Look at..

Main Pair : Yunjae and Yoosu

Rate : T

Genre : Romance, Drama, and Hurt

Warning : Boy x Boy / BL / OOC

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Jaejoong terlelap setelah memakan bubur pucat buatan Yunho dan juga meminum obat yang diberikan oleh dokter. Yunho kembali masuk ke kamar Jaejoong dan melihat Jaejoong kembali terlelap dan segera berjalan menghampiri Jaejoong. Perlahan, Yunho duduk di tepi ranjang.

"Hah! Cepatlah sembuh. Aku susah mengurus rumah sendiri," ujar Yunho. Tiba-tiba tangannya memiliki hasrat untuk menyentuh surai rambut Jaejoong, namun diurungkannya kembali. "Heish! Kenapa aku seperti orang bodoh. Lebih baik aku mandi," monolog Yunho. Yunho bangkit dan keluar kamar sambil menyusuri tengkuknya yang terasa berat.

_0_

Junsu melamun. Masa lalu dirinya berputar dengan cepat di kepala, membuatnya sedikit pening. Ada banyak kerjaan yang harus ia selesaikan, seharusnya. Namun nyatanya, ia masih termenung di taman sekitar satu jam yang lalu.

"Ibu, mana makananku?"

Junsu remaja menghampiri wanita yang melahirkan dirinya sedang memasak di dapur. "Kau lapar, hm?" Junsu mengangguk.

"Tunggulah di meja makan," Junsu meninggalkan dapur dan duduk manis di ruang makan. Bahkan seragam sekolahnya pun belum sempat ia ganti.

Ibu Junsu membawa sepiring pancake kimchi dengan aroma yang menggoda di hidung Junsu. "Selamat makan!" Junsu mengambil sumpit dan memasukkan sepotong pancake kimchi tersebut ke mulutnya. "Enak sekali! Terimakasih, Ibu." Junsu tersenyum mengembang dan kembali lahap dengan makanan di depannya.

"Aku bahkan merindukan masakanmu, Ibu."

Jauh dari pandangan Junsu, Yoochun setia memandangi Junsu tanpa disadari. Memandang kekasihnya yang sedang bermurung hati, "Bahkan disaat kau sedih dibelakangku, aku bisa merasakan kesedihan itu."

_0_

Arial memasuki ruangan kerjanya setelah jam makan siang berakhir, namun terlihat guratan sedih di wajahnya. Di saat yang sama, Changmin berjalan dari lawan arah hingga menyebabkan badan mereka saling menghalangi.

"Minggir Changmin-ssi! Aku ingin masuk ke ruangan."

"Kenapa bukan kau saja?"

" Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Awas!"

Changmin tetap kukuh dengan posisinya dan memasang wajah tidak peduli. Arial sudah kehabisan kesabaran dan menarik napas dalam –dalam hingga–

"Demi Tuhan, Shim Changmin! Aku lelah dengan sikapmu. Bisakah kau tidak menambah masalah diriku?" Arial mengeluarkan semua kekesalannya di hadapan Changmin.

Namun hanya satu yang membuat Changmin tersadar atas sikapnya yang berlebihan terhadap Arial. Saat dirinya melihat Arial yang telah menahan air bening dipelupuk matanya.

"Arial! Aku hanya––"

"Kau menambah moodku hancur, Shim Changmin"

Arial menerobos masuk ke ruangan dengan menabrakkan tubuhnya ke tubuh Changmin secara kasar. Pria tinggi itu hanya menatap tak percaya apa yang telah dilakukannya hingga membuat Arial seperti itu.

_0_

Setelah beberapa hari dirawat oleh Yunho –lebih tepatnya hanya ditemani setelah Yunho pulang kerja– Jaejoong akhirnya kembali bekerja dan membantu Yunho dalam pekerjaan kantor. Seperti saat ini, mereka berjalan berdua setelah makan siang bersama di resto dekat kantor.

"Jaejoong, setelah ini berikan berkas laporan penjualan bulan ini ke mejaku, ya?"

"Ya, baiklah."

"Ah! Nanti saja di rumah sekaligus aku ingin bertanya tentang keadaan pasar yang kita tuju."

"Terserah kau saja, Tuan Jung."

"Ya! Jangan memanggilku dengan bahasa formal. Aku tidak menyukainya."

Jaejoong mendecih, "Lalu apa yang kau suka?"

Yunho terlihat berpikir, "Ehm! Kau?"

Jawaban Yunho sontak membuat Jaejoong membeku. Oke! Mungkin ucapannya hanya lelucon saja. Tapi siapa sangka ini membuat hati seorang marga Kim berdegup kencang?

"Jaejoong!" Renungan Jaejoong menghilang saat Yunho memanggil namanya dengan suara keras. Ternyata Jaejoong termenung hingga membuat dirinya berdiam di tempat dan tak menanggapi apa yang dibicarakan oleh Yunho. Jaejoong mempercepat langkahnya menghampiri Yunho. Love is–

_0_

Yunho memeriksa berkas di atas tempat tidur. Tidak ada niat dirinya untuk berpindah ke ruang kerja karena menurutnya itu tidak efisien. Setidaknya saat dia benar – benar lelah dengan pekerjaannya, ia bisa langsung tertidur dan meninggalkan berkas berserakan di sampingnya.

TOK TOK TOK!

"Masuk!"

Pintu terbuka dan nampak sosok Jaejoong berada di ambang pintu dengan pakaian santainya. "Aku mencarimu di ruang kerja tapi tidak ada, ternyata di sini." Yunho melepaskan kacamatanya," Terlalu bosan bekerja di ruang kerja. Setidaknya aku bisa langsung tidur jika sudah lelah tanpa berjalan ke kamar. Kau ingin menjadi patung di sana?"

Merasa dirinya disindir, Jaejoong menghampiri Yunho dengan duduk di pinggir tempat tidur, "Aku hanya ingin menyerahkan pangsa pasar yang akan dirapatkan besok. Pelajarilah!" Yunho mengambil berkas yang diserahkan Jaejoong di hadapannya. Membuka lembar demi lembar dan matanya bergerak cepat mempelajari berkas di depannya. "Oke, sepertinya pekerjaanmu semakin bagus."

Jaejoong memutar bola matanya malas, " Pekerjaanku semakin bagus apa kau yang baru bisa mengerti tentang perusahaan ini?" Yunho tertawa singkat,"Sepertinya diriku yang semakin pintar. Haha!" Jaejoong mendecih tidak terima pernyataan yang dilontarkan Yunho.

"Terimakasih."

"Apa?"

"Terimakasih. Sudah membimbingku menjalankan perusahaan ini."

Sekilas, tulang pipi Jaejoong memerah dan tatapannya tak fokus ke Yunho seperti sebelumnya. "Kalau begitu berikan aku bonus." Yunho berhenti membaca dan menatap Jaejoong. "Kau ingin bonus apa?"

"Liburan. Bagaimana?" Jaejoong berbicara dengan semangat. "Apa? Tidak! Hanya menghabiskan uang perusahaan saja." Yunho menjawab dengan menggoyangkan telunjuk ke kanan kiri. Jaejoong mendecih, "Aku tidak mau berliburan dengan uang perusahaan–," Jaejoong tersenyum miring,"–tapi dengan uangmu."

"Apa?"

"Kau kan bos. Gunakan uangmu untuk membayar bonusku."

"Tidak akan."

"Cih, Pelit sekali. Padahal aku teman sekolahmu."

Jaejoong bangkit dan berpaling, "Selamat malam." Yunho masih terlihat berpikir untuk permintaan Jaejoong. Satu alisnya terangkat dan terdapat kerutan di keningnya, "Aa- baiklah, liburan dengan uangku." Tercetak senyuman di bibir plum pria manis itu, Jaejoong berpaling, "Lalu kapan?"

Yunho mendecih dan memalingkan mukanya ke arah lain lalu, "Dengan syarat–" Yunho kembali menatap wajah Jaejoong, "Hanya berdua denganku." Jaejoong melemah ketika mendengar persyaratan Yunho. Lagi – lagi Yunho mengambil kesempatan dari situasi. "Terserah kau saja."

"Tidurlah. Sudah malam."

"Aku tahu itu."

"Selamat malam Jaejoong-ie" ucapan itu membekukan sekejap tubuh Jaejoong yang sedang memutar knop pintu.

"Ah– ne, selamat malam Yunho."

Cklek!

DEG! DEG! DEG!

"Sial! Kenapa hanya ucapan seperti itu jantung ini seperti ingin lompat dari tempatnya." Jaejoong merutuki jantungnya yang tak bisa berhenti berdegup kencang saat keluar dari kamar Yunho. Badannya bersandar di balik pintu sambil memegang dadanya, "Diamlah! Aku tak bisa berpikir. Tenang, hanya teman. Ya! Hanya teman." Bahkan ada banyak definisi teman di dunia.

_0_

Changmin sibuk dengan pikirannya sambil mengetuk mejanya berulang kali. "Dia tidak datang. " Posisinya berubah menjadi bersandar, "Apa karena akhir – akhir ini dia sedikit berbicara denganku. Bahkan menyerahkan berkas saat aku tidak di ruangan."

Tuk!

Satu pensil mendarat mulus di kepala Changmin, "Akh! Ya, siapa yang melakukannya?"

"Aku. Kenapa?"

"Song Mino! Kau- apa masalahmu?"

"Tentu saja bermasalah, bodoh! Mana proposal pendanaan yang kuminta?"

Changmin bermalas, "Belum! Aku sedang tidak baik." Mino menatap malas Changmin, "Alasan bodoh macam apa itu? Kalau saja Arial tidak ijin, aku sudah meminta dirinya yang bisa diandalkan dibanding dirimu." Mendengar kata Arial, Changmin segera mendekat kepada Mino, "Arial ijin untuk apa?"

"Apa pedulimu?"

"Hey! Aku juga teman seruangannya. Kenapa hanya kau saja yang tahu dia tidak masuk?"

"Haha. Jadi kau iri? Tentu saja tahu, aku sering bermain ke rumahnya."

Changmin mengerjap matanya mencoba mencerna setiap perkataan yang dilontarkan oleh huge boy di hadapannya. "Be-er-ma-in? Kau- bermain ke- rumahnya?" Mino melipat kedua tangannya di dada dan mengangguk mantap, "Semalam aku ke rumahnya dan dia bilang kalau hari ini dia tidak ingin masuk kerja."

"Tidak ingin? Memang ada masalah apa?"

"Ssp, banyak bertanya," mata Mino membola, "Kerjakan tugasmu!"

"Hei! Aku lebih tua darimu. Bicaralah dengan sopan."

Mino tidak menghiraukan dan kembali fokus kepada laptopnya. Changmin menggerutu dengan ucapan tidak jelas di belakang Mino, "Hey! Aku tahu kau menggerutu di belakangku." Merasa ketahuan, Changmin kembali duduk di meja kerjanya dengan perasaan campur aduk.

"Tidak ingin bekerja? Ya! Song Mino berikan aku alamat rumahnya!"

_0_

"Kau sudah selesai?"

Yoochun keluar dari pintu ruang kerjanya dan menghampiri Junsu yang sedang membereskan kertas – kertas yang berserakan di mejanya. Semenjak Yoochun bekerja, Junsu-lah yang menjadi sekretaris pribadi Yoochun di perusahaan. Bagi Yoochun, hanya Junsu yang bisa mengatur jadwal hidupnya dari dia bangun tidur sampai kembali lagi ke pulau kapuk tercinta.

"Sebentar lagi. Aku masih mencari sesuatu."

"Mencari apa?"

"Er- benda dari ibuku."

Yoochun ber-oh dan merogoh saku jasnya, "Ini?" Yoochun menyodorkan sebuah gelang berbandul hati dengan gambar foto seorang ibu muda dan anak kecil dipelukan ibu muda tersebut. "Kau- dari mana- kenapa-" Junsu terbata melihat gelang yang ia cari berada ditangan Yoochun. "Maaf, aku melihatmu di bangku taman setelah kita makan siang. Aku juga mengikutimu saat kau berjalan ke kantor, dan kau menjatuhkan gelang ini saat ingin memasukkan ke kantung celana."

Junsu mengambil gelang tersebut dan memasukkan ke dalam saku kemejanya. "Itu fotomu dan ibumu?" tanya Yoochun. Junsu terkejut saat Yoochun bertanya hal tersebut. "Ah- iya." Yoochun menggenggam tangan Junsu dan tersenyum mengembang untuk mencairkan suasana canggung semacam ini, "Ayo kita pulang."

_0_

Weekend..

Hari ini sangat berarti untuk Jaejoong, dengan alasan Yunho mengabulkan permintaannya untuk liburan. Berlibur di sebuah pantai yang masih jarang dikunjungi para wisatawan. Akhirnya dia bisa meninggalkan sejenak masa – masa dirinya yang berada di kerumunan orang, kantornya.

Oh! Jangan lupakan satu syarat Yunho, bahwa dia akan ikut berlibur dengan Jaejoong. Jaejoong menghela napas pajang mengingat syarat Yunho. Demi liburan yang amat langka ini, dia mengesampingkan ego-nya. Toh ini juga uang Yunho, bukan?

"Apa? Hanya satu kamar? Ta-tapi Bagaimana bisa?"

"Kami minta maaf, Tuan. Kami juga baru mengetahui masalah tersebut tadi pagi. Kami mohon maaf sebesar – besarnya."

Yunho yang sedari tadi diam untuk mendengarkan alasan yang dilontarkan manajer resort itu akhirnya bereaksi, "Sudahlah! Ini bukan salah mereka."

"Ssp! Kau dengar apa yang dia ucapkan? Sisa satu kamar."

"Lalu harus bagaimana? Kau ingin tidur di kamar dengan langit – langit yang rusak parah?"

"Kita cari tempat lain saja."

"Aku tidak mau."

Jaejoong membola, "Ya! Kau- mana bisa begitu?"

"Ini uangku, aku berhak untuk memutuskannya. Kalau ingin mencari resort lain, gunakan uangmu."

Jaejoong berpikir sejenak. Oke! Tujuan utamanya dia bisa berlibur tanpa harus mengeluarkan uang. Tapi- dia harus satu kamar dengan Yunho. Jaejoong menjerit halus memikirkan ini semua.

"Maaf, Tuan. Teman Anda sudah pergi," ucap receptionist resort tersebut.

Dan benar! Yunho sudah melenggang pergi ke kamarnya diikuti bell boy, "Ya! Jung Yunho! Ah sial."

"Memang kamar mana yang rusak, manajer?" tanya receptionist ingin tahu.

"Tidak ada." Ujar enteng menajer tersebut, yang hanya ditanggapi kerlipan lucu sang receptionist. "Dari awal memang Tuan Jung hanya memesan satu kamar saja. jika kau tidak mengerti masalahnya, lebih baik kau mengerjakan tugasmu."

"Baik, Manajer. Maaf!"

_0_

Jaejoong terkagum melihat view pantai yang bisa dilihat dari dalam kamar.

"Wah! Indah sekali. Kita bisa melihat langsung pantai dari sini," Jaejoong membuka pintu kaca dan berjalan menuju balkon, "Woah! Bahkan aku bisa duduk santai. Hah~ indahnya liburannn~" Jaejoong membaringkan dirinya di bangku relaksasi.

Yunho membututi Jaejoong berjalan ke balkon dan memandang keindahan, "Nikamtilah. Aku membayar mahal untuk liburan ini." Jaejoong memandang Yunho yang berada disampingnya, dengan tersenyum. "Terimakasih atas liburannya."

DEG!

Jangan katakan bahwa ada sedikit rasa menggelitik di hati Yunho saat Jaejoong mengucapkan terimakasih kepadanya. Mendadak perutnya terasa aneh dan semburat merah mendesak keluar dari kulit wajahnya. Mencoba mengalihkan keadaannya dihadapan Jaejoong, Yunho berdalih, "Aku ingin mandi dulu."

Yunho bergegas menuju kamar mandi dengan langkah cepat. Jaejoong melihatnya hanya mengedikkan bahu dan masih berbinar – binar dengan keindahan pantai di hadapannya. Dikamar mandi, Yunho bersandar di balik pintu dan memegang dadanya yang sedikit nyeri, " Kenapa ini? Whoa! Jantungku seperti sedang berlari sprint." Apa itu cinta, Tuan Jung? Bahkan dia saja tidak mengerti yang terjadi.

_0_

Arial berjalan menyusuri taman kota sambil menyumpal telinganya dengan earphone. Senandung kecil bergumam dari bibirnya mengikuti irama yang ia dengarkan.

Kimi no koemo sono hosoi katamo

Sono hitomi mo boku no mono jyanai

Donna ni subanii demo

Kimi no mirai kawa sana kakiri

Kono omoi wo kanaeru koto wa dekinaiyo

Hitotoki no yume itai hodo suki nano

Yoru ga omotteku (Tohoshinki – Taxi)

PUK!

Merasa bahunya ditepuk, Arial membalikkan badan dan menemukan seorang pria tinggi dengan kaus Calvin Klein berwarna peach yang dipadu celana pendek berwarna putih, mengekspos kaki panjangnya yang melebihi standar.

"Shim- Ch-changmin!" entah kenapa, rasanya untuk mengeluarkan nama pria tersebut seperti ada paku yang menahan tenggorokannya. Pria tersebut hanya memasang senyum kuda dan melambaikan tangannya semangat.

"Kau sedang apa di sini?"

Pertanyaan bodoh terlontar begitu saja saat Arial mencoba untuk memikirkan bagaimana dia akan memulai percakapan dengan pria dihadapannya.

"Aku sengaja menunggumu di sini."

"Menungguku?"

Changmin mengangguk mantap,"Aku ingin berbicara denganmu. Kau sendiri, bukan?"

"Iya. Tapi Kau- Ya! Kau! Kenapa menarikku?" Arial menjerit saat tanggannya secara paksa ditarik oleh Changmin menuju kursi taman. Arial mendudukkan badannya, masih tidak mengerti maksud Changmin menemuinya. "Jadi, untuk apa kau menarikku kemari?" tanya Arial langsung

"Aku ingin meminta maaf. Selama di kantor aku selalu membuat kesal dirimu."

Arial mengerjap matanya lucu, mencerna apa yang Changmin lontarkan barusan. Hening sesaat, karena mereka berdua fokus dengan pikirannya masing – masing. "Aku sebenarnya ingin meminta maaf saat melihatmu menangis. Mungkin terdengar bodoh, tapi hatiku merasa benar – benar bersalah saat melihat keadaan dirimu. A-aku mint–"

"Aku memaafkanmu," potong Arial dan menekuk wajahnya –yang baginya tidak boleh ditampakkan–. Changmin melihat ke arah Arial, "Apa?"

Mantap hati, Arial mendongakkan kepalanya dan berusaha membalas pandangan Changmin. "Aku menangis bukan karena kejahilanmu. Aku hanya sedang penat dengan kehidupanku. Haha, jadi jangan merasa bersalah karena tangisanku."

"Apa itu benar?"

Arial mengangguk, "Walaupun setiap hari kau menyebalkan. Tapi aku tidak pernah marah– " Arial menepuk bahu Changmin," Jadi jangan merasa bersalah karena hal itu."

"Lalu, kenapa kau tidak masuk kerja? Mino bilang kalau kau sedang tidak ingin bertemu denganku di kantor."

"Kapan aku mengatakan seperti itu?"

"Tapi dia bilang seperti itu."

Arial menggeleng, "Aku tidak masuk kerja karena mengambil cutiku. Aku membantu temanku pindah ke rumah barunya."

Changmin mulai berpikir kalau Mino mulai mempermainkan dirinya yang notabene senior di kantornya. "Lalu, kau mengatakan tidak masuk kepadanya saat dia bermain ke rumahmu?"

"Tidak, aku bertemu dengannya di taman ini. Sama seperti dirimu."

GOTCHA!

Mata Changmin berkilat saat mendengar pernyataan yang sebenarnya. "Bagaimana bisa kalian bertemu dan apa yang kalian bicarakan?"

Arial meragu, "Memangnya ada apa?"

"Katakan saja! Aku mulai berpikir kalau dia mulai mempermainkan diriku ahir – akhir ini."

"Seminggu yang lalu, aku bertemu dengannya di taman ini. Dia sedang berolahraga dan aku memang rutin berjalan – jalan di taman saat akhir pekan. Dia bilang ada rencana untuk berlibur dengan kekasihnya dan ingin mengambil cuti. Aku menimpali dengan berkata aku juga ingin mengambil cutiku untuk istirahat di rumah dan membantu temanku pindah rumah. Hanya itu saja, dan lagi dia hanya bertanya apa aku sering datang ke taman ini setiap akhir pekan dan kujawab rutin setiap pagi di akhir pekan. Selesai."

Mendengar apa yang dilontarkan oleh Arial, sukses membuat Changmin mengusap wajahnya kasar sambil memutar percakapan dirinya dengan Mino saat di kantor.

"Ayo, berikan alamat rumahnya, Song Mino."

Mino tetap melanjutkan pekerjaannya, "Untuk apa? Kau ingin membuat kegaduhan di rumahnya?"

"Cepat berikan alamatnya! Ya! Aku ini seniormu di kantor , berbaik hatilah denganku."

"Tidak! Lebih baik kau tunggu saja lusa saat akhir pekan di taman. Dia selalu berjalan – jalan saat pagi hari di sana."

"Sialan, Song Mino. Aku benar – benar dipermainkan."

Kedua alis Arial bertaut, pertanda tak mengerti. Sebenarnya ada apa dengan Changmin dan Mino? Batin Arial

"Tapi benar, kan, dia tidak pernah ke rumahmu?"

"Tidak. Bahkan tahu rumahku saja tidak. Lalu apa hubungannya dia pernah ke rumahku dengan dirimu?"

Changmin berdehem, "Ya, karena aku– tidak suka."

"Apa?"

"Aku tidak suka ada yang lebih dekat denganmu selain aku."

Arial memproses apa yang ia dengarkan, hingga mengerti saat melihat senyum malaikat yang terpatri di bibir Changmin, "Maksudnya kau–"

TBC..

Dua bulan berlalu, dan sepertinya aku sudah mulai bosan untuk melanjutkan. Terimakasih untuk yang sudah membaca, review, dan mengikuti cerita ini. Mohon maaf jika ada kesalahn. Aku mengganti rate ini jadi T karena sedang tidak berminat untuk mengarang dengan konten dewasa. Bye~ Review ya yang merasa sudah membaca ini