Baekhyun adalah satu-satunya hal terindah yang Chanyeol miliki. Kematian Baekhyun menyisakan luka yang sangat dalam pada dirinya. Bagaimana keajaiban akan menyembuhkan luka di hatinya?

Main cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun

Genre: Fantasy/Friendship

Scene 6: Kehilangan

Sebuah brangkar rumah sakit di dorong dengan terburu-buru menuju ruang UGD oleh beberapa orang berseragam putih. Seorang anak laki-laki berseragam SMA terbaring di atasnya dengan banyak darah. Satu orang anak laki-laki berseragam lainnya ikut berlari sambil menggenggam erat tangan kiri anak yang berada di atas brangkar.

"Sakit Chanyeol."

Anak laki-laki di atas brangkar itu mencoba menggumamkan sesuatu yang terdengar sangat samar pada teman di sampingnya. Dia adalah Baekhyun. Dia terluka setelah sebuah mobil menabraknya saat sedang bersama Chanyeol tadi.

"Kau akan baik-baik saja. Kau percaya padaku kan?"

Chanyeol menjawab pertanyaan Baekhyun dengan sedikit tertahan. Air mata menggenangi mata bulatnya. Dia tidak tega melihat Baekhyun kesakitan. Dia tidak tahan melihat Baekhyun terluka. Jika bisa, dia ingin jika dia saja yang tertabrak mobil tadi, bukan Baekhyun. Itu bahkan jauh lebih baik.

Chanyeol tidak mempedulikan baju seragam dan tangannya yang penuh darah milik Baekhyun. Dia tetap menggenggam tangan sahabatnya itu. Dia berjanji dalam hati bahwa dia tidak akan pernah melepaskannya. Hatinya berdoa dengan keras agar tidak terjadi apapun pada sahabat yang paling disayanginya itu.

Baekhyun mengangguk dan mencoba tersenyum pada Chanyeol. Matanya yang sudah sempat terpejam berkali-kali dipaksanya untuk tetap terbuka. Tubuhnya bergetar hebat menahan rasa sakit yang luar biasa.

Chanyeol hanya bisa terduduk di lantai depan ruang UGD. Kedua kakinya dia tekuk dan wajahnya dia benamkan diantara kedua lututnya. Tangannya memeluk erat kedua kakinya. Bahunya naik turun karena dia menangis sesenggukan. Air matanya tak bisa berhenti mengalir semenjak tubuh Baekhyun menghilang di balik pintu UGD.

Tak lama kemudian seorang wanita berusia 40 tahunan datang sambil menangis. Chanyeol kemudian bangkit dan menghampirinya.

Plakkk

Tanpa basa-basi wanita itu mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi kiri Chanyeol.

"Kau dan ayahmu memang pembuat masalah. Sudah kubilang berkali-kali jangan dekat-dekat dengan anakku. Sekarang kau mencoba membunuhnya hah?"

Chanyeol tidak bergeming atau pun menjawab. Dia merasa tidak pantas untuk membela diri dengan alasan apapun. Dia tidak bisa menjaga sahabatnya tetapi malah membuat sahabatnya itu terluka karenanya. Bahkan sebuah permintaan maaf pun rasanya tak layak dia ucapkan.

Mata kedua orang itu beralih saat melihat seorang dokter keluar dari ruang UGD.

"Bagaimana anak saya dokter?"

"Maaf ibu. Baekhyun sudah meninggal. Ibu bisa melihatnya sebentar lagi."

Ibu Baekhyun menangis keras. Tubuhnya ambruk ke lantai. Hatinya remuk mendengar anak satu-satunya telah meninggal. Sejenak kemudian matanya tertuju pada Chanyeol yang hanya berdiri mematung. Matanya menatap Chanyeol penuh kebencian.

"KAU PEMBUNUH!"

Teriakan ibu Baekhyun menghancurkan seluruh dunia Chanyeol. Membuatnya sadar bahwa satu-satunya hal terindah yang dia miliki di dunia ini telah dirampas darinya dalam waktu sekejab. Dadanya terasa sesak.

Chanyeol menatap datar kaca besar di atas wastafel sebuah toilet rumah sakit. Dari pantulan cermin, dia melihat baju dan tangannya penuh darah. Dia tak bisa menangis lagi karena tenggorokannya sakit dan air matanya telah habis. Dia hanya bisa merutuki dirinya sendiri atas semua yang terjadi pada Baekhyun.

"Harusnya dulu aku mendengarkan ibumu."

Chanyeol tersenyum kecut pada pantulan dirinya di cermin.

Flashback

"Selamat pagi."

Chanyeol tersenyum ceria menyapa seorang wanita paruh baya yang sedang menyiram pot bunga mawar di depan sebuah rumah. Rumah yang sangat asri dan rindang dengan pohon kesemek yang menaunginya. Beraneka pot bunga yang tersusun rapi turut menyejukkan suasana. Dia sangat menyukai rumah ini, menyukai temannya, dan juga senyuman ibu temannya itu. Karena jauh di dalam hati Chanyeol, dia sangat merindukan ibunya.

Wanita itu hanya menoleh dan menatap Chanyeol tajam. Dia tersenyum sinis dan mengatakan sesuatu yang sangat melukai hati Chanyeol.

"Bukankah sudah kubilang berkali-kali, jangan dekati anakku."

"Ibu. Apa yang ibu lakukan pada temanku?"

Tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar dari dalam rumah dengan ekspresi wajah merengut yang dia tujukan untuk ibunya. Dia tidak suka ibunya berkata kasar pada temannya.

"Kau juga. Tidak pernah mendengarkan apa pun yang ku katakan. Dasar anak nakal."

Wanita itu menjewer telinga anaknya yang nakal itu.

"Sakit ibu. Bagaimana jika telingaku putus? Kau mau punya anak yang tidak punya telinga?"

"Astaga. Kau benar-benar pandai bicara sekarang."

Wanita itu melepaskan jewerannya pada anak kesayangannya itu dan mengacak-acak rambut anaknya gemas.

"Ibu tahu kan siapa orang paling berharga bagiku di dunia ini? Orang itu adalah ibu. Dan ibu tahu siapa yang nomor dua? Orang itu adalah Chanyeol. Jadi bisakah ibu bersikap baik padanya? Kumohon."

Tangan anak laki-laki itu menangkup untuk memohon pada ibunya dengan ekspresi wajah memelas, membuat wanita paruh baya itu hanya bisa tersenyum. Hatinya selalu saja luluh pada anak semata wayangnya itu.

"Aku pergi dulu."

Anak laki-laki itu mencium pipi ibunya dan melangkah menghampiri Chanyeol yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka berdua dengan tersenyum. Dia mengalungkan tangan kanannya pada lengan kiri Chanyeol dan melambaikan tangan pada ibunya.

"Ayo kita sudah hampir terlambat ke sekolah."

"Saya permisi dulu tante. Selamat pagi."

Chanyeol menundukkan kepala penuh hormat pada ibu temannya itu kemudian melangkah pergi.

Flashback end

Chanyeol hanya bisa memandang dari jauh tempat Baekhyun disemayamkan. Ibu Baekhyun sama sekali tidak membiarkannya mendekat. Ibu Baekhyun bahkan berteriak-teriak histeris dan memukul-mukulnya saat melihatnya. Hal itu membuat hatinya lebih terluka.

Bahkan saat pengantaran abu Baekhyun pun, dia hanya bisa melihat dari jauh. Dia baru bisa mendekat saat semua pelayat pergi.

"Maafkan aku Baekhyun. Karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Karena aku berniat memukulmu malam itu. Jika saja aku bersikap lebih baik padamu hari itu, kau..."

Suara Chanyeol terhenti, dia hanya bisa menangis keras di depan guci abu bertuliskan nama sahabatnya itu. Dia sadar bahwa dia tak akan bisa melihat senyum Baekhyun lagi, mendengar suara nyaring Baekhyun, ataupun membelikan caffe latte kesukaan Baekhyun. Rasanya baru beberapa hari Baekhyun meninggal, tetapi dia sudah merindukan panggilan 'Dasar Brengsek' yang biasanya Baekhyun katakan padanya saat marah.

Chanyeol melangkah malas di lorong sekolah untuk menuju kelasnya. Setelah kematian Baekhyun, dia tak lagi bersemangat untuk melakukan apa pun. Kerja paruh waktunya dia tinggalkan begitu saja. Komik kesukaannya mendadak tak lagi menarik baginya. Dia juga kehilangan semangatnya untuk belajar. Senyum manisnya juga sudah hilang entah kemana.

Langkah Chanyeol terhenti di depan kelasnya. Dia mendengar teman-temannya membicarakan dirinya.

'Kudengar Baekhyun mati gara-gara Chanyeol.'

'Aku sudah pernah menyuruhnya menjauhi Chanyeol, tapi sepertinya dia tak peduli dan malah marah-marah padaku.'

'Apa mungkin Chanyeol yang membunuhnya?'

'Ah mana mungkin, sepertinya mereka berteman baik.'

'Harusnya Baekhyun tidak dekat-dekat dengan anak bermasalah itu.'

'Kasihan sekali Baekhyun.'

Chanyeol berusaha untuk tidak memperdulikan kata-kata teman-teman sekelasnya. Dia melangkah dan membuka pintu kelasnya, membuat suasana kelasnya mendadak senyap.

Chanyeol menatap teman-teman sekelasnya dengan pandangan kosong. Dia terlalu merasa bersalah sehingga merasa tidak layak untuk membela diri bahkan ketika teman-temannya mengatakan bahwa dia adalah seorang pembunuh. Dia merasa apapun yang dia katakan tidak akan merubah kenyataan bahwa Baekhyun meninggal karena dirinya.

Chanyeol melangkah dan duduk di bangku Baekhyun. Dia tersenyum melihat sebuah ukiran yang cantik di meja sahabatnya itu. Ukiran cantik yang merupakan ukiran namanya. PARK CHANYEOL.

"Kau selalu saja melakukan hal-hal tidak berguna di kelas."

Tangan Chanyeol mengusap ukiran itu pelan. Melihat kedalamannya, sepertinya ukiran itu tidak dikerjakan hanya sekali, tapi ditebalkan berkali-kali.

'Chanyeol benar-benar tidak tahu malu.'

'Dia masih berani datang ke sekolah setelah apa yang terjadi.'

'Dia mungkin sudah gila.'

Bisik-bisik teman-teman sekelas Chanyeol mulai terdengar lagi. Dia tidak ingin mendengarnya. Dia pun memasang earphone di telinganya dan memutar lagu kesukaan Baekhyun, Like Music, Like Rain dari smartphonenya.

Hujan pun turun tak lama setelah lagu itu terputar. Chanyeol pun meletakkan kepalanya di atas meja dan menutup matanya. Tiba-tiba saja dia merasa lelah. Mulutnya bergumam pelan.

"Aku merindukanmu Baekhyun."

Seluruh hati Chanyeol telah dibawa pergi oleh Baekhyun. Membuatnya merasa hampa karena tidak ada lagi yang tersisa darinya. Apa yang bisa dia lakukan sekarang tanpa Baekhyun? Apakah akan ada keajaiban yang bisa membawa Baekhyun kembali padanya? Dia bahkan rela menukar seluruh hidupnya jika itu bisa membuat Baekhyun hidup lagi.

-oOo-

TO BE CONTINUE

-oOo-

Spoiler for Next Chapter:

"Park Chanyeol. Aku bisa mengembalikan Byun Baekhyun padamu."

-oOo-

Sunbaenimdeul, don't be silent readers. Please review. Biar tambah semangat nulisnya. Fighting.

Mohon pembaca menginformasikan jika menemukan cerita yang serupa atau sekiranya ada unsur plagiat. Dimohon juga untuk memberikan review yang bersifat membangun untuk memperbaiki cerita selanjutnya. Terima kasih telah menjadi pembaca yang baik. Semoga sehat selalu.