Ini fic pertamaku, apabila ada kesalahan mohon bantuannya^^ (bungkuk-bungkuk badan)
Semoga fic saya dapat menghibur kalian
Summary : Karin akhirnya tahu bahwa yang ditemuinya sewaktu berumur 5 tahun itu bukanlah Toushiro tetapi kembarannya. Kini ia mulai menyukai Toushiro. Namun hatinya menentangnya karena dia tidak ingin menyakiti temannya, Hinamori yang ternyata menyukai Toushiro sejak dulu. Apa yang akan Karin perbuat? Apakah ia benar-benar menyukai Toushiro dari dalam hatinya, bukan karena kemiripannya dengan Yuki?
Genre : Hurt/Comfrot/Romance
Rated : T (aku ga begitu ngerti dengan ini, ada yang bisa menjelaskan?)
Pairing : HitsuXKarinXOC
Warning : Karena pemula mungkin banyak kesalahan dalam penulisan, mohon di maklumi (puppy eyes)
Disclaimer Tite Kubo-Sensei
'Aoi Tori mendekatlah padaku, akan ku putarkan lagu tentang cinta untukmu'
Chapter 7
(Ai-Love)
Angin senja yang dingin bertiup dengan merdu, langit sudah mengeluarkan semburat merahnya. Manusia-manusia yang tadi siang berjalan santai sekarang sudah mulai mempercepat langkah kaki mereka masing-masing. Burung-burung kembali ke sarangnya sambil bersendah gurau.
Tetes demi tetes air mulai keluar dari mata onyx seorang anak perempuan yang sedang berada dipelukan seorang laki-laki berambut merah. Pemandangan itu tampak sangat jelas dari sebuah jendela dilantai 3 sebuah gedung bertingkat 4 yang berdiri dengan kokoh. Gedung itu tampak tua namun masih terlihat jelas kalau gedung itu sangat terawat oleh pemiliknya.
Perempuan yang sedang menangis tersebut mengingat kembali ingatan masa kecilnya
"ayo, satu tangga lagi kau akan sampai, pegang tanganku, aku akan membantumu menaikinya"
"arigatou"
"iie"
"apakah kita bisa bertemu lagi?"
"ya! Aku janji!"
Kejadian itu memang hanya singkat, tapi sangatlah berarti bagi perempuan yang bernama Karin Kurosaki itu. Dia tidak pernah merasakan hangat dihatinya semenjak ibunya meninggal kecuali hari itu, hari dimana ia bertemu dengan seorang laki-laki yang begitu berbeda baginya. Laki-laki yang hanya dengan waktu singkat mampu membuat hatinya berdegug kencang, laki-laki pertama yang menganggapnya sebagai sosok perempuan, laki-laki yang tersenyum hangat dan meminjamkan barang miliknya pada orang asing.
Selintas kemudian, kenangan yang lain lewat di alam bawa sadarnya
"Ne,.Karin-chan berjanjilah pada Ibu, bahwa kau tidak akan menangis"
"Tapi Oka-san"
"Kau perempuan yang kuat"
Perempuan berambut dan berbola mata onyx tersebut kemudian melepaskan dirinya dari pelukan laki-laki bernama Jinta Hanakari. Dia menghapus air matanya dan sekarang tengah berdiri tegak.
"Ano, Jinta-kun Hounto ni gomenasai" Badan Karin membungkuk.
Jinta kemudian tersenyum dan berkata "ah sudahlah Karin-chan,.aku akan menghantarmu pulang tunggu sebentar ya"
"Eh, tidak usah" Jawab Karin.
"Tapi,…." Kata-kata Jinta kemudian terputus melihat lawan bicaranya sudah membalikkan badannya dan melangkah pergi sambil melambiakan tangannya.
"Aku baik-baik saja,. Terima kasih Aka no Taichou" Karin berseru keras dan kemudian meninggalkan tempat itu.
Jinta melangkahkan kakinya menuju kelas untuk mengambil tasnya. Ia sangat terkejut ketika melihat Toushiro ada di hadapannya dengan muka yang nampak merasa bersalah. Tidak menunggu begitu lama Jinta sudah mengerti bahwa Toushiro lah yang membuat Karin menangis. Tanpa ragu tangannya langsung menggenggam kerah seragam laki-laki dihadapannya sehingga laki-laki itu tampak tidak nyaman.
"Kau apakah Karin-chan, baru kali ini aku melihatnya menangis" ucap Jinta dengan nada marah
Toushiro hanya terdiam
"Jawab aku!" bentak Jinta
Toushiro kemudian berhasil melepaskan kerah bajunnya dari tangan Jinta, setelah memungut buku putih yang dijatuhkan Karin sebelum meninggalkan kelas kemudian ia pergi meninggalkan Jinta sambil berkata " Itu bukan urusanmu"
Jinta hanya bisa terpaku, dia tidak dapat berkata apa-apa lagi melihat mata Toushiro yang tampak seduh dan menyesal.
"sial" Desah Jinta pelan.
…
Rambut hitam yang tidak terlalu panjang terhempas angin senja dengan lembut. Kaki dengan sepasang sepatu berwarna coklat berdiri disebuah pemakaman yang tampak sepi karena sudah mulai senja. Rasa takut perempuan itu telah terkalahkan oleh keinginannya berjumpa dengan sang pujaan hati yang ditunggunya, walaupun ia sadar ia tak akan bisa berjumpa dengannya. Dengan teliti satu demi satu rentetan nisan berwarna putih ia lihat untuk memastikan nama Hitsugaya Yukimaru ada diantara mereka, hatinya menolak kenyataan ini tapi ia sadar ini adalah keputusan Sang Penguasa Alam Semesta. Di baris ke tiga dan nisan ke dua dari ujung ia berhenti, matanya terbuka lebar dan kemudian ia tersenyum. Di sebuah tangga diatas deretan makam-makam membelakangi seorang perempuan bernama Karin, laki-laki bernama Toushiro memperhatikan perempuan tersebut. Karin menghelah nafasnya dengan santai dan memulai percakapannya dengan sebuah nisan Hitsugaya Yukimaru.
"Ano,. Konbanwa Aoi Tori-kun,.aku selalu memanggilmu begitu sebelum tahu namamu,.aku bodoh ya tidak mengetahui nama orang yang berbuat baik padaku,.syal dan jaket pemberianmu sangatlah hangat,.aku suka,.ya aku suka…"
Air mata Karin mulai keluar tapi segera di hapusnya. Toushiro memperhatikannya.
"Apakah kamu ingat, kita bertemu saat umurku 5 tahun, umurmu ternyata sama denganku ya,.apakah kamu ingat saat tangan kita saling bertemu, apakah kamu juga ingat saat mata kita saling berpandangan,.mukaku saat itu pasti sangat merah,.hahahaha….Yuki-kun, bolehkan aku memanggilmu begitu?..."
Kata-kata Karin berhenti lagi, kini air mata itu tidak dapat dibendungnya lagi dalam hati ia mengucapkan maaf pada ibunya tercinta.
"aku selalu menunggu,.aku menunggu, aku ingin menagih janjimu,.untuk bertemu kembali,.aku ingin melihatmu,.aku ingin mendengar nyanyianmu lagi,.aku rindu padamu,.aku,.aku,.aku menyukaimu…"
Toushiro yang sedari tadi berdiri memperhatikan punggung Karin tampak terkejut. Tubuhnya bergetar hebat. Ia berpikir bahwa Karin pasti akan membenci dirinya karena menyebabkan orang yang disukainya meninggalkannya selamanya.
Kini Karin terdiam sambil menggigit bibirnya, tubuhnya yang tadi berdiri kini telah merosot ketanah ke posisi duduk tanpa ia komando, ia lemas dan letih karena dari tadi siang ia tidak makan dan banyak mengeluarkan tenaga untuk menangis, tapi itu bukan alasan terbesar tubuhnya roboh, tapi dikarenakan perih yang sedang hatinya derita. Kini perempuan tomboy tersebut tampak seperti perempuan pada umumnya menangisi orang terkasihnya yang pergi meninggalkannya.
Toushiro yang melihat Karin terjatuh ketanah segera berlari menghampirinya dan kini ia ada dihadapannya. Ia tekuk kakinya sehingga posisinya kini sejajar dengan Karin. Karin melihatnya tanpa bisa berkata apa-apa.
Dengan segera Toushiro memeluk perempuan yang sudah lama membuat hatinya berdebar tidak seperti biasanya ini , perempuan yang akhir-akhir ini selalu setia menghuni pelupuk matanya, perempuan yang dapat membuatnya merasa senang.
Bulan sudah mulai mengintip dari balik awan. Pemakaman yang identik sebagai tempat yang seram dan berhantu, malam ini tidaklah tampak. Tiupan angin malam yang lembut membuat rerumputan disekitarnya bergoyang. Terdengar suara merdu menjelajah langit malam itu, bintang-bintang mendengarkannya sambil berkerlap-kerlip, kunang-kunang mendengarkannya sambil terbang dengan pelan dan serangga lainnya berhenti berbunyi membiarkan suara merdu itu bernyanyi solo.
sore wa aoi tori…konna ni chikaku hohoe mukaru…itsuka sekaijuu no sora…tabi wo shite otona ni naru….." (that's a blue bird, we're this close because you smilling, someday we will go on a journey to the sky in the world and become adult…)
Karin merasakan nafas hangat dilehernya. Suara merdu mengisi telinganya. Begitu tersadar dari keterdiamannya ia terkejut. Toushiro sedang memeluknya sambil menyanyikan lagu yang ingin didengarnya sekali lagi. Entah kenapa ia merasa nyaman didekapan Toushiro membuatnya lupa akan kejadian tadi sore disekolahnya.
Toushiro menghentikan nyanyiannya, merasa Karin akan melepaskan pelukannya, ia memeluknya lebih erat tidak membiarkan Karin melepaskan diri.
"Maaf,.saya benar-benar meminta maaf" ucap Toushiro
"….." Karin hanya terdiam tidak membalas
"Aku takut,. aku takut kau akan membenciku jika mengatakan bahwa aku adalah saudara kembar dari Yuki-kun,.aku takut kehilanganmu"
"….." Karin masih terdiam
"Aku penyebab Yuki-kun meninggal" Toushiro berkata dengan berat.
Karin memejamkan matanya beberapa saat dan kemudian membukanya kembali.
"Entah apa yang membuatmu melakukan hal yang membuat Yuki-kun meninggal, tapi aku percaya bahwa kau tidak ingin dia meninggalkan?" Karin mulai berbicara.
"…." Sekarang giliran Toushiro yang terdiam membisu.
"Kau pasti kesepian?" Tanya Karin.
"Eh?" Toushiro melepaskan pelukannya dan memasang muka dengan tanda tanya besar dikepalanya. Ia lebih tahu dari siapa pun tentang rasa sedih itu.
"Itu karena kau, bersikap sangat menyebalkan" Ucap Karin mantap yang disambut dengan ekspresi pembunuh dari Toushiro.
"Apa maksudmu?" Tanya Toushiro yang masih memasang muka membunuh.
"Aku, aku akan membuatmu tertawa lebar dan menghilangkan kesedianmu, aku ingin menjaga kepercayaan Yuki-kun padaku" Lanjut Karin dengan muka yang serius.
Toushiro tersenyum, senyum yang tidak biasa ia lihatkan pada siapa pun kecuali Karin.
"Kalau begitu aku tunggu" Jawab Toushiro.
"Ehm" Karin menggangguk.
Dalam hati Karin, ia berkata 'Yuki-kun, aku akan mewujudkan impianmu'.
"Ayo kita pulang, aku antar" Ajak Toushiro.
"Eh? Okelah" Jawab Karin dengan senyuman lebar
Sepasang manusia itu pun meninggalkan pemakaman tersebut dengan obrolan-obrolan kecil yang membuat si perempuan tertawa lebar dan si laki-laki tersenyum.
…
Hari ini hari minggu, hari yang dinanti-nantikan oleh para siswa pada umunya karena hari ini mereka terbebas dengan nama yang disebut manusia dengan sekolah. Di sebuah lapangan hijau, perempuan yang mengenakan topi berwarna merah sedang asyik memainkan bola sepak dikakinya. Ia bermain sendiri, bukan karena ia tidak mempunyai teman, tapi dikarenakan waktu yang masih pagi yang membuat perempuan itu tampak bermain sendiri. Perlahan-lahan matahari mulai menerangi, teman-temannya mulai datang, satu persatu mereka menemani perempuan itu bermain termasuk si laki-laki berambut senada dengan topi perempuan itu.
Matahari mulai tinggi diatas kepala pemain-pemain bola itu, kini mereka memutuskan untuk beristirahat dengan duduk-duduk santai dihamparan rumput yang tampak tebal sehingga terlihat empuk itu. Satu dua botol air mineral sudah mereka habiskan. Perempuan itu tampak memisahkan dirinya dari gerombolan laki-laki yang sedang membicarakan perempuan yang mereka suka, perempuan yang bernama Karin itu lebih memilih tiduran di atas rumput yang tidak jauh dari gerombolan laki-laki yang tidak lain adalah teman-temannya tersebut.
Karin memandangi langit biru siang itu, matanya yang kesilauan memaksakan telapak tangannya untuk menutupi matanya. Siang hari dimusim dingin tidaklah begitu panas sehingga dengan tenang Karin membiarkan panas matahari menembus kulit putihnya. Pikirannya melintasi waktu mengingat kejadian tadi malam, ucapan Toushiro yang mengatakan tidak mau dibencinya dan takut kehilangannya membuat mukanya merah padam. Dia berpikir apakah Toushiro menyukainya. Dia tersenyum malu tapi kemudian bermuka sedih, ia tidak ingin merebut orang yang disukai temannya darinya.
Sesosok laki-laki kemudian duduk disampingnya mebuat Karin bangun dari posisi tidurnya ke posisi duduk. Karin menatap laki-laki itu yang tak lain adalah Jinta. Dia kemudian ingat kembali peristiwa yang terjadi kemarin sore di sekolah saat Jinta memeluknya.
"Ano, Jinta-kun masalah kemarin aku minta maaf" Ucap Karin
"Ah, tidak apa-apa…" Jawab Jinta yang kemudian terputus karena Karin memotongnya
"Aku tidak bermaksud marah padamu, tapi kamu mengatakan hal yang membuatku bingung,.aku…" Kali ini ucapakan Karin yang dipotong oleh Jinta.
"Aku menyukaimu Karin-chan" Jinta mengucapkannya sambil memandang mata Karin.
Mata Onyx Karin langsung membulat penuh. Dia tidak dapat berkata apa-apa
"Jinta" Ucap Karin kaget.
"Aku tahu kau menyukai si jelek Toushiro itu kan?" Tanya Jinta.
"Eh ? Tidak kok" Karin pura-pura berlagak bodoh
"Sudah ku bilang, aku tahu kapan saatnya kau bohong Karin-chan" Muka Jinta menjadi serius.
"…" Karin hanya terdiam dan kemudian memasang muka serius juga
"Aku tidak akan memaksakanmu menyukai ku, aku sudah puas bisa mengatakannya padamu,. Oh ya kalau kau menangis lagi karena dia, aku akan membuatnya menyesal" Janji Jinta
"Emh,. Arigatou Jinta-kun" Ucap Karin sambil tersenyum.
Setelah kehabisan topik obrolan, segerombolan laki-laki itu kemudian menghampiri manager dan kaptennya dan mengajaknya untuk pulang kerumah masing-masing karena sudah waktunya makan siang.
Karin berjalan menyelusuri jalan pulang, ia melewati sebuah pantai tempatnya dulu bertemu dengan Yuki.
"Mungkin Yuzu tidak akan khawatir jika hanya sebentar" Karin berbicara sendiri
Kakinya ia langkahkan menuju mercusuar yang dulu ia sering kunjungi. Ketika sampai di atas mercusuar, Karin melepas topinya. Rambutnya terurai indah ditiup angin laut yang berhembus ke arahnya. Dia Berkata "Aoi tori apakah aku bisa berjumpa denganmu?"
…
Seorang pemuda berambut putih mengenakan kemeja berwarna hitam dan kemudian membalutnya dengan cardigan yang berwarna senada dengan rambutnya. Bawahannya ia kenakan celana panjang berwarna hitam dengan sepatu hitam dan sedikit garis putih ditengahnya. Tangannya membawa sesuatu, sebuah buku sketsa. Semenjak sekian lama dia berhenti melukis, hari ini ia ingin melukis kembali. Mungkin karena perasaannya yang sedang membaik hari ini.
Laki-laki itu berjalan menuju sebuah lapangan yang berjarak tidak jauh dari rumahnya. Lapangan itu tempat dimana Karin selalu bermain bola bersama teman-temannya. Sebenarnya dia bisa melihat dan melukis lapangan itu dari dalam kamar saudara kembarnya yang mempunyai jendela menghadap lapangan itu. Tapi dia ingin merasakan sendiri angin yang berhembus menerpa tubuhnya seperti angin yang berhembus menerpa tubuh Karin.
Setelah sampai dilapangan yang tampak kosong itu, ia mulai duduk dan membuka buku sketsanya, coretan demi coretan membuat kertas yang tadinya putih itu telah berubah menjadi lukisan sebuah lapangan yang mengandung kesan sejuk dan membuat siapapun yang menginjakan kakinya dilapangan itu ingin segera berlari-lari di tempat itu.
Bunyi ponsel dari dalam sakunya membuat ia menunda menyempurnakan lukisan itu. Satu pesan dari Momo Hinamori kini sudah ada dilayar ponselnya yang menyatakan bahwa dia ingin bertemu dengannya nanti sore karena akan ada hal penting yang akan dibicarakannya.
Toushiro membalasnya dengan menolak pertemuan di sore hari, karena sore ini ia memutuskan untuk menemui Yuki dan menyarankannya untuk menyusulnya dilapangan jika yang akan dibicarakannya memang benar-benar penting.
Sambil menunggu Hinamori datang di hadapannya, ia melanjutkan kegiatan yang sebelumnya tertunda kembali. Tepat ketika lukisan itu selesai, Hinamori sudah ada disampingnya.
"Wa..Shiro-chan,.kau mulai melukis lagi? Sejak kapan?" Tanya Hinamori membuat Toushiro kaget
"Eh,. Apa yang ingin kau bicarakan yang katamu penting?" Toushiro menutup kembali buku sketsanya dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ano,… besok ayahku ulang tahun, aku bingung akan memberikan apa untuknya, mau kah kau menemaniku mencari hadiah untuknya?" Tanya Hinamori
"Ya tentu saja Momo-chan" Jawa Toushiro seraya berdiri dari posisi duduknya.
Keduanya pun berangkat menelusuri jalan ke stasiun terdekat untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Jalan tersebut melewati sebuah pantai, pantai Karakura. Mata Toushiro membulat penuh ketika melihat seorang anak perempuan keluar dari pintu mercusuar.
"Momo-chan, itu Karin-chan, sebaiknya kita mengajaknya juga" Tunjuk Toushiro
"Aku takut dia sudah ada acara, kita pergi berdua saja ya" jawab Hinamori.
"Kita tanyakan saja dulu, mungkin dia bisa membantumu" ucap Toushiro.
"Lebih baik kita berdua saja" ucap Hinamori lagi
"Tapi.." Kalimat Toushiro terpotong
"Kita berdua saja! Kenapa Shiro-chan ingin dia ikut! Apakah Shiro-chan menyukai dia?" Tanya Hinamori dengan nada marah.
"Apa maksudmu Momo-chan?"
"Sudahlah Shiro-chan, aku tahu kamu menyukai Karin-chan, sejak bertemu dengannya sifatmu berubah"
"Momo?"
"Aku selalu berusaha membuatmu senang, sejak dulu, sejak dulu kita di eropa, tapi kau tidak pernah tersenyum padaku, apalagi tertawa,. Kenapa dengan Karin-chan kau bisa tersenyum padanya?"
"Aku….."
"aku tidak mau,.aku tidak mau…aku menyukaimu Shiro-chan"
Kata-kata terakhir dari Hinamori membuat Toushiro terkejut. Dia tidak menyangka perempuan yang sudah dianggapnya sebagai saudaranya itu ternyata menyukainya.
"Momo-chan?" Suara seorang perempuan yang tak lain adalah Karin membuat Himanori dan Toushiro melirik padanya.
Udara siang di musim dingin yang seharusnya sejuk itu, terasa dingin menusuk kulit.
Terima kasih untuk yang udah mereview cerita yang gak bagus ini
Kritik dan sarannya saya tunggu
