FALLEN ANGEL : BEGIN
Chapter 7
Sore hadir mewarnai langit biru menjadi kemerahan. Mark menatap gedung pencakar langit di depannya, kemudian beralih melihat kartu nama di tangannya. Dia tidak menyangka, Tuan Lucien nya adalah pemilik gedung ini.
Di lihatnya Minhyuk keluar dari gedung itu dan menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan disini ? ayo."
Minhyuk mengajaknya masuk dan membawanya sampai ke depan ruangan Daehyun.
"Tuan Lucien ada di dalam. Masuklah. Aku masih ada urusan." Minhyuk menepuk bahu Mark sebelum meninggalkannya.
Mark membuka pintu di depannya, seorang laki-laki bersurai gelap dengan setelan jas putih, berdiri membelakanginya menghadap dinding kaca yang menampilkan sebuah rooftop.
"Tuan Lucien."
Daehyun berbalik melihatnya. Mark segera berlutut memberi hormat.
"Lama tak bertemu." kata Daehyun.
Mark bergeming.
"Berdirilah." perintah Daehyun.
"Aku mencari anda kemana-mana." ujar Mark setelah dia berdiri.
Daehyun tersenyum simpul. "setelah 700 tahun tanpa diriku. Apa kau masih setia padaku ?"
"Aku sama sekali tak pernah menghianati anda. Itulah kenapa selama ini aku hanya mencari Tuan. Sekarang ijinkan aku kembali melayani anda."
"Ya. Sekarang tidak hanya aku. Aku sudah memiliki Arion." Daehyun duduk di kursinya.
"Siapa ? Apa dia dari bangsa iblis atau makhluk lainnya ?."
Daehyun tersenyum miring. "Aku akan mengenalkannya nanti. Sekarang, aku memiliki tugas untukmu."
"Ne."
"cari tahu tentang manusia yang memiliki darah hitam pekat." Kata Daehyun.
"anda ingin aku mencari manusia yang seperti itu ?." tanya Mark.
"tidak. Cari informasi tentangnya. Jika kau membutuhkan bantuan katakan pada Minhyuk."
"baik tuan."
Daehyun beranjak dari duduknya menghampiri Mark. Menepuk pundaknya sebelum menghilang dari hadapannya.
Mark segera keluar dari ruangan Daehyun. Baru beberapa langkah, dia berhenti. Menoleh pada Minhyuk yang sedang sibuk di dalam ruangannya. Mark segera menghampiri laki-laki itu.
Minhyuk bersandar pada kursinya melihat Mark yang tengah mengamati ruangannya, lalu duduk di sofa depan meja kerjanya.
"tuan Lucien, menyuruhku untuk mencari informasi tentang manusia yang memiliki darah hitam pekat. Kenapa tuan Lucien mencari tahu tentangnya ?" Kata Mark.
"kenapa ? kau tahu tentang itu ?." sahut Minhyuk.
"tidak." Mark menggeleng. "tapi aku tahu, siapa yang mungkin mengetahuinya."
"aku sering datang ke daerah pinggiran Gangnam. Disana ada sebuah club malam yang di dominasi oleh makhluk-makhluk seperti kita." Lanjut Mark.
"lalu, apa hubungannya dengan manusia yang memiliki darah hitam pekat ?."
"di club itu ada bartender yang bernama Ravi, dia adalah vampir. Harusnya dia memiliki banyak informasi. Pasti dia banyak mendengar sesuatu dari makhluk-makhluk pengunjung club itu."
"jadi, kau akan bertanya padanya ?."
"aku lumayan dekat dengannya. Bagaimana jika kau ikut denganku ? sepertinya aku akan membutuhkan bantuanmu disana." tawar Mark.
"kita bisa kesana malam ini." setuju Minhyuk.
. .
. .
Sore ini Daehyun tidak menjemputnya. Entah dia terlambat atau memang tidak bisa menjemputnya karena kesibukannya di kantor. Youngjae memutuskan untuk pulang sendiri ke rumahnya naik bus.
Seperti biasa, rumahnya sepi tak ada siapa pun.
Youngjae terkejut begitu dia membuka pintu kamarnya. Daehyun berada disana, di depan meja belajarnya.
"Kenapa kau disini ?." Youngjae melempar tasnya ke tempat tidur kemudian menghampiri Daehyun.
"Aku datang ke sekolahmu tapi kau sudah tidak ada, jadi aku langsung kesini."
"Aku pikir, kau tidak bisa menjemputku karena sibuk."
Youngjae tersentak, Daehyun tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan mendudukannya di meja. Menatapnya lekat.
"Bagaimana aku harus memanggilmu dan Minhyuk sekarang ? Lucien dan Vincent ?." tanya Youngjae.
"Sesukamu. tapi saat di depan banyak orang, tetap panggil Daehyun dan Minhyuk."
Mata tajamnya menangkap sebuah plester melingkar di jari telunjuk Youngjae. Daehyun meraihnya tangannya.
"Aku hanya tidak berhati-hati saat meraut pensil." Youngjae berkata sebelum Daehyun sempat bertanya.
Daehyun membuka plesternya, terdapat sebuah luka sayatan kecil dan darah hitam yang sudah mengering.
"Kenapa darahku hitam ?." tanya Youngjae.
"Bukankah kau sudah menyerahkan dirimu sepenuhnya padaku." Sejujurnya Daehyun juga masih belum tahu.
Dia memasukan jari Youngjae ke dalam mulutnya, memainkannya dengan lidahnya. Youngjae mendesis, tubuhnya seperti tersengat listrik kecil.
Daehyun melepaskan jarinya, lukanya sudah tidak ada. Laki-laki itu berganti mencium bibirnya. Youngjae memejamkan mata dan mengalungkan tangannya pada leher Daehyun . Menjilat, melumat bibir atas dan bawahnya sebelum melesakan lidahnya ke dalam mulut lelaki manis itu.
Satu tangannya mendorong pinggang Youngjae agar lebih merapat padanya sementara tangan satunya mendorong tengkuk Youngjae untuk memperdalam ciumannya.
Daehyun mendorongnya keras agar berbaring.
Youngjae mencengkram kuat kerah kemeja Daehyun, mengira dia akan membentur meja. Tapi, sesuatu yang lembut dan empuk dia rasakan. Dia membuka matanya sejenak, mereka sudah berada di kamar Daehyun.
. .
. .
"Ahh...Ah Ah Daehh..."
Youngjae merintih, berkali kali dia mendesahkan nama Daehyun kuat saat laki-laki yang berada di atasnya itu semakin melesakan penisnya ke dalam tubuhnya. Menyentuh sweetspotnya berkali-kali. Kedua tangannya hanya bisa meremas surai Daehyun, untuk melampiaskan rasa nikmat yang di dapatnya.
"Nghhh...Ah Ahh Daehh... Lebihhh..."
Daehyun menghentaknya keras. Youngjae mendesah nikmat.
"Shh... Aahh~"
"Ahh...Aahhh~"
desahan panjang mereka yang saling bersahutan membawa keduanya pada puncak kenikmatan.
lelaki manis itu mengatur nafasnya, merasakan cairan Daehyun memenuhinya, sementara laki-laki yang berada di atasnya itu masih bergerak pelan berusaha mengosongkan tubuhnya.
. .
di tengah gelapnya sebuah gang yang berada di daerah pinggiran Gangnam, satu bangunan terlihat mencolok karena lampu warna-warni yang menyala di depan bangunan itu. Banyak yang keluar masuk dari sana.
Minhyuk dan Mark duduk di dalam mobil audi hitam yang biasa Minhyuk kendarai. Terparkir tak jauh dari club malam itu.
"tunggu apa ?. cepat sana." Kata Minhyuk.
"selama ini, Ravi mengetahui jika aku seorang manusia. Akan terasa aneh jika aku tiba-tiba menanyakan itu padanya."
Minhyuk memutar bola matanya malas. "lalu, kau menyuruhku melakukannya ?."
"tidak. Kita akan menggunakan salah satu pengunjung club." Ucap Mark.
"itu, dia sudah datang." Mark berkata saat melihat sebuah mobil berhenti di depan club. "kau tunggu aku di gang sempit belakang sana."
Mereka berdua bergegas turun dari mobil. Mark menuju arah club sementara Minhyuk menuju gang sempit yang sangat gelap tak jauh dari mobilnya. Tanpa vampir itu menjelaskan, Minhyuk bisa membaca rencananya.
"hai, bro." Mark merangkul sok akrab pada laki-laki bergaya hip hop yang baru saja akan masuk club.
"siapa kau." Laki-laki itu melepaskan rangkulan Mark secara paksa.
Vampir itu hanya tetawa, dan kembali merangkulnya. "aku ada sesuatu untukmu." Dia berbisik. Lalu bersiul sambil menaik turunkan alisnya. Mark tahu, makhluk ini datang kemari hanya untuk mencari wanita penghibur.
"apa barangnya bagus ?."
"dia baru saja masuk universitas."
Laki-laki itu terlihat berpikir.
"dia tak memasang harga mahal, kau tidak akan menyesal." Mark berkata sambil menarik laki-laki itu untuk berjalan. Membawanya pada sebuah gang sempit.
"kenapa kau malah membawaku kemari ? dimana wanita yang kau maksud ?" laki-laki itu terheran.
Mark tertawa keras. "tidak ada. Aku kesini karena memiliki tugas untukmu."
"apa !? dasar manusia brengsek !" laki-laki itu melayangkan satu pukulan padanya. tapi, Mark bisa menghindar dan mendorong laki-laki itu hingga terjatuh.
Minhyuk yang bersandar pada dinding hanya memperhatikan mereka berdua. Dia menggaruk keningnya dengan ujung short gun miliknya.
Laki-laki itu bangun, dia mendesis marah. Sudah tak bisa menahan emosinya lagi. "kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa."
"memangnya kau siapa." Jawab Mark enteng.
Terdengar laki-laki di depannya itu seperti mengerang, lalu tubuhnya berubah menjadi makhluk tinggi, besar, dan berbulu seperti seekor serigala.
Rencana mereka adalah, saat laki-laki itu merubah dirinya menjadi werewolf, lalu-
DORR
Minhyuk melepaskan satu pelurunya menembus kulit werewolf, sesaat sebelum makhluk itu menyerang Mark.
Werewolf itu menoleh ke belakang, hendak berlari untuk menyerang Minhyuk. Tapi, tubuh tinggi besarnya terjatuh terlebih dahulu. Dia seperti tak memiliki tenaga, bahkan untuk menyangga tubuhnya.
"kau tidak akan bisa merubah dirimu menjadi manusia lagi." Kata Mark.
Mendengar itu, sang manusia serigala berusaha untuk mengubah dirinya menjadi manusia lagi tapi, sesuatu seperti mengunci rapat kekuatannya.
"aku akan melepaskan segelnya." Sahut Minhyuk yang masih tetap di tempatnya.
"jika kau mau membantu kami." Lanjut Mark.
Tak ada pilihan, werewolf itu mengangguk. Dia tak ingin hidup selamanya dengan wujud ini.
. . .
Laki-laki bergaya hiphop itu berjalan menembus lautan manusia yang membaur menjadi satu dengan berbagai makhluk sebangsa dirinya. yang sedang hikmat menggoyangkan tubuh mereka, diiringi dengan dentuman lagu yang berputar keras.
Dia duduk di depan bar. "Ravi." Panggilnya pada salah satu bartender yang sedang sibuk meracik minuman.
Ravi meletakan botol dan gelas yang di pegangnya lalu menghampiri lelaki serigala itu.
"apa yang kau butuhkan malam ini ?." tanya Ravi.
"informasi tentang manusia yang memiliki darah hitam pekat." Jawabnya.
Ravi menaikan sebelah alisnya. "untuk apa werewolf mencari Dark Blood ?."
Laki-laki itu mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan menaruhnya di atas meja.
Ravi mengambilnya dan menghitung jumlahnya. "ikut aku."
. . .
Mark berdiri di samping mobil, sementara Minhyuk berada di dalam. Menunggu manusia serigala tadi.
Tak lama, makhluk yang mereka tunggu datang. Dia berbisik pada Mark. Lalu, Mark menggeser tubuhnya dan Minhyuk menurunkan kaca jendelanya. Werewolf itu mengulurkan tangannya, Minhyuk menyentuh telapaknya. Sebuah asap hitam yang lebih terlihat seperti fatamorgana muncul dari gesekan tangannya. Minhyuk melepas keseluruhan segel yang membelenggu kekuatan manusia serigala itu.
Sang werewolf segera meninggalkan mereka berdua, Mark segera masuk ke dalam mobil dan Minhyuk melajukannya meninggalkan tempat itu.
"apa yang dia katakan ?." tanya Minhyuk.
"ah, manusia yang seperti itu disebut Dark Blood. Manusia yang memiliki jiwa penguasa kegelapan. Dia mitos dalam bangsa vampir." Jelas Mark
"hanya itu ?."
Mark mengangguk.
Minhyuk mendesah kasar. "kau sudah membuang peluruku sia-sia. Apa dia tidak mengatakan yang lain. Tentang bahaya atau semacamnya ?."
Vampir itu menjatuhkan rahangnya dan menepuk keningnya. "ah, sial. Kenapa juga aku tidak menanyakan sesuatu yang lain padanya." Mark mendesis. "brengsek, serigala itu- awas saja jika ada yang dia sembunyikan dari informasi itu. Aku akan mencabik-cabiknya."
Lalu, Mark terlihat berpikir sejenak. " tapi, jika Dark Blood, sepertinya aku ingat ayahku pernah menceritakan itu padaku."
"bagaimana ?." Minhyuk meliriknya.
"para pemimpin clan vampir terhalu, pernah mencoba mencari Dark Blood. Kau tahu, beberapa dari kita sangat suka bermain dengan manusia. Dan, itu termasuk ayah tuan Lucien."
Mark menjeda kalimatnya, mencoba mengingatnya lebih jauh. "mereka berpikir ayah tuan Lucien akan menjadikan manusia sebagai Arion tapi, ternyata Arion nya juga Fallen Angel. Aku pikir, itulah yang menjadikan Dark Blood hanya sebuah mitos."
"lagi pula, dimana ada manusia yang dengan rela membuat perjanjian dengan penguasa kegelapan tanpa mengharapkan apapun." Mark melanjutkan kalimat panjangnya.
"jadi, darah hitamnya adalah bukti ketulusannya ?." simpul Minhyuk. "tapi, kenapa para clan vampir mencarinya ?."
Mark mengendikan bahunya. "mungkin mereka akan mendapatkan sesuatu jika menggunakan darahnya."
Minhyuk mengerut. "kenapa kau berpikir seperti itu ?."
"sekarang coba saja pikirkan dengan logika makhluk seperti kita. Dia adalah manusia yang memiliki jiwa penguasa kegelapan. Kira-kira, kekuatan seperti apa yang akan kita dapatkan jika menggunakan darahnya."
"jika Dark Blood memang ada, apa kau tertarik dengannya ?." Minhyuk ingin memastikan.
"tidak. Jika dia ada, pasti dia Arion tuan Lucien." Jawab Mark.
Minhyuk terkekeh. "apa kau ingin segera bertemu dengan Arion tuan Lucien ?"
"lebih cepat lebih baik. Aku juga harus segera membuat perjanjian dengannya. Makhluk seperti apa, Arion tuan Lucien ?."
Minhyuk tak menjawabnya, dia hanya tersenyum simpul.
. . .
. . .
Anak rajin tetaplah anak rajin. Setelah menyelesaikan kegiatan panasnya dengan Daehyun, lelaki manis itu berganti bercumbu dengan buku pelajarannya.
Duduk di bawah, beralaskan karpet bulu halus. Dia meregangkan otot-ototnya setelah menyelesaikan tugas sekolahnya. Menoleh pada Daehyun yang duduk di atas sofa hitam di depannya, tengah menikmati wine dan menatapnya sedari tadi.
"Kenapa dari tadi terus menatapku ?."
"Disini tidak ada pemandangan menarik selain dirimu." Daehyun menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya. Youngjae beranjak dan duduk di sampingnya.
"Tinggal lah disini bersamaku." kata Daehyun yang lebih terdengar seperti sebuah perintah.
"Aku masih punya rumah."
"Bukankah kau tidak suka rumahmu."
"tapi tetap saja-"
"Kau tidak bisa membantahku." Daehyun menyelanya cepat.
"Kenapa ? Jika aku tetap tidak mau apa kau akan mengubahku menjadi debu ?." Tentu Youngjae sudah mengetahui tentang kekuatan Daehyun yang sangat berbahaya itu. Bahkan, dia sudah pernah melihatnya sendiri.
Daehyun meletakan gelas wine yang di pegangnya ke atas meja lalu menatap Youngjae lekat.
"Aku akan melebur setiap inchi tubuhmu di ranjangku, dengan kenikmatan yang aku berikan." Suara Daehyun pelan.
Youngjae dapat merasakan tatapan Daehyun yang semakin menggelap.
"Ja-jangan katakan kau menginginkannya. Kita baru saja selesai melakukannya." Youngjae segera beranjak lalu merapikan buku-bukunya. Hendak masuk ke dalam kamar sebelum-
CKLEK
Pintu ruangan pribadi Daehyun terbuka. Youngjae menoleh melihat siapa yang masuk. Minhyuk dan-
"Mark ?." ujarnya ragu begitu melihat laki-laki yang masuk setelah Minhyuk.
"Yoo- Youngjae ?." laki-laki di sebelah Minhyuk itu juga ikut ragu.
"Ternyata kalian sudah saling mengenal ?." sahut Daehyun.
"Dia adalah siswa populer di sekolah. Siapa yang tidak mengenal Mark." jawab Youngjae. "Tapi bagaimana bisa kau tahu namaku ?."
"Siapa yang tak mengenal Yoo Youngjae, siswa berprestasi di sekolah." cuit Mark.
Daehyun berdiri mensejajarkan posisinya dengan Youngjae.
"dia Arion yang aku katakan tadi siang." Daehyun menyela mereka berdua.
"Ye ?."
Mark memperhatikan Youngjae dari atas sampai bawah. Dari sekian banyak makhluk, kenapa Daehyun memilih manusia biasa sepertinya.
"Kenapa kau memperhatikanku seperti itu ?." kata Youngjae yang merasa risih karena Mark memperhatikannya intens.
Laki-laki berambut kemerahan itu tersadar dari pikirannya. Dia segera berlutut di depan Youngjae.
Lelaki manis itu berjinggat, merapatkan dirinya pada Daehyun mengapit lengan CEO Jung itu.
"A-apa yang kau lakukan."
"Aku tidak bermaksud membuat anda merasa tidak nyaman. Maafkan aku." Kata Mark
Youngjae menjatuhkan rahangnya, dia menoleh pada Daehyun cepat meminta penjelasan.
Laki-laki yang di mintai penjelasan hanya mengendikan bahunya serta menatapnya dengan pandangan 'terserah kau saja'.
"Seperti aku, Mark adalah pelayan setia tuan Lucien." Jelas Minhyuk.
Youngjae mengangguk paham.
"be-berdiri." kata Youngjae.
Mark melakukan apa yang di katakan Youngjae.
"Jika begitu jangan berbicara formal padaku. Aku rasa kita adalah teman." Lanjut Youngjae.
"aku tidak bisa."
"kenapa ?."
"anda adalah Arion." Jawab Mark.
"Minhyuk juga melakukannya."
Mark menoleh pada Minhyuk sekilas. "Tapi tetap saja aku tidak bisa."
Youngjae menepuk lengan Daehyun, memintanya membuka suara. Dia benar-benar merasa tak nyaman dengan sikap Mark.
"ini perintah." ujar Daehyun.
"Ne."
"Aku tidak percaya, siswa populer di sekolah ternyata iblis." Youngjae mencibir dengan nada bercanda.
"Aku bukan iblis." balas Mark.
"lalu ?."
"Vampir." jawab Mark singkat.
"V-vampir ?."
"Mark adalah vampir clan Xinnera." sahut Daehyun.
"Tuan, apa kita akan melakukannya sekarang ?." tanya Minhyuk.
"Lakukan."
Mereka bertiga menatap Youngjae.
"Apa ?."
"Mark juga membutuhkan darahmu." kata Daehyun.
"Apa ada orang lain lagi yang membutuhkan darahku ?."
"Kau akan memberikannya atau tidak ?."
"Buatlah agar tidak terasa sakit." Youngjae mengulurkan tangannya.
. . .
Beberapa saat lalu, Minhyuk dan Mark baru saja keluar dari ruangan pribadi Daehyun, membawa serta darah lelaki manis itu. Malam semakin larut, Youngjae segera bersiap untuk tidur.
Daehyun ikut naik ke tempat tidur, menarik Youngjae agar lebih dekat dengannya. Menjadikan lengannya bantal untuk lelaki manis itu dan mendekapnya.
"Ini terasa nyaman." ucap Youngjae.
Daehyun tersenyum. "Kita bisa melakukan ini setiap malam."
Youngjae menenggelamkan wajahnya pada dada Daehyun, lebih menyamankan dirinya. Jika berbicara tentang nyaman, dia mengingat sesuatu.
"jika kau sedang tidak sibuk, aku ingin ke tempat rumah kincir dan bunga tulip saat itu." Pinta Youngjae.
"kau harus memiliki paspor jika ingin kesana."
Youngjae mengerutkan keningnya. "untuk apa paspor, kita hanya keluar kota."
"tempat itu memang di luar Seoul. Tepatnya di Amsterdam."
Mata Youngjae membulat. "sungguh ?." ucapnya tak percaya. Daehyun hanya bergumam sebagai jawaban 'iya'.
Lelaki manis itu mencubit keras pinggang Daehyun.
Daehyun mengaduh kesakitan.
"harusnya kau bilang, jika itu memang benar-benar Belanda, mungkin aku akan memetik satu bunga tulip untuk kenang-kenangan." Protes Youngjae.
"jika saat itu aku mengatakannya, bukannya merasa nyaman kau akan menjadi ketakutan."
Youngjae terdiam. Ada benarnya juga apa yang di katakan Daehyun. Saat itu, yang dia tahu, Daehyun hanya manusia biasa seperti dirinya.
"tapi ngomong-ngomong, apa Mark benar-benar sepopuler itu ?." tanya Daehyun. Dia merasa tak rela Youngjae mengenal laki-laki lain tanpa sepengetahuannya.
"Seluruh siswa memujanya." jawab Youngjae.
"Termasuk dirimu."
"Dia bukan tipeku."
"Lalu seperti apa tipe mu ?."
"Kau pasti tahu."
"Aku memang sudah tahu tapi aku ingin mendengarnya langsung darimu."
Youngjae mengangkat kepalanya untuk melihat Daehyun yang kali ini sedang menatapnya.
"Semua yang ada pada dirimu." ucap lelaki manis itu.
Daehyun tersenyum simpul. "Jalja."
Youngjae kembali menyamankan dirinya pada dada Daehyun, lalu memejamkan matanya.
"Jalja." gumamnya pelan.
. . .
Mark menatap kosong gemerlap lampu kota dari balik dinding kaca penthouse Daehyun. Satu tangannya ia masukan ke dalam saku, sementara satu tangannya lagi memegang sebuah gelas kosong. Gelas bekas darah Youngjae, pada akhirnya Dark Blood memang ada. Dan dia termasuk salah satu yang akan bertanggung jawab atas keselamatannya. firasatnya buruk, entah bahaya apa yang akan menghampiri lelaki manis itu.
"ya! Kau bisa menggunakan salah satu kamar, jika ingin tinggal disini." Minhyuk datang mengintrupsinya.
"jangan pernah membiarkan Youngjae meneteskan darahnya. Bagi makhluk penghisap darah sepertiku, aroma darahnya begitu menggiurkan." Kata Mark. Dia tak pernah merasakan dan mencium aroma darah seperti milik Youngjae. rasanya benar-benar menakjubkan.
Minhyuk bersandar pada dinding kaca, lalu melihat Mark. "kau mendapatkan darahnya untuk sebuah perjanjian." Dia berkata serius.
"aku tahu, aku sudah melakukannya."
"jangan pernah berpikir, menjadikan Youngjae mangsamu."
Mark menatap Minhyuk dan tertawa pelan. "kau pikir aku sudah gila ? aku menggunakan hidupku sebagai jaminan untuk membuat perjanjian dengan tuan Lucien."
Minhyuk menegakan tubuhnya, melihat Daehyun datang menghampiri mereka. Mark menoleh, mereka berdua membungkuk hormat pada Daehyun.
"apa yang kalian dapatkan ?." tanya Daehyun.
"mereka menyebutnya Dark Blood. Manusia yang memiliki jiwa penguasa kegelapan." Jawab Mark.
"darahnya yang bewarna hitam adalah bukti ketulusannya pada anda." Sahut Minhyuk. "tapi, Mark mengatakan aroma darahnya begitu menggiurkan."
Daehyun menatap Mark dengan mata tajamnya.
"ta-tapi, aku tidak akan pernah menyentuhnya. Aku sudah berjanji untuk melindunginya." Jelas Mark panik. "lebih baik jika tidak membiarkan Youngjae meneteskan darahnya. Aku rasa itu akan mengundang bahaya." Lanjut Mark.
Daehyun melihat Minhyuk dan Mark bergantian. "tugas utama kalian saat ini melindungi Youngjae dari bahaya apapun. Termasuk jika bahaya itu datang dari diriku." Daehyun takut, jika suatu hari nanti dia akan lepas kendali. Dan, saat itu terjadi dia tak bisa mengenal lawan dan kawan.
"Ne." Minhyuk dan Mark menjawabnya bersamaan.
Setelah medengar kesanggupan mereka berdua, dia pergi dari sana. Kembali kamarnya, menemani Youngjae tidur.
"apa tuan Lucien pernah lepas kendali sebelumnya ?." tanya Mark. Pasalnya, selama bersama Daehyun dia belum pernah melihat bagaimana saat tuannya itu lepas kendali. Hingga Minhyuk memberikan kekuatannya untuk sebuah perisai.
Minhyuk menatap lurus ke depan. "pernah, saat ibunya meninggal. Tuan Lucien hampir mengubah seluruh negeri iblis menjadi debu."
Mark yang belum lama bersama Daehyun tak pernah tahu, seberapa besar kekuatan yang di miliki tuannya itu. berbeda dengan Minhyuk, dia sudah bersama Daehyun, sejak mereka masih kecil.
.
.
.
TBC
Halo~ namaku Ai :)) please don't call me thor, author, authornim. Mending panggil beb aja karena kita sama-sama BABY :D atau panggil nama aja. Let's be friend /yj: emang mereka mau temenan sama lu/*plak/ gaplok youngjae pake bibir daehyun/
Btw makasih sudah RnR, favorite & follow :*
