Title :: The Moon and The Sun
Author :: Thazt
Pair :: Jung Yunho x Kim Jaejoong
Genre :: Romance, Fantasy, High School life, Drama, Boys Love
Rating :: PG 13
Lenght :: Phase 6
Disclaimer :: They belong to themselves and GOD!
Warning :: Alur yang LAMBAT, Alternatif Universe [AU], Bahasa Aneh, dan banyak hal lainnya.
...
Happy Reading!
...
"Umma!" kaki-kaki kecil seorang bocah laki-laki dengan wajah manis itu menggema seiring dengan ayunan langkah kakinya yang menuruni tangga. "Umma!" teriaknya lagi dengan suara cempreng khas anak kecil miliknya.
"Nyonya sedang ada tamu dan beliau sekarang ada di ruang tamu, tuan muda," ujar salah seorang maid yang kebetulan melintas di depan tuan mudanya itu.
Mendengar informasi itu, sang bocah kembali berteriak dan berlari menuju ruang tamu untuk menemui sang Ibu, "Umma!"
Hup.
Sang bocah menghentikan langkahnya tepat di depan sang Ibu yang sedang berbincang dengan seorang wanita lain, "Umma!" seru nya lagi. Ia menggoyang-goyangkan tangannya Ibunya untuk menarik perhatian. Meskipun dengan teriakannya saja sudah cukup.
"Ada apa, Jaejoongie sayang?" balas sang Ibu lembut setelah sebelumnya membisikkan kata maaf pada lawan bicaranya yang mengangguk maklum.
"Ada anak yang masuk ke kamar ku, Umma!" adu sang bocah manis yang dipanggil Jaejoongie oleh sang Ibu. "Dia mengerikan! Dia sangan dingin!" jujurnya. Matanya yang besar menyipit menatap sang Ibu.
"Jae sayang, dia itu.."
"Siapa yang kau panggil mengerikan?" suara khas anak kecil lainnya tiba-tiba terdengar di ruang tamu itu dan memotong ucapan Ibu Jaejoong. Wanita dewasa lainnya yang berada di ruangan itu tersenyum samar.
"Ya, kamu!" tunjuk Jaejoong langsung pada bocah laki-laki yang tadi tiba-tiba muncul di kamarnya dan sekarang muncul pula dengan cara yang tiba-tiba. Menyebalkan.
Bocah yang disebut mengerikan oleh Jaejoong itu mendekat ke arahnya, "Ya! Jangan mendekat!" teriak Jaejoong. Tangannya membentuk sebuah gestur mengusir. "Sana pergi jauh-jauh!"
"Dasar bocah!" ejek bocah laki-laki satunya dengan wajah meremehkan, "Tidak ada yang berniat mendekat ke arahmu, tau!" sang bocah membelokkan langkah kakinya dan berjalan menuju ke samping Ibunya.
"Yaaaah! Kau juga bocah, tahu!"
"Setidaknya aku tidak semanja kamu!"
"YAAAA!"
...
Jaejoong terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat, "Ergh," erangnya pelan. Tangannya bergerak ke atas kepalanya dan memijatnya dengan gerakan memutar. Berharap, gerakannya itu bisa meredakan denyutan di kepalanya itu.
Lima menit bergelut dengan denyutan di dalam kepalanya, Jaejoong akhirnya bisa untuk sekedar mendudukkan dirinya di atas kasur. Dengan sedikit gontai, lelaki cantik itu menolehkan kepalanya ke arah jam weker di atas meja nakas samping kasurnya. 03.04 AM.
Eh?
Bukan waktu yang ditunjukkan oleh jam weker itu yang membuatnya terkejut. Tapi kenyataan jika ia berada di atas kasur dan juga kamarnya.
Ada yang aneh.
Ah! Sebuah ingatan terlintas dengan sangat jelas di pikirannya. Bukankah tadi ia jatuh tertidur di dalam mobil, Yunho? Lalu, mengapa ia bisa ada di sini?
Bajunya pun sudah berganti menjadi piyama. Bagaimana bisa?
Tok.. tok.. tok..
Pintu kamar Jaejoong berderit terbuka, "Umma?" cicit Jaejoong pelan menatap sang Ibu yang tiba-tiba saja muncul di ambang pintu kamarnya dan sekaligus membuyarkan pikiran Jaejoong, "Ada apa?"
"Kau belum tidur? Mrs. Ok bilang, kau sudah tertidur?" sang Ibu bertanya sambil melangkah mendekati Jaejoong. "Umma hanya ingin mengucapkan selamat malam saja." Ye Jin berbohong, alasan ia masuk ke kamar Jaejong di dini hari seperti ini karena ia merasakan aura Jaejoong yang berdenyut dengan sangat kacau dan kuat begitu ia memasuki rumah mereka.
Hal yang tidak pernah terjadi meskipun putranya itu sedang sakit sekalipun. Kecuali... saat kejadian bertahun-tahun lalu itu.
"Aku terbangun, umma," balas Jaejoong. "Umma baru pulang?" Ia memperhatikan pakaian sang Ibu yang masih sama saat pertemuan tadi.
Sang Ibu mengangguk mengiyakan, "Wajahmu terlihat sedikit pucat sayang, ada apa?" Wajah cemas kini terlihat di wajah Ye Jin. Jangan katakan jika apa yang ia pikirkan saat ini adalah kenyataan yang terjadi.
"Benarkah?" Jaejoong meraba wajahnya sendiri. Denyut di kepala meskipun sudah mereda tapi tetap saja terasa sakit.
Ye Jin mengangguk, "Apa yang terjadi padamu, sayang?"
Jaejoong teringat dengan mimpi anehnya. "Umma, aku bermimpi aneh.." cerita Jaejoong pelan, keningnya mengernyit mengingat mimpi itu. "... sebuah momen, ada aku saat aku kira-kira masih berumur 6 tahun, di sana ada Umma juga, seorang anak kecil lainnya, dan seorang wanita yang seumuran dengan Umma. Aku berteriak pada anak kecil itu karena aku tak suka dengannya. Lalu kami bertengkar. Tapi aku tak ingat punya masa kecil seperti itu," lanjut Jaejoong bercerita.
Ye Jin terdiam mendengar cerita singkat dari Jaejoong. Ia meraih tangan kanan Jaejoong dan menggenggamnya pelan, "Mungkin hanya bunga tidurmu saja," ujarnya pada sang anak. "Tidurlah lagi," lanjutnya. Setelah mengecup kening Jaejoong dan mengucapkan selamat malam, iapun berjalan keluar dari dalam kamar itu.
Jaejoong menghela nafas sambil memandangi sang Ibu yang berjalan menjauhinya. Sebenarnya, ia masih memikirkan mimpinya itu. Mimpi itu menjadi sesuatu yang aneh bagi Jaejoong. Terasa begitu nyata.
Tapi Ia tak pernah ingat ada momen seperti itu dalam kehidupannya. Dan juga, ia tak tahu siapa bocah laki-laki kecil dalam mimpinya itu. Meskipun terasa familiar, tapi...
Ah, Jaejoong tak bisa mendekripsikannya dengan kata-kata. Terlalu janggal.
"Ah, Umma!" panggil Jaejoong tepat sebelum Ye Jin menutup pintu kamar Jaejoong, "Siapa yang membawaku ke kamar?" tanyanya penasaran. Ia ingin mengetahui siapa yang membawanya ke dalam kamarnya, karena seingatnya ia tak pernah diabngunkan dari mobil Yunho.
"Mrs. Ok bilang, Yunho lah yang membawamu ke dalam kamar mu karena kau tertidur dengan sangat lelap di mobil nya kemarin,"
A..Ap..Apa?
...
Jaejoong melirik jam wekernya sekali lagi dalam kurun waktu yang tak begitu lama dari terakhir kali ia melihatnya tadi. 04.33 AM. Ugh! Ingin rasanya ia memejamkan matanya yang sama sekali tak mau terpejam sejak saat ia membuka matanya.
Ia merenggangkan tubuhnya dan bangkit dari kasur yang ditidurinya. Sepertinya berangkat ke sekolah sepagi ini bukan ide yang buruk, pikirnya. Siapa tahu ia bisa memejamkan matanya sebelum jam pertama dimulai.
...
Jaejoong berjalan menuruni tangga, dapur adalah tujuan utamanya saat ini. Sarapan ringan untuk memulai hari bukan sesuatu yang buruk, kan?
Ia meraih roti dan bahan-bahan lainnya yang akan ia gunakan untuk membuat sandwich. Sambil bersenandung pelan, Jaejoong mulai membuat sarapannya tersebut.
"Tuan muda?"
Jaejoong menoleh saat salah satu maid yang menangani bagian dapur mereka datang, "Oh, mrs. Ok," sapanya hangat.
"Pagi sekali, tuan muda," ujar sang Maid pelan, "Sini biar saya saja yang membuatkan sandwichnya,"
"Tidak usah," tolak Jaejoong. Ia ingin membuat sandwich ini sendiri. "Hmm, Mrs. Ok, bicara soal tadi malam, apa benar Yunho yang membawaku ke kamar?" tanyanya penuh rasa penasaran.
Mrs. Ok mengangguk membenarkan, "Tuan Yunho sendiri yang membawa tuan yang tengah tertidur hingga ke kamar. Butler Jang menawarkan diri untuk membawa tuan tapi tuan Yunho tidak mengindahkannya."
Senyum di wajah Jaejoong semakin terlihat, ada rasa senang yang ia rasakan tiba-tiba saja. "Lalu, siapa yang menggantikanku baju?" satu pertanyaan yang belum terjawab.
"Butler Han," jawab Mrs. Ok.
...
Yunho berjalan menyusuri lorong sekolah yang masih teramat sepi, bisa dibilang, hanya ia seorang yang berjalan di koridor panjang itu.. oh, jika menghitung juga petugas kebersihan sekolah yang berjalan kesana-kemari maka ia tak sendiri tentu saja. Fakta bahwa ini masih sangat pagi lah yang membuat hal itu mungkin terjadi.
Tak biasanya memang ia datang sepagi ini ke sekolah. Rasanya, begitu ia membuka mata di pagi hari ada dorongan dalam dirinya yang menyuruhnya untuk datang ke sekolah sepagi mungkin. Yunho bahkan tak ingat bagaimana ia bisa sudah berada di halaman parkir sekolah. Terjadi begitu saja tanpa ia sadari.
Krieet.
Bunyi deritan pintu yang terbuka dan kembali tertutup dalam beberapa detik terdengar. Yunho kini telah berada di dalam ruangan kelasnya yang ia pikir akan masih kosong.
"Hmm?" Yunho bergumam pelan begitu menyadari telah ada orang lain yang telah berada di dalam kelas itu selainnya dirinya. "Kim Jaejoong, huh?" gumam nya lagi begitu mendekati sosok yang sedang menelungkupkan wajahnya di atas kedua tangannya yang terlipat di atas meja.
"Tertidur?" bisik Yunho pada dirinya sendiri saat menyadari bahwa lelaki manis yang ada di hadapannya tengah tertidur.
Seperti ada sebuah magnet yang menariknya, secara tak sadar, tangan Yunho bergerak dengan sendirinya. Terjulur begitu saja mendekati kepala Jaejoong. Mengelus rambut berwarna hitam lembut itu dengan gerakan halus.
Jujur saja. Yunho terkejut dengan gerakan tanpa sadar nya itu. Tapi.. harus ia akui bahwa ia menyukai ini. Ada perasaan aneh yang menyelusup ke dalam dirinya. Dan perasaan itu entah mengapa membuatnya merasa senang.
Yunho bisa merasakan geliatan pelan di kepala Jaejoong yang sepertinya sedikit terganggu dengan rasa dingin dari suhu tubuh tangan Yunho yang berada di atas kepalanya. Sama seperti tadi malam ketika ia menggendong Jaejoong, meskipun penyihir itu sedikit menggeliat, tapi ia sama sekali tidak terbangun ataupun terganggu dengan suhu dingin tubuhnya.
Puk.
Satu tepukan pelan di kepala Jaejoong menyudahi acara elus-mengelus rambut Jaejoong oleh Yunho. Sang vampir menghapus senyum di wajahnya, kembali memasang wajah stoic nya. Tak lama, ia pun keluar dari dalam kelasnya.
Jaejoong membuka matanya yang sedari tadi terpejam tak berapa lama setelah pintu ruang kelasnya itu tertutup oleh Yunho, "Ung?" gumamnya pelan sambil mengerjab-ngerjabkan matanya,"Rasanya tadi ada seseorang," gumamnya lagi. Tapi ia tak menemukan seseorang pun kecuali dirinya dalam ruangan itu.
"Mungkin cuma perasaan ku saja." Jaejoong menyandarkan tubuhnya di dudukan kursi dan melemparkan pandangannya ke arah luar jendela, memandangi gerakan lembut dedaunan pepohonan yang tertiup oleh angin pagi yang sangat sejuk.
...
Jaejoong menggerang pelan ketika incher olahraga mereka mengatakan pelajaran olahraga hari ini bertemakan couple football. Sialnya lagi, sang incher menyuruh mereka berpasangan dengan teman sebangku mereka dan itu artinya ia akan berpasangan dengan Yunho.
"Peraturannya mudah, satu tim terdiri dari tiga pasangan dan yang perlu kalian lakukan hanyalah memasukkan bola sebanyak-banyaknya ke gawang lawan tanpa melepaskan tangan partner kalian. Pasangan yang melepaskan tangan partnernya selama pertandingan berlangsung akan mendapat hukuman. Satu lagi, dilarang menggunakan kekuatan kalian." Urai sang incher tegas.
Jaejoong kembali mengerang saat ia dan Yunho terpilih dalam tim pertama yang bermain. Tidak masalah baginya untuk bermain bola, tetapi bermain bersama Yunho itulah yang menjadi masalahnya.
Selama di kelas tadi saja, Jaejoong harus bersusah payah melawan getaran aneh yang menguasai tubuhnya begitu berdekatan dengan Yunho. Apa yang akan terjadi sekarang jika ia harus berpegangan tangan dengan vampir itu?
Denyutan aneh di kepalanya itu kembali terasa saat Yunho mengenggam tangannya. Meskipun suhu dingin sangat terasa di tangannya tapi Jaejoong menikmatinya. Ia tak berbohong. Tangan Yunho yang memang lebih besar terasa menenggelamkan tangannya, dan itu membuatnya merasa aman.
Peluit tanda permainan dimulai. Yunho dengan cepat mengoper bola ke pasangan di sampingnya sebagai tanda kick off.
Perebutan bola pun tak terelakkan diantara begitu banyak pasang kaki yang berada di atas lapangan futsal. Jaejoong memotong laju bola yang bergulir cepat dari salah satu kaki pasangan lawan mereka. Diberikannya bola itu pada Yunho yang dengan cepat digulirkan oleh sang vampir menerobos pertahanan lawan mereka.
Meskipun harus bersusah payah menyeimbangi lari Yunho yang memang sudah cepat tanpa menggunakan kekuatannya itu, tapi Jaejoong menikmatinya. Kegelisahannya tadi melenyap dan digantikan oleh rasa senang yang tak pernah ia perkirakan.
Duk.
Salah satu lawan mereka menabrak Jaejoong saat berusaha merebut bola dari kaki Yunho. Jaejoong yang tidak menemukan keseimbangannya, menabrak tubuh Yunho yang berada di sampingnya. Menabrak Yunho bukanlah sebuah ide bagus, sang vampir yang memiliki tubuh keras tentu saja tak berpengaruh apa-apa pada saat Jaejoong menabraknya, justru Jaejoonglah yang terpental jatuh.
Yunho bertindak cepat, sesaat setelah Jaejoong terpental, ia membungkuk dan segera mengulurkan tangan kanannya –secara tangan kirinya masih mengenggam tangan kanan Jaejoong-. Diraihnya pinggang Jaejoong agar sang penyihir tak sampai terjatuh ke lantai. Jaejoong yang secara refleks ingin meraih suatu pegangan agar tak terjatuh, meraih pundak Yunho dan meremas bajunya kuat.
Mata mereka beradu.
...Jaejoong bersumpah jika ia melihat pantulan dirinya di dalam bola mata Yunho, tubuhnya terasa terkenal aliran listrik bervoltase rendah, lututnya terasa lemas, dan Jaejoong tak bisa memikirkan apapun saat ini.
"Maaf," ujar vampir yang menabrak Jaejoong. Yunho menatap tajam pada vampir itu, "Akan kulempar kau ke gunung jika ia terluka," ujar Yunho tanpa suara yang tentu saja dapat ditangkap oleh vampir penabrak itu.
Yunho lalu berdiri tegak sehingga Jaejoong yang masih berada dalam dekapannya ikut berdiri. "Kau tak apa?" tanyanya pada Jaejoong yang terlihat seperti anak hilang. Jaejoong yang masih belum tersadar hanya terdiam.
"Incher!" panggil Yunho, "Aku rasa Jaejoong butuh istirahat," lanjutnya. Sang incher mempersilahkan Yunho dan Jaejoong untuk keluar dari lapangan untuk digantikan oleh pasangan lain.
"Minumlah." Yunho menyerahkan sebotol air mineral yang diterima Jaejoong tanpa bicara. Dengan gerakan cepat, Jaejoong membuka botol minuman itu dan menenguknya dengan rakus.
"Katakan," ujar Yunho, saat ia melepaskan genggaman tangan mereka lalu duduk di samping Jaejoong, sang penyihir merasakan sesuatu yang hilang, "Apa kau terluka?" lanjutnya.
Jaejoong menggeleng, "Hanya sedikit terkejut," jawabnya pelan.
"Benar?"
Jeajoong mengangguk menjawabnya.
...
"Yah, Yunho hyung!" lelaki jangkung yang memegang segelas jus jeruk dan roti coklat -berukuran besar yang hanya khusus dibuat untuknya- di masing-masing tangannya itu berlari menghampiri Yunho yang tengah berjalan tanpa tujuan di lorong lantai satu.
"Hm," balas Yunho acuh tak acuh. Membiarkan lelaki jangkung yang bernama lengkap Shim Changmin itu mensejajari langkahnya.
"Yaaa, Hyung! Kenapa tidak mengabariku tadi pagi, hah?!" omel Changmin langsung dengan suara tenor nya yang langsung sukses membuat mereka menjadi pusat perhatian. Maklum saja, ini saat jam istirahat, jelas saja mereka menjadi pusat perhatian. "Hyung seenaknya saja meninggalkanku! Aku jadi harus bersusah payah membawa mobil sendiri, kan!" lanjutnya masih dengan nada tinggi.
"Berisik," sahut Yunho singkat tapi tajam. Ia sedang malas meladeni Changmin beserta suara tenor nya itu. Memang nya apa susahnya membawa mobil sendiri? Dia nya saja yang malas dan lebih suka menumpang.
"Yaaaa!" ujar Changmin lagi. Kali ini ia menaikkan nadanya satu tingkat lebih tinggi. Ia merasa tak diperdulikan oleh Hyung nya yang satu itu. Setidaknya, ia harus mendapatkan sesuatu sebelum berhenti merusuhi Hyung nya itu.
"Pulang sekolah.." Yunho menghentikan langkahnya, "..Grunnide cafe." Yunho berdecih pelan di samping Changmin setelah mengucapkan kalimat tadi. Mengenal Changmin sejak SD membuat nya mengerti apa yang diinginkan oleh mahluk tinggi nan evil itu. Berani bertaruh...
"EEEH? KAU SERIUS HYUNG?" Tuh, belum juga selesai, Changmin sudah terlebih dahulu berujar dengan nada tinggi, "Hyung tidak sedang mebohongiku, kan?" sangat jelas terdengar nada bahagia dan puas dari seorang Shim Changmin.
"Sekali lagi kau bicara..." Suara Yunho mendesis tajam, "... Batal!"
Changmin menyeringai senang di samping Yunho. Hehehehehe, kekehnya dalam hati. Ia menghentikan langkahnya dan membiarkan Yunho berjalan menjauhinya. Dengan kecepatan vampirnya, Changmin berbalik dan meninggakan lorong itu dengan perasaan senang.
Baru beberapa langkah berjalan dengan damai, "Hai, Oppa," suara milik Hyun A yang berjalan dari arah depan sudah menganggu kedamaian itu.
"Ada apa?" tanya Yunho sedikit kesal. Nada suaranya sungguh menggambari keadaan hatinya itu.
"Tidak ada, hanya menyapa saja." Hyun A melempar cengiran pada Yunho dan bersiap untuk kembali berjalan, "Sudah ya.. Yonghwa Oppa sudah menungguku,"
Yunho menggeleng pelan dan kembali melanjutkan jalan-jalan tak tentu arahnya itu. Ia akan pergi kemana kakinya akan membawanya.
Entah bagaimana caranya, Yunho berhenti tepat di depan lounge milik kelompok penyihir keturunan shaman. Ya. Penyihir keturunan ventrue itu, kini sedang berdiri tepat di depan pintu lounge yang sama sekali bukan milik kelompoknya itu. "Apa yang ku lakukan di sini?" gumam Yunho tak percaya. Belum sempat beranjak pergi dari posisinya, pintu lounge itu lebih dahulu terbuka.
"Kim Jaejoong," desis Yunho pelan. Mata kecilnya menangkap sosok Jaejoong yang baru saja keluar dari dalam lounge dengan membawa sebuah kotak makan.
Jaejoong di sisi lain pun tak kalah terkejut. "Y-Yunho?" ujarnya tak percaya. Bagaimana bisa vampir ventrue itu berada di depan lounge kelompoknya? "Apa yang kau lakukan di sini?"
Yunho terdiam. Tak tahu apa yang harus ia katakan. Dirinya sendiri bahkan tak tahu bagaimana ia bisa berakhir di sini.
Tak mau berada dalam situasi canggung lebih lama dengan Jaejoong, Yunho memundurkan dirinya satu langkah dan berjalan menjauhi lounge itu.
Grep.
"Tunggu sebentar," Jaejoong meraih lengan Yunho yang tentu saja menghentikan langkah sang vampir. Jaejoong mendongak menatap Yunho yang lebih tinggi darinya, "Apa?" balas Yunho.
Jaejoong menelan ludahnya, gugup. Secara tiba-tiba, jantungnya berdesir halus dan kepala nya di saat bersamaan berdenyut kembali. "Errr.. Itu..." Ia kembali menelan ludahnya, "...Itu.." Yaaaa! Kenapa susah sekali sih? Omel Jaejoong dalam hatinya sambil menundukkan kepalanya.
Oke.. tarik nafas dalam-dalam. Kuasai dirimu, Kim Jaejoong!
"Hey," panggil Yunho yang langsung membuat Jaejoong kembali mendongakkan kepalanya yang tertunduk ke arah sang vampir, "Apa yang ingin kau katakan, huh?" Yunho melepaskan genggaman tangan Jaejoong di lengannya. Sebagai gantinya, Yunho berbalik dan berdiri di hadapan Jaejoong dalam jarak yang bisa dibilang sangat dekat.
'Aish! Ini vampir kenapa semakin mendekat sih?' Jaejoong berdecak kesal dalam hatinya. Rasanya ia ingin mendorong Yunho menjauh dari hadapannya. Berdekatan dengan Yunho akhir-akhir membuat jantung dan kepalanya selalu memunculkan sebuah denyutan dalam tubuhnya.
"Jaejoong?" Yunho menatap heran pada penyihir manis yang terdiam dengan wajah yang sedikit memerah, "Hei," panggil Yunho lagi.
"Uuh.." Akhirnya Jaejoong kembali mengeluarkan suaranya, "Itu..." Oh, sial! Ini sangat memalukan, rutuk Jaejoong kembali. "... Soal.. yang.. tadi..saat.. pelajaran.. olahraga.. uuh," Penyihir muda itu bisa merasakan wajah nya semakin memanas dan langsung menundukkan kepalanya ke bawah.
"Bukan masalah," sahut Yunho datar dan cepat. Ia mengerti apa yang ingin diutarakan oleh penyihir dihadapannya ini begitu mendengar kalimat pelajaran-olahraaga.
"Uuhh!" Jaejoong mendongakkan kepala nya dengan cepat dan menatap Yunho dengan mata doe-nya dan pipi yang masih memerah.
'Manis,' pikir Yunho- tunggu! Apa yang baru dia pikirkan?! "Tak perlu berterima kasih," ujar Yunho lagi dengan datar. Tak mau memikirkan apa yang baru saja melintas dengan liar di kepalanya.
"Tapi.." balas Jaejoong lagi, "... tetap saja aku harus berterima kasih padamu," lanjutnya. "Dan terimakasih juga untuk yang tadi malam,"
"Aku terima ucapan terima kasih mu," ujar Yunho dengan tenang. "Dan sekarang, bisakah aku pergi, Jaejoong?"
"Tunggu!" Jaejoong tanpa sadar menaikkan nada suaranya. Ditatapnya Yunho sekali lagi. Berharap pertanyaannya kali ini tidak akan membuatnya menjadi semakin memalukan dirinya dihadapan Yunho.
"Kau mau sandwich?"
...
"Halo,"
"Yo Won-ah,"
"Ada apa? Suaramu terdengar tak baik,"
"Yo Won-ah, sepertinya memori Jaejoong akan kembali,"
"Benarkah?"
"Ya. Ia mulai memimpikan memorinya itu."
"Bagaimana dengan tandanya?"
"Belum muncul, tapi.."
"Tapi apa?"
"Penghubungnya. Aku melihatnya. Meskipun masih samar, tapi aku yakin aku melihatnya."
-The Moon and The Sun : Phase 5-
Makasi buat yang udah baca di chapter kemarin :D
