Yahallooo... Felix-kun balik lagi nih!
Special thanks untuk para reviewer rachmanfatur.161 , AbL3h Namikaze , L. RISA dan Gumizaq pada chapter 5 dan 6 kemarin. Review dari para pembaca memang obat pengemangat yang alami buat para author untuk melanjutkan sebuah fanfict. ^_^
Tanpa panjang-panjang jadi Felix-kun ucapkan selamat membaca dan salam Sport7 '–')7
.
.
.
.
.
.
.
"A-Apa... Kau tidak mau punya k-kekasih sepertiku..." Tanya Shion sembari menutupi mulutnya dan melemparkan tatapan malu-malu kepada pemuda berambut pirang di hadapannya.
Naruto sudah tahu bila Shion adalah seorang gadis teraneh dari semua gadis yang pernah ia kenal. Tapi, oh ayolah... Keanehan gadis pirang itu sudah di luar batas logika. Pantas jika hampir semua orang yang kenal dengan dirinya malah menjauhinya.
". . . . ."
Pemuda tersebut terdiam sejenak di kala ia mengintip Shion dari sela-sela jarinya. Ia baru tersadar akan sesuatu.
Jadi karena sifatnya yang aneh itulah yang membuat Shion dijauhi oleh semua teman-temannya...
Jadi karena kepribadian yang sudah di luar batas nalar itulah yang membuat Shion sendirian...
'Dia... Hanya kesepian...' Gumam Naruto dalam hati saat menatap sayu gadis tersebut.
Entah mengapa ada rasa sesal di hatinya karena baru menyadari semua hal yang sebenarnya sangat sesederhana itu. Tentang mengapa Shion selalu datang dan datang kepada dirinya dengan membuat onar. Karena hanya dirinya lah, satu-satunya orang di dunia ini yang mau mengakui keberadaannya. Hanya Naruto lah yang benar-benar mau menerima gadis tersebut apa adanya. Tanpa uang... Tanpa syarat apapun... Ia mau menerima Shion sebagai temannya.
Karena mungkin, itu lah yang membuat Shion selalu ingin berada di dekatnya. Berada di samping seseorang yang mengerti dirinya. Di saat seluruh dunia menolak keberadaannya.
Naruto melepas tangan kiri yang menutupi wajahnya. Lalu menatap sayu ke arah gadis manis tersebut. Menatap sepasang manik lavender di sana dalam-dalam penuh arti.
"Yah... Aku mau. Mulai sekarang aku adalah, kekasihmu." Ucap Naruto pelan dengan nada yang begitu lembut.
". . . . ."
Gadis berparas manis itu terdiam setelah mendengar jawaban Naruto. Entah mengapa hatinya terasa bergejolak. Serasa ada kupu-kupu di perutnya. Shion memandang ke arah sepasang mata indah sebiru saffir di depannya dengan rasa gembira yang meluap-luap. Hingga tanpa terasa setetes air mata terlinang jatuh melewati pipi mulusnya.
"Ya-... YATTAAAA~"
Gadis berambut pirang tersebut langsung menabrakkan diri kepada pemuda di hadapannya ia memeluk tubuh Naruto dengan begitu erat. Seolah tak mau melepaskannya.
Naruto hanya tersenyum menyadari gadis itu begitu senang. Ia tak tahu bagaimana jalan kehidupannya nanti. Yang ada di dalam pikirannya saat ini hanya ingin menghibur hati yang sudah lelah pada dunia ini. Naruto hanya ingin menemani Shion semampu yang ia bisa. Mungkin pilihan yang Naruto ambil akan membuatnya terjebak oleh perasaan cinta kepada seorang manusia yang jelas-jelas berbeda alam dengan dirinya. Bahkan jika mereka memutuskan untuk hidup bersama sekalipun, Shion akan menua, sementara Naruto tidak.
Ada kemungkinan bahwa Naruto akan menanggung beban kesedihan saat melihat Shion menua dan mati mendahuluinya. Naruto sadar benar akan resiko yang akan ia tanggung. Tetapi pemuda berhati lembut itu sudah tak peduli lagi. Bila ini dapat membuat Shion bahagia, Naruto akan terima semua konsekuensi yang ada.
Bahkan bila seisi dunia ini menolak hubungan mereka sekali pun... Naruto akan melawan!
.
.
.
.
.
.
Sweetest Miracle
.
Chapter 7
Genre : Romance, Fantasy
Main Cast : Naruto U., Shion
.
.
.
.
.
.
Uchiha Sasuke sedang berada di dalam ruangan kerja Shikamaru. Lantai teratas pada
"...Berapa banyak yang sudah menjadi korban dari pergerakan kelompok separatis yang Obito pimpin?" Tanya Sasuke sembari bersidekap memegangi dagunya.
"Sejauh ini masih ada dua korban termasuk wanita itu. Tapi tentu mereka tidak akan berhenti sampai di situ saja. Perkiraanku, pasti akan ada ratusan hingga ribuan penduduk yang tewas di tangan mereka. Obito si brengsek itu sedang mengumpulkan pasukan abadinya." Jawab Shikamaru. Terdengar nada-nada kekesalan yang terdengar melalui serak suaranya.
"Menggunakan penduduk tak berdosa sebagai pasukan abadinya, kah..." Gumam Sasuke pelan menelaah perkataan Shikamaru.
Mereka berdua sudah dapat menangkap bagaimana alur masalah ini akan berjalan. Dengan menggunakan kaki tangan suruhannya, Obito akan membunuh lebih banyak lagi penduduk kota. Lalu menjadikan mereka sebagai tambahan kekuatan kaki tangan yang baru. Akan tetapi, ada satu plot kosong yang tidak bisa Shikamaru maupun Sasuke pecahkan. Yaitu, tujuan dari Uchiha Obito yang sebenarnya kepada nasib dunia ini.
"Sesaat setelah Naruto mengatakan masalah ini kepadaku, tentu aku tidak bisa tinggal diam begitu saja. Segera kuterjunkan beberapa staf terbaik untuk menggali informasi tentang di mana dan apa yang sedang Uchiha Obito lakukan. Pada Januari lalu, kami mendapat kabar bahwa dia sedang berada di London. Tentang apa saja yang dia lakukan di sana sudah di luar koneksi kami. Jadi kali ini, kuharap bisa mendapatkan informasi tentang di mana Obito berada, dan mengetahui seluruh agendanya pada hari-hari ke depan. Dengan begitu Uchiha Obito sepenuhnya ada dalam pengawasanku." Jelas Shikamaru panjang lebar.
Pria berambut nanas yang saat ini telah berusia 29 tahun tersebut mengungkap seluruh rencana yang sementara ini bisa ia buat. Bila itu kepada Sasuke ataupun Naruto, dirinya tak pernah ragu untuk mengatakan semuanya. Karena bagaimanapun juga, mereka berdua selalu bisa melengkapi argumen dan solusi Shikamaru dalam setiap masalah besar di kota ini.
Setelah mendengar rencana yang sudah Shikamaru jalankan, Sasuke diam bersidekap sembari menggigit kuku jempolnya. Bagai nampak sedang memikirkan sesuatu.
TOK-TOKK...
Tidak lama terdengar suara ketukan pintu. Shikamaru tidak tahu pasti siapa di luar sana, karena hanya Uchiha Sasuke saja yang ia kirimi surat panggilan. Tetapi komisaris kepolisian kota Konoha tersebut tetap mempersilakannya untuk masuk. Pintu pun terbuka, dan seorang petugas polisi wanita datang dengan membawa sepucuk surat di tangannya.
"Maaf bila aku mengganggu. Shikamaru, surat laporan dari mereka telah tiba. Sebaiknya kita segera membuka dan membaca isinya." Ucap Sakura seraya menyerahkan surat tersebut kepada pria yang sebenarnya adalah atasannya.
Ketika Sakura menyerahkan surat itu, kedua alis Sasuke mengernyit. Karena sepintas ia melihat bahwa tulisan tangan dari pihak pengirim menuliskan nama Haruno Sakura beserta alamat rumah wanita muda tersebut sebagai tujuan. Sasuke heran mengapa surat laporan itu tidak tertuju langsung kepada kantor kepolisian pusat ini.
"Ohh, kebetulan sekali. Ternyata mereka lebih bekerja lebih cepat dari yang kukira. Mumpung Sasuke sedang berada di sini juga, jadi lebih baik segera kubuka." Ujar Shikamaru bersama dengan senyum senangnya mendapati staf terbaiknya yang terpencar di beberapa tempat mampu mengirimkan informasi secepat ini.
"Tapi surat itu... Tidak terlihat seperti surat laporan resmi pada umumnya. Apa itu benar-benar berisikan informasi mengenai Uchiha Obito...?" Tanya Sasuke penasaran.
Lantas Shikamaru dan Sakura terkikik geli setelah mendengar pertanyaan dari sekretaris terpercaya Naruto tersebut.
"Haha... Benar. Ini adalah surat cinta yang ditujukan untuk Sakura." Ungkap Shikamaru sehabis membuka dan mengeluarkan isi dari amplop putih sederhana di tangannya. Sakura pun masih terkikik pelan.
Sasuke jadi semakin mengernyit dahi saat Shikamaru menunjukkan isi tulisan dari selembar kertas tersebut. Bagaimanapun, surat itu memang surat cinta yang berisikan berbagai pujian dan ungkapan rindu dari seseorang untuk Haruno Sakura. Ada yang aneh, pikir Sasuke menyadari sesuatu.
Tidak lama kemudian Shikamaru mengambil sebuah korek yang biasa dibuat untuk menyulut rokoknya. Shikamaru memantik korek tersebut hingga menyala, lalu membakar sudut kanan paling bawah dari surat cinta untuk Sakura yang dipegangnya.
'Dia membakarnya...' Gumam Sasuke dalam hati dengan rasa heran yang masih belum hilang.
Namun meski Shikamaru menyulut pucuk terbawah surat yang ia dapat, Shikamaru tidak membakar seluruhnya. Hanya pucuknya saja yang dibiarkan termakan oleh api, lalu ia memadamkan api tersebut menggunakan dua jari.
"Ini memang surat cinta yang ditujukan untuk staf polisi tercantik di kantor ini..." Gumam Shikamaru sembari menahan kalimatnya.
Ia menggesek bagian kertas yang sudah termakan api menggunakan telapak tangan, lalu dengan hati-hati Shikamaru mulai memisahkan kertas tersebut bagai membagi tisu menjadi dua lembar.
"...Tapi di belakang surat cinta ini, ada surat lain berisikan informasi yang tertuju untukku." Lanjut Shikamaru lagi seraya menunjukkan surat yang kini terpisah menjadi dua lembar kertas kepada Sasuke. Yang satunya memang surat cinta, sedangkan kertas yang lain nampak seperti kertas tersembunyi yang kosong tanpa ada coretan apapun di sana.
Melihat hal itu membuat Sasuke agak terkejut. Pria bermarga Uchiha tersebut melirik Sakura di sampingnya yang memberikan sebuah tabung kecil sebesar jempol orang dewasa yang berisikan minyak goreng.
Shikamaru meremas surat cinta yang ada pada tangan kirinya dan membuang surat itu ke tempat sampah. Sedangkan lembaran kertas kosong yang lain ia letakkan di atas permukaan meja kerjanya sembari menerima tabung berisikan cairan minyak goreng dari Sakura.
Tanpa membuang waktu pria berambut nanas itu segera membuka tutup tabung yang dipegangnya, lalu menumpahkan seluruh isinya ke atas kertas tersebut hingga menjadi basah. Sasuke masih diam terus memperhatikan dengan seksama apa yang sedang Shikamaru lakukan.
'Jadi begitu rupanya...' Ucap Sasuke dalam hati seolah telah mengerti.
Tidak lama selembar kertas putih kosong yang basah akibat cairan di sana perlahan-lahan menampakkan tulisan yang sebelumnya sama sekali tidak dapat terlihat.
"Mata-mata yang kukirim untuk mencari informasi tentang Uchiha Obito menggunakan tinta khusus. Meski terbasahi dengan air biasa tidak akan membuat tinta ini muncul kecuali bila kita membasahinya dengan minyak." Ujar Shikamaru tersenyum kecil memamerkan hasil kerja kepolisian Konoha.
"Tapi kenapa harus sebuah surat...? Bukankah langsung mengirimkannya lewat email kantor akan jauh lebih mudah dan sederhana...?" Tanya Sasuke ingin tahu mengapa mereka harus serepot itu dengan menyiapkan trik-trik yang rumit.
"Hanya untuk berjaga-jaga saja. Kau pasti sudah mengetahuinya bukan? Bahwa hampir separuh dari staf kepolisian yang bekerja di kantor, adalah vampire. Kita tidak tahu siapa saja yang sudah terpengaruh oleh konspirasi Obito. Selalu ada yang namanya kemungkinan, bahwa beberapa dari anak buahku sendiri memiliki pemikiran separatis dan sepaham dengan rencana Obito. Tidak mengirim informasi melalui email kantor dan menggunakan trik seperti ini, justru akan meminimalisir terjadinya kebocoran informasi. Bukan berarti aku tidak percaya sepenuhnya kepada seluruh bawahanku. Hanya saja sebagai seorang pemimpin, aku harus memastikan rencanaku seratus persen berhasil."
Lagi-lagi Shikamaru menjelaskan secara panjang lebar kepada Sasuke tentang apa yang ada di dalam otak jeniusnya itu. Bahkan untuk seorang Sasuke yang sangat pintar saja tidak mampu mengikuti arus pemikiran pria berambut nanas tersebut. Meski nampak seperti orang yang mudah mengeluh tentang masalah-masalah yang ada, tetapi sebenarnya Shikamaru bukanlah orang biasa.
"Dengan kata lain, mata-mata yang kau terjunkan mengirim sebuah surat cinta pengalihan lalu mengirimnya kepada salah seorang yang benar-benar seratus persen bisa kau percaya di sini untuk menerima surat tersebut. Semua itu kau lakukan demi menghindari jatuhnya surat yang berisikan informasi penting kepada bawahanmu di kantor ini, yang mungkin saja telah terkontaminasi oleh pemahaman separatis Uchiha Obito." Kata Sasuke untuk lebih memastikan.
"...Tepat sekali." Gumam Shikamaru seraya membalik arah surat tersebut agar bisa terbaca oleh Sasuke.
[ "Tanggal 29 April, pameran seni rupa tahunan, di Ballroom hotel Sangri-La Konoha." ]
Sasuke membaca isi surat rahasia tersebut setelah Shikamaru membalik arah surat itu kepadanya. Dan lagi-lagi kedua alis Sasuke mengernyit sesudah menyadari informasi itu.
"Jadi sekitar dua minggu lagi..." Sasuke menahan kalimatnya sembari menatap ke arah pria yang saat ini menjabat sebagai kepala komisaris kantor kepolisian pusat di depannya.
"...Obito akan muncul di Konoha." Sahut Shikamaru menguatkan dugaan yang ada di dalam pikiran Sasuke.
.
.
.
.
.
.
Sweetest Miracle
Chapter 7
.
.
.
.
.
.
Konoha, 14 April 2019_
Hari-hari di musim semi terasa silih berganti dengan cepat. Bunga-bunga Sakura di sepanjang taman tentu sudah bermekaran sejak beberapa saat musim semi datang. Udara yang tidak terlalu dingin maupun terlalu panas tentu menjadi sangat pas dan nyaman bagi sebagian besar penduduk Jepang. Terutama di kota Konoha.
Seperti pagi biasanya, Naruto mengurung diri di apartemennya yang gelap untuk melanjutkan novel ringan buatannya. Terduduk di bawah jendela dan bersandar pada dindingnya tanpa menyalakan lampu, sudah membuat Naruto merasa nyaman melakukan rutinitas yang setiap hari lakukan. Di dalam ruangan yang gelap ini, jari-jemarinya lihai bergerak pada laptop di atas pangkuannya. Meski sesekali ia harus diam sejenak untuk mencari ide-ide baru yang ia perlukan.
Tidak lama kemudian ponselnya berdering. Tanda ia mendapatkan panggilan masuk dari seseorang. Tapi yang jelas, itu bukan panggilan dari Sasuke si bodoh yang selalu mengganggunya dalam mengerjakan novel ini. Karena suara dering yang terdengar adalah nada dering spesial. Di mana Naruto hanya mengatur nada dering tersebut hanya untuk satu orang saja. Dengan terpaksa pemuda bermata biru itu pun harus menghentikan seluruh aktivitasnya.
"Hallo...?" Ucap Naruto setelah mengangkat panggilan masuk pada ponselnya.
". . . . ."
Tidak ada jawaban yang terdengar. Hanya sunyi senyap yang Naruto dengar.
"...Hallo?" Ucap pemuda itu kembali mencoba mencari suara penelponnya.
". . . . . ."
Lagi-lagi sama sekali tidak ada jawaban sama seperti tadi. Sudah menunggu lama, namun masih tidak ada suara yang terdengar. Pertigaan pun muncul di jidat Naruto.
"Dengar, jika kau hanya iseng aku akan menutup telponnya." Gumam lesu pemuda tersebut setelah menghela nafas panjang.
"Ba-Baka! Aku ini sedang gugup, tahu!"
Akhirnya sebuah suara seorang gadis terdengar setelah sekian lama Naruto menunggu.
"Hah...? Setelah harus menunggu dengan sabar, orang yang menelponku ini malah curhat bahwa dia sedang gugup berbicara di telepon denganku...?" Tanya Naruto kepada seorang gadis yang baru saja menjadi kekasihnya.
"I-Itu karena ini baru pertama kalinya aku menelpon seorang laki-laki. L-Lagipula ini juga pertama kalinya aku menelponmu sejak kau memberiku nomor ponselmu dua hari yang lalu. Wajar bila aku menjadi gugup bicara dengan k-ke-ke-kekasihku lewat telepon! Jadi jangan seenaknya mengomeliku atau aku akan mengutukmu kejatuhan tai burung! Huummpp...!"
Terdengar nada kesal saat gadis itu membalas perkataan Naruto tentangnya. Namun Naruto malah terkikik geli mendengar suara Shion yang sangat terbata-bata seperti itu.
"Bukankah kau sendiri yang sedang mengomel, hm...?" Gumam Naruto lembut.
"B-Berisik...!"
"Hihihi... Jadi, ada apa hingga kau menelponku sepagi ini? Jangan bilang kalau kekasihku ini sudah kangen setelah kemarin seharian tidak bertemu, hm...?" Ujar Naruto seraya terus menggoda gadisnya lewat telepon. Dan parahnya, Naruto masih belum tahu sudah semerah apa wajah kekasihnya di sana.
"I-Itu... Itu... Uuhh..."
Yap, pada akhirnya Shion tidak dapat mengelak atas pertanyaan Naruto tadi. Memang seharian kemarin mereka tidak sempat untuk bertemu. Lebih tepatnya, Naruto masih sibuk melanjutkan Light-Novel buatannya. Shion bisa saja datang kembali ke apartemen kekasihnya ini. Tetapi gadis itu menyadari bahwa kehadirannya malah hanya akan mengganggu Naruto untuk menyelesaikan novel tersebut.
Namun tetap saja, Shion tidak mampu lebih lama lagi menahan rindu untuk bertemu. Sangat ingin rasanya ia melihat wajah Naruto lagi. Terutama ingin melihat sepasang mata sebiru saffir yang begitu Shion sukai. Karena itu gadis tersebut memberanikan diri untuk menelpon Naruto sepagi ini. Tapi malah ia sendiri yang dijahili oleh kekasihnya.
"A-Ano... K-Karena hari ini hari terakhir mekarnya bunga sakura... A-Apa kau mau menemaniku melihatnya di taman...?"
Mencoba untuk mengalihkan pertanyaan Naruto, gadis itu mengumpulkan keberanian mengajak kekasihnya jalan-jalan di taman pinggiran kota untuk melihat indahnya bunga sakura yang sudah bermekaran di musim semi. Menurut berita di TV, hari ini akan jadi hari terakhir bunga sakura terlihat. Karena besok dapat dipastikan bunga-bunga yang indah itu akan segera gugur berjatuhan.
Jadi Shion sama sekali tidak mau melewatkan kesempatan ini begitu saja. Bagaimanapun juga ia harus melihat hari terakhir bunga sakura mekar bersama Naruto. Sekalian pergi kencan untuk yang pertama kalinya.
"Ahh, begitu ya..." Kata Naruto menahan kalimatnya.
Meski ia sedang sibuk menulis novel buatannya, Naruto paham bahwa gadis itu sangat ingin sekali pergi keluar dengan dirinya. Tanpa memiliki pilihan yang lain, Naruto memutuskan untuk mengalah demi menuruti keinginan kekasihnya dan berhenti menulis sejenak hari ini.
"Aku tidak masalah sih... Tapi bagaimana dengan sekolahmu?" Tanya Naruto ingin memastikan.
". . . . ."
"...Bukankah hari ini hari minggu?" Kata Shion yang sempat terdiam bingung mendengar pertanyaan kekasihnya. Sedangkan Naruto menepuk keningnya baru menyadari bahwa ini hari libur.
"Ahh... Ahaha, kau benar. Sepertinya aku yang lupa jika hari ini adalah hari minggu." Jawab Naruto seraya tertawa renyah.
"Dasar vampire tsundere tukang pikun. Pantas bila umurmu sudah tua begitu~"
"Tadi kau bilang apa...?"
"Hihihi... Tidak. Aku tidak bilang apa-apa kok. Kutunggu di stasiun dua puluh menit lagi. Jangan sampai terlambat, ya!"
"Bilang saja bila kau sudah tidak sabar untuk bertemu denganku."
"B-Be-Berisikk!"
TUTT... TUUTT... TUUTT...
Shion pun buru-buru menutup telponnya. Sedangkan Naruto meletakkan ponselnya dengan guratan senyum di wajah. Baru dua hari yang lalu mereka menjadi sepasang kekasih. Baru kali ini juga Naruto menjalin hubungan serius dengan seorang gadis. Naruto yang sudah terbiasa hidup tenang dan menyendiri, kini harus siap meladeni Shion yang sangat berisik. Menyadari hal itu saja sudah membuatnya tertawa dalam hati.
Pemuda itu lalu bangkit berdiri dan berbalik menghadap jendela. Perlahan ia membuka korden tersebut. Matanya menyipit setelah diterjang oleh silau matahari pagi.
"Kurasa aku memang harus keluar hari ini." Ucapnya sembari membuka jendela apartemennya dan menengok ke arah pemandangan kota Konoha yang tersuguhkan di tepat depan matanya.
Tentu banyak perubahan yang akan terjadi pada hidupnya setelah Shion masuk ke kehidupannya di masa ini. Namun Naruto yakin bahwa itu adalah yang terbaik baginya. Membiarkan Shion sendirian menanggung kesedihan serta ketidakadilan dari dunia ini, pasti akan membuat Naruto menyesal hingga akhir ajalnya. Karena itu Naruto yakin pilihannya tidaklah salah. Ia tahu bahwa dirinya masih belum mengenal gadis itu luar dalam. Tetapi bukankah ini kesempatan yang tepat untuk lebih mengenal gadis yang baru saja menjadi kekasihnya itu...?
Mungkin tidak perlu terburu-buru. Mungkin juga tidak perlu memaksakan diri untuk lebih dekat. Naruto memilih untuk membiarkan semua hal mengalir seperti apa adanya. Ia berpikir bahwa yang paling penting untuk saat ini hanyalah menjaga dan menemani Shion, itu saja.
Pemuda itu masih bersandar di tepian jendela sembari menghirup aroma kota Konoha yang segar di pagi ini. Akan tetapi sesaat kemudian seperti ada yang jatuh menimpa kepalanya.
CEPROOTTT~
Naruto mengangkat satu tangannya untuk memeriksa apa yang membasahi rambut kuningnya tersebut. Lalu saat menarik tangan kanannya kembali, Naruto terkejut melihat sesuatu yang jatuh di atas kepalanya adalah kotoran burung yang masih hangat. Seketika pertigaan muncul di sebelah jidatnya.
'KUSOOO... GADIS ITU BENAR-BENAR MENGUTUKKUUUUUU!'
.
.
.
.
.
.
Sweetest Miracle
.
Chapter 7 : Rasakan Itu!
Genre : Romance, Fantasy
Main Cast : Naruto U., Shion
.
"Setiap kehidupan memiliki warnanya tersendiri. Bagaimana caramu untuk menjalani kehidupan di dunia ini akan menentukan warna dari hidupmu. Meski begitu, terkadang kehadiran seseorang mampu memberikan sebuah warna yang baru. Melengkapi warna-warna hidup yang telah kalian lukis..." (Felix-kun)
.
.
.
.
.
.
To Be Continue...
