Disclaimer: satu-satunya orang yg bkin Naru-chan menderita gara2 Sasu-teme ga balik2 ke Konoha. Tersangka Masashi Kishimoto—anda di tahan! *geplak'd*

Warning: Umm, ucapan yang warna-warni seperti pelangi.

A/N; Uhm, Nami bikin apdetannya lama ya? Gomen-gomen… Nami bkin ni juga biar ga di'apa2in' ma certain-someone… *whimper* Khusus buat Lavender Hime-chan, jangan lupa review *glare*

'thinking'

"dialogue"


Satu hari yang cerah di bulan Februari. Angin dari musim dingin masih bertiup meski musim semi akan tiba. Salju sudah tidak terlalu sering turun. Dan sebagian sudah mulai mencair. Meski begitu, tidak dengan hati seorang Uchiha Sasuke.

Kenapa? Di hari dia mengucapkan rasa 'suka'nya kepada sang pujaan hati, adalah hari di mana seekor 'Iblis' memasuki episode hidupnya. Menurutnya, sudah cukup gangguan dari anggota satu tim Naruto. Tapi, tidak-tidak-tidak. Kami-sama sudah lelah dengan sifat Sasuke dan memutuskan untuk bermain dengan Takdir-nya.

Sasuke senang bahwa mantan Hokage mereka, yang tidak lain dan tidak bukan ayah Naruto, pulang bersama dengan Kushina. Dia senang bahwa orang tua Rubah itu kembali ke Konoha dengan selamat. Tapi, yang tidak ia pikirkan adalah kenapa harus 'benda seperti itu' yang juga mereka bawa pulang?

Mari kita lihat ke kediaman Namikaze. Naruto membuka matanya perlahan. Dia melihat ke atas, kearah langit-langit. Alisnya berkerut, sebelum dia melihat ke sekliling. 'Ah, iya. Kaa-san dan Tou-san sudah pulang', pikirnya. Dia kembali ke rumahnya setelah hari itu.

Dia berusaha untuk duduk dan meninggalkan kamar, sebelum menyadari ada 'sesuatu' yang mencegahnya bergerak. 'Sesuatu' itu mendekap pinggangnya dan bernafas? Naruto menoleh dan melihat apa yang—

"GYAAA!"

"Uhh?"

"APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI, KYUUBI?"

Satu lagi pagi yang cerah dengan 'bumbu-bumbu'nya yang mempermanis hari-hari Konoha. Dan Kyuubi dengan entengnya mengangkat bahu dan beranjak bangun dari tempat tidurnya.

Di atas kasur itu, terlihat sepupunya dari keluarga sang ayah, Minato. Tentunya sudah bisa di tebak dia adalah seorang 'Rubah'. Rambut Kyuubi berwarna merah menyala dan di biarkan panjang hingga mencapai punggungnya dan biasanya ia ikat ekor kuda agak tinggi dengan sedikit helaiannya ia biarkan tergerai di kedua sisi wajahnya. Warna mata? Warnanya mata Kyuubi adalah merah maroon. Meski terkadang terlihat menyeramkan, sepupu Naruto ini tidak ada bedanya dengan Namikaze yang lainnya… Berisik.

Entah bagaimana, Kyuubi bisa ikut dengan Minato dan Kushina sampai ke Konoha. Setelah kejadian di tempat latihan bersama Sasuke. Naruto bertemu dengan Kyuubi dan langsung berlari dari sergapan sepupunya itu. Sebenarnya dia tidak takut dengan submissive yang lebih tua dua tahun darinya itu. Tapi, terkadang brother-complex yang di miliki Kyuubi itu sangat mengganggu.

Naruto mendapati orang tuanya duduk bersama dengan Mikoto dan Fugaku di sebuah ruangan di Mansion Uchiha. Dan setelah mendiskusikan beberapa hal para Namikaze, termasuk Kyuubi, kembali ke rumah kediaman Namikaze. Naruto masih sempat melihat Sasuke yang berdiri di depan pintu rumahnya bersama dengan Mikoto dan Fugaku. Wajahnya tertutup dengan helai rambut gelapnya. Telinga Serigala miliknya juga agak mendatar.

Sebenarnya dia masih khawatir dengan Sasuke. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana kepada sahabat masa kecilnya itu. Dia menyukai Sasuke, iya benar. Tapi, Naruto tidak tahu rasa suka yang bagaimana—

"Naru-chan, Kyuu-chan, sarapan sudah siap!"

"Hai, Oba-san!" (bibi)

Naruto menoleh ke arah hybrid berkepala merah yang sedang beranjak dari tempat tidurnya. Naruto memberinya tatapan menyebalkan ke arahnya, "aku tanya, kenapa kau tidur di sini?"

"Aww, kau tahu? Wajahmu benar-benar imut saat marah!", ujar Kyuubi.

"Kyuubi!"

Pagi adalah hal yang menyenangkan bagi semua makhluk hidup. Kecuali untuk tim Naruto hari ini. Seperti biasa hybrid muda di bawah pengawasan Kakashi sedang di jembatan tempat mereka biasa menunggu.

Hari ini Akito tetap diam seperti biasa. Rambut hitam miliknya yang menggantung diikat kuda di atas, dan di biarkan sedikit terurai di bagian depan wajahnya. Membuat wajahnya seperti di-figura. Kedua matanya sangat unik. Masing-masing memiliki warna berbeda. Sementara pupil kanan berwarna kuning, pupil sebelah kirinya berwarna biru pucat.

Telinga kucingnya menangkap derap langkah yang ringan—'hh—pasti Naruto'.

"Ohayou, Aki-chan!"

*Twitch*

"Sudah kubilang, Jangan. Panggil. Aku. Dengan. 'ITU'!"

"Padahal, anak perempuan 'kan seharusnya di beri nama panggilan '-chan'?", ujar Naruto.

"Kecuali aku…"

Mata safirnya tertutup, sementara bibirnya tertekuk. Memperlihatkan wajah komikal yang membuatnya semakin mirip dengan Rubah. Oh, jangan lupa. Naruto juga meletakkan ibu jari dan telunjuknya di bawah dagu. Hm,dia sedang berpikir, betapa anehnya teman perempuannya yang satu ini. Tak berapa lama, teman satu tim mereka juga datang.

"Ohayou—"

"Ohayou! Shiro-kun!" ,balas Naruto.

"Naruto, aku bukan peliharaanmu. Lagipula namaku Setsuna, bukan Shiro."

"Tapi kepalamu itu 'putih'. Daripada kupanggil 'kakek' lebih baik 'Shiro', ya kan?"

"Terserah padamu sajalah", balas si cowok teman satu tim-nya.

Tim yang memang sedari awal sudah tidak jelas, bertambah tidak karuan saat seseorang yang dengan bangga menyebut dirinya sebagai Sensei datang terlambat tepat tiga jam kemudian, "Selamat pagi, semuanya."

Kakashi menyunggingkan wajah senyum di balik topengnya. Membuatnya menerima sebuah, "BAKA SENSEI! Bagaimana KAU bisa telat! Bahkan Maito-Sensei Lee tidak pernah telat!", dari Naruto.

"Nee—aku tadi sedang—"

"Membantu nenek menyeberang jalan…? Menolong kucing kecil yang sedang terjebak di atas pohon…?", potong Setsuna.

Kakashi tetap membuat wajah tersenyum saat dia menjawab, " bukan, aku tadi sedang tersesat di jalan kehidupan."

Akito memutarkan matanya terkadang dia berpikir betapa kejam takdir padanya. Sudah cukup dia bersama si rambut putih bodoh itu dan si blondie. Tapi ternyata dia harus melewati masa-masa genin yang sudah menyedihkan ini bersama dengan seorang guru yang bahkan dia tidak yakin apa yang bersangkutan benar-benar seorang Sensei. Maksudnya, tidakkah kalian lihat? Untuk bertemu dengan muridnya saja dia selalu terlambat. Eja bagian itu, ter-lam-bat.

Akito membawa tangannya ke arah wajahnya, "yeah, whatever Sensei. Kita ada misi atau tidak hari ini? To the point."

"Sebenarnya untuk hari ini kita tidak ada misi", ujarnya dengan senyuman yang masih tergambar jelas di wajahnya.

Seketika itu juga bisa terdengar nada tinggi yang keluar dari mulut seorang Rubah berperawakan periang dalam radius beberapa ratus meter jauhnya. Akito hanya memandang dengan tatapan risih ke arah teman laki-laki satu tim-nya itu. Entah bagaimana dia meragukan kalau si pirang itu benar-benar laki-laki, maksud Akito, dengarkah kalian suara yang barusan di keluarkannya? Cempreng…

Naruto masih mengomel kepada Kakashi tentang bagaimana Sensei mereka yang tidak pernah tepat waktu, di tambah jarangnya misi yang mereka dapatkan, atau bagaimana Naruto tidak di ajari jurus-jurus keren. Sementara Setsuna yang pada dasarnya tidak terlalu 'riang' hanya mengomel dengan wajar pada Sensei-nya.

Baiklah, sementara kita tinggalkan tim Kakashi pergi ke arah tujuan masing-masing karena tak ada misi, kita menengok apa yang di kerjakan sepupu tercinta Naruto.

Kyuubi berjalan menyusuri jalanan Konoha yang mulai tampak ramai karena meningginya Matahari. Para hybrid keluar dari rumah-rumah mereka. Mereka memulai aktifitasnya mulai dari bekerja, berbelanja dan yang lainnya. Secara kasat mata, Konoha terlihat seperti 'kota' tempat kalian tinggal. Tentunya minus peralatan modern seperti mobil atau sepeda motor.

Konoha adalah salah satu dari lima 'desa' terbesar di dunia ninja. Seperti yang sudah bisa kau tebak, di dunia ninja ini banyak sekali macam ninja maupun tingkatannya. Mulai dari Genin, Chuunin, dan Jounin. Tingkat dia atas Jounin adalah special, yang di sebut ANBU. ANBU bekerja di bawah pengawasan Hokage secara langsung. Biasanya mereka hanya melaksanakan tugas yang 'super' sulit. Untuk menjadi seorang ANBU tentunya tidak mudah. Karena seleksi menjadi ANBU sangat ketat.

Mari kita kembali ke Rubah berkepala merah kita. Oh ya, apa author sudah bilang kalau Kyuubi itu seorang submissive? Belum? Ya, aku sudah mengatakannya sekarang 'kan?

Rubah adalah hybrid yang cukup unik di bandingkan hybrid jenis lainnya. Biasanya hybrid akan memiliki warna-warna netral yang tidak mencolok. Seperti biru, hijau gelap, coklat, putih, atau hitam. Tapi, Rubah tidak begitu. Justru mereka memiliki 'warna' yang mencolok. Bukti? Misalnya kebanyakan dari mereka memiliki warna kulit yang mirip dengan madu. Jarang dari mereka memiliki warna kulit pucat. Dan rambut atau bulu telinga dan ekor mereka yang juga kebanyakan berkisar antara warna merah bata, oranye cerah atau kuning. Jarang dari mereka memiliki 'warna' gelap.

Jika kalian bertanya kenapa, well, apa kalian tidak bisa melihat betapa kebanyakan Rubah itu 'indah' atau bahkan 'imut'? Sepertinya Rubah ada untuk memperindah dunia…

Kembali ke masalah awal. Kyuubi sebenarnya berniat untuk diam saja di rumah tapi begitu melihat langit sedang cerah dia memutuskan untuk pergi melihat-lihat Konoha. Sudah lama rasanya dia tidak pergi ke desa tempat tinggal sepupunya. Tentu saja dia menyayangi Naruto. Hanya saja, terkadang dia terlalu protektif kalau sudah berhubungan dengan anak berambut pirang itu.

Kyuubi melihat ke sekelilingnya. Kyuubi sudah terlalu lama tinggal di 'persembunyian'. Mengingat keluarganya dan keluarga Minato-ji-san adalah keluarga utama dari klan Namikaze. Klan Namikaze adalah salah satu klan Rubah dari beberapa klan Rubah lainnya yang cukup terkenal. Selain karena kekuatan para dominant Namikaze yang mengagumkan tapi juga submissive mereka yang sangat berharga karena ke'indah'annya. Sayangnya, Namikaze tidak hanya terkenal di dunia hybrid. Mereka juga cukup di kenal di dunia manusia. Memang hanya segelintir manusia yang bisa menembus Sang Tirai, tapi hal itu menjadi masalah saat ini. Beberapa dari klan Namikaze sudah menjadi korban. Ibu dan adik perempuan Kyuubi misalnya. Setelah penyerangan sepuluh tahun lalu, Minato pergi dari klan dengan membawa Naruto kecil dan Kushina ke Konoha. Kini, saat ayah Kyuubi memimpin klan, dia di suruh pergi dan hidup bersama dengan Minato. Agar dia juga tidak perlu hidup dalam ketakutan dan kewaspadaan. Jujur Kyuubi ingin semua klan-nya tinggal di Konoha. Hanya saja ayahnya tidak mengijinkan itu. Dia bilang itu hanya akan membawa bahaya datang ke Konoha. 'Cukup satu dua klan saja, tak perlu mengorbankan satu desa penuh dengan hybrid', ujar ayahnya. Tapi—

BUK

"Oww"

"Ah, maaf."

Kyuubi menengadah saat mendengar suara rendah yang mencapai telinga Rubah miliknya. Saat dia melihat ke atas, dia melihat—err Serigala? Dia punya warna kulit yang mungkin akan membuat wanita iri untuk memilikinya. Lelaki di hadapannya memiliki aura seseorang yang bijaksana. Dari hidung tajamnya Kyuubi bisa menebak orang ini adalah seorang dominant. Mungkin suatu hari nanti, pria ini akan menjadi seorang pemimpin klan yang di segani karena penampilan dan –mungkin-kekuatan yang dia miliki.

Kyuubi tetap terduduk di jalan sampai dia menyadari tangan yang jenjang milik pria di hadapannya terjulur, "ah ya, maaf. Terima kasih."

"Tidak masalah. Aku tidak pernah melihatmu. Kau baru di Konoha?", tanyanya.

"Ya."

"Hm, Rubah? Apa kau ada hubungan dengan Hokage ke-empat?"

"Begitulah."

Kedua hybrid yang bertemu karena ketidak sengajaan malah terbawa suasana yang nyaman dengan angin semilir menemani keduanya. Hanya saja sang Rubah terlalu terbawa pembicaraan sehingga tidak menyadari kemana saja mereka berjalan dan menghabiskan waktu berdua. Ya, berdua.

Sementara Kyuubi menghilang, Naruto menghela nafas lega saat mengetahui sepupu 'gila'nya tidak di rumah. Dia tahu, mulai saat ini Kyuubi akan tinggal bersama keluarganya. Dia tega kalau harus melihat Kyuubi. Ibu dan adiknya di bawa paksa tepat di hadapannya saat kejadian terdahulu. Dia sayang kepada si Rubah merah itu, dia akui Kyuubi lebih pandai dalam berbagai hal daripada dirinya. Hanya saja, terkadang sifat 'sayang' sang pemuda bermata merah pada Naruto terkadang berlebihan…

Dia berjalan menyusuri lorong rumahnya. Dia mencium bau ramen dari arah dapur. 'Hm, sepertinya Kaa-san tahu aku akan pulang lebih cepat', pikirnya.

"Tadaima, Kaa-san!", ujar Naruto dengan nada ceria.

"Ahh, my little-aka-chan!" [aka-chan; baby]

"Kaa-san sedang buat ramen kan?"

"Ya, dan tentunya untukmu", Kushina membawa mangkuk berisi makanan favorit Naruto.

Kushina melihat Naruto yang kini sedang asyik dengan makanannya. Sebenarnya dia agak khawatir dengan anak semata wayangnya. Sejauh ini, dia belum berani untuk memberi tahu Naruto bahwa dia sudah tunangan. Kushina menelan ludahnya saat memikirkannya. Dia tidak yakin dia bisa mengatakan topik itu tanpa berteriak. Dia bahkan belum menanyakan Naruto bagaimana kehidupannya beberapa tahun terakhir di kediaman sahabatnya-Mikoto-. Apakah hubungan Naruto dengan Sasuke baik-baik saja? Mungkin, dia akan menanyakan hal ini terlebih dahulu.

"Um, Naruto."

"Hm?", Naruto tidak melihat ke arah ibunya.

"Beberapa tahun terakhir ini kau tinggal bersama dengan Mikoto dan keluarganya. Menurutmu bagaimana?"

Naruto berhenti saat mendengar pertanyaan itu, "bagaimana? Tentu saja menyenangkan! Mikoto-san baik padaku, Itachi-nii juga. Meski Fugaku-san terlihat seperti patung berjalan tapi aku pikir dia juga sayang padaku." (1)

"Naruto!"

"Hehe, gomen. Tapi, apa Kaa-san tidak melihat Fugaku-san? Dia jarang—ah bukan, sangat jarang memperlihatkan emosi."

Kushina hanya menghela nafas mendengar putranya berkomentar begitu tentang Fugaku. Tapi, dia yakin Minato malah akan tertawa mendengarnya, "Ya, ya Kaa-san tahu. Sekarang, menurutmu bagaimana dengan Sasuke?"

Naruto nyaris memuntahkan kembali ramen yang ada dalam mulutnya mendengar pertanyaan itu, "pfft, huh? Sa-suke?"

Kushina mengangguk. Dia benar-benar penasaran dengan pendapat anaknya. Dia tidak akan meneruskan pembicaraan ini atau juga pertunangan bodoh itu kalau Naruto sendiri sudah tidak bisa 'akur' dengan Sasuke.

"Teme itu menyebalkan! Memangnya dia pikir dia itu siapa bisa bersikap seperti itu, menganggap semua orang tidak lebih baik daripada dirinya. Cih! Apa Kaa-san tahu? Dia hampir tidak pernah bersikap baik padaku seperti dulu! Sekarang dia menyebalkan. Aku bersumpah akan mengalahkannya suatu hari nanti. Ha! Aku akan…"

Kushina tidak mendengar sisanya. Dia terlalu terbawa dengan kata-kata Rubah kecilnya. Memang Naruto bukanlah si-kecil yang dulu ia dekap, tapi untuknya Naruto tetaplah bayi mungilnya yang penuh dengan kejutan. Meski sebagian besar sifat Naruto itu menurun darinya, tapi dia tidak bisa tidak merasa bahwa sebenarnya Rubah pirangnya mulai menyukai sang Serigala. Mungkin kalian akan bingung mendengar ini. Tapi, jika kalian melihat dua orang yang bertengkar tiap hari, sebenarnya mereka tidak bertengkar karena mereka memang 'benci' satu sama lain. Terkadang mereka itu hanya ingin memperoleh perhatian dari yang bersangkutan. Hanya saja, karena terlalu berharga diri tinggi-untuk kasus Sasuke- dan terlalu polos-untuk Naruto- keduanya jadi tidak bisa memberi perhatian seperti yang mereka inginkan. Dan hasilnya? Tentu bisa di lihat dan di dengar secara jelas, yap, pertengkaran tidak berguna mereka itulah hasilnya.

Kushina tersenyum saat melihat anaknya, 'ahh, cinta yang masih hijau memang menyenangkan untuk di lihat.'

"Kaa-san…?"

"Hm?"

"Ah, tidak. Tidak apa-apa"

Kushina tersenyum sekali lagi sebelum kembali ke dapur. Naruto terlihat sedang menikmati ramen-nya lagi sebelum memutuskan untuk pergi berlatih.

"Kaa-san, aku pergi berlatih dulu."

"Hm? Ah, Kaa-san juga ingin pergi ke rumah Mikoto."

Keduanya berjalan keluar bersama. Naruto mengibaskan ekornya, dia merasa bersemangat saat setiap akan berlatih-entah kenapa. Dan Kushina sendiri sedang berpikir tentang sesuatu yang mungkin akan membuat Mikoto juga tersenyum dan meremukkan tulang seseorang dalam pelukannya. Keduanya menatap ke depan dan berhenti saat melihat dua orang familiar menuju ke arah mereka.

Empat pasang mata membuat pancaran emosi yang berbeda…

Naruto-lah yang memecahkan keheningan pertama kali, "huh? Kyuubi?"

Dan yang bersangkutan malah berdiri seolah tidak terkena efek suasana janggal di sekitarnya, "he? Naru-chan kau mau kemana?"

Sang Rubah laki-laki berambut merah berjalan mendekati Naruto, dia membuat gerakan seolah ingin 'menangkap' Naruto. Berhubung submissive pirang kita sudah tahu seperti apa sepupunya itu sudah bersiap mengambil langkah seribu ke arah lapangan berlatih. Kedua Rubah dan Serigala melihat sosok yang berlari itu dengan heran sekaligus sweatdropped.

Kyuubi menatap Kushina dengan mata berwarna merah miliknya, "apa aku semenyeramkan itu?"

Kushina hanya menggeleng pelan. Berharap Kyuubi tidak melihatnya, sebelum menoleh ke arah seseorang di hadapannya, "ah, Itachi. Selamat sore, lama tidak berjumpa. Kau sedah semakin mendekati seorang Alpha yang hebat."

Itachi membungkukkan badannya, "ya, Kushina-san. Kaa-sama ingin sekali bertemu dengan-mu. Dia bilang ada hubungannya dengan Otouto."

Kushina melihat seringai Itachi sebagai pertanda bagus, "ah ya, ngomong-ngomong soal itu—"

"Wow, wow, stop. Itachi, kau kenal dengan Kushina-san?", ujar Kyuubi. Rubah merah satu ini hanya bisa bengong saat melihat kedua orang di hadapannya berbicara. Dia tidak tahu kalau orang bernama 'Itachi' ini kenal dengan istri Minato.

Kushina hanya mengangkat alisnya, "hum? Kau tidak tahu? Dia ini Itachi Uchiha, kakak Sasuke yang pernah kuceritakan itu. Sasuke yang akan—"

"Ahh! Uchiha!", ujarnya setengah berteriak. Dan Uchiha yang di maksud hanya tersenyum tipis—wait tersenyum? Oh, tidak. Dunia akan berakhir lima menit lagi…

"Hm, aku tadi tidak mengatakan namaku dengan layak. Sekali lagi, salam kenal. Aku Itachi, Uchiha Itachi."

Kyuubi hanya membuka dan menutup mulutnya. Dia tahu benar klan Uchiha adalah klan yang legendaris selain Senju. Ya, Uchiha dan Senju adalah dua klan pemimpin dunia ninja berpuluh tahun lalu dan selalu berperang. Sebelum akhirnya keduanya berhenti berperang dan membentuk desa, yaitu Konoha. Di sebutkan Uchiha, sebagai klan yang besar memiliki jumlah keluarga yang well besar dan memiliki kekuatan hebat. Sayangnya, klan Senju yang tersisa menghilang entah kemana. Dan belakangan di ketahui, beberapa anggota keluarga Namikaze memiliki ikatan darah dengan Senju.

Rubah bermata merah darah ini tahu akan hal itu. Dari cerita Minato atau Kushina, di mana mereka memiliki teman bermarga Uchiha. Dia masih ingat Kushina yang menceritakan pertunangan bodoh yang di lakukan sang kepala keluarga Uchiha dengan Minato. Kyuubi selalu menghormati orang-orang yang hebat dan kuat, hanya saja membayangkan seorang Hokage di bodohi oleh kepala keluarga Uchiha adalah sesuatu yang harusnya ia lihat dengan matanya. Dan di sinilah dia berdiri di hadapan seorang Uchiha dan yang lebih 'bagus' lagi seorang anak dari kepala keluarga Uchiha.

Kushina melihat reaksi Rubah muda itu dengan senyum yang artinya ia tahu semuanya sebelum beralih ke arah Itachi, "ah, menggantikan Kyuubi, aku mengucapkan terima kasih Itachi. Kau menunjukkan Konoha padanya hari ini, 'kan?"

Itachi mengangguk, "ya, terima kasih kembali Kushina-san."

"Sepertinya dia senang bisa berkencan denganmu Itachi. Kuharap lain kali kau bisa mengajaknya keluar lagi?", tanya Kucing submissive bermata biru kehijauan itu.

"Ke-ke-kencan!"

Itachi seolah tak mendengarkan teriakan itu dan hanya menyeringai, "hn, mungkin Kushina-san. Mungkin."

"Baiklah, aku ingin pergi bertemu dengan Mikoto sebenarnya. Ah, Kyuubi kau mau ikut? Karena di rumah kita tidak ada seorangpun…"

Kyuubi sedang mengalami angin topan dalam pikirannya sendiri. 'Damn, damn, damn', batinnya. Entah bagaimana dia merasa di permainkan oleh dua orang dewasa di hadapannya. Seolah tak menghiraukan apa yang ia ingin katakan, Kushina menarik pergelangan tangannya.

Pada akhirnya ia tak bisa berkata tidak. Dan Kyuubi hanya bisa mengangguk dan menggeleng saat berhadapan dengan Itachi. Entah bagaimana ke'sopan'an yang di tunjukkan oleh dominant itu membuatnya tak bisa tenang. Yah, pada dasarnya Rubah berambut merah ini tak terbiasa dengan orang yang betutur-kata dan bersikap seperti si sulung Uchiha itu.

CX [MOVE THE PLACE, MOVE THE TIME] X3

Sementara itu, matahari yang masih tinggi tidak menyurutkan semangat Rubah pirang kita. Yap, Naruto masih berjalan dengan senyum lebarnya di wajah karamel miliknya. Dia akan berlatih dengan keras hari ini. Supaya begitu Ero-senin kembali datang ke Konoha, dia mau mengajarkan jurus hebat yang sering dia sebut-sebut itu.

Naruto terdiam saat melihat hybrid kecil menangis dan terlihat sedang mencari-cari sesuatu. Hybrid kelinci itu memiliki telinga berwarna putih yang kini tertekuk lesu. Naruto mendekatinya dan bertanya, "kau kenapa?"

"A-aku mencari Tomo-chan. Dia sudah pergi se-sejak tiga hari lalu. Hiks…"

Rubah muda ini merasa tak bisa membiarkan anak kecil ini sedih, "bagaimana kalau aku membantu?"

Mata gelap sang Kelinci melebar, "benarkah?"

Naruto membuat sebuah senyuman lebar, "tentu saja! Lagipula aku akan menjadi seorang Hokage suatu hari nanti!"

"Kalau kau selalu berkata begitu tapi tak melakukan apa-apa kau tidak akan menjadi Hokage, dobe."

Sepasang mata safir melebar saat mendengar suara itu. Dia menoleh tajam dan mendapati sang pelaku berdiri tenang menyandangkan tubuhnya di tembok di jalanan kecil itu. Yep, Sasuke berdiri di sana, dengan topeng tanpa ekspresi dan dengan mata onyx yang tampak lebih dingin dari biasanya. Mm, mungkin ada sesuatu yang sedang membuatnya sebal hari ini…

Kelinci yang tadinya mulai menghilang ke sedihannya kini bersembunyi di belakang Naruto. Yah, di mana-mana juga, Sasuke dan anak kecil itu tidak ada koneksi dalam satu kalimat. Intinya? Sasuke dan anak kecil bukanlah dua pasang kutub yang cocok. Hampir semua anak-anak takut melihat wajah boneka dan mata 'es' miliknya.

Dan Naruto sebal melihat hal seperti ini, "Heh, teme! Kalau kau tidak mau membantu pergi saja sana! Lagipula aku tidak mengharapkan komentarmu!"

Sasuke hanya mengangkat bahu dan mengucapkan ,"hn."

Naruto merasa kedutan di kepalanya sudah tidak bisa lebih besar dari sekarang. Dia memutuskan untuk mengacuhkan ninja yang lebih tua darinya itu, "ng, namamu siapa?"

"M-Moegi."

Naruto tersenyum, "oke, Moegi. Tadi kau bilang mencari 'Tomo-chan', dia siapa?"

"Dia seekor kucing yang sering datang kerumah. Kaa-san bilang aku boleh memeliharanya jika mau memberinya makan. Tapi, sudah tiga hari ini dia menghilang."

"Hm, begitu. Baiklah! Ayo kita cari!"

Moegi dan Naruto berjalan ke arah hutan dekat dengan lapangan berlatih. Sementara kedua hybrid itu berjalan dan berbicara, Sasuke hanya mengikuti dari belakang. Hey, dia sudah menyelesaikan misi-nya sebagai ninja. Yang ia inginkan hanya melihat Rubah pirang yang sedang berbicara dengan bocah lain. Dia belum mendapatkan jawaban dari submissive itu, dan dia harap Naruto mau menerimanya. Tapi, dia ragu sendiri. Hubungannya dengan Naruto saja tidak juga membaik.

Sasuke masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia berjalan ke arah lain ke dalam hutan sementara memutuskan untuk membantu mencari kucing yang di maksud bocah tadi. Setidaknya dia ingin membantu Naruto dan mungkin akan bisa membuatnya senang.

Sasuke berjalan dan terus berjalan tanpa tujuan. Dia yakin dia tidak akan tersesat, lagipula dia sudah hapal dengan hutan ini. Sebut saja gara-gara Kakashi-'sensei'. Gara-gara orang itu juga dia harus menderita seminggu di dalam hutan ini bertahan hidup bersama dengan Neji dan Sakura. Dia jadi merinding mengingat memori yang pahit itu. Apalagi mengingat si Pinky itu berusaha untuk ehem-me'rape'-ehem Sasuke saat dia sedang tidur.

Mata onyx-nya melihat sesuatu berwarna putih. Kalau tidak salah dengar, bocah Kelinci tadi bilang kucing-nya memiliki warna putih polos dan memiliki beberapa bagian berwarna hitam di punggungnya. Sasuke melihat makhluk di hadapannya. Kucing itu mungkin yang sedang di cari Naruto dan bocah itu. Makhluk hidup itu terjebak di sebuah jebakan. Salah satu kakinya berdarah karena mungkin dia berusaha untuk melepaskan diri.

"Hn, kau pasti yang di cari bocah itu",ujarnya datar.

"Meoww"

Kucing itu seolah bisa mengerti ucapannya dan membalasnya dengan meongan kecil. Terlalu lelah mungkin. Lagipula, jika di biarkan lebih lama lagi kucing itu akan mati. Sasuke menghela nafas. Naruto akan lebih kesal lagi padanya jika dia melakukan itu. Maka, dia mengambil kunai dan melepaskan jeratan tali dari kaki si kucing.

Sementara itu di suatu tempat di dalam hutan, Rubah dan Kelinci, masing-masing meneriakkan kata-kata panggilan. Naruto mencari di semak-semak kemudian berpindah lagi. Terus begitu berkali-kali. Matahari mulai turun di ufuk barat. Sepertinya dia tidak akan jadi berlatih hari ini. Yah, setidaknya dia masih bisa membantu seorang. Tentunya kalau kucing itu ketemu.

Mata safir miliknya kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling berharap ada sesuatu yang bisa ia tangkap. Yang ia lihat tetap hijau dan hijau. Daun, batang dan ranting. Dari dahinya mengalir keringat karena selain memang udara yang cukup panas, dia sudah cukup lelah. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Rubah pirang ini tak hanya mencari tanpa menggunakan otak. Dia menyebarkan tiga bunshin untuk membantunya. Dan sepertinya ketiga bunshin itu belum menemukan hewan yang di maksud.

Telinga berbulu pirang miliknya sedikit tertekuk karena ia belum juga bisa menemukan kucing anak itu. Ekornya-pun diam sejenak. Hingga akhirnya ia mendengar sesuatu di balik semak-semak. Mata safirnya yang tadi nyaris tertutup kembali terbuka. Telinga Rubahnya berdiri tegak, mencoba mencari-cari apa yang ada di sana. Dan yang ia lihat hanya malah membuatnya lebih sebal lagi.

"Kenapa kau di sini, huh? Teme!"

Empu-nya nama itu hanya menghela nafas dan mengangkat bahu. Dia memperlihatkan sesuatu yang ia dekap. Yap, kucing yang mereka cari itulah yang ada di dalam dekapannya. Membuat Naruto membeku dan melihat ke arah remaja yang ia anggap menyebalkan.

Sasuke menyerahkannya pada Naruto, sementara Moegi berteriak senang. Meski ia tahu kaki hewan itu berdarah, setidaknya ia yakin bukan Sasuke yang melakukannya. Karena Rubah pirang ini tahu bahwa dominant yang terkenal dingin itu masih mempunyai sisi lembut untuk hewan. Ia masih ingat saat mereka kecil, Sasuke pernah menolongnya untuk menyembuhkan seekor burung yang sayapnya patah.

Rubah bermata biru langit ini seakan tak sadar bahwa Moegi sudah mengucapkan terima kasih dan pergi. Ia masih tenggelam dalam pikirannya hingga suatu panggilan yang berhasil mem'bangun'kannya, "—be, dobe!"

"Huh?"

"Kau tidak pulang?"

"Ah, iya. Kenapa kau membantu menemukan kucing itu? Kupikir—"

"Kalau kau masih belum bisa menerima 'pernyataan'ku saat itu—"

"Tapi, Sasuke…"

"Hn."

Naruto diam di lapangan berlatih itu. Ia melihat punggung sang Uchiha berbalik dan menjauh pergi. Terus mengecil dan akhirnya menghilang dari pandangan. Jujur, dia marah dan merasa kesal dengan si Uchiha, karena itu—

"UCHIHA BRENGSEK!"

Naruto masih menyumpah-serapah sang Serigala yang sudah tak terdeteksi lagi chakra-nya. Ia merasa sebal dengan sikap seenak-perutnya sendiri itu. Tapi, dia menghela nafas. Apa yang dia harapkan dari seorang anti-sosial? Memang begitulah Sasuke. Kalaupun dia berharap Sasuke berubah seperti Kyuubi—ah, dunia pasti sudah berkhir. Tapi, Rubah pirang ini tak tahu bagaimana reaksinya terhadap pernyataan Sasuke waktu itu.

Naruto bisa merasakan suhu tubuhnya meningkat. Tanpa sadar dia meraih telinga Rubahnya dan menelusuri luka gigitan yang kini sudah menghilang. Dia bisa tahu perasaan seseorang pada orang yang lainnya. Seperti perasaan Sakura-san(2) kepada Sasuke. Tapi, ia tidak tahu—ia tidak bisa paham dengan dirinya sendiri. Sepasang mata cemerlang berwarna biru menatap langit.

"Ah, mungkin aku ini memang seorang 'dobe'."


(1) "Meski Fugaku-san terlihat seperti patung berjalan tapi aku pikir dia juga sayang padaku"; hahaha, 'patung berjalan'! Nami dapat ide ini secara tiba-tiba. Tapi, aku pikir julukan itu tepat buat Fugaku.

(2) Sakura-san; di sini ceritanya Sakura n Sasuke lebih tua dari Naruto. Jadi dia manggilnya pake '-san'

And, CUT! Yep, selesai ampe sini dulu. Nami capek. Mmm, 12 halaman penuh dengan kata2 n k-GJ-an. So~ R.E.V.I.E.W! Makin banyak review, makin Nami berusaha bkin updet pjg kaya gini lgi! ^^ Trus, buat yg pngen review-ny , bisa log-in. jdi, bisa ma Nami! ^^