HAI SEMUA
MAAF AKU GA APDET LAMAAA SEKALI T_T BENERAN MINTA MAAF D':
Dan chap kali ini 5 k… semoga kalian puas deh…
Dan baca curcolan di akhir ya :)
HUMANITY'S STRONGEST...?
-Chapter 7-
( Last Chapter )
Author's note: Typo(s), harsh word
shingeki no kyojin © Ishiyama hajime
Kamar itu terasa begitu sunyi sejak pemilik aslinya pergi. Cahaya bulan mengintip masuk dari celah jendela yang tidak tertutupi, udara luar yang dingin tidak begitu terasa di dalam rumah yang hangat tersebut. Suasana ruangan yang Mikasa rasakan akhir-akhir ini tanpa kehadiran Eren di sana.
Gadis itu baru saja selesai membersihkan dirinya setelah habis dihujani beribu pertanyaan dari ibu tirinya. Berbicara tentang ibu tirinya itu, ia sangat mengkhawatirkan Mikasa.. sama seperti saat mendiang ibunya mengkhawatirkannya saat ia berlama-lama di dalam hutan.
"Aku tertidur saat memanjat pohon bu."
Satu-satunya alasan yang terlintas di pikiran gadis tersebut ketika ia ditanya mengapa pulang begitu sore.
"Lalu kenapa bajumu kotor dan tanganmu memar-memar begitu?"
Pertanyaan yang satu itu membuat Mikasa terdiam, panik, sedikit takut, dan membuat rona merah tampak samar di pipinya. Ia tidak mau ibu tirinya itu tahu ia habis latihan bertarung dan sekelebat sosok RIvaille melayang di otaknya.
"A-aku terjatuh dari pohon itu.."
.
.
Mikasa benar-benar lega ibu tirinya tersebut akhirnya menghentikan lontaran-lontaran pertanyaannya. Gadis itu lalu menjatuhkan tubuhnya di kasur, membanting punggung tangannya dengan benda empuk tersebut.
"Assh.."
Ia meringis lalu mengusap kedua tangannya seraya menghilangkan rasa nyeri di punggung tangannya tersebut.
"Kompres tanganmu dengan air hangat, akan mengurangi rasa sakitnya."
Bayangan sosok lelaki itu kembali muncul di benak Mikasa. Mengingat kembali latihan 'neraka' bersamanya sudah membuat Mikasa sedikit kesal namun sekaligus berterimakasih. Gadis tersebut tersenyum kecil, membuat wajah orientalnya tampak lebih cantik dibawah sinar bulan yang jatuh mengenai wajahnya.
Ia memainkan poni rambutnya yang basah setelah keramas tadi, mengingat sentuhan lelaki itu di tadi siang.
Sentuhannya kasar..
Namun bisa berubah menjadi begitu lembut..
Sentuhannya dapat selembut kapas, membuatnya begitu nyaman..
Mikasa pun bangkit dan duduk di tepi kasurnya sambil memijit-mijit lehernya.
"Ah.. Sebaiknya aku mengompresnya."
.
.
.
Wall Sina
Bar tersebut tetap ramai seperti biasanya, bahkan bertambah pengunjung, namun Audrisa merasa cemas akhir-akhir ini. Ia menyadari kalau atap barnya selalu kosong dalam minggu terakhir, tidak ada lagi remaja berambut hitam dan bertubuh minimalis yang mampir untuk minum kopi di barnya setiap pagi.
Sejak munculnya Rivaille, bar itu selalu bebas dari perampok dan berandalan. Entah sihir apa yang Rivaille tempelkan di bangunan dua lantai tersebut, Audrisa sudah tidak peduli sekarang. Tidak pernah sekalipun Rivaille pergi lebih dari lima hari, walau Audrisa juga tidak mengerti dan tidak tahu-menahu tentang apa yang remaja tersebut kerjakan.
"Lantai atap pasti sangat kotor sekarang.." gumam wanita itu sambil mengelap gelas-gelas kacanya.
Ia menatap lurus kearah pintu utama bar yang tak hentinya terbuka-tutup oleh pelanggan-pelanggannya, berharap akan muncul sosok bertubuh pendek dengan sorot mata tajam yang biasa menyapanya hampir setiap pagi.
.
.
"Bos.. apa perlu aku suruh anak-anak buahku mencari Rivaille dan menyeretnya kembali?"
Seorang pria tua yang duduk di kursi kayu di hadapan sebuah meja tersebut tampak tidak menghiraukan perkataan lelaki di depannya. Ia hanya terduduk diam di kursinya sambil memandangi gerakan awan di langit cerah yang memayungi kota tersebut melalui jendela tuanya, memangku wajahnya dengan telapak tangannya.
Tangan kirinya terangkat dan dikibas-kibaskan di udara, mengisyaratkan si anak buah untuk meninggalkan dirinya sendiri di ruangan tersebut. Anak buahnya pun segera keluar dari ruangannya setelah membungkukkan badannya.
Pria tua itu bangkit dari kursinya, berjalan menghampiri jendela, membukanya dan menghirup dalam-dalam udara pagi yang segar.
"Aku tahu-"
Angin bertiup menampar kulitnya yang sudah berkeriput karena umur. Cahay matahari pagi menyapa matanya yang sudah tidak kuat melihat sinar yang begitu terang, namun begitu hangat.
"-Suatu saat gembok kunci di hatimu akan terbuka dan.. sayap di punggungmu akan terkembang-"
Pria itu lalu melihat jalanan di bawah, memperhatikan beberapa anak buahnya yang tampak berbincang-satu sama lain sambil menghirup cerutu. Merasakan ada seorang yang hilang diantara mereka, seornag yang begitu ia kasihi walaupun ia begitu kejam memanfaatkannya.
"—Tapi aku tidak tahu akan secepat ini Rivaille.." Ia tertawa sendiri, tawa yang terdengar pahit dan sakit.
Pria itu membelakangi jendelanya dan melihat sebuah gambar berantakan di atas meja hiasnya. Sebuah gambar yang penuh coretan dan guratan-guratan kasar, namun di bingkai dengan sangat indah.
"Ahaha.. Lagi-lagi—" Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lalu mengusap sudut matanya yang sedikit basah.
"Kau kotor sekali nak, badanmu juga sangat kurus... bagaimana jika kau pergi ketempatku?"
"-Aku kehilangan anakku."
.
.
.
Pagi hari yang tidak menyenangkan bagi seorang Rivaille pun dimulai.
"Apa mau kalian kesini?"
Tanyanya ketus pada kedua tamu yang sekarang berdiri di depan pintunya.
Baru saja Rivaille bangun pagi dengan keadaan kacau karena semalaman ia meringkuk 'sedih' di sudut kasurnya, memikirkan kedua orangtuanya. Ingin sekali rasanya menangis, namun tidak ada airmata yang keluar malam itu.
"Kau tidak perlu mengatakan maaf, ayah. Aku.. mengerti…"
Yang ia mengerti adalah ayahnya meminta maaf karena telah meninggalkannya, tapi ia merasa ada yang janggal dengan permintaan maaf itu.. dan membuatnya tidak mengerti. Membuatnya tidak dapat memejamkan matanya semalaman.
Dan pagi hari saat ia baru saja bisa menutup matanya selama satu jam, sebuah ketukan di pintunya yang sangat berisik membangunkannya dari alam mimpi.
Kedua tamu nya tersenyum dan salah satunya dari mereka tersenyum sangat lebar, jaket cokelat dengan lambang dua sayap di dada mereka terpampang jelas. Setelah memberikan pertanyaan singkat, Rivaille pun membanting daun pintunya menolak menerima tamu tersebut, apalagi mereka orang yang paling Rivaille tidak ingin temui sekarang.
Sepasang prajurit Scouting Legion.
BRAK
Sebuah kaki menahan pintu tersebut, bola mata Rivaille menangkap momen itu dan mendorong daun pintu itu lebih kuat, tapi sia-sia karena sang pemilik kaki sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Maaf menggangumu pagi-pagi begini, perkenalkan aku Hanji, Hanji Zoe."
Seorang prajurit wanita berkacamata dengan kuncir ekor kuda dan ekspresi wajah yang terlihat begitu penasaran dengan Rivaille pun menjabat tangan lelaki itu tanpa permisi.
Ia lalu menatap lekat wajah Rivaille yang langsung dibalasnya dengan tatapan tajam.
'Apa masalah wanita ini?' batin Rivaille.
Prajurit wanita itu membulatkan matanya sambil mengobservasi sosok Rivaille dan Rivaille menatap nya dengan jijik.
Sebuah tangan menepuk pundak Hanji, tamunya yang seorang lagi itu tersenyum pada Rivaille walau dengan wajah yang penuh memar. Rambut pirang klimisnya terlihat rapi pagi ini, dan seperti biasa iris birunya tampak tegas melihat Rivaille. Ingin sekali Rivaille meninju wajh itu pagi ini, berani sekali ia mengunjungi RIvaille setelah kejadian kemarin.
"Hanji, kurasa sudah cukup," katanya sambil menarik rekannya tersebut agar menjauhi Rivaille.
"E—eeehh.. tapi aku mau memperhatikannya lebih lama." Hanji memajukan bibirnya kecewa dengan keputusan tersebut.
BRAK
Sebuah tinju keras menghantam permukaan dinding kamar Rivaille, membuat dinding itu sedikit cekung kedalam, Rivaille lalu menarik tangannya kembali.
"Aku tidak menerima tamu, keluar," ujar Rivaille.
Irvin malah mendekati Rivaille, "Maaf Rivaille, kami tahu kunjungan kami tidak sopan."
Lelaki berambut pirang itu lalu membungkukkan badannya pada Rivaille, ia kembali berdiri tegak dan meletakkan kepalan tangan kanannya di dada sebelah kirinya.
"Aku minta maaf atas sikapku kemarin, adalah sebuah kehormatan dapat bertemu dengan putra dari almarhum kedua mayorku."
Sebuah kilatan tampak di bola mata kelabu Rivaille, lagi-lagi ia menyinggung tentang orangtuanya.
"Sudah selesai? Aku meminta kalian untuk pergi dari tempat ini sekarang." Rivaille menghiraukan perkataan Irvin. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju sebuah gantungan kayu di pojok ruangan, lalu mengambil jas hitam yang tersangkut disana.
"Kau ingin merasakan tendanganku lagi, huh?"
"Rivaille.." Kali ini Hanji Zoe yang berbicara, wajahnya akhirnya terlihat normal sekarang.
"Kami ingin membicarakan sesuatu," lanjutnya.
Rivaille mengenakan jas hitamnya dengan rapi, kemudian memasangkan sebuah kain putih di sekitar lehernya.
"Bisakah kau menatap kami, Rivaille? Ini sangat penting," kata Irvin.
Rivaille melirik ke belakang sambil tangannya memainkan kain itu, menariknya, melipat lalu menebas-nebas permukaan kain yang sudah terikat rapi di lehernya.
"Sangat penting? Benarkah?" Rivaille akhirnya menghadap mereka berdua.
"Aku tidak peduli," lanjutnya.
Lelaki berambut hitam itu berjalan melewati mereka berdua menuju pintu keluar, menghiraukan panggilan Hanji padanya.
"Rivaille."
Suara Irvin yang memanggilnya menghentikan langkah kaki itu. Ada sebuah kekesalan di lubuk hati Rivaille kepada prajurit yang satu itu, dimana ia yakin sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan Irvin.
Irvin alasan terbunuhnya orangtua Rivaille…
Rivaille tidak tahu pasti kronologis yang terjadi saat mereka meninggal, yang ia tahu hanya Irvin terlibat. Ia sebenarnya ingin sekali menanyakan bagaimana saat-saat terakhir mereka.
Tapi mengetahui hal itu saja sudah membuat Rivaille frustasi, tenggelam dalam emosi. Amarah yang begitu besar menyelimuti Rivaille semalaman, hampir membuatnya gila.
Ingin sekali rasanya membunuh prajurit berambut pirang tersebut, ingin rasanya melempar mayat prajurit tersebut ke lautan Titan. Tapi untuk apa? Rivaille tidak berpikiran sedangkal itu, ia masih memiliki akal sehat.
Membunuh bukanlah jalan keluar.
Lagi pula orangtuanya telah lama pergi, ia merasa tidak perlu tahu dengan jelas bagaimana mereka gugur.
Aku bukan anak kecil lagi.. aku sudah dewasa..
Aku tidak perlu menangisi mereka.
Pikiran tersebut terngiang di benak Rivaille, memenuhi isi kepalanya agar menghilangkan kesedihan yang ia pikir sangat tak berguna semalam.
Irvin menepuk pundak kiri Rivaille, menghentikan langkah kaki lelaki tersebut.
"—Rivaille… Maukah kau bergabung dengan Scouting Legion?"
.
.
.
"Buku tentang dunia luar?"
Armin mengangguk mantap, iris birunya tampak berbinar-binar.
"Kemarin aku sempat membaca buku tersebut di ruangan pribadi kakekku, secara diam-diam tentunya. Mikasa, kau harus tahu apa yang ada di luar sana!" seru Armin.
Mereka berdua duduk didekat tepian sungai yang berada di pinggir kota Shiganshina, memain-mainkan tapak kaki mereka pada permukaan air yang menyegarkan. Tak banyak yang mengetahui tempat tersebut, Eren lah yang menemukannya.
"Lalu dimana bukunya?"
Armin menundukkan wajahnya, "Aku tidak bisa membawanya keluar, bisa ketahuan kakekku.. padahal disana ada gambar-gambar dunia luar!"
"Apa yang ada diluar?" tanya Mikasa.
"Seingat yang dapat kubaca, di luar sana ada hamparan air yang sebagian besar menutupi permukaan bumi ini, seluas mata memandang! Air itu disebut lautan."
Mikasa membesarkan matanya, terbawa oleh semangat Armin bercerita akan dunia luar membuatnya berdebar-debar memikirkannya. Sebuah cerita yang tidak masuk akal menurutnya.
"Air? Seberapa banyak?"
"Menurut buku tersebut sangat banyak! Mungkin air tersebut mampu menutupi kota ini bahkan seluruh Wall Maria!"
"Sebanyak itu? Dunia luar sebesar itu?" Mikasa pun mulai bersemangat menyahut Armin.
"Bukan hanya itu Mikasa! Ada gurun pasir, daratan es, lautan api, dunia luar sangat luas!" seru Armin sambil mengangkat tangannya membentuk sebuah bayangan imajiner di hadapannya, kedua matanya tampak bersinar.
"Be-benarkah? Kisahmu itu seperti cerita dongeng," kata Mikasa tak percaya menatap gesture tangan Armin sambil mengayun-ngayunkan kakinya, membuat riak air di permukaan sungai.
"Aku juga tidak percaya awalnya, makanya aku berharap kita dan Eren dapat pergi keluar sana bersama-sama dan melihat dengan mata kepala kita sendiri," kata Armin dengan senyum yang sangat lebar.
"Aku tidak sabar untuk memberitahukan ini semua pada Eren ketika ia pulang nanti," lanjutnya.
"Mm, kau harus menunjukkan buku itu kepada Eren."
Mikasa memperhatikan sahabat barunya tersebut sambil tersenyum, sebuah impian gila tersimpan dalam benaknya akibat bocah itu. Gadis tersebut menatap ke atas, memperhatikan langit dimana sekawanan burung sedang terbang melewatinya.
Begitu bebas, tidak terikat, dan sangat anggun.
Keluar dari tempat ini, keluar dari belenggu ini, keluar melewati dinding.
Butuh sayap sebesar apa nantinya agar mereka dapat keluar dari dinding tersebut?
Sebuah bayangan besar menutupi sinar matahari yang mengarah di tempat mereka bersantai, Mikasa dan Armin langsung menengok ke belakang mencari tahu penyebab bayangan itu.
"Ho..? Kemana teman pecundang kalian si Jaeger, huh?"
Ekspresi Armin yang sangat bersinar-sinar barusan langsung berubah penuh ketakutan, mereka anak-anak yang selalu mengganggu mereka. Waktu itu Armin dapat lolos berkat Eren dan Hannes, tapi Eren sedang tidak bersama mereka sekarang, bagaimana mereka melawan? Hanya Eren yang pemberani diantara mereka, dan Armin yakin Mikasa pasti akan ketakutan seperti saat itu.
Tiga remaja bertubuh besar mendekati mereka berdua dan salah satunya menarik kerah baju Armin, membangkitkannya dari duduk.
"Urusan kita waktu itu belum selesai, Arlert," kata nya.
Mikasa yang sudah berdiri disamping Armin mengepalkan tangan kanannya, menatap tajam kepada berandalan didepan mereka.
"APA SALAHKU?! BERHENTI MENGGANGGU KAMI!" seru Armin mengumpulkan seluruh keberaniannya, ia harus melindungi Mikasa karena ia laki-laki.
Anak nakal itu malah membanting tubuh kecil Armin ke tanah, "Kau aneh, menjijikkan, sama seperti Jaeger, kalian semua sama saja," katanya sambil melihat Armin dan Mikasa bergantian.
"Kalian pantas untuk dipukuli dan dibuat babak belur—"
"Pergi dari sini." Mikasa memotong perkataan berandalan tersebut.
Mikasa menatap ke bawah, menyembunyikan setengah wajahnya ke dalam syal.
"Hee? Kau bilang apa perempuan?!" Anak berandalan lainnya menarik syal Mikasa, memperlihatkan mimik wajahnya yang mengerikan. Armin melotot dan menggeleng-geleng menatapi Mikasa dalam, seakan-akan mengisyaratkan agar gadis itu menutup mulutnya.
"Kalianlah yang pecundang disini," kata Mikasa yang tentu saja menyulut api kemarahan pada anak-anak nakal tersebut.
"Kau lancang sekali gadis kecil!" Anak nakal itu semakin menarik syal Mikasa dan pemiliknya yang tidak terima itu menepis tangan tersebut.
Aku kuat..
Aku kuat..
Aku tidak lemah..
"Mikasa hentikan!" seru Armin yang langsung berdiri disampingnya dan menarik-narik lengan Mikasa, menyuruhnya agar diam.
"Tidak Armin.. aku.. bisa mengalahkannya."
Armin selintas menaikkan alisnya, ia berpikir gadis itu sudah gila. Mikasa malah mendorong Armin agar menjauhinya lalu berdiri di depan ketiga berandalan tersebut dengan tatapan tajam, ia mengepalkan kedua tangannya.
"Mari kita lihat siapa sebenarnya yang pecundang disini," kata Mikasa.
Ya, aku kuat.. aku tidak lemah.. aku bisa melawan mereka.
"Aku akan melindungi keluargaku."
Aku bisa menolong Armin, mereka tidak ada apa-apanya dibanding lelaki itu.
Seakan melihat sebuah titan dihadapannya, Armin menatap Mikasa tidak percaya, kakinya yang gemetaran karena ketakutan lama kelamaan menghilang melihat aksi Mikasa.
'Di-dia.. begitu kuat.. bahkan lebih kuat dari Eren..' batin Armin.
Mikasa memukul, menendang dan membanting tubuh mereka dengan tenaga yang begitu besar. Mereka tidak dapat melawan, bahkan tidak dapat melukai Mikasa sedikitpun. Dibalik wajah yang manis dan tubuh yang kecil itu, terdapat tenaga yang begitu besar.
Hanya dalam waktu yang singkat mereka semua terkapar di tanah, meringis memegangi lengan dan kaki mereka.
"Ayo Armin.. kita pergi dari sini," ajak Mikasa setelah ia berhasil merobohkan ketiga anak nakal tersebut. Gadis itu memakai sepatu kulitnya dan Armin dengan gerakan kaku ikut memakai alas kakinya.
"Mi-mikasa.. dimana kau belajar berkelahi seperti itu? waktu itu kau—"
"-Seseorang.. kau tidak perlu tahu," potong Mikasa kemudian berjalan mendahului Armin, lelaki itu langsung berlari kecil menyusulnya.
"Mikasa!" panggil Armin.
'Aku selalu tahu ada hal yang tersembunyi didalam gadis ini,' pinta hati Armin.
Gadis itu menoleh, sebuah keringat menetes dari rambutnya berkat perkelahian dengan anak-anank tersebut. Cukup membuatnya lelah, tapi Mikasa yakin dengan seiringnya waktu berjalan ia akan menjadi lebih kuat.
"Terima kasih sudah menolongku."
Dan ia bisa menolong Eren yang telah menyelamatkannya.
Mikasa tersenyum, "Kau dan Eren sudah seperti keluargaku sendiri, tentu saja aku akan menolongmu."
Tidak akan kubiarkan keluargaku terluka..
.
.
.
"Tidak."
Sebuah jawaban yang keluar dari bibir Rivaille.
Ya.. untuk apa bergabung dengan mereka? Untuk apa bergabung dengan pasukan yang dipimpin lelaki itu? Dan.. untuk apa bergabung dengan pasukan yang merenggut nyawa kedua orangtuanya.
Irvin menatap lurus kepada Rivaille, ia menarik nafas panjang dan perlahan berlutut di depannya.
Hanji sempat terkejut melihat aksi Irvin, tapi ia hanya diam memperhatikannya.
"Rivaille, kami selalu kehilangan sebagian besar dari prajurit setiap melakukan ekspedisi keluar," ujar Irvin menatap Rivaille tegas.
"Lalu? Menurutku, itu bukan masalahku."
"Tak banyak lulusan dari Trainee squad yang memilih masuk ke divisi ini, tapi aku yakin mereka yang masuk adalah prajurit yang sejati, prajurit yang rela berkorban, prajurit layaknya kedua orangtuamu."
Rivaille menggertakkan giginya, ia tidak suka arah pembicaraan prajurit muda yang berlutut didepannya tersebut.
"Aku mengakui kekuatanmu kemarin, dan aku yakin itu belum sepenuhnya. Dan lagi, kau pasti mewarisi keahlian luar biasa milik orangtuamu."
"Kami membutuhkanmu, Scouting Legion membutuhkanmu, dunia ini membutuhkanmu Rivaille," kata Irvin.
"Tch.. pilihanku adalah hakku sendiri, dan aku tetap menolak," kata Rivaille, ia pun berjalan keluar dari kamar itu.
Aku berbeda dengan orangtuaku..
Mereka memang benar-benar prajurit sejati.. dan aku tidak pantas mengikuti jalan mereka..
Mereka bertarung demi umat manusia.. tapi aku tidak pernah merelakan kepergian mereka sepenuh hati..
Menjadi prajurit Scouting Legion adalah impianku saat masih sangat kecil..
Dan aku selalu menghormati tentara tersebut, tapi lama kelamaan aku mulai membencinya seraya mereka selalu merebut waktuku dan orangtuaku.
Walaupun aku tahu mereka melakukannya demi menemukan informasi baru tentang titan, jauh di lubuk hatiku.. aku membenci lambang sayap di punggung mereka, seakan mereka akan terbang jauh meninggalkanku.
Aku seorang anak yang buruk...
Dan akhirnya lambang itu benar-benar merenggut nyawa mereka.. tak peduli walaupun titan yang membunuhnya, akibat bergabung disanalah mengapa mereka terbunuh..
Aku memang seorang anak dari dua prajurit yang kuat, tapi aku hanyalah seorang penculik hina. Dunia ini tidak membutuhkan manusia sepertiku..
Walaupun aku ingin sekali menghabisi titan-titan nista diluar sana.
Menjadi prajurit Scouting Legion hanyalah kenginginan terkubur di hatiku.
Aku tidak pernah lagi memikirkan untuk menjadi bagian dari mereka.
.
.
"Tunggu." Irvin kembali memanggilnya.
Rivaille mulai lelah dengan omong kosong prajurit tersebut, ia benar-benar bersumpah tidak akan menoleh padanya apapun alasan atau informasi yang akan diberikannya lagi.
"Setidaknya, biarkan aku mengantarmu mengunjungi makam kedua orangtuamu."
Rivaille membulatkan kedua matanya sambil menoleh kepada Irvin, alis matanya menukik menatapnya tak percaya. Itu bukan sekedar informasi bohongan kan?
"Mereka memiliki makam?!" pekik Rivaille.
"Bukan makam yang sebenarnya, tidak ada mayat yang terkubur disana, hanya sebuah prasasti batu," jelas Hanji, Rivaille kali ini menghampiri wanita itu.
"Dimana makam tersebut?"
"Di Wall Rose, sekitar 500 meter arah utara dari markas utama Scouting Legion. Disana ada sebuah pemakaman yang kami peruntukkan untuk prajurit-prajurit dengan pangkat tinggi, kebanyakan dari mereka hanyalah seonggok batu yang terukir nama, tanpa mayat yang terkubur." Kali ini Irvin yang berdiri dan menjelaskan.
Rivaille menarik bolo tie milik Irvin kasar, "Sialan, kenapa tidak memberitahu padaku sebelumnya?!" seru Rivaille.
Mereka ada disana..
"Tentu saja aku ingin memberitahumu-"
Jiwa mereka terbaring disana..
Nama mereka terukir disana..
"-bahkan dari dulu, tapi kau menghilang."
Genggaman tangan Rivaille melemah, beribu kenangan akan orangtuanya menghampiri kepalanya seakan ingin membuat isi kepalanya pecah. Lelaki beriris kelabu tersebut melepaskan Irvin dan menatap kedua prajurit di hadapannya bergantian.
"Antarkan aku ke tempat itu."
.
.
.
Mikasa berdiri disana, dibawah sebuah pohon rindang besar, menatap ke atas pohon tersebut dan memperhatikan dedaunan yang menari-nari di tiup angin dipuncaknya.
Gadis tersebut tidak langsung pulang setelah menghabisi anak-anak nakal pagi itu. Malahan pergi ke tempat dimana ia menemukan lelaki yang ia tahu bernama 'Ailier' kemarin, lelaki yang mengajarkannya teknik berkelahi luar biasa.
Mikasa ingin sekali memberitahunya bahwa ia sudah berhasil. Berhasil mengalahkan rasa takutnya dan berhasil menjatuhkan sebuah musuh.
Akhirnya Mikasa berhasil, dan semua berkat dia.
Tapi ketika Mikasa sampai disana, tidak ada sosok lelaki itu. Hanya beberapa anak kecil berlarian di sekitar padang yang luas tersebut. Sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan lelaki pendek beriris kelabu yang kemarin 'menyiksa' Mikasa.
"Kurasa ia tidak tinggal disini…" gumam Mikasa, kemudian menaruh bokongnya diatas tanah. Mencari posisi nyaman di bawah pohon tersebut.
"Mungkinkah..ia sudah pergi…?"
.
.
.
"Kapal selanjutnya baru akan berangkat sekitar dua jam lagi."
Irvin menghampiri Rivaille yang berdiri melipat kedua tangannya dengan wajah penuh kekesalan mendengar omongan Hanji di depannya.
"Apa aku harus mendengarkan omong kosong wanita ini dua jam lagi?" kata Rivaille.
"E—eeh aku kan menceritakan tentang eksperimenku untuk membuat titan bersin-bersin, susah loh menggapai hidung mereka-," ujar Hanji yang semua kata-katanya bagaikan rangkaian huruf yang masuk ke telinga kanan Rivaille dan lolos ke telinga kirinya.
"Kita hanya bisa menunggu," kata Irvin.
Hanji memegang atas kepala Rivaille, "Hmm… Kopral.. apa kedua mayormu itu juga bertubuh pendek?" tanyanya pada Irvin.
JLEB
Rivaille menyikut perut Hanji di sekitar diafragma, membuat wanita itu langsung membungkuk kesakitan, "Ah.. aha.. maaf, maaf.." Hanji berlutut memegangi perutnya sambil mengangkat tangan menghentikan kaki Rivaille yang sudah siap menendang kepalanya.
"Rivaille.. aku tidak memaksamu untuk bergabung dengan Scouting Legion. Tapi jika kau berubah pikiran disana, kami tidak segan-segan untuk tetap menerimamu," ujar Irvin.
Rivaille menaikkan alisnya, lalu mengalihkan pandangannya dari kedua prajurit tersebut. Sebuah tempat terlintas di benaknya.
"Aku akan berjalan-jalan sebentar, aku segera kembali dua jam lagi."
Hanji yang akhirnya dapat berdiri kembali membetulkan letak kacamatanya, "Ka-kau benar kopral, ia benar-benar kuat.." kata Hanji, ia masih memegangi perutnya yang terasa ngilu.
"Bukan hanya kekuatannya Hanji.."
Bola mata Irvin memperhatikan sosok Rivaille yang menjauh.
"Aura dan sorot matanya itu penuh ambisi yang menggebu-gebu walaupun ia tidak memperlihatkannya, dan sejak kedua mayorku terus membicarakannya 9 tahun yang lalu aku selalu merasa bahwa—"
"- dia dilahirkan untuk menjadi seorang prajurit."
.
.
.
"Apa yang kau lakukan sendirian disini, Ackerman?"
Sebuah suara yang tak asing memanggilnya dari belakang, Mikasa mendongakkan wajahnya melihat lelaki yang berdiri di belakangnya tegap dengan Cravat yang tertiup angin di lehernya.
"Eh? Kau.. masih disini?" gumam Mikasa membulatkan matanya.
"Tch.. kau pikir aku apa? Roh gentayangan?"
Lelaki beriris kelabu itu mendekati Mikasa dan duduk disebelahnya.
Rivaille sebenarnya hanya iseng berkunjung ke tempat tersebut, sekedar menjernihkan pikiran sambil menyampaikan selamat tinggal pada kota Shiganshina. Ia tidak mengira kalau Mikasa akan berada disana juga.
Ya.. ia merasa akan merindukan kota kecil tersebut. Dan Rivaille harus segera kembali ke Wall Sina setelah mengunjungi makam orangtuanya.
"Jadi apa yang membuatmu kemari? Kurasa latihan kemarin sudah cukup, atau kau kesini hanya untuk main?" tanya Rivaille, ia melirik Mikasa singkat.
Mikasa menyandarkan punggungnya pada batang pohon, lengan sebelah kirinya bersentuhan dengan lengan Rivaille yang juga sedang bersandar.
"Aku berhasil."
Gadis itu tersenyum kecil, matanya tampak berkilauan menatap bola mata Rivaille. Lelaki itu sempat termenung melihat wajah Mikasa, kecantikan orientalnya begitu dahsyat ketika gadis itu sedang tersenyum.
"Aku mengalahkan berandalan yang menggangguku dan sahabatku, semua berkat kau," kata Mikasa.
"Aku tidak terkejut," sahut Rivaille, ia melonggarkan sedikit cravat yang mengikat lehernya dengan jari telunjuk.
"Kau memang sudah kuat sebelum aku melatihmu," jelas Rivaille tanpa menatap kearah yang bersangkutan. Wajahnya tampak ingin sekali melepas beban di bawah pohon itu.
Mikasa mendongakkan kepalanya memperhatikan dedaunan yang memayungi mereka. Begitu damai, begitu nyaman, semua terasa jauh lebih baik sejak saat Eren menolongnya dan saat lelaki ini menolongnya dalam arti yang berbeda.
Gadis itu kemudian memperhatikan dinding yang berdiri kokoh di kejauhan di depan mereka.
"Apa menurutmu kita bisa pergi keluar sana?" ujar Mikasa, ia tahu RIvaille juga sedang melihat dinding tersebut.
Rivaille menoleh singkat kearah gadis itu dan kembali beralih kepada pemandangan di depan mereka.
"Aku tidak tahu," gumam Rivaille.
Ya.. Rivaille saja tidak tahu bagaimana rasanya kebebasan di dalam dinding. Ia tidak tahu caranya dapat meraih kebebasan di luar sana, apalagi dengan titan-titan yang berkeliaran dimana-mana, kecuali...
"Sahabatku.. baru saja menceritakan kisah yang luar biasa," kata Mikasa, Rivaille hanya mendengarkan tanpa memberi komentar.
"Ia bilang dibalik dinding itu, di dunia luar sana, ada dunia yang jauh lebih besar dari tempat ini. Apa itu semua benar?" pinta Mikasa.
Rivaille hanya menaikkan bahunya, tentu saja ia tahu diluar sana ada dunia yang begitu luas hanya saja ia malas menjawab cerita Mikasa. Ia lebih memilih diam dan menghabiskan waktu-waktu terakhirnya di samping gadis tersebut dengan santai, menghirup aroma manis dari tubuhnya yang tercium di indera penciumannya.
"Ia bilang di luar sana terdapat air yang begitu banyak, terhampar seluas mata memandang, bukankah hal itu sangat menakjubkan?" kata Mikasa dengan bersemangat, kisah Armin barusan terbayang-bayang dibenaknya bagaikan rekaman film, namun imajinasi Mikasa begitu terbatas untuk membayangkannya.
Lelaki disamping Mikasa itu tiba-tiba menegakkan posisi duduknya, dan menatap Mikasa dalam. Bibirnya sempat terdiam kaku saat ingin berbicara,
"Kau tahu soal lautan?" tanya Rivaille tidak percaya.
"Eh? Apa hal itu bohong belaka?" jawab Mikasa terkejut dengan reaksi Rivaille. Lelaki itu tahu tentang lautan?
'Bukan.. itu bukan hal yang omong kosong..' batin Rivaille
'Aku percaya hal itu..'
.
.
Mata Rivaille kecil membulat seiring lembaran demi lembaran buku yang ayahnya perlihatkan padanya dibuka. Sebuah sketsa halus dilukiskan di beberapa halaman, sebuah gambaran suatu tempat yang berada jauh dari jangkauan imajinasi bocah itu.
"Buku ini rahasia ayah dan ibu, jangan beritahu siapapun tentang ini," kata Ayah Rivaille sembari menyodorkan buku tebal itu lebih dekat dengan Rivaille.
Jemari Rivaille langsung menari-nari diatas lembarannya, menelurusi kata demi kata yang tertuliskan disana. Ekspresi dingin milik anak tunggalnya tersebut bagaikan meleleh, ia tidak jauh berbeda dengan anak kecil pada dasarnya.
"Lautan.. samudera.. air yang sangat banyak yang menutupi bumi ini... Ayah, apa tempat itu benar-benar ada?" Rivaille menatap penuh penasaran pada ayahnya yang tengah duduk di sampingnya di meja makan.
Pria yang memiliki warna mata yang sama dengan Rivaille itu mengelus ujung kepala Rivaille gemas.
"Aku belum pernah melihatnya, tapi ayah dan ibu percaya dengan tempat itu, ya kan sayang?" Pria itu menolehkan kepalanya ke arah istrinya yang sedang sibuk dengan masakannya.
"Tentu saja Rivaille, aku percaya sejak ayahmu menunjukkan buku itu pertama kali beberapa tahun yang lalu kepadaku. Aku masih tidak habis pikir kenapa pemerintah melarang adanya informasi yang bersangkutan dengan dunia luar," ujarnya sambil mencicipi rasa masakannya.
Rivaille kembali membalik lembaran buku usang tersebut, tak hentinya terkagum-kagum dengan informasi luar biasa di dalamnya.
"Daerah kutub bumi yang penuh dengan es dan hamparan gurun pasir.. ini semua nyata? Apa kita bisa melihatnya nanti?" tanya Rivaille lagi.
"Itu lah salah satu alasan yang membuatku dan ibumu bergabung dengan Scouting Legion, Rivaille," kata sang suami.
Ibu RIvaille membawa sebauh panci berukuran sedang ke tengah meja, "Kami akan memusnahkan titan-titan itu agar kita semua dapat pergi dan melihat tempat-tempat menakjubkan tersebut," kata sang istri.
Rivaille menatap kedua orangtuanya yang tersenyum kepadanya itu dan kembali melihat isi buku, matanya memperhatikan sketsa besar lautan yang tercetak di buku tersebut.
Bagaikan surga, bagaikan sebuah tempat khayalan, yang membedakannya semua hal itu nyata, hal itu ada diluar sana dan Rivaille yakin keberadaannya.
"Lautan..."gumam Rivaille.
"Ayo kita lihat lautan bersama-sama saat kalian berhasil memusnahkan titan-titan itu."
.
.
"A-ano.. 'Ailier'..?" panggil Mikasa kepada lelaki didepannya yang terdiam.
"Lautan itu ada," katanya tiba-tiba.
"Pasti ada.. dan selain lautan, semua hal menakjubkan masih banyak diluar sana. Aku yakin itu." kata Rivaille.
Lautan.. dan janji mereka..
Mikasa tersenyum padanya, menangkap sebuah aura menyenangkan dari lelaki itu untuk yang pertama kalinya. Berbeda saat kemarin-kemarin, perkataan lelaki itu sekarang penuh dengan emosi gembira dan keyakinan. Mikasapun mengangguk mantap dan Rivaille hanya tersenyum kecil melihat tingkahnya.
"Mikasa.."
Tangan Rivaille meraih kepala Mikasa dan menarik helai rambutnya yang berada di atas kepala. Gadis itu diam dengan perlakuan Rivaille, ia sudah mulai terbiasa dengan sentuhan lelaki tersebut di kepalanya.
Rivaille menunjukkan sebuah lembaran daun yang didapatnya setelah menarik helaian rambut gadis itu.
"Terima kasih sudah mengingatkanku," kata Rivaille.
Mikasa memiringkan kepalanya, ia lalu memperhatikan gerak-gerik lelaki itu yang berusaha berdiri dari tempatnya. Ia tampak membersihkan celananya, sepertinya ia akan pergi.
"Kau akan pergi?" tanya Mikasa polos, ia benar-benar tidak tahu menahu tentang asal muasal lelaki tersebut. Tapi.. entah kenapa, ada rasa di hatinya dimana ia tidak mau lelaki itu meninggalkannya.
Rivaille berjongkok di depan Mikasa, menumpu sebelah lututnya pada tanah.
Kupikir kau tidak akan pernah menanyakan hal itu..
Sebuah pelukan hangat menerpa tubuh Mikasa, dua lengan besar merengkuh badannya dan menenggelamkan wajahnya pada dada Rivaille. Jantung Mikasa berdebar-debar, tapi ia tidak bisa menolak, tubuhnya enggan melepas pelukan tersebut. Nyaman.. begitu nyaman..
Rivaille merasakan lengan kecil meraih punggungnya, membalas pelukan yang ia berikan pada gadis tersebut. Wajah Mikasa menyembul di dekat pundak kanannya mengambil nafas, hampir tenggelam dengan lilitan syalnya.
Lelaki itu mengeratkan pelukannya pada Mikasa, melontarkan beribu perasaan yang ia timbun beberapa hari itu semenjak ia bersamanya. Sebuah waktu yang singkat namun penuh makna. Hanya sebuah pelukan yang sanggup Rivaille berikan untuk menyampaikan perasaannya, walau Rivaille sendiri belum yakin pasti apa perasaan tersebut.
Keduanya bisu, terdiam, tidak berkata-kata, hanya saling menatap ke arah pemandangan yang ada di depannya. Jemari kanan Rivaille pindah dari punggung Mikasa menuju kepalanya dan mengusap-usap rambut hitam lembutnya. Mikasa meremas pelan jas Rivaille, ia merasa seakan tubuhnya ditelan dengan perasaan yang menghujani hatinya saat itu.
"Aku harap kita akan bertemu lagi nanti," bisik Rivaille di telinga Mikasa.
Lelaki itu kemudian meleapskan pelukannya, ia menatap wajah Mikasa yang memerah seperti buah tomat segar.
Rivaille meraih kedua pipi itu dan mencium keningnya singkat, ia lalu bangkit berdiri dan meninggalkan Mikasa disana.
Mikasa masih saja terdiam setelah semua perlakuan Rivaille kepadanya, ia memperhatikan sosok lelaki itu yang berjalan menjauhinya. Gadis itu menyentuh keningnya bekas ciuman kilat lelaki itu. Berbeda dengan ciuman 'selamat tidur' ibunya tiap malam, ciuman tersebut terasa jauh lebih lembut dan hangat, juga penuh kesedihan.
Rivaille menoleh kebelakang singkat dan melihat Mikasa yang sedang termenung memeganggi keningnya, ia lalu kembali melihat kedepan. Sebuah senyum terbentuk dibibirnya membayangkan ekspresi Mikasa, tapi..
kenapa hatinya terasa perih dan sakit?
"Sial.. aku akan merindukanmu, bocah."
.
.
.
Rest In Peace
Prajurit kesayangan kami
.
Rivaille membelai gundukan batu yang ada dihadapannya, mengelus ukiran nama yang begitu ia rindukan selama ini. Semilir angin meniupkan kelopak bunga yang Rivaille beli untuk diletakkan di depan batu tersebut.
"Makam mereka selalu penuh dengan buket bunga," kata Irvin yang berdiri di belakang Rivaille bersama Hanji.
Rivaille berlutut dan menundukkan wajahnya didepan nisan itu, memanjatkan doa kepada yang ada diatas sana.
Irvin menghampiri Rivaille dan ikut berdoa disampingnya, Hanji membiarkan mereka berdua dan pergi menghampiri sebuah makam yang lain.
"Mayor, akhirnya aku dapat membawa Rivaille kesini," ujar Irvin setelah mereka selesai berdoa.
"Kurasa mereka tidak senang dengan kunjunganku, aku telah mengecewakannya," kata Rivaille, ia membersihkan debu-debu yang menutupi ukiran nisan milik orangtuanya itu.
"Tidak Rivaille, mereka selalu ada didekatmu."
Rivaille menatap Irvin, kopral itu menyentuh lambang sayap kebebasan yang terukir di nisan tersebut.
"Kurasa mereka pasti menerima segala keputusanmu, setahuku mereka sangat menyayangimu, benar kan?"
Rivaille hanya mendengus kecil, ia memperhatikan langit di atas mereka. Seakan melihat tawa mereka di layar biru lebar tersebut, Rivaille kembali mengingat kenangan dengan mereka.
'Kalian diatas sana, huh? Apa aku telah membuat kalian bangga?' batin Rivaille.
"Aku akan berada di dekat Hanji jika kau mencariku," Irvin berdiri dan menunjuk ke arah sebuah makam yang berjarak tak jauh dimana Hanji sedang berlutut disana.
Rivaille tak menghiraukan, Irvin hanya menghela nafas dan meninggalkannya.
"-Ayahmu juga mengatakan, dia minta maaf padamu.." Perkataan Irvin terlintas di benak Rivaille, ia baru mengerti maksud dari kata maaf tersebut.
Ayahnya meminta maaf atas sebuah janji yang gagal ia dan ibunya tepati.. sebuah janji yang diminta Rivaille saat ia masih sangat kecil.
Rivaille memejamkan matanya merasakan hembusan angin yang bertiup di sekitarnya,
'Ayah..
...Ibu…'
'Aku ingin meneruskan janji kalian.. boleh kan..?'
"Oi, Irvin" panggil Rivaille, Irvin yang tengah berjalan menuju Hanji pun berhenti. Sosok pendek itu berjalan pelan menghampiri Irvin.
'Aku akan melihat lautan untuk kalian.'
Sorot mata penuh ambisi itu mengguncang batin Irvin, seakan melihat tatapan atasannya dahulu yang makamnya sekarang berada di belakang Rivaille.
Dengan tangan kanan mengepal ke dada sebelah kirinya, tempat dimana jantungnya berdetak, Rivaille menatap tegas kedepan. Bagai kan petir yang menyambar, kalimat itu meluncur dari mulut Rivaille dengan mantap.
"Aku akan bergabung dengan Scouting Legion."
.
.
.
.
-The End-
Curcolan Light…
HAI SEMUAH
LIGHT SEDANG MENARI-NARI DISINI.
AKHIRNYA KELAR JUGA FANFIC MULTI CHAPTER INI.
Tapi kenapa belum ada lambang 'complete' nya? KARENA MASIH ADA OMAKE DI CHAPTER DEPAN.
Makasih buat yang udah ngikutin fic ini :'D I LOVE YOU ALL *author lagi demen pake caps*.
Semoga endingnya ga mengecewakan ya.. karena ini masih ada omakenya ahahahahahahahaha *tertawa nistah*
Sekali lagi.. FF ini terlepas dari kisah asli Isayama karena cerita di spin-off SANGAT BERBEDA, ini hanyalah sebuah ff pelampiasan rivamika saya :'D
OH IYA..
-HAPPY RIVAMIKA WEEK!-
Ooohh.. author bahagia sekali minggu ini! Penuh Rivamika bertebaran di Tumblr +_+ sekarang udah masuk Day 4, tinggal 3 hari lagi *bagi yang belum tahu, silahkan buka rivamikaweek-tumblr-com (ganti strip dg titik)* AKU CINTAH PAIR INIH, DAN AKU CINTAH YANG FANDOM INI :'D
Dan..
MAKASIH BUAT REVIEW KALIAN, MAKASIH BUAT YANG UDAH FAVE DAN FOLLOW, SINI AKU PELUK KALIAN SATU-SATU *umumuuuumuuuu
Banyak yang bilang pedo tapi mendukung, ahahahahahaha aku jugaa XD, Review kalian akan aku balas di Omake sekalian yaa dan curcolan disana bakal lebih panjang… *gausahbacagausah*
Dan mungkin Omakenya juga bakal lumayan panjang :D *siap-siap more skinship*
And at last, your review just like oxygen to me~~….
