Trapped-in-Hunhan
Presents
.
First and Second
.
Warning : YAOI, Typo(s), SO FICTIVE
.
Throw all your worries to the sky, blow up
You have us, get up
Take each others' hands and put them up, hands up
We will win over it all
Our life is a drama, this moment is the highlight
Hoping for a happy ending as we go on top of the camera
In the end, it's the same, the important thing is you and me
Nothing to lose, nothing to gain
Let's all go up together
(WINNER - Go Up)
.
Jongin menutup teleponnya. Dia masih berada di kampus semalam ini karena latihan menari dari klub tari universitasnya baru saja selesai.
Jongin memandang ke arah langit yang gelap. Di luar hujan deras. Dan berangin kencang –terlihat dari pepohonan yang melengkung paksa.
Sekiranya keadaan di luar sama dengan kondisi di dalam dirinya.
Dia tidak marah.
Dia hanya kalut, merasa sedih, dan ketakutan.
Luhan baru saja menghubunginya, menceritakan bahwa dirinya menyusul Sehun. Mengabarkan bahwa dia dan Sehun baik-baik saja dan akan menunggu hujan mereda. Bersama.
Pria itu segera ke sana setelah mendengar dari Jongin bahwa Sehun terjebak di dalam bar karena tidak mengetahui bar tutup.
Jongin menyandarkan tubuhnya di dinding. Kepalanya menengadah. Kembali melihat langit yang sedang dihiasi oleh sinar kilat, yang kemudian disusul gelegar petir.
Dia tertawa. Pahit.
Luhan masih memerhatikan Sehun. Luhan masih menyukai Sehun.
Dia tertawa lagi. Lebih keras.
Mereka baik-baik saja. Tetapi kenapa aku merasa aku tidak baik-baik saja?
Tawanya beradu dengan petir dan kilat yang semakin sering menampakkan diri.
First and Second
Badai sudah mereda.
Luhan berdiri di teras di depan bar, menunggu Jongin. Ketika hujan deras mulai mereda, Jongin menghubunginya, mengatakan jika dia akan datang menjemput Luhan.
Suara tetesan air yang terjun dari dedaunan ataupun atap bar ke tanah, petrichor, dan angin malam membuat Luhan menguap. Ini adalah suasana yang menenangkan. Dan tentu saja membuatnya mengantuk.
"Kau yakin kau tidak mau pulang saja?"
Dia memang tidak sendirian. Sehun masih di sana. Menolak pulang. Tetapi dari tadi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengikuti Luhan yang mengajak pulang, kemudian dia tetap berdiri di teras depan bar meskipun sudah mengunci pintu bar.
Sehun memandang ke arah jalanan yang masih basah. "Kurasa Jongin tidak akan lama"
"Hm, kau ada kepentingan dengan Jongin?"
"Tidak"
Luhan menoleh ke arah Sehun. "Kalau kau masih di sini karena menemaniku, itu tidak perlu. Bukankah besok bukan hari libur? Lebih baik pulanglah dan beristirahat"
"Aku memang ingin menemanimu" Sehun bergumam sembari melirik ke arah Luhan, melihat responnya. "Tetapi bukan karena merasa bersalah"
Pria yang lebih tua empat tahun tertawa kecil. "Hm~, syukurlah kalau memang begitu"
"Aku–" Sehun mengalihkan pandangannya ke arah lain. Meskipun jelas dia sedang berbicara dengan Luhan. "–ingin memperbaiki semuanya. Aku tidak ingin ini hanya sekedar kau memaafkanku tetapi hubungan kita tidak membaik sama sekali"
Sehun memandang Luhan yang kini tersenyum lebar kepadanya dan mengangguk. "Aku setuju"
Angin dingin membuat Luhan menggesekkan kedua telapak tangannya berulang kali. Mengusap-usap untuk memberikan kehangatan.
Sampai sesuatu melingkupi bagian bahu dan bagian belakang tubuhnya.
Luhan menoleh ke arah Sehun. "Kenapa kau berlaku manis seperti ini?" mata rusanya menyipit curiga.
"Ayolah, hyung" Sehun menggelengkan kepala, terkekeh geli. "Aku hanya memberikanmu jaketku karena tubuh pendekmu itu kedinginan"
"Yak! Kau tidak perlu menyebutkan pendek, sungguh" Luhan sengaja menghembuskan napas dengan keras, untuk menunjukkan bahwa dia kesal. Dan itu semakin membuat Sehun terkekeh geli.
Luhan tersenyum kecil melihat Sehun tertawa.
Memang hubungan baik-baik seperti ini lebih menyenangkan, bukan?
Sehun yang sudah berhenti terkekeh mulai menormalkan deru napasnya. Dia tersenyum ke arah Luhan.
Semoga hubungan kami bisa lebih membaik lagi. Sama seperti dulu.
First and Second
Jongin benci dengan dirinya saat melihat Luhan tertawa dengan Sehun.
Jongin benci dengan perasaan cemburu yang tak bisa dia redakan melihat Luhan memakai jaket orang lain. Jaket Sehun.
Terdengar sangat egois dan jahat memang, tetapi dia lebih suka ketika Sehun menghindari Luhan dan terlihat serba salah ketika bersama Luhan.
Katakanlah Jongin berlebihan, tetapi apa yang dirasakannya tidak dapat berbohong.
Dia takut. Takut jika Luhan akan berbalik arah. Takut jika Luhan melepaskan tangannya yang perlahan demi perlahan menuntun pria yang empat tahun lebih tua darinya itu untuk melepas apapun yang pernah ada pada masa lalunya dengan Sehun.
Menarik dan menghembuskan napas untuk menenangkan diri, mahasiswa itu berjalan lebih dekat ke arah dua orang insan yang berada di teras di depan bar.
"Luhan" sebisa mungkin dia mengontrol suaranya agar tidak menunjukkan rasa tidak sukanya, kekecewaannya, ataupun kecemburuannya.
Luhan adalah penyihir, Jongin yakin itu. Karena ketika pria itu menoleh ke arah Jongin, dan dalam satu detik mengubah ekspresinya dengan senyuman lebar karena melihat Jongin, perasaan Jongin yang terbakar itu seperti disiram oleh air hujan yang begitu deras.
Hanya senyuman Luhan untuknya, dan dia kalah.
Bukankah cinta itu begitu ajaib?
Jongin tersenyum. Luhan mengira senyuman itu karena membalas senyumannya. Pria itu tidak tahu Jongin tersenyum karena merasa geli bagaimana Luhan bisa membolak-balikkan perasaannya hanya dengan sebuah senyuman.
"Ayo pulang" ajaknya, mengulurkan tangan ke Luhan.
Luhan menyambutnya, mengaitkan jemari mereka dengan erat.
"Sampai jumpa, Sehun. Terima kasih!" ucap Luhan yang berbalik ke belakang, ke arah Sehun.
Pandangan Jongin bertemu dengan pandangan Sehun. Jongin tersenyum pada Sehun. Memberikan gestur pamit dengan mengangkat kepalanya sedikit. Sehun membalasnya dengan gestur yang sama.
Berbahagialah dengan Nana, Sehun.
Jongin membawa Luhan berbalik. Dan dia mencubit hidung Luhan sembari menceritakan betapa kesalnya dia karena Luhan merepotkannya.
Karena aku juga akan berbahagia dengan Luhan.
Luhan mencubit lengan Jongin gemas, menekankan bahwa bukan dia yang meminta Jongin menjemputnya.
Aku akan menggantikanmu. Aku tidak akan menyerah.
First and Second
Ini adalah hari Minggu.
Itu berarti Jongin tidak ada kelas. Begitu pula dengan Luhan.
Masih pagi, tetapi Jongin sudah membuka kamar Luhan. Menampilkan sebuah ranjang dengan selimut yang membentuk gundukan di atas sana.
Laki-laki itu membuka selimut yang menutupi targetnya. Luhan yang masih tidur dengan nyenyak kini bisa ditangkap oleh indra penglihatannya.
"Lu, bangun" Jongin menoel-noel pipi Luhan. Membuat yang ditusuk-tusuk pipinya menyerngitkan dahi.
"Luhan, bangunlah" Jongin kini menggoyang-goyang tangan Luhan. Luhan memberengutkan bibirnya. "Jangan ganggu aku, Jongin" katanya, masih sambil memejamkan mata.
"Ayolah, kau harus banguuunn" Jongin mencubit pipi Luhan dengan gemas.
"YAK!" Luhan bangun dari tidurnya. Rambutnya berantakan. Dan matanya melotot, kontras sekali dengan mata yang sedari tadi tidak mau terbuka.
"Ah, kau bangun juga"
Luhan memandang Jongin yang terkekeh puas dengan kesal. "Apa maumu?"
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Cepat bersiap sana" perintah Jongin, yang sudah berhenti tertawa, sambil berkacak pinggang.
Luhan meletakkan kepalanya di atas bantal lagi, menarik selimutnya, kembali meringkuk di ranjangnya. "Ugh, aku masih mengantuk. Nanti sa–KYAHAHAHAHAHAHAHAHA! HENTIKAN! HAHAHA–HENTI–HAHAHAHAHA–KAN BODOH!"
Jongin tertawa puas dan tidak berhenti menggelitik Luhan meskipun Luhan sudah memukulinya dan menendanginya –bahkan menarik rambutnya– agar dia berhenti.
"Ka–hh–u" setelah beberapa menit, Luhan dan Jongin kini terlentang berdua di atas ranjang pria rusa itu dengan nafas yang sedikit kacau karena kegiatan mereka tadi. "Be–Benar-benar menye–hh–balkan"
Jongin bergerak, memiringkan posisinya. Memandang ke arah Luhan dengan senyuman puas. "Yang jelas kau sudah bangun sekarang"
"Ugh, ini pemaksaan namanya" Luhan ikut memiringkan posisinya, menghadap ke arah Jongin untuk menunjukkan wajah tidak terimanya.
Jongin tidak membalas perkataan Luhan. Dia lebih memilih memandangi Luhan yang kini juga memandanginya dalam diam.
Tangannya terulur, menyingkirkan helai demi helai rambut yang menutupi wajah Luhan.
Wajah yang indah tidak seharusnya tertutupi oleh apapun, seperti itu batinnya setelah dia bisa melihat wajah Luhan dengan lebih jelas.
Sedangkan Luhan hanya membuka mata setelah dia tidak merasakan tangan Jongin pada wajahnya lagi.
Mereka bertatapan lagi, kali ini dengan nafas yang lebih teratur dan tenang.
Yang lebih muda bergerak, mencondongkan tubuhnya.
Mencium yang lebih tua di dahinya.
Yang lebih tua refleks menutup mata, jemarinya memegang erat ujung kaos yang digunakan Jongin.
Setelah bibir itu tidak berada di dahinya, Luhan merasakan usapan ibu jari pada pipinya.
Mata Luhan yang terbuka lagi secara otomatis memfokuskan pandangannya ke mata Jongin yang juga menatapnya dengan senyuman yang sangat menenangkan.
"Cepat bersiap. Aku akan membuat sereal untuk kita berdua" Jongin tersenyum lagi sebelum bangkit dari ranjang, dan keluar.
Meninggalkan Luhan sendiri.
Luhan yang kini meraba daerah sekitar jantungnya.
Aku ... ini ...
Pria itu tidak berbohong. Dia dengan jelas ingat perasaan apa ini.
Tetapi, tidak mungkin secepat ini, bukan?
Pria yang lebih tua tidak tahu, bahwa yang lebih muda juga meletakkan tangan di daerah jantungnya seketika dia sampai di dapur setelah bergegas menuju ke sana.
Keduanya tersenyum.
Hangat.
First and Second
Matahari sudah tak nampak lagi ketika Luhan dan Jongin memesan makan malam mereka di sebuah restoran khas Italia yang terkenal akan keauntetikan masakannya.
Luhan yang mendapatkan meja di balcony di lantai teratas restoran ini kini melihat ke arah langit malam yang dihiasi bintang.
Indah.
Senyum menghiasi wajah pria itu tatkala dia mengulang kembali semua event hari ini.
Hari ini sungguh menyenangkan.
Pagi tadi mereka berdua berjalan-jalan menyusuri taman di dekat apartemen mereka. Menghirup udara pagi yang menyegarkan, dan selang beberapa waktu Jongin membelikan americano untuk dirinya dan cappuccino untuk dirinya sendiri, juga beberapa sosis bakar untuk disantap.
Menjelang waktu kota mulai beraktivitas, Jongin menariknya menuju ke taman bermain. Dan Luhan meskipun pada awalnya malu karena mereka berdua hanyalah pria dewasa tanpa anak-anak untuk ditemani, pada akhirnya dia menikmati semua permainan yang menyenangkan.
Minus wahana rumah hantu karena di sana Jongin menertawakannya.
Di sana mereka menikmati makan siang mereka di booth Mc Donald yang ada di sana. Mereka memesan Happy Meal, yang sebenarnya untuk anak-anak. Mereka mendapatkan tatapan aneh dari pegawainya, tetapi mereka sudah terlanjur ingin merasakan Happy Meal untuk merasa malu. Lagipula ada yang lebih memalukan, mereka memesan lagi karena satu porsi biasa burger, satu french fries ukuran reguler, dan mashed potatoes porsi anak-anak tentunya tak mencukupi kebutuhan mereka.
Luhan terkekeh kecil mengingatnya.
Di sore hari mereka memutuskan untuk menonton film di bioskop. Dan kendati mereka tidak tahu film apa yang menarik, mereka berpikir bahwa film komedi yang mereka pilih sangat memuaskan.
Perut Luhan sakit karena banyak tertawa.
Dan sekarang di sinilah dia. Menatap langit malam di sebuah restoran dengan desain yang memberikan suasna yang sangat nyaman.
Hari ini Luhan bahagia, begitulah yang ada di dalam benak Luhan.
Benar-benar bahagia.
Luhan menghela napas. Kali ini untuk alasan yang bagus.
Dia benar-benar harus berterima kasih pada Jongin.
Jongin selalu membuat hidupnya lebih baik daripada yang dia bayangkan sebelumnya. Perasaan nyaman selalu berhasil diberikan oleh Jongin kepadanya.
Orang berkata setelah badai, matahari akan bersinar lebih terang.
Setelah berpikir bahwa dia tidak akan bisa bahagia lagi selepas Sehun, sinar dan kehangatan dari Jongin membuktikan betapa salahnya dia.
Luhan bahagia bersama Jongin.
First and Second
Jongin yang baru saja selesai dengan urusannya di toilet, menatap ke arah Luhan yang menatap langit malam dengan senyuman di bibirnya.
Mahasiswa itu tersenyum, berharap bahwa senyuman manis yang dia sukai itu terbentuk karena dirinya.
"Apa yang ada di kepalamu?" tanya yang lebih muda sambil menusuk pipi yang lebih tua. Membuat yang lebih tua menoleh ke arahnya.
Senyuman Luhan untuknya adalah alasan kebahagiaan Jongin.
Alasan mengapa Jongin yang dulu menertawakan kupu-kupu berterbangan di perut dan mengatakan hal seperti ini kepada teman sekelasnya, Taemin, "Bodoh sekali kalimat seperti ini. Memang memakan kupu-kupu yang masih hidup dan terbang di lambungmu menghindari asam lambung itu seru?", kini menjadi mengerti bagaimana rasa sesungguhnya.
"Aku sangat senang sekali hari ini" Jongin menahan dorongan untuk mencium Luhan yang terlihat sangat memesona. "Terima kasih, Jongin"
Jongin menggelengkan kepala sambil duduk di tempatnya. "Aku juga berterima kasih padamu. Hari ini aku juga sangat senang sekali"
Bagaimana tidak?
Pagi tadi mereka berjalan mengelilingi taman di dekat apartemen mereka dengan bergandengan tangan. Dan ketika angin musim gugur di pagi hari cukup membuat mereka menggigil, Luhan merapatkan tubuhnya pada Jongin.
Jongin bisa mencium wangi apel di rambut Luhan yang baru saja keramas kemarin malam sebelum tidur.
Di siang hari, mereka menikmati berbagai macam permainan. Meskipun tidak menaiki wahana menantang yang dia gemari, adanya Luhan sudah membuat tantangan tersendiri baginya. Dia lebih bahagia bersama Luhan daripada menaiki wahana itu.
Terutama ketika di wahana rumah hantu. Luhan benar-benar memeluk Jongin dengan kelewat erat. Jongin setelahnya berpikir bahwa dia harus membaca roman-roman picisan yang dia kira tidak mungkin ada di dunia nyata.
Dan di sore hari, ketika mereka menonton di bioskop, Jongin berpikir tawa Luhan lebih nyaman didengarkan daripada lelucon yang ada di dalam film yang sedang diputar.
Usahanya untuk membahagiakan Luhan berhasil, dan dia sangat bahagia.
Luhan menatap Jongin dengan senyuman haru. Dan Jongin hanya bisa menatapnya dengan tersenyum bahagia, seperti menemukan keberhasilan.
Tetapi acara saling pandang dan saling tersenyum itu tidak berlangsung lama karena pelayan sudah mengantarkan makanan dan minuman pesanan mereka, meletakkannya ke atas meja.
"Ini enak" kata Luhan yang sudah memasukkan pasta ke dalam perutnya. "Enak sekali"
"Setelah ini cobalah pizzanya. Benar-benar pizza dari oven manual" kata Jongin yang menggulungkan pizza tipis dan memasukkannya ke dalam mulutnya setelah mengoleskannya dengan saus sambal dan mayonnaise.
Luhan mengangguk dan mengambil sepotong pizza juga setelahnya.
Dan senyuman Luhan ketika pipinya menggembung penuh dengan makanan, masuk ke dalam daftar senyuman Luhan yang Jongin sukai.
Jongin mengambil handphonenya, dan mengambil gambar Luhan dengan fitur kamera di sana.
Luhan tahu, dan tersenyum untuknya.
First and Second
Segala kekhawatiran Luhan tentang apakah dia bisa bahagia atau tidak setelah berpisah dengan Sehun menghilang begitu saja. Seakan menguap dan terbang ke langit.
Luhan memiliki Jongin.
Tangan Jongin yang menggenggamnya, menuntunnya perlahan, dan itu membantunya untuk melepas tali yang mengikat Sehun pada dirinya.
Luhan akan berhasil melewati semua hal buruk yang menimpanya, bersama dengan Jongin.
Luhan mengharapkan adanya happy ending pada kisahnya.
Berharap semuanya bisa bahagia bersama-sama.
.
Jongin membuang segala ketidaknyamanannya terhadap hubungan Luhan dan Sehun yang membaik. Membiarkannya meledak di udara.
Jongin memiliki Luhan.
Tangan Luhan yang dia genggam, dia bawa ke udara, mengangkatnya. Menunjukkan semangat mereka.
Jongin akan memenangkan Luhan, dengan adanya Luhan di sisinya.
Hidup adalah drama, dan scene di mana dia dan Luhan bersama adalah highlightnya.
Jongin berharap dia akan menemui happy ending pada kisahnya, bersama dengan Luhan.
.
Pada akhirnya, semuanya sama saja.
Bagi Luhan, yang terpenting adalah adanya Jongin.
Bagi Jongin, yang terpenting adalah keberadaan Luhan.
Asalkan bersama, bagi mereka tidak ada hal baik yang akan hilang, dan tidak akan ada hal buruk yang akan diterima.
Mereka berdua akan bangkit bersama dari kekhawatiran maupun ketidaknyamanan yang mereka rasakan.
To Be Continued
Akhirnya Kailu kencan (sorta sih) ... MWAHAHAHAHA. Saya juga mau seharian main sama Kai TwT #heh
Tenang saja, saya mungkin payah dalam update cepat tapi saya tidak akan mendiscontinued ff-ff saya OwO tinggal 6 chapter lagi btw (5 kalau tidak jadi pake epilog)
Btw karena ini Luhan saya bikin bottom-yet-man!Lu, makanya dia ngga dendaman dan memaafkan saja. Gentleman dan dewasa OwO
Ini untungnya bukan berdasarkan pengalaman pribadi saya hehe. Meskipun saya juga tipe menikmati kebohongan yang sudah saya ketahui kebenarannya~
And ... thank you very much for reviewers, followers, and favoriters! (tembus 100 OMG TwT)
Tanpa kalian aku tidak akan ada semangat update n(_ _)n
Seravin509| Arifahohse | hellukiky | Novey | OhSeXiLu | Ruhanxi | Ludeer eh, yang chapter A Lonely September (IV) kemarin udah masuk, yang Love The Way You Lie (III) maksud saya. Maaf membuat salah paham | mischa baby | lzu hn | juniaangel58 | Menglupi | ParkNada | LSaber | deerwinds947 | BB137 | oohluhan | taenggoo | Balqis | chii-chan | choi eun sang
So,
Mind to review?
