A/N: Fic ini merupakan sekuel dari serial utama "Chronicle Parabellum" yang belum selesai Ane publis. Adapun kemiripan plot yang dimiliki oleh Fic ini merupakan murni penyesuaian. Sedangkan untuk even-even yang terjadi di Fic ini merupakan ide dari Ane. Selebihnya merupakan sumber referensi yang Ane gunakan untuk kepentingan Fic ini.

.

.

.

Arturia ketakutan.

Dia sangat ketakutan. Api seperti mengurungnya ke dalam masa lalu.

Semua pemandangan itu… ia mengingat saat-saat terakhirnya bersama Shirou.

Kepergian kekasihnya yang ditelan oleh lautan api, seperti sebuah video yang diputar berulang-ulang. Seolah-olah kejadian itu baru terjadi sedetik yang lalu.

"Shirou…!"

"Bawa yang terluka, Ria! Bawa menjauh dari hutan ini!"

"Kau mau kemana?!"

"Aku akan menjemput yang lain!"

"Ta–tapi, hutan sudah tertutup api! Kumohon jangan pergi!"

"Mereka anak buahku, Ria! Aku harus menolong mereka!"

"Tidak! Kumohon Shirou! Jangan!"

"Aku mencintaimu, Arturia! Pergilah!"

Arturia menangis. Dia berlari hendak menyusul Shirou. Dia ingin mengejar Shirou, mencegahnya untuk tidak kembali ke dalam jilatan api yang membara itu. Namun ia tak bisa meraih pria itu. Seseorang mencegahnya untuk pergi.

"Tenanglah, Ria!"

Entah bagaimana tiba-tiba dia sudah berada dalam gendongan Naruto. Entah bagaimana dia tiba-tiba sedang menjauh dari tempat Shirou pergi. Arturia berontak. Dia tak ingin diselamatkan Naruto. Dia harus kembali ke tempat Shirou. Dia harus mencegah Shirou memasuki lautan api itu. Dia tak ingin Shirou mati.

Tiba-tiba dia merasakan gelora api mengelilinginya dan memenuhi kepalanya. Api-api itu memiliki mulut dan menjerit kepadanya. Semua menuntut: Kenapa dia melepaskan Shirou begitu saja? Kenapa dia lari bersama pria lain & membiarkan kekasihnya pergi?

"Shirou tak seharusnya mati!"

"Kau seharusnya menahannya, Ria!"

"Kau seharusnya tidak membiarkannya pergi!"

"Kau tahu kesalahan terbesarmu, Ria! Cegat dia!"

"Betul! Jangan biarkan dia pergi!"

"Diam, kumohon! Diam!" isak Arturia, "Aku akui, aku salah! Aku… Aku…"

"Kembalilah, Ria! Tahan dia!"

"Kau tak semestinya berlari dengan pria lain! Dia Shirou! Kau harus mencegatnya!"

"Ria!"

Suara bising gelegak api terus memprotesnya. Suara mereka yang semakin kencang membuat Arturia semakin kalut. Api-api itu memburunya. Api-api itu tidak terima mengapa Shirou harus mati.

Ketakutan Arturia menjadi-jadi ketika salah satu dari api-api itu berubah bentuk menyerupai Shirou. Seakan Shirou berada di balik selimut api yang menyala-nyala itu. Api itu berlari mendekatinya. Api itu memprotes sikapnya. Api itu menangkap tubuhnya.

"RIA!"

Ledakan keras melemparkan mereka berdua. Terdengar rintihan keras. Tiba-tiba dia merasa ada yang menggencet tubuhnya. Dia melihat sekilas. Naruto sedang merintih sambil mendekapnya.

"Sial!" gerutu pria itu, "Kau tak apa kan?"

Arturia tak menjawab. Dia berhalusinasi. Ada ratusan Shirou yang terkurung di dalam lautan api. Dia terkejut. Dia tidak lagi mempedulikan Naruto yang berusaha melindunginya. Dia berdiri kalut.

"Kumohon, jangan!"

"Ini salahmu, Arturia! Ini semua salahmu!"

"Tidak, kumohon!"

"Isak tangismu takkan mengembalikan Shirou lagi! Kau hancurkan harapanmu! Kau hancurkan semuanya dengan tanganmu sendiri!"

Arturia melangkah mundur ketika kobaran api semakin mendekatinya. Dia berulang kali mengucapkan kata maaf dan penyesalan tetapi tidak menyurutkan api-api itu untuk menghampirinya. Ketakutan membawa kakinya berlari menjauh dari mereka.

"Arturia! Jangan lari!"

Tiba-tiba Arturia merasakan wajahnya hangat. Dirabanya dan dilihatnya darah memenuhi tangannya. Ada yang berteriak keras di depannya. Suara pria yang dia kenal baik. Dia merasa tubuhnya didorong oleh suara itu dan lalu terjatuh ke dalam sungai.

Naruto bisa merasakan ketakutan yang luar biasa dari gadis yang digendongnya. Naruto berusaha menenangkannya tapi gadis itu terlalu kalut. Dia terus berusaha membawanya menjauh dari kepungan api meski si gadis memberontak dan memohon untuk tinggal. Api semakin meninggi dan jeritan menyayat dari puluhan warga desa yang tak selamat dari peristiwa itu.

Di atas lautan api itu, terlihatlah pesawat [Novaya Krisna] yang meraung-raung tiada henti. Kadang mereka terbang rendah untuk mencari dan menembaki siapapun yang masih hidup.

Naruto tidak pernah menduga bahwa orang-orangnya akan berbuat hal yang sekeji itu. Membantai penduduk sipil adalah hal yang tidak dibenarkan dalam perang.

Apakah terjadi kesalahan dalam laporan intel? Naruto tidak bisa menyimpulkan. Yang paling penting sekarang dia harus sebisa mungkin menghindar dari pesawat itu agar tidak menjadi korban berikutnya.

Namun takdir berkata lain…

Gerombolan pasukan dengan baju metal turun dari pesawat itu. Pasukan metal berlambang [Palu & Arit] dengan senapan mesin di tangannya bergerak menghampiri mereka berdua. Arturia berteriak ketakutan saat pasukan-pasukan itu muncul dari balik geliat api. Melihat prajurit itu menunjukkan gelagat buruk ke arah mereka berdua, Naruto segera menunjukkan dirinya.

"Jangan tembak! Aku tentara [Novaya Krisna]! Kolonel Naruto Minatovich Kuzrov!"

Prajurit itu menahan tembakannya. Naruto tahu di helm mereka ada sistem komputer yang mampu mengenali rekan mereka dari wajah dan ucapannya. Naruto duduk sambil mengangkat kedua tangannya dan menaruh Arturia tanda menyerah. Akan tetapi, prajurit itu malah mengarahkan senjatanya kembali kepada mereka berdua. Sepertinya prajurit itu tidak menemukan nama Naruto di dalam databasenya.

Sadar akan datangnya bahaya, Naruto lantas membawa Arturia pergi menjauh lokasi itu. Ia bisa mendengar suara tembakan yang berulang-ulang dari arah belakang. Namun sayang, ia tak berhasil menghindari semua proyektil-proyektil itu. Salah seorang dari meraka berhasil menghantamnya dengan grenade launcher.

Tepat sebelum granat itu meledak, Naruto langsung memeluk tubuh Arturia & melindunginya bom tersebut.

"Ja–jangan mendekat! Ja–jangan mendekat!"

Belum sempat Naruto berdiri akibat luka yang ia terima, Arturia sudah pergi menjauh & mengambil acang-ancang untuk melarikan diri.

"Arturia! Jangan! Ada sungai di belakangmu!"

Arturia seperti tuli. Dia tidak menggubris ucapan Naruto. Teriakan Naruto seperti tidak ada artinya bagi Arturia. Pria itu melongok ke belakang. Dia melihat salah satu pasukan mengarahkan senjata kearah Arturia. Gadis itu malah hendak berlari menjauh ke arah sungai.

"Arturia! Jangan lari!"

Dentuman tembakan membuat Naruto melompat ke arah Arturia. Sebuah peluru menembus lengannya dan memuncratkan darah ke wajah gadis itu. Gadis itu terkejut ketika Naruto mendekapnya. Naruto tidak sanggup menahan keseimbangan karena rasa nyeri luar biasa yang dihasilkan tembakan itu. Dia tak bisa menjaga dirinya dan Arturia yang didekapnya. Mereka akhirnya terjatuh kedalam sungai.

Sungai besar dengan arus deras menyeret mereka menjauh dari dari lautan api dan prajurit metal pengejarnya. Melihatnya Naruto merasa sangat bersyukur. Arturia masih saja menunjukkan raut ketakutan meskipun tidak seperti tadi. Naruto mendekap erat-erat tubuh Arturia agar mereka tidak terpisah dalam arus. Tapi arus terlalu kuat bagi Naruto sementara luka di punggungnya mengurangi tenaganya untuk bertahan. Dia tak bisa meraih Arturia saat mereka berdua terjatuh ke dalam air terjun yang cukup deras.

"Lihat apa yang kita temukan!"

Mata Arturia mengerjap ketika mendengar suara itu. Dia mendapati dirinya terbaring di tepi sungai dengan keadaan basah kuyup. Ada sekitar empat pria berseragam prajurit [Asura] tengah mengelilinginya. Mereka menunjukkan gelagat yang tidak baik ketika Arturia siuman.

"Lihat dia siuman! Kita apakan dia bos?"

Seorang kurus melihat ke pria tegap di sampingnya. Pria itu bertampang buruk dan tidak ramah. Dia menampikan senyum licik ke arah Arturia.

"Sulit mencari gadis cantik sejak Perang. Tampaknya yang satu ini lumayan," ujar pria tegap itu diikuti tawa tiga orang rekannya.

"Tak rugi kita lari dari garis depan, Bos!" celetuk seorang yang lebih tinggi di sampingnya. Si bos segera mendekati Arturia yang segera mengambil gerakan mundur.

"Saya mohon, jangan…!"

"Dengarkan dia! Jangan terlalu kasar pada wanita, bos!" balas salah satu rekannya yang paling jelek. Mereka semua kembali tertawa. Bau alkohol menyebar ke mana-mana. Arturia semakin ketakutan. Si bos kembali menatap Arturia tajam. Dilihatnya gadis itu dari atas ke bawah sebelum akhirnya tersenyum licik.

"Tampaknya kita bisa menjualnya setelah menikmatinya!"

Arturia berontak ketika tangan usil si bos mulai mencengkeram lengannya. Dia menolak dan menghardik tangan bertato itu agar menjauh darinya. Si bos balas menamparnya hingga Arturia terjungkal jauh.

"Kau mau main kasar, perempuan?" Si bos menghempaskan tubuhnya hingga hampir menindih Arturia. Arturia meronta tetapi tubuhnya yang masih lemah gara-gara terseret arus tadi membuatnya tidak sanggup melawan si bos. Si bos kembali menamparnya hingga gadis itu merintih kesakitan.

"Aku suka tipe gadis seperti ini!" tukasnya lagi sambil memaksa lepas pakaian Arturia. Arturia menjerit. Si bos tidak memberi kesempatan Arturia melawan. Dia malah semakin kasar menindih & melepas paksa pakaian Arturia.

Tanpa disadari oleh mereka, sebuah palang kayu melayang tepat di wajah si bos sampai akhirnya patah menjadi dua. Si bos terhempas ke tanah sambil menjerit. Tidak sepadan dengan kekar badannya, dia pingsan. Rekan-rekannya terkejut. Arturia melihat wajah mereka yang langsung menjadi beringas dan menyerang orang yang membuat si bos terkapar.

Satu lagi suara jeritan melengking diikuti suara-suara lainnya. Setelah suara berdebum terakhir terdengar, gadis itu memberanikan diri melihat nasib berandal-berandal itu. Ternyata mereka semua sudah jatuh terkapar di atas tanah. Tepat di antara mereka, ada siluet seseorang yang berdiri sambil masih memegang kayu yang digunakan menghajarnya tadi.

"Kak Shirou…?" Arturia merasa dia melihat Shirou yang menyelamatkannya. Pria itu mendekatinya dan Arturia tahu seharusnya dia percaya bahwa orang yang telah tiada takkan pernah kembali kepadanya.

"Dari tadi nama Shirou yang kau sebut…" ujar pria itu perlahan sambil melihat kondisi Arturia, "Kau tidak apa kan?"

Arturia mendapati kondisi Naruto sangat berantakan. Yang menakjubkan bagaimana pria itu bisa bertahan dan menyelamatkannya dalam keadaan separah ini. Tiba-tiba saja dia diselimuti rasa bersalah.

"Ma–maafkan aku… Aku baik-baik saja. Aku…tadi…" Arturia tak tahu harus berkata apa. Dia tak bisa menjelaskan halusinasi yang telah dia alami. Trauma psikis yang cukup mengguncangkan pikirannya sehingga dia tak bisa melupakan Shirou.

Tapi pria itu malah mengangguk maklum. Dia tidak tersinggung ketika Arturia tidak mampu menjelaskan apapun soal sikapnya yang aneh sejak tadi. Naruto malah membalasnya dengan senyum setelah dia melihat kondisi Arturia. Arturia terpana. Baru kali ini dia merasa senyum pria didepannya sungguh menenangkan. Senyum itu membuat dia merasa Shirou telah berada di hadapannya dan melindunginya. Dia menduga apa karena dia baru saja diselamatkan sehingga rasa lega yang luar biasa memanipulasi pikirannya.

Tiba-tiba Arturia melengking keras, menyadari bahwa dirinya masih bertelanjang dada. Tak ingin menambah masalah, Naruto pun buru-buru memalingkan wajahnya ke arah sungai.

"Syukurlah… saat aku kehilanganmu di sungai tadi… Aku merasa telah gagal membalas jasamu," tukasnya.

"Tapi, kau yakin tidak apa-apa kan?"

"Aku yang seharusnya bertanya kepadamu!" balas Arturia, "Lihat lukamu! Kau harus diobati!"

"Jangan sekarang. Kita harus pergi sebelum mereka menyadari mereka telah dihajar. Kau yakin bisa bangun?" ujar Naruto.

Arturia mengangguk ragu dengan kondisi Naruto. Ucapannya tidak salah. Dia takut berandal tadi siuman dan memanggil rekannya. Akhirnya dia setuju dengan langkah yang diambil oleh Naruto.

Setelah mengenakan kembali pakaiannya yang sebelum berhasil dilucuti oleh berandalan-berandalan sialan itu, Arturia pun lantas berdiri dengan kedua kakinya. Ia bisa melihat si pria itu sedang memaksakan dirinya untuk berjalan, walau harus terseok-seok.

"Ketika kemari aku melihat ada beberapa kuda diikat di sudut sebelah sana," Naruto menunjuk sebuah arah.

"Mungkin kuda-kuda itu milik orang-orang ini. Kalau boleh, ambil yang berharga dari mereka dan bawa senjata juga. Sementara itu aku akan mengambil kuda-kuda mereka."

Arturia mengangguk. Pria itu kembali tersenyum sebelum melanjutkan langkahnya melepaskan kuda-kuda itu.