasa kau memang masih membutuhkan istirahat yang cukup jika dilihat dari luka yang kau dapat" ujar luhan sembari menatap kepala minseok yang masih diperban walaupun perbannya sudah tak setebal 5 hari yang lalu

"kau sama saja dengan mereka…" rajuk minseok manja, ia bahkan merengek pada luhan. Hei… itu nada manja pertama yang minseok berikan pada luhan dan sukses membuat luhan membeku sejenak sebelum ia berhasil mengendalikan dirinya agar tidak mengangkat dan memeluk minseok ke atas pangkuannya

"dan kau keras kepala seperti biasa" balas luhan acuh yang membuat minseok kembali memasang wajah merajuknya.

Wah… sepertinya ini kemajuan yang besar teman. Dan wajah merajuk minseok jelas tak baik buat luhan. Oh… jangan wajah dan ekspresi itu… lihat saja luhan mulai gelisah dan memegang tengkuknya gugup. Ternyata luhan tak kebal dengan wajah merajuk minseok.

"Lu…." Uh… oh… kau akan mati kehabisan darah tuan rusa,,,

Luhan meneguk ludahnya gugup dan mengalihkan tatapan matanya dari minseok yang seketika cemberut dan kembali memanggil luhan manja. Kakinya bahkan menendang-nendang kaki luhan yang ada di sampingnya pelan untuk menarik perhatian pria itu.

"oh Tuhan… apa baobei..?" ups… luhan… jangan panggilan sayang itu… karena sekarang luhan membeku dan minseok merona dengan salah tingkah.

"kau… kau… barusan memanggilku apa?" Tanya minseok gugup dan seketika mengalihkan pandangannya ketika luhan menatapnya. Uh… lihat wajah menggemaskan minseok yang memerah itu. Seketika rasa gugup luhan menghilang dan digantikan dengan seringai jahilnya. Oh… mari menggoda minseok teman.

"baobei minseok… aku memanggilmu baobei" jawab luhan yakin dan tersenyum tampan pada minseok yang kembali menatapnya ragu

"kenapa kau memanggilku seperti itu?" Tanya minseok pelan

"hanya ingin saja. Atau kau mau ku panggil sayang?" goda luhan dengan seringai jahil di bibir menggodanya. Membuat minseok tercekat dan mengipasi wajahnya yang menghangat. Waw… reaksi yang sangat tak terduga sehingga secara reflex luhan mengacak surai minseok gemas dan berhati-hati akan perbannya.

"aku lebih suka yang pertama…"lirih minseok pelan dan tak berhasil luhan tangkap melalui pendengarannya

"kau bilang apa?" Tanya luhan penasaran

"bukan apa-apa" jawab minseok ketus. Ia kesal terus digoda oleh luhan

"wah… kau merajuk"

"dan apa masalahnya denganmu?" delik minseok galak dan menghasilkan tawa dari luhan. Menggoda minseok itu sangat menyenangkan, terlebih lagi jika minseok sudah merona merah dan nampak malu-malu.

"jadi… apa yang kau katakan tadi?" kejar luhan tak sabar dan menghasilkan helaan nafas frustasi dari minseok

"dasar pemaksa"

"yayayay. Dan…?"

"akubilangkalauakulebihsukakaumemanggilkubaobei" jawab minseok cepat dalam satu tarikan nafas dan membuat luhan memasang ekspresi konyolnya sehingga minseok tertawa heboh

"wajah mu aneh lu"

Baru saja luhan akan membalas minseok tiba-tiba dua orang pria menerobos masuk ke dalam kamar minseok

"Seoki… akhirnya kau sadar juga" pekik salah satunya dan memeluk minseok dengan pelukan kingkong yang luar biasa erat sehingg minseok kesulitan bernafas dan menepuk punggung si pemeluk berkali-kali

"kau membuatnya tak bisa bernafas sayang" pria yang satunya lagi menarik si pemeluk menjauh dan mengizinkan minseok menghirup oksigen banyak-banyak

"kau mau membunuhku ya hoya!" bentak minseok kesal dan menepuk-nepuk dadanya pelan dan batuk-batuk kecil sehingga luhan meringis pelan melihatnya

"oh ma'af. Aku terlalu senang" jawab hoya dengan senyum canggungnya dan melirik luhan yang nampak duduk tenang dengan mata membola,"kau pangeran XOXO planetkan?" teriak hoya heboh dan menghasilkan kernyit terganggu pada luhan. Suaranya luar biasa keras dan menyakiti pendengaran mengingatkan luhan pada baekhyun yang hobi sekali berteriak

"ah.. ya. Luhan kenalkan. Ini dongwoo dan si berisik itu hoya. Mereka juga sahabatku" minseok mengenalkan keduanya,"dan mereka juga sepasang kekasih" tambah minseok dengan seringai jahil di pada bibirnya

"oh… mulut manismu" dengus dongwoo dan di balas tawa kecil minseok

Dan tiba-tiba sekelompok pria kembali memasuki kamar minseok dengan teriakan dan pekikan tak suka dari sejumlah pria yang nampak terganggu dengan candaan pria-pria tampan yang berada di kelaompok ini.

"oh waw… pertemuan besar-besaran sepertinya" ujar suho sembari menepis tangan-tangan jahil kris dari rambutnya dan lay yang tersenyum manis melihat wajah merajuk suho

"hoya…!" pekik baekhyun heboh dan berlari ke arah hoya yang merentangkan tangannya ke arah baekhyun yang segera melompat ke dalam pelukan hoya

"kapan kalian datang?" Tanya kyungsoo yang nampak bersedekap kesal ke arah keduanya yang saling lirik gugup. Membuat kyungsoo marah jelas pilihan terakhir mereka. Jangan remehkan tubuh mungil dan wajah innocennya jika kau tak mau mati muda

"baru saja dan kami langsung kesini"

"hoya memang curang. Yang ada diotaknya hanya seokie dan sokie." Protes tao yang menudingkan telunjuknya pada hoya yang tertawa kecil

"diamlah. Kalian berisik. Minseok masih sakit jika kalian lupa" potong sehun datar dan menghempaskan tubuhnya pada ranjang minseok dan ditindih oleh chen dengan semangat sehingga sehun tersedak kuat

"kau berat bebek" dan teriakan sehun mengisi ruangan itu karena chen mencubitinya dengan berutal

"coba katakan lagi kalau aku berat" desis chen berbahaya dan dengan cepat sehun menggulingkannya pada kasur

"jangan coba-coba ya bebek. Kai lakukan sesuatu pada bebek ini"

"itu urusanmu" jawab kai acuh dan melangkah ke arah suho sembari memeluknya dari belakang

"wah…wah.. kalian datang dan semuanya kacau" rutuk minseok dan menghasilkan tawa dari semuanya.

Seketika ruangan itu begitu ramai dan hangat akan canda dan tawa para penghuninya. Minseok bahkan tak lagi nampak bosan dan mengeluh. Senyum samar terbentuk pada bibir luhan dan makin melebar ketika matanya beradu pandang dengan mata minseok. Saling melempar senyum dan saling lirik di suatu waktu. Wah… tinggal tunggu waktu saja dan semuanya akan menjadi lebih jelas nantinya. Atau justru akan datang masalah baru karena tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap kedekatan mereka dengan tatapan tak suka dan terganggu.

.

.

.

Hari ini hari terakhir minseok mendapat perawatan dan perbannya baru saja di buka. Lukanya sudah kering dan tinggal menghilangkan bekasnya. Beruntung mereka memiliki obat khusus untuk menghilangkan bekas luka dengan cepat. Sekelompok pria itu lagi-lagi berkumpul di kamar minseok ditambah dongwoo dan hoya, minus luhan dan kelima sahabatnya.

"hah… akhirnya… aku nyaris mati bosan terus-terusan di kamar" pekik minseok senang dan menghempaskan tubuhnya pada setumpuk bantal besarnya.

"bosan katamu?" goda tao dengan cepat

"aku memang bosan tao. Apa enaknya terkurung di kamarku sendiri" sahut minseok cepat

"yeah… sampai luhan menjenguk atau menghubungimu. Maka tak akan ada kata bosan bagimu." Goda chen telak dan membuat minseok tersedak ludahnya sendiri

"oh shut up!" sergah minseok dengan wajar memerah dan menghasilkan kernyit bingung dari dongwoo dan hoya

"sebenarnya apa hubungan minseok dan pangeran XOXO planet itu?" Tanya dongwoo penasaran

"tak ada" jawab minseok cepat dan menghasilkan kernyit tak percaya dari hoya dan dongwoo

"belum.. dan akan" goda baekhyun dengan senyum genitnya yang menghasilkan erangan kesal dari minseok

"jangan dengarkan mereka"

"justru kalian harus dengarkan kami. Minseok kita sedang jadi orang munafik" cetus kyungsoo pelan dan santai

"enak saja"

"sangkal saja terus. Awas saja kalau ada yang salah tingkah jika luhan berkunjung" suho ikut-ikutan menggoda kakaknya yang sekarang nampak memerah parah dan menghasilkan tawa dari mereka semua ditambah hoya dan dongwoo.

"sejak kapan kalian dekat?" Tanya hoya semangat dan menyenggol bahu minseok pelan dan menghasilkan erangan putus asa minseok

"kami tidak dekat hoya. Kami hanya teman" sangkal minseok dengan wajah merona

"ya… teman yang sudah tinggal serumah dan saling rindu jika berjauhan" serobot baekhyun tak sabar dan di amini oleh yang lainnya

"apa!. Kalian tinggal bersama?!" teriak dongwoo tak percaya dan menatap minseok tajam

"uh… yah.. begitulah kira-kira" jawab minseok gugup. Jarang sekali dongwoo menatapnya setajam itu

"kapan? Kenapa?"

"kau berlebihan chagi" rutuk hoya kesal dengan reaksi berlebihan dongwoo yang nampak mengacuhkannya dan masih menatap minseok tajam

"semenjak apartemenku rusak parah dan sampai penyerangan kemarin itu terjadi" jawab minseok takut-takut

"kenapa tidak tinggal denganku saja dan malah tinggal dengan orang asing" sergah dongwoo tak suka

"karena ibu yang memutuskannya dan luhan bukan orang asing"

"oh… jadi luhan sekarang bukan orang asing" sindir dongwoo dengan wajah keras dan membuat suasana menjadi tak nyaman

"kau kenapa sih. Itukan keputusan bibi. Kau seperti pria yang mengetahui kekasihnya berselingkuh" rutuk hoya kesal. Siapa yang tak kesal jika kekasihmu justru nampak marah dengan kedekatan sahabatnya dengan pria lain

"kita tak mengenalnya chagi. Aku hanya khawatir dan lihat akibatnya. Kepalanya bocor dan ia tak sadarkan diri selama empat hari"

"itu seratus persen tak disengaja dan tak terprediksi woo. Jangan sakartik begitu. Lagian ibu kita berteman dengan bibi henry. Bahkan kita juga dekat dengannya" suho menengahi dan menenangkan dongwoo yang masih nampak kesal

"yah… semoga saja tak terjadi hal seperti ini lagi" desah dongwoo keras sebelum menghempaskan tubuhnya pada kursi di dekat ranjang minseok.

"aku janji tak akan terjadi lagi" suara dari pintu kamar minseok itu membuat mereka semua mengalihkan tatapan mereka ke arah sipendatang baru dan itu luhan.

Pria itu nampak tegang dan kaku kerena perkataan dongwoo yang tak sengaja ia dengar. Minseok memucat melihat ekspresi keras luhan dan sebersit rasa tak enak menghampirinya. Luhan mendengar pembicaraan mereka.

"sejak kapan kau di sana?" Tanya dongwoo tak bersahabat

"sejak kau mulai meneriakinya karena tinggal denganku" jawab luhan tenang

"dasar tukang curi dengar" rutuk dongwoo sengit dan menatap luhan seakan pria itu akan menelan luhan bulat-bulat

"sudah cukup !. Ada apa dengamu !. Kenapa kau semarah itu minseok tinggal dengan luhan. Luhan bisa menjaganya dan berhentilah menggerutu. Aku tak suka itu !" teriak hoya kesal dan beranjak dari posisi berbaringnya menuju dongwoo yang menatapnya dengan wajah datar

"hoya. Kurasa kau tak perlu ikut-ikutan marah sepertinya. Kau tahu sendiri minseok itu sudah bagai adik bagi dongwoo" kyungsoo berusaha menengahi pasangan yang nampak bersitegang itu

"kupikir juga begitu. Tapi sikapnya tadi justru membuatku ragu. Apa kau juga akan semarah itu jika aku tinggal dengan pria lain?!" Tanya hoya galak dan berkacak pinggang di depan dongwoo

"aku akan membunuh pria itu" desis dongwoo berbahaya dan membuat hoya mengerjap pelan dan perlahan tapi pasti senyumnya mengembang,"aku mencintaimu chagi !" pekik hoya senang dan mengecup bibir dongwoo cepat

Luhan menaikan sebelah alisnya bingung melihat pertunjukan aneh di depannya itu. Tadi hoya nampak murka dan sekarang layaknya puppy manja. Uluran tangan minseok lah yang membuat luhan mengalihkan perhatiannya dan menghampiri minseok dengan cepat sembari meraih tangan yang terulur itu. Mengacuhkan sekelompok pria yang napak sibuk dengan diri mereka seolah tidak sedang bersitegang beberapa menit yang lalu.

"acuhkan saja mereka. Mereka memang seperti itu" kata minseok pelan ketika luhan mendudukan dirinya di ranjang minseok. Secara otomatis minseok menggeser tubuhnya, memberi ruang pada luhan yang berada di sampingnya.

"bagaimana keadaanmu?"

"sangat baik. Apa lagi perban sialan itu sudah di lepas" jawab minseok cepat dan menyentuh kepalanya pelan

"kau juga terlihat lebih baik tanpa perban itu" kata luhan dan dibalas anggukan penuh semangat oleh minseok

"dengan siapa kau kesini?"

"mama" jawab luhan pelan sembari memainkan jemari minseok yang berada dalam genggamannya. Kegiatan sederhana yang terjadi begitu saja dan nampak luar biasa natural seolah-olah mereka biasa melakukannya

"lalu dimana bibi heechul?" Tanya minseok bingung. Biasanya ibu luhan selalu heboh ingin bertemu dengannya jika berkunjung ke planetnya

"sedang mengobrol dengan orang tuamu. Papaku juga ikut kesini" ujar luhan pelan dan mengecup jemari minseok lembut sehingga menghasilkan semburat merah jambu pada wajah minseok

"whoa… lihat itu.. mereka mengacuhkan kita dan sibuk bermesraan" suara menggoda milik suho menyentak mereka kembali pada dunia sekitar mereka dan membuat mereka salah tingkah. Minseok bahkan menarik pelan jemarinya dari genggaman luhan tapi luhan menahan tangan minseok sehingga genggaman itu tak dapat minseok lepaskan

"kalau kau iri bilang saja jones" tukas luhan jahil dan menghasilkan dengus tak suka dari suho

"wah… hebat sekali kau calon kakak ipar. Ku kudeta kau nanti" ancam suho dengan wajah angkuhnya

"aku juga akan mengudetamu agar tak dekat-dekat dengan sahabatku" balas luhan cuek dan mengendikan bahunya pelan

"kau curang!" teriak suho kesal

"kau yang memulai"

Minseok tertawa kecil melihat interaksi luhan dan adiknya itu. Mereka nampak akrab dengan cara mereka sendiri.

"aku suka dengan mu man" dongwoo tertawa pelan dan menghasilkan seringai menyebalkan pada bibir luhan

"aku memang mudah untuk di sukai" jawab luhan angkuh

"sombong sekali bung!" sergah minseok sembari menepuk pelan bahu luhan dan dihadiahi tawa renyah luhan

"kalau begitu aku titip dia padamu" dongwoo menaik turunkan alisnya untuk menggoda minseok yang cemberut di samping luhan.

"aku bukan barang dan aku bisa menjaga diriku sendiri" protes minseok dengan wajah kesal

"terakhir kalinya kau menjaga dirimu sendiri kau tak sadar selama empat hari" luhan melirik minseok melalui sudut matanya dan menghasilkan erangan frustasi dari minseok

"terserah kalian. Aku memang bayi yang harus di jaga. Sekarang kalian puas?!"

"puas sekali" jawab semuanya bersamaan dan membuat minseok membenamkan wajahnya pada bahu luhan sembari menggerutu tak terima

Sepertinya minseok sudah tak canggung lagi berdekatan dengan luhan. Bahkan simungil tanpa ragu bersikap manja pada luhan. Kemajuan yang sangat pesat dan menguntungkan bagi luhan.

.

.

.

Suara geraman dan umpatan membahana di ruangan luas dengan perabot mewah dan mahal yang bagi siapa saja melihatnya agan meneguk ludah ngeri dengan nominal angkanya. Seorang pria paruh baya itu nampak murka dan kesal. Tangannya membanting vas mahal berbahan Kristal dengan kuat pada lantai. Ruangan itu nampak hancur lebur dengan pecahan kaca di mana-mana. Mata pria itu menyorot tajam sebingkai foto keluarga bahagia di depannya.

"kuhancurkan keluargamu itu kim joongwon. Perlahan-lahan dan dengan menyakitkan" geramnya menyeramkan dan melempar foto itu dengan gelas winenya sehingga menghasilkan bercak merah pada dinding dan foto yang sekarang jatuh kelantai lalu pecah.

"kenapa anak itu sulit sekali di dapatkan." Umpatnya lagi dan menggebrak meja kerjanya dengan kesal

"karena kau luar biasa serakah ayah" suara sang anak membuat tubuh sang ayah menegang dan memelototi anaknya dengan murka

"kau sendiri munafik nak. Berlagak menjadi sahabatnya padahal kau mencintainya" bentak sang ayah marah

"setidaknya aku melakukannya dengan perlahan dan tak membuang-buang tenaga sepertimu" ejek sang anak dari kegelapan dan tertawa puas melihat ayahnya emosi

"kau menyedihkan nak. Hanya menatapnya tapi tak dapat memilikinya" hina sang ayah dangan senyum mengejek yang membuat anaknya menggeram tak suka

"setidaknya bukan aku yang mendapat paket mayat menjijikan orang kepercayaanmu dan juga surat ancaman pangeran XOXO planet."

"kau menantangku bocah!" bentak youngmin kalap

"tidak yah. Hanya sedih melihat musuhmu yang bertambah dan sialnya dari pangeran planet terkuat di antariksa. Aku berdo'a untuk kesalamatanmu yah" ujar sang anak dingin dan berlalu dari ruangan sang ayah

"dasar anak kurang ajar!" maki sang ayah yang hanya di anggapnya angin lalu oleh sang pemuda

"kau bodo ayah. Kenapa menggunakan cara kasar kalau cara halus lebih efektif" gumam sang anak dengan senyum mengerikannya

TBC