a/n : Panda heran , pada bilang chap kemarin itu singkat, padahal chap kemarin itu 3k words lewat berapa ratus -" yang paling panjang malah, soalnya sebelum2nya (1-5) malah cuma 2k+ -_-
Balasan review (silahkan skip jha klo mau langsung baca yha :D )
Hanazawa Yuki : syukur kalo suka makasih lo :" panda terhura -eh, terharu :" wkwkkw jangan lupa baca yang ini juga ya~ ehehehe /dor
Sanaa11 : hai kawan fandom seberang :* sebelumnya maaf yah yang satunya blom saya apdet/lirik shojiki shogi/ panda kehabisan ide buat bahan pertanyaan dan makasih mau repot2 baca fic geje panda di fandom ini../gapenting/ okeh eniwei, silahkan cari aja di google images sebagai solusi instan(?) Ketik ajah VY2 Yuuma/Roro dan Vocaloid Kokone di search engine. Untuk kokonenya dengan kanji depan 'hati' :3 nah, itu dia mereka (?) makasih masih mau baca :'3
SarahAmalia : nah, anda gak terima apalagi saya.. :v /woe/ *ditabok[2]* silahkan pendapatnya untuk chap abal ini :'v /ngarep/ nah iya, Itou Kashitarou thu mailov my future husband (๑-﹏-๑) /maksa/ tunggu, aku mendengar shounen-T..hah?! APAH?! *diinjek* awas kamu ya kalo senggol2 Itou /nak/ selamat menikmati (?) chap abal ini juga... xDD
Shiro Rukami : okeh, panda-chan gpp..gtu dong biar keliatan muda /o/ *ditendang* kamu bilang pendek tapi chap kemarin itu yg paling panjang nak 8"D (dan yang inigak kalah panjang) komennya juga dong buat chap ini 8"D haha/terbang/ eh tunggu, saya lupa tanya dari kemarin...kamu ngikutin todokanai sekai juga? 0.0 iya ada sekuelnya, tuh udah panda publish cek profile panda ,kalau mau silahkan baca aja /mesemmodus/
Rika Miyake : hhahaeey saudaraku yang kepoan /jdesh/! Sini peyuk aku! /ogah/ boleh kok, kamu bahkan ku anggap saudaraku sendiri xD weleh saya mah klo ada ide langsung hajar(?) Oke, panda gak akan cepet2 apdet../dilemparmolotov/ selamat membaca saudaraku.. Semoga humornya ngena :3 eh kenapa tanganmu itu sini panda obatin *ambil golok* /gagitumbak
Vanilla Latte Avocado : sejenak saya salah baca avocado jadi gado-gado masa :" #TeamSalkus okeh nie uda lanjut yha...er kamu mau dipanggil apa? sayang, bebeb, atau apa? *digunting* iya ini dipanjangin ya jangan lupa baca /?
Saya gak tanggung jawab jika kalian jadi shipper chara2 disini. Soalnya panda lebih suka humornya ketimbang romensnya/?/
Douzo onegaishimasu~!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hah?!"
Lemper yang lagi dipegang Kokone jatuh begitu saja ke lantai. Yuuma pun menatap tajam. Mereka sama-sama bikin wajah you-don't-say.
Gak tahu? Berarti anda bukan anak meme.
Orang tua mereka kompak mengangguk.
"Ogah!" Yuuma dan Kokone chorus. Hei, baik Yuuma maupun Kokone selamanya adalah rival abadi! Gimana mau disatuin? Hell no! Bukannya menjalin rumah tangga harmonis, tapi yang ada tiap hari berada di ambang perceraian.
―lagian mereka gak ngebet nikah. Usia mereka baru 22 tahun.
"Kami sudah membicarakan ini sejak kalian masih dalam kandungan. Aku, dan suamiku beserta Shimazaki-san dan mendiang istrinya sudah sepakat." Mizki angkat bicara.
"Begitulah. Ibumu pun menyetujuinya saat itu Kokone, apa kau gak mau ibu bahagia?" Ayah Kokone berusaha menyudutkan. Wah, wah, ayah gak bener ini.
Mau sih pak, tapi gak gini juga dong!
Sumpah, Kokone gak bisa ngebayangin harus hidup sampai mati bareng Yuuma. Lagian, Kokone udah punya gebetan! Walaupun dia gak tahu harus tetap berjuang apa enggak. Enak aja main dijodohkan sepihak. Kokone masih ngerti kalau menikah itu harus dengan orang yang dicintai. Jangankan mencintai, liat Yuuma aja dia kudu ngetapelin tuh muka cakep Yuuma. Plus, Yuuma itu pelit gorengan. Bisa-bisa nanti asupan gizi Kokone dari gorengan gak terpenuhi lagi. Yuuma kan suka-suka ngatur, Kokone sebel.
Yuuma pun demikian. Gak kebayang hidup sama mesin penggiling makanan berjalan hingga akhir hayat. Ketemu hampir tiap hari dari kanak-kanak sampai sekarang aja eneg liat Kokone. Selain faktor dendam pribadi, kenal dari TK membuat Yuuma tahu kalau Kokone itu rakus. Semua diembat pokoknya. Nanti kalau mereka menikah, Kokone bakal bikin dia bangkrut!
"GAK MAU! IDIH!"
Yuuma dan Kokone saling nunjuk satu sama lain.
"Loe harus tahu Yum, gue samsek gak suka ama loe yang hobinya ngatur-ngatur."
"Emang siapa yang mau nikah ama mesin penggiling kaya elo? Bangkrut gue!"
Mizki tertawa keras. Yuuma dan Kokone otomatis noleh karena merasa heran. Itu jeng Mizki ketawanya kaya pipiyot.
"Wah, padahal kami baru bilang dijodohkan. Apa kalian segitunya ingin cepat menikah?"
"Anak muda jaman sekarang malu-malu tapi mau."
Wajah Yuuma dan Kokone memanas. Bukan malu, tapi marah sampai ubun-ubun.
"BUKAN!"
Ah, awal mimpi buruk ini baru saja dimulai.
Moshi-moshi! Love Mail Delivery!
―chapter 7―
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kokone menatap langit-langit kamarnya. Kantung mata tercetak jelas di bawah matanya. Selimutnya awut-awutan. Semalam benar-benar penuh disaster untuk dia ―dan mungkin Yuuma. Sampai-sampai dia mimpi buruk gandengan ama Yuuma di depan altar. Tolong, Kokone gak mau kejebak jeratan perjodohan sama Yuuma.
Kokone bangkit dengan rambut kusut. Gimana ini? Dia harus gimana? Mau kabur kaya dorama gitu? Tapi ke rumah siapa? V-Flower, tetangganya? Sama aja bohong. Entar dikira cuma nginep biasa. Dan satu nama terlintas.
"Aku butuh saran Luka-chan!" Kokone bersiap-siap.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mikuo ngaca di depan cermin sambil membenahi tatanan rambutnya. Ia meyakinkan usahanya hari ini untuk mengajak Kokone kencan. Meski nanti menurut Kokone tidak seperti itu. Mikuo akan membelikan Kokone makanan nanti. Pokoknya kalau ada makanan, beres deh...kemana aja Kokone pasti oke.
Ah, membayangkannya saja membuat hati Mikuo melayang ke surga. Meski belum pernah kesana sih.
Mikuo menyiapkan sebundel kartu ATM di dompetnya. Gak tahu kenapa bisa muat semua. Pokoknya hari ini dia memberanikan diri mengajak Kokone jalan! Kalau bisa mau nembak sekalian. Ah..jangan. Kalau perlu ngelamar Kokone ketika mengantar pulang doi!
Mikuo jadi gemes sendiri.
Mikuo keluar dari kamarnya dan melangkahkan kaki dengan riang gembira menuju pintu. Tadi dia lihat prakiraan cuaca dari situs BMKG untuk hari ini adalah cerah. Ah, hari yang bagus untuk masa depan lebih cerah!
Baju, check.
Parfum, check.
Ponsel, check.
Jangan salah, hanya dengan berbekal ponsel duhcomot miliknya, dia bisa melakukan ini itu. Tepuk kaki buat Mikuo.
'Kriet~'
Dan saat itulah ia melihat samwan berdiri di depan rumahnya.
Ko..kokonut?
...
Eh, ―Kokone?!
.
.
.
WHUT?
.
.
.
Ko-Kokone ngapain?!
.
.
.
.
Satu, Kokone mau ngutang beli gorengan. (Gak tahu juga, tapi ini masuk akal)
Dua, Kokone nanya gebetan. (Mikuo rasa harus segera nyari boneka santet secepatnya)
Tiga, Kokone udah notis perasaan Mikuo.
Abaikan poin terakhir.
"Shimazaki, ada ap―"
Belum sempat Mikuo menyelesaikan pertanyaan, Kokone ambruk ke arahnya begitu saja bagai kehilangan tenaga. Mikuo dengan cepat menahannya dan terlihat panik.
"Shi..Shimazaki!"
"...lan.."
"Hah?" Mikuo budeg.
"...jalan..." Lirih Kokone.
Tunggu..
Apa Kokone baru saja mengajaknya jalan?!
Hati Mikuo sudah dag dig dug der. Kokoronya serasa dipanah dek cupid. Pucuk dicinta Kokone pun tiba. Ia berbunga-bunga dengan aura penuh harap. Ya ampun! Baru aja mau ngajakin jalan gebetan, dia diajak duluan! Siapa yang gak seneng, coba?
Suara bedug bertalu-talu dalam dirinya. Bukan, bukan mau buka puasa(?) Kapan lagi dia dapat waktu berduaan dengan Kokone tanpa halangan Yuuma dan Luka. Jalan-jalan, ke taman, ke mall, ke manapun akan Mikuo temani! Dia juga gak takut duitnya habis diembat Kokone nanti mengingat Kokone itu suka makan. Saldo di rekeningnya yang selama ini ia tabung untuk masa depan mereka berdua akhirnya bisa terpakai.
Cinta ini..kadang-kadang tak ada logika..
Oh, Mikuo ingin segera joget chaiya-chaiya sekarang juga.
"Tentu sa―"
"Gue capek jalan. Rumah Luka masih jauh, anterin gue."
Krak.
Itu bukan suara wafer patah, pemirsa. Tapi suara retakan kokoro seorang Mikuo. Panahnya gak sengaja ngerobek hatinya. Lalu si dekcupid pun main pergi aja, meninggalkan Mikuo yang sengsara akibat ulah dia.
Jika dibikin perumpamaan, Kokone baru saja mengajaknya ke taman babilonia tapi tiba-tiba dia disungkurin ke jurang tanpa sebab.
"Ah, iya.."
Gagal sudah rencana yang ia susun rapi.
Seperti kata pepatah; jangan berharap terlalu tinggi jika kau tak mau terjatuh terlalu sakit.
.
.
.
.
DUK DUK DUK
"Yum! Buka pintunya!"
"Gak! Yuuma kecebong ama Kaasan!"
"Kecewa, Yum. Buka pintunya!" Koreksi Mizki di sela-sela acara gedor pintu.
DUK DUK DUK
Yuuma menatap ke arah pintu yang sudah ia ganjal pakai lemari berukuran sedang. Yuuma lagi ngambek ama nyokap dia gegara kejadian paling aneh abad ini ―semalam.
Dia dijodohin?!
Blah.
Yuuma masih waras buat gak dijodohin sama Kokone. Kenapa gak sama wanita yang lebih baik, lebih sopan, bisa masak, tidak jelalatan akan makanan (karena mungkin bisa menguras dompetnya), lebih bohay, lebih sekseh, dan ―whateverlah itu! Kenapa sama Kokone yang nyebelinnya minta ampun?!
Salah. Ada yang salah sama kedua orang tua mereka. Pasti salah satu saraf belum ditempatkan pada posisi semestinya; intinya kedua orang tua itu ga pake kira-kira ngejodohin mereka. Masa bikin perjanjian pas Yuuma dan Kokone masih era zigot? Apa mereka adalah ahli nujum?! Kok tahu aja anak mereka lahir beda gender?! Mungkin dia harus nyari sinar dekoboko atau minjem pintu anywhere werewere punya si kucing bulet―lucuk―biru tanpa kuping dari masa depan. Atau, dia kudu goyang dumang biar lupa sejenak musibah yang menimpanya; hati senang, pikiran tenang dan galau pun jadi hilang.
"Yuuma!" Ibunya masih menggedor-nggedor pintu, soalnya dibuka gak bisa ―kehalang sama lemari dibaliknya.
"KAASAN JAHAT! YUUMA BENCI SAMA KAASAN!" Yuuma membuka jendela. Ia melirik ke bawah. Kamarnya ada di lantai dua dan memikirkan bagaimana caranya kabur dari kesepakatan sepihak.
"Benar-benar cinta? Iya, kaasan juga cinta sama Yuuma!"
Woi, woi.
Yuuma keinget cerita Rapuh Sel. Itu loh, dongeng anak-anak dimana sang putri kabur dengan rambut panjangnya dari menara petronas...―eh, bukan ya?
Tapi, berhubung Yuuma cowok yang notabene gak punya rambut bermeter-meter (kecuali dia punya wig yang panjangnya se anyer-panarukan), Yuuma menarik laci meja yang berada tak jauh darinya. Yuuma menemukan sebuah tali tambang ―tapi sepertinya kurang panjang.
"Ada gorengan seplastik nih! Tadi ayahmu kelebihan bikin sebelum berangkat jualan." Mizki berusaha 'nyogok' anaknya dengan makanan favoritnya.
Tidak, kekesalan Yuuma gak bisa dibayar pake gorengan! Meski Yuuma sedikit ngiler juga sih..
Yuuma liat lagi ke bawah jendela, dan ia melihat sebuah mobil melintas.
Wush
Sekilas ia melihat siapa yang duduk di jok depan penumpang. Ada sesuatu berwarna biru.
Tu-tunggu?!
Masa sih itu Shion?!
Lalu kenapa Shion ada di area kompleksnya?!
Yuuma ngambil ketapel di laci meja. Dengan amunisi beberapa kantong kerikil yang ia masukkan ke dalam sakunya, Yuuma menggeser lemari dari depan pintu dan memutar kenop.
"YUM! NANTI― EH YUUMA?! MAU KEMANA?!" Mizki heran. Seingatnya, terakhir kali Yuuma membawa ketapel adalah di tahun terakhir di SMA-nya.
Yuuma gak mau tahu, dia mau balas dendam sama Shion gara-gara kasus ngelap ingus. Beraninya pula itu anak mengotori kompleksnya.
Yuuma pun keluar rumah dan mengambil sepedanya untuk mengejar Shion, ecieh.
Tunggu, sejak kapan Yuuma punya sepeda?
.
.
.
.
.
.
"Hah..hah..."
"Nghh..cepat..Hatsune..panas nih.."
Mikuo kepayahan sedangkan Kokone klogat-kloget pelan kaya ulet di atasnya.
Terik mentari musim panas―meski masih pagi― membuat Mikuo harus berjuang sepenuh jiwa dan raga menyusuri jalan ke rumah Luka yang terhitung dekat. Bahkan dalam pandangannya, semua seakan mulai blur.
"Hatsune, cepet dong."
Enak ya ngomong doang. Jarak tiga ratus meter seakan bagai neraka dunia meski kini Kokone bersamanya.
Demi Jashin! Kokone berat beud. Makan apa aja sih Kokone? Setahunya Kokone sering makan bakso abang Yohio sama gorengannya ayah Yuuma. Berarti makanan-makanan itu tidak baik untuk Kokone; bisa-bisa doi obesitas. Tenang saja Kokone, ketika Mikuo menikahimu nanti, Mikuo akan memberikan makanan yang bergizi empat sehat lima sempoa setiap hari.
Yang barusan itu adalah imajinasi Mikuo. Harap maklum.
Sepertinya habis ini Mikuo bakalan pakai tongkat God Enelan dari fandom sebelah buat bantuin jalan. Jangan sampai dia mengalami osteoporosis dini. Sekalian nyiptain petir biar cepet hujan.
"Shima..zaki.."
Mikuo lelah. Kokoro tersakiti dan raga dimaso setengah mati. Namun, apa sih yang gak buat doi. Gunung akan didaki dan lautan pun bakal ia seberangi.
Kesimpulan: Mikuo benar-benar masokis sejati.
Tetapi sedetik kemudian Mikuo melotot ke arah depan rumah si Luka. Ia melihat seorang pemuda biru turun dari mobil yang baru saja berhenti di depan. Kemudian pemuda itu menekan bel rumah Luka.
Wut? Jadi sekarang dia ngincer Luka?!
(Please not again, Mikuo.)
"Hatsune, ada apa?" Kokone yang like a boss berada di punggungnya, heran melihat Mikuo yang sedang menggendongnya saat ini tidak berjalan lagi.
"Cepet tinggal sepu―"
Kokone klakep saat itu juga. Sang gebetan berada sepuluh meter darinya, tepat di depan rumah Luka.
Sial! Shion noleh kesini!
"Eh? Shimazaki-san?" Kaito heran melihat tukang pos yang biasa ngirim surat anonim ke rumah dia.
"A..a.." Kokone kehilangan kata-kata. Padahal dia yakin udah lulus TK.
Kaito swt. Kenapa tukang pos itu digendong sama..
Kaito merasakan aura tidak enak. Pemuda yang tengah menggendong tukang pos itu memelototinya dengan mata merah. Kemudian ia bisa melihat tanduk setan imajiner muncul.
Glek.
Kokone yang kelewat gugup liat gebetan memeluk erat leher Mikuo tanpa sadar ―nyekik.
Mikuo megap-megap ambil nafas. Apakah ia akan mati di tangan orang yang ia cinta? Mau aja sih tapi masa gak elit gini.
"Hatsune..gue harus gimana?" Bisik Kokone. Suara itu bagai meracuni pendengaran Mikuo. Mikuo memang ingin Kokone bahagia, tapi..
Mikuo menurunkan Kokone. Kokone sama sekali gak nanya. Mungkin Mikuo lelah jalan tiga ratus meter sambil gendong dia. Kokone mahfum.
Mikuo harus bersikap seperti lelaki saat ini! Ia harus buktikan di depan Shion bahwa ia lebih pantas untuk Kokone daripada playboy asem-asem itu!
"Shimazaki.." Mikuo meraih salah satu tangan Kokone. Ia gugup bukan main. Maaf, Kokone..Mikuo ingin mengambil satu ciuman darimu ―Mikuo memperkecil jarak diantara mereka dalam sepersekian detik.
Kokone otomatis noleh. Dan saat itu pula pipi Kokone memanas. Wajah Mikuo begitu dekat dengannya. Ia bahkan bisa merasakan helaan nafas Mikuo. Kokone bukan anak polos kalau sudah begini, ia sering liat di drama televisi. Pasti selanjutnya...
Sepuluh senti..
Delapan senti..
Lima senti..
Tiga senti..
Dua senti―
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...bakal nyopet dompetnya!
TAK!
Sebuah kerikil melayang mengenai wajah tamvan Mikuo.
"MIKUO!"
Mikuo kenal banget suara itu. Pasti dari makhluk pink ternista abad ini; si Yuuma ―opini sepihak. Semprul tuh anak, menggagalkan aksi romantis―dan nekat―nya Mikuo untuk mencium bibir Kokone.
Kokone langsung nonjok perut Mikuo ―akibat salah asumsi dan kebanyakan nonton dorama. Sekali dayung dua bentuk penganiayaan menimpa Mikuo. Mikuo tertohok dan jatuh ke belakang.
Mahmudin, tadi dia kepanasan, kaki pegal-pegal dan kesemutan, bahkan terancam kifosis. Dan sekarang dia terjatuh karena kerikil dan tonjokan maut sang gebetan.
Dunia benar-benar kejam.
Yuuma awalnya gak niat ngetapelin Mikuo, tapi Shion. Eh kerikilnya malah belok ke jidat Mikuo.
―mungkin itu kerikil sakti.
"A-ano..ada apa ya..mm.. Shimazaki-san?"
Kokone menoleh robotic. Terlalu fokus sama Mikuo, dianya gak nyadar sekarang Kaito ada di sebelahnya.
Iya. Cuma selisih beberapa senti, saudara-saudara!
Kami-sama..kenapa cowok biru itu sangat mempesona? Gak salah dia milih Shion sebagai pujaan hatinya.
Lirikan matamu menarik hati~
Oh senyumanmu manis sekali~
Sehingga membuat..aku tergoda~
Dia inget sebuah lagu dari Indonesia yang sempat populer itu. Kokone kejang-kejang. Mata Kokone terbalik jadi putih semua. Kaito jadi nelen ludah dan berniat mundur, tapi― Kokone pingsan.
Dengan sigap (atau refleks?) Kaito menahan punggung Kokone. Mencegahnya jatuh menyapa aspal.
Sinet mode on activated.
Gara-gara menahan punggung Kokone, jarak wajah mereka begitu dekat. Kaito jadi ikut jantungan mendadak. Doi ngeblush ria. Reaksi alami.
Yuuma emosi, langsung posisi siaga mau ngetapelin tuh Shion.
"Eh? Apa kalian kenal Megurine Luka?" Kaito ingat tujuannya kemari. Ia lalu memosisikan Kokone ―digendong ala bridal style. Dia ingat menemukan kartu anggota Ijo Lumut di dompet Luka―orang yang dia tabrak semalam―ketika mencari-cari tanda pengenal untuk menghubungi keluarga Luka.
Nama : Megurine Luka
Umur : Sebut saja mawar melati semuanya indah
Alamat : Kecamatan Bojong Kenyot Kampung Durian Runtuh No. 05 Asakusa, Tokyo.
[Tidakkah orang akan berpikir alamat ini palsu]
Status kejombloan (dicoret jika tidak sesuai) :
Jomba (JOMblo BAhagia) -coret-
Jones (JOmblo ngeNES) -coret-
Jolay (JOmblo aLAY) -coret-
Jolang (JOmblo iLANG) - coret-
Jamur (Jomblo Aman dan MakmUR) -centang-
Lainnya (sebutkan) : [...]
Ijo Lumut adalah asosiasi perkumpulan Jomblo segala jenis dari berbagai habitat(?) seantero dunia. Merupakan akronim dari Ikatan JOmblo LUcu dan iMUT.
Tidak diketahui siapa pelopor pasti. Tapi, diduga berasal dari seorang alayers ―dan jomblo sejati― sebuah negara di Asia Tenggara yang tercatat populasi jomblonya meningkat belakangan ini karena lebih memilih waifu atau husbando dua dimensi.
"Hah? Apaan lo nyari temen gue? Ganti rugi gorengan ke gue.." Yuuma malak.
"Kok gorengan?" Kaito swt.
"Gara-gara loe Kokone ngabisin gorengan gue! Plus lap ingus ke baju gue! Tanggung jawab loe ama dendam gue!"
Sumvah, Kaito gak mudeng makhluk pink itu ngedumel apaan.
Yuuma yang udah turun dari sepeda, melipat kedua tangannya dengan pose rada songong ―mendongak. Salah satu kakinya naik turun bejek aspal.
"A-aku cuma mau memberitahu, sekarang Megurine Luka dirawat di rumah sakit. Sepertinya tidak ada orang di rumah sesuai alamat di kartu anggotanya"
Hebat banget lu bisa nemuin rumah Luka dengan alamat emeseyu bahrelwei bahrelwei begitu.
Mikuo yang baru aja berdiri terjatuh lagi dengan dramatis mendengar kabar itu. Aw. Bokongnya cenat-cenut sekarang.
.
.
.
.
Entah bagaimana bisa kini anggota geng merpati hitam minus Luka berada di dalam mobil Kaito.
Mikuo ―yang rumahnya cukup deket dari Luka, berinisiatif menelfon bintangkecilnolnolnolbintangkejorapagar untuk cek pulsa dulu sebelum menelpon emak Luka yang setahunya sering dinas keluar negeri. Jangan tanya dia dapat dari mana mengingat kebiasaan anehnya.
"Moshi-moshi..?" Sebuah suara menyahut panggilan Mikuo.
"Megurine-san...ini Mikuo. Anak anda mengalami kecelakaan. Saya dan teman-teman sedang menuju ke rumah sakit―"
"Aduh maaf ya jaringannya buruk. Aku tidak dengar. Kalau tentang Luka, aku harap kau menjaganya ya. Dadah Mikuo-kun!"
―pet.
Prikitiew.
"Gimana, Mik?" Yuuma penasaran dengan hasil telfon-menelfon antara Mikuo dan nyokap Luka.
"Sinyalnya coeg, jadi dia gak denger. Dia cuma nyuruh jagain Megurine." Mikuo memasukkan ponsel kembali ke dalam saku celananya. Kalo sinyalnya buruk, kok bisa denger namanya tadi? Mikuo pasang muka gini (눈_눈)
Mereka sudah sampai di pelataran rumah sakit. Kaito mempersilahkan mereka turun duluan, sementara ia akan memarkirkan mobilnya dulu.
"Eh, tapi Kokone gimana? Dia masih kejebak genjutsu tuh?" Yuuma sepertinya terpengaruh dengan fandom seberang.
"Pokoknya jangan macam-macam sama Shimazaki, ya. Jangan kira Mikuo gak tahu." Mikuo senyum lima jari sambil ngacungin cutter entah darimana.
"Ru-ruangannya nomor 56.."
Kaito bergidik ngeri. Sebenarnya mereka itu temennya gak sih? Teman si Luka maksudnya, korban tabrakan semalam. Mikuo dan Yuuma yang berada di jok belakang segera turun duluan. Kemudian Kaito melajukan mobilnya menuju tempat parkir.
Ia berhasil memarkirkan mobilnya dan mematikan mesin. Kemudian melepas kunci mobil. Ia melihat sebentar ke arah Kokone.
Tukang pos itu tampak tertidur dengan damai. Sedikit lama Kaito memandangnya. Kaito sedikit tersenyum dan mengguncang bahunya pelan.
"Shimazaki-san..kita sudah―"
"Baksonya, bang Yohio."
OAO
Kaito tertawa mendengarnya. Wanita di jok sebelahnya ini bermimpi apa, ya?
"Yum...gorengannya jangan dihabisin...kasihin ke gue.."
Oh, lucu sekali. Habis bakso sekarang gorengan. Jangan-jangan nanti siomay. Tangan Kaito beralih mencubit pipinya pelan. Ternyata dia suka makan ya. Lah, itu.
Kokone yang merasakan sedikit risih di bagian pipi menepis tangan Kaito yang nyubitin dia ―dikiranya nyamuk aides aighepty.
Kaito tidak menyerah. Ia ingin tahu seberapa lama tukang pos itu bertahan dari keisengannya.
Kaito menarik hidung Kokone. Kokone langsung terbatuk karena respirasinya macet mendadak.
"Uhuk! Apaan sih―" Kokone terjengit dan terbangun. Mendapati realita luar binasa.
Gebetannya.
Shion Kaito.
Di depan matanya.
Begitu dekat, tapi rasanya sangat jauh. Kokone sedikit menunduk. Mengingat bagaimana ia mengirim surat dahulu membuatnya malu. Dalam hati ia juga mau tahu, apakah Kaito berkenan membaca surat tanpa nama tanpa alamat dan tanpa perangko itu.
"Ayo, kita harus turun. Kau harus melihat kondisi temanmu, ng..kalau tidak salah namanya Megurine Luka."
Kaito melepas sabuk pengamannya dan berniat membuka pintu, tapi Kokone menahan lengan Kaito seolah memaksa pria itu menatapnya.
"Ano...aku..ingin bicara sebentar. Denganmu."
Mikuo mondar-mandir di dalam ruangan Luka. Tidak tenang melihat Luka dalam keadaan begitu. Kepalanya dililit perban. Nanti kalau ibunya Luka tiba-tiba balik, gimana?! Oh sinyal! Kenapa kau tadi buluk sekali? Mikuo berdecak heran, emang emak Luka ada di negeri mana sampai-sampai sinyalnya jelek gitu. Sekarang Mikuo berusaha nelpon egen malah gak tersambung dan cuma ada suara mbak-mbak operatornya.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Cobalah isi pulsa anda sebelum menelpon."
Muka (눈_눈) season dua.
Sedangkan Yuuma pamit keluar nyari toilet meski ada toilet juga di ruangan ini. Alasannya pun sok sekali; "Ini ruangan wanita. Aku tidak bisa." Mungkin Yuuma nyari pohon atau apa.
Oh, ayolah..Mikuo bahkan belum sempat melihat pantauan cctv semalam dari rumah doi.
Ngomong-ngomong soal cctv, Mikuo membuka kembali ponselnya. Melihat-lihat pantauan terbaru. Ia terkejut dan bergegas keluar dari ruangan Luka.
"Mik..."
Mikuo terhenti. Sedikit noleh ke arah ranjang Luka. Luka sudah sadar. Tangannya bergerak-gerak.
"Maaf ya Megurine, aku akan segera kembali."
.
.
.
.
.
"A-apa kau punya pacar?"
Pertanyaan tukang pos itu membuat Kaito keselek kelereng yang udah nyangkut di tenggorokan tempo hari.
"H-hah?!" Rautnya seperti terkejut.
"Ah, maaf. Tidak seharusnya aku bertanya. Oya, Luka-chan kenapa...?"
Mampus kau, Kokone. Mampus. Cadangan malumu sudah habis padahal belum sampai pada pertanyaan ―atau pernyataan utama.
' "Jika kau tidak punya pacar, mau jadian denganku?" '
Huek.
Padahal dia sudah tahu, Shion akan segera menikah. Bloon banget dia tanya begitu. Yang dinikahin pasti pacarnya yang unyuk-unyuk itu 'kan? Si rambut albino yang sepayung berdua waktu itu. Kokone gak kuat menghadapi realita―tepatnya informasi salah paham dari Mikuo― mau pergi sekarang juga. Nanti lama-lama dia bisa nangis kalo liat Shion. Selamat tinggal, gebetanku ―Kokone pasrah, Kokone ikhlas. Mungkin benar Shion adalah bagian takdirnya ,tapi bukan jodohnya.
Kokone berniat membuka pintu mobil di sebelahnya, tapi kini giliran Kaito menahan tangannya.
Kokone sontak memerah hebat. Apakah ini yang namanya berkah seusai cobaan berat yang menimpanya semalam? Tapi, kenapa? Kenapa disaat hendak berhenti ngarep, seolah ada lampu hijau di antara mereka?
"Kenapa kau ingin tahu? Temanmu kecelakaan semalam. Aku bertanggung jawab penuh karena sudah mencelakainya."
Oh ―apa?
Shion 'mencelakai' Luka semalam?!
Be-bertanggung jawab?!
"A-ah..ja...jadi..." ―bisa tolong jelasin rinci biar dia gak salah persepsi lagi.
"Kokone!"
Datang tak diundang pulang tak diantar, Yuuma membuka pintu mobil di sisi Kokone dan langsung menarik lengan Kokone.
"Yum! Sakit bego!" Kokone merasakan nyeri karena cengkeraman tangan Yuuma yang gede. Yaiyalah, Yuuma kan laki.
"Lama banget sih loe! Lo gak mau jenguk Megurine? Kepalanya diperban tuh!" Yuuma makin kenceng narik lengan Kokone. Tapi, disisi lain, Kaito menahan lengan Kokone yang satu lagi.
"Kami sedang bicara." Kaito menatap tajam ke arah Yuuma. Dia ingat betul makhluk pink itu punya niat gak baik. Sedikit menengok ke chapter-chapter sebelumnya, dimana ia mengetahui Yuuma menguntitnya di supermarket. Padahal itu pun hasil paksaan rekan kerja Yuuma buat ngikutin gebetan Kokone.
Yuuma melakukan tindakan serupa. Sekarang Shion mau apa coba? Dia mau pedeketek sama Kokone setelah menyakitinya?! Begini-begini, Yuuma tahu rasanya patah hati ―kalau kalian sempat membaca kenapa Yuuma patah hati silam di chapter-chapter sebelumnya. Dia tahu Kokone cuma butuh waktu ngelupain playboy kelas kakap kaya Shion yang nyakitin anak polos kaya Kokone; yang baru mudeng apa itu cinta setelah dijelaskan panjang lebar oleh Yuuma pas mau masuk SMA.
―Yuuma, kau tidak berniat jadi ibu tirinya Kokone, kan?
"Che..Kokone harus melihat kondisi Megurine, pria biru." Yuuma menarik sedikit kencang hingga bagian atas tubuh Kokone sudah di ambang pintu mobil. Namun Kaito menariknya kembali hingga ke posisi semula.
Apa-apaan makhluk pink itu? Kenapa dia tidak memanggil gadis itu 'Shimazaki' ? Dasar gak berperikewanitaan! Gak diajari apa, sama anak cewek kudu sopan?!
―meski tindakannya saat ini juga tergolong tidak sopan.
Dan hal itu terus berlanjut hingga sebuah aura mencekam terasa. Yuuma dan Kaito menoleh ke sumber aura gelap itu, di belakang Yuuma.
"Yum, pantes lo gak balik. Betah disini, ya?"
Yuuma noleh selow mosyen, mendapati Mikuo tersenyum inosen ke arahnya sambil mengeluarkan sebuah gunting merah ―diduga minjem dari fandom sebelah.
'Ckris!'
―coret bagian inosennya.
Glek.
Mikuo mengambil alih tangan Kokone dan menariknya turun dari mobil Shion tanpa perlawanan. Kokone matanya udah muter-muter kaya obat nyamuk, diduga vertigo mendadak gara-gara tadi.
"Ayo balik. Megurine udah sadar."
Setelah memasukkan kembali guntingnya, Mikuo kemudian menggendong Kokone kembali di punggungnya. Biarlah ia maso, asalkan Kokone gak tersakiti. Dasar stalker. Kaito dan Yuuma pun menyusul mereka.
.
.
.
.
.
"Eh? Ke-kepala Luka-chan diperban? Berarti lukanya parah dong..?"
Kokone yang udah tersadar di gendongan punggung Mikuo baru saja diberitahu Mikuo tentang kondisi terbaru Luka sembari jalan di dalam rumah sakit menuju ruang rawat sahabatnya itu. Kokone memeluk pelan leher Mikuo dan mulai menatap sendu. Kalau Luka kenapa-napa gimana?
"Megurine sudah sadar. Tenang saja." Mikuo menyahut. Kokone gak bisa liat, sekarang senyuman Mikuo menghilang.
Bagaimana ini? Kenapa Shion keparat itu mau ngedeketin Kokone setelah melukai hati wanita pujaan hatinya? Tidak tahukah Kokone betapa hancur kokoro Mikuo saat ini. Apalagi ketika dirinya teringat surat Kokone untuk Shion yang ia buang kala itu.
―gimana mau tahu kalau loe gak pernah ngomong, dudud.
Mereka sudah sampai di depan pintu ruangan Luka. Mikuo membuka pintu pelan. Kokone langsung beringsut turun dan menatap Luka.
"Luka-chan.."
Luka yang lieur-lieur terkejut melihat dua rekan kerjanya datang. Apalagi melihat sahabat konspirasi.
"Kokone-chan.." Mata bling-bling.
"Luka-chan.." Berbinar alay.
Dan aura bunga beterbangan.
Deja vu.
"Luka-chan!" Kokone berlari kecil menghampiri ranjang Luka dan memeluk sahabatnya dengan hati-hati karena sedikit terhalang selang infus. Kokone nangis di ceruk lehernya Luka, menenggelamkan dirinya sejenak disana. Turut bersedih atas keadaan Luka.
Luka yang tak bisa balas memeluk, terkekeh pelan karena geli. Tapi pandangannya lurus ke arah Mikuo di ambang pintu. Mikuo menatap mereka dengan senyum yang sulit diartikan ditambah pandangan nanar. Meskipun begitu, Luka tahu bahwa Mikuo sedang bersedih. Pemuda itu menggigit bibirnya sendiri. Apa ini ada hubungannya dengan Kokone?
"Megurine, aku sudah menghubungi ibumu." Ujar Mikuo.
"Ya, terimakasih." Sahut Luka.
"Woe! Main tinggal aja loe!" Yuuma muncul dari balik pintu diikuti Shion di belakangnya.
"Luka-chan! Kamu gak kenapa-napa, kan? Hueee..." Kokone nangis lebae melihat kondisi Luka yang cukup mengenaskan ―setelah mengangkat kepalanya dari ceruk leher Luka. Kepalanya diperban. Ngeri, 'kan? Kalau menurut Kokone sih ngeri banget, soalnya ada rembesan darah di perban Luka.
"Aku gak kenapa-kenapa Kokone-chan. Shion-san menolongku semalam. Terima kasih, Shion-san." Luka sedikit senyum ke arah Kaito yang mengangguk pelan.
"Makasih. Meski sebenernya gue gak suka sama lo." Mikuo mendengus dan memalingkan wajahnya dari Shion di sebelahnya. Sialan. Kenapa Mikuo kalah dari cowok-cowok di sekitar dia? Kalah tamvan dan kalah tinggi, meski dia juga gak pendek-pendek amat sih... ―uhuk.
Kaito gak ngerti. Baru ketemu aja sekali tapi cowo teal itu bilang gak suka sama dia. Ya sudahlah...
"Makasih." Ucap Yuuma singkat padat dan jelas. Bagaimanapun, Shion sudah menolong rekan kerjanya. Hah, sialan! Kenapa harus Shion sih?! Bikin dendamnya nambah aja.
"Makasih...Shion-san.." Kokone garuk kepala. Salah tingkah karena bisa ketemu gebetan gara-gara kecelakaan yang menimpa Luka. Shion lalu menjelaskan semuanya. Meski awalnya geram juga sih karena ternyata Shion yang menabrak Luka. Tapi, syukurlah dia mau tanggung jawab dengan menanggung biaya perawatan Luka hingga sembuh nanti.
"Shimazaki-san.." Kaito memanggilnya.
"A-ada apa?" Kokone udah selesai dengan acara menangisnya dan berdiri menoleh ke arah Kaito.
"Kita harus bicara."
Tubikontinyu on November issue
A/N:
Haha XD hai kepoers XD udah apdet nih! Udah apdet! /woe/
Oya, mau tanya, menurut kalian Kokone itu enaknya ama siapa? OAO
See next chap!
